Love in the ice

@gurlindah93

Cast:

Jung Yunho

Park MinAh

etc

 

“MinAh, ayo cepat nanti kita terlambat” kata Han Jieun sahabatku “Ne, tunggu” kataku menghabiskan milkshake cokelatku.

Annyeong, Park MinAh-imnida, mahasiswi fakultas hukum tingkat akhir di sebuah universitas ternama di Seoul, sudah 5 bulan ini aku dan sahabatku Han Jieun magang di Jung & partners law firm sebuah firma hukum terbaik milik Jung Byunghee salah satu pengacara ternama di Korea. Anak tertua Jung Byunghee yaitu Jung Yunho adalah kekasihku selama 10 bulan ini, dia adalah tetanggaku  di rumah sekaligus seniorku di kantor yang kini sedang mengambil S2 kenotariatan di Universitas yang sama denganku. Tapi jangan bayangkan karena bertetangga, kuliah dan magang di tempat yang sama aku dan  kekasihku bisa bermesraan setiap saat karena pada kenyataannya kami sangat jarang bertemu, catat dengan caps lock SANGAT JARANG. Setlah kami berpacaran Yunho sibuk dengan kuliah dan pekerjaanya dan aku sibuk dengan tugas akhirku yang menyita waktu dantenaga, bisa dibilang dalam seminggu kami hanya bertemu 3 kali yaitu saat briefing dan evaluasi pegawai. Kencan? Dalam 10 bulan kami baru berkencan 8 kali saja, miris bukan? Jika itu belum cukup ada hal lain yang membuatku semakin terpuruk, tidak ada orang yang tau hubungan kami selain Han Jieun sahabatku dan Yoo Minhyuk sahabat Yunho, keluarga kami juga bisa dibilang tidak tau hubungan kami walau mereka tau kalau kami sangat dekat dan sudah mencium adanya hubungan asmara di antara kami. Alasan disembunyikannya hubungan kami sebenarnya cukup sederhana, appaku adalah pemilik sebuah agency yang sudah mengorbitkan banyak artis dan penyanyi terkenal sedangkan appanya adalah pengacara yang biasa menangani permasalahan artis-artis di Korea termasuk artis asuhan agency appaku. Yunho tidak ingin orang-orang mengira kami berpacaran untuk memudahkan hubungan bisnis orang tua kami, walaupun hubungan bisnis orang tua kami sudah terjalin jauh sebelum kami berpacaran. Dengan berat hati aku menuruti kemauan Yunho karena tidak ingin berdebat dengannya.

“Yaa kalau menyetir lihat jalan dong, jangan melamun” kata Jieun panik, aku baru sadar kalau mobilku berada di jalur yang salah “Mianhae” jawabku sambil nyengir. “Kamu pasti sedang memikirkan Yun oppa ya?” tebak Jieun, kadang-kadang aku takut dengan kemampuannya membaca isi pikiranku “Hmmmm” jawabku pendek “Bagaimana hubunganmu dengannya?” Jieun bertanya sambil berdandan di mobil “Hhhhhh.. Well, minggu ini kami belum bertemu sama sekali karena dia sedang pergi ke Busan bersama ahjussi untuk mengurus jual beli tanah di sana. Jangan tanya aku kapan dia pulang karena dia sendiri tidak tau kapan akan pulang” aku menjawab dengan nada yang berat. “Tapi kamu tetap akan mempertahankan hubungan ini kan?” pertanyaan Jieun menohok hati dan pikiranku “Molla” jawabku sambil memarkir mobil di halaman kantor.

Setelah absen di lantai satu kami langsung menuju lift untuk naik ke lantai 3, di dalam lift kami bertemu Minhyuk oppa “Annyeong oppa” sapa kami “Annyeong MinAh, Jieun” balas Minhyuk oppa dengan senyum di wajahnya “Oppa, Yun oppa sudah datang?” tanya Jieun tanpa basa basi, aku melotot ke arahnya “Mwo? Molla, tapi setauku hari ini dia akan pulang karena Byunghee ahjussi ada pekerjaan lain di Seoul. MinAh tidak tau?” kata Minhyuk oppa yang membuatku kesal, bagaimana mungkin Yunho tidak memberi tau kalau dia akan pulang hari ini “Mollayo oppa” sahutku pendek dan dingin. Minhyuk dan Jieun hanya bisa saling bertatapan penuh arti.

