Superstar part 2

@gurlindah93

Cast:

Park MinAh

Jung HyunAh

Song Hyejin

Choi Jihyo

Kang Hamun

DBSK

SJ

“Aigoo.. Rasanya aku butuh liburan..” kata MinAh sambil menghela nafas panjang. Lee Minyoung teman sekantornya yang mendengar keluhan MinAh langsung nyeletuk “Berdoa saja kamu dapat doorprize MinAh..” “Mwo?? Doorprize apa??” MinAh sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan Minyoung.

“Aku dengar dari sunbae di sini, setiap mendekati valentine perusahaan kita akan memberi doorprize pada salah satu karyawannya wisata ke Jepang selama 1 minggu” Minyoung menjelaskan dengan mata bersinar-sinar seolah-olah dialah yang pasti mendapatkan doorprize itu. “Tapi Minyoung, kita baru 10 bulan kerja di sini, apa mungkin kita bisa dapat hadiah sebesar itu?” MinAh yang merupakan karyawan baru bersama Minyoung di salah satu perusahaan elektronik terbesar di dunia tentu saja tidak percaya jika perusahaannya mau memberikan hadiah untuk newbie.

“Bisa, yang dilihat bukan lamanya bekerja tapi kualitas pekerjaannya. Nanti manajer masing-masing bagian akan mengirimkan 5 nama karyawan yang bisa menyelesaikan pekerjaan mereka dengan sempurna, dan nama-nama itu akan digabungkan dengan nama-nama dari semua kantor di seluruh Korea untuk diundi oleh Presiden Direktur kita. Dua nama yang terpilih masing-masing akan mendapat 5 tiket berlibur ke Jepang, semua akomodasi ditanggung perusahaan plus uang saku. Luar biasa kan kantor kita ini” jelas Minyoung.

MinAh terkejut mendengar doorprize itu, karena selama dia bekerja di sini dia belum pernah mendengarnya. “Hmmmmm tapi 2 nama itu terpilih dari 500 nama kan, jadi kemungkinannya sangat kecil sekali. Lagipula mana mungkin kita dipilih oleh manajer SDM kantor pusat ini, pekerjaan kita  kan tidak ada yang beres hahahaa” kata MinAh sambil tertawa. “Yaaa Park MinAh, kenapa kamu skeptis sekali sih?? Siapa tau menurut manajer, pekerjaan kita luar biasa baik dan sempurna. Bermimpilah selagi kau bisa MinAh-ssi..” kata Minyoung yang sudah mengenal keskeptisan MinAh karena mereka teman 1 kampus.

MinAh hanya tertawa mendengar mimpi temannya itu, yang dia tau adalah kenyataan bahwa di depannya sudah ada pekerjaan yang harus diselesaikan dengan deadline yang sebentar lagi akan jatuh. “Well, lumayan sih kalau dapat doorprize itu. Seminggu tanpa tugas” kata MinAh dalam hati.

“Btw Minyoung-ssi, sunbae yang kamu maksud itu Kim Youngjae??” tanya MinAh sambil mengedipkan mata karena dia tau temannya itu sedang dekat dengan karyawan senior yang bekerja di bagian marketing. “Ne.. hehehehe Kamu selalu menggodaku MinAh..” kata Minyoung malu-malu.

“Tentu saja aku tau, semua orang di kantor ini juga sudah tau kedekatan kalian. Jadi kapan jadian??” MinAh semakin gencar menggoda Minyoung. “Aiisshh sudah ah, ayo kerja lagi. Katanya mau dapat doorprize” sahut Minyoung yang sudah kembali ke mejanya, di bilik sebelah bilik MinAh. “Hahahahahaha” MinAh hanya bisa menertawakan tingkah temannya itu.

***

Seperti biasa, MinAh sampai di rumah jam 5 sore. Ummanya sedang menyirami tanaman di halaman depan rumah mereka. “Annyeong umma.. Ya ampun, halaman uda kaya hutan gini masih disiramin juga??” komentar MinAh mengenai halaman depan rumah mereka yang semakin rimbun. “Sudah jangan banyak komentar, cepat masuk, muka kucel banget gitu” komentar ummanya yang melihat anak gadisnya hampir tak berbentuk.

Tanpa membantah MinAh segera masuk kamarnya dan mendapati kakaknya sedang tidur di tempat tidurnya. “Jungsoo oppaaaaaaaaaaaa!! Tidur di kamarmu sana” usir MinAh sambil menggoyang-goyang tubuh Jungsoo. Tapi seperti biasa, Jungsoo akan berubah seperti mayat jika sudah tidur pulas.

