Cast:

Kang Hamun

Cho Kyuhyun

Song Hyejin

Choi Siwon *dalam part ini tidak muncul, mianhe :)*

note: yang warna biru muda itu, Kyuhyun Pov ya🙂

 

*****

“Kiyu, wake up!” seruku sambil membuka lebar korden jendela kamar Kyu.

Sinar matahari yang masuk tanpa permisi membuat Kyu, bukannya bangun, tapi malah menarik selimutnya sampai menutupi kepalanya.

“Aku tak mau telat karenamu, Kyu. Ppaliwa,” rengekku sambil menarik selimutnya namun tak membuat Kyuhyun bergeming.

“Ayo bangun Kyuuu, kalau tak bangun, kau kucium,” ujarku sambil mendekati wajahnya.

“Aku sudah bangun, see?” ujarnya saat ia tiba-tiba bangkit dari tempat tidurnya.

Dengan sekuat tenaga aku menyunggingkan senyum untuknya meski dalam hati, aku sedang menangis.

“Sana cepat mandi,” seruku dan ia segera masuk ke kamar mandinya.

Lagi-lagi pertahananku tergoyahkan. Aku kembali meneteskan air mata karena baru menyadari bahwa sejak awal Kyuhyun tetap membuat jarak dengan meski kini posisiku adalah pacarnya,

Apa aku tak bisa menggantikan Hyejin di hatimu?

*****

“Kyu, apa kau ingat hari ini tanggal berapa?” tanyaku ditengah perjalanan menuju sekolah.

Kyu memiringkan kepalanya untuk berpikir.

“Hari tanggal 20. Memang ada apa?” tanya Kyu yang membuat hatiku mencelos.

Apa aku sama sekali tak terlintas di hatimu?

Aku tersenyum sendiri untuk menguatkan pertahananku.

Aku memukul pelan kepala Kyu dengan gulungan kertas ditanganku.

“Yaa, kau keterlaluan! Masa tak ingat dengan anniversary kita sendiri,” seruku pura-pura kesal.

Kyu menepuk jidatnya sendiri seakan menyesali kebodohannya.

Ia berdiri di depanku sambil mengatupkan kedua tangannya, “Mianhe, jeongmal mianhe. Aku juga tak menyiapkan apapun,” ujarnya yang membuat kesedihanku sedikit tersembuhkan.

“Baiklah, kalau begitu nanti malam jam 7 di Taman Hangang. Tak boleh telat karena saat ini musim dingin! Aku tak mau salah satu dari kita sakit karena kedinginan! arrachi?” ujarku sok serius yang dibalas oleh Kyu, “Siap Bos!” sambil mengangkat tangan kananya hingga pelipis matanya, seakan memberi hormat padaku.

Aku tertawa terbahak-bahak berkatnya, begitu juga Kyu.

Saat seperti ini, kadang membuatku tak percaya kalau Kyu masih mencintai Hyejin.

Apa sekarang, dalam hati, kau berharap yang tertawa bersamamu adalah Hyejin? Bukan aku?

Kenyataan itu pahit, ya.

*****

Aku menatap bayanganku yang ada di cermin. Meyakinkan diriku kalau semuanya sudah beres.

Aku menghela nafasku panjang, berusaha mensugesti diriku, “Hari ini aku akan melupakan kenyataan kalau Kyu mencintai Hyejin. Aku akan menjadi gadis yang paling bahagia,” gumanku pada diriku sendiri.

Sekali lagi aku meyakinkan diriku kalau semuanya akan baik-baik saja. Secepat kilat, aku melesat menuju tempat tujuan.

…..

Ternyata kekuatan cinta sangat dahsyat ya. Kurasa hal itu membuat susunan otakku agak sedikit tidak beres. Aku datang 1 jam lebih awal dari waktu yang sudah kutentukan sendiri dan hal itu terpaksa membuatku harus menunggunya ditengan angin musin dingin yang menembus kulitku. Jantungku mulai berdetak kencang, dan aku mulai tersenyum-senyum sendiri membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Mungkin saking cepatnya jantungku berdetak sampai-sampai untuk bernafas pun aku lupa.

Aku mengambil ponselku dan mengirimkan sms pada Kyu, “Kiyu, see you in Hangang Park! dokidoki, dokidoki, my heartbeat become so fast! uwaa i don’t know why i become so nervous now kekeke don’t be late! okay? saranghae”

Kau akan datang kan? Aku yakin itu. Aku akan menunggumu.

