ANNYEONG CHINGU🙂

actually tau ini ff apa? ahaha ada yang uda baca geu yeoja neun? ya ini adalah geu yeoja neun versi cowok. judulnya uda ganti kan? kekeke

pas baca ulang geu yeoja neun, rasanya pengen banget ganti perannya. dengan beberapa berubahan plot semoga ff ini memuaskan😀 hehehe

coba.. chingu lebih suka yang ini atau yang sebelumnya?

uda langsung aja deh

ENJOY!😀

******

Aku menatap televisi di ruang kantorku dengan tidak bernafsu. Melihat sebuah acara talk show dengan bintang tamunya yang tampan, ani, sangat tampan bahkan. Choi Siwon. Hanya satu kata yang bisa melukiskan keindahan karya Tuhan pada manusia itu. PERFECT.

Choi Siwon, artis muda yang tenar di semua kalangan anak muda —terutama remaja putri— itu sangat tampan, agamis, rendah hati, pintar dalam akademik maupun non akademik, dan multitalented. Nyaris tak bercacat. Itulah image yang sudah melekat padanya.

Ya, semua orang suka padanya, kecuali AKU. Ralat, kecuali aku dan semua pegawai yang bekerja di agensi yang membesarkan namanya ini. Alasannya adalah, karena kami tahu siapa dia sesungguhnya.

Dia bukan pria yang baik. Dia juga bukan pria rendah hati seperti yang dikatakan semua media. Dia hanyalah pria dingin, menyebalkan, egois, dan bermulut setajam silet.

“Lakukan yang benar! Mengapa hal seperti ini saja kau tak bisa?! Kau bisa saja kupecat sekarang juga!” seru seorang pria yang kutebak, ia adalah Choi Siwon. Aku hanya bisa menghela nafas panjang dan berusaha mengabaikan hal itu. Aku tak mau ikut campur. Aku tak mau berurusan dengan pria itu. Dan hal seperti tadi serasa seperti santapan siang untuk mata dan telinga kami tiap harinya.

2 tahun ia menjadi artis agensi ini, sudah ratusan kali ia gonta-ganti manager, dan semua memiliki alasan yang sama. Tak tahan dengan Choi Siwon.

Selama ini aku selalu berdoa agar aku tak perlu menjadi managernya dan merasakan siksaan berkepanjangan. Namun sebuah telepon yang baru saja masuk, mengantarkanku ke dalam neraka penyiksaan.

“Kang Hamun, mulai besok kau akan menggantikan nona Hyerin. Kau akan jadi manajer Choi Siwon. Dan mulai besok kau akan tinggal di apartemen Tuan Choi,” Hanya itu, lalu sambungan telepon pun terputus. Aku menatap ponselku lama lalu menghembuskan nafas panjang.

Sepertinya doa ku tak terkabulkan. Bukan ‘sepertinya’, tapi doa ku memang tak terkabul.

*****

Aku melirik jam tanganku dan mulai mengumpat. Sudah 15 menit lebih aku berdiri di depan pintu ini. Dan ini sudah kesekian kalinya aku menekan bel apartemen mewah ini.

DIMANA PRIA ITU!? Emosi membuatku menekan bel itu berulang kali dengan frekuensi yang sangat cepat. Aku tak peduli pria itu akan jadi tuli karena suara bel yang memekakan telinganya, yang penting ia segera membuka pintu apartemen ini.

“YAA!!” teriak seorang pria, bersamaan dengan pintu yang baru saja dibuka.

“Aku sudah lebih dari 15 menit berdiri disini,” balasku sebelum ia mulai membuka mulutnya untuk mengomeliku. mulutnya kini sudah menganga dan matanya menatapku takjub. Aku yakin itu bukan karena ketakjubannya akan kecantikanku tapi karena akulah orang pertama yang berani melawannya.

“Aku manajer barumu, namaku Kang Hamun. Mulai hari ini aku akan tinggal disini dan mengurusmu,” ujarku lalu mengangkat barangku dan melenggang masuk ke dalam apartemennya meski ia belum mempersilahkannya.

