ENJOY!🙂

mian kalo kependekan dan kurang memuaskan huhuhu

Cast:

Kang Hamun

Cho Kyuhyun

Choi Siwon *Yang warna merah maroon itu Siwon POV ya*

Song Hyejin

 

*****

 

“Hai Hamun,” sapa Siwon dengan senyum yang memamerkan jelas guratan lesung pipinya. Baru saja aku membuka mulut untuk membalas sapaannya, bahkan belum sampai suaraku keluar dia sudah terlanjur menyela, “Apa kau sudah jatuh cinta padaku?” tanyanya dengan mata yang menatapku tanpa keraguan.

Sebuah pertanyaan yang membuatku terdiam seribu bahasa. Tak tahu harus berkata apa karena aku sendiri tak tahu perasaanku padanya ini disebut apa.

“Aigo, Hamun, aku bercanda,” selanya lagi bahkan saat otakku masih menyaring kata-kata macam apa yang harus kulontarkan.

What did he say?

Kidding?

Argh, kurasa memang ada yang tak beres dengan susunan otaknya. Dia bercanda? Apa pertanyaan macam itu bisa dijadikan suatu bahan candaan?

“Yaa, Choi Siwon. Aku tak akan jatih cinta padamu hanya dengan pertanyaan macam itu. Kau harus menemukan cara yang lebih kreatif,” ujarku meladeni gurauannya, namun sepertinya kini giliran ia yang menganggap serius perkataanku.

Kini kepala dan lehernyanya sudah membentuk sudut 25 derajat dan alis sebelah kirinya sudah naik, sedangkan aku? Diam saja berusaha menahan tawa yang nyaris meledak.

“I know!” serunya. Kini kedua matanya membesar, alis sebelah kanan juga sudah ikut naik, dan mulutnya terbuka lebar, tanda ia benar-benar senang dan antusias.

“What?” tanyaku sedikit penasaran

“I will dig a hole, write the word ‘LOVE’ inside, and make you fall in it. Isn’t it creative?” tanyanya masih dengan tampang yang membuatku tak bisa menahan tawaku lebih lama.

“AHAHAHAHAHAHA..” tawaku sangat lantang bahkan aku sampai tak sadar kalau sekarang tanganku sudah berusaha menghapus air mata yang nyaris jatuh.

“Hamun, what’s wrong?” tanyanya bingung. Tentu saja aku tak menjawabnya, aku masih belum bisa mengontrol emosiku yang saat ini terlalu gembira.

Aku masih tertawa terbahak-bahak saat mendengar namaku dipanggil, “Hamun,” tubuhku tertarik, dan terakhir aku merasa sesuatu yang lembut, hangat, mendarat di pipiku yang dengan sekejap membuatku berhenti tertawa.

What did he do? kisseu?

Aku terdiam tapi dadaku bergetar dan darahku berdesir saat menatap senyum tulus pria yang sedang menatapku lekat.

Layaknya terhipnotis, semua atmosfer kembali normal saat —entah aku atau dia— mengedipkan mata. Dan saat ini yang ditangkap mataku adalah wajah Choi Siwon yang sudah bersemu merah.

“Mi..miahe,” katanya gagap sambil menatapku namun dengan cepat juga ia mengalihkan pandanganku saat aku ingin melihat matanya. “Ha..habis kau sangat manis tadi. Ak..aku jadi tak bisa menahan di..diri,” lanjutnya.

Aku meneliti wajahnya berusaha meyakinkan diriku kalau apa yang kudengar adalah bualan belaka seorang yang namanya sudah terkenal sebagai ‘buaya’. Namun semakin kutilik, semakin tak kutemukan apa yang kucari. Yang ada justru ketulusan dan kasih.

Sambil meliriknya diam-diam, aku tersenyum simpul dan berkata, “Gomawo Siwon-sshi. Mianhe,” ya, hanya itu. Karena saat ini memang 2 kata itulah yang bisa mendeskripsikan perasaanku. ‘Gomawo’ atas perasaannya dan ‘mianhe’ karena untuk saat ini aku sendiri tak tahu apa yang kurasakan padanya.

Lagi-lagi Siwon tersenyum dan lagi-lagi ia menepuk kepalaku lembut. Entah keberapa kalinya dalam 2 hari ini ia melakukan hal itu.

“Just because it’s not happening right now, doesn’t mean it never will, right?” katanya dan lagi-lagi pula ia mampu menghilangkan gundah gulanaku.

Kurasa Siwon memiliki suatu kekuatan ajaib karena setiap tindakan dan perkataannya selalu memberikanku kelegaan, kehangatan, dan kenyamanan.

*****

“JEJU!!!!” teriak kami berdua bersamaan, aku dan Siwon.

Kami melinting baju, celana kami dan berlari membiarkan kaki kami basah oleh air laut.

Aku menutup mataku dan membentangkan tanganku. Membuka hidung dan telingaku untuk menikmati bau pantai dan kicauan burung, tak peduli langit malam dan udara dingin yang menusuk.

Ya, hari ini sampai beberapa hari ke depan sekolah kami mengadakan study tour ke Pulau Jeju. Kami baru saja tiba di hotel kami beberapa menit yang lalu, tapi bau pantai membuatku tak bisa menahan diri. Alhasil, disinilah aku berada meski langit sudah gelap dan angin darat bertiup kencang.

“Apa kau suka pantai?” tanya Siwon yang berdiri disampingku.

Aku membuka mataku dan menatapnya antusias, “Suka. Dari kecil aku selalu main ke pantai setiap liburan tapi sekarang sudah jarang,” jawabku.

