Writer : @gyumontic

Cast:
Cho Kyuhyun
Song Hyejin
Kim Junsu

Enjoy part 4🙂

Junsu mengetuk pintu kamar Hyejin sambil memanggil-manggil. “Jinni! Jinni-ya…” Sampai beberapa menit, Hyejin baru membukakan pintu untuk Junsu.
“Oppa,” kata Hyejin kaku begitu melihat Junsu berdiri di depannya. Junsu tersenyum lalu masuk ke dalam kamar Hyejin. Entah mengapa, Hyejin menjadi salah tingkah. Hyejin menarik tangan Junsu agar pria itu tidak jadi masuk.
“Jinni, jangan karena omonganku kemarin kau jadi asing denganku. Aku tetap Oppamu. Santai saja.” Junsu berusaha menetralisir suasana tapi tampaknya tidak terlalu berpengaruh pada Hyejin. Hyejin masih salah tingkah menghadapi Junsu. Bagaimanapun Hyejin tidak ingin menyakiti Junsu.
“Sudahlah. Ayo kita jalan-jalan. Rugi kalau di hari libur secerah ini hanya diam di rumah,” ujar Junsu. Hyejin tak bergeming menghadapi Junsu membuat Junsu gemas. “Cepatlah siap-siap. Mandi sana!”
Dengan segala kegalauannya, Hyejin melangkah masuk ke kamar mandi dan bersiap sebaik yang bisa ia lakukan.
“Yeppo! Kajja,” puji Junsu lalu menarik Hyejin pergi. Tidak ada yang bisa dilakukan Hyejin selain mengikuti Junsu.

Hyejin berjalan bergandengan dengan Junsu menyusuri komplek perumahan mereka sambil mengobrol. Apa saja mereka obrolkan, seperti biasa, tapi perasaan Hyejin masih terasa aneh.
“Oppa, boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Hyejin.
Junsu mengangguk diiringi senyumnya yang menenangkan sambil mengayunkan tangannya yang berkait dengan tangan Hyejin.
“Apa Oppa benar-benar mencintaiku?” tanya Hyejin pelan.
Sekali lagi Junsu mengangguk. “Iya tapi aku mohon itu jangan membebanimu, Jinni. Aku tidak menuntut macam-macam,” jawab Junsu.
Hyejin dirundung rasa bersalah dan kasihan pada Junsu tapi di sisi lain ia juga memikirkan Kyuhyun. Hyejin tidak ingin meninggalkan Junsu tapi ia juga ingin bersama Kyuhyun.
“Hhhh…” Hyejin menghela nafas panjang untuk merilekskan dirinya. Tangannya tidak lagi menggandeng Junsu tapi sudah memeluk tangan Junsu. Kepalanya diletakkan ke lengan Junsu. “Kemarin Kyuhyun juga bilang suka padaku. Aku bingung,” ujar Hyejin jujur.
Junsu menatap jalanan dengan kosong. Ia begitu syok mendengar ucapan Hyejin tapi ia tidak ingin Hyejin tahu hal itu. Dengan tenang, Junsu mengelus kepala Hyejin. “Kau hanya tinggal memilih, Jinni. Aku atau Kyu. Ikuti saja kata hatimu,” ujar Junsu.
Sekali lagi Hyejin menghela nafas panjang. “Aku tidak bisa. Oppa tau aku menyukai Kyuhyun tapi aku juga tidak ingin meninggalkan Oppa. Kau sangat berharga untukku.”
Junsu sedikit tersenyum. Terselip rasa senang mendengar harganya bagi Hyejin tapi perasaan was-was sekaligus cemburu terhadap Kyuhyun juga menghantuinya. “Aku tidak minta macam-macam darimu. Ikuti saja perasaanmu. Apapun yang terjadi, kau tetap dongsaengku, sahabat, kesayanganku.”
Hyejin tidak menjawab. Jawaban itu justru semakin membuat Hyejin bingung. Hatinya tidak sanggup menyakiti Junsu. Hyejin pun akhirnya melepaskan diri dari Junsu dan berjalan menuju bangku terdekat. “Kita istirahat dulu ya, Oppa. Setelah itu baru kita pulang.” Tak lama, Hyejin pun sudah tertidur dengan bertumpu pada Junsu yang duduk di sampingnya.