10 menit kemudian MinAh menyerah dalam usahanya membangunkan Jungsoo. Akhirnya dia mengambil baju dan keluar kamar untuk mandi. Ketika mengambil handuk dia bertemu ummanya, “Umma, kenapa oppa tidur di kamarku? Dan tumben dia pulang, ini kan bukan weekend..” keluh MinAh pada ummanya. “Tadi oppamu bilang mau cari CD di kamarmu, eh tidak keluar-keluar, umma tau dia pasti ketiduran. Dan tentang dia pulang hari ini, umma belum sempat tanya” jawab umma.

Mendengar penjelasan ummanya membuat MinAh penasaran, dan akhirnya dia masuk ke kamar Jungsoo untuk mengecek sesuatu. Dan ternyata benar, Jungsoo membawa tas berisi baju yang artinya dia akan lebih dari 3 hari menginap di rumah “Apa oppa tidak ada kerjaan ya?? Kok sempet-sempetnya nginep di rumah.. lama pula… atau jangan-jangan dia dipecat? Hahahahahaaa” membayangkan hal itu membuat MinAh tertawa terbahak-bahak.

“Apa yang kau tertawakan Park MinAh?” tiba-tiba Jungsoo sudah ada di dalam kamarnya dengan tampang yang lebih kucel daripada MinAh. “Oppa, kau ini jin atau apa? Tiba-tiba sudah di sebelahku. Tidak kedengeran langkah kakinya, melayang ya?” kata MinAh sambil memeriksa Jungsoo dari atas ke bawah. “Gimana bisa denger, orang kamu sibuk ngeliatin tasku, terus ngomong-ngomong sendiri. Jangan-jangan kamu yang setan” kata Jungsoo asal sambil merebahkan dirinya di tempat tidur.

“Aku itu penasaran, kok oppa pulang ke rumah, padahal ini kan bukan weekend, bawa baju lagi. Jangan-jangan oppa dipecat ya?” tanya MinAh yang sekarang duduk di dekat Jungsoo untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut dari oppanya. “Ngawur, mana mungkin aku dipecat, Super Junior kan masih butuh leadernya. Hohoho..” jawab Jungsoo sambil tersenyum penuh keangkuhan. “Sombong!” kata MinAh sambil melempar bantal ke wajah Jungsoo. “Yaaaa MinAh, wajah ini asetku, kalau ini rusak mana bisa aku dapat uang buat menghidupi anak istriku nanti!” bentak Jungsoo.

“Huahahahahahhahahaaa anak istri?? Pacar aja oppa belum punya” kata MinAh sambil tertawa dengan liar dan tidak terkontrol, dia bahkan hampir terjatuh dari tempat tidur “Yaaaa Park MinAh adik macam apa kau!!!” kata Jungsoo sambil melempar bantal ke MinAh, tapi MinAh sudah hafal perilaku Jungsoo sehingga dia langsung menghindar dan lari keluar kamar menuju kamar mandi sebelum Jungsoo semakin mengamuk.

***

“MinAh!!” panggil Minyoung, berteriak lebih tepatnya. MinAh yang baru sampai kantor terkejut “Minyoung, aku baru sampai kenapa kamu teriak-teriak. Dan ngapain kamu nenteng-nenteng galaxy tab begitu, mau ngajakin twitteran, atau main angry birds?”  tanya MinAh nunjuk galaxy tab yabg dibawa Minyoung. “Ani…. Aku mau nunjukin video, sini sini..”

Dengan malas MinAh mendatangi Minyoung “Ini..” Minyoung menunjukkan video dengan 2 namja di dalamnya. “Tunggu, rasanya 2 orang ini tidak asing” pikir MinAh “Mereka itu DBSK, dulu anggotanya 5, sekarang tinggal berdua.. Kyaaaaaa, neomu kyopta..” kata Minyoung heboh.

Ternyata benar, MinAh memang tidak asing dengan 2 namja itu. “MinAh mereka kan sunbae oppamu ya.. Boleh minta tanda tangan?” tanya Minyoung dengan berbisik karena dia tau MinAh tidak ingin semua orang mengenalinya sebagai adik leader Super Junior.

