PART 5

ENJOY!

Author pov

Hamun mengemudikan mobilnya sendirian menuju business summit. Hatinya sangat sakit tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menggenggam kemudinya dengan kencang dan bersikeras agar air matanya tidak jatuh. Sudah menjadi prinsip hidupnya bahwa menangis hanya boleh dilakukan jika ada kematian seseorang yang dicintai. Dan kini ia hanya ditolak oleh orang yang sangat dicintainya.

“Song Hyejin, harusnya kau tidak pernah dilahirkan,” desis Hamun penuh keinginan untuk mengenyahkan Hyejin dari muka bumi ini. Gara-gara Hyejin, ia semakin jauh dengan Kyuhyun. Tidak ada lagi waktu untuknya dan Kyuhyun untuk bicara masalah kerjaan apalagi tertawa-tawa sambil makan siang. Hyejin sudah mengambil Kyuhyun seutuhnya, pikir Hamun putus asa.

Saat Hamun membiarkan putus asa menyergapnya, pikirannya tidak lagi fokus sehingga dia tidak sadar bahwa di depannya ada pembatas jalan yang siap beradu dengan mobilnya. Sial, Hamun tidak sempat mengelak dari kecelakaan.

Di saat yang bersamaan, Hyejin berangkat bersama Kyuhyun. Terselip rasa bahagia di hati Hyejin karena Kyuhyun menuruti permintaannya dan memilih dirinya tapi semua itu sirna saat Kyuhyun mendapat sebuah panggilan.

“Ya, saya atasannya… Apa? … Oke, saya akan segera ke sana. Tangani dulu dengan segera. Terima kasih,” kata Kyuhyun dengan tenang tapi wajahnya berkata sebaliknya.

“Ada apa?” tanya Hyejin ingin tahu kenapa Kyuhyun tampak tidak tenang.

Kyuhyun menginjak pedal gas agar mobilnya melaju lebih cepat. “Hamun kecelakaan. Aku akan mengantarmu lalu ke rumah sakit,” jawab Kyuhyun.

Satu-satunya hal yang muncul di kepala Hyejin adalah, “Kau tidak boleh pergi. Berani kau meninggalkanku, aku jamin kau tidak akan bisa lagi menginjakkan kakimu di rumahku. Kau akan kupecat jika aku sendiri di business summit.” Hyejin memberikan penekanan yang tajam di setiap kata-katanya, menunjukkan ucapannya bukan lagi himbauan tapi sudah ancaman. Bagi Hyejin, meskipun Hamun mati, Kyuhyun tidak boleh meninggalkannya.

Kyuhyun mencoba bersabar menghadapi Hyejin. Kyuhyun tahu Hyejin membenci Hamun semata-mata karena cemburu. Hyejin terlalu menyukai Kyuhyun dan membuatnya menjadi posesif. “Terlepas dari Hamun adalah pegawaiku, aku tetap harus bertanggung jawab. Aku yang menyuruhnya pergi sendiri. Kalau dia ikut bersama kita, pasth tidak akan seperti ini jadinya,” ujar Kyuhyun, menyulut sensitivitas Hyejin.

Hyejin merasa disalahkan dan ia tidak suka itu. “Turunkan aku di sini! Kau kupecat, Kyu!” seru Hyejin tapi tidak digubris oleh Kyuhyun.

“Aku akan mengantarkanmu sampai sana,” sahut Kyuhyun masih berusaha bersabar.

“TIDAK! TURUNKAN AKU SEKARANG!” Hyejin semakin menjadi. Kyuhyun pun tidak bisa lagi menahan emosinya. Ia benar-benar meminggirkan mobilnya dan menurunkan Hyejin sesuai permintaan gadis itu. Hyejin membelalakan matanya karena terkejut. “Silahkan turun,” ujar Kyuhyun dingin.

Mata Hyejin menyipit kesal pada Kyuhyun. “Aku tidak mau kau muncul lagi di hadapanku,” kata Hyejin lalu turun dari mobil dan membiarkan Kyuhyun pergi meninggalkannya.