Aku dan Jieun memasuki ruang magang junior yang diperuntukkan bagi pegawai magang yang baru magang di bawah 6 bulan, ternyata Yunho sudah di sana sedang berbincang-bincang dengan Jung Sooyeon, aku hanya melirik mereka dan langsung duduk tanpa berkata apa-apa. Oke ternyata Yunho sudah datang dan tidak memberi kabar padaku, jadi apa sebenarnya arti Park MinAh bagi Jung Yunho? Tanpa berkata apa-apa aku langsung menyalakan komputer dan mengerjakan pekerjaanku, tapi sayangnya pikiranku ada di meja Sooyeon. Semua orang di dunia tau kalau Sooyeon sangat menyukai Yunho sejak semester 1, aku sudah pernah mengatakan pada Yunho untuk menjaga jarak dengan Sooyeon tapi Yunho tidak berubah dan selalu saja bersikap seolah-olah memberi harapan. Entah apa yang sekarang mereka obrolkan yang jelas Sooyeon terlihat bahagia dan tidak henti-hentinya tersenyum, sedangkan Yunho terlihat santai tapi kadang-kadang melirik ke arahku. Aku pura-pura tidak peduli dengan mereka dan berusaha konsentrasi pada pekerjaanku.

Tidak lama kemudian Yunho pamit pada Sooyeon, sebelum melangkahkan kaki keluar dari ruang magang dia sempat melihat ke arahku dan berbisik “Bogoshipo” aku yang masih kesal dengan perbuatannya membuang muka. “Yunho hyung nampaknya tertarik pada Sooyeon” celetuk Dongjoon teman magangku, Sooyeon senyum-senyum malu tapi nampak sekali dia setuju dengan celetukan Dongjoon “Yaa Kim Dongjoon, jaga bicaramu” bentak Jieun. Sekarang teman-temanku tertawa semua melihat tingkah laku Jieun, tidak heran banyak yang mengira Jieun menyukai Yunho karena dia yang paling emosional jika Yunho digosipkan dengan wanita lain padahal aku tau dia hanya ingin menjaga perasaanku. Aku menatap Jieun dan memberi pandangan “Biarkan saja” tapi Jieun membalas dengan pandangan “Aku tidak bisa membiarkannya”, aku hanya bisa pasrah dan kembali ke pekerjaanku walau pikiranku tidak tenang.

Triing ‘Bogoshipo jagiya, mianhae aku tidak memberi tau kepulanganku, aku juga baru tau tadi pagi kalau ternyata aku dan appa pulang hari ini. Saranghae’ seperti biasa jika merasa bersalah Yunho akan mengirimkan BBM permintaan maaf kemudian akan melupakannya seolah-olah tidak ada kesalahan yang dia perbuat ‘Tapi nampaknya kamu sudah mengabarkan kedatanganmu pada Jung Sooyeon’ sindirku ‘Ani, tadi dia hanya bertanya tentang kasus yang sedang dia tangani saat aku baru datang ke kantor dari airport’ balasnya. Aku tidak membalasnya, percuma saja mendebatnya karena dia selalu punya alasan untuk membenarkan perbuatannya.

