This FF made by : @GYUMONTIC

 

Cast:

Song Hyejin

Cho Kyuhyun

Kim Junsu

Enjoy🙂

 

*****

 

Pagi ini sangat indah. Semua orang tersenyum semangat menyambutnya, kecuali Hyejin. Hyejin berdiri di depan sebuah gedung mewah yang sangat luas. Hyejin menempelkan ponsel yang sudah daritadi dipegangnya ke telinga. Sambil menghela nafas panjang, Hyejin berbicara dengan orang yang ditelponnya. “Oppa, aku sudah di bawah.” Tidak lama kemudian, seorang pria dengan balutan jas putih keluar dari gedung dan menghampirinya.

“Jinni-ya! Kupikir kau tidak jadi datang. Little bit worry, honestly,” ujar Junsu, pria yang selalu memanggil sahabatnya Genie (baca : Jinni) meskipun nama sebenarnya Hyejin.

“Mana mungkin aku tidak datang, Oppa,” ujar Hyejin kembali menghela nafas.

Junsu tersenyum. “Ne, ne. Kajja! Kyuhyun sudah menunggu.”

Dengan segenap keberanian yang ia miliki, Hyejin mengikuti Junsu menuju ruangan Kyuhyun, direktur RS swasta ternama di Korea.

“Silahkan,” kata sekretaris Kyuhyun, menyuruh Junsu dan Hyejin masuk.

Junsu masuk terlebih dahulu, Hyejin mengikuti dari belakang. “Hey Kyu, ini dia Hyejin. Banker yang aku ceritakan itu.” Junsu memperkenalkan Hyejin kepada Kyuhyun. Hyejin tersenyum lalu membungkukkan badan.

“Annyeonghaseyo.”

“Annyeonghaseyo.”

“Silahkan duduk. Langsung saja.” Kyuhyun duduk tegak, menatap Hyejin dengan serius dan siap mendengarkan.

“Baik, dok. Jadi pembiayaan yang kami berikan adalah pembiayaan investasi sebesar 34 milyar won untuk pengadaan peralatan RS spesialisasi jantung yang baru dibuka. Jangka waktunya 3 tahun. Dengan grace period 1 tahun. Jadi pembayaran pokok dan bunga mulai dilakukan di tahun ke-2. Sedangkan untuk penarikan dilakukan berdasarkan kontrak.”

“Berapa bunganya?”

“11%, dok.”

“Benefit untuk kami?”

“Banyak, dok. Kami bisa menyediakan fasilitas produk dana ataupun jasa seperti cash management, forex dan juga non-cash loan.”

“Maaf, untuk saat ini saya belum berminat. Permisi.”

Kyuhyun langsung berdiri lalu meninggalkan Hyejin dan Junsu. Hyejin melongo melihat Kyuhyun yang tanpa basa-basi menolak tawarannya.Sedangkan Junsu hanya kembali tersenyum. “Jangan dimasukin ke hati. Kyuhyun memang begitu.”

“Tapi dia tidak sopan. Menyebalkan!” sahut Hyejin sambil membereskan barang-barangnya. “Aku pulang dulu, Oppa.”

“Ne. Hati-hati ya. Ingat, jangan menyerah.”

Hyejin tersenyum setengah hati lalu keluar dari RS itu, meninggalkan Junsu yang berdiri memandangnya sampai ia beserta mobilnya tidak tampak lagi.

Kerjaan menumpuk membuat Hyejin tidur larut dan bangun lebih pagi untuk menyelesaikannya. Mata bengkak akibat kurang tidur pun sudah terlihat jelas di matanya. “Hyejin, hari ini tolong kamu hubungi lagi dokter Kyuhyun ya. Tanyakan apa dia berminat dengan tawaran kita,” kata atasan Hyejin.

“2 minggu lalu saya sudah ke tempatnya tapi dia bilang dia belum berminat, Pak,” jawab Hyejin.

“Kalau gitu tawarkan lagi. Siapa tahu sekarang dia berminat.”

“Saya rasa kalau tawarannya sama, beliau tidak akan berminat, Pak.”

“Tawarkan dulu. Kalau dia tidak mau, kasih saja apa yang dia butuhkan. Tapi konsul dulu ke saya.”

