ENJOY!

By: @Gyumontic

 

FINALLY! THE LAST PART!
thank you so much for waiting chingu🙂
hope you like it!

 

*****

Kyuhyun pov

“Ttet! Ttet! Ttettet!” bel pintu apartemenku berbunyi cepat sekali. Tampaknya orang ini sudah gila. Sekarang ini jam 3 pagi waktu Taiwan, buat apa dia memencet-mencet bel? Aku tidak kenal siapa-siapa di sini, kalaupun ada apa-apa dengan ayahku pasti omma atau nuna akan menghubungi ponselku, jadi tidak mungkin orang ini mencariku. Dia pasti orang tidak waras! Grrr!

Aku berusaha mengabaikan bunyi bel tersebut tapi makin lama makin keras bunyinya dan sangat mengganggu waktu tidurku. “Haish! Siapa sih?! Ganggu saja!” omelku kesal. Aku pun bangkit dari sofa tempat aku berbaring dan membukakan pintu. “Yaaa!” seruku tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang datang.

“Yaa! Yaa! Kenapa lama sekali buka pintunya?!” sahut tamuku dengan kesal lalu melenggang masuk ke dalam apartemenku. “Jangan lupa bawakan koperku,” lanjutnya kemudian.

Aku melihat gadis yang tadi aku sangka orang gila dan kopernya secara bergantian. Apa aku mimpi? Hyejin datang menemuiku? “Hyejin-ah, apa itu benar-benar dirimu?” tanyaku dengan bodoh. Kalau ia benar Hyejin, aku akan langsung memeluknya.

Hyejin memandangku dengan tatapan angkuhnya yang sangat aku rindukan. “Lalu kau pikir aku alien? Huh?” sahut Hyejin persis seperti tatapannya.

Seperti kataku tadi, aku langsung memeluknya dan mencium keningnya. “Kau pasti tidak bisa hidup tanpaku kan?” godaku yang langsung berimbas sebuah pukulan pelan di dadaku. “Hei, jangan marah,” ujarku sambil tersenyum jahil.

“Aku tidak marah. Kau memang menyebalkan!” sahut Hyejin. Bibirnya sudah mengerucut, merajuk. Aku kembali tertawa saking bahagianya. Setelah berhari-hari aku pusing memikirkan Hyejin yang tidak mau bicara padaku, sekarang dia malah datang sendiri kepadaku. Apa ada yang lebih baik dari ini? Kurasa hanya kesembuhan ayahku yang dapat menyainginya.

Hyejin menatap langsung ke mataku. “Apa saja yang kau lakukan di sini? Apa kau menemui wanita lain?” tanyanya serius.

Aku mengangguk mantap dan membalas tatapan Hyejin dengan serius. “Banyak. Ada Qing Mei, Wei Lan, Yun Fei, dan lain-lain,” sahutku. Tatapan Hyejin terlihat melemah, jelas sekali dia kecewa tapi aku justru semakin ingin menggodanya. Aku mendekatkan mulutku ke telinga Hyejin. “Mereka semua seksi-seksi,” bisikku.

Hyejin melepaskan dirinya dari pelukanku lalu duduk di sofa di belakangnya. “Harusnya aku tidak menemuimu. Percuma saja aku merindukanmu,” katanya dengan lesu.

Aku berjongkok mensejajarkan wajahku dengan wajah Hyejin. “Aku hanya bercanda, sayang. Jangan sedih. Aku tidak kenal siapa-siapa di sini, boro-boro menemui wanita,” ujarku memberitahukan yang sebenarnya. Aku ke Taiwan hanya untuk menjenguk appa dan mengurus perusahaan, sisanya adalah memikirkan hubunganku dengan Hyejin, mana sempat berurusan dengan wanita.

Hyejin tampaknya masih tidak percaya. Dia masih menatapku dengan lesu dan bertanya, “Sungguh?”

“Sungguh. Satu saja sudah bikin pusing, buat apa punya dua,” jawabku diiringi senyum jahil.

Hyejin tersenyum lega. Tangannya memegang bahuku. Detik berikutnya, bibirnya sudah menempel di bibirku. “Saranghae,” ucapnya lalu kembali menciumku. Pikiranku mulai kacau sekarang.

