ENJOY READING!🙂

This FF made by Park Sonrye a.k.a Herentia Soegiri🙂

its already published in her blog: RHETORICAL ( u can ‘klik’ that link and comment there🙂 )

BUT!

before u read this ff, better you go to the main story : The Way To Break Up <- RECOMMENDED!

*****

Rhetorical / Retoris artinya adalah pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. Terkadang didunia ini ada banyak pertanyaan yang tidak bisa dijawab karena sebenarnya jawaban dari pertanyaan itu sudah diketahui. Atas dasar itu author menulis cerita ini. :)   Happy Reading

Main cast: Choi Siwon – Kang Hamun

Another : Kim Kibum- Park Sonrye

Rhetorical START!

Park Sonrye memasuki perpustakaan yang terletak di pinggir kota. Perpustakaan itu sudah sangat tua, tidak terlalu besar hanya sekitar 13x 15 meter. Temboknya merupakan batu bata merah yang sudah usang dimakan usia. Di dalam perpustakaan itu terdapat meja kayu dan kursi plastik berwarna selaras. Tepat di tengah-tengah perpustakaan berdiri pilar besar yang dibagian atasnya terdapat jam kuno yang besar. Buku-buku tertata rapi di rak-rak berwarna raw sienna.

Gadis itu berjalan ke rak bagian buku-buku kuno. Dia berjalan lebih dalam lalu kakinya terhenti saat melihat buku dengan cover berjudul ‘Rhetorical’. Ia mengambil buku itu dan membawanya ke meja-kursi terdekat. Ia membuka perlahan buku itu….

————————————————————-

‘Mata seindah pelangi setelah hujan

Bahkan tak seorang dewipun dapat mengganti

Dia bagaikan pusaran sinergi

Yang hanya dengan intuisi dapat mengerti

Sesuatu yang disebut retoris’

Sebuah istana megah berwarna yellow orche berdiri kokoh, disinilah pusat pemerintahan berjalan mengatur 21.000 penduduk negeri ini. Negeri Mujigae / Negeri pelangi adalah negeri yang sangat makmur dan diberkati. Tidak ada yang bertanya ‘kenapa’ karena semua orang tahu itu retoris.

Tetapi saat ini Negeri pelangi bermuram menyambut ulang tahun ke 17 satu-satunya putri kerajan mereka. Bukan karena perang, ekonomi ataupun politik, tetapi hanya karena sang putri tak mau menerima petuah dari para tetua. Masalahnya hanya berputar pada pernikahan dan perjodohan yang adalah tradisi dan tanda kesetiaan terhadap kerajaan. Umur 17 adalah sebuah tanda kedewasaan dan para tetua ingim putri kerajaan mereka menikah.

Sang putri melihat pelangi di ujung langit dari balik jendela kamarnya. Ia tampak jauh lebih muram dari pada tetua yang ditolak nasihatnya. Sungguh ia mencintai negeri ini dan setia terhadap negeri ini. Tetapi ia tak bias melepaskan impiannya untuk menikah dengan seseorang yang dicintainya seperti ayahanda dan ibundanya. Setidaknya ‘Kang Hamun’ memiliki satu hal yang tak ingin diatur oleh orang lain.

Kang Hamun, Putri dari kerajaan Mujigae mempunyai paras paling cantik diantara semua wanita di negeri tersebut. Rambutnya panjang sepinggang dengan mahkota mutiara selalu menghiasi kepalanya. Kulitnya sawo matang menjadikannya wanita yang eksotis. Ia memiliki bakat bermain piano yang hebat menurun dari ayahnya. Pembawaanya yang periang selalu membuatnya dicintai oleh seluruh rakyatnya. Oleh karena itu, semua rakyat sekarang bersedih bersamanya.

Hamun melihat sekeliling kamarnya lalu matanya tertuju pada jarum panjang jam yang terus bergerak. Hanya tersisa satu minggu sebelum hari ulang tahunnya. Mengingat setiap petuah yang diucapkan untuknya membuatnya tertekan. Dia kembali melihat pelangi. Bersama ke 7 warna dominan pelangi itu ke 7 ide di kepalanya bercampur menjadi gagasan indah.

“Beri aku keajaibanmu.”  Pinta Hamun pada pelangi.

:::

Hamun mencopot mahkotanya dan meletakannya di meja rias dari kayu yang sudah dipakainya sejak lahir. Lalu ia mengambil cermin dan berkaca, ia tesenyum puas.

Saat itu menunjukkan pukul 3 pagi, dan semua sudah tertidur lelap. Hamun dengan membawa satu tasnya yang paling jelek berlari keluar dari kamarnya. Ketika para penjagga lewat ia segera bersembunyi. Baru kali ini ia memberanikan dirinya seperti ini. Rasanya jantunnya jatuh dari tempatnya. Ia tak dapat berpikir lagi dan terus berlari melewati jalan belakang pekarangan kerajaan.  Hanya satu penjaga yang tersisa sebelum ia dapat benar-benar berhasil keluar.

