Annyeong readers🙂
i’m back with my newest ff
mianhe kalo misalnya kurang memuaskan ya kekeke

enjoy🙂

Cast:

Kang Hamun
Cho Kyuhyun
Song Hyejin

******

Seorang gadis kecil duduk termenung diayunan. Di maju-mundurkan sendiri ayunan itu pelan-pelan dengan ujung kakinya yang menggapai tanah. Tak lama kemudian, ia menengadahkan kepalanya sampai ia benar-benar bisa melihat bintang yang sedang menerangi malam.

“Apa yang kau lakukan?” tanya sebuah suara.
Tanpa mengubah posisinya, gadis kecil itu menjawab, “Kata appa, aku tak boleh menangis. Kalau aku tak begini, nanti air mataku bisa jatuh dan kalau aku menangis, papa disana juga akan sedih, Kyu” jawabnya sambil menunjuk ke langit.
“Aku temani ya Hamun,” ujar bocah lain yang gadis itu panggil ‘Kyu’. Hamun tak memberi jawaban namun Kyu tetap duduk di ayunan yang ada di sebelah ayunan Hamun. Mereka diam, tak berbicara apapun, dan Hamun masih tetap dengan posisi yang sama.

“Papa jahat Kyu,” guman Hamun memecah kesunyian. Kyu yang tak mengerti maksud Hamun pun segera bertanya, “Kenapa Hamun berkata seperti itu?”
“Kalau appa tak ada, siapa yang akan melindungiku seperti di kartun-kartun itu? Aku akan diserang oleh monster-monster mengerikan saat aku berangkat sendirian ke sekolah,” jawabnya. Jawaban khas anak-anak yang memiliki daya imajinasi tinggi.

Bocah yang bernama Kyu kini sudah berdiri di belakang Hamun dan menutupi langit yang dipandang Hamun dengan kepalanya. Kini Hamun dapat melihat dengan jelas wajah Kyu yang sedang tersenyum untuknya.
“Hamun kan punya Kyu. Kyu juga laki-laki jadi Kyu akan jaga Hamun. Kita akan pulang-pergi sekolah bersama-sama mulai besok,” ujar Kyu
“Selamanya? Kyu akan bersama Hamun? Melindungi Hamun?” tanya Hamun lagi dan Kyu menjawab, “Selamanya,”
Hamun menyodorkan kelingkingnya, “Janji?” tanya Hamun dan Kyu pun mentautkan jarinya.

Aku berjanji pada Kang Hamun,” ujarnya

………

“Arghhh!” geramku sembari menyingkap selimut yang menutupi wajahku.
Pagi yang menyebalkan bagiku adalah saat mimpi indahku berakhir karena ada suatu hal yang membangunkanku, misalnya seperti jam weker, teriakan mamaku yang membahana di rumah ini, atau ringtone ponselku, seperti saat ini.

Masih dengan setengah sadar dan sedikit rasa kesal, aku menjawab panggilan itu tanpa melihat nama sang penelepon terlebih dahulu.
“Yaa, apa kau tak tahu ini jam berapa?!” omelku sebelum orang diseberang sempat mengucapkan ‘Hello’.
“Aku tahu, ini sudah jam 7 pagi,” jawab sebuah suara yang sangat kukenal, yang dalam sekejap mampu mengembalikan 100% kesadaranku, dan membangkitkan tubuhku dari tempat tidur.
“Ki- Kyu? Wa- waeyo?” tanyaku gagap, efek samping dari jantung yang tiba-tiba saja berdetak kencang hanya karena mendengar suaranya.
“Aku ada perlu denganmu. Cepat turun, aku sudah di depan pagarmu,” ujarnya yang, reflek, membuatku menyingkap korden kamarku dan mengintip Kyuhyun dari jendela kamarku ini.

Dengan segera aku membuang selimutku sembarangan dan bangkit dari tempat tidur menuju meja rias. Menaburkan sedikit bedak dan merapikan poniku.
“Apa yang mau Kyuhyun katakan?” tanyaku entah pada siapa, karena saat ini makhluk hidup yang ada di kamarku hanya aku.
Aku terdiam dan menatap pantulan wajahku di cermin. Terdiam, dan membiarkan ingatanku melangkah mundur menuju beberapa menit yang lalu, menuju alam mimpiku.
Kejadian saat aku berumur 6 tahun. Hari kematian appaku. Dan sejak itulah aku menganggap Kyuhyun sebagai seorang ‘namja’, bukan ‘teman’, atau ‘sahabat’ dan perasaan itu kian lama makin kuat.

