Annyeong yeorobun,,
Author @gyumontic hadir lagi dengan ff terbaru. Kali ini tidak ada suju2an. Tp ada kim jaejoong dan song joong ki.. Bias ketiga author🙂 heheheh.. Hope u enjoy ya!!

Cast :
– Hwang Jae Hyun (OC)
– Kim Jaejoong
– Song Joong Ki

PART 1
February 4th, 2012. Sejak jam 6 pagi tadi, kerjaanku hanyalah berjalan mondar-mandir mengelilingi ruangan kerjaku sambil meratapi nasib kertas-kertas report yang bertumpuk di meja kerjaku. Aku bolak-balik menatap mereka lalu menghela nafas panjang. “Bagaimana bisa omma menyuruhku masuk kantor di hari minggu, apalagi ini juga hari ulang tahunku?! Apa perusahaan ini lebih penting daripada anak mereka ini? Haish!” keluhku berkali-kali dalam hati.Akhirnya aku menyerah setelah berjam-jam tak berguna. Aku duduk di singgasanaku dan mulai menyentuh kertas-kertas menyebalkan ini. Aku melihat judulnya satu per satu. Rencana Pemasaran KJ Hotel dan Anggarannya. Aku buka halaman pertama lalu melemparnya ke sudut meja. Aku mengambil laporan yang kedua. Hasil Survey Kepuasan Tamu KJ Hotel. Kali ini aku mencoba membuka empat halaman. Belum ada dua menit, nasib report itu tidak beda dari report sebelumnya. Kalau bukan karena aku adalah calon pengganti ibuku sebagai direktur perusahaan ini, aku pasti sudah berteriak frustasi mengeluhkan semua hal ini. “Haish!” satu-satunya kata yang bisa terlontar dari mulutku selama aku berada di tempat ini.
Tiga bendel report sudah berpindah ke sudut meja, tiga bendel lagi di meja tamu, dua berserakan di lantai, sisanya masih tertumpuk rapi di tengah-tengah meja kerjaku. Aku sudah tidak sanggup lagi. “Eomma! Aku ingin pulang. Jika kau memang tidak mau merayakan ulang tahunku, aku tidak keberatan tapi tolong jangan siksa aku bersama laporan-laporan ini,” protesku akhirnya pada eommaku.
“Yaaa Kim Jejung! Baru beberapa laporan saja kau sudah protes. Lihat besok aku akan memberikan laopran yang lebih banyak,” sahut eommaku.
“Eommaaaa…”
“Sudah, jangan banyak mengeluh. Kau belum boleh pulang. Tunggu sebentar lagi.” Eomma lalu menutup teleponnya.
Eomma membuatku bingung. Apa yang harus aku tunggu? Eomma menyuruhku ke kantor hanya untuk membaca laporan-laporan ini. Helloooo, kenapa ia tidak menyuruh anak buahnya bawa ke rumah? Aku bisa membacanya dengan tenang di kamarku. Yaaa! Kalau ibuku tidak bisa, kenapa tidak aku saja yang melakukannya?
Aku pun menelepon sekretarisku, “Jo hee ssi, tolong segera siapkan mobil dan bantu aku mengangkat tumpukan ini ke rumah.”
Aku tidak mendengar jawaban Jo hee untuk beberapa detik, hanya ada bisik-bisik tidak jelas antara dia dan entah siapa. “Mianhe, sajangnim. Mulai kemarin saya bukan lagi sekretaris Anda. Nyonya meminta saya jadi sekretaris beliau. Maaf tidak bisa membantu,” jawabnya kemudian lalu menutup teleponnya.
“Mwo?!” seruku kaget. Aku menatap ponselku dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana mungkin?! Eomma menyabotase sekretarisku. Dia mengambil Jo Hee tanpa sepengetahuanku apalagi persetujuanku. Lalu, bagaimana nasibku? Siapa sekretaris pengganti Jo Hee?! “Eommmmaaaaaaa….” geramku frustasi. Aku bersumpah akan meminta penjelasan darinya begitu ketemu di rumah nanti.
