Here you go!! Part 3

Cast :
Cho Kyuhyun
Song Hyejin
Kim Junsu

Enjoy🙂

Junsu membunyikan bel rumah Hyejin dan melihat Hyejin sendiri yang membukakan pintu untuknya. Hyejin terlihat baru bangun tidur. Wajahnya masih kusut. Matanya pun setengah terpejam. “Ada apa Oppa pagi-pagi ke rumahku?” tanya Hyejin.
Junsu tersenyum. Tangannya membalikkan tubuh Hyejin dan mendorongnya masuk. “Kau mandi sekarang. Dandan yang cantik. Aku mau mengajakmu jalan-jalan,” jawab Junsu.
“Kita mau kemana?”
“Gak usah banyak tanya. Cepat mandi.” Junsu mendorong Hyejin masuk ke dalam kamar mandi dan memberikan waktu kepada gadis itu untuk siap-siap.
Hyejin keluar dari kamarnya dengan baju dan dandanan yang sangat cantik. “Kita mau kemana, Oppa?”
“Sudah ikut saja.” Junsu lalu menarik tangan Hyejin menuju mobil.
Hyejin hanya bisa keheranan melihat tingkah Junsu. Junsu begitu penuh dengan misteri. Hyejin disuruh dandan cantik tanpa tahu buat apa. Hyejin juga disuruh naik ke mobil Junsu tanpa tahu akan dibawa kemana.
“Oppa,” panggil Hyejin.
“Wae?” sahut Junsu.
“Kita mau kemana?”
Junsu hanya tersenyum sambil terus melajukan mobilnya menuju sebuah hotel. “Ayo turun. Kajja!” ajak Junsu begitu mereka sampai. Hyejin hanya dapat memandang Junsu dengan heran.
“Sebenarnya Oppa ini mau ngapain sih?” pikir Hyejin.
Junsu menggandeng Hyejin menuju sebuah restoran dimana ada Kyuhyun dan Vicky yang menunggu mereka. “Aku akan membantumu memastikan perasaanmu,” ujar Junsu.
Wajah Hyejin seketika bengong. Dia hanya sanggup mengikuti kata-kata Junsu. Jika Junsu bilang A maka Hyejin akan melakukan A. Dia terlalu kaget.

“Omona, Junsu-ya! Pacarmu cantik sekali!” seru Vicky dengan lantang begitu Junsu dan Hyejin muncul di hadapannya. Junsu hanya tersenyum. Kyuhyun yang tidak kalah kaget dari Hyejin hanya bisa menundukkan kepalanya untuk menutupi perasaannya.Hyejin mencoba untuk tersenyum tapi melihat langsung Vicky, gadis yang pernah mencium Kyuhyun terang-terangan di RS, Hyejin merasa tidak enak. “Ah ani, aku dan Oppa hanya teman dekat,” sahut Hyejin.
Vicky tertawa. “Aigoo. Junsu ini dokter terbaik loh. Gak rugi pacaran sama dia! Serius!”
Kyuhyun menarik Vicky agar kembali duduk. “Vic, kau sudah kebanyakan bicara. Duduklah.”
Vicky duduk dan mulai bercerita panjang lebar. Hyejin hanya tersenyum mendengarkan omongan Vicky sedangkan Kyuhyun dan Junsu mempunyai pembicaraan lain yang tentu tidak semembosankan cerita Vicky.
“Aaah, lipstik ku sudah pudar. Aku ke toilet dulu ya,” kata Vicky lalu pergi ke toilet.
Junsu yang merasa ini kesempatan bagus bagi Hyejin untuk bicara dengan Kyuhyun pun ikutan pergi ke toilet. “Perutku tidak enak. Permisi.”
Kyuhyun memandang Hyejin yang sedang mengaduk-aduk moccalatte-nya dengan santai lalu menyeruputnya pelan-pelan. “Kau libur? Kenapa ikut kesini?” tanya Kyuhyun tiba-tiba.
Hyejin menggeleng. “Junsu oppa begitu saja menarikku. Aku tidak bisa melawan,” jawab Hyejin.
Keadaan kemudian diam. Hyejin memandang Kyuhyun dan pertanyaan-pertanyaan mulai muncul di pikirannya. Ia ingin mengetahui beberapa hal tentang Kyuhyun.
“Kyuhyun-ssi,” panggil Hyejin pelan-pelan.
“Hmm?”
“Aku pernah melihat kau dan Vicky berciuman di RS, apa kalian pacaran?” tanya Hyejin pada akhirnya.
“Tidak,” jawab Kyuhyun.
“Apa hal itu biasa bagimu?”
“Vicky selalu begitu. Aku sudah lelah melarangnya.”
“Lalu apa dengan gadis lain kau juga seperti itu?”
Kyuhyun menatap Hyejin dengan serius. “Wae?”
“Aniya. Aku hanya bertanya.” Hyejin kembali mengaduk-aduk moccalatte-nya dan bergumam pelan, “Berarti ciuman itu tidak ada artinya.”
Terselip rasa kecewa di hati Hyejin. Dia sadar bahwa dirinya mulai menyukai Kyuhyun meski tampaknya tidak begitu dengan Kyuhyun.
Junsu kembali dengan sumringah tapi Hyejin yang begitu proaktif menariknya membuat senyuman itu hilang begitu saja.
“Oppa, antar aku ke kantor. Aku lupa ada kerjaan penting,” ujar Hyejin.
Junsu mengikuti Hyejin masuk ke dalam mobil. Wajahnya tampak jelas mencemaskan Hyejin. “Ada apa, Jinni?”
Hyejin memandang jendela mobil Junsu dan mulai menangis meluapkan kekecewaannya. “Aku menyukai Kyuhyun tapi dia tidak. Dia menganggapku biasa saja bahkan ciumannya waktu itu tidak punya arti.”
Junsu menggenggam erat setir mobilnya, berusaha menyalurkan emosinya. Junsu begitu marah mendengar Kyuhyun mencium Hyejin dan menganggap hal itu bukanlah masalah besar. Junsu tidak terima jika Hyejin hanya jadi bahan mainan untuk siapapun!