“Yaaaa Lee Minyoung, kenapa kamu genit sekali sih?” kata MinAh dan kembali ke mejanya. “Aaaahhh namanya juga usaha” Minyoung juga kembali ke mejanya karena karyawan lain sudah mulai berdatangan. “MinAh, kalau kamu bertemu mereka, jangan lupa minta tanda tangan buat aku ya” bisik Minyoung agar tidak terdengar karyawan lain. “Kapan aku bertemu mereka? Kamu ini ada-ada aja. Sudah ayo kerja” kata MinAh yang mulai berkutat dengan pekerjaannya.

Ketika sedang konsentrasi mengerjakan tugas-tugasnya tiba-tiba ada pengumuman yang terdengar dari speaker kantornya “Park MinAh dari bagian SDM dengan nomer karyawan 24680 harap segera datang ke ruang direksi”

MinAh yang kaget dengan pengumuman itu merasa bingung, “MinAh apa yang kau lakukan?” tanya Minyoung “Entahlah, lebih baik aku cepat-cepat ke ruang direksi” kata MinAh  yang langsung pergi ke ruang direksi, 6 lantai di atas ruangan MinAh yang berada di lantai 4.

Di lift MinAh sangat khawatir dia telah melakukan kesalahan besar sehingga direksi memanggilnya. “Apa mungkin aku bakal dipecat? Eeeerrrggghh rasanya aku kualat sama Jungsoo oppa” kata MinAh.

Tok tok tok.. “Masuk..” kata seorang namja yang dia kenali sebagai manajer SDM, Kim Dongwoon. “Annyeong, saya tadi dipanggil ke sini..” kata MinAh sopan kepada manajer bagiannya dan beberapa direksi yang berkumpul di sana.

“Chukkae Park MinAh, kamu mendapatkan doorprize tahun ini. Kamu bisa membawa 5 temanmu untuk berlibur ke Jepang, tapi jangan teman kantor” kata salah satu direksi yang dia kenali sebagai tuan Jang. “Mworago??” MinAh masih belum bisa mencerna dengan baik kata-kata dari tuan Jang itu.

“Jadi kamu mendapatkan doorprize tahun ini MinAh, Senin besok kamu bisa berangkat ke Jepang bersama 5 temanmu. Besok beritahu nama-nama temanmu ke sekretaris Cha agar dia bisa menyediakan tiket untuk kalian. Sekali lagi chukkae..” jelas manajernya yang membuat MinAh memahami semua arti pembicaraan ini. MinAh sudah hampir berteriak, tetapi karena dia ingat di sana ada direksi dan manajernya, dia mengurungkan niatnya.

“Gamsahamnida. Jeongmal gamsahamnida..” kata MinAh sambil mebungkukkan badannya ke semua orang yang ada di ruangan itu untuk menunjukkan rasa terima kasihnya. Semua orang di ruangan itu tertawa melihat tingkah MinAh yang kekanak-kekanakan.

Keluar dari ruangan itu MinAh langsung menelepon teman-temannya untuk mengajak mereka menikmati doorprize yang mereka dapatkan. MinAh tidak menerima penolakan dari mereka, pokoknya mereka semua harus bersenang-senang di Jepang selama seminggu.

“Apa ini yang namanya rejeki dari Tuhan saat aku benar-benar membutuhkannya” gumam MinAh sambil menunggu telponnya diangkat oleh Song Hyejin. Dia hanya bisa tersenyum memikirkan perjalanan yang nampaknya akan seru itu.

***

MinAh dan teman-temannya sampai di Incheon airport 2,5 jam sebelum keberangkatan mereka. “Rasanya kita terlalu awal sampai di sini” keluh Hamun karena dia masih sangat ngantuk ketika Hyejin membangunkannya subuh tadi.

“Hei Kang hamun, ini perjalanan paling jauh kita berlima selama ini. Biasanya jalan-jalan kita cuma sampai Jeju kan” kata Hyejin sambil menurunkan koper-kopernya dibantu oleh supirnya yang mengantarkan mereka ke airport.

MinAh yang merasa luar biasa bahagia hanya bisa tertawa melihat tingkah teman-temannya. “Yeojadeul aku harus membeli eyeliner, punyaku  yang lama sudah hampir habis” kata MinAh sambil menunjuk counter kosmetik di sana.

Sesampainya di sana mereka langsung heboh memilih barang, padahal di Jepang juga pasti ada barang-barang kebutuhan mereka. Tidak heran, karena mereka memang kalap kalau belanja apapun, bahkan belanja di supermarket.

“Hei tumben ya pagi-pagi gini airport rame, tidak biasanya” kata HyunAh sambil melihat gadis-gadis yang berkumpul di airport. “Iya, tumben amat” sahut Jihyo sambil memilih-memilih lipgloss.