Hamun bersembunyi dibalik semak dan berusaha mencari cara tetapi ia tak berhasil menemukannya. Perlahan ada yang mulai mendekat kearahnya, Jantung Hamun berdebar makin tak karuan. Hingga sosok itu telihat dengan jelas. Bimi, anjing kerajaanlah yang ternyata menghampirinya.

“Tidak, Bimi ini bukannya saat untuk bermain. Aku akan kabur dari sini.”

Tanpa disangka anjing itu malah menggonggong. Penjaga di pintu belakang segera menghampiri Bimi yang terlihat di samping semak-semak. Hanya beberapa langkah lagi penjaga itu sampai pada Hamun, Hamun melihat akar tanaman yang panjang menjulur.

“ini harapanku satu-satunya.” Batinnya, lalu Hamun menarik akar tanaman itu tepat seperti dugaannya orang itu tersandung.

BRAKKK

“Maafkan aku penjaga Lee.” Ucapnya saat melewati orang itu.

“Putri?”

“Aku akan segera kembali. SAtu hari sebelum pernikahan aku pasti kembali.” Ucap Hamun sebelum akhirnya lari keluar dari istana megah itu.

Hamun berlari hingga ke pelabuhan, ia berencana meninggalkan negaranya sementara waktu. Dengan terburu-buru ia menyusup ke perahu pengangkutan barang ke negeri seberang. Tak lama setelah itu perahu berangkat, disaat itulah Hamun baru dapat menghela nafas panjang. Ia mengintip dan melihat ia pergi meninggalkan negeri kesayangannya.

“Aku pasti kembali.” Ucap Hamun dengan yakin dan kembali bersembunyi tak lama setelah itu ia malah tertidur.

:::

Tepat saat perahu berhenti Hamun terbangun, dia segera mengendap keluar sebelum ketahuan. Ketika ia berada di tengah-tengah orang yang tak di keanalinya, ia merasa aman. DIa mengeluarkan arlojinya dan saat itu pukul 9 pagi. Hamun sama sekali tidak tahu sekarang ia berada dimana. Tak seorangpun ada yang ia kenal tetapi inilah yang ia inginkan.

Ia membaur dengan rakyat yang sedang berlalu lalang, untuk pertama kalinya ia merasakan kebebasan. Setiap kali ia melihat hal-hal menarik ia segera menulis di buku kecilnya. Dia terus berjalan tanpa arah sampai pada sebuah arsitektur tua yang sangat mengesankan. Terdapat 6 anak tangga untuk mencapai teras dari bangunan itu.  Bagunan itu berbentuk oval, berwarna putih bersih mempunyai 4 pilar dibagian depannya dan satu pintu utama yang sangat besar. Diatas bangunan itu terdapat banyak sekali burung merpati.

Hamun mengagumi bangunan itu cukup lama lalu ia memutuskan memasuki banguann itu. Ternyata dalam bangunan itu adalah seperti ruang pesta yang amat sangat besar. Terdapat dua lantai dengan kedua tangga di kanan dan kiri yang mengikuti bentuk bangunan.

Hamun berdecak kagum lalu duduk di sebuah kursi, ia melihat kedepan altar besar yang cocok sekali untuk melangsungkan acara penikahan. Mengingat itu air bening langsung tergenang di matanya. Lalu ia merapatkan kedua tangannya dan mulai berdoa.

“Jika aku memang harus meikah untuk menunjukkan kesetiaanku pada kerajaan. Aku berharap aku menemukan orang yang kunikahi itu disini.”

Setelah doa singkat itu, Hamun kembali membuka matanya dan dia berjalan menyusuri gedung itu. Entah kenapa ia merasa tak asing dengan bangunan ini, bahkan terasa sangat familiar. Setiap ukiran di dinding itu seakan mempunyai kisah tersendiri.

Hamun menempelkan tangannya di kayu dengan ukiran dua malaikat yang berpegangan tangan. Sekali lagi ia merasa Déjà vu, dia seakan benar-benar mengenal tempat ini. Dia mendorong kayu itu perlahan kedalam dinding. TIba-tiba saja dinding itu perlahan bergeser dan menampilkan sebuah ruangan besar dngan furniture perpaduan merah dan putih.

Mata Hamun membesar ketika melihat ke dalam ruangan yang terkesan sangat antik dan berumur panjang itu.

:::

Perlahan dinding bergeser sebanyak 3 meter menampilkan seorang gadis dengan rambut panjang, Gadis itu tampak terkejut tapi tidak lebih terkejut dari oranag yang berada di dalam ruangan itu. TIba-tiba terdengar ada orang lain yang memasuki gedung itu. Ia segera menarik gadis itu ke dalam, menutup kembali ruangan itu dan mendesak gadis itu ke dinding di pojok ruangan lalu menaruh tangannya disebelah kepala gadis yang jauh lebih mungil darinya.