Siwon tersenyum dan menepuk-nepuk kepalaku. Aku bisa merasakan ketulusan dan kasih darinya.

“Kalau gitu aku akan sering-sering mengajakmu,” ucapnya dengan lembut.

DEG.

Apa yang terjadi padaku? Lagi-lagi aku merasakannya. Dada yang bergetar dan darah yang berdesir. Lidah yang kelu dan berhasil membuat aku tak bisa berkata apapun.

Aku mematung dibuatnya dan menatap tangan kiriku takjub karena saat ini jemari kami sedang bertautan.

“Ki.. Kita ke.. Kembali, yuk. Sepertinya semua anak sudah masuk hotel,” katanya gagap yang membuatku mengangkat kepalaku.

Aku tertawa kecil saat mendapati wajahnya sudah merona dan setetes keringat mengalir dari dahinya.

Is he nervous?

“Kalau begitu, kajja,” ajakku riang sambil mengayunkan tangan kami yang bersatu, agar ia tidak salah tingkah lagi.

Kenapa aku tak menolak perlakuannya?

Kenapa dadaku bergetar?

Apa aku sudah membuka hatiku untuknya?

Aku tak ingin semudah itu mengambil kesimpulan, aku tak mau ia tersakiti, terutama karenaku.

…………..

Kakiku terhenti saat aku mendengar sebuah suara yang membuat dadaku berdebar, “Hyejin ah, saranghae,” sebuah suara yang sangat kukenal dan aku baru menyadari kalau ternyata hati kecilku masih merindukan suara itu.

“Nado, Kyu,” jawab gadis yang berdiri dihadapannya.

Gadis itu menggantungkan kedua tangannya dibelakang leher pria itu, dan sang pria merengkuh wajah sang gadis dan ..

Oh God, Please stop the time. Aku tak mau melihatnya. Aku tak mau merasakan sakit yang sudah lama kulupakan.

Tapi semuanya terlambat. Lagi-lagi aku merasakan hal itu. Dada yang sakit tak tertahankan menjalar ke setiap persendianku.

Kaki yang lemas dan air mata yang sudah memaksa keluar dari tempatnya saat mereka berciuman tepat dihadapanku.

Ternyata melupakan seseorang tak semudah melupakan rumus fisika yang baru kudapatkan semenit lalu.

*****

“Hamun, kenapa?” tanyaku karena ia tiba-tiba berhenti di pertigaan koridor hotel.

Hamun tak menjawab namun air mata mengalir dipipinya.

Hamun mematung, tangannya mendingin, dan tatapan matanya kosong.

Aku mengikuti arah pandangnya dan mendapati Kyuhyun sedang mencium Hyejin tepat dibibirnya.

Kenapa Hamun menangis?

Apa kau masih menginginkan Kyuhyun?

Apa kau tak bisa membuka hati untukku?

Mengetahui Hamun masih begitu mencintai Kyuhyun membuat dadaku terasa sangat sakit. Sangat sakit sampai membuat aku kalap dan tak bisa berpikir jernih.

Aku menarik Hamun dan mendorongnya kesisi tembok. Aku menguncinya dengan menempatkan kedua tanganku disebelah kiri kanannya dan tak menunggu berapa lama, bibirku sudah menempel dibibirnya.

Asin. Entah karena air matanya atau karena air mataku yang entah sejak kapan mengalir tanpa peringatan.

Hamun memukul-mukul aku namun aku tak bergeming. Aku tetap menciumnya. Mencurahkan semua perasaanku yang tak tertahankan lagi. Aku ingin dia tahu, kalau aku sangat mencintainya.

“Aku mencintaimu, Hamun,” bisikku tepat ditelinganya.

“Apa aku tak bisa menggantikan Kyuhyun?” tanyaku.

Hamun menengadahkan kepalanya, menatapku dan mengusapkan ibu jarinya di pipiku. Ia masih tak menjawab pertanyaanku namun tangisnya makin pilu. Ia bahkan sampai terduduk dilantai.

“Mianhe, mianhe, mianhe, Siwon sshi, mianhe, aku bahkan membuatmu menangis. Aku menyakitimu, mianhe, mianhe. You better without me, Siwon. I hurt you,” gumannya parau.

“I’ve ever tried it and i can’t do it. No matter how many times i tell my self that i’m better off without you, a part of me just won’t let go” jawabku yang hanya membuat tangisan Hamun lebih histeris.

Hatiku sakit mengetahui kenyataan Hamun masih menyukai Kyuhyun, tapi hatiku lebih sakit melihatnya menangis seperti ini.

Aku berlutut didepan Hamun dan merengkuh wajahnya, menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya kebelakang telinganya.

“Uljima,” pintaku. Kali ini giliranku menyeka air matanya dengan ibu jariku.

Hamun menatapku lurus dengan matanya yang sembab. “Please, search another girl. You are too good for me. I don’t deserve you,” isaknya.

Pernyataannya membuat bibirku menyunggingkan sebuah senyuman ditengah air mataku. Senyuman yang ingin menyampaikan kalau pria dihadapannya ini sangat mencintainya.

Bagaimana ia bisa berpikir seperti itu?

Apa ia tak tahu kalau hanya dia satu-satunya gadis yang membuatku makin cinta padanya saat ia menyadarkanku kalau cintaku padanya bertepuk sebelah tangan?

Mencari gadis lain?

Itu tak mungkin kulakukan.

“I can search for another girl but I don’t think i can find another you,”

*****

To be continued :))