Tiba-tiba airport menjadi sangat riuh ketika beberapa orang datang, 2 lelaki tinggi dan tampan yang menjadi pusat perhatian. Semua berusaha mengambil gambar mereka, baik dari hp maupun kamera.

“Aigoo, aku lupa ambil uang cash. Tunggu ya, aku mau ambil uang dulu di ATM” kata MinAh langsung pergi ke arah ATM yang ada di seberang counter kosmetik.

Setelah antri beberapa lama, akhirnya MinAh berhasil mengambil uang secukupnya karena kalau berlebih tidak ada yang tau ke mana larinya uang itu. Sambil berjalan ke counter kosmetik, MinAh memasukkan uang ke dompetnya sehingga tidak menyadari ada orang di depannya yang baru keluar dari coffeeshop dengan terburu-buru.

MinAh merasa ada yang menabraknya dari depan, karena kaget MinAh menjadi limbung dan terkutuklah heels 7 cm ini yang membuat MinAh tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya.

Bruk! MinAh terjatuh.

Klek! Heels 7 cm ini ikut patah.

“Sempurna…” kata MinAh sambil bersungut-sungut.

Tiba-tiba ada orang yang mengulurkan tangannya, “Oke MinAh, ini bukan saatnya menunjukkan  seberapa tinggi harga dirimu, kamu memang butuh bantuan” batin MinAh yang biasanya agak gengsi menerima bantuan dari orang asing.

MinAh menerima uluran tangan yang hangat itu “Joesonghamnida agasshi..” kata seorang namja yang membantunya berdiri.

“Joesonghamnida, aku tadi berjalan terburu-buru sehingga tidak melihatmu” kata namja itu dengan penuh penyesalan.

MinAh membersihkan celananya dan mengambil heelsnya yang patah. Tentu saja MinAh berdiri dengan sangat tidak seimbang “Damn..” kutuk MinAh pelan.

“Sepertinya aku sudah mematahkan hak sepatumu” kata namja itu melihat hak sepatu yang dipegang MinAh.

“Ne..” kata MinAh sambil menatap namja itu. Namja itu membawa segelas kopi di tangan kiri sedangkan tangan kanannya memegang tangan MinAh sambil mencangklong tas yang nampak sangat mahal.

Oke, namja itu nampak tidak asing baginya. Oh, ternyata dia salah satu namja yang membuat para gadis di sini heboh. Tunggu, jika diperhatikan dengan seksama namja berkacamata hitam ini benar-benar tidak asing bagi MinAh. “Apa dia artis?” tanya MinAh dalam hati karena gayanya memang luar biasa bagi seorang manusia biasa.

“Hyung, ayo cepatlah, manajer hyung sudah menunggu kita” teriak seorang namja lain berkacamata hitam juga yang keluar dari coffeeshop.

Ternyata mereka berdua adalah pusat dari segala kehebohan di airport pagi ini.

“Tunggu sebentar..” kata namja yang menabrak MinAh. “Agasshi, aku merasa bertanggung jawab dan sangat tidak enak karena telah menabrakmu dan mematahkan hak sepatumu, sebenarnya aku ingin mengganti sepatumu itu tapi aku sedang terburu-buru sekarang, jadi untuk sementara aku akan mengganti dengan ini” kata namja itu sambil membuka tasnya dan mengeluarkan sandal jepit lalu menyerahkan sandal itu ke MinAh.

“Apa dia sudah gila?” pikir MinAh sambil melihat sandal jepit itu dengan tatapan kaget. “Mianhaeyo, tapi hanya ada ini di tasku” kata namja itu dengan penuh penyesalan sambil menawarkan sandal jepitnya.

“Hyung ayo…” kata namja yang satunya lagi dengan nada mendesak.

Setelah dipikir-pikir lebih baik dia memakai sandal jepit itu daripada memakai sepatunya yang jelas-jelas tidak seimbang atau tidak memakai alas kaki sama sekali. Dengan terpaksa MinAh mengambil sandal jepit itu “Gamsahamnida” kata MinAh dan memakai sandal jepit itu yang ternyata kebesaran.

Namja itu tersenyum puas “Mungkin agak kurang nyaman, tapi aku yakin ini lebih baik daripada tidak memakai alas kaki sama sekali, atau memakai sepatumu itu” kata namja itu sambil melirik sepatu patah yang dijinjing oleh MinAh.