Malamnya sampai di rumah aku langsung masuk kamar dan menangis, aku sangat mencintai Jung Yunho tapi dia selalu saja membuatku menangis. “Masuk saja ke kamarnya” kata eomma dari luar kamar “Ne, gamsahamnida ahjumma” aku mengenal suara itu, karena tidak ingin bertemu dengannya aku pura-pura tidur. Aku mendengar pintu kamarku dibuka dan seseorang berjalan mendekatiku lalu duduk di pinggir tempat tidurku, aku sangat mengenal langkah kaki dan bau tubuh ini. Yunho membelai rambutku dan mengusap air mataku “Mianhae jagiya, jeongmal mianhae. Aku selalu membuatmu menangis. Saranghae” bisik Yunho kemudian dia menciumku, aku berusaha keras menahan air mataku agar tidak keluar. Sekitar 10 menit Yunho duduk di tempat tidurku dan membelai rambutku lalu dia beranjak meninggalkan kamar, setelah Yunho menutup pintu kamar aku terbangun dan menangis entah sampai berapa lama yang jelas ketika bangun tidur mataku sudah bengkak seperti mata panda. “Eonni, matamu kenapa? Bertengkar dengan Yunho oppa?” tanya Minyoung dongsaengku di ruang makan “ Yaa Park Minyoung” bentakku sambil melotot, Minyoung hanya tertawa, “Yaa jangan menggoda eonni, dia sedang patah hati” Jungsoo oppa semakin membuat runyam keadaan. Aku melotot dan mengomel pada mereka berdua tapi mereka berdua malah tertawa melihatku marah-marah, akhirnya aku memutuskan untuk ke kampus meskipun sekarang masih jam 8 yang artinya baru 2 jam lagi perkuliahan akan dimulai.

***

Setelah memarkirkan mobil di dekat perpustakaan aku memasuki perpustakaan untuk menenangkan diri, untungnya perpustakaan masih sepi jadi aku bisa memilih tempat duduk yang paling terpencil setelah mengambil beberapa buku. Baru beberapa menit membaca tiba-tiba Yunho menelepon “Yoboseyo” “Yoboseyo MinAh, aku melihat mobilmu di tempat parkir. Bisa menemuiku sekarang di ruang seni?” tanya Yunho “Ne, tunggu” jawabku pendek. Setelah mengembalikan buku yang belum sempat kubaca aku langsung menuju ke ruang seni tempat favorit kami berdua, di sana jarang orang yang masuk kecuali untuk berlatih paduan suara yang sangat jarang dilakukan. Biasanya aku dan Yunho mengobrol sambil menyanyi diiringi piano yang dimainkan oleh Yunho walaupun suara kami pas-pasan. Di sana Yunho sudah datang sambil memainkan piano lagu favorit kami berdua Endless Love “Yun..” panggilku “Jagiya..” katanya lalu memelukku dengan cukup lama. “Ada apa?” tanyaku setelah Yunho melepaskan pelukannya “Aku minta maaf kemarin tidak memberi kabar kalau aku sudah pulang ke Seoul. Jeongmal mianhae” katanya sambil menatapku, aku menghela nafas panjang “Selain itu tahukah kamu apa yang membuatku kesal?” aku bertanya dengan nada datar karena tidak yakin Yunho mengerti apa yang kumaksud “Mwo? Apa?” Yunho bertanya persis seperti yang sudah kuduga. “Jung Sooyeon” sahutku pendek “Ada apa dengan dia?” aku tidak tau sebenarnya apa yang ada di pikiran Yunho hingga bertanya seperti itu “Apa kamu tidak pernah sadar kalau dia menyukaimu? Dan kamu selalu memperlakukannya dengan sangat manis, tidak taukah kamu dengan perlakuanmu yang seperti itu dia akan merasa kamu memberinya harapan suatu saat kamu akan membalas perasaannya” aku menjelaskan dengan suara bergetar “Tapi aku tidak bermaksud memberinya harapan, aku memperlakukannya sama dengan hoobae yang lain. Lagipula kamu orang yang paling tau kalau aku tidak akan pernah menyukainya” Yunho masih merasa tidak ada masalah dengan perlakuannya ke Sooyeon. Tanpa kusadari air mataku mengalir “Jung Yunho kenapa kamu selalu membuatku menangis?” Yunho terkejut lalu menatapku dengan penuh penyesalan, aku tau dia ingin memelukku tapi aku menolaknya. “Apa aku sudah menyakitimu terlalu dalam? Terlalu sering membuatmu menangis” tanya Yunho dengan nada sedih yang makin membuatku menangis, aku tidak bisa menjawabnya hanya tangisan yang terdengar dari mulutku.