“YAA!!” teriaknya sekali lagi sambil menarik lenganku, membuat berbalik dan mata kami bertemu. Ia menatapku benci.

“Mengapa kau begitu seenaknya?! Kau bisa saja kupecat sekarang juga!” pekiknya.

Aku berkacak pinggang sambil menyunggingkan sebuah senyuman. Senyuman yang akan menjadi mimpi buruknya. “Choi Siwon-nim, maaf, akan kutekankan sekali lagi. Aku managermu. bukan kau yang mengaturku. Tapi aku yang harus mengaturmu,” ujarku dengan memberikan penekanan ditiap kalimat yang kulontarkan. Hal itu membuat matanya membesar tanda shock dan tidak percaya.

“Apa hakmu, hah?!” bentaknya

“Sudah kukatakan barusan, aku managermu. Apa kau mau kubersihkan kupingmu?” jawabku enteng lalu berlalu meninggalkan ia yang masih terus mengomel bahkan mengumpat.

*****

“Sepatu ini tak cocok untukku. Ganti,” perintah pria itu. Sudah kesekian kalinya dalam 10 menit ini, aku bolak-balik sambil membawa berbagai jenis sepatu untuk dikenakan tuan iblis itu. Aku tahu, ia memang sedang mengerjaiku.

“Ini tak nyaman!! Bagaimana kau ini?!” bentaknya yang membuat emosiku naik.

Aku menatap matanya lekat tanpa keraguan atau ketakutan. “Kau pakai ini. Titik.” ucapku tegas lalu meninggalkannya yang sudah menganga tak percaya dengan perbuatanku. Benar kata media, pria ini sangat berbakat. Berbakat untuk membuat orang membencinya. Tak sampai 24 jam aku bersamanya, ia sudah berhasil membuatku makin, makin, makin, membencinya.

*****

Jadwal hari ini pun selesai. Aku mengemudikan mobil ini menuju apartemen Tuan besar Choi Siwon dengan kencang, berharap bisa segera meletakkan kepalaku di atas bantal.. Namun kurasa tak semudah itu. Pria ini terlalu banyak minta! “Hei, antarkan aku ke Itaewon,” pinta pria yang sedang duduk manis di bangku penumpang. Sebuah permintaan yang menurutku cukup berbahaya dan membuatku bertanya lebih lanjut tentang apa yang akan ia perbuat. Aku yang sedang membawa mobil, menoleh ke arah pria itu. Aku mendapatinya sedang tersenyum kecil sambil menatap ponselnya. Sebuah senyum polos yang tak pernah kubayangkan bisa tersungging di bibirnya

“Kau mau apa?” tanyaku. Tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponselnya itu, ia menjawab, “Bukan urusanmu,”

Pria ini memang menyebalkan. Aku menghela nafasku panjang guna menstabilkan emosiku. “Ini urusanku, aku masih managermu,” jawabku yang membuatnya menatapku benci walau hanya sebentar.

“Berhenti!” pekiknya dan reflek, kakiku menginjak pedal rem mobil itu. “Aku turun disini! Dan kau jangan mengikutiku!” bentaknya lalu turun dari mobil dengan membanting pintu mobil ini.

Aku mendengus kesal mengingat tingkah menyebalkan pria ini. Sungguh. Ia terlalu menyebalkan. Tak henti-hentinya aku mengumpat kesal dalam hati sampai aku tak sengaja melihat ponsel gadis itu tertinggal di bangku tempat ia duduk tadi. Entah setan apa yang masuk dalam diriku,  mendorongku untuk membuka dan melihat isi ponsel itu. Dan congratulation, iblis itu berhasil menghasutku. Aku pun membuka ponsel itu dan melihat inboxnya.

