Cast:

Kang Hamun
Cho Kyuhyun
Song Hyejin
Choi Siwon

 

Apa yang harus kulakukan agar kau tak meninggalkanku?

 

*****

Aku menatap secarik kertas ditanganku ini sambil menghela nafas panjang.
Kurasa aku memang kurang beruntung. Sudah tidak sekelas sama Kyu, Hyejin kembali ke Korea, dan sekarang aku harus duduk dibangku paling belakang, paling pojok dekat jendela, yang tentu saja hal itu tidak bagus karena aku punya masalah dalam penglihatan.

Sekali lagi aku menghela nafas panjang, berusaha menghilangkan semua kekesalanku.
Namun bukannya mereda, emosiku kembali dipancing oleh seorang pria yang selama ini dikenal sebagai ‘berandalan’ SMA Haegang ini, yang dengan seenak udelnya meletakkan tasnya di mejaku, Choi Siwon.

“Minggir,” perintahnya sambil menatapku lurus. Meski tatapannya datar, suaranya tetap terkesan dingin.
Aku yang notabene tak suka diperintah apalagi yang diperintahkan adalah sesuatu yang tak masuk akal seperti ini, tentu saja tak akan menurutinya.
Aku tak bergeming, dan tetap duduk manis di bangkuku, “Ini tempatku,” ujarku masih tetap tenang tanpa menatapnya.
“Aku tak peduli. Aku mau duduk disini,” ujarnya santai yang membuat emosiku naik menuju titik batas.
Kini aku mulai menoleh kearahnya dan menatap matanya. Aku mengeraskan kepalan tanganku untuk mengalirkan emosiku, “Aku yang duduk disini lebih dulu. Jadi aku tak akan pindah,” ujarku
“Pindahlah, sebelum kau menyesal pernah menantangku,” ujarnya sambil menyunggingkan senyum sombong yang membuatku tidak menyukainya dalam sekejap kedipan mata.
Aku berdiri, menengadahkan kepalaku, untuk memberikan kesan kalau aku menantangnya. “Aku tak takut padamu,” ujarku sambil menatapnya lurus, tanpa ragu, apalagi takut.

Kurasa dia memang gila. Bukannya minta maaf atau bagaimana seharusnya, dia malah menyunggingkan sebuah senyum menyebalkan sambil menatapku dengan tatapan yang tak bisa kutafsirkan dalam bahasa manusia. Cukup lama sampai membuatku bertanya-tanya. “Apa?” tanyaku sebal.
Dia melipat tangan kirinya didadanya, dan tangan kanannya kini menunjukku, “Kau yang minta ya,” ujarnya.
Aku memiringkan kepalaku untuk berpikir namun belum sempat kudapatkan jawabannya, aku merasakan sesuatu menempel di bibirku.

Untung saja logika dengan segera menguasaiku, dengan segenap kekuatan yang tersisa aku mendorongnya, lalu menamparnya.
“Apa yang kau lakukan? Mengapa kau melakukan itu?!!!” pekikku emosi sampai aku tak sadar kalau air mata sudah mengalir di pipiku.

Pria itu kembali berjalan mendekatiku, semakin dekat hingga membuatku menutup mata dan menundukkan kepala karena aku takut kalau ia akan melakukan hal yang sama seperti tadi, namun tiba-tiba aku merasa pipiku menjadi hangat, ternyata pria itu mengusap air mataku.
“Mungkin karena aku.. Suka?”

…..

“Mungkin karena aku.. Suka?” ujarnya menggantung yang membuatku makin yakin kalau ada yang tak beres pada susunan otaknya.
“Jangan bercanda seenaknya!” pekikku
Kini ia membungkukan badannya dan mensejajarkan wajahnya dengan wajahku. Hembusan nafasnya menderu ditelingaku. “Aku serius. Kau tak akan kubiarkan lepas dariku,” ujarnya lalu melenggang pergi setelah puas mengacak rambutku.

Kakiku sangat lemas sampai akhirnya aku terjatuh ditempat. Pasangan mata sudah menatapku namun aku tak peduli. Aku masih berusaha menerima apa yang baru saja terjadi dalam kehidupanku.

*****

Seperti biasa, sepulang sekolah aku selalu menunggu Kyuhyun di taman belakang. Ia pasti sedang sibuk dengan klub fotografinya atau mungkin sekarang ia sedang hunting foto dan akhirnya tenggelam dengan dunianya sendiri.
Tak lama setelah aku memikirkan apa yang Kyu sedang lakukan, orang tersebut melintas di depanku.
Ia berdiri 10 m didepanku dengan kamera ditangannya.

Aku dengan riang bangkit dari duduk dan menghampirinya.
“K..yu..” namun suara dan senyumku hilang bersamaan dipenghunjung namanya.
Suaraku tercekat saat aku melihat Kyu mengangkat kameranya sampai sejajar dengan wajahnya dan tersenyum tulus saat melihat gadis itu melalu lensa kameranya, Song Hyejin.