“Park Minaaaaaahhhh ayo cepatlah kemari, kita semua sudah membayar barang belanjaan kami” teriak Hyejin dari counter kosmetik dengan tidak sabar.

Namja itu sedikit terkejut dengan teriakan Hyejin “Namamu Park MinAh?” tanyanya.  “Ne, dan teman-temanku sudah memanggilku jadi aku harus segera menemui mereka sebelum mereka teriak-teriak lagi seperti tadi. Gamsahamnida untuk sandalnya, aku akan menganggap ini sepatu Loubutin” kata MinAh sambil tersenyum dengan nada menyindir yang sudah fasih dilakukan seorang Park MinAh dan beranjak pergi dari sana.

Namja itu terkejut dengan nada sinis yang keluar dari mulut MinAh, tapi dia kemudian tersenyum seolah-olah menertawakan dirinya sendiri. “Kajja..” ajaknya kepada temannya yang sudah tidak sabar menunggu.

“Tunggu, aku akan segera ke sana” teriak MinAh ke teman-temannya yang sudah menunggu di counter kosmetik.

“Kenapa dengan sepatumu?” tanya HyunAh menunjuk sepatu yang ditenteng MinAh. “Ada orang yang menabrakku sampai aku jatuh dan hak sepatuku patah. Aiiisssshhh.. sudahlah aku akan membayar barang-barangku dan kita harus cepat-cepat boarding” kata MinAh yang berjalan menuju kasir untuk membayar eyeliner dan lipstik yang sudah dipilihnya dari tadi.

Di dalam pesawat, MinAh memilih tidur untuk menghilangkan kekesalannya. “Aigoo MinAh onni ini benar-benar hobby tidur ternyata” komentar Jihyo yang melihat onninya langsung tidur begitu menyentuh kursi empuk di pesawat.

***

“Onni bangun onni..” kata Hamun berusaha membangunkan MinAh yang memang sulit untuk dibangunkan. “MinAh bangun!!” HyunAh membantu Hamun membangunkan MinAh yang belum bergeming. “Yaaaaa MinAh bangun Park MinAh, kita sudah sampai di Jepang” teriak Hyejin sambil menggoyang-goyangkan badan MinAh.

Mendengar kata Jepang, MinAh langsung bangun “Hoooo kita sudah sampai ya?” MinAh mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha mengumpulkan kesadarannya. “Kita sudah 10 menit berusaha membangunkanmu Min..” kata HyunAh.

MinAh dan keempat temannya berhasil membuat keributan di dalam pesawat yang untungnya sudah mulai kosong.

Sementara itu di sisi lain di dalam pesawat, “Hyung, ayo turun” kata seorang namja kepada namja lainnya yang berdiri terdiam mengawasi keributan yang ditimbulkan oleh MinAh dan kawan-kawannya. “Tunggu” katanya sambil terus mengawasi keributan itu. “Nugu?” tanya temannya yang sudah tidak sabar untuk turun dari pesawat. “Kajja” ajak namja yang terus memperhatikan MinAh dan kawan-kawannya tanpa menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya.

Sesampai di hotel mereka membersihkan diri dan berdandan lagi untuk berjalan-jalan di Tokyo. “Hamun-aah kamu sudah membawa kamus kan?” tanya MinAh sambil memilih-milih pakaian yang akan dikenakannya untuk jalan-jalan. “Ne onni” Hamun menunjukkan kamus yang dibawanya, kamus bahasa Inggris-Korea-Jepang.

Kriiing kriiing “Yoboseyo oppa..” MinAh mengangkat telpon dari Jungsoo “Nae yeppeo dongsaeng!!!” teriak Jungsoo yang terdengar sangat heboh “Oppa, tolong bersikaplah seperti namja berumur 28 tahun lainnya” MinAh tidak pernah mengerti kenapa oppanya diangkat sebagai leader Super Junior, yang saat ini sedang digila-gilai jutaan gadis di dunia ini.

“Tidak bisakah kau bersikap lebih manis pada oppamu yang paling tampan ini?” tanya Jungsoo  dengan nada pura-pura kecewa “Oppa tau apa jawabanku, jadi kenapa oppa meneleponku? Sedang nganggur?” MinAh paling senang menggoda oppanya yang saat ini memang tidak ada kegiatan bersama grupnya selain Super Show 3. “ Huuuhhh!! Bagaimana perjalananmu?? Menyenangkan? Salam buat teman-temanmu yang cantik-cantik ya” kata Jungsoo “Yeojadeul, kalian dapat salam dari oppaku” teriak MinAh pada teman-temannya “Annyeong oppaaaaa…” balas teman-teman MinAh.