Kyuhyun pov

Hatiku tidak tenang meninggalkan Hyejin sendirian tapi aku juga harus memastikan keadaan Hamun. Tidak mungkin aku diam saja jika ada pegawaiku yang masuk rumah sakit apalagi sampai tidak sadarkan diri. Kenapa Hyejin tidak bisa mengerti? “Argh!” seruku bingung.

Aku tahu dia melarangku pergi bukan karena dia membenci Hamun tapi karena dia tidak rela aku meninggalkannya.Dia mulai menyukaiku tapi sifatnya kekanak-kanakannya membuatku semakin pusing memikirkan bagaimana menanganinya. Aku akan memikirkannya nanti setelah urusan Hamun selesai.

Rumah sakit selalu membuatku pusing dengan baunya. Hanya saja aku harus melawannya demi Hamun. Aku menghubungi resepsionis lalu diantarkan ke ruang rawat Hamun di lantai 3. Bukan hanya Hamun yang aku lihat sedang berbaring lemah dengan matanya yang masih terpejam tapi aku juga melihat Siwon yang duduk di sebelahnya, menunggu Hamun sadar sambil menggenggam tangan sekretarisku. “Bagaimana bisa dia ada disini?” tanyaku bingung.

Aku masuk ke dalam ruangan dan Siwon menyambutku. “Aku pikir kau akan menemani Hyejin ke business summit,” kata Siwon.

“Bagaimana kau bisa di sini?” tanyaku bingung.

Siwon tertawa. “Hyejin memberitahukanku tadi. Dia juga bilang kau akan kemari jadi aku berangkat lebih cepat, berharap aku akan menjadi orang pertama yang dilihat Hamun saat ia sadar,” jawab Siwon dengan tangan sambil membelai kepala Hamun penuh kasih sayang. Apa Siwon menyukai Hamun? Tapi kenapa dia begitu mesra dengan Hyejin kemarin?

Aku merasa sangat bodoh. Siwon rela cepat-cepat mengemudikan mobilnya untuk melihat Hamun sedangkan aku justru menurunkan Hyejin di jalan dan cepat-cepat meninggalkannya.

“Apa Hyejin mengatakan hal lain?” tanyaku ingin tahu.

“Dia hanya bilang butuh bodyguard baru. Aku diminta untuk menggantikanmu. Apa kau sudah dipecat?” sahut Siwon dengan gaya sombongnya yang membuatku kesal. Tidak akan kubiarkan kau menggantikanku.

“Tidak. Maaf sekali kau tidak bisa menggantikanku,” ujarku. Siwon tersenyum padaku. “Kalau begitu pulanglah sebelum Hyejin benar-benar memecatmu,” sahut Siwon, membuatku bingung.

“Sebenarnya apa hubunganmu dengan Hyejin?” tanyaku pada Siwon yang disambut dengan tawa kecil.

“Aku hanya sepupunya. Aku rasa dia hanya menyukaimu. Jadi sebelum kau menyesal, kembalilah pada Hyejin,” jawab Siwon. Aku pun inginnya begitu tapi bagaimana dengan Hamun? Aku menatap Hamun yang masih tidak sadarkan diri. “Aku akan menjaga sekretarismu sebaik kau menjaga sepupuku. Tenang saja, Kyu,” kata Siwon. Entah bagaimana, aku sangat mempercayai kata-katanya dan membuatku segera berlari meninggalkan rumah sakit menuju rumah Hyejin. Aku tidak peduli apa Hyejin akan marah-marah atau memukulku sekalipun, aku harus segera menemuinya.

hyejin pov

“Bodoh! Bodoh! Kyu bodoh! Kyu menyebalkan! Aku benci padamu!” teriakku di dalam kamar sambil melempar-lempar bantal ke sana kemari. “Kenapa kau bodoh sekali sih?! Aku membutuhkanmu lebih dari si Hamun itu! Aaaargh!” Aku melempar lagi bantalku dan tepat mengenai Kyuhyun yang entah darimana datangnya.

“Ngapain kau disini? Aku kan sudah memecatmu!” seruku meski dalam hati aku senang sekali dia muncul lagi.

Kyuhyun berjalan ke arahku yang sedang duduk di tempat tidur dan dengan santainya ia berbaring di sebelahku. “Yaa! Ngapain kau tidur di sini? Aku kan memecatmu!” seruku lagi sambil memukulnya dengan bantal.

