Annyeong readers🙂 I’M BACK!
actually, ini ff uda lama aku bikin tapi ternyata aku baru sadar kalo belum di post di blog ini
hope you like it🙂 soalnya ini ff rada fail gitu kekeke
dan untuk kali ini tokoh utamanya adalah Lee Donghae!
so, enjoy it🙂

Cast:
Kang Hamun
Lee Donghae
Choi Siwon
Song Hyejin
Park Sonrye

*****

Semua orang beranggapan, bahwa seorang lelaki tidak boleh menangis. Namun pagi ini, aku melihat suatu pemandangan langkah. Di taman yang selalu kulewati dalam perjalan pulang pergi ke sekolah, ada seorang pria sedang duduk diatas ayunan. Ia menengadah kelangit dan.. menangis. Setetes air mata mulai membasahi pipinya. Air mata itu seakan menghipnotisku. Aku tak berkutik sedikit pun. Aku terhanyut dengan apa yang kulihat. Mengapa dia menangis? Karena siapa? Apa dia patah hati? Apa dia sebegitu cintanya pada seorang gadis? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar diotakku. Namun tiba-tiba, pria itu menoleh kearahku. Mungkin ia merasakan keberadaanku. Mata kami bertemu dan membuatku salah tingkah. Ia menempelkan jari telunjuknya dibibirnya, isyarat agar aku merahasiakan apa yang aku lihat. Aku mengangguk dan segera pergi dari situ mengingat waktu yang terus berjalan. Aku telat!

Tapi siapa pria itu? Apa aku bisa bertemu lagi dengannya?

>>>>>

Dan disinilah aku sekarang. Di lapangan super huge sekolah kami. Dan inilah yang sedang kulakukan, membersihkan lapangan ini sebagai hukuman karena ketelatanku. Tapi parahnya, sekarang adalah musim gugur. Tempat yang tadi sudah kubersihkan, semenit kemudian kembali dipenuhi oleh dedaunan kering. Aish. Guru itu mau membuatku mati kehabisan tenaga.

“Awas!” teriak seseorang. Aku menoleh mencari sumber suara dan mendapati sebuah bola sepak di depan mataku dan detik berikutnya aku merasakan kepalaku mulai cenat-cenut. Ya, bola itu menghantamku dengan sangat mantab!

Aku menutupi wajahku. Menyembunyikan mukaku yang kacau karena menangis kesakitan.

“Mianhata, aku benar-benar tak sengaja,” ucap seseorang yang tak kutahu siapa karena aku masih terisak sambil terus menutupi wajahku.

“Sepertinya sakit sekali. Kau menangis. Sini coba kulihat,” ujarnya sambil berusah melepas tanganku dari wajahku. Dan betapa kagetnya aku, pria yang duduk diatas ayunan tadi, kini berdiri di hadapanku.

“Kau?” ucap kami berdua bersamaan.

>>>>>

“minumlah,” ucap pria tadi sambil menyodorkan minuman isotonik padaku. Aku mengambilnya lalu ia duduk di sebelahku.

Suasana hening sesaat sampai ia mulai membuka pembicaraan.

“kau pasti menganggapku aneh” ujarnya.

Tak perlu berpikir lama, aku mengerti kemana arah pembicaraan ini. “Ini tentang kau menangis?” tanyaku memastikan dan ia mengangguk. “Aneh? Tidak sama sekali. Pikiran itu tak terlintas dalam pikiranku. Aku malah..” ucapku menggantung.

Ia kini terdiam sambil menatapku seakan menanti lanjutan dari pernyataanku, “Aku malah berharap suatu hari akan ada seorang pria yang menangis untukku. Menurutku air mata demi seseorang yang kau cintai adalah bukti cinta yang paling kuat daripada sekedar ucapan dari seorang pria. Kau tahukan pria itu jago menggombal?” candaku dan ia mengangguk setuju

“Gomawo.. you make me feel better” ujarnya sambil tersenyum manis padaku

“Chomane” jawabku

“Aku Lee Donghae, 3 grade,” ujarnya sambil mengangkat minumannya

“Kang Hamun, 1 grade,” ujarku sambil memberikan TOSS pada kaleng minumannya

“Jadi kita teman sekarang?” tanyaku dan aku tak tahu dimana sisi lucunya dari pertanyaanku ini sampai ia tersedak dan tertawa terbahak-bahak.

“Tentu saja! Tanpa kau tanyakan pun kita sudah berteman,” ujarnya sambil mengacak-acak kepalaku.

Aku ikut tertawa bersamanya, dan aku punya suatu ide untuk merayakan hari jadi pertemanan kami ini. aku bangkit dan mengambil sapu, lalu menyodorkan sapu itu padanya, “karena sunbae temanku, tolong bantu aku ya..”

“Baiklah, Kajja! Kita bersihkan lapangan ini! semangat Kang Hamun! Lee Donghae!” ucapnya menyemangatiku dan dirinya sendiri

>>>>>

Sudah 2 minggu sejak aku berteman dengan Donghae Sunbae. aku mulai mengenalnya sekarang. Ternyata dia ini cukup digemari oleh para gadis di sekolah ini karena itu dia tertawa terbahak-bahak begitu aku cerita kalau aku tak pernah tahu tentang dirinya.

Aku suka saat-saat istirahat dimana aku akan datang ke taman belakang sekolah dan bertemu dengannya. Duduk dibawah pohon berdua dengannya sambil berbicara berbagai macam hal, kecuali tentang alasan dia menangis. Ya memang, pertanyaan itu selalu terlintas dipikiranku sejak pertama kali aku melihatnya bahkan sampai sekarang. Tapi aku tak pernah menanyakannya karena aku tak mau membuka luka hatinya.

Sekarang, aku jauh lebih menyukai senyumannya daripada tangisannya.

“Hamun, nanti kita main yuk. Otakku penat seminggu ini belajar terus,” ajak Donghae oppa dan tak perlu waktu lama untukku meng-iya-kannya.