“Mianhae MinAh, mianhae. Mungkin kamu tidak akan menangis lagi kalau aku tidak berada di sisimu, karena ternyata aku hanya bisa membuatmu menangis. Jadi kurasa akan lebih baik kalau aku pergi dari sisimu” kata Yunho dengan suara bergetar lalu mengecup keningku dan meninggalkanku sendirian di ruang seni, yang bisa kulakukan hanya menangis dan menangis. Lalu aku memutuskan untuk bolos kuliah karena percuma saja aku kuliah dengan keadaan acak-acakan seperti ini, aku memacu mobil dengan ngebut ke pinggiran sungai Han. Rencananya aku akan mencari tempat terpencil untuk menangis tapi kesedihanku rupanya tidak tertahankan, aku terduduk di samping mobilku dan menangis sejadi-jadinya. Semua kenangan tentang Jung Yunho seperti berputar kembali di ingatanku.

 

15 tahun yang lalu

Aku tersesat! Baru kemarin aku dan keluargaku pindah ke perumahan mewah ini setelah bisnis appa berkembang pesat, seharusnya aku tidak pergi dari rumah setelah bertengkar dengan oppaku seperti yang biasa kulakukan saat masih tinggal di rumah lama. Aku sangat takut karena akhir-akhir ini banyak berita tentang penculikan anak SD di tv, dengan memberanikan diri aku menuntun sepedaku berusaha mencari rumahku “Yaaa” panggil seseorang di belakangku, aku tidak menoleh malah mempercepat langkahku “Paboya seharusnya aku tidak turun dan menuntun sepedaku” kataku dalam hati penuh penyesalan. “Yaaa” panggilnya lagi kali ini sambil menepuk bahuku, kemudian aku menoleh dan refleks berteriak “Kyaaaaaaaaa!!!” “Hei agasshi, jangan berteriak. Aku orang baik” katanya balik berteriak, mendengar teriakannya aku malah menangis “Huwaaaaaaa aku takut” kataku sambil menangis, berharap dia benar-benar orang baik. “Yaaa dasar yeoja menyusahkan saja, tenang dulu aku ingin membantumu, mianhae kalau aku sudah membuatmu ketakutan” kata-katanya membuatku berhenti menangis dan menatapnya. Ternyata dia seorang bocah lelaki yang umurnya tidak terlalu jauh denganku, wajahnya sangat menarik dan tampan, dari pakaian dan sepedanya aku tau dia anak orang kaya. “Membantu apa?” tanyaku “Dari tadi aku melihatmu bingung melihat jalan, lalu aku berpikir mungkin kamu tersesat dan kuputuskan untuk membantumu menemukan rumahmu. Jung Yunho-imnida, umurku 10 tahun” katanya sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya “Park MinAh-imnida, aku 9 tahun” kataku menyambut uluran tangannya yang hangat. “Ayo oppa bantu mencari rumahmu, kamu tau alamat rumahmu?” tanyanya, aku menggeleng “Ingat rumahmu seperti apa?” tanyanya lagi, aku mengangguk. “Kajja” katanya lalu berjalan di depanku, entah kenapa aku mempercayainya dan mengikutinya.