“Hei gadis bodoh,” ucap Kyuhyun memanggilku.

“Aku tidak bodoh!” bantahku kesal.

“Kau mengataiku bodoh padahal kau menyukai orang bodoh sepertiku. Lebih bodoh mana?”

aku mati kutu dibuatnya. Dia mendengar semua omelanku tadi. “Kau dengar semuanya?” tanyaku gelagapan.

Kyuhyun mengangguk sambil tersenyum. Tangannya lalu menarikku hingga aku terjatuh ke dalam pelukannya yang semakin lama semakin erat mengunciku. Entah kenapa aku tidak menolaknya. Aku bahkan memeluk pinggangnya dengan tanganku.

“Jadi kau tidak memecatku kan?” tanya Kyuhyun dari atas kepalaku. Aku menggeleng pelan. Kyuhyun pun tertawa. “Aku tahu kau tak mungkin melepaskanku. Aku terlalu berharga,” ujarnya dengan maksud menggodaku tapi aku tidak peduli. Aku sedang berada dalam surga dunia, tidak sedetik pun boleh aku lewatkan. Ya, pelukan Kyuhyun, sentuhannya di kulitku adalah surga dunia untukku dan aku akan selalu menikmatinya. Aku sangat menikmatinya sampai tidak terasa aku sudah tertidur di pelukannya yang hangat.

esok paginya…

Aku bangun dan tidak menemukan Kyuhyun di sampingku. “Masa sepagi ini dia sudah bangun?” tanyaku dalam hati. Aku melihat jam di samping tempat tidurku menunjukkan pukul 11.00. Aku pun langsung meloncat dari tempat tidurku. “Aaaaah! Jiyeon! Siapkan air mandiku! Aku terlambat!” teriakku sambil terbirit-birit mencari baju kuliahku. Aku sudah tidak ikut kelas pagi, hampir terlambat kelas berikutnya. Kenapa Kyuhyun tidak membangunkanku? Argh.

“Jiyeon!” teriakku lagi karena dia tidak juga muncul-muncul. Kemana sih orang itu? “Jiyeon!”

“Yaa Song Hyejin, bisakah kau tidak teriak-teriak di hari minggu ini?” tegur Kyuhyun yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarku berbalut kaus dan celana pendek. Kausnya terlihat basah karena keringat tanda ia baru olahraga. Apa dia tidak kuliah?

“Aku sudah terlambat ke kampus. Mana Jiyeon? Kenapa malah kau yang muncul?” tanyaku panik.

Kyuhyun tertawa terbahak-bahak lalu menepuk kepalaku pelan. “Ini hari Minggu. Kau mau ngapain ke kampus? Bersih-bersih?” ujarnya membuatku sadar bahwa sekarang weekend dan tidak ada kuliah pada hari Minggu. Betapa bodohnya aku!

Aku memandang Kyuhyun sambil tersenyum malu atas kebodohanku. Kyuhyun pun tersenyum menertawai kebodohanku. Tiba-tiba, Kyuhyun mendekatkan wajahnya ke wajahku. “Morning kiss,” ujarnya lalu mencium bibirku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menginginkan dunia ini berhenti berputar. Biarkan aku dalam posisi ini sampai waktu yang tak terbatas, aku mohon. Sayang, Kyu tidak lama-lama menciumku.

“Mandi sana terus olahraga. Lihat perutmu sudah buncit tuh,” katanya sambil tertawa-tawa lalu melenggang pergi, membuatku kesal setengah mati tapi toh tetap aku menuruti perintahnya untuk mandi. Tampaknya, aku lupa bahwa seharusnya Kyuhyun-lah yang harus menuruti perintahku. Aku pasti sudah buta karena cinta.