“Aku sudah menunggumu di Itaewon, Siwon. Cepatlah datang, J — Song Hyewon”

“Aku sudah dekat jagi. Huaa senang rasanya bisa kencan seperti orang biasa malam ini. *aku deg-degan. Apa kau juga? saranghae — Choi Siwon”

Aku tersenyum sendiri membaca sms pria itu. Ada satu hal tentang dia yang baru kuketahui sekarang. Ia pria yang ehm.. lucu? Apa itu kata yang tepat? Entahlah, hanya saja dengan membaca sms pria itu, ia sedikit menarik perhatianku.

Aku tak peduli dengan perintahnya yang melarangku untuk mengikutinya. Rasa penasaran, mengalahkan hal itu. Aku keluar dari mobil dan mencari sosoknya. Cukup mudah untuk menemukannya karena hanya dia yang menggunakan coat dan topi di musim panas seperti ini. Aku berjalan 7 meter di belakangnya. Ia berjalan dengan seorang gadis disampingnya. Pria itu tersenyum ceria dan tulus. Tak ada kepalsuan. Ia berhenti di salah satu stan aksesoris yang menjual pernak-pernik murah, tidak bisa dibandingkan dengan semua barang yang selama ini ia kenakan. Gadis itu mau membelikan barang seperti itu untuk Siwon? Siwon pasti menolaknya —itu yang kupikirkan— namun ternyata, hanya dengan sebuah cicin manik-manik kembar murahan yang diberikan gadis itu, Siwon bisa menyunggingkan senyum lebar yang tulus dan hangat. Senyum yang manis, tulus. Bukan senyum yang ia buat-buat hanya sebagai fan service. Sebuah senyum yang membuatnya terlihat sangat, sangat, sangat tampan. Dan kusadari, jantungku sudah berdebar kencang dibuatnya.

*****

Aku sedikit bingung dengan pria ini. Sudah 2 bulan aku menjadi managernya, ia tetap tidak menunjukan sikap bersahabat padaku. Bukan hanya padaku, namun juga pada semua pegawai di kantor agensi dan bahkan ia bersikap seperti itu pada orang tuanya. Tapi saat ia bersama gadis bernama Song Hyewon itu, ia seperti berubah 180 derajat. Apa dia berkepribadian ganda?

“Kau mau kemana?” tanyaku pada Siwon saat ia keluar dari kamar dengan casual t-shirt dibaluti jaket kulit sederhana, yang membuatnya terlihat sangat tampan, dan jujur saja, hal itu membuat mataku tak bisa lepas darinya. Aku juga bisa merasakan kalau jantungku sudah berdetak kencang sekarang.

Sebenarnya, tanpa bertanya pun, aku sudah tahu kemana dia akan pergi. Ke tempat dimana ada gadis bernama Song Hyewon. Gadis yang bisa membuat Siwon berdandan dulu hanya untuk menemuinya.

“Apa aku perlu melaporkan segala sesuatunya padamu?” tanyanya sinis. Aku sudah sangat terbiasa dengan hal ini. “Tentu saja, sudah berulang kali kukatakan, kalau aku ini adalah managermu,” jawabku enteng. Ia menatapku geram.

“Aku mau pergi!” pekiknya.

Aku bangkit dari tempat dudukku, lalu mengambil kunci mobilku, “Aku ikut,” sahutku yang membuatnya makin geram. “Kalau kau tak memperbolehkan aku ikut, kau tak akan kuizinkan pergi,” ujarku dengan nada sedikit mengancam. Aku bisa mendengar umpatan pria itu. Iya, dia pasti kesal. Tapi asal kau tahu, aku lebih kesal jika membayangkan kau akan bermesraan dengannya.

*****

Benarkan? Pria itu memang mau bertemu dengan Song Hyewon. Tadi ia sempat mampir ke cafe tart untuk membeli sebuah kue tart kecil yang bertuliskan Happy Anniversary. Apa mungkin hari ini adalah hari jadian mereka? Membayangkan apa yang akan mereka lakukan di hari jadian mereka, membuat dadaku, sesaat, terasa sakit. Aku mengacak rambutku frustasi. Frustasi membuatku turun dari mobil dan mengikuti langah Siwon memasuki apartemen gadis itu.