“Ketemu di depan gerbang ya,” ujarku mengakhiri perbincangan kami begitu bel tanda masuk berbunyi.

begitu bel tanda pelajaran berakhir aku segera memasukan barang-barangku ke dalam tas dan beranjak dari kelasku namun tanpa sengaja pandanganku tertuju pada Donghae oppa yang sedang berbicara dengan seorang gadis di gerbang sekolah. Beberapa menit aku memperhatikan mereka dari jendela kelasku. Dari tatapan mata oppa, aku dapat mengetahui kalau dia sangat mencintai gadis ini. Apa mereka pacaran? Namun tiba-tiba aku melihat ada seorang pria yang menutup mata gadis itu dari belakang lalu mencium pipi gadis itu. Oppa tertawa melihat mereka berdua namun matanya menyatakan kesedihan.

Aku tahu sekarang. Gadis itulah yang membuat oppa menangis. Apa ia sangat mencintainya?

Entah mengapa, saat aku berpikir seperti itu, dadaku tiba-tiba terasa sakit.

Apa yang terjadi padaku?

:::::

“Oppa,” panggilku pada Donghae yang sudah menungguku.

“Hamun! Kau lama sekali!” protesnya

“Aku memperhatikanmu dengan seorang gadis dari kelasku tadi,” jawabku jujur dan membuat raut wajah oppa berubah seketika

“Ternyata mencintai dalam bentuk apapun itu menyakitkan, ya..” ujarku padanya

Aku kira ia akan setuju dengan pernyataanku namun ia malah tersenyum dan menjawab, “Kau salah, Hamun. Mencintai adalah hal paling indah di dunia ini, terutama ketika kau melihat orang yang kau cintai bahagia.

jantungku berdetak kencang mendengar jawabannya.

“jadi, siapa gadis tadi?” tanyaku pada Donghae oppa sambil memulai perjalanan kami

“Song Hyejin. Sahabatku sejak kecil, rumah kami bersebelahan” ujarnya

“Oppa menyukainya?” tanyaku

Langkahnya terhenti mendengar pertanyaanku.

Donghae oppa terdiam sebentar dan berkata, “iya” jawabnya dan entah mengapa tiba-tiba dadaku terasa perih.

“Dia alasan oppa menangis?” tanyaku

Kali ini oppa menatapku lurus dan berkata, “iya”

aku merasakan dadaku panas dan perih, jantungku pun berdetak kencang. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku.

This complicated feeling, i have never experienced before.

Dan kini kusadar ternyata aku memang mencintainya. aku mencintai Donghae Sunbae —mungkin sejak pertama kali aku melihatnya menangis— aku tidak tahu mengapa dan aku tak tahu bagaimana. Aku hanya mencintainya, dan baru kusadari itu.

Tapi disaat bersamaan dengan aku mulai mengatahui perasaanku ini, aku harus menerima kenyataan kalau cintaku tak akan terbalas karena dia masih sangat mencintai Hyejin onnie.

“but Oppa, Hyejin onnie already have Kyuhyun oppa as her boyfriend. But you still love her? why? Why oppa? why?”

“HOW SHOULD I KNOW?!” ucapnya setengah teriak

Baru pertama kali ini ia berbicara keras padaku, hal itu membuat hatiku sakit.. air mataku sudah mengumpul di pelupuk.

“… sorry. Aku pulang duluan Hamun. Kita ganti hari lain saja ya,” ujar Donghae oppa lalu pergi meninggalkanku duluan

“Hamun, he already has someone he likes.. why i still love him? why?” tanyaku pada diriku sendiri. Dan air mataku mulai mengalir dengan deras..

So, He’s the same as me.

>>>>>

Sudah seminggu sejak hari itu, berarti sudah seminggu aku tak bertemu dengannya. Tidak, aku tak menghindarinya. Aku berusaha mencarinya tapi tak pernah kutemukan. Selama seminggu ini aku selalu menantinya di bawah pohon rindang tempat kami biasa bercanda gurau namun ia tak kunjung datang.

“Kita akhiri pelajaran hari ini. Selamat siang,” ucap Sem mengakhiri pelajaran hari ini. bel pun berbunyi. Anak-anak sibuk berlomba berlarian keluar kelas sedangkan aku yang dalam mood tak bagus hanya bisa tertawa melihat tingkah teman-temanku.

Aku memperlambat gerakanku saat membereskan barang-barangku sehingga aku menjadi satu-satunya penghuni kelas ini.

“Hamun,” panggil seseorang. Aku menoleh ke sumber suara dan mendapati seseorang— yang kurindukan kini berdiri diambang pintu kelasku.

Aku menatapnya lurus tanpa ekspresi. aku marah, kaget, sedih, dan senang. Aku bingung ekspresi mana yang harus kutunjukan lebih dulu.

Donghae berjalan mendekatiku, “Yaa, Hamun ah, mianhe aku tak menemuimu seminggu ini. Nilaiku merah jadi aku harus ikut pelajaran tambahan,” ucapnya

Aku lega bukan main mendengar penjelasnnya, aku kira ia akan membenciku. Tanpa sadar air mataku mulai mengalir.

“Yaa, Hamun, kenapa kau menangis?” tanya Donghae bingung sambil menghapus air mataku, namun air mataku tak bisa berhenti. Aku tak dapat menahan perasaanku ini. perasaanku sudah meluap dan aku memeluknya bersamaan dengan tangisanku yang meledak. Ia membalas pelukanku sambil mengelus kepalaku

“Ku- kukira, kau membenciku,”jawabku jujur

“Aigo, bagaimana kau bisa berpikir seperti itu? Tidak, itu tak mungkin. Mianhe sudah membuatmu khawatir,” ujarnya sambil mengelus kepala Hamun.

“lalu bagaimana caraku agar kau tak menangis lagi?” tanyanya lagi

“Co- cokelat. Aku mau co- cokelat. Yang mahal,” ujarku sesenggukan. Ia tertawa dan menarik tanganku. “baiklah, aku akan mentraktirmu makan coklat sepuasnya hari ini,” ucapnya

:::::

“Yaa, Hamun, kau seperti anak kecil saja! Cemot sana-sini,” ujar Donghae oppa dalam perjalanan pulang kami. Ia mengambil tisue, tangan kirinya mengangkat daguku dan mulai mengelap pinggiran bibirku yang ada cokelat dengan tangan yang lain.

