Cast:

Song Hyejin

Cho Kyuhyun

Kim Junsu

Hope you enjoy🙂

Hyejin memencet huruf-huruf pada keyboard laptopnya dengan kasar. Sesekali ia mengacak-acak rambutnya sambil berseru kesal, “Aaargh! Cho Kyuhyun, apa yang inginkan? Haish!”
Junsu yang hanya terpisah oleh sebuah pintu mendengar seruan Hyejin dan segera menghampiri gadis itu. “Kau kenapa, Jinni? Apa Kyu membuatmu susah?” tanya Junsu.
Hyejin menatap Junsu dengan salah tingkah. Otaknya memanggil ingatan dimana Kyuhyun tiba-tiba menciumnya dan saat itu juga Hyejin merasa dunianya berhenti.
“Eumm.. Gwencana, Oppa. Nae gwencana. Relax. Hanya stress dengan nota analisa ini,” jawab Hyejin setengah berbohong. Dia benar stres mengerjakan nota analisa kredit RS tapi penyebab ia teriak tentu bukan itu.
Junsu tertawa kecil sambil mengelus kepala Hyejin. “Ayo aku bantu, Jinni. Mumpung sedang tidak ada pasien.”Junsu lalu duduk di sebelah Hyejin dan mengambil alih sebagian pekerjaan Hyejin. Junsu membaca-baca sebentar lalu mulai mengerjakan. Hyejin memandang Junsu dengan takjub. Bagaimana bisa seorang dokter memahami pekerjaan banker? Hyejin tersenyum melihat Junsu lalu meletakkan kepalanya ke bahu Junsu. “You’re the best, Oppa. Saranghaeyo.”
“Jinja?”
“Oppa sahabatku, mana mungkin aku tidak mencintai Oppa.”
Junsu hanya tersenyum lesu dan menepuk-nepuk pelan kepala Hyejin. “Ayo bekerja. Jangan malas-malasan.”
“Ne, oppa. Song Hyejin, hwaiting! Kim Junsu, hwaiting!” Tangan Hyejin mengepal dengan penuh semangat. Junsu yang menertawai tingkah Hyejin justru membuat Hyejin ikut tertawa.

Kyuhyun mendatangi ruangan Junsu untuk membicarakan mengenai operasi jantung yang akan dilakukan terhadap salah satu pasien muda, tapi Kyuhyun tidak menemukan pemiliknya. Yang ada dia mendengar suara tawa dan cekikikan seorang wanita. “Oppa, wajahmu sok serius! Aku geli melihatnya. Hihihi. Bwahahaha.”
“Jinni-ya, jangan ketawa terus. Ayo selesaikan pekerjaanmu.”
“Auw! Oppa, jangan menjitakku. Sakit.”
Kyuhyun tahu Hyejin sedang berada di dalam. Seketika perasaannya kacau. Tiga hari setelah perbuatan bodohnya yang membuat hidupnya jadi tidak normal, Kyuhyun kembali merasakan degup jantungnya yang mulai tidak beraturan. “Ini tidak lucu. Masa dokter jantung sakit jantung?” Kyuhyun menertawai dirinya sendiri.
Senda gurau Hyejin dan Junsu semakin terdengar, membuat Kyuhyun memutuskan membuka pintu ruangan pribadi Junsu. “Hyung, aku butuh bantuanmu,” ujar Kyuhyun. Mata Kyuhyun mencuri pandang pada Hyejin yang menatapnya sebentar lalu mengalihkan wajahnya.
“Ada apa, Kyu?” tanya Junsu.
“Bisa minta tolong observasi Tuan Cha yang mau operasi besok pagi. Kita butuh memastikan kondisinya sekali lagi.”
“Baiklah.” Junsu lalu berdiri dan berpamitan pada Hyejin. “Istirahat saja dulu, Jinni. Jaga kesehatanmu.”
“Ne, oppa. Gomawo.”
Junsu meninggalkan ruangannya bersama asistennya sedangkan Kyuhyun masih berdiri di depan pintu memandang Hyejin. Tubuhnya ingin sekali mendekat, duduk di samping gadis itu dan membantunya. Tapi ia tidak cukup yakin dengan perasaannya.
“Dokter, apa kau masih disitu?”
“Ehm. Wae?” Kyuhyun cukup gelagapan menghadapi Hyejin yang sudah menatapnya.
“Temani aku makan siang.”
Kyuhyun terperanjat dengan ajakan Hyejin. Dengan gengsinya, Ia menutupi keterkejutannya. “Kau yang traktir. Nasabah tidak boleh membayari bank kan?”
“Aigoo. Direktur satu ini. Ne, aku akan mentraktir dokter. Kajja!”
Hyejin lalu berjalan menuju kantin dan Kyuhyun mengikutinya dari belakang. “Dokter, ppaliwa!” seru Hyejin yang lebih dulu sampai di meja. Kyuhyun sedikit mempercepat langkahnya dan segera duduk.
“Mau makan apa, dok?” tanya Hyejin.
“Pancake blueberry.”
Hyejin tersenyum lalu segera memesankan makanan untuk dirinya dan Kyuhyun. Sebuah pancake blueberry dan waffle blueberry.
“Tampaknya kita punya selera yang sama, dok. Blueberry. Humm, yummy!” celoteh Hyejin dengan riang.
Kyuhyun tertawa kecil melihat Hyejin yang sangat menikmati makan siangnya. Terlebih lagi mengetahui bahwa mereka sama-sama suka blueberry. What a coincidence!
“Aaah!” seru Hyejin melihat jam tangannya.
“Wae?” tanya Kyuhyun kaget.
“Sudah jam 2. Aku harus kembali ke kantor. Tadi aku ijin kesini hanya sampai jam makan siang. Aku duluan ya, dok. Sampai jumpa.”
Dengan terburu-buru Hyejin meninggalkan Kyuhyun tapi belum ada 10 langkah ia sudah kembali. “Apa dokter suka wine?” tanya Hyejin pada Kyuhyun.
“Ne. Wae?”
“Aku akan membuatkan pancake wine blueberry untuk dokter. Kujamin nanti ketagihan. Annyeong!”
Kali ini Hyejin benar-benar meninggalkan Kyuhyun yang sudah tertawa sambil menikmati pancake-nya.