 

10 tahun yang lalu

‘Park MinAh, turunlah, aku di depan rumahmu’ sms dari Yunho membuatku senang dan langsung keluar menemui Yunho “Ada apa oppa?” tanyaku “Kajja, aku mau mengatakan sesuatu” ajaknya, aku mengikutinya berjalan ke taman di perumahan kami. Sampai di sana kami duduk di ayunan favorit kami “Jadi ada apa oppa?” tanyaku “Park MinAh, Lee Hyorin menerima ajakanku kencan Sabtu besok” katanya dengan riang “Mwo? Hyorin eonni?” tanyaku, aku tau Yunho sudah lama menyukai Lee Hyorin jadi wajar saja kalau Yunho sangat gembira tapi entah kenapa aku malah menangis. “Wae? Kenapa kamu menangis? Tenang saja oppa tidak akan meninggalkanmu” kata Yunho berlutut di hadapanku sambil membelai rambutku, tapi tangisku semakin keras “Ssssstt uljima, begini saja kalau oppa jadian dengan Hyorin kamu boleh memanggilku Yunho” katanya berusaha menghentikan tangisku karena dia tau aku sangat ingin memanggilnya Yunho saja. “Jinjja?” tanyaku setelah tangisku mereda “Ne, janji” katanya mengulurkan jari kelingkingnya, aku mengulurkan jari kelingkingku dan mengaitkannya ke jari kelingking Yunho. Aku tau seharusnya aku ikut bahagia jika Yunho bahagia tapi entah kenapa aku tidak rela melihatnya bersama gadis lain, mungkin karena aku sudah terlalu tergantung padanya. Beberapa hari kemudian Yunho masuk ke kamarku dengan wajah kusut lalu berbaring di tempat tidurku “Ada apa oppa? Atau Yunho?” tanyaku menggodanya, aku tau hari ini dia menyatakan perasaannya pada Hyorin dan yakin kalau mereka sudah jadian sekarang walaupun itu sangat menyakitkanku. “Hyorin menolakku, dia kembali pada mantan pacarnya kemarin” katanya sedih, aku tidak bisa melihatnya bersedih dan langsung menangis “Yaa kenapa kamu yang menangis? Seharusnya aku kan yang menangis” katanya berusaha tersenyum “Mianhae oppa, mianhae” kataku sambil tersedu-sedu “Andwae, uljima. Nan gwenchana” katanya berusaha meyakinkanku sambil membelai-belai rambutku, “Ohya, kamu boleh tetap memanggilku Yunho saja, tanpa oppa” katanya “Mwo? Apa oppa yakin?” tanyaku terkejut “Ne” katanya dengan senyum di wajahnya. “Yunho” panggilku  dengan nada sok “Aneh” komentarnya, lalu kami berdua sama-sama tertawa.

 

6 tahun yang lalu

“Yun, bagaimana hasilnya? Kamu diterima di fakultas hukum?” tanyaku pada Yunho di rumahnya. Yunho sangat ingin mengikuti jejak ayahnya menjadi ahli hukum dan dia bercita-cita masuk ke fakultas hukum terbaik di negeri ini oleh sebab itu aku ikut tegang menunggu pengumuman yang dilihat di internet, wajahnya sangat tegang tapi tidak lama kemudian dia tersenyum bahagia “I did it. I’m a law student now” katanya sambil memelukku. Aku merasa terlalu bahagia hingga menangis “Congratulation Yun, congratulation. One step closer to reach your dream” kataku memberi selamat padanya “Yaaa don’t cry Min, you should be happy for me” Yunho menghapus air mataku. “Sorry, i’m just too happy for my best friend” aku tersenyum “Thank you my darling Park MinAh” katanya dengan senyum manisnya “Yunho-ssi, i promise you that i’ll be a law student at your faculty next year. Keep my promise” janjiku sambil menatapnya dan mengulurkan jari kelingkingku “Really? I’ll keep your promise” katanya senang kemudian mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingkingku lalu kembali memelukku.

 

5 tahun yang lalu

Aku deg-degan menunggu pengumuman hasil penerimaan mahasiswa baru, setelah berdoa aku membuka internet dan melihat namaku ada di daftar nama mahasiswa baru fakultas hukum. Hal yang pertama kulakukan adalah menelepon Yunho yang sedang berlibur bersama keluarganya ke Jepang “Yoboseyo, bagaimana hasilnya?” tanya Yunho cemas begitu mengangkat telponku “See you at campus” kataku sambil tertawa “Chukkae, i’m so glad” teriaknya, mendengar Yunho sangat bahagia aku menangis. “Yaaa uljima. Why you always crying? Let’s make a party after i comeback to Korea, deal?” tawarnya agar aku tidak menangis “Deal! I love party!” kataku sambil mengusap air mataku.

