by: @GYUMONTIC

ENJOY! :)

Cast:

Song Hyejin

Cho Kyuhyun

Kang Hamun

Choi Siwon

 

PART 4

 

Kyuhyun pov

Hyejin masih sering ngomel-ngomel jika ada sesuatu yang tidak sesuai kehendaknya tapi semakin lama dia bersamaku, ia semakin bergantung padaku. Buktinya, saat dia sedang kesulitan, orang pertama yang dihubunginya pasti aku.

“Kyu! Kenapa belum pulang? Aku membutuhkanmu sekarang!” panggilnya melalui telepon. Ia membuatku segera membereskan meja kerjaku dan melaju ke rumah Hyejin secepat mungkin.

Aku segera mencari Hyejin begitu menginjakkan kaki di rumahnya. “Hye! Dimana kau? Hye!” panggilku berkali-kali sambil berkeliling rumahnya. Pertama, aku mencarinya di kamar tapi tidak ada. Aku lalu mencarinya ke ruang belajar tapi juga tidak ada. “Hye! Kau dimana?” panggilku lagi.

Hyejin lalu muncul dari pintu dapur dan menyahutku, “Sini! Bantu aku memasak!”

“Mwo?!” seruku terkejut. Aku sama sekali tidak bisa memasak dan Hyejin menyuruhku membantunya? Yang ada, aku malah akan menghancurkannya.

Hyejin kembali memanggilku karena aku masih berdiri terpaku di tempatku. “Kau mau membuat masakanku gosong? Ayo cepat bantu aku!” omel Hyejin tidak sabaran.

Aku masuk ke dapur dan melihat berbagai macam peralatan dapur yang belepotan coklat teronggok di berbagai sudut. “Kau lagi buat coklat? Untuk apa?” tanyaku penasaran.

Hyejin tersenyum manis sambil mengaduk-aduk coklatnya yang sedang dipanaskan. “Ini hanya latihan untuk valentine,” jawab Hyejin.

Aku mengernyitkan kening dengan heran. Buat apa dia membuat coklat untuk valentine? Apa dia mau memberikannya untuk seseorang?

Hyejin lalu menyendokkan sedikit adonan coklat ke depan mulutku. “Cicipi!” perintahnya. Aku pun memasukkan adonannya ke mulutku dan menelannya. “Pahit!” ucapku reflek membuat Hyejin terduduk lemas bersila di lantai dapur.

“Kau tidak suka pahit?” tanya Hyejin dengan lesu. Tangannya sudah mengucel-ucel celemeknya sedangkan matanya hampir meneteskan air mata. Aku tahu dia sedang berusaha menciptakan coklat untuk seseorang. Hanya saja kenapa aku yang jadi kelinci percobaannya?

Aku duduk bersila di depan Hyejin, menengadahkan kepalanya dan mengusap matanya. “Tidak semua orang tidak suka pahit. Kau sudah berusaha dengan baik. Dia pasti akan tetap memakannya,” kataku berusaha menghibur.

Hyejin menatapku dengan sedih, mencari kesungguhan dari ucapanku. “Kau serius?” tanyanya.

Aku mengangguk tanpa melepaskan kontak mataku dengannya. “Kalau begitu, makan coklat buatanku. Aku sudah susah payah membuatnya untukmu,” ujar Hyejin.

Aku tidak tahu harus bereaksi apa. Ini bagaikan jembatan kematian saat berada di antara surga dan neraka. Aku senang Hyejin membuatnya khusus untukku tapi tidak dengan coklat-coklatnya. Hyejin menatapku dengan mata sendunya dan menyodorkan coklat-coklat pahit itu. “Aku mohon makanlah,” ujarnya.

Dengan ragu, aku mengambil coklat itu dan memakannya. Aku menelan coklat tersebut dan merasakan leherku seperti terbakar karena sebetulnya aku alergi dengan segala jenis makanan pahit.

Untuk suapan pertama aku bisa menahannya, begitu juga dengan suapan kedua. Hyejin mulai tersenyum membuatku bahaia karena bisa menyenangkannya.Aku memasukkan suapan ketiga ketika Hyejin tertawa terbahak-bahak. “Kau tahu Kyu? Aku hanya mengerjaimu. Baik-baik ya dengan coklat-coklat pahitmu,” ujarnya lalu berlalu meninggalkan dapur.

“Hyejiin!!” pekikku keras dengan sambutan tawa keras dari Hyejin.

Leherku terasa semakin panas. Dadaku juga semakin sesak. Sekuat tenaga aku mencari nomor Hamun di ponselku. “Hamun, tolong aku. Alergiku kambuh,” ujarku terbata-bata karena kesusahan bernafas.

Dengan sekuat tenaga aku mencoba untuk bertahan tapi dadaku semakin sesak, penglihatanku juga mulai memudar. Entah apa yang terjadi padaku setelah itu.