Dari tempatku berdiri, aku melihat Siwon berdiri terpaku di depan salah satu kamar apartemen. Aku menatap matanya, kosong. Tapi tubuhnya bergetar berusaha menguatkan dirinya sendiri. Apa yang terjadi? Aku mengumpulkan keberanian untuk mendekatinya, dan tanpa sengaja, aku mendengar sebuah percakapan dari dalam ruangan itu.

“Hyewon, kurasa hubungan ini tidak bisa kita lanjutkan. Kau masih kekasih Siwon, sayang,” ujar seorang pria yang tak kutahu siapa.

“Memang kenapa kalau aku adalah kekasih Siwon?” jawab gadis yang bernama Hyewon santai, “Aku sudah bosan dengannya. ia tak pernah ada untukku. Dan di saat seperti ini, juga kau yang bisa berada disisiku. Ia hanya memikirkan karirnya,”

“Kalau begitu, lebih baik kita segera beritahukan hubungan kita ini padanya,” sahut pria tadi

“Jangan Minho. Untuk sementara kita nikmati saja uang dan popularitasnya,” jawab Hyewon.

Mendengar itu membuatku naik pitam. Dengan tubuhku yang kecil dan badanku yang ringkih, nyaris saja aku mendobrak pintu kamar itu untuk melabraknya namun ternyata Siwon yang memiliki kunci serep kamar itu, sudah membuka pintu itu terlebih dahulu.

“Siwon?” pekik pria yang ternyata bernama Minho dan gadis yang bernama Hyewon itu bersamaan. Mereka yang awalnya sedang berpelukan, reflek saling menjauhkan diri. Mereka gelagapan. Namun perhatianku kembali terarah pada Siwon yang menyembunyikan emosinya dibalik sikapnya yang tenang namun dingin. Ia berjalan ke arah Hyewon dan menyodorkan tart yang sudah ia beli.

“Happy Anniversary untuk kalian berdua,” ujarnya dengan senyum di wajahnya namun suaranya terdengar sangat dingin. “Dan Hyewon, kita putus. Aku tak sudi kalau kau yang memutuskanku duluan,” ujar Siwon lalu berlalu meninggalakan Minho dan Hyewon yang mematung di tempatnya. Namun diambang pintu Siwon terhenti. Sekali lagi ia memutar kepalanya dan menatap tajam kedua orang itu lalu berkata, “Jangan sekali-kali berani menunjukan tampang kalian lagi dihadapanku atau kalian akan menyesal,” ancamnya. Tidak ada keraguan di tatapan matanya.

*****

Semenjak naik ke mobil, Siwon diam dan menerawang keluar jendela sambil menggigiti bibir bawahnya seakan memerintahkan air matanya untuk tidak mengalir. Dari matanya yang dingin, terpancar kesedihan.

“Mengapa kau membawaku kesini?” tanya Siwon dingin begitu mobil kami tiba di dekat monorail kereta ekspress. Aku memang sengaja membawanya kesini.

Tanpa menjawab perntanyaannya, aku melihat jam tanganku dan berguman, “Sebentar lagi,” yang disambut tatapan bingung dari Siwon.

“Saat ada kereta lewat, teriaklah. Teriaklah sepuasmu. Katakan apa yang mau kau katakan karena tidak akan ada yang akan mendengar,” ujarku. Siwon terdiam, terpaku, dan tidak fokus. Sepertinya ia masih mencerna apa yang kukatakan.

Aku pun berteriak kencang saat kereta melaju, seakan memberi contoh pada Siwon apa yang harus ia perbuat. Setelah puas berteriak, aku menatap Siwon lalu menyikutnya pelan sebagai tanda kalau sekarang adalah gilirannya. Siwon menatapku ragu lalu menatap lurus kereta ekspress itu. Dapat kulihat ia sudah mengepalkan tangannya.