Seketika aku merasa ada sesuatu yang menusuk dadaku. Rasa yang sama seperti kejadian 3 tahun lalu.
Rasa sakit, karena aku tahu kalau Kyu mencintai Hyejin.
Sakit, karena aku tahu cintaku bertepuk sebelah tangan.

Dan semuanya akan terulang kembali.

*****

“Sampai,” seru Kyu yang membuatku tersadar kalau aku sudah tiba di rumah dengan selamat.
“Gomawo Kyu,” ujarku namun bukannya mendapat balasan dari Kyu, ia malah menyentuh dahiku dengan punggung tangannya lalu membandingkan dengan dahinya.
“Syukurlah, kau tak apa-apa. Aku khawatir karena kau sedari tadi diam saja,” ujar Kyu tak lupa dengan senyumnya yang selalu bisa menenangkan hatiku.
Jujur, perhatiannya yang sedikit itu membuatku senang bukan main meski aku tak bisa mengungkapkannya.

Harusnya kau tahu Kyu, segala sesuatu yang kau lakukan padaku, sekecil apapun itu, pasti memiliki dampak yang besar bagi tubuh, jiwa, dan perasaanku.
Mungkin berlebihan. Tapi apa mau dikata, itulah respon tubuhku pada makhluk satu ini.

Apakah aku masih boleh berharap kau bisa mencintaiku?

“Aniya, aku hanya sedikit mengantuk,” jawabku tak lupa diiring senyuman untuk menguatkan pernyataanku.
Kyuhyun membalas dengan senyumnya lalu mengusap kepalaku.
“Kalau begitu aku pulang dulu ya,” pamitnya yang kujawan dengan anggukan kepala.

“KIYU sayaaaaang!!” seru seorang yooja dari rumah sebelah, rumah Cho Kyuhyun.
“Noona? ; Onnie?” pekik kami berdua bersamaan saat melihat seorang gadis cantik berdiri diambang pintu keluarga Cho.

Tak perlu waktu lama, aku sudah berpindah posisi. Kini aku sudah berada didalam pelukan Sora onnie, kakak perempuan Kyu.
“Nado bogoshipo onnie,” balasku saat ia mengatakan kalau ia sangat rindu padaku.
“Hei, aku adikmu noona, kenapa Hamun kau peluk duluan?” omel Kyu setengah bercanda yang disambut oleh tawa kami berdua.
“Oia, Hamun, kau tak boleh pulang! Aku akan masak spesial untukmu,” ujar onnie yang tentu tak bisa kusanggah karena dia sudah mengunakan tanda seru dalam akhir kalimatnya.

Dengan paksaan, aku digeret menuju kamar Kyuhyun oleh onnie. Katanya, “Hamun tunggu di kamar Kyu dulu ya, lumayan kalian bisa belajar bersama, kan?” diiringi sebuah wink yang menandakan ia sedang menggodaku.
“Aish, bagaimana seorang mahasiswi yang di sekolah diluar negeri masih bertingkah usil seperti ini?” omel Kyu sambil mengacak rambutnya frustasi
“Aigo, aku tak masalah, bukannya waktu kecil kita malah mandi bersama ya?” ujarku yang membuat pipiku berubah semerah apel.
“Yaa Hamun! Kita sudah besar sekarang! Aish kau ini,” omelnya yang hanya kubalas dengan tawa ringan.
“Tunggu sebentar ya, aku buatkan minum,” kata Kyu. Ia pun pergi dan meninggalkanku sendiri dikamarnya.

Menghilangkan kebosanan, aku mulai berkutat dengan buku “1000 soal menuju Seoul University” dan sialnya, belum sampai 5 menit, aku sudah melakukan kesalahan fatal yang mengharuskanku menghapusnya namun sayangnya, aku tak punya alat tulis yang disebut penghapus itu.
Aku bangkit dari dudukku dan berusaha mencarinya disetiap sudut kamar Kyu. Dalam pencarian, aku tak kunjung menemukan penghapus, namun tanpa sengaja aku melihat pintu
yang menuju dark room —tempat yang biasa digunakan untuk cuci cetak foto kamera analog—
Aku pun mencoba mencari di ruangan itu.

Aku mencoba mencari dimeja, tak ada. Aku buka laci paling atas, tak ada juga. Saat aku buka laci terakhir, aku memang tak mendapatkan yang aku cari, tapi aku melihat sebuah kotak musik yang sangat cantik.
Aku tahu melihat milik orang lain adalah lancang, namun Kyu pacarku kan? Kurasa dia tak keberatan.

Aku melihat ada setumpuk foto dan pernak-pernik kecil lainnya di dalamnya. Aku mengambil foto itu.
Jantungku mulai berdetak kencang saat wajah Hyejin kulihat di lembar foto pertama.