Kyuhyun duduk di ruangannya dengan kepala penuh pikiran mengenai Hyejin. “Mengapa dia bertanya-tanya hal seperti itu? Apa yang ingin dia tanyakan sebenarnya?” Pikiran Kyuhyun mulai kisruh. Kekisruhan itu bertambah buruk ketika Junsu tiba-tiba muncul di ruangannya.
“Aku ingin bicara denganmu,” kata Junsu. Dengan kaku, Junsu duduk di hadapan Kyuhyun.
“Apa yang ingin dibicarakan, hyung?” tanya Kyuhyun bingung melihat tingkah Junsu.
“Hyejin. Aku mohon jangan mempermainkan dia. Kalau kau memang tidak menyukainya, jangan seenakmu menciumnya.” Junsu berbicara dengan penuh wibawa dengan kesan hanya menasihati Kyuhyun, bukan cemburu.
Kyuhyun menegakkan duduknya dan menatap Junsu dengan serius. “Hyung, mianhaeyo. Aku rasa aku suka pada Hyejin,” kata Kyuhyun.
Junsu nyaris saja memukul Kyuhyun untuk melampiaskan kekesalannya. Untung saja, dia masih bisa bertahan. Junsu mendengarkan Kyuhyun bicara.
“Maaf aku sudah menyukai gadismu. Aku tidak pernah berharap jadi seperti ini tapi Hyejin begitu menarik. Jwisonghamnida, hyung.”
“Kyu, kau boleh menyukai bahkan memiliki semua gadis di dunia ini tapi tolong jangan Hyejin. Aku mohon padamu.”
“Mianhe, hyung.”
Junsu menatap Kyuhyun memelas kasihan dari juniornya itu sedangkan Kyuhyun hanya menatap penuh rasa bersalah. Tidak ada yang mau mengalah.

Hyejin sibuk sekali mempersiapkan segala dokumen yang harus ia bawa untuk ditandatangani Kyuhyun. Saat itu Junsu mendatanginya. Dengan segala keresahan yang dirasakannya, Junsu berusaha mencegah Hyejin menemui Kyuhyun.
“Kau tidak bisa diwakilkan? Aku ingin bicara denganmu,” tanya Junsu.
Hyejin tersenyum. “Oppa, kita bisa bicara nanti. Aku harus memastikan dokter Kyu dan profesor menandatangani perjanjian kredit ini. Ya?”
“Hyejin, aku mohon jangan pergi.”
“Oppa…”
Hyejin nyaris melangkahi batas antara ruangannya dan pintu keluar tapi Junsu lebih dulu menarik Hyejin ke dalam pelukannya. “Aku mohon tetaplah di sampingku. Aku mencintaimu.”
Hyejin nyaris saja menjatuhkan seluruh dokumen yang sudah ia susun rapi dari tangannya. Hyejin begitu terkejut sekaligus malu karena ia sekarang sedang ditonton oleh teman-teman kantornya.
“Oppa, lepaskan aku ya? Kita akan bicara nanti,” ujar Hyejin pelan, nyaris berbisik.
Perlahan Junsu melepaskan Hyejin dan membiarkan Hyejin pergi. Hyejin meninggalkan Junsu dengan setengah hati. Pikirannya kini terbagi karena pernyataan tiba-tiba dari Junsu. Hyejin kehilangan fokusnya.