“Apa Kyuhyun mau menyatakan cinta padaku?” terkaku yang membuat jantungku kembali berdetak kencang.
Aku menggelengkan kepalaku, berusaha menghapus semua khayalan yang aku harap menjadi kenyataan.
Saat aku yakin wajahku sudah tak seperti orang baru bangun tidur, aku melesat menuju tempat dimana Kyuhyun sudah menunggu.

“Kyuhyun, waeyo sampai menungguku? Kalau kau ada apa-apa aku tinggal ke rumahmu,” ujarku karena rumah Kyuhyun tepat berada di sampingku.
Kyuhyun tak mengatakan apapun, ia hanya memberikanku sebuah surat yang dilapisi amplop berwarna pink, salah satu ciri khas dari surat cinta yang biasa diberikan pada anak laki-laki pada gadis yang disukainya.
Aku terpaku menatap surat itu. Apa Kyuhyun memberikan ini untukku? Jantungku mulai tidak stabil. Daripada aku tersesat dengan pertanyaanku sendiri, aku memberanikan diri untuk bertanya.

“Apa ini..”
“Ya, ini surat cinta, Hamun,” ujarnya sambil tersipu. Membuat hati kecilku berharap meski aku sudah berusaha menahan diri.
“U- untuk?” tanyaku diiringi debaran jantung yang tak menentu sampai membuatku lupa untuk bernafas.
Kyuhyun menatapku dengan wajah tersipu. Ia mengusap leher bagian belakangnya, kebiasaan yang biasa ia lakukan saat nervous.

“Hyejin,”

…..

“Hyejin,” jawab Kyuhyun singkat tak lupa diiringi senyum simpulnya.

“N- Ne?” tanyaku sekali lagi. Bukan karena aku tak mendengar, namun karena aku tak percaya dengan apa yang kudengar.
“Ini untuk Hyejin, Hamun,” jelas Kyuhyun yang membuatku tak bisa mengelak dari kenyataan lagi.

Seketika jantungku berhenti berdetak untuk sepersekian detik. Sekujur tubuhku lemas. Aku hanya berharap kakiku sanggup menopangku sampai Kyuhyun menghilang dari hadapanku.
“Tolong berikan pada Hyejin. Katakan padanya, aku sudah menunggunya di tempat yang ada di isi surat itu,” ujar Kyuhyun. Tanpa menunggu respon dariku, ia mulai melangkah mundur sambil tersenyum padaku, “Gomawo Hamun, tolong aku ya!” serunya dan ia mulai berlari meninggalkanku.

Dengan kekuatan yang tersisa, aku masuk ke dalam kamarku dan membaca isi surat itu.
Aku tertawa getir, “Bagaimana tulisannya bisa jadi sebagus ini?” komentarku saat aku melihat tulisan tangannya disurat yang ia buat khusus untuk Hyejin.
Apa kau tahu? 13 tahun aku bersama Kyuhyun, ini adalah tulisannya yang terbagus.

Aku membaca tulisan itu. Makin ke bawah, makin membuat dadaku sakit karena aku bisa merasakan ketulusannya dari setiap kata yang ia tuliskan.
Ketulusan yang membuatku yakin kalau ia sangat mencintai Hyejin.
Ketulusan yang membuatku yakin, cintaku bertepuk sebelah tangan.

“Aku mencintaimu, Song Hyejin,” gumanku saat membaca kalimat penutup surat itu. Saat itulah air mataku tak tertahankan lagi.
“Kyuhyun jahat,” gumanku.

Aku mencintaimu, Cho Kyuhyun. Aku mencintaimu, bahkan tak pernah terpikirkan jika itu bukan Kyuhyun.
Maafkan aku Kyuhyun, aku tak bisa menyerahkannya.