Hyejin pov

Aku berbaring di sofa kamarku sambil tertawa-tawa membayangkan Kyuhyun yang kena jebakanku. Aku ingat wajahnya saat menelan coklat pahitku dengan terpaksa, sangat sesuai dengan harapanku.Tidak sia-sia aku membuang ratusan ribu won untuk mencari tahu tentang hal itu. “Salah sendiri kau seenaknya meninggalkanku hanya karena kau harus meeting dengan klien. Apa klien itu lebih penting dariku?” batinku kesal jika mengingatnya.

Aku bersiap menyatu dengan bantal dan gulingku saat pintu kamarku diketok dengan keras, nyaris digedor. “Yaa Song Hyejin! Apa yang kau perbuat pada Kyuhyun? Kenapa kau memberikannya makanan pahit?! Kau tahu kan dia alergi makanan pahit?!” damprat Hamun tepat di depan wajahku.

“Yang aku tahu kau tidak berhak memarahiku apapun alasannya!” balasku jauh lebih keras.

Hamun menatapku dengan hasrat ingin membunuh. “Jelas aku berhak jika kau menyebabkan Kyuhyun terkapar tak berdaya!” teriak Hamun.

Aku bagai disambar petir mendengar berita bahwa Kyuhyun pingsan atau apalah karena coklat-coklatku. Aku tidak menyangka reaksi Kyuhyun ternyata sampai mengganggu kesehatannya. Aku merasa bersalah sekaligus frustasi dibuatnya. Berbagai macam pikiran muncul di otakku tapi hanya satu hal yang berjalan. “Cepat pergi ke kamarnya,” perintah otakku.

Aku pun segera berlari menuju kamar Kyuhyun dan melihatnya berbaring tidak sadarkan diri di tempat tidurnya dengan dokter yang sedang memeriksanya. “Apa Kyu akan baik-baik saja?” tanyaku takut kalau terjadi apa-apa dengannya. Aku menatap Kyuhyun menyesal. Tidak seharusnya aku mengerjainya sampai seperti ini.

Dokter merapikan peralatannya dan melihatku. “Alerginya kambuh. Kau harus memberikan susu sebagai penawar,” jawab dokter.

Dokter mungkin menangkap wajah kecemasanku. Karena itu dia tersenyum sambil menepuk bahuku. “Tenang saja. Sebentar lagi dia akan sadar,” kata si dokter. Aku pun mengangguk-angguk meski masih dalam ketakutan.

Hamun mengantarkan dokter Kyu keluar sedangkan aku membuatkan susu untuk Kyuhyun. Aku sengaja menambahkan beberapa sendok wine kesukaan Kyuhyun ke dalamnya dengan harapan Kyuhyun akan segera sadar. Setelah itu, dengan susah payah aku menegakkan badan Kyu dan meminumkan susu yang aku buat ke mulutnya.

Aku berusaha membuat Kyuhyun menelannya meskipun hanya setengah lalu kembali menidurkannya. Setelah itu aku duduk dengan tenang di samping Kyu dan tanpa sadar tertidur di atas lengan tangannya.

author pov

Hamun menatap Kyuhyun dengan nanar melalui sela-sela jendela kamar atasannya itu yang tidak tertutup tirai. Kyuhyun terlihat sudah sadar dan sedang membopong Hyejin untuk memindahkan gadis itu ke tempat tidurnya agar bisa istirahat dengan lebih nyaman. Tidak sampai di situ, Hamun melihat Kyuhyun mengecup mata, hidung dan bibir Hyejin diiringi senyuman penuh kasih sayang.

“Tidak baik mengintip orang,” kata Siwon yang tiba-tiba datang, dengan pelan. Hamun menoleh kaget pada Siwon dan tanpa dapat ia bendung lagi, air matanya mengalir. Siwon mengusap air mata Hamun lalu mengamit tangannya dengan lembut. “Kau juga harus istirahat. Ayo,” ujar Siwon.

Siwon pun mengantarkan Hamun ke kamar gadis itu, menyuruhnya tidur. Hamun pun menuruti apapun kata Siwon. Dia tidak punya tenaga lagi untuk berdebat.

Hamun naik ke tempat tidurnya dan Siwon menaikkan selimutnya sampai setinggi dada Hamun. “Selamat tidur,” ucap Siwon sambil mengelus-elus kepala Hamun. “Kalau kau butuh aku, aku ada di sofa itu,” lanjut Siwon kemudian sambil menunjuk sofa di kamar Hamun.

Hamun mengangguk lemah. Siwon pun beranjak ke sofa diikuti tatapan Hamun yang ingin sekali memeluknya.

Hamun ingin mendapat kehangatan dan kenyamanan dari Siwon tetapi ia takut itu hanya pelariannya. Hamun takut keinginannya untuk memeluk Siwon timbul karena dia patah hati dari Kyuhyun. Hamun tahu rasanya sakit hati. Ia tidak mau orang lain sakit hati karenanya. Siwon terlalu baik untuk itu.