*****

Seoul, 20 November 2011

 

Hai, Hyejin. Sepertinya sekarang aku tak perlu bertanya ‘apa kabar?’ di pembuka surat yang selalu aku tulis tapi tak pernah kukirimkan padamu ini, karena tanpa bertanya pun, sekarang aku bisa mengetahui kondisimu.

Aku masih tak percaya kalau sekarang kau sudah begitu dekat denganku.

Aku ingin berbincang-bincang denganmu.

Aku ingin memeluk, dan mencium pipi atau keningmu.

Tapi sayangnya, aku harus menahan semua perasaanku karena situasi sudah berubah.

Kini aku adalah pacar Hamun dan hari ini adalah hari anniversary kami yang ke-3.

Andai saja hari itu kau datang, hari ini pasti jadi hari anniversary kita yang ke-3.

Saranghae

 

………

Aku menghela nafas panjang lalu meletakkan pulpenku sebagai tanda kalau aku sudah selesai menulis surat cintaku ini.

Aku segera bangkit dan mengambil mantel yang sudah kusiapkan.

Aku berdiri di hadapan kaca full-body yang ada di kamarku dan merapikan apa yang kurasa belum beres.

Aku melangkahkan kaki meninggalkan kamarku, namun sekali lagi aku menatap surat berwarna merah muda di mejaku dengan nanar.

Andai hari itu kau datang..

“Ting Tong!” suara bel rumahku berbunyi tepat saat kakiku baru saja menuruni anak tangga terakhir. Aku meminta nuuna untuk membukakannya karena aku masih harus memakai sepatu, tapi layaknya seorang kakak yang selalu merasa menjadi raja saat tidak ada omma dan appa di rumah, ia tak mau membukakan pintunya.

Dengan sedikit kesal dan terburu-buru aku segera menghampiri pintu rumahku dan membukanya.

“Hai Kyuhyun!” seru gadis yang kini berdiri dihadapanku.

‘Hai Hyejin, ‘Aku ingin membalasnya demikian, namun lidahku kelu. Aku merasa saluran pernafasanku agak tidak beres karena jantungku yang berdetak berlebihan berkat gadis ini. Aku hanya diam, mematung, dan memandangnya penuh ketakjuban.

“Apa aku tak boleh masuk?” tanyanya yang membuat logikaku kembali.

“Ah, ne, masuklah,” ujarku gagap walau aku sudah berusaha bereaksi setenang mungkin.

Hyejin memandang takjub setiap sudut rumahku, seperti seorang anak kecil yang baru saja melihat boneka barbie limited edition. “Tak ada yang berubah ya,” ujarnya riang tak lupa sambil menyunggingkan senyumnya yang merupakan senjata paling ampuh untuk meluluhkan hatiku.

“Apa kamarmu juga berubah?” tanyanya antusias

“Tidak semua, aku hanya menambahkan dark room supaya lebih mudah mencetak hasil karyaku sendiri,” ujarku yang mambuat matanya makin berbinar-binar.

“Sungguh?! Aku lihat!” ujarnya riang lalu melenggang menuju kamarku bahkan sebelum aku menawarkannya.

Aku hanya bisa menggeleng dan tertawa sendiri mengingat tingkahnya yang ternyata tak berubah sampai sekarang

Aku berjalan menuju kulkas untuk menyediakan minuman untuknya. Namun tiba-tiba saja bayangan surat yang masih terletak di meja belajar tadi terlintas diotakku. Secepat kilat aku berlari menuju kamarku namun terlambat. Hyejin sudah berdiri mematung, dengan surat itu ditangannya dan air mata yang mengalir di pipinya.

“Hyejin, mengapa kau tak datang pada hari itu?” tanyaku sedih sambil berjalan menghampirinya.

Hyejin menengadahkan kepalanya untuk menatap mataku dengan matanya yang sudah berair.

“Hari itu aku sudah menyiapkan semuanya, dan aku sudah menunggumu sampai jam 12 malam namun kau tak kunjung datang. Yang aku dapat justru berita kalau kau sudah pindah ke Amerika,” jelasku.

Hyejin menundukkan kepalanya, “Mianhe,” gumannya. “Saat itu aku terlalu takut untuk mengatakan good-bye padamu. Aku takut perasaanku dan perasaanmu akan tersakiti, tapi aku baru menyadari kalau perbuatanku saat itu justru lebih membuatmu tersakiti. Mianhe Kyu,” ujarnya. Aku dapat mendengar isakan tangisnya.