Dengan susah payah, aku merapikan laporan-laporan ini menjadi satu tumpukan rapi sehingga memudahkan aku untuk mengangkatnya. “Oke Kim Jejung. Kerahkan seluruh tenagamu. Hyaaaa,” ucapku pada diri sendiri guna mengumpulkan kekuatan lenganku. Setelah aku yakin, tanganku sudah cukup kuat, aku berjalan menuju pintu ruangan kerjaku.
“Annyeonghaseyo. Jwisonghamnida. Boleh tahu dimana ruangan Manajer Kim Jejung?”
“Anda siapa?”
“Sekretaris barunya. Hwang Jae Hyun imnida.”
Seketika tanganku rasanya kebas. Tumpukan yang berada di tanganku kini sudah berceceran di lantai. Aku terlalu terkejut. Apa katanya? Sekretaris baruku? Mwo? Tidak mungkin. Hwang Jae Hyun. Aku tahu siapa dia. Aku kenal suaranya. Aku juga paham bagaimana orangnya. Dia adalah satu-satunya orang yang tidak pantas jadi sekretaris. Aaaah, mungkin ini Hwang Jae Hyun yang berbeda.
Aku membuka pintu ruangan kerjaku. Gadis itu, Hwang Jae Hyun yang aku maksud, berdiri di hadapanku sambil tersenyum manis dan memberi hormat padaku. Rambut hitam panjangnya sudah berubah menjadi coklat sebahu. Kacamata tebalnya berganti dengan sotlens abu-abu yang tidak mencolok. Giginya juga sudah tidak lagi di-behel. Yang paling mengejutkan adalah kulit coklatnya yang eksotis sudah sangat mulus dari atas sampai bawah, tidak lagi kusam ataupun kering seperti 4 tahun lalu aku melihatnya.
“Annyeonghaseyo, sajangnim. Hwang Jae Hyun imnida. Maaf membuatmu menunggu. Pesawat saya ….” ucapnya.
Aku terlalu takjub dengan perubahannya sampai tidak lagi sanggup mendengar apa yang dia katakan. Aku menatapnya dari akar rambut sampai ujung hak stiletto-nya. Jae Hyun tidak lagi kutu-buku dan nerd seperti yang aku kenal sewaktu zaman kuliah. Kini ia sudah berubah menjadi Jae Hyun yang modis dan fun, sepertinya.
“Kim sajangnim. Kim sajangnim,” panggil Jaehyun berkali-kali sambil mengibaskan telapak tangannya di depan mataku, membuatku tersadar.
“Ne,” sahutku salah tingkah. Aku pun segera memasang wibawaku. “Ne, Jaehyun ssi. Apa kau sekretarisku yang baru?”
Jaehyun menganggukkan kepalanya. “Ne, sajangnim,” jawabnya dengan ceria ditambah senyuman.
“Kalau begitu, bereskan kertas-kertas yang berserakan di lantai ruangan kerjaku lalu bawa semuanya ke mobil. Aku tunggu dalam 5 menit!”
Jaehyun memandangku dengan tatapan memelas.
“Wae?”
“Tidak bisa 20 menit? Aku juga butuh waktu untuk memasukkan koper-koperku ke mobil Anda. Kim Gomonim, maksud saya nyonya Kim, bilang aku harus tinggal di rumahnya.”
“Mwo?!” Aku lalu melihat koper-koper besar warna-warni berdiri tidak jauh dari Jaehyun. Tampaknya aku tidak terlalu berkonsentrasi ketika dia bilang bahwa eomma menyuruhnya kembali ke Korea dan tinggal bersama di rumah. Jadi ini semua adalah kerjaan nyonya Kim. Dialah dalang dari semua kejadian hari ini. “Eommmmaaaaaa!!!!!” geramku kesal dalam hati.

