ENJOY🙂

 

Cast:

Kang Hamun

Cho Kyuhyun

Choi Siwon *Yang warna merah maroon itu Siwon POV ya*

Song Hyejin

 

*****

 

“Aku ingin kita putus,”

Sesaat aku merasakan ada sesuatu yang mencengkram dadaku. Sangat sakit, sampai air mata yang sejak kemarin berusaha kutahan, kini tak terbendung lagi. Air mataku mengalir tanpa ekspresi.

…..

“N..ne?” tanyaku berusaha meyakinkanku kalau saat ini aku juga memiliki masalah pada indera pendengarku.

Kali ini Kyuhyun menatap kedua mataku lurus, serius, dan tanpa keraguan. “Aku ingin kita putus, Hamun,” ujarnya yang membuatku tak bisa mengelak lebih jauh lagi.

“Aku tak mau,” jawabku atas pernyataannya.

“Mianhe Hamun, mianhe,” ujar Kyu.

Aku mencengkram kedua lengan Kyuhyun, “Aku mencintaimu Kyu,” pekikku mulai histeris.

Kyuhyun memegang kedua sisi pundakku dan mensejajarkan wajahnya dengan wajahku. Matanya menatapa lurus mataku. “Tapi aku tak mencintaimu, Hamun,”

‘Aku tak mencintaimu, Hamun’ satu kalimat yang cukup membuat semua organ tubuhku berhenti berfungsi dalam waktu sepersekian detik.

“Aku mencintai Hyejin, sejak dulu dan sampai sekarang, mianhe, Hamun,” kata Kyu dan ia berlalu meninggalkanku tanpa memberikan goodbye kiss, seperti yang biasa ia lakukan.

 

Jadi semuanya benar-benar berakhir?

Aku ingin mengejarnya namun kakiku tak memiliki kekuatan. Aku tetap memandangi punggung Kyu sampai ia benar-benar hilang dipenghujung jalan. Aku memegangi dadaku, rasa sakit perlahan merayapi urat nadi dan persendianku. Kakiku bahkan sudah tak sanggup untuk menopang tubuhku lagi. Aku terduduk tak berdaya dan air mataku mengalir tanpa ekspresi.

Aku mencintainya, sangat. Bahkan tak pernah membayangkan jika itu bukan dirinya.

Tapi kini kemana perasaanku harus pergi?

“Yaa Kang Hamun!” panggil seseorang yang membuatku dengan segera menghapus air mataku dan menguatkan pijakan kakiku agar aku bisa berdiri.

Aku menoleh dan mendapati pria usil bernama Choi Siwon itu sedang berjalan menghampiriku.

Oh, apalagi ini? Apa tak cukup menyiksa batinku dengan Kyuhyun yang memutuskanku? Mengapa saat seperti ini harus dia yang muncul? Mengingat aku masih sangat membencinya.

Aku mengepalkan tanganku untuk menahan emosiku agar tak meluap didepannya.

*****

Berulang kali aku meyakinkan diriku kalau —mungkin— aku sedang mabuk. Sebelumnya, aku yakin kalau yang kulihat bukanlah Hamun, namun aku tak bisa mengelak lagi saat ia menoleh karena kupanggil namanya.

“Apa yang dilakukan seorang gadis pagi-pagi buta seperti ini?” tanyaku yang tak dijawab olehnya. Ia malah berjalan mendahuluiku.

“Hei, Hamun, apa yang kau lakukan?” tanyaku sambil tetap berjalan mengikutinya.

Tanpa menatapku ia menjawab dengan ketus, “Tak ada hubungannya denganmu,”

Aku mendengus kesal melihat tingkahnya yang terlalu jual mahal. Aku mempercepat langkahku dan menariknya hingga tubuhnya berbalik kearahku.

Seketika itu juga aku merasakan seluruh tubuhku terhipnotis pada satu titik saat dimana mata Hamun menatapku lurus tapi air mata mengalir dari salah satu matanya.

Bukannya memarahi atau menggodanya, yang ada aku hanya diam mematung tanpa mengalihkan pandanganku darinya.

“Lepaskan aku!” pekiknya sambil menepis tanganku.

Tanpa menunggu respon dariku, ia berlari meninggalkanku sendiri.

Mengapa Hamun menangis? Hanya pertanyaan sederhana itu yang membuatku tak bisa tidur sampai keesokkan paginya.

*****

Meski aku duduk bersebelahan dengan Hamun, seharian ini ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Tatapannya kosong. Ia seperti kehilangan jiwanya.

Aku tak suka ini. Aku lebih memilih ia menghinaku bertubi-tubi daripada aku harus melihatnya layaknya zombie seperti sekarang ini.

Apa yang terjadi? Hal itu mau kutanyakan padanya namun suaraku tertahan ditenggorokan saat ada yang membuka pintu kelas kami.

“Excuse me sir, this is our workbook,” seorang pria yang kukenal dengan nama Kyuhyun berjalan memasuki kelas kami dengan setumpuk buku ditangannya.

Kyuhyun membungkukkan badannya dan berjalan meninggalkan kelasku namun sebelum ia menutup rapat pintu kelasku, matanya menatapku? Ah, ani, dia menatap Hamun.