 

10 bulan yang lalu

“Apa yang ingin kamu bicarakan Yun?” tanyaku di taman perumahan kami, entah kenapa Yunho ingin bertemu di taman saat musim dingin seperti ini, tiba-tiba Yunho berlutut di hadapanku, memandangku lekat dan dalam “Saranghae” bisiknya, butuh waktu cukup lama bagiku untuk mencerna kata-katanya “Mwo?” aku masih tidak paham. “Park MinAh, i love you. Jung Yunho loves you” kali ini dia mengatakannya dengan lebih mantap dan tegas, lalu aku terisak “I love you too Jung Yunho, neol saranghae” kataku sambil menangis. Yunho mengusap air mataku lalu menciumku dengan sangat manis, ciuman pertamaku. Mungkin aku harus menunggu 23 tahun untuk merasakan ciuman pertama dengan orang yang kucintai, tapi kini aku merasa kalau ternyata penantianku tidak sia-sia karena Jung Yunho yang menciumku.

Aku tersenyum mengingat kenangan-kenanganku dengan Yunho, kalau dipikir-pikir dia selalu membuatku menangis walaupun banyak juga kebahagiaan yang aku rasakan bila bersamanya. Mengingat itu aku kembali menangis, rasanya di hatiku tersimpan sebongkah es yang bisa mencair sewaktu-waktu menjadi air mata karena Jung Yunho, selalu karena dia.

“Agasshi” panggil seseorang, awalnya aku tidak menghiraukannya tapi kemudian dia menepuk bahuku “Agasshi, gwenchanayo?” tanyanya. Dia adalah namja yang berwajah tampan, berbadan tinggi besar, memakai kaos tanpa lengan yang memperlihatkan otot lengannya, dan celana training, keringat yang membasahi sekujur tubuhnya menunjukkan bahwa dia baru selesai berolah raga. “Nan gwenchana” kataku “Tapi kamu dari tadi menangis sampai orang-orang melihatmu” kata-katanya membuatku mengedarkan pandangan ke sekelilingku, benar saja semua orang sedang memperhatikanku yang duduk di rumput sambil menangis. “Yaaa apa salah kalau gadis yang sedang patah hati menangis?” bentakku, namja itu tersenyum simpul  “Cih, aku paling tidak suka dikasihani” batinku, lalu aku segera masuk mobil dan pulang. Yang kuinginkan saat ini hanya berbaring di tempat tidurku yang paling nyaman dan melupakan namja bernama Jung Yunho.

***

Besoknya aku bangun dengan mata yang luar biasa bengkak, eommaku hanya diam melihat keadaanku, sedangkan oppa dan dongsaengku hanya tertawa dan menggodaku “Waaaahhh MinAh kenapa dengan matamu? Siapa yang berani memukulimu sampai seperti itu?” kata Jungsoo oppa “Oppa! Kasian eonni, mata dan hatinya sama-sama terluka” timpal Minyoung lalu mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Aku sedang malas berdebat jadi aku membiarkan mereka tertawa sepuasnya “Yaaa Minyoung, kamu nanti ada jadwal latihan sepulang sekolah?” tanyaku sambil mengunyah roti, hari ini tidak ada jadwal kuliah dan magang jadi aku memutuskan untuk mengantarkan dongsaengku training di gedung agency milik appaku. Minyoung adalah seorang trainee di agency appaku yang sebentar lagi akan debut, dia yang paling mempunyai bakat seni diantara kami bertiga memang bercita-cita menjadi artis sejak kecil jadi ketika appa memutuskan membangun sebuah agency artis Minyounglah yang paling gembira. “Eonni mau mengantarkanku? Asyik..” Minyoung mencium pipiku untuk mengekspresikan rasa senangnya, “Yaa Park Minyoung” aku melotot padanya “MinAh kenapa kamu tidak menawarkan diri untuk mengantarku ke rumah sakit?” tanya oppaku “Mengantarkan dokter ke rumah sakit? Malas” kataku lalu kabur ke kamar. Di dalam kamar aku menyalakan tv tapi aku memikirkan Jung Yunho, jujur aku merindukannya. Triing, ada BBM dari namja yang sedang kupikirkan ternyata ‘Park MinAh gwenchanayo?’ “Yaaa untuk apa bertanya keadaanku, sudah jelas aku tidak baik” semprotku pada hpku yang tidak bersalah, triing ‘Mianhae’ tulis Yunho tidak lama kemudian, kenapa dia hanya bisa meminta maaf? Air mataku sudah hampir jatuh tapi aku menahannya, aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan menangis lagi untuk Yunho, tidak ada lagi air mata yang tumpah karena Yunho. Lalu aku memutuskan untuk tidur setelah mematikan hpku sambil menunggu waktu menjemput dongsaengku dan mengantarkannya latihan.