Hyejin tidak juga melepas ciumannya dan membuatku semakin gila. Tanganku mulai bergerilya, untung Hyejin masih tersadar. “Dasar pria. Dikasih hati minta jantung, lama-lama paru-paru juga diembat,” ujarnya setelah mendorongku. Aku menatap wajah Hyejin, tidak tampak guratan marah. Dia justru tersipu-sipu malu membuatku ingin mencubit pipinya.

“Hoaaaam.” Hyejin menguap lebar. Matanya pun mulai merah dan berair. “Aku ngantuk, mau tidur,” ucapnya.

Tanpa ragu, aku membopongnya ke kamarku dan menidurkannya di tempat tidurku. “Selamat tidur,” ucapku lalu mencium keningnya. Saat itulah Hyejin menarikku dan membuat aku jatuh menimpanya. Hyejin melingkarkan tangannya di punggungku lalu kembali menciumku. Sekali lagi dia membuatku gila. Aku harus memeras otak agar aku tetap tersadar. “Hyejin, jangan menggoda singa yang sedang lapar,” ujarku.

“Apa singa itu akan memakan putri yang cantik ini?” sahutnya menggodaku.

Aku hanya bisa mengucapkan namanya yang hanya dibalas dengan tawa oleh Hyejin. “Dasar wanita, ahlinya menjerumuskan pria ke dalam dosa. Ayo tidur,” kataku lalu berpindah ke sampingnya tanpa melepaskan tanganku dari tubuhnya. Hyejin menggeliat masuk ke dalam pelukanku dan meletakkan kepalanya di dadaku. Rasanya sangat nyaman dan menyenangkan.

 

esok harinya…

hyejin pov

Meskipun Kyuhyun bukan lagi penanggung jawabku, karena ia sudah benar-benar kupecat dan kunaikkan jabatannya, ia tetap saja membangunkanku pagi-pagi. “Kyu, kau kan sudah kupecat jadi jadwalmu sudah tidak berlaku,” kataku lalu membalikkan badan dan kembali menutup mataku.

“Memang. Tapi kau tetap harus bangun sekarang. Aku mau mengajakmu ke RS, menjenguk ayah sekaligus mengenalkanmu pada keluargaku,” ujar Kyuhyun membuatku terkejut.

“Apa kau bilang? Berkenalan dengan keluargamu?” tanyaku kaget sampai aku bisa terduduk di kasur.

Kyuhyun mengangguk-angguk sambil mempersiapkan dirinya. Aku hanya bisa membelalakan mataku. “Kyu, jangan bercanda. Aku belum siap bertemu keluargamu. Aku…takut,” ucapku sungguh-sungguh. Aku takut keluarga Kyu akan menolakku.

Kyuhyun berjalan mendekatiku dan tersenyum lembut. “Tenanglah, mereka tidak akan memakanmu. Mereka justru sudah menantimu,” ujar Kyuhyun. Bukannya senang aku malah semakin terkejut dibuatnya.

“Menantiku? Kau sudah menceritakan diriku ke mereka?” tanyaku.

“Sudah jangan banyak tanya. Mandi sana. Aku beri waktu 10 menit. Awas kalau lebih,” sahut Kyuhyun. Ia pun lalu mendorongku masuk ke kamar mandi tanpa peduli bahwa aku sedang kebingungan tingkat akut.

Kurang dari 10 menit, aku sudah duduk manis di dalam mobil dan Kyuhyun pun mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit. Sesampainya di sana ia langsung membawaku menuju ruang rawat ayahnya.

Jika ruang rawat biasanya tenang, tidak dengan ruang rawat tuan Cho. Suara cengkrama antar manusia terdengar ramai begitu juga dengan suara tawa yang menggelegar lepas. Sungguh aneh, apa suster tidak melarangnya?

Kyuhyun menggandengku masuk dan seketika aku langsung berhadapan dengan 5 kepala yang aku kenal. “Appa! Eomma! Ahjussi! Ahjumma! Eonni!” seruku terkejut. Aku kaget melihat kedua orang tuaku yang sedang berada di ruangan ini begitu juga dengan keluarga Kyuhyun yang merupakan teman baik orang tuaku. Hanya saja, aku tidak pernah tahu bahwa Kyuhyun anak Cho ahjussi yang aku kenal.