“Siapa kau?”

Gadis itu bergeming, ia tidak berani membuka mulutnya.

“Siapa?”

Gadis itu tampak menelan ludahnya. “Kang Hamun.”  Ucapnya dengan suara bergetar.

Pria itu terdiam sesaat lalu tertawa kecil. Setelah itu ia menarik tangannya dan bejalan kearah meja kerjanya. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya.

“Mengapa kau tertawa? Kau siapa? Kenapa kau bisa ada disini?” Tanya Hamun menghampiri pria itu.

Dia tetap terdiam dan melanjutkan pekerjaannya. Hamun mengintip dan melihatorang itu sedang membuat sebuah arloji. Dengan sentuhan terakhir arloji itu selesai dan tampak sangat indah. Hamun terdiam memperhatikan pria itu memasukkanya dalam kantong plastik kertas. Setelah itu ia berjalan kearah tangga melingkar di pojok ruangan.

“Hei! Kau mau kemana?”

Pria itu menaiki tangga itu dan Hamun mengikut dibelakangnya. Hamun melihat tak ada jalan untuk keluar, atas mereka adalah plafon. Tetapi pria itu tampak berpengalaman, ia mengetuk plafon atas dan menggesernya perlahan, tanpa suara.

“Whoaaaa..”

Dengan sigap pria itu loncat naik keatas, Hamun hanya bisa melihat. Bagaimana ia dapat loncat dengan baju dressnya? Pria itu hendak berjalan meninggalkan Hamun tetapi setelah ia melihat kedalam mata gadis itu, ia segera mengulurkan tangannya.

Dengan satu gerakan cepat ia berhasil menaikan Hamun. Tetapi Hamun hilang keseimbangan begitu pria itu melepas tangannya.

BRUKKK!

“Auww..”

itu bukan suara rintihan Hamun karena ia sama sekali tak merasa sakit.  Hamun perlahan membuka matanya, perlahan… betapa terkejutnya saat ia melihat muka pria itu tak sampai dua cm dari padanya. Jantungnya berdebar keras.

“hei! cepat berdiri.” Perintah orang itu.

Hamun segera menarik dirinya dan berdiri kemudia pria itu bangun dan membersihkan debu yang menempel di bajunya.Dengan perawakaannya yang tenang ia kembali berjalan.

“Kau mau kemana? Aku ikut.” Ujar Hamun dan tetap mengekor di belakang pria itu

“Pulang kerumahmu.” Perintahnya singkat

Hamun menggelengkan kepalanya dan terus mengikuti pria itu. Pria itu tidak berbicara sama sekali padanya. Sepertinya ia menganggap gadis itu tidak ada. Kenyataan itu membuat Hamun kesal, ia mempercepat langkahnya agar dapat sejajar dengan pria itu tetapi langkah pria itu semakin melebar.

Pria itu menghampiri sebuah rumah kecil dan masuk kedalamnya sedangkan Hamun menunggu di luar. Tampaknya ia ingin mengantarkan arloji itu. Hamun melihat jalan yang ramai dan banyak sekali pedagang disekitar situ. Mata Hamun menjalar dari kanan ke kiri lalu matanya terpaku pada seorang pria bertubuh besar yang sedang berusaha menarik  tas milik seorang pembeli.

Hamun segera berlari mendekat dan menahan tangan besar orang itu. “kembalikan!”

Orang itu menepis tangan Hamun, tetapi Hamun malah menginjak kaki orang itu. Orang itu langsung menatap nanar Hamun, Hamun terdiam. Seumur-umur dia memang tak pernah merasa takut karena ia seorang putri raja dengan banyak pengawal tapi disini ia bukan seorang putri.

Hamun menutup matanya ketika ia melihat tangan orang itu melayang kearah pipinya. Satu detik sampai 3detik kemudian ia tak merasa apa-apa. Begitu ia membuka matanya pria itu sedang berdiri dihadapannya menahan tangan penjahat itu dengan satu pukulan ia dapat menjatuhkan orang besar itu dan mengambil kembali tas milik pembeli itu.

Tak lama para penjaga disekitar berdatangan. Pria itu berjalan dengan tenang kearah yang berlawanan. Hamun  kembali mengikutinya. Dia terus berjalan di belakang pria itu mengaguminya lalu ia melihat kearah laut di sebelahnya. Ombak sedang sangat tenang dan langit begitu biru beberapa burung albatross berterbangan.

Tiba-tiba sebuah dorongan kuat membuatnya menghentikan langkahnya.

“Hei.”

Pria itu ikut menghentikan langkahnya dan menoleh. “hmmh?”