++++++++

Aku memasuki rumah dengan terburu-buru demi menemui eomma dan menumpahkan semua kekesalanku. Aku tidak peduli dengan Jaehyun yang kerepotan membawa tumpukan laporan dan juga koper-kopernya. “Eommmaaa… Eommmaaaa…” panggilku sambil berjalan menuju tempat favoritnya di hari minggu, kolam renang. “Eooomaaa!!!”
“Ne, Kim Jejung ssi. Eomma-mu di sini. Kemarilah, nak,” sahutnya dengan santai.
Aku melihatnya sedang berjemur dengan santai di pinggir kolam renang sambil memakai kaca mata hitam pemberian appa. Dua pelayan kami sedang memijat tangan dan kakinya. “Haish! Ibu macam apa ini? Membiarkan anaknya stress sedangkan ia santai-santai di rumah,” gerutuku dalam hati. Dengan mencoba tetap tenang, aku duduk di sampingnya.
“Ada apa, nak? Apa kau sudah bertemu Jaehyun? Mana dia?” tanyanya dengan polos seolah-olah dia tidak mempunyai andil apa-apa dalam hal ini.
“Sudah. Dia sedang susah payah membawa masuk bawaannya,” jawabku.
“Bagaimana menurutmu? Jaehyun tambah cantik kan? Kalau eomma ini pria, eomma pasti akan menggaetnya jadi sekretaris eomma. Aaah, kau beruntung sekali Kim Jejung.”
“Eomma….”
“Aigoo, beruntung sekali Jo hee pindah ke tempat eomma bertepatan dengan kepulangan Jaehyun, jadi Jaehyun bisa mengisi kekosongan posisi Jo Hee.”
Aku tahu eomma berbohong. Ini semua bukan kebetulan ataupun keberuntungan. Eomma sudah merencanakan segalanya dengan matang. Aku yakin eomma sudah menyiapkan surat mutasi Jo hee jauh-jauh hari sebelum dia memastikan Jaehyun mau menjadi sekretaris di perusahaannya. Aku juga yakin eomma yang mati-matian membujuk Jaehyun kembali ke Korea. Aku tahu eomma-ku. “Eomma,” panggilku kali ini lebih pelan.
Eomma mengalihkan matanya ke mataku. Sangat teduh. Tanpa bicara apa-apa, hanya dengan tatapan matanya, aku bisa merasakan kasih sayangnya mengalir tulus ke dalam tubuhku. “Wae eomma? Kenapa kau masukkan Jaehyun lagi ke dalam hidupku?” tanyaku pelan. Eomma tersenyum kepadaku. Aku paham arti senyumannya.
Eomma menyuruh kedua pelayannya pergi. Ia lalu bangkit berdiri dari tempat berjemurnya dan mendekatiku. Lengannya merengkuhku ke dalam pelukannya kemudian ia mencium kepalaku. “Eomma hanya ingin anak eomma bahagia. Saengil chukkae,” ucapnya. Setelah itu dia mengelus pipiku dan meninggalkanku. Aku menoleh menatapnya, telingaku mendengar tawanya.
Dengan ceria dan penuh kasih sayang, eomma menyambut Jaehyun. “Jaehyun-ah!!” seru eomma sambil setengah berlari lalu memeluk Jaehyun. “Omooo Jaehyun-ah! Yeppo dda! Na bogosippo! 4 tahun tidak bertemu. Aigooo Jaehyun-ah, tega sekali kau padaku.” Eomma lalu memborbardir Jaehyun dengan ciumannya. Aku yakin eomma memberikan pelukan dan ciuman kepada Jaehyun sama hangatnya dengan yang ia berikan kepadaku.

++++++++

Joong Ki duduk setengah bersujud di hadapan seorang wanita paruh baya dan anak laki-lakinya yang umurnya tidak jauh dari Joong Ki. “Gomo, jwisonghamnida. Aku jadi merepotkan kalian tapi aku benar-benar tidak bisa membawa Jaehyun pergi bersamaku. Jwisonghaeyo, Jaejoongssi,” ucap Joongki.
Nyonya Kim, ibu Jaejoong, tersenyum tulus penuh kasih sayang pada Jaehyun yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. “Gwencanayo, Joongki-ah. Kalian adalah keluarga kami, mana ada merepotkan. Aku akan mengurus Jaehyun sama seperti Jaejoong. Ya kan, Jae?” ujar nyonya Kim kepada Joongki, anak sahabatnya, dan Jaejoong.
“Ne, omma,” sahut Jaejoong datar.
“Ah, aku serasa memiliki anak kembar. Jaejoong dan Jaehyun,” kata nyonya Kim dengan ceria. Jelas sekali ia sangat senang mendapat tambahan orang di rumahnya.
“Kamsahamnida, imonim. Jeongmal kamsahamnida,” ucap Joongki. Ia lalu berpamitan pada keluarga Kim dan adik tercintanya, meski mereka beda ayah, Hwang Jae Hyun.
“Oppa, hati-hati di Amerika ya. Sering-sering hubungi aku. Jangan lupakan aku ya,” kata Jaehyun sambil memeluk Joongki dengan erat. “Saranghaeyo.”
Joongki mengelus rambut Jaehyun dengan lembut. “Nado. Kau juga baik-baik ya dengan keluarga Kim. Jangan bandel. Sekolah yang benar. Jangan kecewakan orang tua kita.”
Jaehyun menganggukkan kepalanya dan tiba-tiba menangis. Dia teringat orang tuanya yang sudah berada di surga dan sekarang kakaknya juga akan pergi meninggalkannya. Tangisan Jaehyun pun semakin pecah.
Jaejoong mendekati kedua kakak beradik itu dan dengan sungguh-sungguh ia menatap Joongki. “Aku akan menjaga Jaehyun dengan baik. Hyung tidak perlu khawatir,” ucap Jaejoong.
Joongki tersenyum penuh terima kasih pada Jaejoong. Dengan lega, Joongki melepas Jaehyun dan menyerahkannya pada keluarga Kim.
“Sampai jumpa, Joongki-ya. Sukses selalu,” ucap nyonya Kim melepas kepergian Joongki dengan Jaehyun yang masih menangis di sebelahnya.