“YAAAAA!!!!!!! KAU!!! AKU BENCI PADAMU SONG HYEWON!! PADAHAL KUKIRA KAU MENCINTAIKU APA ADANYA!! DAN CHOI MMINHO!!  BRENGSEK! PENGKHIANAT! PADAHAL KAU SUDAH KUANGGAP SEPERTI SAUDARAKU SENDIRI! AKAN KUBUAT KALIAN MENYESAL TELAH MELAKUKAN HAL ITU PADAKU!!!” teriak Siwon kencang. Ia berhenti sebentar untuk menarik nafas.

“APPA OMMA!! AKU BENCI MENJADI ROBOT KALIAN!! AKU BENCI MENJADI ARTIS!! SEMUA ORANG MENDEKATIKU HANYA KARENA STATUS DAN HARTAKU! SUDAH KUKATAKAN BERULANG KALI AKU BENCI DENGAN PEKERJAANKU! APA AKU HARUS BUNUH DIRI AGAR KALIAN MAU MENGERTI, HAH?!”  lanjut Siwon. Ia berhenti berteriak. Nafasnya tersenggal-senggal. Setetes air mata hendak mengalir dipipinya namun dengan segera ia menghapusnya. Ia menguatkan pertahanannya padahal ia sudah sangat rapuh. Hal itu membuatku tak bisa menahan diri untuk memeluknya.

“Aku tak butuh simpatimu!” pekiknya. Ia meronta, memintaku untuk melepas pelukanku. Namun hal itu tak kubiarkan. Aku memeluknya makin erat. Aku tahu sekarang yang menyebabkan pria ini jadi begitu dingin. Ia tak bisa mempercayai siapapun yang berhubungan dengan job keartisannya. Ternyata, kau sebegitu menderitanya.

“Simpati? Aku sendiri tak tahu alasan yang membuatku memelukmu. Terserahmu mau menerjemahkan pelukan ini sebagai simpati atau apapun. Kau boleh mencaci makiku sepuasmu karena perbuatanku ini. Namun yang pasti, saat ini, aku ingin memelukkmu. Aku ingin menjadi kekuatanmu. Aku ingin kau mulai membuka hatimu untuk orang lain. Untukku. Karena sampai kapan pun, aku akan menjagamu. Menjaga kepercayaanmu,” ujarku lirih, tulus, sedih. Aku dapat merasakan tangan Siwon membalas pelukanku. Saat itu juga aku merasakan sebuah kehangatan mengalir ke sekujur tubuhku.

*****

“Siwon, sudah sampai,” ujarku begitu mematikan mesin mobil. Siwon tampak tidur pulas. “Hei tuan muda manja, kita sudah sampai,” ujarku lagi sambil menguncang pelan tangannya tapi Siwon sama sekali tak berkutik. Aku memperhatikan wajahnya sesaat dan tanpa kusadari, ujung bibirku tertarik membentuk sebuah senyuman. Aku turun dari mobil lalu segera berlari kepintu tempat duduk Siwon. Aku membuka pintu itu pelan-pelan. Dan dengan kekuatan yang ada, aku berusaha memapahnya. Aku masuk melalu jalur khusus pegawai agar tidak banyak orang yang melihat.
Setelah sampai di apartemen, aku segera menidurkan Siwon di ranjangnya. Otakku memerintahkanku untuk segera pergi dari kamarnya, namun hatiku menolak. Aku memperhatikan pria itu sekali lagi lalu menyelimutinya dan membelai kepalanya dan hal itu membuat jantungku berdetak sangat kencang. Aku ingin lebih lama menemaninya tapi aku takut kalau keberadaanku justru akan mengganggunya.

Tapi saat aku mau beranjak dari kamar itu, aku merasa tanganku ditarik dan tubuhku terhempas ke benda empuk bernama kasur.

Wajah Siwon kini tepat sejajar dengan wajahku. Membuat jantungku berkerja 2x lebih cepat dari sebelumnya. Aku yang takut terjadi apa-apa dengan jantungku, segera bangkit dari tempat tidurnya. Tapi usahaku sia-sia. Justru hal itu membuatnya mengeratkan pelukannya di tubuhku dan kini kakinya ikut mengunci kakiku.