“Donghae oppa, bagaimana kalau kau mencoba melupakan Hyejin onnie dan melihat padaku?” ucapku tegas tanpa basa-basi. Entahlah darimana kudapatkan keberanian untuk mengatakan hal ini.

Donghae oppa terpaku masih dengan posisi sebelumnya hanya saja tangan kanannya tak bekerja lagi, “Saranghaeyo, oppa” ucapku sambil menatap lekat matanya.

Ia tak menjawab apapun namun perbuatannya sekarang aku anggap sebagai jawaban iya — Donghae oppa mendekatkan wajahnya padaku, aku menutup mata, dan ia mengecup bibirku.

“Rasa cokelat,” komentarnya begitu menciumku dan aku hanya bisa tertawa.

Tangan kecilku menyelinap dijemarinya, “Ayo pulang Hamun” ujar Donghae oppa yang langsung kuturuti. Orang yang kusukai kini berada bersamaku, disampingku, dan menjadi milikku.

Saat ini aku sangat naif, kupikir menghapus perasaan seseorang semudah menekan tombol delete pada keyboard laptop.

>>>>>

Sudah seminggu aku resmi menjadi pacar Donghae oppa. Kami juga melakukan hal-hal yang sewajarnya dilakukan oleh sepasang kekasih seperti bergandengan tangan, pulang sekolah bersama dan kencan. Aku merasa Donghae oppa sudah mulai melupakan Hyejin onnie.

Kali ini pun kami berencana kencan sepulang sekolah, namun rencana itu berantakan saat Donghae oppa melihat Hyejin onnie berlari keluar gerbang sambil menangis.

“Hyejin,” gumam Donghae begitu melihat Hyejin. Tanpa meminta persetujuanku, Donghae oppa berlari mengejarnya lalu memeluknya. Aku rasa ia hanya mau memberi ketenangan, namun tangan itu berbeda dengan tangan yang selalu mengelus kepalaku. Donghae oppa menatap gadis itu dengan tatapan yang tak pernah ia tunjukan padaku.

Wajahku memanas, jantungku bekerja 2 kali lipat, dadaku sesak. Aku mengepalkan tanganku dan menggigit bibir bawahku, menahan air mata yang sudah mengumpul dipelupuk. Aku segera pergi meninggalkan pemandangan itu sebelum pertahananku runtuh.

Ia mulai mencintaiku dan melupakan Hyejin— itu yang kupikir. Namun detik ini aku sadar, sampai sekarang Donghae oppa masih sangat mencintai Hyejin.

:::::

From: Donghaeyoo~

Mianhe, Hamun tadi aku meninggalkanmu begitu saja. Hyejin sangat membutuhkan aku tadi. Ia sedang bertengkar dengan Kyuhyun.

In reply to Donghae:

Gwencana, arraseo, kupikir kalian butuh waktu berdua. Kencan hari ini diganti besok ya oppa.

Aku menyembunyikan kepalaku dibawah bantal dan mulai menangis,

“Aku juga sangat membutuhkanmu”

>>>>>

“Siwon sunbae, apa Donghae oppa ada?” tanyaku pada salah satu sahabatnya. Ia menatapku heran.

“Bukannya sudah pulang duluan, ya? Aku kira kalian mau kencan makanya begitu bel dia terburu-buru,” jawab Siwon sunbae.

“Begitu ya.. Gamsahamnida sunbae, annyeong,” kataku lalu segera meninggalkannya.

Halaman belakang sekolah terlintas di otakku. Aku berjalan menuju halaman belakang sekolah, tempatku dan dia biasa bertemu. Dan benar, dia ada disana!

“Oppa!” panggilku dari kejauhan namun sepertinya ia tak mendengarku. Aku berjalan mendekat dan hendak memanggilnya lagi namun suaraku seakan tercekat saat aku mendapati dirinya tak sendirian di bawah pohon itu. Ia bersama Hyejin onnie.

“isn’t there anyone who loves me more than i love him?” tanya Hyejin onnie sambil menatap sendu langit biru. Hal itu membuatnya terlihat sangat rapuh, membuat setiap pria yang melihatnya, ingin memeluknya memberikan kekuatan. Kurasa itu juga yang dirasakan Donghae oppa saat ini.

Donghae oppa, pria yang ada disampingnya, menatap gadis itu dengan penuh cinta, ” There’s one, Hye,” ucapnya lalu mengecup bibir Hyejin

“ayo pulang, aku akan mengantarmu” ucap Donghae oppa sambil menggandeng erat tangan Hyejin seakan tak ingin terlepas lagi

“gomawo, Dongahe ah” balas Hyejin

Wajahku memanas, jantungku bekerja 2 kali lipat, dadaku sesak, air mataku meleleh tanpa ekspresi.

Donghae oppa mencintai Hyejin onnie. Dulu sampai sekarang, tak ada yang bisa merubahnya.

:::::

To Donghae:

Kau kemana saja oppa? aku mencarimu tapi kata Siwon oppa kau tak masuk. Besok aku ulang tahun, ini ulang tahun pertamaku dengan kekasihku jadi aku ingin merayakannya bersama oppa. jam 07.00 pm di Lotte World ya oppa.

>>>>>

Tolong. Hari ini saja. Tataplah aku, gadis yang sangat mencintaimu.

“Hamun, mianhe telat..” ujar Donghae oppa sambil berusaha mengatur nafas.

“Gwencana, kajja, aku sudah tak sabar ingin bermain!” ujarku sambil menarik Donghae oppa.

Kami menjajal seluruh wahana dan jajanan yang ada di Lotte World dengan gembira, atau lebih tepatnya berusaha gembira. Aku ingin melupakan kenyataan bahwa Hae oppa masih sangat mencintai Hyejin hari ini saja. Aku ingin bergembira sepuasnya dihari ulangtahunku.