Junsu memanggil Kyuhyun ke ruangannya untuk memastikan bahwa ia siap melakukan operasi. “Kyu, tuan Kim Ahndo siap operasi. Kau sudah siap?”
Kyuhyun tersenyum memandang Junsu. Wajahnya tampak sangat ceria membuat Junsu kebingungan. “Kau kenapa, Kyu? Sedang jatuh cinta?” tanya Junsu yang tampaknya tepat sasaran.
Kyuhyun meringis kecil dan tertawa-tawa. Guratan-guratan wajahnya dengan jelas mengatakan, “Tampaknya begitu, hyung…”
“Aaah, jadi kau mulai suka pada Vicky?”
Kyuhyun menggelengkan kepalanya dengan pelan. “Aniyo.”
“Then who?”
Kyuhyun menjawab dengan senyum. Ia tidak cukup bodoh untuk mengatakan yang sesungguhnya pada Junsu bahwa ia menyukai Hyejin, gadis yang sudah lama juga disukai Junsu.
Junsu menatap Kyuhyun dengan heran. “Aigoo, siapa gadis yang bisa meluluhkan si hati besi ini. Aku penasaran,” ujar Junsu.
Lagi-lagi Kyuhyun hanya tersenyum. “Sudah, tidak usah dipikirkan. Ayo kita segera ke ruang operasi.”
Kyuhyun beranjak dari ruangannya dengan mood yang luar biasa baik, membuat orang-orang di sekitarnya sedikit heran. Kyuhyun tidak pernah sesumringah ini sejak kedua orang tuanya meninggal 10 tahun lalu.