Ada apa dengan mereka?

Aku mengalihkan perhatianku pada Hamun dan lagi-lagi aku kembali merasakan sengatan dahsyat diseluruh aliran darahku hingga tubuhku berhenti bereaksi.

Hamun sekarang sedang tersenyum getir sambil menengadahkan kepalanya. Ia menggigit bibir bawahnya yang bergetar dan matanya tak fokus. Aku sering melihat adegan seperti ini di drama yang selalu ditonton oleh Jiwon. Ini adalah adegan yang dilakukan pemain wanita saat air mata hendak mengalir diwajahnya.

Namun sekuat apapun Hamun menahan air matanya, air mata itu tetap saja mengalir.

Aku mencoba mereview ingatanku kebeberapa menit yang lalu.

Apa Hamun menangis karena pria itu?

Aku, yang selalu bertindak tanpa berpikir lebih dahulu, menarik Hamun dan membawanya keluar.

Berulang kali Hamun berusaha meronta namun apa daya, kekuatannya tak cukup untuk mengalahkanku.

*****

“Ayo pukul,” ujarku pada Hamun. Hamun menatapku dengan tampang bingung yang membuatnya terlihat sangat lucu dimataku.

Hamun menatap tangannya yang sudah terbungkus dengan sarung tinju dan sasak boxing berbentuk lingkaran yang ada didepannya bergantian.

“Hamun, ayo pukul,” ujarku sekali lagi mengingatkannya.

“Yaa Kang Hamun! Mengapa kau lemah sekali?! Masa memukul begini saja hanya dapat 32 poin?!” seruku mengejeknya.

Mata Hamun membesar tanda ia tak tak percaya dengan apa yang baru saja kukatakan.

“Yaa! Kau! Choi Siwon!” teriaknya yang tak kuperdulikan. Kini giliranku.

Aku memakai sarung tangan Hamun dan memasukkan beberapa koin agar sasak boxing itu berdiri.

“Kau harus pusatkan kekuatanmu diujung kepalan tanganmu. Ingat semua orang yang membuatmu sedih, karena kekuatan emosi juga berperan dalam hal ini. Dan saat kau mau memukul, jangan lupa berteriak,” ujarku seakan mengajarkan apa yang harus Hamun lakukan.

“Lihat, nilaiku 85 kan?” pamerku sambil menyunggingkan senyuman kemenangan padanya.

Aku memberikan sarung tinju itu pada Hamun. Aku melihatnya menghela nafas panjang sebagai persiapan dan “AAAARGH!!” teriaknya histeris sambil memukul sasak itu.

Aku, dan orang lain disekitar menatap takjub score yang terpampang jelas dilayar game itu. 95. Bahkan lebih tinggi dari nilaiku!

“Daebak!” seruku. Aku menghampiri Hamun untuk mengucapkan selamat tapi tiba-tiba ia terjatuh tak berdaya dilantai.

“Hamun?” tanyaku khawatir. Namun Hamun malah tersenyum getir dan detik berikutnya ia mulai menitikkan air mata lagi.

Hal itu membuat dadaku sesak. Aku ingin memeluknya, sangat ingin. Tapi aku tahu itu bukan kadarku sebagai seorang teman. Jangankan teman, mungkin Hamun malah menganggapku sebagai musuh, mengingat aku pernah mencuri ciumannya.

Mandengar isakan Hamun yang makin kuat membuatku makin pilu. “Mianhe, mianhe, Hamun. Mianhe,” hanya kata itu saja yang berulang kali kuucapkan pada Hamun. Aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Aku takut justru aku akan menyakitinya jika aku terlalu masuk dalam masalahnya.

“Ka..kau tidak sa..salah apa-apa, mianhe, a..aku membuatmu bi..bingung,” ujar Hamun sesegukan.

Aku menarik nafas panjang dan mengambil posisi duduk dihadapan Hamun.

“Hamun, aku tak tahu mengapa kau menangis, tapi aku yakin kau punya alasan kuat. Aku tak akan memintamu menceritakan masalahmu padaku karena aku tak yakin aku bisa memberikan solusi apapun. Tapi satu hal yang pasti, menangislah kalau kau memang mau menangis. Kau tak perlu menahannya. Menangis bukan berarti kamu lemah, but you’ve been too strong for too long,” kataku berusaha untuk menguatkan Hamun dan detik selanjutnya Hamun menangis lebih kencang, kurang tepat kalau aku mendeskripsikannya dengan kata ‘kencang’, dia bahkan sudah histeris.

Angin dingin dan aku menemani Hamun menangis. Menemani Hamun menangis dalam diam. Tanpa suara, tanpa pelukan. Tak melakukan apapun. Hanya menunggu sampai Hamun tenang.

*****

“Maaf membuatmu ikut dimarahi didalam tadi,” ujar pria yang sedang membungkuk dihadapanku tadi. Aku menghela nafas, memasang tampang dingin untuk berpura-pura marah padanya. Tentu saja aku hanya pura-pura. Setelah apa yang ia lakukan padaku, aku tak mungkin tidak memaafkannya. Aku wanita yang masih punya hati.