Setelah tak punya tenaga lagi, kami berhenti bermain dan memakan jajanan yang sudah aku beli tadi. “Permen ini enak. Es krim juga. oppa mau coba?” tawarku padanya. Donghae oppa lebih memilih es krim. “Dingin” ujarnya dengan mulut penuh es krim dan berusaha menelannya. Aku terkikik geli melihatnya.

Aku harap waktu berhenti agar kebersamaan kami tetap seperti ini.

Namun mimpiku itu bubar bersamaan dengan ponsel Donghae oppa berdering.

Aku dapat merasakan ia menatapku lalu menekan tombol reject pada handphonenya.

“kenapa tak diangkat?” tanyaku penasaran dan ia hanya menjawab dengan senyum yang dipaksakan. Aku tau sekarang siapa yang menelponnya, Hyejin. Kini ponsel oppa berdering lagi. Aku memperhatikan gerak-geriknya. ia baru saja mau menekan tombol reject, “jangan, angkat saja. Hyejin kan?” ujarku, ia mengangguk lalu mengangkat panggilan itu.

…aku membutuhkanmu, Donghae” ujar Hyejin melalui panggilan telepon itu.

“Ne, tapi..” Donghae oppa terhenti, ia menatapku dengan tatapan bingung dan bimbang.

Aku menarik nafas, meyakinkan diri kalau keputusanku ini hanya akan menyakitiku dan akan membuatnya bahagia, “Pergilah, kau masih begitu mencintainya kan? Pergilah” ujarku

“Ta- tapi..” ucapannya terputus karena aku menciumnya secepat kilat

“Saranghae oppa” kataku untuk terakhir kalinya. “Pergilah sekarang sebelum aku berubah pikiran dan tak akan melepaskanmu” ujarku sambil berusaha menahan air mataku dan tetap tersenyum

“Mianhata, Hamun. Aku yakin kau akan mendapat yang lebih baik dari aku,” katanya

“Arra, arra, pergilah cepat. Aku sudah lelah tersenyum,” ujarku sambil tetap tersenyum padanya

How could i be so naive to think that..

if i can continue to love him..

if i can work hard..

Then one day.. he would fall in love with me.

Perasaanku tak tertahan lagi. Air mataku mulai menangis bersamaan dengan punggungnya yang tak terlihat lagi. Aku berharap ada suatu keajaiban yang membuatnya kembali ke sampingku ini, namun aku tahu, itu tak mungkin. Dia sudah memilih. Dan orang yang dia pilih, bukan aku.

Aku tak butuh namja yang lebih baik darimu. Yang kubutuhkan hanya kau, Donghae.

>>>>>

“Hamun-ah! Cepat kesini! Kau harus lihat!” teriak Sonrye yang sedang berdiri diambang jendela dengan hebohnya.

“apa sih?” tanyaku penasaran, sambil menghampirinya. Dan dari jendela kelasku ini, dapat aku lihat seorang yang masih sangat aku cintai sedang bersendagurau dengan gadis yang ia sayangi.

“Yaaa! Hamun! Kenapa mereka akrab sekali?” tanya Sonrye bingung dan hanya kujawab dengan senyum lirih

“yaa! Kenapa kau malah tersenyum melihat pacarmu bermesraan dengan gadis lain?” protes Sonrye. Aku tersenyum dan menjawab, “nama gadis itu Song Hyejin, sahabat Donghae oppa, sekaligus..” aku terhenti, berusaha mengabaikan rasa sakit yang aku rasa, “orang yang sangat dia sayangi” ucapku sambil tetap tersenyum. Aku dapat merasakan Sonrye menatapku iba.

“yaaaa park Sonrye! Aku tak selemah itu! Jangan menatapku seperti itu!” candaku namun aku memang tak dapat membohonginya.

Ia memelukku dan berkata, “menangislah, you’ve been strong for too long” katanya dan detik berikutnya, tangisku meledak. Ternyata sangat susah untuk melepaskannya.

DONGHAE POV

Bel pulang sekolah berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar dari kelas masing-masing begitu pula aku, Siwon, dan Kyuhyun.

“Donghae ah!!” teriak seorang gadis yang kukenal suaranya sebagai Hyejin. Ia mengalungkan tangannya pada lenganku.

“Ayo jalan! Aku mau mentraktirmu,” kata Hyejin.

Situasi ini membuatku bingung. Satu sisi aku senang karena Hyejin lebih dekat denganku namun aku jadi tidak enak dengan Kyuhyun. Bagaimana pun, Kyuhyun adalah mantan pacarnya.

“Aku pulang duluan,” kata Kyuhyun datar meninggalkan kami lebih dulu

“Kau sudah putus dengan Hamun?” tanya Siwon tiba-tiba yang kujawab dengan anggukan lemas

Siwon membuang nafas panjang, “Semoga kau tak menyesal,” katanya lalu pergi meninggalkanku. Aku tak mengerti apa maksudnya namun perkataan Siwon terus terngiang.

“Donghae, kajja!” ajak Hyejin yang menyadarkanku dari lamunan tadi. Aku dan Hyejin segera beranjak meninggalkan koridor sekolah ini. Di depan pintu gerbang, tanpa sengaja, aku melihat Hamun sedang berjalan bersama Sonrye sahabatnya, beberapa meter di depanku. Tanpa kusadari, bibirku menyunggingkan senyuman lalu meneriakan namanya, “Hamun sshi!” aku melihatnya sedang mencari-cari sumber suara tadi maka dari itu, aku melambai-lambaikan tanganku agar ia dapat mengetahui kalau aku yang memanggilnya tadi. Ah, dia sudah melihat kearahku namun.. Dia hanya tersenyum tipis, membungkukan badannya padaku, dan berlalu begitu saja. Tidak biasanya. Padahal dia dulu sangat girang seperti anak kecil yang baru saja diberi hadiah natal yang mahal setiap kali melihatku

“Donghae ah? Kenapa kau? Kau tampak memikirkan sesuatu?” tanya Hyejin, menyadarkanku dari pertanyaan-pertanyaan yang sedang berputar diotakku.

