Ayooo baca part 3-nyaaa..
Hihihi🙂

PART 3

Oppa pasti sedang sibuk, pikirku. Dia belum
mengabariku sama sekali sampai saat ini. Tanpa memikirkan Kyuhyun Oppa, aku siap-siap untuk berangkat kuliah. Aku harus cepat-cepat karena aku harus makan siang dulu sebelum masuk kelas. Saat jam tanganku menunjukkan jam 12.30, aku segera berangkat ke kampus dan menuju kantin. Di sana sudah ada teman-temanku yang juga lagi makan siang.
“Hoi,” sapaku.
“Hoi,” balas Cinta, salah satu temanku. Dari semua temanku yang aku sapa, hanya Cinta yang membalasnya karena cuman dia yang sedang tidak mengunyah. “Mau makan apa lo?”
“Tumben nawarin. Lo mau bayarin makanan gue? Hahaha,” sahutku.“Gak lah. Maksud gue biar cepet. Kelas kita jam 1 tauu.”
“Iye, iye. Berisik lo ah.”
Sudah dua kali dalam satu hari aku diburu-buru dalam hal makan. Untuk kali ini, aku tidak peduli. Pokoknya aku harus kenyang dan makanan ini harus habis. Aku lalu membeli makanan dan memakannya dengan santai karena aku ingin menikmatinya.
Tiba-tiba kak Jason datang menghampiriku. “Hai, Sasa. Mau kuliah ya?” tanyanya padaku.
“Iya kak. Jam 1 nanti,” jawabku. “Kakak gak kuliah?”
“Udah selesai tadi. Sekarang mau bimbingan skripsi dulu,” sahut kak Jason. “Kuliahnya yang rajin ya biar cepet lulus.” Kak Jason mengelus kepalaku sebelum pergi bimbingan skripsi.
“Ahaai,” ledek Cinta begitu kak Jason pergi. “Kenapa gak jadian-jadian sih lo? Lama amat pedekate-nya. Bosen gue liatnya.”
“Sabar, Cin. Semua butuh proses,” sahutku membela diri.
Aku melihat jam 1 kurang dari 10 menit lagi, maka aku mempercepat makanku. Aku makan secepat kilat yang aku bisa karena aku tidak boleh telat masuk kelas. Soalnya kalo telat nanti gak boleh masuk, efeknya berkurang deh jatah absen ku. Hihihi.
Aku baru saja duduk di kelas saat Delia datang sambil bertanya, “Lo udah bikin tugas, Sa?”
“Tugas apa?” Aku malah bertanya balik kepada Delia.
“Aduuuh, nih anak. Ya tugas kita atuh. Bab 5. Udah belom?”
“Mampus. Lo kok gak ngasih tau gue sih?”
“Udah gue sms tau. Tapi gak nyampe-nyampe kayaknya. Mau gue telpon, juga gak nyambung-nyambung. Hape lo kenapa tuh?”
“Gak tahu. Tapi tadi pagi kak Jason sms gue nyampe tuh.”
“Lo aja gak tau apalagi gue, neng.”
Aku sudah tidak ingat hapeku mati atau hidup. Yang aku tahu sekarang aku harus menyalin tugas itu dalam waktu 5 menit. Tanpa pikir panjang, aku langsung menyalin tugas Delia dengan mengubah kata-katanya sedikit. Tanganku menulis dengan sangat cepat meskipun otakku gak tahu apa yang aku tulis dan gak peduli tulisan itu bagus atau tidak asalkan bisa terbaca.
“Ya Tuhan, lo kemana aja Sa? Tugas dari seminggu lalu baru lo kerjain 5 menit sebelum dosen datang?! Dasar gila lo,” tegor Cinta, temenku yang emang rajinnya gak ketulungan. Kalo dikasih tugas hari ini aku berani jamin tugasnya besok atau lusa udah selesai dengan rapi.
“Sibuk dia, Cin. Sama gawean barunya,” sahut Delia.
“Siapa? Siapa?” tanya Cinta penuh semangat penasaran.
“Itu tuh anggotanya Super junior yang namanya Kyochon ya atau Gochon.”
“Kyuhyun,” selaku.
“Ya itulah,” sahut Delia. “Ya yang itulah, Cin. Dari kemaren malam dia maen mulu sama si Gochon itu. Ampe hape mati aja dia gak tau. Hahaha.”