“Nota sudah, laporan keuangan sudah, dokumen legalitas sudah. Hem…” Hyejin melihat tumpukan kertas-kertas hasil kerjanya dengan semangat. “Selesai! Tuan Lee, nota analisaku sudah jadi. Tolong direview ya.”
Tuan Lee, atasan Hyejin, menerima hasil pekerjaan Hyejin dan mulai memeriksanya. “Good job, Hye. Aku akan memeriksa lebih detilnya besok. Sekarang, kau boleh pulang tapi jangan lupa siapkan materi untuk komite kredit.”
Hyejin tertawa sumringah. Badannya dibungkukkan dengan penuh semangat. “Ne. Aku akan berusaha. Kamsahmnida, tuan Lee.”
Hyejin pun kembali ke rumah dan teringat janjinya untuk membuat pancake. Dalam sekejap, Hyejin membeli bahan-bahan dan mulai memasak.
“Hummm, yummy!” ucap Hyejin ketika bau pancake-nya mulai menguar tanda sudah matang. Hyejin mengangkat pancake itu dari penggorengannya lalu menuangkan beberapa cairan ke atasnya.
“Wine blueberry untuk dokter Kyu. Yumm! Honey lemon untuk Junsu oppa. Kuharap mereka suka.”
Hyejin pun segera berangkat ke RS untuk menyerahkan pancake tersebut. “Oppa, odiseoyo?” tanya Hyejin melalu ponselnya begitu sampai di rumah sakit.
“Di ruang rapat. Sebentar lagi kembali. Wae?”
“Aku bawakan pancake untukmu. Kutunggu di ruangan Oppa ya.”
“Ne.”
Hyejin lalu menutup ponselnya dan berjalan menuju ruangan direktur Cho. Hyejin mengintip ke dalam, ternyata tidak ada orang.
Puk. Seseorang menepuk punggungnya. “Nona Song, anda mencari dokter Kyu?” tanya orang itu.
Hyejin membalikkan badannya dan menemukan asisten dokter Kyu berdiri memandangnya. “Ah Sora-ya. Ne, aku mencari dokter Kyu. Apa dia sedang pergi?”
“Ani. Itu dia sedang kemari.”
Hyejin melihat Kyuhyun yang sedang berjalan ke arahnya bersama seorang gadis yang terus bergelayut manja di lengan Kyuhyun. “Vic, aku harus bekerja. Lepaskan ya,” ucap Kyuhyun.
Vicky tersenyum kecil sambil melepaskan tangan Kyuhyun. “Selamat bekerja.” Vicky lalu mencium Kyuhyun baru meninggalkannya.
Hyejin melihat kejadian itu dan merasa hatinya sedikit sakit. Ia merasa dipermainkan meskipun sebenarnya ia juga tidak tahu maksud Kyuhyun menciumnya waktu itu.
“Hyejin-ssi, apa yang kau lakukan disini?” tanya Kyuhyun.
Hyejin mencoba tersenyum tapi tingkahnya menunjukkan bahwa ia marah. Ia hanya pura-pura bersikap manis untuk melindungi dirinya sendiri. “Hanya ingin memberitahu besok lusa mungkin akan perjanjian kredit. Kehadiran dokter diperlukan. Permisi,” ujar Hyejin.
Hyejin berbalik badan meninggalkan Kyuhyun. Tangannya memegang erat tempat makan yang dibawanya untuk Kyuhyun. Kekecewaannya tidak bisa ia bendung lagi ketika masuk ke ruangan Junsu. Air matanya mengalir sembari memeluk Junsu.
Junsu memeluk Hyejin dengan heran. “Jinni-ya, kau kenapa? Kok nangis?” tanya Junsu.
Hyejin terus menangis. “Oppa, aku kecewa. Aku melihat dokter Kyu berciuman dengan seorang dokter perempuan. Aku sedih.”
Beruntung bagi Junsu, Hyejin sedang tidak bisa melihat wajahnya karena saat ini wajah tampan Junsu tidak lebih dari sebuah mayat, pucat dan kosong.
“Kkk..kau menyukainya, Jinni?” tanya Junsu ketika sedikit mendapatkan kesadaran.
“Entahlah. Beberapa minggu lalu saat kami survey, dia menciumku. Aku tidak tahu apa maksudnya tapi yang jelas saat itu aku bahagia,” jawab Hyejin.
“Kau bahagia bersamanya?”
“Aku tidak tahu. Aku baru saja mengenalnya.”
Junsu mengelus-elus punggung Hyejin dengan lembut dan dalam sekali helaan nafas panjang, Junsu melepaskan pelukannya. “Kalau kau menyukainya, aku akan membantumu. Setahuku dia masih single.”
Mata Hyejin membelalak antara senang dan terkejut. “Jinja? Kotjimal, Oppa!”
“Aku tidak bohong. Sekarang berikan pancake-ku.”
Hyejin mengambil dua tempat makan berisi pancake. Wine blueberry yang tadi untuk Kyu jadi milik Junsu. Junsu pun segera melahapnya tanpa berhenti sedetik pun. Tidak ada yang tahu bahwa ia juga sedang kecewa dan berusaha menutupinya selihai ia bisa.