++++++++

“Jejung ssi!!! Kim Jejung!!! Yaaa Jejung-ah!!!” seru Jaehyun bergantian sambil mengetok-ngetok kamarku dengan keras. “Ppali ireona! Jejung-ah!” Dengan nyawa yang belum terkumpul, aku bangkit dari tempat tidurku untuk membuka pintu. “Wae?” tanyaku.
“Gomo mengajak kita minum teh di taman,” jawabnya.
Aku mengecek jam di kamarku. Jam setengah 11 malam. “Hampir tengah malam begini?”
Wajah Jaehyun tampak mulai tidak sabar. Dia sudah mulai memanyun-manyunkan bibirnya. Betul saja. Tidak lama kemudian, dia sudah menarikku ke taman belakang rumahku. “Jangan banyak protes!” perintahnya. Aku pun tidak banyak protes karena aku tidak punya tenaga untuk itu. Nyawaku hanya sanggup untuk terjaga bukan untuk berdebat.
Aku menemui ibuku lalu duduk di sebelahnya. Dengan manja, aku masuk ke dalam selimutnya lalu merebahkan kepalaku di bahunya. “Yaaa Kim Jejung! Siapa yang suruh kau duduk di sini? Ini tempat Jaehyun. Tempatmu di sana,” omelnya membuatku kaget. Aku pun pindah dari sebelah eomma ke seberangnya. Meskipun ada selimut yang sama tebalnya tapi kehangatan eomma tidak ada yang bisa menandinginya. Beruntung sekali Jaehyun bisa dipeluk eomma.
Eomma mengambil tablet PC-nya lalu menyodorkannya kepada Jaehyun. “Jaehyun-ah, lihat! Ini foto kelulusan Jejung. Kau pasti belom sempat melihatnya karena kau sudah lebih dulu ke Amerika. Iya kan? Bagaimana menurutmu?” tanya eomma. Rupanya dia sedang memamerkan foto-foto anaknya yang belum pernah dilihat Jaehyun sebelumnya.
Jaehyun tertawa-tawa sampai tablet PC yang dipegangnya ikut berguncang. “Omoo, gomonim. Jejung oppa lucu sekali di sini. Tampangnya tampak was-was sekali. Hahahaha.”
“Bagaimana tidak was-was? Begitu wisuda, besoknya aku langsung masuk kantor. Padahal aku belum punya pengalaman kerja apapun. Mana aku tahu perusahaan itu mau aku apakan,” celetukku.
Eomma lalu memamerkan fotoku yang lainnya. “Kalau yang ini sewaktu Jejung memimpin rapat pertama kali. Aku ingat waktu itu dia gugup sampai-sampai bajunya basah karena keringat,” kata eomma persis dengan yang pernah aku alami, tidak mengurangi ataupun melebih-lebihkan. Jaehyun kemudian tertawa-tawa membuatku malu. Tidak berhenti sampai di situ, eomma lalu memamerkan fotoku yang sedang dimarahi tamu karena kerja pelayan restoran yang tidak benar. Aku tahu semua itu memang pernah terjadi tapi aku tidak tahu bagaimana cara eomma mengambil moment-moment tersebut.
Jaehyun berhasil dibuat terpingkal-pingkal dengan semua foto yang eomma pamerkan padanya. Hal ini membuatku malu setengah mati. “Eommaa, sudahlah…” ucapku berkali-kali agar eomma menghentikan perbuatannya tapi Jaehyun akan langsung menatapku sambil tersenyum membuatku kembali diam dan membiarkan dua wanita itu cekikikan menertawakan diriku.
“Meskipun Jejung-ku ini sangat payah tapi wanita yang mengantri untuknya banyak sekali. Aku pernah didatangi ibu-ibu yang ingin menjodohkan anak gadisnya dengan Jejung,” cerita eomma tiba-tiba.
“Jinjja? Lalu Gomo bilang apa?” tanya Jaehyun.
“Aku bilang saja Jejung sudah punya pacar. Waktu dia tanya siapa pacarnya, aku jawab saja ‘bukan urusan Anda, nyonya.’ Lalu pernah ada sekumpulan gadis yang main ke rumah. Salah satu di antara mereka tampaknya menyukai Jejung. Mereka mengobrol denganku. Mereka pikir aku mendukung mereka. Pada akhirnya aku bilang ‘maaf, anakku sudah bertunangan.’”
“Padahal kenyataannya dekat dengan seorang wanita saja belum. Iya kan, gomo?” Jaehyun memandangku sebentar lalu tertawa-tawa bersama eomma. Rasanya aku ingin menyumpal mulut Jaehyun dengan bantal di punggungku ini agar dia berhenti tertawa. Dia pikir kenapa aku masih sendiri sampai saat ini?! Kali ini kubiarkan saja dia tertawa sepuasnya.
Aku hampir memasuki alam mimpi ketika Jaehyun menegurku. “Bantu aku membawa Gomonim ke kamar,” katanya. Aku lalu menoleh ke arah eomma yang sudah tertidur nyenyak di kursinya. Dengan sekali angkat, aku berhasil memindahkan eomma ke gendonganku. Aku menggendong eomma menuju kamarnya dengan Jaehyun yang mengikutiku dari belakang. Aku lalu membaringkan eomma di tempat tidurnya dan menyelimutinya. Setelah itu barulah aku keluar perlahan dari kamar eomma agar ia tidak bangun.
Rupanya Jaehyun masih menungguku. Dia berdiri di luar kamar eomma sambil tersenyum padaku. “Saengil chukkae, Oppa,” ucapnya lalu memelukku. Sesaat tubuhku menegang karena kaget. Aku tahu tubuhku memberikan reaksi yang tidak bagus. Perlahan, Jaehyun melepas pelukannya. Dengan wajah sedih dia menatapku. “Aku tahu Oppa tidak mengharapkan kepulanganku. Iya kan?” tanyanya. Kemudian, Jaehyun meninggalkanku yang tidak ada niat mengejarnya.