“Hyejin! Sudah lama tidak bertemu. Apa kabarmu, Nak? Cantik sekali sekarang,” sapa ahjumma sambil memelukku.

“Ne, aku baik ahjumma,” balasku dengan kaku karena masih kaget.

Ahjussi lalu bergantian memelukku meskipun sambil berbaring di tempat tidurnya. Setelah itu baru aku berpindah ke pelukan appa dan eomma-ku dan terakhir berdiri manis di samping Kyuhyun.

“Kenapa aku tak tahu kau anak Cho ahjussi? Padahal dulu keluargamu sering main ke rumahku. Kenapa kau tidak pernah terlihat?” desisku pada Kyuhyun agar tidak terdengar orang tua kami.

“Waktu kecil aku tinggal dengan nenekku di Singapura baru SMA kembali ke Korea,” sahut Kyuhyun dengan desis tak kalah pelannya.

“Apa kau tahu kalau keluarga kita saling mengenal?” tanyaku lagi dengan pelan.

“Tidak. Aku baru tahu tadi malah. Kalau aku tahu dari dulu, aku tidak usah repot-repot jadi bodyguard-mu. Minta saja dijodohkan. Mereka pasti setuju,” jawab Kyuhyun seenak jidat sehingga aku terpaksa mencubit lengannya. Kyuhyun meringis kesakitan lalu mendesiskan ancaman padaku, “Awas kau! Lihat nanti malam, kau akan mendapat hukuman!” Aku berpura-pura tidak peduli dengan mengalihkan pandanganku kepada orang tua yang sedang berbincang dan tertawa-tawa. Sayang, memperhatikan mereka malah menjerumuskanku.

“Hyejin, apa kau sudah menetapkan tanggalnya?” tanya Cho ahjussi tanpa aku mengerti sama sekali.

“Tanggal apa?” tanyaku balik.

“Tanggal pernikahan-lah. Tanggal apalagi? Aku tidak sabar punya cucu,” jawab Ahjussi dengan serius.

Aku menelan ludah dengan kaget. “Maaf, aku tidak mengerti,” jawabku jujur.

“Kyuhyun belum bilang padamu? Dia belum melamarmu?” tanya beliau lagi yang semakin membuatku bingung.

Aku menatap Kyuhyun yang hanya diam menutupi sesuatu dariku. Kini, semua mata di ruangan ini menatap kami berdua.

Kyuhyun menghela nafas panjang lalu mulai berbicara, “Aku akan menikahinya tahun depan.” Aku reflek memukul tangan Kyuhyun karena terkejut. “Yaa! Siapa yang mau menikah denganmu tahun depan?!” protesku dan kami pun mulai berdebat.

“Memang ada yang mau menikah dengan gadis cerewet, manja dan merepotkan sepertimu kecuali aku?” sahut Kyuhyun. Aku mencubitnya sampai membuat ia berteriak kesakitan, “Aaauw! Sakiiiit ih!”

Orang tua kami hanya tertawa melihat tingkah anak-anaknya, begitu juga dengan kakak Kyuhyun. Aku cemberut menatap Kyuhyun sedangkan ia hanya meringis geli melihatku. Tangannya merangkul bahuku dan memberi keyakinan padaku. “Aku serius mau menikah denganmu,” bisiknya lalu mencium kepalaku secepat kilat mumpung tidak ada yang memperhatikan kami.

 

Author pov

Jika saat ini Hyejin dan Kyuhyun sibuk membicarakan masalah pernikahan mereka di Taiwan, di Korea, Hamun dan Siwon sibuk menata hati mereka. Hamun merasa tidak enak jika bertemu dengan Siwon tapi hatinya terus ingin bertemu Siwon. “Aagh, apa yang harus aku lakukan?” gumam Hamun saat mau berangkat kerja. Pikirannya kembali pada Siwon dan kejadian beberapa hari lalu saat Siwon tiba-tiba menciumnya.

Hamun mengambil ponselnya lalu menghubungi sebuah nomor. “Kita harus bertemu sekarang. Di Amadeus,” ujar Hamun singkat lalu melangkahkan kaki pergi menuju kafe dengan nama salah satu dewa itu.