“A- aniyo. Kajja Hyejin, kita pulang,” ajakku. Kami pun melanjutkan langkah kami yang tertunda.

“Lee Donghae Sunbae,” panggil seseorang padaku saat aku dan Hyejin menunggu bus kami di halte.

“Ah, Sonrye sshi, ada apa?” tanyaku pada gadis yang memanggilku tadi, yang ternyata adalah Sonrye, sahabat Hamun.

“Untuk beberapa waktu kedepan, jauhi Hamun,” ujarnya singkat yang tentu saja membuatku bingung

“Waeyo?”

“Supaya ia bisa melupakanmu. Supaya ia tak menangis lagi saat melihatmu bersama gadis yang ada disampingmu. Supaya ia bisa menemukan pria yang lebih baik darimu, yang lebih pantas untuk menerima cintanya. Alasanku sudah cukup kuat kan? Kalau aku mendapati Hamun menangis karena sunbae, akan kupastikan sunbae akan merasakan hal yang sama seperti yang Hamun rasakan” ujar Sonrye sambil menatapku tajam. Aku tahu ia serius dengan perkataannya dan aku sendiri pun meyetujui apa yang ia katakan tadi walaupun aku tahu itu akan menyakitkan.

Tunggu.. Kenapa dadaku terasa sakit hanya karena tak boleh menemui Hamun?

“Kalau begitu, aku pulang,” ujar Sonrye mengakhiri percakapan tak bersahabat ini.

“Donghae ah, gwencana? Jangan terlalu dipikirkan perkataan gadis tadi. Dia hanya–”

“Ah, bus kita sampai. Kajja,” ajakku pada Hyejin walau sebenarnya aku hanya tak mau melanjutkan pembicaraan tadi.

>>>>>

Sudah seminggu sejak percakapanku dengan Sonrye di gerbang sekolah, berarti sudah seminggu aku tak bertemu dengan Hamun. Malam, setelah Sonrye memintaku untuk menjauhi Hamun, aku terus memikirkan perkataan Sonrye. Dan ia memang benar. Hamun gadis yang baik, dia pantas mendapatkan yang lebih baik dariku.

“Donghae ah, cobalah ini,” ujar Hyejin sambil menyuapiku sesendok es krim yang ia bawa diwaktu istirahat siang ini.

Aku senang karena akhir-akhir ini aku lebih dekat dengan Hyejin jauh dari sebelumnya – seharusnya, itulah yang kurasakan. Namun aku tak tahu mengapa, akhir-akhir ini perasaanku tak menentu.

BRAAAK! Suara buku tebal yang terbanting di meja menggema di setiap sudut kelas ini. Semua kegiatan yang dilakukan teman-teman terhenti seketika. Semua mata tertuju pada pelakunya, Kyuhyun, namun ekspresi wajahnya tidak menunjukan emosi sedikit pun, “Aku keluar dulu,” ujarnya singkat.

“Dia kenapa sih?” tanyaku pada Siwon yang kebetulan ada di sampingku. Tanpa mengalihkan perhatian dari bukunya, ia menjawab pertanyaanku dengan mengangkat bahunya.

“Mungkin dia cemburu,” ujar Siwon tiba-tiba

“Maksudnya?” tanyaku bingung

“Dia cemburu padamu. Mungkin dia masih cinta pada Hyejin?” ujar Siwon sambil melirik Hyejin. Hyejin yang mendengar pernyataan Siwon tiba-tiba menjadi salah tingkah.

“Ka- kau bicara apa Siwon sshi!” bantah Hyejin

“Lalu apa kau dan Kyuhyun sudah resmi putus? Kau dan Donghae sudah resmi pacaran?” tanya Siwon lagi. Memang benar, Hyejin belum secara resmi putus dengan Kyuhyun dan hubungan kami pun masih belum jelas, Hyejin juga belum pernah mengatakan ‘Saranghae’ padaku.

“Ehm, Donghae ah, kalau aku mendekati Hamun kau tak masalah kan?” tanya Siwon menyadarkanku dari pikiranku namun mendengar pertanyaan Siwon, jantungku berdetak kencang. Ada perasaan tak rela. Tak rela? Mengapa aku tak rela? Bukannya dia bukan pacarku lagi? Ada apa denganku?

“Aku sangat menyukai Hamun. Tak masalah kan?” tanya Siwon sekali lagi

“Te- te- tentu saja, aku tak masalah,” jawabku sambil menyunggingkan senyum yang kupaksakan

“Bagus. Aku harap kau tak menyesal dengan keputusanmu sendiri ya,” ujar Siwon. “Aku lapar, ke kantin dulu ya, annyeong,” lanjutnya lalu berlalu meninggalkan kami berdua.

“Donghae ah, gwencana? siwon sshi kenapa sih?” tany Hyejin dengan nada sebal.

“Mungkin dia sedang menstruasi?” candaku dan berhasil membuat Hyejin tertawa

“Ayo makan lagi ice creamnya,” kata Hyejin. Dengan semangat, ia melahap ice cream ditangannya itu dan membuat bibirnya cemat cemot.

Aku tertawa, mengambil tissue yang kebetulan ada dikantungku, lalu mengelap pinggiran bibirnya.

“Yaa! Hyejin ah! Kenapa rakus sekali? Jadi cemat cemot! Kau ini seperti Ha-” kenapa tiba-tiba wajah Hamun terlintas dikepalaku?

“Seperti siapa?” tanya Hyejin

“Se- seperti anak kecil!” elakku.

Apa yang terjadi padaku? Kenapa dari tadi Hamun selalu terlintas dibenakku?

>>>>>

Entah mengapa hari ini aku ingin sekali ke taman belakang sekolah, tempat aku biasa bertemu dengan Hamun dulu. Aku pun mengikuti naluriku dan membiarkan kakiku membawaku ke tempat itu. Tanpa kusangka, dari jauh aku melihat Hamun sedang duduk disitu.