“Jangan kemana-mana,” katanya, aku tak tahu, ia sedang memohon atau memerintah hanya saja, kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya itu membuat jantungku, tidak hanya bekerja 2x lipat. Kali ini sudah berlipat kali ganda sampai mungkin rumus perkalian pun tak bisa memecahkannya.

“Yaa, kau sedang menggodaku? Kau mau apakan aku?” balasku berusaha setenang mungkin. Siwon menatap lurus mataku lalu tersenyum. Entah jenis senyuman apa itu, yang jelas ia terlihat sangat tampan dan berhasil membuatku luluh. “Aku hanya tak mau sendirian. Lagipula aku tak akan macam-macam padamu. Aku pria agamis. Apa kau tak pernah membca artikel tentang diriku?” ujarnya yang membuatku tertawa.

“Baiklah, kalau begitu selamat tidur, Siwon-nim,” ujarku. Aku tahu ia tak akan membalasnya, hanya saja, aku tetap ingin mengucapkan hal itu.

“Kau juga. Selamat tidur Hamun-ah,” balas Siwon yang membuatku shock, senang bukan main, berbunga-bunga, argh aku tak tahu kata apa lagi yang bisa menggambarkan perasaanku saat ini. Ini pertama kalinya ia memanggilku ‘Hamun-ah’. Dan ini pertama kalinya ia berbicara lembut padaku. Aku mulai memejamkan mataku dan pergi ke alam mimpi dengan hati yang berbunga-bunga.

*****

“Selamat pagi Hamun-ah,” sapa Siwon yang tak kujawab karena saat ini, aku masih tidur, tepatnya berpura-pura tidur. Aku dapat merasakan hembusan nafasnya sangat dekat denganku dan sentuhan tangannya di pipi kiriku. Aku tak ingin bangun, karena aku tak ingin hal ini cepat berlalu namun jantungku yang berdetak terlalu kencang dan logikaku yang masih bekerja membuatku harus mau membuka mata dan mengakhiri moment indah ini. Aku membuka mata dan mendapati Siwon tersenyum ke arahku, namun saat mata kami bertemu, wajahnya berubah menjadi semerah kepiting rebus. Ia tiba-tiba saja menjentikkan jari telunjuknya di dahiku.  “Yaa, bangun! Sampai kapan kau mau tidur?!” bentak Siwon sambil bangkit dari tidurnya tanpa memandangku. Aku tertawa kecil melihat pria yang sudah berjalan lebih dulu didepanku. Ani, ani, ia tidak sedang marah. Ia hanya sedang malu. Entahlah, dia yang memang mudah ditebak? Atau aku yang sudah terlalu mengenalnya? Aku pun hanya bisa tersenyum sendiri melihat diriku yang menjadi begitu bodoh saat bersamanya.

*****

“Katakan ‘annyeonghaseyo’” bisikku pada Siwon. Ia yang berada di depanku, berbalik menatapku ragu. Aku tersenyum padanya, mendorong punggungnya pelan, memberi kekuatan. Aku memperhatikannya, lalu tertawa kecil. Ia yang selalu tampil percaya diri di depan ribuan orang, jadi begitu tegang hanya karena ingin mengucapkan ‘anneyeonghaseyo’ pada semua karyawan agensi ini.

“A-a-annyeonghaseyo,” sapa Siwon pelan dengan suara baritonenya, namun bisa membuat semua karyawan di ruangan ini menghentikan segala aktifitasnya dan mematung, terdiam, menatap Siwon dengan mata yang menyatakan keterkejutan. Keheningan membuat Siwon makin tegang dan mati gaya. Ia hanya membungkuk dan berkata, “Se- selamat bekerja,” ujarnya dan secepat kilat kabur dari ruangan itu.

*****

Siwon menjadi topik pembicaraan semua pegawai sepanjang hari ini. Ada yang suka dengan perubahannya, ada juga yang makin membencinya.