“Baik, pak.”

Hyejin menyerah untuk menolak perintah dari atasannya. Sudah 3 kali ia menawarkan dan selalu ditolak. Dengan setengah hati, Hyejin mencoba yang ke-4.

“Oppa, aku mau bertemu lagi dengan dokter Cho,” kata Hyejin kepada Junsu agar ia disediakan jadwal untuk bertemu.

Junsu menyambut permintaan Hyejin dengan tangan terbuka dan membantu Hyejin bertemu dengan Kyuhyun.

“Hari ini jam 8 malam di hotel Marriot. Dia ada seminar di sana. Maaf kali ini tidak bisa aku temani.”

“Oke, oppa. Jeongmal gomawoyo.”

Hyejin menutup teleponnya dan segera membereskan berkas-berkas penawaran. Bersama sopir dia berangkat menuju Marriot.

“Pak, pulang saja duluan. Nanti saya pulang sendiri saja. Terima kasih banyak ya.”

“Baik, bu.”

Hyejin menatap hotel Marriot bergantian dengan mobilnya yang sudah melaju keluar gedung. Hyejin menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan keras. Dengan sisa-sisa semangat yang ada, Hyejin masuk ke dalam lobi hotel, mencari informasi tempat seminar yang diikuti Kyuhyun.

“Lantai 7,” ucap Hyejin kepada liftman yang bertugas melayani setiap penumpang lift. Liftman pun memencet tombol angka 7. “Kamsahamnida.”

Hyejin pun keluar dari lift dan menanti Kyuhyun keluar dari ballroom seminar. Untung, tidak lama kemudian Kyuhyun keluar beserta beberapa dokter muda dan 1 profesor.

Hyejin tersenyum sambil melambaikan tangan. “Dokter Cho!” seru Hyejin dengan suara cukup keras membuat Kyuhyun tidak butuh waktu lama menemukannya.

“Nona Song?”

Hyejin membungkukkan badannya dan memberi salam kepada semua yang bersama Kyuhyun. “Annyeonghaseyo. Hyejin imnida. Relationship Manager Bank of Korea.” Moment ini tidak disia-siakan Hyejin untuk memperkenalkan diri sekaligus pipeline baru. Siapa tau bisa menggantikan RS dokter Kyuhyun yang tidak maju-maju.

“Song Hyejin-ssi. Did you come to offer some financing?” tanya profesor berambut putih yang memang sudah tua kepada Hyejin. Matanya menatap Hyejin dengan datar.

Hyejin menganggukkan kepalanya dengan sopan. “Ne, Profesor. Saya menawarkan Dr. cho 34 milyar won untuk pembiayaan pengadaan peralatan RS jantung di Geongju. Saya menawarkan…”

“Kita bicara sambil makan saja, nona. Mungkin saya berminat,” kata Profesor sambil berjalan menuju restoran. Hyejin mengikuti dari belakang rombongan dokter yang mengikuti profesor itu.

“Nona, ayo jelaskan padaku dengan detil,” ujar profesor sambil tersenyum.

Hyejin pun menjelaskan penawaran kreditnya dengan detil, mulai dari A sampai Z, persis sama seperti yang pernah dia sampaikan pada Kyuhyun. Profesor tersebut mendengarkan dengan seksama sambil sesekali tersenyum dan mengangguk-angguk.

“Menarik. Kenapa kau tidak setuju, Kyu?” tanya profesor.

“Biayanya terlalu mahal, appa. Bunganya tinggi dan penarikannya berdasar order. Grace period cuman 1 tahun,” jawab Kyuhyun.

“Kau ini pintar soal kedokteran tapi payah soal bisnis. Lama-lama RS itu appa berikan saja pada nona Hyejin ini. Biar dia yang ngurus. Dasar.”

“Jwisonghamnida, appa.”

Hyejin hanya memperhatikan pembicaraan ayah dan anak itu dengan seksama diiringi hatinya yang tak karuan. Hyejin mulai gugup, apa penawarannya akan diterima.

“Oke deh, nona. Silahkan analisa kredit kami. Kalau perlu sesuatu, hubungi Kyuhyun saja. Dia direkturnya.”