Aku dapat merasakan jantungku berdebar sangat kencang. Tanpa kusadari, bibirku merekahkan senyuman dan ada perasaan gembira yang muncul tiba-tiba saat melihatnya. Aku berjalan mendekatinya dengan girang namun tiba-tiba kakiku terhenti dan semua rasa bahagia itu hilang sekejap bersamaan dengan munculnya batang hidung tuan muda Choi Siwon. Tanpa aku sadar, aku tiba-tiba menyembunyikan diriku dibalik pohon. Dari sini aku dapat melihat dan mendengar semua percakapan mereka.

“Gomawo Sunbae,” ucap Hamun saat Siwon memberinya minuman isotonik. Siwon pun tersenyum lalu mengambil posisi duduk disamping Hamun.

Awalnya mereka hanya basa-basi saja, tapi tiba-tiba Siwon bertanya, “Kenapa kau semudah itu melepaskan Donghae demi gadis lain?”

“Karena Aku mencintainya,” jawab Hamun singkat sambil memberikan senyuman yang sangat tulus. Mendengar jawaban Hamun, jantungku kembali berdetak kencang dan ada perasaan gembira muncul di benakku.

“Kalau kau mencintainya, kenapa tak mempertahankannya?” tanya Siwon sekali lagi

“Apa aku bisa bahagia kalau pria yang aku cintai tidak mencintaiku?” ujarnya masih tetap tenang namun ia terlihat rapuh. Aku ingin sekali memeluknya, memberikan kekuatan. Namun aku sadar, aku tak berhak karena akulah yang membuatnya demikian.

“Kau bahagia sekarang melihatnya bersama gadis lain? Bukannya itu menyakitkan?” tanya Siwon lagi-lagi

“Kau tahu mengapa aku mencintai Donghae? Karena dia yang mengajarkan aku tentang cinta. Katanya, Mencintai adalah hal paling indah di dunia ini, terutama ketika kau melihat orang yang kau cintai bahagia. Sakit sih, tapi asal dia bahagia, aku akan menyembunyikan air mataku,” jawab Hamun yang membuat hatiku mencelos.

Pria macam apa aku yang menyia-nyiakan gadis sebaiknya? Aku diliputi rasa bersalah. Aku ingin sekali memeluk Hamun dan meminta maaf padanya namun yang kulihat malah Siwon mencium Hamun!

“Saranghaeyo Hamun. Lihatlah aku. Aku tak akan membuatmu menangis,” ujar Siwon. Emosiku memuncak. Aku sudah siap untuk memukul Siwon namun aku terhenti saat melihat Hamun menangis histeris

“huaaaa.. Mianhata Siwon Sunbae.. A- aku tak bisa kalau bukan Donghae oppa. Aku terlalu mencintainya. Aku belum bisa melupakannya, mianhata, mianhata, jeongmal mianheyo sunbae,” ujar Hamun terisak. Ia terlihat kacau, lemah, dan rapuh. Bukan seperti Hamun yang biasa kukenal. Aku hanya bisa menahan emosiku saat Siwon memeluk erat Hamun.

“Siwon Sunbae, mianhe, kau melihatku kacau begini. Aku kembali dulu,” ujar Hamun lalu pergi meninggalkan Siwon sendirian.

:::::

“Kau bodoh, Donghae. Kau hanya bisa membuat Hamun menangis padahal dia sangat memikirkan kebahagiaanmu,” ujar Siwon

“Aku tahu kau ada di belakang dan sudah mendengar semua pembicaraan kami,” ujarnya lagi dan akhirnya aku menampakan diriku. Aku duduk di sampingnya dalam diam.

“Aku ingin tetap di sisinya, tapi Hamun menolak karenamu. Dia berusaha menjadi kuat untuk dirimu, tapi bagaimana dengan perasaannya?” kata Siwon lagi dan aku hanya bisa diam, merenungi perkataan Siwon.

“Aku harap kau segera menyadari perasaanmu sendiri,” kata Siwon

“Maksudmu?” tanyaku bingung

“Kau itu lemotnya keterlaluan! Akan kubantu kau menyadarinya. Aku pulang dulu. Bye,” ujar Siwon lalu pergi meninggalkanku yang kebingungan

>>>>>

“Aish! Ujian ini membuatku stress!” omel Hyejin sambik menjambak-jambak rambutnya dan aku hanya tertawa karenanya. Ah, tunggu. Kalau sedang setress begini biasanya Hamun selalu memakan coklat pahit, hal itu dapat mengurangi setress. Aku merogoh seisi tasku dan mendapati apa yang aku cari. Aku segera memberikannya pada Hyejin.

“Coklat dapat mengurangi setress berlebihan, Hye,” ujarku sambil menyodorkan coklat itu padanya.

“Kau lupa aku alergi coklat?” tanya Hyejin padaku. Aku benar-benar lupa! Soalnya Hamun selalu memakan coklat saat dia.. Tunggu.. Barusan aku memikirkan, Hamun? Ada apa denganku?!

“Kau kenapa Donghae ah? Dari tadi kau seperti orang linglung. Lalu sejak kapan kau mengantongi coklat di tasmu? Bukannya kau tak suka makanan manis?” tanya Hyejin

“Ini coklat pahit, 54% cocoa. Pahit manisnya pas sekali. Aku mulai membawa coklat di tasku sejak..” jawabanku terhenti karena tiba-tiba bayangan Hamun muncul dibenakku. Ya, dialah jawabannya. Sejak Hamun mengatakan dia suka coklat, aku selalu membawa coklat itu kemana-mana.

“Hamun ah!” panggil seseorang yang membuat perhatianku teralih. Orang itu ternyata adalah Siwon. Ia berjalan menghampiri Hamun yang berdiri 3 m di depanku.

Aku memperhatikan Siwon dan Hamun yang sedang berbincang dengan – menurutku, mereka terlihat mesra, namun aku merasa Siwon menatapku tajam dan tiba-tiba aku melihatnya mencium Hamun. Hamun menatap Siwon dengan rasa bersalah. Ia menangis, membungkuk, lalu meninggalkan Siwon.