“Aku rasa aku jatuh cinta padamu. Tidak…  yang benar aku sudah benar-benar jatuh cinta padamu. Karena itu beri tahu namamu.”

“Kau pasti sudah gila.”

“Aku tak punya banyak waktu. Aku mau kau menikah denganku.”

Orang itu kembali tertawa meremehkan. “Aku tak punya niatan menikah dengan seorang bocah.”

“Walau kalau aku katakan aku seorang putri?”

“Aku sudah tau sejak awal, dan walau kau seorang putri itu tidak akan mengubah pandanganku. Pasanganmu sudah ditentukan dari awal.”

Tiba-tiba ia melempar sebuah kantong kecil. Hamun berhasil menangkapnya, lalu ia membuka kantong itu. Ternyata isinya beberapa uang logam.

“Suara perutmu sangat berisik, sekarang pergilah.”

Pria itu berjalan menjauh, makin lama Hamun tidak dapat lagi melihat punggung pria itu. Ia memegang dadanya ‘kenapa terasa sakit?’ batinnya. Ia kembali melihat uang logam tersebut, baru kali ini ia merasa direndahkan seperti ini.

:::

Hamun melahap roti panggangnya yang masih hangat sambil menyusuri kota itu, dia berniat kembali ke bangunan itu tetapi dia ingin menikmati perjalanan bebasnya dulu. Di utara negeri itu terdapat sebuah mercusuar yang tinggi menjulang, itulah menjadi tempat kunjungan berikutnya putri ini.

Tinggi Mercususar ini mungkin mencapai 130 meter. Selainitu mercusuar ini dikelilingi pepohonan rindang. Hamun bermain di pantai depan mercesuar itu. Dia melihat negerinya di seberang sana, ia merasa rindu. Dari kejauhan dia melihat seseorang sedang berjalan kearah mercusuar, ia menyipitkan matanya untuk mempertajam penglihatannya. Senyumnya mengembang saat ia melihat seseorang itu.

“Kita pasti berjodoh.” Ucap Hamun saat menghampiri pria itu.

Orang itu tetap bersikap dingin dan meninggalkan Hamun menuju mercusuar itu. Hamun kembali mengikuti di belakang pria itu.

“Siapa namamu?” Tanya Hamun saat mereka memasuki mercusuar

“Akan kusebut namaku asal kau tidak mengikutiku.” Jawabnya beberapa menit kemudian.

“ Kalau begitu aku memilih tidak tahu namamu.” Ujar Hamun dan terus mengikutinya menaiki anak tangga satu persatu.

Mereka berhenti di lantai teratas terdapat sebuah jam yang sangat besar dengan roda gigi sebagai penggeraknya tapi tampaknya jam itu sudah tak berjalan.  Pria itu mengeluarkan alat-alatnya dan mulai mengotak atik.

“Pekerjaanmu seperti ini?” Tanya Hamun

Tapi lagi-lagi ia tidak mendapat jawaban apa-apa. Maka ia menggapa diam berarti ‘iya’. Hamun melihat keluar jendela, betapa kagumnya saat ia melihat pemandangan diluar sana. Matanya bahkan tak dapat terpejam sama sekali.

Hamun menoleh dan memanggil orang itu. “Hei! Kau lihat, diluar sana indah sekali. Lalu kau bisa melihat negeriku juga.” Hamun tersenyum sangat lebar, menggambarkan kebahagiaannya.

Pria itu menoleh disaat yang bersamaan ia memasang roda gigi, semua roda gigi milik jam tersebut berputar. Jari pria itu hampir tersangkut dan putus kalau saja Hamun tidak bergerak cepat menarik tangan pria itu.

“Yaaa!! Kau berdarah.”  Teriak Hamun panik, ia segera merobek sedikit lengan bajunya yang putih,lalu membalut jari telunjuk pria itu.

Pria itu terdiam sesaat membiarknan gadis mungil didepannya membalut jarinya. Ia berusaaha menyembunyikan senyumannya dan menatap kearah yang lain. “Choi Siwon.”

Hamun segera mengangkat kepalanya dan memandang laki-laki itu. “apa?”

“Itu namaku, sebagai tanda terima kasihku.”

Segera senyum Hamun mengembang. “Choi Siwon… aku suka namamu.”

Siwon terkekeh, lalu memandang gadis itu kedalam matanya.

Hamun dapat merasakaan jantungnya berhenti berdetak. ‘Perasaan apa ini?’

Tiba-tiba saja Siwon menepuk tangannya didepan Hamun. “Jangan melihatku seperti itu, nanti kau lupa cara bernafas.” Seketika wajah Hamun memerah.

:::

“Hari ini kau mau kemana?”

Siwon langsung membelalakkan matanya saat melihat Hamun yang sudah duduk di sampingnya saat ia bangun.

“Kenapa kau disini?”