“Appa…” Kyuhyun mencoba bersuara.

“Kau mau tunggu sampai kapan, Kyu? Semakin lama RS itu tidak beroperasi, semakin rugi kita. Sudahlah.”

“Ne, Appa.”

Hyejin tersenyum kepada Profesor Cho dan anaknya. “Jeongmal kamsahamnida, Profesor.” Senyum itu terus terkembang sampai ia kembali ke rumah.

“Oppa!” seru Hyejin begitu bertemu dengan Junsu saat jam istirahatnya. Dengan ceria, Hyejin memeluk Junsu. “Aku berhasil. Profesor Cho berminat!”

Junsu mengelus-elus punggung Hyejin sambil tertawa merasakan kegembiraan Hyejin. “Chukkae, Jinni-ya! Berarti targetmu achieved dong?”

Hyejin menganggukkan kepalanya dengan semangat. “Asal Profesor Cho tidak berubah pikiran. Begitu juga dengan anaknya, dokter Kyu.”

Junsu kembali hanya tersenyum. “Tenanglah. Aku akan membantumu. Kau pasti bisa.”

“Gomawo, Oppa. Kau memang yang terbaik! Aku akan mentraktirmu. Kajja!” Hyejin mengamit lengan Junsu dan menarik sahabatnya itu menuju kafe terdekat.

“Oppa, kenapa kau jarang sekali pulang? Setiap hari tampaknya rumahmu kosong,” tanya Hyejin sambil menyedot milkshake coklat-nya.

“Pasien-ku lagi banyak. Sudah gitu aku harus mengurus RS juga. Tidak sempat pulang,” jawab Junsu.

Hyejin mengerucutkan bibirnya dengan ekspresi sedih. “Kadang aku merindukan saat kita masih kecil. Lari-lari bersama. Atau waktu aku menangis dipelukanmu waktu putus dari Seunghyun. I miss all of our moments.”

Junsu menyentil kening Hyejin dengan pelan lalu tertawa kecil. “Dasar kau. Sekali bocah tetap bocah. Sudah umur 24, masih mau kembali jadi anak kecil. Kau mau aku marahi lagi kalau lupa makan atau mandi?”

Hyejin menggelengkan kepalanya dengan cepat. Junsu kembali menyentil kening Hyejin dan tertawa lagi.

“Aaauw, Oppa!” pekik Hyejin kesakitan.

“Cepat habiskan minumanmu. Kau harus segera kembali ke kantor. Kau tidak ingin Profesor berubah pikiran kan?”

“Hu uh.”

Hyejin bangkit berdiri dan berpamitan pada Junsu. “Oppa, jaga kesehatan ya. Jangan sampai sakit. Aku duluan.”

“Ne, Jinni-ya. Kau juga jaga kesehatan dan tetap semangat. Bye bye.”

Hyejin pun pergi meninggalkan Junsu, digantikan oleh Kyuhyun dan seorang wanita yang mengamit tangan Kyuhyun dengan manja.

“Junsuuu!” seru seorang gadis yang dengan lincah berlari menghampiri Junsu meskipun dia sedang menggandeng seorang pria.

“Vicky, Kyuhyun. Kenapa kalian kemari?”

“Hanya ingin membeli kopi. Ayo kita minum bersama, Junsu-ya.”

Junsu akhirnya minum bersama Kyuhyun dan Vicky, mendengarkan cerita Vicky dengan seksama yang sering tidak dapat tanggapan dari Kyuhyun.

“Oppa, aku ke toilet dulu ya,” pamit Vicky sehingga kini tinggal Kyuhyun dan Junsu.

Junsu memandang Kyuhyun sambil tertawa-tawa. “Tampaknya kau makin mesra dengan Vicky. Apa kau sudah melamarnya?”

“Jangan gila. Tertarik saja tidak apalagi melamarnya.” Kyuhyun menjawab dengan ciri khasnya yang penuh emosi tapi tanpa ekspresi.

“Kalau begitu kenapa kau terus bersamanya?”

“Dia yang selalu nempel padaku.”

“Yang benar?” goda Junsu sambil tersenyum jahil.