Aku sendiri tak tahu mengapa melihat itu emosiku jadi meluap. tanpa aku sadar, aku berjalan mendekati Siwon, memutar pundaknya, lalu memberikan bogem mentah padanya. Ia tersungkur. Aku menarik kemeja seragamnya agar ia berdiri.

Aku baru saja mau memukulnya lagi namun tanganku berhenti, tepat 1 cm sebelum tanganku mengenai hidungnya. Ia berkata, “Apa hakmu memukulku?” Ya, pertanyaan itu seketika menyadarkanku. Apa yang sedang kulakukan?

“Kau bukan siapa-siapa Hamun,” ujar Siwon lagi dan hal itu kembali membuatku merasa bingung dengan semua yang terjadi. Siwon menghempaskan tanganku dari kerahnya

“Kau suka pada Hamun? Cinta? Sayang?” tanyanya, kali ini ia menatapku tajam seakan menanti jawabanku

“A- aku- aku tak tahu,” jawabku jujur. Aku bingung. Mengapa aku melakukan semua itu.

“Kau ini bodoh ya Donghae. Aku bingung kenapa Hamun bisa jatuh cinta pada kau. Bukankah tanganmu sendiri telah menjawab pertanyaanku?” ujarnya. Aku memutar otakku. Mengapa aku memukul Siwon? Mengapa aku marah saat Siwon mencium Hamun? Mengapa aku merasa cemburu? Apakah aku mencintai Hamun?

Saat itulah aku menyadari sesuatu, sesuatu yang sudah tersembunyi rapi di dalam hatinya sejak lama, namun kali ini perasaan itu begitu kuat sampai tidak mungkin diabaikan lagi.

>>>>>

HYEJIN POV

“Hyejin ah, kau cinta padaku?” tanya Donghae padaku tiba-tiba dan hal itu membuat tak mampu berpikir.

Aku selalu ingin berada disampingnya saat aku sedih, aku selalu menginginkannya karena aku membutuhkannya. Aku pikir rasa itu adalah cinta.

“Tentu saja, aku mencintaimu Lee Donghae,” ujarku tegas. Tiba-tiba Donghae mendekatkan wajahnya padaku. Dia mau menciumku. Aku dia sebentar dan tetap pada posisi untuk menerima ciuman itu namun entah mengapa, saat wajahnya sudah sangat dekat, aku memegang bahunya dan mendorongnya. Donghae juga melakukan hal yang sama padaku. Aku sendiri masih terlalu kaget dengan apa yang terjadi. Aku hanya bisa berkata, “Mianhe,” dan kata itu juga keluar dari mulut Donghae.

Kami berdua saling berpandangan beberapa detik dalam diam dan tertawa kecil kemudian.

“Sekarang kita tahu kan, kalau kita berdua tidak saling mencintai?” ujar Donghae. “Tangan kita sendiri yang menjawabnya,” lanjutnya.

“Kau dan aku adalah sahabat. Saling membutuhkan satu sama lain. Tapi itu bukan cinta,” ujar Donghae. Aku meresapi perkataannya dan memang benar. Donghae hanya menjadi tempat pelarianku.

“Kita sahabat, dulu, sekarang, dan seterusnya Hyejin-ah. Dan aku punya hadiah untukmu. Sebentar lg hadiahnya datang. Bye, Hyejin ah, Good luck! Semoga berhasil!” pamit Donghae dan sekejap mata, Donghae hilang dari hadapanku.

Apa ya hadiah dari Donghae?

Aku duduk diam menanti hadiah yang dijanjikan Donghae.

1.. 2.. 3.. 4.. 5 menit sudah terlewat. Mana ini hadiah yang dijanjikan Donghae?

“Haish! Lama sekali! Donghae menipuku ya? Aish! Aku pulang!” omelku meski tak ada orang yang mendengarkan. Aku bangkit dari bangku taman, tempatku duduk tadi dan berlalu meninggalkan tempat itu. Namun sebelum jauh aku melangkah, aku merasa ada yang menarik tanganku. Aku menoleh dan mendapati Kyuhyun memegang tanganku sambil berusaha mengatur nafas. Tunggu.. Mengatur nafas? Kenapa dia ngos-ngosan?

“Kau berlari?” tanyaku heran padanya. Dia menjawab dengan anggukan kepala karena masih susah untuknya untuk mengeluarkan suara saking lelahnya

“Kau bukannya tak suka olahraga?” tanyaku lagi dan dia kembali mengangguk

“Lalu kenapa kau berlari?” tanyaku lagi

“Aish kau cerewet sekali!” kata Kyuhyun dan tiba-tiba semua berlalu dengan cepat. Aku memegang bibirku sambil menatap heran Kyuhyun. Barusan dia menciumku?

“Hyejin ah, aku sangat mencintaimu. Sangat. Aku mencoba melupakanmu, tapi aku tak bisa. Aku mungkin memang kurang dewasa, karena itulah kau memutuskanku. Tapi aku akan berusaha untuk menjadi dewasa demi kau. Berikan aku kesempatan Hyejin-ah,” ujar Kyuhyun. Dalam hati, aku sangat girang mendengar ucapan Kyuhyun. Terlalu girang. Aku tak bisa mendeskripsikannya dalam kata-kata. Ya, ternyata aku memang masih sangat mencintai pria ini meski ia kadang sangat menyebalkan.

“Hyejin-ah, mianhe, jeongmal mianhe, berikan-”

“Aish kau cerewet sekali!” aku menyela perkataannya lalu menciumnya kilat.

“Kajja, sekarang kita pergi ke Summer Festival,” ajak Kyuhyun sambil menggandengku. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah kekanakan pria ini.

>>>>>

HAMUN POV

Sudah 2 minggu aku tak berkutat dengan pelajaran matematika ataupun fisika. Ya, saat ini sedang liburan musim panas. Liburan panas kali ini kumanfaatkan baik-baik untuk dapat melupakan Donghae oppa dan berusaha untuk mulai menerima perasaan Siwon oppa.

Dan jadwal kegiatan di malam ini adalah pergi ke summer festival bersama Siwon oppa.