“Tentu saja kita ‘habis’ dimarahi. Kau membawaku kabur ditengah pelajaran tepat di depan guru yang sedang mengajar,” gerutuku walau pada akhirnya aku menyunggingkan senyum kelegaan.

“Tapi berkat kau, aku akhirnya bisa meluapkan perasaanku. Jadi masalah di ruang guru tadi, akan kuanggap tidak pernah terjadi,” kataku

Sonrye —saudaraku yang pandai berfilosofi— selalu berkata, “Masalah adalah berkat” dan untuk pertama kalinya, aku mengakui hal itu. Walaupun aku tak sepenuhnya mengakui kalau ini adalah suatu berkat. Tapi sekarang aku mengetahui satu hal. Ternyata dia bukan pria hidung belang yang akan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Bahkan karena perbuatannya hari ini, aku hampir saja lupa kalau aku membencinya karena ia sudah mencuri ciuman petamaku. Tapi, ya, dia adalah pria yang baik. Hanya itu yang ingin kupercayai saat ini.

*****

“Aku baru saja putus dengan pacarku,” ujarku. Aku sendiri tak menyangka otakku bisa mengizinkan mulutku menceritakan hal ini padanya setelah ia bertanya tentang apa yang menyebabkan aku menangis.

“Kyuhyun?” tebaknya yang membuatku tersenyum nanar.

“Ya, dia,” jawabku seadanya.

“Siwon-sshi, terima..” aku belum sempat menyelesaikan kalimatku saat Siwon menyelanya dengan kalimat yang tak terduga.

“Hamun, aku menyukaimu,”

……

Aku terpaku beberapa detik berusaha mencerna apa yang baru kudengar.

“Aku tak keberatan jika kau menjadikan aku pelarianmu,” katanya yang membuat emosiku naik seketika dan tanpa kusadari telapak tanganku sudah mendarat dipipinya.

Aku kembali terisak berkat perkataannya, “Jangan mengatakan hal menyedihkan seperti itu!” pekikku

“Meski kau bersamaku, kau tak akan bahagia jika aku tak mencintaimu,” ujarku parau, berusaha menenangkan emosiku.

Kini Siwon berjalan mendekatiku, semakin dekat hingga membuatku menutup mata dan menundukkan kepala karena ada kemungkinan ia akan membalas perbuatanku. Namun apa yang kuperkirakan ternyata salah. Ia tak memukulku, justru mengelus lembut kepalaku.

“Kalau begitu, kau juga harus berhenti membiarkan dirimu menjadi pelarian Cho Kyuhyun,” ujarnya yang membuat hatiku mencelos. Sebagian dari hatiku mengakui kalau apa yang ia katakan sangatlah benar.

“Mulai kini kau tak harus menjadi pelariannya, karena aku, pria tampan di depanmu ini sangat menyukaimu,” ujarnya dengan tampang serius yang entah mengapa justru membuatku tertawa.

Aku mengusap air mataku sambil tertawa disela-sela tangisku.

“Aku tak tahu sisi mana dari pernyataanku yang membuatmu tertawa, tapi kuakui, kau sangat cantik saat tertawa,” ujarnya yang hanya kubalas dengan tawa yang semakin lantang.

“Aku bukan wanita yang gampang dirayu, ingat itu,” balasku sok serius yang membuat kami berdua kembali tertawa.

“Berarti aku harus cari cara lain,”

Kami melanjutkan perjalanan kami tanpa ada seorang pun yang membuka perbincangan.

Beberapa kali diam-diam aku melirik pria yang berjalan didepanku ini. Punggung yang tegap dan kekar itu sangat mirip dengan milik Kyuhyun. Punggung yang selalu ingin kupeluk saat aku memandangnya dari belakang.

Kyuhyun.. Lagi-lagi dia datang tanpa diundang ke otakku. Mengingatkanku pada rasa sakit yang selama ini bergejolak.

Aku ingin mendapat kehangatan dan kenyamanan dari Siwon tetapi aku takut itu hanya pelarianku. Aku takut keinginanku untuk memeluknya timbul karena aku baru saja patah hati dari Kyuhyun.

Aku tahu rasanya sakit hati. Aku tidak mau orang lain merasakan sakit yang sudah kurasakan, apalagi hal itu disebabkan olehku.

Siwon terlalu baik untuk itu.

“Choi Siwon,” panggilku. Ia yang berjalan beberapa menter didepanku menghentikan langkahnya dan menatapku lembut.

“Terima kasih atas perasaanmu. Maaf, aku tak bisa membalas perasaanmu sekarang, karena tak semudah itu melupakan orang yang sudah kucintai selama belasan tahun,” ujarku.

Kini Siwon berjalan mendekatiku lalu mengacak rambutku. “Aku ini tipe pria yang rela melakukan apa saja untuk gadis yang aku sayangi. Jadi, aku akan menunggumu. Tenang saja,” ujarnya tak lupa dengan senyum yang bisa menenangkan hatiku.

Detik itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menyadari, kalau pria di dunia ini bukan hanya Cho Kyuhyun.

*****

To be continued🙂