++++++++

Jaejoong berdiri di depan aula sambil membawa sebuket bunga. Sambil tersenyum bercampur rasa gelisah, Jaejoong menunggu Jaehyun keluar. Di dalam otaknya sudah mengalir skenario. Saat Jaehyun keluar, Jaejoong akan memberikan buket bunga itu kepada Jaehyun dan menyatakan perasaannya. Jaejoong akan menyatakan bahwa ia tidak mau lagi hanya sekedar menjadi oppa pelindung bagi Jaehyun.
“Jaejoong oppaaaaa!!! Aku sudah lulus!!!!” seru Jaehyun dengan ceria begitu ia keluar dari aula dan melihat Jaejoong.
Jaejoong memberikan buket bunga yang ia bawa sambil mengucapkan selamat. “Chukkae Jaehyun-ah!! Sayang sekali kita tidak bisa wisuda bersama padahal aku tinggal sisa 1 mata kuliah saja.”
Jaehyun tertawa. “Gomawo, Oppa. Jaejoong oppa tenang saja. Sebentar lagi pasti akan menyusulku. Fighting!”
“Tentu saja. Ku pastikan kau akan berbinar-binar bangga saat melihatku wisuda.”
Jaehyun tertawa. Tidak lama, teman-teman Jaehyun berdatangan untuk mengajak foto bersama. Dengan rela, Jaejoong menyingkirkan diri. Dari jauh, Jaejoong memperhatikan Jaehyun yang tak pernah berhenti tertawa ataupun tersenyum. Jaehyun tampak sangat bahagia, membuat Jaejoong mengurungkan niatnya untuk bicara. Jaejoong merasa ini bukan saat yang tepat. Pernyataan cinta harusnya dilakukan di saat yang serius bukan di saat yang bahagia seperti ini. Bisa-bisa yang ada mood Jaehyun berubah jadi jelek, pikir Jaejoong.
Hampir setengah jam Jaejoong berdiri menunggu Jaehyun kembali. “Bagaimana rasanya lulus? Menyenangkan sekali ya?”
“Sangat, oppa! Sangat! Apalagi kalau bisa melanjutkan S2.”
“Oh ya? Apa kau ada rencana kuliah lagi?”
Jaehyun menganggukkan kepalanya dengan mantap. “Aku akan mengambil beasiswa di Amerika, sama seperti Joong Ki oppa. Aku mau melanjutkan S2 ku di sana.”
“Jadi kau akan ke Amerika? Kapan?”
“Mungkin minggu depan.”
Seketika mulai dari ujung rambut Jaejoong sampai ujung kakinya melemas. Jaejoong tidak dapat merasakan apapun di tubuhnya. Dia merasa tubuhnya sudah mati rasa. Tidak ada lagi detak jantung, aliran darah ataupun hembusan nafas. Yang ada hanya senyum terbaik yang bisa Jaejoong berikan untuk Jaehyun, tentu saja itu hanya senyuman palsu. Bagaimana bisa orang yang sedang merasa hidupnya berakhir masih bisa tersenyum?