*****

Mataku mengerjap beberapa kali, beradaptasi dengan sinar matahari yang entah bagaimana bisa menyusup ke kamarku.
“Hey, Hamun, wake up! The sun is going up!” seru seseorang. Berkatnya, aku sudah terbangun sekarang tapi jiwaku belum terkumpul.
“Hamun-ah, wake up,” seru orang itu sekali lagi sambil menepuk pipiku pelan.
Aku menyipitkan mataku, menajamkan penglihatanku untuk melihat siapa pria itu. “Kiyu?” tanyaku pada diriku sendiri untuk meyakini kalau aku tak salah lihat.
“Yes, this is me, c’mon Hamun, we should go to school,” ujarnya yang membuatku makin malas untuk bangun.
“Should we?” tanyaku malas.
Kyuhyun menarik kedua tanganku hingga mau tak mau, badanku pun ikut bangkit.
“Aku menunggumu di depan. Just 5 minutes! Kalau telat, kau kutinggal. Aku tak mau telat dihari pertama kelas XII ini,” ujarnya diiringi evil smirknya yang membuat kesadaranku penuh dan segera berlari menuju kamar mandi.

*****

Aku berhenti untuk menarik nafas panjang. “Bisakah kau berjalan lebih lambat? Kakiku tak sepanjang dirimu, Kyu,” pintaku saat Kyu sudah agak jauh di depanku.
Kyuhyun menghentikan langkahnya dan menghampiriku.
“Sebagai pacar harusnya kau menggandengku, Kyu. Seperti ini,” ujarku sambil menyusupkan jariku di jemarinya, seakan memberikan contoh apa yang harus ia perbuat.

Aku tersenyum sendiri melihat tanganku. Kadang aku masih tak percaya kalau tangan yang ada digenggamanku ini adalah kepunyaan Cho Kyuhyun.

……….

Aku kembali teringat kejadian malam itu. Saat Kyu tetap menunggu Hyejin meski sudah jam 12 malam lebih.
Dari kejauhan aku menatap Kyuhyun nanar sambil tersenyum getir. Hati kecilku berandai-andai, kalau saja orang yang ia sayangi adalah aku. Aku tak akan membuatnya menunggu ditengah angin musim dingin seperti saat ini.
“Kiyu,” panggilku sembari berjalan menghampirinya.
Kyu menatapku dan tersenyum. Aku tahu Kyu hanya berpura-pura kuat dihadapanku saat ini.
Aku duduk disebelahnya dan membuka pembicaraan.
“Kiyu, ayo pulang,” ajakku yang tak direspon olehnya
“Aku akan menunggunya, Hamun. Hyejin pasti datang,” hatiku mencelos karena ia berkata seperti itu sambil menatapku penuh keyakinan.

Apa kau begitu mencintainya?

Aku berdiri dan menarik tangan Kyuhyun sambil berkata, “Hye tak akan datang. Ayo pu..” tapi ucapanku terputus karena lagi-lagi aku merasakan sakit yang menohok direlung dadaku. Baru saja Kyu menepis tanganku dan menatapku emosi.
“Hye akan datang. Aku percaya itu! Aku tak peduli! Aku akan menunggunya!” ujarnya dan tepat diakhir kalimatnya tanpa kusadari kedua tanganku sudah memeluknya.
Air mataku mulai mengalir deras karena rasa sakit yang menyerangku berulang kali.

Apa aku tak bisa mengganti posisi Hye dihatimu?

“Apa aku tak bisa mengganti posisi Hye dihatimu?” ujarku tidak sadar menyuarakan isi hatiku.
“Aku menyukaimu Kyu. Sangat. Apa aku tak punya kesempatan?” tanyaku masih tetap memeluknya.
“Aku tak akan membuatmu menunggu seperti ini. Aku tak akan membuatmu menahan tangis seperti saat ini. Aku akan selalu bersamamu dan membuatmu bahagia. Cobalah untuk mencintaiku Kyu, dan aku akan membuatmu melupakannya,” ujarku parau sambil menatap lurus kedua matanya.

Tiba-tiba aku merasa waktu berhenti bergulir. Semua terjadi begitu cepat sampai aku tak sempat mengedipkan mataku. Kyuhyun mencium bibirku lembut. Terasa asin, karena Kyu akhirnya membiarkan air matanya keluar dari tempatnya.
“Gomawo Hamun, aku akan mecobanya,” ujarnya sambil mencium keningku.
Aku tak bisa mendeskripsikan perasaanku saat itu. Terlalu bahagia, sampai aku tak tau bagaimana harus mengekspresikannya,

……..