“Terus nasib si Jason gimana dong, Sa?”
“Grrr. Kalian tuh berisik amat sih. Gak tau orang lagi sibuk ngerjain tugas ya?” protesku. “Dan satu lagi namanya bukan Kyochon, Gochon atau Mercon. Namanya KYUHYUN. CHO KYUHYUN.”
Cinta dan Delia hanya tertawa-tawa lalu meneruskan pembicaraan mereka soal diriku yang sedang lupa tugas-tugas. Aku hanya pasrah mendengar omongan mereka. Aku gak bisa meninggalkan tugas ini sedetik saja karena bisa-bisa yang ada tugasnya gak selesai.
Tepat jam 1 lewat 15 menit, aku selesai menyalin tugas Delia dan menyadari kalo dosennya belom masuk. “Kok Bu Grace belom dateng ya? Biasanya jam 1 tet udah masuk dia. Kenapa ya?”
“Gak tau. Gak ada pemberitahuan apa-apa tuh,” jawab Cinta.
“Ah gaya lo, Sa! Demen aja kalo kagak ada kuliah,” celetuk Delia.
“Bukan gitu, cuman heran aja. Gue bertanya-tanya ada apa gerangan dengan Bu Grace sampe jam segini belom masuk. Tumbeeeeeen.”
“Yaudah. Lo sms aja ibunya. Tanya kenapa dia belom masuk padahal udah jam segini. Hahahahaha,” kata Delia lagi
“Ogah banget,” sahutku yang memang paling senang kalo tidak ada kuliah.
Kami bertiga mulai ngobrol-ngobrol dan tertawa-tawa sambil menunggu kedatangan Bu Grace tapi sampai jam setengah 2, dia belom juga datang. Entah menurut kebiasaan atau menurut perjanjian, kalo dosen tidak hadir dalam setengah jam dari jam mulainya kuliah, maka kuliah dianggap batal. Dan entah kenapa juga mahasiswa mengikuti keentahan itu. Aku melihat beberapa temanku sudah mulai membereskan tas mereka dan bersiap-siap pulang. Aku, yang memang paling senang kalo gak ada kuliah, ikut bersemangat membereskan tas.
“Pulang yuk,” ajakku pada Delia dan Cinta. “Udah jam setengah 2 ini.”
“Tunggu aja bentar lagi ya. Masih males berdiri gue,” jawab Cinta.
“Ayolahh., Yok! Yok!,” bujukku.
Aku sedang sibuk membujuk Cinta dan Delia untuk pulang saat tiba-tiba Bu Grace masuk kelas. “Maaf saya terlambat. Ambil kertas kalian. Sekarang saya akan kuis.”
Melihatnya yang masuk sudah telat setengah jam lalu mendengarnya akan mengadakan kuis sekarang juga, aku rasanya kesal setengah mati. Ya ampun deh ni dosen, udah telat pake kuis lagi. Grrr. Mampus aja deh gue.
Selesai kuis, Bu Grace menjalankan perkuliahan seperti biasa. Menegangkan dan membosankan. Aku yang sudah keburu kesal memutuskan untuk tidak mendengarkan sepanjang kuliahnya. Dengan duduk tegak, mata memandang serius dan pikiran kemana-mana, aku mengikuti kuliah.
Aku sengaja duduk tegak dan memandang bu Grace dengan serius seolah-olah aku tertarik karena biasanya bu Grace gak akan bertanya pada orang-orang yang bergaya seperti itu. Dia akan lebih cenderung bertanya pada yang terlihat malas-malasan. Hahahaha. Untuk kesekian kalinya, aku beruntung hari ini. Tidak ditanya-tanya oleh Bu Grace.
Begitu kuliah selesai, aku langsung teringat Kyuhyun Oppa yang belum membalas sms ku. Karena itu, aku langsung mengambil handphoneku dari dalam tas. Aku memeriksa tidak ada satupun sms masuk ke handphone ku dan aku langsung mencelos kecewa.
“Ayo pulang,” kata Delia. Dia lalu menggandeng tanganku dan Cinta. “Senangnya besok libuuuur. Kita jalan yuuuk.”
“Ayok. Kemana? Kemana?” tanya Cinta.
“Terseeeraaahh. Kita mainn bertiga sehariaaan! Hohohoho.”