++++++++

Sejak bangun jam 5 pagi tadi sampai detik ini, aku belum beranjak satu mili pun dari kamarku. Aku merasa tidak enak jika harus keluar. Bukan karena aku sakit tapi aku tidak ingin bertemu dengan Jaehyun. Aku sedang tidak ada hasrat untuk melihat wajahnya meski dia sangat cantik. Kamarku kukunci rapat-rapat. Saat Jaehyun berkali-kali memanggilku, aku tidak menjawab. Begitu juga saat ponselku berdering. Saat pintu kamarku diketuk, kubuat seolah-olah aku masih tidur. Teriakan eomma adalah satu-satunya cara yang bisa membuat aku beranjak dari kamar. “KIM JEJUNG! KELUAR DARI KAMARMU SEKARANG! JANGAN SAMPAI EOMMA MENDATANGIMU!” Dengan terburu-buru, aku keluar dari kamarku dan bergabung dengannya di meja makan. “Anak baik. Cepat makan. Kau sudah telat ke kantor,” ujar eomma begitu aku muncul.
Aku menyantap sarapanku tanpa banyak bicara, berbeda dengan Jaehyun yang terus-terusan berbagi cerita dengan eomma. “Iya, semalam Gomo ketiduran terus Oppa yang menggendong Gomo ke kamar. Aku pikir Oppa tidak akan kuat,” ujar Jaehyun dengan ceria. Tambah lagi, ia juga tertawa-tawa dengan bebasnya. Eomma pun membalasnya dengan tertawa juga. Sial! Apa hanya aku yang merasakannya?!
Setelah selesai sarapan aku segera bersiap diri untuk berangkat ke kantor. “Aigooooo, Oppa! Pakaian apa itu yang kau pakai? Masa manajer pakaiannya begitu?” keluh Jaehyun saat aku muncul di hadapannya lengkap dengan tas kerjaku. Aku menunduk menatap pakaianku. Aku merasa tidak ada yang salah dengan kemeja, setelan jas, dasi dan sepatu pantofel yang semua berwarna putih.
“Wae?” tanyaku bingung.
“Kau seperti gay,” jawabnya. Jaehyun kemudian menarikku kembali ke kamarku. Aku di suruhnya duduk sedangkan dia membongkar-bongkar lemariku. “This on okay! This not! Okay, okay, not, not, okay, okay, not,” ucapnya sambil memilah-milah bajuku. Saat ia bilang okay pada satu baju maka baju itu akan dikeluarkan dari lemari dan melemparkannya padaku. “Try!” perintahnya.
Aku pun mencoba semua kombinasi pakaian yang dia sodorkan padaku. Mulai dari gaya yang paling santai sampai yang paling formal. “Great! Untuk hari ini lebih baik Oppa pakai kemeja putih, setelan jas hitam dan sepatu hitam. Hari Senin adalah hari yang tepat untuk tampil formal. Begitu masuk Selasa, Rabu dan Kamis kau hanya perlu semi formal. Jumat pakailah pakaian tradisional negara kita. Begitu Sabtu dan Minggu, kalau kau ingin masuk kantor, pakai pakaian yang santai,” komentar Jaehyun begitu selesai mendandani bajuku.
“Sejak kapan kau jadi begitu ahli wardrobe?” tanyaku.
“Hyaaa! 4 tahun di Amerika aku mendalami fashion tahu! Jangan meremehkan aku,” jawabnya lalu memukul pelan lenganku.
“Pantas kau jadi modis begini.”
Aku kemudian tertawa, bukan karena Jaehyun lucu atau apa. Aku menertawai diriku sendiri. Tentu saja aku tidak tahu. Bagaimana bisa aku tahu jika tidak ada satu orang pun yang memberitahuku? Aku buta akan apa yang Jaehyun lakukan selama 4 tahun di Amerika.
Jaehyun tersenyum kepadaku kemudian menarikku. “Kajja, sajangnim. Kau ada rapat 10 menit lagi,” ujarnya.
“Mwoooooooo?!”
Jaehyun mendorongku masuk ke dalam mobil dan melemparkan bahan-bahan rapat ke pangkuanku. “Pangsa pasar KJ hotel sudah mencapai 30% di Seoul dan 60% di Korea, tumbuh 20% dari tahun sebelumnya. Keuangan ditopang oleh 50% hutang, 10% investor dan 40% modal sendiri. Mulai pertengahan tahun ini diharapkan ekspansi ke Jepang, Taiwan dan Asia Tenggara sudah berjalan dengan asumsi pendapatan kita akan meningkat 200% karena ekspansi itu. Keuntungan juga akan melejit sampai 150%,” jelas Jaehyun panjang lebar membuatku tercengang.
“Omo. Omo! Kau memang daebak! Ternyata isi otakmu masih brilian. Harusnya kau saja yang jadi manajer,” pujiku.
Jaehyun menyipitkan matanya memandangku. “Kau menyindirku, sajangnim?” tanyanya sinis.
“Aigooooo. Aku jelas-jelas memujimu. Dari dulu kau kan sangat pintar. Kenapa mau disuruh eomma jadi sekretarisku?” Untuk hal yang satu ini aku akui tidak ada yang bisa mengalahkan Jaehyun. Otak encer Jaehyun memang tidak ada tandingannya, apalagi denganku. Makanya aku bilang tidak mungkin Jaehyun mau jadi sekretaris kalau bukan karena paksaan eomma. “Eomma, kau tega sekali. Seharusnya orang seperti Jaehyun kau jadikan manajer bukan sekretaris seperti ini,” batinku.
“Kau juga dari dulu tetap bodoh. Karena itu kau lulus lebih lama daripada aku meskipun kau lebih dulu masuk kuliah,” sahutnya.
“Mwo?! Yaa! Itu karena aku sambil mempelajari perusahaan.”
“Tidak ada alasan! Cepat turun! Rapatmu dimulai 3 menit lagi.”
Rupanya kami sudah sampai di kantor, atau lebih tepatnya hotel yang aku pegang. Dengan gesit, Jaehyun menarikku keluar dari mobil dan menyuruhku berlari sedangkan ia sudah lebih dahulu berlari. Karena itu, saat aku sampai di depan lift, lift itu sudah terbuka. Begitu juga saat masuk ke ruang rapat, peralatanku sudah rapi dan lengkap dibuatnya sebelum aku masuk. Jaehyun melaksanakan tugasnya dengan baik.