Siwon yang sudah lebih dulu berada di Amadeus, melambaikan tangan saat melihat Hamun datang. Hamun pun mengikuti lambaian itu dan duduk di hadapan Siwon dengan tegang, jantungnya berdetak kencang.

“Apa yang mau kau bicarakan?” tanya Siwon sambil meminum jusnya.

Hamun terdiam sesaat, memberanikan diri menjawab, “Aku ingin berterus terang padamu. Selama ini aku memikirkanmu dan memperkirakan apa yang sebenarnya kurasakan padamu. Aku sadar aku mencintaimu tapi aku masih belum bisa melupakan Kyuhyun.”

siwon menatap Hamun sambil tersenyum lalu berdiri untuk mengecup bibir gadis itu dengan penuh cinta. “Aku yakin tidak lama lagi kau hanya akan memikirkanku sepenuhnya, sayang,” ucap Siwon, membuat hati Hamun jauh lebih lega dan bahagia.

 

kyuhyun pov

 

one year later…

 

Aku membuka mataku dan menyadari bahwa hari ini sudah terlewat tujuh jam, yang artinya tinggal dua jam lagi yang harus aku lewati sampai ke momen yang aku tunggu-tunggu. Aku menunggu saat tepat aku akan menggenapi janjiku untuk menikahi Hyejin. Perasaanku mulai tidak karuan saking gugupnya.

Aku melihat gaun dan jas pengantin kami yang tergantung rapi di tempatnya serta calon pengantinku yang masih tertidur nyenyak di sampingku, tampaknya ia tidak gugup sepertiku. Aku mengelus keningnya lalu mengecup bibirnya. “hei, apa masih pantas mencium calon istrimu seperti itu? Itu bukan ciuman tahu! That’s just a peck,” ucap Hyejin tiba-tiba membuatku kaget. Rupanya dia tidak senyenyak yang aku bayangkan.

“Kau sudah bangun?” tanyaku mengalihkan omelannya itu.

“Aku hanya ingin pipis,” jawabnya lalu masuk toilet. Saat kembali, ia langsung masuk ke dalam selimut dan memejamkan mata.

“Hyejin, kau tidak bersiap-siap?” tanyaku.

dengan santai, Hyejin membalikkan tubuhnya dan menjawab. “Aku tidak mau menikah dengan pria yang mencium calon istrinya saja tidak bisa. Lebih baik aku tidur lagi.”

yap! Hyejin sedang menggodaku dengan cara yang kejam. Kata-katanya begitu menusuk tapi tidak cukup menyakitiku. Paling, aku terpancing godaannya.

“Apa kau bilang?!” seruku sambil menyibakkan selimutnya. Hyejin menatapku tajam. “Kau payah. Menciumku saja tidak bisa. Aku…”

aku mengunci mulut Hyejin sebelum ia bicara lebih panjang lagi. Akan aku tunjukkan bahwa aku tidak payah. Aku akan memberinya pelajaran agar dia tidak sembarangan lagi bicara.

“Masih berani bilang aku payah?” tanyaku.

Hyejin tertawa lalu mengecupku. “Tidak. Aku mohon ampun padamu,” jawabnya masih sambil tertawa-tawa puas, entah karena aku atau keberhasilannya menggodaku.

“sudah ampun?” tanyaku lagi sambil menggelitik pinggangnya sampai ia berteriak kegelian. “Ampun, Kyu. Ampun. Aku akan siap-siap sekarang.”

hyejin bangkit berdiri tapi aku menariknya sehingga ia terjatuh kembali ke tempat tidur. Aku menguncinya dalam pelukanku lalu menutup tubuh kami berdua dengan selimut. “Tidak akan kubiarkan kau kabur, cantik,” bisikku membuat Hyejin tertawa geli. “Saranghae,” bisikku lagi. Hyejin menatapku lalu memberikan ciuman lembut di bibirku. Aku tidak melepaskannya entah sampai berapa lama. Yang pasti, kami terpaksa lari-lari memasuki gereja dan kena marah orang tua kami. Kami terlambat menghadiri pernikahan kami sendiri tapi cukup seimbang dengan apa yang kami dapatkan sebelum sampai kesini.🙂

 

END🙂