Kyuhyun bolak balik melihat jam di tangannya dan berjalan kesana kemari menyusuri rumahnya. Tampak jelas dia sedang galau. Ini malam minggu, teman-teman Kyuhyun sudah bolak-balik menelepon mengajak hang-out tapi tidak diberi kepastian oleh Kyuhyun. Kyu ingin mengajak Hyejin tapi dirinya tidak cukup berani untuk mengatakannya.
“Haish!” gerutu Kyuhyun kesal sambil mengetuk-ngetukan jarinya ke meja. Setelah itu, ia menghempaskan dirinya ke sofa. Diambilnya ponsel lalu menghubungi Hyejin. “Cepat ke rumahku sekarang. Aku ada perlu!” Tanpa basa-basi Kyuhyun menyuruh Hyejin.
Dengan jantung yang berdetak sangat kencang, Kyuhyun menanti kedatangan Hyejin ke rumahnya dengan berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Semuanya sudah siap, tinggal menggeret Hyejin masuk ke mobilnya.
“Ting! Tong!” bel rumah Kyuhyun berbunyi. Kyuhyun melihat ke layar cctv yang memunculkan wajah Hyejin. Dengan segera, Kyuhyun keluar menemui Hyejin dan menariknya pergi. “Kajja!”
Dengan langkah terseok-seok sekaligus terkejut, Hyejin mengikuti Kyuhyun. “Kau mau kemana? Ya! Hya, Cho Kyuhyun!” seru Hyejin keras-keras. Sayang, Kyuhyun tidak menggubrisnya.
Kyuhyun memasukkan Hyejin ke dalam mobil dan membawanya ke tempat karaoke dimana teman-teman Kyuhyun sudah menunggu. Kyuhyun pun mengenalkan Hyejin pada teman-temannya yang langsung mendapat tanggapan super heboh. “Pacar baru! Woohoo!!”
Hyejin hanya bisa diam dan menatap Kyuhyun dengan kesal. “Aku bukan pacarmu! Ngapain kau ajak aku kesini?!” protes Hyejin.
Kyuhyun hanya bisa meringis bersalah. “Malam ini saja. Mianhe,” ucap Kyuhyun dengan tulus. Hyejin hanya bisa mendecakkan lidah dengan kesal tanpa ada protes tambahan. Hyejin berusaha menikmati malam minggunya yang aneh.
Tiba-tiba teman Kyuhyun menarik tangannya bersamaan dengan tangan Kyuhyun. “Pasangan baru harus menyumbang lagu!” ujar teman Kyu yang disambut dengan sorakan meriah dari teman-teman Kyu yang lain.
Hyejin hanya tersenyum malu-malu menanggapinya. Dengan pasrah, Hyejin menerima microphone yang disodorkan padanya dan menyetujui lagu pilihan Kyuhyun : The boy’s letter – JYJ.
Kyuhyun bernyanyi sambil menatap langsung ke mata Hyejin dan membuat gadis itu berdiri terpaku. Pikiran Hyejin benar-benar tertuju pada Kyuhyun. Hyejin bahkan tidak bergerak saat Kyuhyun mendekatinya dan tanpa sadar mereka sudah berciuman.
Hyejin menikmati setiap sentuhan Kyuhyun dan merasa sangat bahagia berada di dekat Kyuhyun. Perasaannya terasa sangat nyaman dan hangat. Hyejin bahkan berharap Kyuhyun tidak akan melepaskannya.

Hyejin masuk ke dalam mobil dengan wajah tersipu malu karena baru saja mendapat sorakan dari teman-teman Kyuhyun. Berbeda dengan Kyuhyun yang justru tersenyum lebar sumringah. Jelas Kyuhyun senang berhasil menaklukkan Hyejin.
“Kau jangan tertawa terus, Cho Kyuhyun! Kau jelek kalau tertawa,” protes Hyejin. Meskipun begitu, sebenarnya Hyejin merasakan perasaan yang tidak kalah bahagianya dari Kyuhyun.
“Aku akan mengantarkanmu pulang,” kata Kyuhyun.
“Mwo?” tanya Hyejin terkejut. Dirinya tampak tidak rela berpisah dari Kyu.
“Aku akan mengantar kamu pulang. Besok pagi, aku jemput lagi. Kita jalan-jalan. Oke?”
Hyejin mengangguk-angguk dengan sendirinya. Hatinya terlalu senang, berlebihan malah. Dengan langkah ringan, Hyejin masuk ke dalam rumahnya. Begitu juga dengan Kyuhyun yang menyetir ke rumah dengan ceria.