++++++++

Aku keluar dari ruang rapat dengan rasa puas bercampur bangga karena aku berhasil meyakinkan beberapa investor untuk menanamkan dananya untuk ekspansi hotel ke Asia Tenggara. Aku berhasil meyakinkan mereka bahwa saat ini Asia Tenggara sedang dilanda Korean Wave yang berarti hampir semua orang-orang di sana tergila-gila dengan Korea. Apapun yang berbau Korea pasti akan mereka beli. Dengan seperti itu, KJ hotel pasti bisa masuk dengan mudah apalagi ditambah belum adanya hotel Korea yang masuk Asia Tenggara. Selain itu banyak artis-artis yang show ke Asia Tenggara. Hal ini bisa dimanfaatkan KJ hotel.
Jaehyun yang menungguku di luar ruangan rapat menatapku dengan cemas. Dengan wajah sumringah aku mendekatinya lalu memeluknya. “We did it! They aggre to invest!” seruku senang sampai lupa daratan. Aku lalu menariknya menuju restoran di lantai 4. “Aku akan mentraktirmu makan sampai kau kenyang. Kajja!” Dengan hati gembira, Jaehyun mengikutiku. Aku tahu ia sangat suka makan. Apalagi kalau sudah mahal dan gratis. Ia pasti tidak akan menyia-nyiakannya. Kecuali, dia sekarang seperti gadis-gadis yang sibuk diet hanya untuk membuat tubuh mereka kurus, tipis dan tak menarik.
Jaehyun lebih dulu memasuki restoran dan memilih tempat duduk yang rasanya cukup nyaman untuk menikmati hidangan restoran ini selama berjam-jam. “Silahkan duduk sajangnim,” ucapnya. Aku pun duduk di bangku yang sudah dia sediakan. Setelah itu baru dia duduk di hadapanku. Aku hanya tersenyum melihatnya. Jaehyun begitu pandai memainkan perannya, sebagai teman dan sebagai bawahan.
Aku pun memanggil chef andalan di hotelku ini dan menyuruhnya menghidangkan makanan utama yang terbaik. Chef itu tersenyum mengerti meskipun aku memesannya dengan bahasa Korea sedangkan dia sendiri dari Australia. “Thank you,” ucapku satu-satunya dalam bahasa Inggris. Chef itu pun berbalik dan masuk ke kerajaannya untuk menyiapkan masakan paling spesial.
“Aku harap Chef akan menyajikan spaghetti panggang kesukaanku. Aku rindu sekali makanan itu,” kata Jaehyun.
“Kau mau makanan itu? Kita pesan saja,” sahutku. Aku sudah mau berdiri memanggil chef-ku tapi dihalangi oleh Jaehyun.
“Jangan. Apa kata orang kalau kau menemui Chef hanya untuk memesan makananku.” Jaehyun berkata dengan malu-malu. Wajahnya terlihat bersemu merah meski dia sudah menunduk untuk menyembunyikannya.
Aku tertawa melihatnya. Bagaimana mungkin orang tahu aku mendatangi Chef untuk memesan makanannya jika aku dan Jaehyun adalah tamu satu-satunya di restoran ini? Restoran ini memang dibangun khusus untuk disewa untuk gathering perusahaan atau suatu kelompok, bukan restoran umum seperti di lobby atau lantai 12. “Ternyata kadang kau bodoh juga,” godaku. Aku lalu menemui Chef dan memesan spaghetti panggang kesukaan Jaehyun.
Aku kembali ke meja kami tapi tidak menemukan Jaehyun di sana. Kulihat kesana kemari rupanya ia sedang berlari mengejar anak kecil yang tampaknya tidak sengaja masuk ke restoran ini. Anak kecil itu berlarian mengelilingi meja makan, buffet, tidak ketinggalan pajangan dan pot-pot besar yang menghiasi ruangan ini. Seketika kepalaku pusing. Pandanganku pun mulai tidak jelas.
“Hei adik kecil. Appa-eomma mu kemana? Sini biar aku antarkan kau pulang ke orang tuamu,” seru Jaehyun kepada anak kecil yang sedang dikejarnya. “Adik kecil. Ayo sini….”
Kakiku mulai lemas. Aku tidak kuat lagi. “Sajangnim! Oppa!!”