A month later…

Hyejin pov.

Sebulan berlalu sejak kejadian Kyuhyun pingsan akibat ulahku dan telah berlalu sebulan juga sari saat Kyuhyun mencuri ciuman dariku. Saat itu aku sadar Kyuhyun akan menciumku tapi aku pura-pura tidur karena aku tidak berani melihat apa yang akan dilakukan Kyuhyun terhadapku. Sampai sekarang pun ciuman itu masih sangat terasa.

Seperti pagi ini, aku bangun dan langsung berdiri ke depan cermin untuk melihat pantulan diriku. Tanpa sadar aku tersenyum sendiri sambil memegang mata, hidung, dan bibirku bergantian. Di situlah Kyuhyun menciumku. Aku lalu mengingat ucapan kyuhyun bulan lalu. “Kau tidak akan aku biarkan pergi tanpaku.” Aku memegang wajahku yang memerah lalu berputar2 sambil tertawa-tawa. “Demi langit Song hyejin, hentikan. Kyuhyun melakukannya karena dia penanggungjawab-mu! Bukan karena dia menyukaimu,” Batinku.

Lalu ciuman Kyuhyun lebih merasuk ke otakku untuk menyatakan bahwa Kyu tidak menganggapku hanya sebagai kliennya. Aku pasti memiliki arti lebih di hatinya. “Demi bumi, jangan berharap yang tidak-tidak, Song Hyejin,” batinku melawan. Seketika tawa dan kegilaanku hilang.

“Hhh. Mending aku mandi. Jam 10 sebentar lagi,” gumamku kecewa lalu masuk ke dalam kamar mandiku. Selesai mandi, aku segera beranjak ke kamar dimana seluruh gaunku disimpan. Aku melihat jejeran baju-baju itu dalam kebingungan. Gaun mana yang cocok? Aku tidak tahu. Alhasil aku harus meneriaki jiyeon untuk membantuku. Dalam 5 menit, jiyeon sudah meletakkan sebuah gaun lengkap dengan sepatu dan aksesorisnya serta make up yang cocok..

“Terima kasih jiyeonssi. Kau memang andalanku!” Ujarku berterima kasih. Aku pun segera memakainya dan keluar dari kamarku. Rupanya kyuhyun sudah menungguku tapi dia tidak sendirian. Sekretaris Kim berada di sampingnya, tertawa-tawa dengan manis sambil menatap kyuhyun dengan penuh cinta. Aku menatap sekretaris Kim dari atas sampai bawah. Sempurna! Berbeda denganku, yang masih terlihat kekanakan meski berbalut gaun. Tidak heran kalau kyuhyun tertarik padanya. Tiba-tiba aku merasa ada satu perasaan aneh yang sudah lama tidak menyelinap ke dalam hatiku. Aku dikuasai perasaan cemburu yang lebih parah dari biasanya.

“Lebih baik aku pergi sendiri jika kau juga mengajak Hamun,” kataku nyaris membentak pada Kyuhyun yang hanya bisa bengong menatapku. Sedangkan Hamun menatapku dengan tatapan ingin membunuhku. Aku tidak peduli pokoknya gadis itu harus enyah dari hadapanku.

Kyuhyun mencoba mendapatkan kemakluman dariku tapi aku menolaknya mentah-mentah, “Hyejin, aku membutuhkan Hamun di summit itu. Dia mewakili perusahaan.”

“Aku tidak peduli! Kalau dia utusan perusahaanmu, seharusnya dia pergi saja sendiri tidak usah bersamamu. Kau anak buahku sekarang, Kyu jadi kau harus menuruti semua perintahku!”

Aku merasa kelakuanku sama sekali tidak dewasa tapi emosiku sudah terlanjur memuncak. Aku tidak bisa lagi mengendalikannya. Semua yang terjadi membuatku semakin posesif dan membenci semua gadis yang berada di dekat Kyuhyun. Kyuhyun tampak kebingungan dan aku terus menatapnya agar segera membuat keputusan.

“Hamun, maafkan aku. Kau pergi saja duluan. Aku akan bersama Hyejin ke sana,” ucap Kyuhyun kepada Hamun yang tanpa perlu dua kali dijelaskan langsung dijalankan oleh Hamun. Hamun berjalan keluar dari rumahku sambil memandangku dengan keji. Aku tahu pasti dia ingin menghabiskanku saat ini juga karena aku pun begitu.

Hatiku sudah sangat panas. Untung Kyuhyun menghampiriku dan mendinginkan semuanya. Tangannya ditaruh di bahuku, keningnya ditempelkan ke keningku. “Apa kau cemburu pada Hamun karena dia selalu bersamaku? Apa kau menyukaiku?” tanyanya yang langsung membuatku salah tingkah. Bagaimana dia bisa tahu? Apa tertulis jelas di wajahku kalau aku menyukainya?!