Hyejin menghela nafas panjang sebelum memasuki ruangan profesor Cho. “Maaf menunggu lama,” ucap Hyejin begitu bertatap muka dengan Profesor Cho dan Kyuhyun.
Profesor Cho tersenyum, berbeda dengan Kyuhyun yang kaku. “Tidak apa, Hyejin-ssi. Bagaimana perjalananmu?” tanya profesor Cho.
“Lancar, profesor,” jawab Hyejin sambil mengeluarkan dokumen-dokumen. “Silahkan tanda tangan di atas materai, Profesor. Nanti semua biaya langsung saya debit dari rekening ya, Prof?”
“Oke. Silahkan,” jawab Profesor sambil tanda tangan disaksikan juga notaris. Setelah itu dokumen diserahkan pada Kyuhyun agar membubuhkan tanda tangannya juga.
“Kamsahamnida,” ucap Hyejin sambil mengumpulkan semua dokumen tersebut dan menyusunnya dengan rapi. “Kredit sudah bisa digunakan besok pagi, Profesor. Kamsahamnida.”
Hyejin membungkukkan tubuh sebagai tanda terima kasih sekaligus pamit pulang. Profesor balas membungkukkan tubuh dan mengantarkan Hyejin keluar ruangan.
“Biar aku antar. Permisi, kek,” ucap Kyuhyun lalu berjalan mengantarkan Hyejin.
Hyejin memandang Kyuhyun dengan bingung. “Buat apa mengantarku? Aku bisa pulang sendiri,” kata Hyejin.
Kyuhyun tidak banyak bicara. Ia hanya menggandeng Hyejin dan masuk ke dalam mobil. “Aku tahu apa yang ingin kau tanyakan kemarin,” kata Kyuhyun tiba-tiba.
“Tanya apa?” tanya Hyejin bingung.
“Aku menciummu karena aku suka. Aku menyukaimu.” Kyuhyun mengucapkan dengan lancar dan tenang, tanpa ada gejolakkan emosi. Semuanya begitu meyakinkan.
Hyejin menatap Kyuhyun dan merasa bahwa Kyuhyun sedang gila. “Jangan gila, Kyu.”
“Aku masih waras.”
“Kalau begitu aku yang gila. Tadi sahabatku menyatakan cinta padaku. Sekarang kau, yang bahkan tidak mengenalku dengan baik. Malahan kau sudah punya pacar.”
“Aku tidak punya pacar. Vicky, jika itu maksudmu, hanya tergila-gila padaku. Aku tidak suka padanya.”
Hyejin tertawa sinis. Pikirannya terlalu kalut untuk memikirkan Junsu dan Kyuhyun sekaligus. Meskipun terselip rasa bahagia tapi kekalutan itu lebih menguasai. “Apa yang sebenarnya ada di otak kau dan Junsu oppa? Hhh…”
“Kau,” sahut Kyuhyun. Hyejin menatap Kyuhyun meminta penjelasan lebih lengkap. “Aku tahu Junsu oppa juga menyukaimu, sudah sejak dulu bahkan. Tapi aku tidak akan membiarkan perasaanku.”
Hyejin mengacak-acak rambutnya dan nyaris berteriak frustasi. “Kalian membuatku bingung. Aku menyukaimu tapi aku tidak mungkin menyakiti Junsu oppa,” ucap Hyejin.
Kyuhyun tersenyum lembut lalu mencium Hyejin untuk kedua kalinya. “Itu saja cukup. Kita bisa pelan-pelan bilang pada Junsu hyung.”
“Tidak mungkin. Aku tidak ingin menyakitinya sedikit pun. Dia terlalu berharga. Asal kau tahu, separuh hidupku ada padanya.”
Kyuhyun terdiam dan memperhatikan Hyejin dengan seksama. “Apa sebenarnya Hyejin menyukai Junsu? Apa Hyejin tidak menyadarinya? Lalu apa yang dia rasakan padaku?” Kyuhyun terus memperhatikan Hyejin yang tidak banyak bergerak. Hyejin hanya duduk sambil menopang kepalanya di jendela. Otaknya terlalu penuh untuk Junsu dan Kyuhyun. Pilihan yang sulit.

.tbc.