“Tapi satu hal aku ingin kau percaya,” Hyejin menggantungkan kalimatnya dan kini menatap kedua mataku lurus. “Dulu, sekarang, bahkan untuk selamanya, aku hanya mencintai seorang pria maniak Star Wars, Cho Kyuhyun,” ujarnya yang membuat kami berdua tertawa kecil bersama.

“Apa kau memaafkanku?” tanyanya harap-harap cemas.

Aku menyunggingkan evil smirkku, “Tak semudah itu,” ujarku sambil menariknya dalam pelukanku.

Perasaanku selama ini tak bisa kutahan lagi. Aku memeluknya sangat erat, bahkan aku tak sadar kalau sekarang aku sudah menangis terisak

“Kyu, uljima, aku sudah disini bersamamu,” ujar Hyejin sembari membalas pelukanku.

“Kau benar-benar harus membayarnya karena kau sudah membuatku menangis,” balasku dengan nada sedikit guyon walau aku masih tak bisa menghentikan tangisanku.

“Kau tak boleh pulang hari ini,” ujarku sambil memeluknya makin erat

“Dengan senang hati tuan Cho,” balasnya sambil memelukku erat

“Tapi Kyu, aku tak pernah merasa menerima surat apapun darimu di hari keberangkatanku itu,” kata Hyejin yang membuatku heran sampai aku melepaskan pelukanku.

“Sungguh?” tanyaku sekali lagi meyakinkan Hyejin. Mungkin saja dia lupa namun ia mengangguk mantap.

“Aku menitipkannya pada Ha.. mun..” suaraku tenggelam dipenghujung kalimat yang membuatku teringat akan apa yang harusnya aku lakukan.

Tapi mianhe Hamun, saat ini Hyejin lebih penting dari apapun, siapapun.

Sekali lagi aku menyunggingkan evil smirkku pada Hyejin. “Kita pikirkan hal itu nanti, sekarang kau harus membayar dosa-dosamu,”

*****

Aku menggosokkan kedua telapan tanganku dan meniupnya berulang kali untuk menghilangkan rasa dingin yang menerjang tubuhku. Ini sudah kesekian kalinya dalam 10 menit terakhir aku melirik jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 22.00, itu tandanya sudah 3 jam berlalu dari jam yang sudah ditentukan.

Kemana Kyuhyun?

Mengapa belum datang?

Apa saat dijalan ia bertemu Hyejin?

Lalu lebih memilih Hyejin dan tak akan datang kesini?

Aku menggelengkan kepalaku mengusir semua pikiran jelek yang bersahut-sahutan muncul di otakku. “Kyuhyun pasti datang,” berulang kali aku meyakinkan diriku dengan perkataan itu. Kyuhyun, kau pasti datang.

Meski waktu sudah menunjukkan pukul 02.00, Kyuhyun pasti datang, dan kini keyakinanku terbukti. 10 meter dari tempatku duduk, aku melihat Kyuhyun berjalan ke arahku. Aku yang sangat senang tak bisa duduk dengan tenang menunggunya. Aku segera melesat kearahnya dan memeluknya.

“Tuhkan, kau pasti datang,” ujarku yang dibalas Kyuhyun dengan kata, “Mianhe,”

Aku menengadahkan kepalaku untuk menatapnya, “Mianhe untuk..” aku belum sempat menyelesaikan kalimatku saat angin yang bertiup membawa aroma parfum seorang wanita yang sangat kukenal, Hyejin.

Aku segera melepaskan pelukanku, dan menanyakan kemungkinan terburuk yang terlintas diotakku.

“Kiyu, k.. kau bau Hyejin. Ka.. kau tak bersamanya kan?” tanyaku resah sambil tetap berusaha menyunggingkan senyum. Kyuhyun tak menjawab ia hanya mengatakan, “Mianhe, Hamun,”

Hatiku mencelos. Air mataku mengalir sebelum aku sempat menahannya.

Sudah kukatakan berulang kali, aku akan bertahan meski sesakit apapun itu karena itu, aku menghapus air mataku dan tetap tersenyum walau bibirku masih bergetar.

“Gwe.. gwencana Kyu, kau tak perlu minta maaf. Aku percaya padamu, jadi kau tak perlu..”

“Hamun, mianhe,” ujar Kyu lagi-lagi yang membuat hatiku makin kalut dengan perasaan takut

“Kau tak perlu minta maaf..”

“Aku ingin..”

God, Please stop the time. Aku tak mau mendengar kelanjutannya.

“Aku ingin kita putus,”

…..

To be continued :))