“Karena aku tak punya tempat yang lain.”

“Semalam kau tidur dimana?”

Hamun menunjuk pojok ruangan dengan karpet bulu. Siwon menghela napasnya, lalu tiba-tiba ia memegang tangan Hamun dengan kedua tangannya.

“Dasar bodoh, kau jadi seperti es. Lihat bibirmu pucat begitu. Aku jadi tak yakin kau benar seorang putri, mana ada putri yang mau tidur hanya diatas karpet sedangkan sofa dan ranjang ada disini.” Ledek Siwon lalu meninggalkan Hamun menuju arah perapian dan mulai menyalakan apinya.

“mana tega aku mendorongmu agar aku dapat tidur di ranjang. Lagipula sofa itu terlalu dekat dengan perapian.”

“Kita bisa tidur berdua.” Ucapnya enteng dengan nada bercanda.

Hamun membayangkan sesaat lalu langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia langsung merapat ke tembok dan menyilangkan kedua tangannya didepan dada. “Andwe.”

Siwon menghampiri Hamun dan menyodorkan satu gelas air hangat. “Sudah kukatakan aku tidak tertarik pada bocah sepertimu.”

Hamun menerima air itu dengan geram. “5 hari lagi umurku 17.”

“tapi sekarang kau belum 17.”

Hamun kembali mengulum bibirnya, ia tidak bisa melawan pria ini. Ia duduk kembali di sofa dan merapat ke perapian. Sebentar-sebentar ia mengintip Siwon yang sedang mencuci mukanya. Sungguh pria dihadapanya saat ini sangat memiliki pesona.

Hamun yang terduduk diatas sofa berwarna merah maroon memeluk kedua lututnya. Dia memperhatikan Siwon yang sedang duduk di depan meja kerjanya. Ia tampak memasang roda gigi di jam arloji kecil. Lekuk wajahnya yang terlihat begitu serius sungguh meneduhkan. Lalu Hamun mengingat waktunya tak banyak lagi.

“Siwon ah. Mengapa kau bekerja sebagai pembuat jam?”

Siwon menghentikan kegiatannya lalu menatap kedua bola mata milik hamun. “Retoris.”

“Tidak ada jawabannya? Kenapa akhir-akhir ini aku merasa aku sering mendengar kata retoris?”

Pria itu tersenyum sangat manis, senyuman pertama yang ia berikan untuk Hamun. Lalu entah bagimana Hamun merasa Siwon memberikan jawaban untuknya melalui tatapan Siwon. ‘Karena pertanyaanmu sesungguhnya tak perlu diJawab Hamun ssi. Sesungguhnya kau telah tau jawabannya.’ Hamun mendengar suara itu berputar di kepalanya, bagaimana bisa?

Sekarang Siwon kembali melanjukan pekerjaannya. Hamun tahu Siwon akan memakan waktu yang sangat lama untuk hal ini. Hamun memutuskan berdiri dan berjalan keluar dari gedung itu. DIa berjalan-jalan di pusat kota yang penuh sesak. Tubuhnya yang kecil membuatnya terdorong dari berbagai arah.

Tiba-tiba kakinya terhenti di sebuah toko alat musik dimana toko itu dikelilingi dengan kaca. Dari luar dia melihat sebuah grand piano berwarna hitam mengkilat berada di tengah-tengah ruangan. Sebuah dorongan membuatnya memasuki toko itu. Kakek tua dengan cerutu kuno menyambutnya dengan senang.

“Suatu kehormatan baginda datang ke tokoku. Apakah putri berniat memainkan piano di toko kecilku ini?”

Mata Hamun terbelalak dan memandang heran kakek itu. “Kau mengenalku?”

“Usiaku sudah sangat tua, tuan putri. Tetapi ingatanku masih layaknya anak remaja. Wajahmu sangat mirip dengan ibumu. Entah sudah berapa puluh tahun berlalu sejak mereka kesini. Tempat ini tempat bersejarah kedua bagi kedua orang tuamu.”

“kedua?”

“Ya… Aku akan sangat bahagia jika tuan putri mau bermain piano untukku.”

Hamun segera mengangguk dan berjalan menuju grand piano itu walau di benaknya masih dipenuhi tanda Tanya. Dia mulai meletakan tangannya yang lentik di atas tuts-tuts piano. Setelah satu tarikan nafas panjang dia mulai memainkan piano itu. Waltzing Doll- Eduard Poldini mengalun indah memenuhi toko kecil itu.

Suasana harmonis telah tercipta dalam waktu sekejap. Hamun tidak menyadari bahwa seseorang sedang memperhatikan punggungnya sambil tersenyum penuh kebahagiaan. Dia memperhatikan dengan sangat tenang dan hati-hati seakaan dia tak mau mengganggu Hamun sedikitpun. Matanya seakan juga menyunggingkan senyuman dan tak berkedip sama sekali.