Kyuhyun masuk ke dalam rumahnya, yang disambut langsung pelukan dan ciuman mesra dari Vicky. “Kenapa kau baru pulang? Aku sudah lama menunggumu,” kata Vicky.
Setengah hati, Kyuhyun menerima perlakuan Vicky. Vicky menggenggam tangan Kyuhyun tapi dilepas oleh Kyuhyun. “Jangan seperti ini terus, Vicky. Sudah aku bilang, aku bukan pacarmu.”
“Kalau gitu, kita pacaran saja.” Vicky keras kepala mulai menunjukkan dirinya.
“Aku sudah memiliki pacar,” ujar Kyu dengan datar.
Vicky berdiri mematung memandang Kyuhyun. “Hyejin?” tanya Vicky dengan ragu.
“Kau tahu darimana?”
Vicky tidak lagi sanggup berekspresi. Pikirannya kacau. Hanya air mata-nya yang bereaksi. “Kyu, Hyejin itu milik Junsu. Kau dan Junsu sudah seperti saudara. Kau…”
“Aku mencintai Hyejin sama seperti Junsu hyung. Biarkan Hyejin yang memilih.”
Kyuhyun berjalan menuju kamarnya diikuti oleh Vicky. “Kau tidak bisa seegois itu, Kyu! Aku juga mencintaimu! Lalu bagaimana denganku?!” seru Vicky frustasi.
Kyuhyun tidak bergeming. Dia terus saja berjalan. Vicky berjalan mendahului Kyuhyun dan langsung memeluknya dengan erat. “Kau tidak boleh melihat gadis lain!”
“Vicky.”
“Tidak! Aku akan terus memelukmu sampai kau melihatku!”
“Vicky.”
“Tidak!”
Dengan tegas, Kyuhyun melepaskan pelukan Vicky. “Mianhe, Vic. Aku tidak bisa. Pulanglah. Supirku akan mengantarmu.”
Vicky sudah tidak ada tenaga lagi untuk melawan. Tenaganya sudah habis untuk menangis. Kyuhyun memanggil supirnya dan memerintahkannya untuk mengantarkan Vicky pulang. Kyuhyun mengantarkan Vicky sampai ke mobil dan melepaskan gadis itu hanya dengan lambaian. Di dalam mobil, Vicky hanya bisa menangis.

Hyejin bangun dengan setengah hati. Matanya masih setengah terpejam ketika sebuah sms yang datang ke handphone-nya membangunkannya.
“From : dr. Kyu. Selamat pagi, cantik. Apa tidurmu nyenyak?”
Hyejin tersipu malu membaca sms itu tapi ia belum sanggup membalasnya. Kantuk masih menguasainya. Hyejin pun kembali terlelap. Tapi tak lama kemudian, handphone-nya sudah berbunyi nyaring.
“Yoboseyo,” ucap Hyejin setengah mengantuk.
“Hyaa Song Hyejin! Kenapa kau baru bangun? Aku sudah mau menjemputmu ini!” seru Kyuhyun membangunkan Hyejin 100%.
“Hya! Mana aku tahu! Lagipula ini hari Minggu.”
“Sudah cepat bangun! Aku akan muncul seperempat jam lagi! Jangan terlambat!” Kyuhyun pun lalu menutup handphone-nya, membuat Hyejin mendecak kesal. Meski begitu, Hyejin tetap saja segera bangun dan mandi. Ia bahkan berdandan secantik mungkin. Hyejin sangat bersemangat.
Hyejin berjalan menuju pintu keluar saat melihat sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Dengan senyum terkembang lebar, Hyejin menyambutnya. Sayang, yang datang bukanlah yang diharapkannya.
Seorang gadis cantik dengan tampang kuyu keluar dari mobil dan langsung menghampiri Hyejin. Plak! Vicky menampar Hyejin tepat di pipi kanan Hyejin.
“Jangan pernah muncul di hadapan Kyuhyun lagi. Awas kalau kau berani!” seru Vicky.
Hyejin begitu terkejut sampai ia tidak dapat berbuat apa-apa kecuali memegang pipinya dan melihat kepergian Vicky penuh kebencian.