Kulihat foto berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan makin jauh kebelakang, dadaku serasa ditusuk makin dalam karena semua foto itu adalah foto candid Hyejin.

Hatiku mencelos saat membaca kalimat dibelakang foto terakhir, “the most beautiful girl ever, Song Hyejin, saranghaeyo, Cho Kyuhyun. wish us together, forever”

Aku tersenyum, entah jenis senyum apa yang kusunggingkan ini. Yang jelas, aku sudah menggigit bibir bawahku sambil menengadahkan kepalaku untuk menahan air mata yang sudah siap untuk jatuh.
Namun kurasa aku sudah melakukan hal yang salah, karena saat menengadahkan kepalaku itu, pandanganku tersebar ke semua sudut ruangan itu.
Hyejin, Hyejin, Hyejin, Hyejin, Hyejin, Hyejin. Disetiap sisi ruangan itu hanya ada foto Hyejin.
Air mataku mengalir, namun kuhapus dengan segera karena aku sudah bertekad untuk kuat.
Aku tak mau hubungan Kyu dan aku berakhir. Aku akan bertahan untuk menunggunya, sesakit apapun itu.

Aku memutuskan untuk segera mengembalikan kotak itu ketempat asalnya namun saat menarik laci itu lebih lebar, tanpa sengaja aku melihat tumpukan amplop merah muda. Ada lebih dari 100 surat didalam laci itu.
Aku mengambil salah satunya dan hatiku kembali mencelos. Kini air mataku ikut mengalir tanpa ekspresi saat melihat nama Song Hyejin tertera disemua amplop itu.

Seoul, 25 Oktober 2011 — tanggal surat yang terletak paling atas, tepat seminggu yang lalu— Ia bahkan tetap menulis surat untuk Hyejin meski ia sudah 3 tahun berpacaran denganku.

Aku menahan diri untuk tidak membacanya, namun iblis berkata lain. Ia mendorongku untuk membukanya.

Hai, Hyejin. Apa kabar? Aku harap kau baik-baik saja.
Selamat atas kesuksesanmu! Aku baru saja membeli photobookmu dan kau luar biasa!
Kau model yang terbaik! Suatu saat kau harus jadi modelku!
Kita sudah berjanji kan? Kekeke

“Hamun, maaf lama,” aku mendengar suara Kyu bersamaan dengan suara pintu yang terbuka.
“Hamun sudah pulang ya? Tapi kenapa tasnya masih ada? Aish, dasar Hamun,” ujar Kyuhyun saat mendapatiku tidak ada di kamarnya.
Aku tak keluar dari tempat persembunyianku karena aku masih terpaku bersama surat ditanganku ini.

Hm, kemarin aku baru berkencan dengan Hamun.
Membelikannya es krim coklat kesukaannya, juga menikmati semua wahana di Lotte World.
Kami bergandengan tangan juga foto box bersama layaknya pacaran anak SMA.
Harusnya aku senang, karena Hamun adalah pacarku. Tapi aku merasa bersalah pada Hamun.
Karena saat berkencan dengannya saat itu, yang terbayang dibenakku adalah..
Kau, Song Hyejin.

Untuk kesekian kalinya dalam sehari ini, aku merasakan sakit yang luar biasa didadaku.

Andai saja kau datang dihari itu, aku tak akan merasakan sakit seperti ini dan Hamun juga tak akan tersakiti.
Apa kau tahu? Aku sungguh merindukanmu.
Saranghae

Kini aku tak mampu menahan tangisku, bahkan aku tak mampu untuk menopang tubuhku sendiri. Aku terduduk lemas sambil membekap mulutku sendiri agar isakanku tak terdengar.

Apa yang kutakutkan benar-benar terjadi. Kyu sama sekali tak mencintaiku.
Setelah berpacaran denganku pun, hati dan pikirannya tetap terpaut pada Hyejin.

*****

Saat aku yakin emosiku sudah mereda, dengan sisa kekuatan aku keluar dari tempat persembunyianku dan mendapati Kyuhyun sudah tertidur diatas kasurnya.
Aku menghampirinya dan duduk ditepi tempat tidurnya.
“Aigo, lucu sekali,” gumanku sambil berusaha menyunggingkan senyuman.
Makin melihatnya, perasaanku makin tak tertahankan. Aku mendekatinya, ingin menciumnya.
Namun tubuhku mematung saat kudengar Kyuhyun menggumankan nama Hyejin dalam tidurnya.
“Na.. Namaku Hamun, K..kyu,” gumanku dengan bibir yang sudah bergetar. Air mataku kembali ingin keluar dari tempatnya dan secepat kilat aku keluar dari rumahnya. Aku membiarkan air mataku kembali tumpah bersama langit yang sepertinya bisa membaca isi hatiku.

Kyu, aku mencintaimu. Apa tak ada sedikit ruang untukku?

*****

to be continued🙂
How How How?
Hope u like it chingu,
i’m sorry if its not good enough T^T