“Mianheyo,” ujarnya sambil tersenyum simpul.
“Kau akan kumaafkan kalau sudah membelikanku chocolate,” ujarku dan ia hanya membalas dengan senyuman yang dalam sekejap membuatku makin cinta padanya.

God, please stop the time. Aku ingin kami selalu bersama seperti ini.

*****

Tak kalah antusias dengan yang lain, begitu memasuki gerbang kami berdua pun segera ikut mengerumuni papan pengumuman pembagian kelas. Aku menarik nafas panjang berusaha menerima kenyataan, “Kita ga sekelas,” gumanku lesu setelah mengetahui dimana kelasku dan kelas Kyuhyun.
Kyuhyun yang bisa melihat kekecewaan diwajahku pun berkata, “Nothing to worry, right?” ujar Kyuhyun sambil mengelus kepalaku lembut yang seketika itu juga menghapus kekhawatiranku.

Semoga aku dan Kyuhyun akan seperti ini sampai selamanya.

“Kyuhyun, Hamun,” panggil sebuah suara yang dalam sekejap membuyarkan mimpi-mimpiku. Suara yang tak ingin kudengar lagi. Suara yang membangkitkan kekhawatiranku. Suara..

“Hye..jin?” guman Kyuhyun. Aku menatap Kyuhyun yang sudah mematung disampingku. Matanya tak berkedip sedetikpun saat Hyejin berada dihadapan kami. Aku tak ingin dengan mudah menyimpulkan kalau Kyu masih menyukai Hyejin. Aku mencoba percaya pada perasaan Kyuhyun. Aku mulai memasang pertahananku dan memainkan logikaku.
“Kalian kaget kan? Aku dapat kontrak kerja yang bagus disini, jadi aku memutuskan untuk kembali,” ujarnya sambil tersenyum manis pada kami berdua.

Hyejin menjentikkan jarinya seakan memperoleh bahan baru untuk diperbincangkan, “Kalian di kelas XII apa?” tanyanya dengan melebarkan kedua matanya tanda ia sedang antusias.
“Aku di kelas XII-C dan Kyuhyun XII-A,” jawabku mengambil alih Kyuhyun
Mata Hyejin semakin membesar, “Kyuhyun kelas XII-A? Sungguh? Kita sekelas!” pekiknya girang nyaris memeluk Kyuhyun.

Gundah, resah, khawatir, takut. Semua rasa itu sudah bercampur jadi satu sampai aku tak tahu mana yang harus diekspresikan. Yang jelas, otakku dengan otomatis mengkomandoku untuk menghentikan gerak Hyejin.
“Hyejin, Kyuhyun sekarang pacarku,” ujarku sambil merangkul lengan Kyuhyun.
Kini giliran Hyejin yang untuk sepersekian detik, mematung ditempatnya. Aku bisa melihat perubahan di wajahnya “Je-jeongmal? Chukae!” serunya sambil memberikan senyum pada kami yang aku tahu itu bukanlah senyum yang tulus.
“Hyejin, kami duluan ya,” ujarku berpamitan sambil menarik Kyuhyun pergi dari hadapan Hyejin.

Aku mengajak Kyuhyun berbincang, berusaha mengalihkan pikiranku sendiri dari rasa takut yang menyergapku.
“Kyu, sebentar lagi ulang tahunku, bagaimana kalau kita rayakan berdua saja di taman Seoul Bagaimana?” tanyaku pada Kyu tapi sampai detik ke 10 Kyuhyun tak kunjung merespon.
“Kyu,” panggilku namun tak mendapat sahutan. Aku yang heran akhirnya mengangkat wajahku.

Hati mencelos saat mendapati kenyataan kalau Kyuhyun masih saja menoleh ke belakang dan kedua bola matanya yang masih terus mengejar keberadaan Hyejin.
“Kyu.. KYUHYUN!” pekikku berusaha menyadarkannya
“Ah, ne, waeyo Hamun?” tanyanya masih tidak fokus
“Aniya, kajja,” ujarku sambil menggandeng tangannya lebih erat berusaha mengusir ketakutanku karena kini aku tahu..

Kyuhyun masih mencintai Hyejin.

Apa yang harus kulakukan agar kau tak meninggalkanku?

*****

to be continued

How? How?
Hope you like it chingu :))