“Oppa, paliwa! Nanti kita kehabisan tempat yang bagus buat lihat kembang apinya!” ujarku sambil menarik tangan Siwon oppa yang tadi tertinggal beberapa meter dibelakangku.

“iya, iya, sabar Hamun sayang,” ucapnya dengan senyum menawan sambil berusaha mengimbangi tenaga dan semangatku.

Begitu tiba disana, Aku dan Siwon oppa menjajal setiap jajan yang ada dan bermain di tiap stan yang tersedia. Aku merasa sangat gembira, namun tiba-tiba mataku tertuju pada seorang gadis yang sedang tersenyum ceria pada orang yang ada disampingnya. Kegembiraanku seakan hilang lenyap tak bersisa. tanpa kusadari kaki dan tangaku bergerak sendiri menghentikan langah gadis itu dan pacarnya.

“Hyejin? Kenapa kau bersama Kyuhyun?” tanyaku berusaha tenang meski suaraku terdengar dingin. “Mana Donghae? Bukannya kau sekarang adalah pacarnya?” tanyaku sekali lagi. Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang kulihat.

“Donghae? Aku tak pernah berpacaran dengannya!” sangkalnya.

Tak mungkin. Lalu selama ini yang dilakukan donghae padanya dia sebut apa?

“tak mungkin. Bukannya selama ini dia selalu bersamamu? Bukannya kau sudah putus dari kyuhyun?”

“aniyo, donghae hanya sahabatku. Sejak 2 minggu yang lalu aku bertengkar dengan Kyuhyun dan Donghae yang selalu menghiburku. Dan berkat dia juga aku bisa kembali dengan kyuhyun” katanya santai.

“That’s not! He loves you! Why don’t you realize it? Or maybe you pretend to be?” ucapku dengan nada yang lebih tinggi. Emosiku sudah mulai memuncak berkat gadis ini.

“he’s my bestfriend! You don’t understand about our relations-”

“No! You don’t! What? You call this relationship as bestfriend? Donghae selalu ada disampingmu saat ia membutuhkanmu tapi dimana kau saat ia membutuhkanmu? Dimana kau?!” bentakku padanya. Emosiku meledak seketika. Aku tak dapat menahan air mataku lagi. Aku marah dan sedih. Aku marah padanya yang memanfaatkan Donghae. Aku sedih karena perasaan Donghae yang dipermainkan.

“Hamun, stop it, please. Semuanya memandangmu” ujar Siwon yang sudah ada disampingku. Namun aku tak peduli. Aku tak mau donghae dipermainkan seperti ini.

Sambil sesenggukan aku berkata, “tahu kau akan seperti ini, aku tak akan merelakannya. Dan mulai detik ini, aku akan kembali mengejarnya dan tak akan melepaskan-”

“Aku juga tak akan melepaskanmu lagi, Hamun. Mianhe, jeongmal mianhe,” ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dan memelukku dari belakang. Aku mengenal suara ini. Suara yang kurindukan. Aku menoleh kebelakang dan terkejut melihat orang yang berada di hadapanku.

“Do.. Donghae op.. pa?” aku menatapnya tanpa berkedip sedikitpun saking kagetnya. Donghae oppa hanya tersenyum manis padaku lalu beralih pada Siwon.

“Aku ambil Hamun lagi,” ujar Donghae pada Siwon oppa dan oppa pun tersenyum meski aku tahu itu bukan senyum tulus.

“Kajja,” ajak Donghae oppa sambil menarikku.

:::::

“Oppa, kenapa kau ada disini?” tanyaku padanya. Ia tak menjawab dan terus saja berjalan sambil menarikku.

“Kau mau membawaku kemana Oppa?” tanyaku sekali lagi dan dia tetap tak menjawab. Aku yang sebal dengan sikapnya itu meronta dan berteriak padanya.

“Oppa! Lepaskan!” pintaku sambil menarik tanganku darinya. Aku menatapnya sebal namun dia membalasnya dengan senyum dan berkata, “Tadi sudah kubilangkan, aku tak akan melepaskanmu lagi, Hamun,” padaku.

“Mianhata Hamun, aku terlalu bodoh karena tak bisa mengerti perasaanku sendiri. Aku baru menyadari kalau aku mencintaimu,” kata Donghae oppa sambil menatapku lurus

Aku takut ini semua mimpi.

“Jangan main-main oppa! bercandamu keterlaluan! Kau—” kalimatku terputus karena Donghae oppa menciumku. Aku tak suka ini. kenapa dia menciumku kalau dia tak punya perasaan apapun padaku? aku meronta dan mendorongnya.

Tanpa sadar, air mataku kembali keluar. Mungkin karena aku terlalu emosi. Tapi aku tak suka perbuatannya!

“Jangan menciumku kalau kau tak mencintaiku Oppa!” ujarku padanya. Aku benar-benar kacau sekarang.

Donghae oppa menghapus air mataku dan berkata, “Hamun ah, aku tak mungkin mencium orang yang tak aku cintai,” ujarnya

“Lalu kenapa kau menciumku saat itu? Padahal kau masih mencintai Hyejin onnie!”

“Karena sejak awal aku memang mencintaimu, Hamun, hanya saja aku baru menyadari perasaanku padamu saat itu adalah cinta,” ujarnya sambil tersenyum. senyum yang menenangkan hatiku.

“Kau bohong oppa, kau jago menggombal,” ujarku

“Bagaimana kalau kau buktikan sendiri aku berbohong apa tidak,” ujarnya sambil memberikan evil smirk padaku dan setelah itu ia menciumku. Terasa hangat dan tulus. Ya, dia tidak berbohong.

“Bagaimana? kau sudah mengerti perasaanku?” tanya Donghae oppa.

Aku tersenyum dan menjawab, “belum” dia pasti mengerti maksudku.

Donghae oppa tersenyum lebar sekali, “Dengan senang hati, sampai kau mengerti Hamun,” ujarnya dan ia kembali menciumku.

END🙂

How? kekekke i’m so sorry, this is my another fail ff kekeke even it’s not good, i hope you like it🙂