Dengan datar, Kyuhyun menanggapi. “Lebih baik kau urus masalahmu sendiri. Tadi aku lihat Hyejin keluar saat aku masuk. Apa kalian habis berkencan?”

Junsu tertawa kecil. “Dia sahabatku, Kyu.”

“Tapi kau menganggapnya lebih dari sahabat. Bergerak cepatlah sebelum pria lain mengambilnya,” sahut Kyuhyun.

Junsu tersenyum. Pikirannya tertuju pada Hyejin. Wajah gadis itu terbayang jelas di otaknya. “Aku harap kau tidak mengecewakannya, Kyu.”

“Jangan mengalihkan pembicaraan. Tentu aku tidak bisa mengecewakannya. Appaku terlanjur tertarik dengan tawarannya.”

Junsu kembali tersenyum, kali ini untuk berterima kasih. “Lebih baik aku duluan. Vicky sudah kembali. Selamat berkencan,” goda Junsu sebelum pergi meninggalkan Kyuhyun dalam kebosanan bersama Vicky.

Hari sudah larut malam, tumpukan pekerjaan Junsu mulai hilang. Bahkan sekarang ia sudah bisa pulang ke rumah untuk istirahat. Dalam perjalanan pulangnya, Junsu melewati rumah Hyejin dan melihat lampu kamar gadis itu yang masih menyala.

Junsu mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Hyejin. Jinni-ya, still wake up? Aku ada di depan rumahmu. Mau menemaniku minum sebentar?

Tak lama kemudian ponsel Junsu bergetar akibat sms balasan dari Hyejin. Kebetulan sekali aku baru selesai. Aku akan segera menemui Oppa. Tunggu ya.

Junsu mengalihkan pandangannya menuju pintu rumah Hyejin. Gadis itu mulai muncul dan melambaikan tangannya sambil tersenyum ceria lalu masuk ke dalam mobil. “You saved me. Oppa, kajja!”

Junsu mengemudikan mobilnya menuju kafe 24 jam terdekat dan memesan 2 cangkir susu hangat dan beberapa kue. “Semoga bisa mengembalikan tenagamu.”

“Gomawo, Oppa.”

“Cheonmane.”

Junsu pun duduk menghadap Hyejin. “Apa nota analisa mu sudah selesai?” tanya Junsu.

“Nota untuk RS?”

“Hem.”

“Belum. Aku kan harus survey dulu, minta dokumen legalitas RS-nya, hubungi supplier peralatan. Tampaknya aku akan sering ke RS, oppa.”

“Oh ya? Kalau gitu kau kerja di RS saja. Aku bisa meminjamkan ruanganku padamu.”

“Jeongmal?!”

“Hem.”

Senyum sumringah muncul di wajah Hyejin. Seruan gembiranya pun melengkapi kesukaannya. “Gomawoyo, Oppa. Aku akan bilang pada atasanku nanti.”

Junsu tersenyum kepada Hyejin dan mengelus-elus kepala Hyejin dengan lembut. “Kau selalu saja lucu. Neomu joha.”

Seketika senyum Hyejin hilang digantikan ekspresi salah tingkah. “Oppa…”

“Jinni-ya, kau sudah berumur 24 tahun. Apa tidak ingin menikah?”

“Mau menikah dengan siapa kalau pacar saja tidak punya?”

“Aku.”

“Oppa…” Jinni menatap Junsu dengan kaget. Wajahnya tampak tidak enak hati. Hyejin tidak tahu harus menjawab bagaimana. Hyejin tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hyejin tidak tahu apa yang terjadi antara dia dan Junsu adalah cinta.

Junsu tersenyum lalu meminum kopinya. “Jangan dipikirkan. Kita masih terlalu muda untuk menikah. Lagipula aku tak mau kehilangan sahabat sehebat kau, Jinni-ya.”

“Oppa…”

Hyejin ingin sekali memiliki seorang pendamping yang berprofesi sebagai dokter karena menurutnya, dokter adalah orang yang mulia. Tapi apa orang itu Junsu? Hyejin tidak tahu. Mereka sangat dekat tapi tidak tahu apa rasa sayang sebenarnya antara mereka. Hyejin juga tidak berani memastikan perasaan Junsu yang sebenarnya.