“Ternyata tak salah kujadikan kau manager Hamun. Kau apakan dia sampai ia berubah seperti itu?” tanya nona Hyemi. Aku tak suka dengan pertanyaannya.

“Itu kemauannya, bukan aku yang mengubahnya,” jawabku jujur sambil menyesap kopi yang kupegang sedari tadi.

Aku dapat merasakan bosku itu menatapku sinis. “Wow, apa-apaan ini? Kenapa kau jadi membelanya? Kau jatuh cinta padanya?” tanyanya

Aku terdiam. Memiringkan kepalaku beberapa derajat sambil memutar semua memori ingatanku. Jantungku yang berdebar, rasa cemburu yang dulu kurasakan, keinginan untuk memeluknya, memberinya kekuatan. Hanya satu kesimpulan, ya, aku mencintainya.

Aku ingin menjawab pertanyaan bosku tadi namun sepertinya ia sudah mengambil kesimpulan terlebih dahulu. Kesimpulan yang sama sekali tidak masuk akal.

“Aku tahu! Kau membuatnya jatuh cinta padamu agar kau dapat merasakan kepopuleran dan hartanya kan? Kurasa semua orang yang ada di dekatnya juga menginginkan hal yang sama,” ujar bosku yang membuatku naik pitam. Aku sudah bangkit dari tempat dudukku. Hendak memberikan sebuah tamparan diwajahnya, namun bersamaan dengan itu, pintu ruanganku terbuka. Siwon. Ia menatapku, dingin. Tenang, namun dingin. Atmosfer yang sama seperti saat di apartemen Hyewon.

“Antar aku. Aku ada jadwal. Kau harusnya ingat itu!” bentak Siwon padaku lalu berlalu meninggalkanku yang masih bingung dengan perubahan sikapnya.

Selama di mobil, ia juga tidak bersuara. Apa.. ia mendengar perkataan bos?

*****

Aku gelisah. Ini sudah kesekian kalinya dalam 5 menit terakhir ini aku melihat jam dinding di apartemen ini. Hamun belum pulang, padahal sudah jam 1 pagi. Kemana dia? Siwon tak memiliki jadwal lain selain acara talk show tadi siang. Seharusnya dia sudah sampai dari tadi. Seharusnya. Tapi dimana dia?

Hatiku gundah gulana. Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku segera mengambil kunci mobil dan masuk ke dalam mobil. Sebelum menginjak kopling, hapeku bergetar dengan ringtone yang kubuat khusus sebagai panggilan dari Siwon. Dengan segera aku mengangkat ponselku.

“Siwon ah?! Kau dimana?!” tanyaku panik.

“Yeoboseyo? Bisakah anda segera datang? Choi Siwon-nim sudah sangat mabuk, nona. Aku menelpon anda karena, nomor anda ada dipanggilan darurat pertama Choi Siwon-nim. Lebih baik anda cepat sebelum ada wartawan yang melihat,” ucap penelpon yang tak kutahu siapa itu.

“Nee, Arraseo,” jawabku. Aku menutup hp flatku itu dan meletakkannya di dashboard mobil. Aku melaju dengan kecepatan 150 km/jam. Suasana hatiku bercampur aduk. Antara senang dan kesal. Senang karena ternyata Siwon menganggapku penting sampai ia meletakkanku di nomor 1. Kesal karena.. Apa yang sedang ia lakukan?!

“Siwon, hentikan!” desisku sambil menahan tangan Siwon yang mau menuangkan bir ke gelasnya lagi. Ia menatapku sebentar dengan mata yang tak bisa fokus. Lalu tiba-tiba ia mendorongku ke pilar besar yang ada ditengah ruangan itu. Ia menyudutkanku dan mengunciku. Dan tiba-tiba saja ia melumat bibirku. Sangat lama sampai aku merasa dadaku sesak kekurangan oksigen. “Yaa! Yaa Siwon! Kau kenapa?!” pekikku bingung sambil berusaha mengantur nafas dan jantungku.