“Kau tahu waktu akan segera datang. Masih bisakah kau bersabar menunggu jam yang berputar?” Sebuah bisikkan dengan suara serak terdengar tepat disebelah pria itu.

Pria itu tersenyum dengan penuh arti. “Jam pesanan kakek sudah kuletakkan di meja kasir.” Ujarnya lalu mengusap dagunya pelan tanpa mengalihkan perhatiannya. “Kakek tahu akulah yang mengendalikan waktu itu.” Ujarnya lagi setelah Hamun memencet tuts terakhir sebelum berputar disertai senyuman yang manis.

“Apa kakek su…. ka…?” tanyanya sempat tertahan saat melihat seorang pria yang dikenalnya.

Hamun segera berdiri dan menghampiri pria itu tanpa menunggu jawaban dari pertanyaanya. Senyumannya melebar tanpa bisa ditahan. Matanya berbinar-binar, tangannya terangkat  mencubit pipinya seakan untuk memastikan orang dihadapannya bukanlah kamuflase.

“Auw” rintih Hamun lalu kembali menatap pria itu dengan berbinar-binar. “Si won ssi! Uwaa! Kita pasti diakdirkan bersma. Bagaimana kau bisa sampai disini?”

Siwon  terkekeh kecil melihat tingkah Hamun. “Pikirkan soal takdir itu nanti, tuan putri. Bajumu sudah dekil, karena permainanmu yang bagus maka aku akan menghadiahimu satu dress untukmu.” Tanpa basa-basi Siwon menggenggam tangan Hamun dan membawanya pergi sebelum sempat kakek tua itu bercerita panjang.

“Siwon ssi! Kakek itu mengenalku. Dia tahu ayah-ibuku,dia tahu aku pandai bermain piano. Dia bilang tokoknya adalah tempat bersejarah kedua bagi kedua orang tuaku.”

Tiba-tiba saja Siwon menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap kearah Hamun lalu melepaskan genggaman tangannya. “Toko itu juga menjadi tempat bersejarah bagi kita. Karena kau berhasil mencuri hatiku ditempat itu.” Lalu dia mendekatkan wajahnya kearah Hamun dan mengecupnya tepat di bibirnya di tengah lalu lalanng orang-orang yang padat.

Beberapa orang terhenti dan menyaksikan kejadian kecil itu. Tersenyum penuh arti kearah mereka berdua. Saat itu waktu seakan terhenti bagi semua orang. Beberapa diantara mereka saling berbisik dengan senyuman yang tak dapat Hamun artikan.  Setelah beberapa detik kemudian Siwon mengangkat kepalanya dan membiarkan Hamun yang berada dalam lamunannya. Dia tersenyum sanagat manis pada semua orang disana lalu meletakkan jari telunjuknya di bibir. Lalu seakan waktu berjalan lagi semua aorang kembali berjalan dan melakukan aktifitasnya dan Hamun memegangi kedua piinya yang mulai memanas.

Setelah Hamun berhasil mengendalikan perasaannya, dia langsung merangkul tangan Siwon. “Hei, jadi kau mau menikah denganku? Kita harus segera kembali ke negerik. Sebelum pangeran yang di jodohkan untukku datang.”

“Tidak tuan putri, Kau hanya mencuri hatiku, itu tak cukup untuk membuatku menyebrang laut.”

Hamun berdecak kesal. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepalanya. “Ayo kita kembali ke toko itu. Aku akan memainkan satu lagu lagi untukmu. Siapa tahu setelah itu, kau mau menyebrang laut bersamaku.”

Siwon menjenikkan jarinya ke dahi Hamun. “Tidak semudah itu. Aku lebih ingin pergi ke toko baju, kau ingat sudah 2 hari kau terus memakai baju yang sama.”

:::

“Siwon ssi.. aku sungguh tak punya banyak waktu. Tinggal 3 hari lagi. Aku harus segera kembali.”

Siwon membaca buku sambil tiduran di sofa. Dia sama sekali tidak menghiraukan Hamun setiap kali pertanyaan itu terlontar. Siwon meletakkan bukunya diatas wajahnya lalu menutup matanya. Hamun segera bangkit dari tempat tidur dan mengambil buku itu tapi wajah Siwon yang sedang tertidur membuatnya mematung.

“Apa kau mencintaiku?” Tanya Hamun lalu membiarkan Siwon tertidur lelap di sofa sementara ia kembali tiduran di kasur sambil terus memperhatikan Siwon.

Sudah dua hari berlalu, tetapi hubungan mereka tetaplah sama. Siwon menjaga jarak terhadapanya tanpa pernah memberi tahu alasannya. Meskipun pagi, siang, sore, malam mereka selalu bersama yang mengoceh seharian hanyalah Hamun dan Siwon hanya menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’. Hamun menatap arloji miliknya satu har lagii akan berlalu sisanya hanya dua hari. Siwon masih tak memberikan jawaban apa-apa.