“Jinni-ya, ayo kita pulang. Kau harus istirahat. Besok pagi kau kan harus kerja lagi. Yuk,” ajak Junsu lalu menarik tangan Hyejin. Hyejin pun berjalan mengikuti Junsu menuju mobil dan diantarkan pulang.

“Oppa, apa kau akan kembali ke RS?” tanya Hyejin sebelum masuk ke dalam rumahnya.

“Tentu tidak. Aku rindu rumahku. Aku mau menikmati kamarku sepuasnya,” jawab Junsu sambil tertawa.

“Syukurlah. Aku kira Oppa mau kerja lagi.”

“Hum. Kau masuk sana. Kalau besok jadi ke RS, hubungi saja aku. Oke?”

Hyejin tersenyum dan mengacungkan jempolnya. “Gomawo, Oppa. Jaljayo! Bye bye.”

“Bye bye,” sahut Junsu sambil melambaikan tangan. Setelah itu, Junsu menyalakan mesin mobilnya lalu kembali ke rumahnya yang hanya terpisah beberapa blok dari rumah Hyejin.

Tring. Tring. Triiiing! Tring. Tring. Triiing! Ponsel Hyejin berdering kencang berkali-kali sampai membuat pemiliknya terbangun meski jam masih menunjukkan pukul 5 pagi.

“Yoboseyo.”

“Yoboseyo, Hyejin-ssi. Apa kita bisa bertemu jam 6 pagi ini? Saya mau menyerahkan dokumen keperluan pembiayaan kepada Anda.”

“Mwo?”

“Jam 6 pagi di ruangan saya. Terima kasih.”

Hyejin menatap ponselnya sejenak, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Meeting in 6 o’clock morning? What? Haish!” gerutu Hyejin. Dengan kesal, Hyejin segera bersiap dan membereskan semua peralatannya yang akan dibawa ke kantor. Tidak lupa ia juga mengirimkan pesan untuk Junsu. Aku akan ada di RS mulai jam 6 pagi. Direkturmu memang ‘daebak’!

Hyejin mengendarai sendiri mobilnya menuju RS untuk menemui Kyuhyun. Tepat jam 6 pagi, Hyejin sudah berada di depan ruangan Kyuhyun.

“Silahkan masuk, Nona Song. Dokter Cho sudah menunggu.”

Hyejin pun segera masuk dan bertemu dengan Kyuhyun. Tanpa basa-basi, Kyuhyun memberikan semua dokumen yang diperlukan Hyejin. “Kalau ada lagi yang diperlukan, hubungi Park Sora. Dia wakil saya. Saya harus ke luar negeri beberapa hari,” kata Kyuhyun kemudian.

“Ne. Kamsahamnida.”

“Saya harap dalam 2 minggu sudah cair.”

Mata Hyejin membelalak kaget memandang Kyuhyun.

“Wae? Tidak bisa?” tanya Kyuhyun agak meremehkan.

Hyejin tersenyum memendam perasaan kesalnya. “Akan saya usahakan. Terima kasih atas kerja sama-nya, Dok.”

Kyuhyun berdiri dari kursinya dan mengulurkan tangannya kepada Hyejin. “Terima kasih atas kerjasamanya. Sampai jumpa,” ucap Kyuhyun. Hyejin membalasnya lalu keluar dari ruangan Kyuhyun, dimana Junsu sudah menunggunya di depan ruangan dengan sekantong makanan.

“Aku rasa kau pasti lapar makanya aku bawakan banyak roti kesukaanmu. Aku tahu perutmu super karet,” kata Junsu sambil tertawa.

“Oppa…” Hyejin mengerucutkan bibirnya yang lalu ditertawakan oleh Junsu. Tawa Junsu makin keras.

Kyuhyun sudah duduk dengan tenang di dalam mobil yang akan membawanya ke bandara sebelum mereka datang dan mengacaukan segalanya. Hyejin dan Junsu muncul untuk sarapan bersama di taman sambil tertawa-tawa. Kyuhyun melihat senyum lebar Hyejin dan deretan giginya yang rapi. Senyuman pertama yang mampu membuatnya tidak bisa tidur. Sayang, senyuman itu tidak pernah lagi muncul di hadapannya.