“Aaaaaahhh teman-temanmu itu sangat manis-manis, kenapa kamu tidak ketularan mereka ya? Atau mungkin kamu dikutuk?” MinAh merasa oppanya sudah mulai melantur “Jadi oppa, kenapa oppa menelpon?” sahut MinAh sambil berusaha mengembalikan kewarasan oppanya.

“Park MinAh… Saranghaeyo… Hati-hatilah di negeri orang” kata Jungsoo dengan nada sendu yang malah membuat MinAh ngakak. “Hahahaahahahahahaaha ne oppa, ne.. Nado saranghaeyo. Dongsaengmu ini akan baik-baik saja, kan ada teman-temannya yang manis yang akan menjaganya” MinAh benar-benar tidak bisa mengontrol tawanya.

“Baiklah kalau begitu, aku harus latihan. Ohya, kamu tau, di Jepang ada…..” “Ne oppa, ne.. latihanlah yang rajin, aku mau jalan-jalan dulu… Annyeong nae kyopta oppa.. “ MinAh langsung menutup telponnya masih sambil tertawa. “Kamu jahat sekali sama Leeteuk oppa” komentar HyunAh.

“Kamu juga akan seperti aku kalau punya oppa seperti Park Jungsoo, percaya deh” kata MinAh sambil meneruskan memilih baju.

“Hmmm.. Rasanya aku harus membeli sepatu nanti, semoga ada yang cocok” keluh MinAh sambil menatap sepatu kesayangannya yang tidak bisa dipakai lagi. “Jadi sebenarnya siapa yang menabrakmu tadi Min?” tanya HyunAh yang masih penasaran.

Sebelum MinAh menjawab, Jihyo sudah bersuara lebih dulu “I think i know who they are..” sambil menunjukkan Ipadnya. MinAh, Hyejin, HyunAh, dan Hamun langsung mengerubungi Jihyo yang menunjukkan artikel di internet dengan judul ‘U-know Yunho menabrak penggemarnya hingga terjatuh’ lengkap dengan foto MinAh yang sedang terduduk di lantai airport dan namja yang sedang mengulurkan tangannya ke arah MinAh.

“Mwooooo??” MinAh langsung merebut Ipad Jihyo “Siapa bilang aku penggemarnya? Dasar artikel tidak bertanggung jawab, asal banget buat berita!!” semprot MinAh geram pada Ipad Jihyo yang sebenarnya tidak bersalah.

“Ternyata itu DBSK Yunho..” kata HyunAh terkejut, “Pantas tampan sekali, ternyata mereka superstar” komentar Hyejin dengan penuh kekaguman.

“Iya superstar yang sudah mematahkan hak sepatu kesayanganku” sela MinAh yang masih kesal karena sepatunya. “Onni, onni kan bisa meminta Yunho oppa menggantinya, dia satu manajemen sama Leeteuk oppa” celetuk Hamun yang membuat semua orang terdiam.

“Haha..! Kapan aku akan bertemu dengan dia? Sudahlah, ayo kita berangkat, aku sudah tidak sabar mengelilingi Shibuya. Kajja!” kata MinAh dengan excited.

***

Sudah 6 hari mereka bersenang-senang di Jepang, dan besok Minggu mereka harus pulang dengan penerbangan sore. MinAh memutuskan untuk menghabiskan malam terakhirnya di Tokyo dengan berpesta di salah satu club di Shibuya yang baru dibuka. Tetapi mereka tidak bisa mengajak Hamun karena Hamun belum 18 tahun, “Hamun, nanti kamu sendirian di hotel. Gwenchana?” tanya MinAh yang merasa tidak enak hati karena meninggalkan magnae di hotel. “Gwenchana onni, kalian bersenang-senanglah, aku sangat lelah, setiap hari kita keliling kota” kata Hamun yang sudah meringkuk di dalam selimut dengan boneka yang baru dia beli kemarin.

“Oke, kalau kamu lapar atau membutuhkan sesuatu, pesanlah, aku yang akan membayarnya” kata MinAh menghampiri magnaenya. “Ne onni.. oke.. Aku masih kenyang setelah menghabiskan teriyaki HyunAh onni tadi” Hamun menyalakan tv dan tenggelam dalam acara yang ditontonnya.

“Kajja” ajak MinAh pada 3 temannya, dia sudah tidak sabar untuk berpesta di Tokyo.

tbc