++++++++

Jaejoong kecil berlarian di taman sambil memegang bola yang baru saja dibelikan Tuan Kim, ayahnya, dari toko mainan dekat taman beberapa menit lalu. Jaejoong berlarian dengan gembira dengan tuan Kim yang tanpa lelah mengikuti kemana pun Jaejoong berlari. “Jaejoong-ah! Hati-hati, nak!” seru tuan Kim. Saat itu, nyonya Kim hanya memandang kedua laki-lakinya dari jauh sambil menyulam sweater untuk Jaejoong.
Jaejoong terus berlari, tidak peduli ayahnya yang berlari mengikutinya. Jaejoong bahkan berlari ke taman seberang, tempat teman-teman sebayanya sedang bermain ayunan dan perosotan. “Teman-teman lihat! Aku punya bola baru. Appa baru saja membelikannya. Lihat! Bagus kan?” seru Jaejoong dengan sombong pada teman-temannya.
Tuan Kim yang kelelahan berhenti sejenak. Dia membungkukkan badan sambil memegang lututnya yang lemas. “Hhh… Hhh.” Tuan Kim berusaha menstabilkan pernafasannya. Dia sangat kelelahan. Saking lelahnya, ia tidak sadar bahwa saat ini ia sedang berdiri di tengah jalan. Meskipun jalanan ini kecil dan jarang dilewati mobil, saat ini sebuah truk lewat dengan kencang.
Kerumunan orang kemudian menghampiri Tuan Kim yang sudah tergeletak di jalan dan truk yang menabraknya. “Yeobooooo!!!!” pekik nyonya Kim dari kejauhan lalu berlari menghampiri kerumunan itu. Dengan semrawut, nyonya Kim menembus kerumunan. Dilihatnya, tuan Kim sudah tergeletak di jalan dengan berlumuran darah. “Yeoobooooo!! Jaejoong-ah!!!” seru nyonya Kim semakin histeris.
Jaejoong yang mendegar teriakan ibunya mendekati nyonya Kim dan dengan bingung ia berusaha mencerna apa yang terjadi. Jaejoong melihat ayahnya berdarah dan ibunya menjerit-jerit sedih. “Eomma, appa tidak mati kan?” tanya Jaejoong penuh ketakutan.
Nyonya Kim tidak menjawab. Tidak lama, ada orang yang menawarkan mobilnya untuk membawa tuan Kim ke rumah sakit. Dengan sigap, kerumunan itu mengangkut tuan Kim ke dalam mobil. “Jaejoong, duduk di depan!” perintah nyonya Kim. Jaejoong pun menuruti perintah ibunya.
Jaejoong terus menengok ke belakang melihat ibunya yang terus menangis dan appanya yang susah bernafas. “Jaejoong-ah. Jadilah anak baik ya. Jaga eomma baik-baik. Kembangkan usaha appa. Jangan pernah menyerah. Appa sangat mencintaimu, Jaejoong-ah,” ucap tuan Kim untuk terakhir kalinya.
Nyonya Kim menangis semakin histeris, dipeluk suaminya erat-erat. Air mata Jaejoong menetes. Meskipun baru berusia 6 tahun, Jaejoong paham artinya kematian. Jaejoong paham arti ditinggal seorang Ayah. Jaejoong paham tanggung jawab apa yang akan diembannya.

++++++++

To be continued..