Aku belum ikut berbicara dalam rencana jalan-jalan untuk besok. Aku masih kecewa karena Kyuhyun Oppa tidak membalas sms ku. Apa dia belum selesai meeting sampai tidak bisa membalas sms ku. Aku terus memikirkan Kyuhyun Oppa sampai Delia memecahkan pikiranku.
“Oi, ikut kan lo besok?” tanya Delia.
“Kemana?” jawabku.
“Jalan-jalan bertiga. Kemana aja jadilah.”
“Ok deh.”
Kami bertiga sudah sampai di parkiran. Seperti biasa, Delia akan mengantarkan aku dan Cinta sampai rumah masing-masing dengan selamat. Delia orang yang baik ya? Gak juga. Dia mau nganterin kita karena kosku deket dari kampus sedangkan rumah Cinta sekomplek sama dia. Kalo jauh dan muter-muter juga dia gak mau nganterin. Hahahahaaha..
Aku berdiri di samping pintu belakang, menunggu Delia membuka mobilnya. Baru Delia buka mobilnya, tiba-tiba ada suara cowok yang memanggilku dari belakang. “Sasa. Sasa. Yiaaa! Sasa!”
Aku menoleh ke asal suara itu, cowok putih yang memakai masker penutup hidung dan mulut. Dia berada di belakang kemudi mobil sambil mengenakan pakaian yang sama seperti tadi pagi. Gak perlu dua kali lihat aku langsung mengenalinya, “Oppa!”
Kyuhyun Oppa keluar dari mobilnya dan menghampiri Delia. “I’ll take Sasa home. Sorry.”
“Oke,” jawab Delia.
Mereka berdua tidak dapat berbicara banyak, karena mereka belum pernah kenal. Selain itu, mungkin Kyuhyun Oppa melakukannya dengan cepat supaya tidak terlihat orang. Selesai berbicara singkat dengan Delia, Oppa langsung menyuruh aku masuk ke mobilnya.
Baru aku mau masuk ke dalam mobil tiba-tiba kak Jason muncul. “Kamu mau kemana, Sa?” tanyanya.
“Pergi sebentar dengan Kyuhyun Oppa, kak,” jawabku. “Nanti aku kabari ya.”
“Oke,” sahutnya.
Aku lalu masuk ke dalam mobil yang segera melaju dengan cepat.
“Oppa! Kenapa kau gak balas sms ku?” tanyaku begitu aku duduk di dalam mobil.
“SMS apa?! Gak ada satu huruf pun kamu SMS ke aku!” seru Kyuhyun Oppa. “Yang ada, aku SMS kamu tuh gak masuk-masuk.”
Aku kaget mendengar suara Oppa yang agak meninggi. “Oppa, jangan marah-marah,” kataku.
Kyuhyun Oppa menghela napas panjang, “Selesai meeting, aku nyari kamu ke kamar gak ada. Aku cari ke seluruh hotel akhirnya. Restoran, toilet, coffee shop dan lain-lain. Untung aja petugas kasir di coffee shop bilang kamu keluar hotel.”
“Tapi aku udah sms kok ngasih tau aku pulang karena ada kuliah. Masa iya gak nyampe?” sahutku heran.
Aku lalu mengambil handphone dari tas dan mengecek sent items yang ada. Ternyata sms ku ke Kyuhyun Oppa belum terkirim. Aku lalu mengecek pulsaku. “Ya ampun. Mian, Oppa. Ternyata pulsaku habis. Mianhe, Oppa.”
Kyuhyun oppa hanya menghela napas panjang lagi. “Ya sudah. Tidak usah dibahas lagi. Kita akan ke bandara sekarang.”
“Bandara? Ngapain?”
“Super Junior harus kembali ke Korea, Sasa. I told you before.”
“Oh iya. Oppa juga?”
“Kamu tuh gampang lupa ya orangnya. Aku kan sudah bilang akan di sini dulu sebentar.”
“Oh iya. Maaf, Oppa.”
Aku senang sekali Oppa tidak ikut pulang ke Korea. Walaupun cuman sebentar, hal itu sangat berarti karena bisa-bisa baru tahun depan ketemu lagi sama Oppa kalo beruntung. Kalo sial ya bertahun-tahun lagi lah. Hahahaha.
Belum merencanakan pergi kemana-mana bersama Kyuhyun Oppa tapi aku membayangkan macam-macam. Bagaimana rasanya pergi jalan-jalan sama artis ya? Apa orang-orang akan mengenalinya ya?

-to be continued-