“Kau.. Pembohong! Kau ternyata sama saja seperti Hyewon! Kau tak bisa dipercaya! Bodoh sekali aku sempat mempercayaimu!” pekiknya sambil memukul pilar tadi dan sekejap ia kembali menciumku. Kali ini terasa asin. Aku membuka mataku dan mendapati air mata mengalir dipipinya.

Tak lama, ia mendorongku dan kembali menatapku lirih, “Padahal aku sudah terlanjur mencintaimu, Hamun,” ujar Siwon lirih. Perasaanku bercampur aduk. Antara senang dan bersalah. Senang karena Siwon ternyata juga mencintaiku dan merasa bersalah karena aku tak bisa menjaga kepercayaannya dan menyebabkan ia seperti ini. Ia pasti mendengar apa yang tadi bos ucapkan.

Namun aku tak bisa menahan diriku. Perasaanku yang meluap, jantungku yang berdetak kencang, dan kenyataan kalau ternyata perasaanku pada Siwon berbalas, membuat logikaku hilang. Kali ini aku yang menjinjit dan menarik wajahnya, membuat bibir kami bertemu kembali. “Aku mencintaimu Siwon. Aku mencintaimu. Tak bisakah kau merasakannya?” tanyaku pada Siwon. Siwon menatapku lirih, lalu memelukku erat. Ia pasti merasakannya. Karena dari ujung rambut sampai ujung kakiku, menyatakan kalau aku mencintainya. Choi Siwon.

*****

Badanku ingin aku bangkit dari tempat tidur tapi hatiku menolak. Aku tak bisa. Aku nyaman dipeluk seperti ini. Tunggu, jangan berpikir macam-macam. Kami tidak melakukan apapun semalam. Hanya saja Siwon yang mabuk tak mau melepaskanku.

Aku menatap wajahnya. Ternyata pria ini memang sangat tampan. Dia memiliki struktur wajah yang bagus. Jariku berjalan menyusuri wajahnya. “Alisnya tebal dan bulu matanya sangat lentik” ucapku saat jariku berhenti dibagian matanya. “Hidungnya juga mancung,” kataku begitu jariku berpindah dari mata ke hidung. dan terakhir jari telunjukku berhenti di bibirnya yang.. “dan bibirnya..”

Aku segera menggelengkan kepalaku, mensugesti diri untuk melupakan apa yang baru saja terlintas dipikiranku.

Aku menatapnya lagi, membelai pipinya dan menyentuh bibirnya. Sungguh, aku ingin sekali menciumnya. Arrgh, aku sudah gila.

Namun tiba-tiba saja aku merasa tanganku ditarik, membuat tubuhku lebih dekat dengan Siwon dan tiba-tiba saja bibirnya sudah menempel dibibirku. Aku melihatnya tersenyum simpul sebelum ia melepaskan morning kiss itu.

“Kalau memang mau menciumku, lakukan saja. I am yours,” jawabnya yang membuatku tentu saja tertawa geli.

“Kau masih mabuk? Kau melantur Siwon,” balasku. Aku menyibakkan selimut diatasku. “Ayo bangun, akan kubuatkan kau sarapan,” ujarku. Namun saat aku ingin membangkitkan tubuhku, Siwon malah memeluk tubuhku makin erat. “Siwon, lepaskan aku,” ucapku padanya.

“Seperti ini. Sebentar saja,” ucapnya yang membuatku tak bisa menahan diri, justru malah balas memeluknya. Memeluknya sangat erat dan mengecup keningnya.

“Aku ingin segera merubah namamu jadi nona Choi Hamun,” bisiknya ditelingaku.

“Tapi sebelumnya, bagaimana kalau kita bermain?” tantangku.

Salah satu sisi alis Siwon sudah naik ke atas, tanda ia bingung dan penasaran. Aku tersenyum simpul dan menjelaskan peraturan permainan ini.

“Peraturannya sangat mudah,”

“Untungnya buatku?”

“If you win you can marry me, but if i win you’ll be mine,”

END.