Kyuhyun pov

Hari ini aku mendapat kabar bahwa Hamun sudah sadarkan diri dan boleh pulang. Memang sih dia tidak mengalami luka-luka, hanya pingsan karena syok, tapi bagiku ini suatu keajaiban. Hanya dalam sehari, dia sudah tidak perlu di bawah perawatan rumah sakit. Aku ingin sekali menjenguknya tapi mengingat Hyejin yang masih membenci Hamun, membuatku mengurungkan niat tersebut. Aku harus menanyakannya dahulu kepada Hyejin jangan sampai aku mengambil langkah yang justru membuat hubunganku dan Hyejin jadi buruk. Aku tidak mau kehilangannya. “Hash!” desahku bingung.

“Kenapa mendesah begitu?” tanya Hyejin yang sudah turun dari kamarnya lalu duduk menemaniku menonton tv di ruanganku ini. Awalnya ia duduk tegak seperti robot tapi aku menariknya agar menyender padaku. Alhasil sekarang ia duduk menyender di dadaku dan tanganku membelai-belai rambutnya.

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu,” kataku.

“Apa?” tanya Hyejin.

“Aku ingin menjenguk Hamun. Dia sudah sadar,” jawabku takut-takut Hyejin akan marah dan ketakutanku benar-benar terjadi. Seketika, aura di sekitar kami menegang.

“Meskipun dia mati sekalipun, kau tak akan aku ijinkan ke pemakamannya,” sahut Hyejin dengan tajam. Ia langsung meninggalkanku sendiri di ruang makan.

“Hyejin, aku mohon mengertilah. Aku harus menjenguknya. Hyejin,” panggilku.

“Pergi sana! Yang jauh sekalian dan jangan kembali. Aku serius!” teriak Hyejin. Kemudian, terdengar pintu kamarnya yang dibanting keras. Aku hanya bisa menghela nafas menahan emosi. Biarpun Hyejin melarang, aku harus tetap menjenguk Hamun.

hyejin pov

Kyuhyun pergi menjenguk Hamun dan aku sungguh-sungguh berharap dia tidak benar-benar mendengarkan kemarahanku. Aku tidak ingin dia pergi. Seharusnya dia mengerti itu.

Aku bolak-balik mengecek ponselku tapi tak ada satu pun panggilan ataupun pesan darinya. Aku bahkan menunggunya pulang tapi ia tidak kunjung muncul meski sudah jam 4 pagi. “Kau sungguh akan mati, Kyu,” gumamku geram.

Aku kembali masuk ke kamarku untuk memejamkan mata sesaat, aku terlalu lelah. Tanpa aku sadari, aku tertidur lelap.

“Song Hyejin bangun!” seru seorang wanita sambil menarik tanganku. Aku membuka mataku perlahan dan melihat Hamun berdiri dengan anggunnya di hadapanku. “Mau sampai kapan kau tidur?” tanyanya dengan galak. Kenapa dia ada di rumahku?

“Bukannya kau di rumah sakit? Mana Kyu?” tanyaku.

“Aku tidak selemah itu, bodoh!” sahutnya dingin. Tiba-tiba Siwon oppa masuk ke kamarku dan duduk dengan santai di sebelahku.

“Kenapa kau juga ada di sini, Oppa?” tanyaku bingung.

“Aku yang mengantarkan Hamun ke sini,” jawab Siwon oppa dengan tatapan sayang pada Hamun. Hamun tersipu malu karenanya. Hal ini membuatku merindukan Kyuhyun. Sama seperti Siwon oppa yang rela berbuat apa saja untuk Hamun, Kyu pun juga begitu terhadapku tapi sifatku yang kekanakan memperburuk semuanya.

“Hamun, mana Kyu?” tanyaku.

“Daritadi aku mau bilang padamu bahwa Kyu harus ke Taiwan. Ayahnya jatuh sakit. Dia harus mengurus perusahaannya di sana,” jawab Hamun.

Terbersit rasa ingin segera menyusul Kyu ke Taiwan tapi gengsiku yang menyebalkan ini muncul dan mengalahkan segalanya. “Ya sudah biarkan saja!” ucapku tidak sinkron dengan hatiku. Aku bangkit berdiri keluar dari kamarku berpindah ke kamar Kyuhyun.

Aku memperhatikan setiap sudut kamarnya lalu berbaring di tempat tidurnya. Rasa rindu menyergapku sedemikian rupa sehingga membuatku menangis. Aku sangat merindukannya.

tbc :))