“Seharusnya kau berhenti berputar. Kenapa kau terus berjalan?”  ucap Hamun kearah arlojinya yang jarum panjangnya mulai bergerak lagi menndakan satu menit telah berlalu lagi.

Setetes air mata Hamun jatuh. Kalau besok SIwon juga tak mau dibujuk menikah dengannya. Itu artinya ia harus pasrah kembali ke negerinya sendiri, menikah dengan orangyang telah ditentukan. Hamun sangat penasaran apa yang berada di kepala Siwon. Setiap kali mata mereaka bertemu Hamun yakin pria itu telah menjadi miliknya tapi sikapnya selalu menjaga jarak. Hamun bergerak kearah meja kerja Siwon lalu ia membongkar arlojinya.

“Ku mohon jangan berputar lagi.” Ujar Hamun setelah tetes air matanya yang terakhir di hari itu terjatuh.

:::

Hamun melihat pelangi dari balik jendela kamarnya. Wajahnya tampak sangat muram, lebih muram dari pada gadis manapun yang akan melangsungkan hari pernikahannya. Ingatanya kembali ke hari dimana ia meminta untuk terakhir kalinya pada seorang Choi Siwon.

Waktu itu Siwon tampak sibuk memperbaiki arloji yang di bongkar Hamun.

“Sudah ku bilang jangan diperbaiki.” Ujar Hamun berusaha merebut jam itu.

Lagi-lagi ucapnnya tak digubris, Siwon bahkan sama sekali tak menengok kearah Hamun walau Hamun berusaha merebut benda di tangannya.

“Kalau kau memperbaikinya sama saja kau ingin aku menikah dengan orang lain. Kau benar-benar tak mau bersamaku? Kau tidak menyukaiku? Apa hanya aku yang menyukaimu? Kenapa kau selalu menjaga jarak?”

Siwon berdiri dan menahan satu tangan Hamun lalu mengecup kening Hamun. “Itu pertanyaan yang tak perlu dijawab Hamun ah. Sudah kukatakan berkali-kali itu retoris.”

“Siwon ssi kau benar-benar membuatku bingung. Bagaimana aku bias mengerti kalau kau hanya mengatakan kata ‘retoris’ pada semua pertanyaanku. Yang kuperlukan saat ini adalah kepastian. Hari ini aku harus kembali kenegeriku. Kau tahu aku harus mengabdi pada negaraku, Siwon ssi.”

“Kalu begitu pergilah… Aku yang akan menghentikan dan menjalankan waktumu.”

Mata Hamun semakin berkaca-kaca. Digigitnya bibirnya yang semerah buah cherry itu agar tidak bergetar. Tangannya meraih arlojinya yang ada di meja Siwon lalu dilemparnya ke tembok hingga hancur.

Senyuman yang tersungging di wajah Hamun saat ini menyatakan betapa sedihnya ia. Gadis itu sungguh tak mengerti, Apakah SIwon merasa tak sebanding dengannya? Mengapa ia selalu mengatakan bahwa ialah yang mengendalikan waktu? Dia memang bukan pangeran, bukan juga Tuhan, dia bukan siapa-siapa tapi ia berhasil mengikat hati seorang putri raja.

Hamun menguatkan hatinya saat memakai mahkota miliknya. Dia harus tersenyum, karena semua rakyat negeri ini telah menunggunya. Pintunya diketuk dua kali menandakan sudah saatnya ia keluar. Dia berjalan dengan sangat pelan sesampainya didepan pintu, pintu itu terbuka.

“Kau sudah siap tuan putri?”

Hamun menahan napasnya. Matanya yang sembab kembali menampung air mata. Sedetik kemudian air itu bergulir di pipinya. Dia menundukkan kepalanya. Perasaanya kacau, haruskah ia berdiri didepan rakyatnya dengan make up yang sudah berangtakan?

“Tersenyumlah Tuan Putri, rakyat akan berbahagia untukmu. Semua orang di negeri ini akan segera memberikan berkat untukmu.”

Ia menghapus air matanya dan menghela napasnya. “Ya, aku siap. Terima kasih.” Ucapnya masih dengan mata yang berkaca-kaca.

Bersama orang disebelahnya mereka berjalan menuju balkon kerajaan dimana semua rakyat sudah menanti kedatangan ratu baru mereka. Semua orang bersorak sorai ketika menyambut dua pasang insan baru.

“Sekarang lambaikan tanganmu dan tersenyumlah.”

“Tak bisakah kau lihat aku sudah tersenyum sedari tadi Choi SIwon?”