“Kita berangkat sekarang ya, Dok,” ujar sekretaris Kyuhyun.

Kyuhyun hanya mengangguk. Mata dan pikirannya masih tertuju pada Hyejin dan Junsu yang sedang mengusap kepala Hyejin.

“Berhenti,” perintah Kyuhyun pada supirnya. Supir pun memberhentikan mobilnya. Kyuhyun membuka pintu dan keluar berlari menghampiri Hyejin.

“Dok! Dokter Cho, anda dau kemana?” seru sekretaris Kyuhyun dengan bingung. Apalagi dengan Kyuhyun yang bahkan tidak mengerti kenapa ia berlari.

Kyuhyun mengabaikan seruan itu. Ia tetap berlari menghampiri Hyejin. Dengan nafas terengah-engah, Kyuhyun menemui Hyejin. “Lebih baik kita pergi survey sekarang. Kajja!” ujar Kyuhyun lalu menarik Hyejin pergi setelah meminta maaf pada Junsu. “Maaf aku ambil Hyejin-mu sebentar, hyung.”

Junsu hanya bisa memandang Kyuhyun dan Hyejin yang berjalan terburu-buru sampai hampir terjatuh.

Kyuhyun memasukkan Hyejin ke dalam mobil dan membiarkannya kebingungan. “Bukannya dokter mau ke luar negeri? Kenapa ngajak survey?”

“Biar lebih cepat selesai,” jawab Kyuhyun singkat.

“Lalu perjalananmu bagaimana?”

“Bisa berangkat besok.”

Hyejin menatap direktur RS itu dengan bingung. Ingin rasanya dia komentar tapi diurungkannya mengingat Kyuhyun adalah nasabahnya. Alhasil dia hanya bisa komentar dalam hati : orang aneh!

Setelah hampir 2 jam perjalanan, mereka sampai di Geongju. Kyuhyun menyuruh Hyejin untuk melihat seluruh RS dari depan sampai belakang, dari bawah sampai atas.

“Ini ruangan dokter, tidak akan banyak peralatan disini… Di sini ruang rawat pasien, akan ada alat perekam detak jantung dan tentu saja tempat tidur… Ini ruang bedah dan katerisasi, kami butuh banyak peralatan sesuai yang sudah ditulis di dokumen yang kuberikan padamu,” ujar Kyuhyun panjang lebar mengenai kebutuhan peralatannya.

Hyejin menjelajahi RS tersebut sambil sesekali mencatat. “Kenapa dokter memilih Geongju? Apa akan banyak yang datang? Bagaimana dengan dokternya?” tanya Hyejin.

Kyuhyun mendecakkan lidah pelan. “Itu semua sudah ada di dokumen yang saya berikan. Apa kau tidak membacanya?” jawab Kyuhyun cenderung marah.

“Saya baru terima dokumennya 3 jam yang lalu,” sahut Hyejin sedikit sinis.

Kyuhyun berjalan mengikuti Hyejin mengelilingi rumah sakit dan menjawab pertanyaan Hyejin dengan lengkap. Bahkan menjelaskan detil bisnis RS orang tuanya ini.

“Terima kasih, dokter. Kurasa survey hari ini sudah cukup,” ujar Hyejin.

Kyuhyun dan Hyejin lalu berjalan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai dasar. Sambil menunggu lift terbuka, Kyuhyun memperhatikan Hyejin yang berdiri di sebelahnya tanpa banyak gerak. Hanya kepalanya yang bergerak tidak sabar menunggu lift.

Kyuhyun bergerak mendekati Hyejin dan tanpa sadar dia sudah mencium gadis itu. Hyejin mendorong Kyuhyun agar menjauh darinya. “Wae?!”

“Mianhe,” ucap Kyuhyun. Lift pintu terbuka dan dengan salah tingkah, Kyuhyun masuk ke dalamnya diikuti Hyejin yang marah sekaligus bingung.

Selama di lift, Hyejin terus menatap Kyuhyun yang hanya memandang ke pintu lift. Wajahnya yang sedikit bersemu merah membuat perasaan Hyejin semakin tercampur aduk.

 

.tbc.