“Kau tidak perlu datang menjemputku. Aku sudah kehilangan mood,” kata Hyejin campur kemarahan.
“Waeyo?” tanya Kyuhyun.
“Tanya Vicky-mu itu. Ngapain dia datang pagi-pagi hanya untuk menamparku?!”
“Kau dimana sekarang?”
“Bukan urusanmu!” Hyejin menutup handphone-nya dengan kasar dan membuangnya ke sofa. Tangannya dilipat di depan dada lalu berjalan mondar-mandir.
“Jinni, tenangkanlah dirimu. Duduk sini,” bujuk Junsu. Hyejin pun duduk di samping Junsu dan merebahkan kepalanya di dada Junsu.
“Vicky itu menyebalkan! Kalau dia marah harusnya lampiaskan pada Kyu jangan padaku. Kyuhyun yang tidak memilihnya, kenapa aku yang disalahkan?” gerutu Hyejin mengungkapkan semua emosinya.
Junsu membelai kepala Hyejin sambil memberi nasihat. “Kau harus paham, Vicky pasti sedang tidak stabil. Wajar dia seperti itu. Maafkan saja. Ya?”
“Tapi dia keterlaluan! Oppa saja tidak seperti itu,” kata Hyejin tanpa sadar telah mengoyak perasaan Junsu.
Junsu hanya tersenyum. “Aku berbeda dengan Vicky, Jinni. Jangan disamakan. Ya?”
Hyejin diam. Dia terus berlindung di pelukan Junsu. Sedangkan di saat yang sama, tempat yang berbeda, Kyuhyun mengumpat kesal yang ujung-ujungnya marah-marah ke seluruh isi rumah.
“Kalian kan punya kerjaan, kenapa santai-santai di sini?!” omel Kyu pada pegawai rumahnya yang sedang masak sambil menonton tivi. Pegawai Kyuhyun hanya melongok kaget.
Kyuhyun lalu mendapat telepon dari bawahannya di RS. “Dok, barang-barang siap diantar. Purchase order sudah dibuat.”
“Lalu?!”
“Kami butuh tanda tangan dokter untuk mencairkan kredit-nya.”
“Ya sudah, datang saja ke rumah lalu kau urus saja.”
“Iya, ini saya tanya dulu ke dokter. Mau mencairkan kredit kan harus persetujuan dokter.”
Tampaknya otak Kyuhyun baru kembali normal karena ia baru saja sadar apa yang dibicarakan. “Pencairan kredit? Setelah itu kau akan menyerahkan ke nona Hyejin?”
“Iya, dok.”
Dengan penuh semangat, Kyuhyun menyuruh bawahannya datang. “Kesini sekarang juga! Aku yang akan mengurusnya. Cepat!”
Di dalam otak Kyuhyun sudah tercipta sebuah rencana agar ia dapat menemui Hyejin dan menjelaskan segalanya. Tinggal Vicky yang harus ia pastikan kembali normal.

Kyuhyun mendatangi Vicky ke apartemennya untuk bicara. Tentu saja, Vicky menyambutnya dengan gembira. Sayang, tanggapan Kyuhyun lebih dingin dari es batu.
“Kyu, ayo masuk,” ujar Vicky dengan senyumnya yang paling manis.
“Terima kasih. Aku datang hanya untuk memintamu menjauhi Hyejin. Jangan sekali-kali menemuinya lagi.”
Vicky tertawa sinis. “Dia mengadu rupanya ya? Gadis manja ternyata dia.”
“Tutup mulutmu, Vic.” Kyuhyun sudah muak dengan sikap Vicky. Tidak ada lagi toleransi. “Aku tidak peduli kau mau melakukan apa padaku tapi jangan sentuh Hyejin. Ingat itu!”
Kyuhyun pun pergi meninggalkan Vicky yang hanya sanggup memandang punggung Kyuhyun dengan tatapan nanar. Hatinya terasa sangat sakit. Rasanya ingin sekali ia memusnahkan Hyejin dari muka bumi ini.

Kyuhyun kembali ke rumahnya untuk mengurus pencairan kredit tapi bawahannya ternyata belum datang juga. “Hya Kim Ryeowook! Dimana kau? Kenapa belum datang juga? Cepat!” seru Kyuhyun melalui telepon.
“Sepuluh menit lagi saya sampai, dok.”
Ryeowook datang tepat sepuluh menit dari janjinya. Kyuhyun langsung mengambil alih dokumen-dokumen dari tangan Ryeowook dan melaju ke rumah Hyejin.
Rumah Hyejin masih gelap tanda yang punya belum pulang.
“Kemana dia? Kenapa jam 8 belum pulang?” gumam Kyuhyun sambil menelepon Hyejin.
“Yoboseyo,” ucap Hyejin.
“Yoboseyo. Kau dimana?” sahut Kyuhyun.
“Di jalan. Kenapa?”
“Cepat pulang. Aku ada perlu denganmu urusan pencairan kredit.”
“Iya. Tunggu saja sebentar.”
Dari dalam mobil, Kyuhyun melihat sepasang pria dan wanita yang sedang berjalan menuju rumah Hyejin. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Si wanita sambil menelepon. Kyuhyun memicingkan mata dan menyadari bahwa itu adalah Hyejin dan Junsu.
Diperintahkan oleh keterkejutannnya, Kyuhyun mematikan ponselnya dan dilihatnya gadis di kejauhan itu menatap bingung pada ponselnya lalu menempelkan ke telinganya dan kembali menatap ponselnya. Berulang kali seperti itu sampai si gadis memutuskan memasukkan handphone-nya.
Kyuhyun terus menatap jalan dan melihat Hyejin dan Junsu yang semakin dekat. Tidak tahu apa yang harus dia perbuat, Kyuhyun tiba-tiba memunculkan diri, membuat situasi menjadi kaku. Mereka bertiga hanya saling menatap bingung sekaligus terkejut.

-tbc-