Siwon tersenyum memandang Hamun  yang kini sedang melambaikan tangannya. “Sekarang kau tahu jawabannya bukan begitu Choi Hamun?” Ucapnya sambil menunjukkan arloji Hamun yang sudah kembali seperti sedia kala. Ia menyisipkan arloji itu ke tangan Hamun.  Lalu ia mengeluarkan satu arloji lagi yang merupakan pasangan dari arloji milik Hamun, arloji yang harus dimiliki oleh calon suaminya.

“Ba… gaimana bisa?”

“Sejak awal kau sudah ditakdirkan terlahir untukku.”   Siwon menunduk sedikit lalu mencium bibir Hamun lembut.

Hamun memejamkan kedua matanya. Diiringi sorak-sorai rakyat negeri Mujigae yang memberikan berkat bagi mereka berdua.

Setelah itu Siwon tersenyum manis  kearah Hamun, Hamun masih merasa ia berada dalam mimpi indah. Ketika mahkotanya diganti oleh mahkota ratu milik ibunya, ia merasa sangat diberkati, berkali-kali ia memandang Siwon yang berada di sampingnya dan mengganggam tanganya.

:::

“Apa yang membuatmu datang kesini putri manisku? Apa karena ayahmu sedang mengambil pangeranmu untuk diajak berdiskusi tentang Negara ini?”

Hamun melangkah pelan menghampiri Ibunya dan duduk di hadapannya, lalu menyeruput teh yang di tuangkan ibunya. Setelah itu Hamun menggeleng.

“Tidak ibunda, aku hanya ingin tahu mengapa pertanyaanku selalu dijawab dengan kata ‘retoris’. Apa hanya aku yang tak tahu semuanya?”

Wanita tua yang berparas catik itu memandang anak gadisnya dengan penuh kasih. “Tahukah kau arti retoris? Adalah pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban. Mengapa tak membutuhkan jawaban karena kau telah tahu semuanya. Putriku semua orang tahu kau terlahir untuk Choi Siwon, hanya kau tak pernah mau mendengarnya.”

“A.. apa?”

“Kau yang selalu menghindar saat diberi petuah mengenai pernikahan. Semua negeri tahu benar siapa pasanganmu kelak. Ibu dan ayahmu dapat bersatu karena anak itu. Anak berusia 5 tahun yang menunggu di gedung putih disebuah ruangan rahasia yang telah kau masuki. Dia adalah seorang cucu dari pemilik toko musik yang menjadi saksi kedua orang tuamu menjalin cinta. Sejak saat itu telah dipastikan jika anak dari kami adalah perempuan dia akan menikah dengan anak itu, Choi Siwon.”

Hamun menggigit bibirnya, lalu kembali menatap kedua mata jernih milik ibunya.

“Karena sesungguhnya pertanyaanmu tak ada yang membutuhkan jawaban sayang.”

Hamun segera menundukkan kepalanya, peracaannya berkecamuk. “Terima kasih ibunda.”  Ucapnya lalu undur diri dari hadapannya ibunya.

“Sudah mendapat jawabannya?”

“Retoris. Dasar bodoh.” Ucap Hamun kapada Pria yang bediri di samping pintu. Ia tersenyum lebar lalu mendekatkan dirinya kepda pria itu lalu memeluknya.

“Terima kasih karena kau terlahir untukku dan sudah menemukanku.”

‘Kau tahu hanya…

Kupingmu tak mendengar

Matamu tak melihat

Hidung mengambil tarikan nafas

Tapi kau lupa menghembuskannya

Sayang, bibirmu terus bergerak

Seungguhnya kau hanya perlu

Di sini disisiku bersamaku maka kau akan

Tahu intuisi itu ada dan

Retoris itu mengalir dalam soalmu’

–    Fin-

Air mata bergulir melalui kedua mata gadis itu. Gadis itu tersenyum lebar lalu menutup bukunya.

“Adakah seseorang yang terlahir untukku dan akan menemukanku?” Tanya gadis itu.

Tiba-tiba secarik kertas berwarna biru soft jatuh tepat di depannya.

‘My meaningless day will probably pass by… our unique love will probably be like it never existed… (Park Sonrye)

then I found you Park Sonrye.. your meaningless day will probably pass by.. but our unique love will start from now on. (Kim Kibum)’

Gadis itu segera menoleh kesebelahnya. Seorang pria dengan kaca berframe hitam sedang membaca buku denngan tenang. Ia tesenyum manis saat menyadari Sonrye sudah melihat kearahnya.

“Kim Ki Bum. Senang berkenalan denganmu Park Son Rye.”

>> THE END<<
Akhirnya author bisa menyelesaikan FF dengan main cast SIWON lagi!! *sorak sorai* makasih udah membaca sampai akhir, di tunggu komennya :) kritik dan saran sangat diterima :D makassiihh :* :*

nb:  This story special for my beloved twins❤ hwaiting for your final exams dear! hope you can feel joy when u read this ^^