Jam 3 sore aku mandi lalu memilih memakai baju santai, tidak lupa memakai kacamata hitam untuk menutupi mata bengkakku dan bergegas menjemput Minyoung di sekolah yang tidak jauh dari rumahku. Ternyata Minyoung sudah menunggu di gerbang sekolah “Sudah dari tadi pulangnya?” tanyaku “Aniyo, baru saja. Eonni memang pintar tidak membuatku menunggu. Hehee” katanya jahil “Dasar Park Minyoung. Kajja” kataku lalu mengemudikan mobilku menuju gedung JYP milik appaku. “Eonni, eonni beneran bertengkar sama Yunho oppa? Eonni tidak berteman lagi dengan Yunho oppa?” tanyanya takut-takut “Molla, jangan tanyakan itu lagi” kataku tidak melepaskan pandangan dari jalan “Oooohh” sahut Minyoung, lalu kami terdiam selama perjalanan.

30 menit kemudian kami sampai di gedung JYP, setelah memarkirkan mobil aku mengikuti Minyoung masuk ke gedung yang sudah lama tidak kudatangi ini. “Annyeong” sapa beberapa namja yang nampaknya baru selesai latihan “Annyeong Taecyeon oppa, Junsu oppa, Nickhun oppa” balas Minyoung. “Nugu?” tanya salah seorang di antaranya yang rasanya pernah kulihat “Aaaahhh nae eonni, Park MinAh. Eonni kenalkan mereka 2PM oppadeul, Taecyeon oppa, Junsu oppa, Nickhun oppa” kata Minyoung sambil menunjuk namjadeul itu satu persatu “Ternyata yeoja yang sedang patah hati” kata namja bernama Taecyeon menggodaku “Mwo?” aku melotot padanya. “Eonni dan oppa sudah bertemu?” tanya Minyoung “Ne” jawabku dan Taecyeon bersamaan “Ternyata dunia ini sempit ya” kata Taecyeon sambil tersenyum “Ne” kataku “Ayo eonni aku mau latihan. Permisi oppadeul” pamit Minyoung, aku membungkukkan badan pada mereka lalu mengikuti Minyoung, di ruang latihan sudah berkumpul 4 teman satu grup Minyoung yang menunggu leadernya datang, entah apa yang dipikirkan oleh mereka sampai menunjuk dongsaengku sebagai leader.

Setelah 4 jam latihan tanpa henti Minyoung dan teman-temannya beristirahat untuk makan malam, mereka memilih makan di cafe di dalam gedung JYP yang ternyata sudah penuh oleh artis, trainee, dan trainer yang sedang makan malam “Minyoung” panggil seseorang “Junho oppa” balas Minyoung lalu menghampirinya “Annyeong, mencari tempat duduk? Bergabunglah di sini, masih ada tempat kosong yang cukup buat kalian berenam” kata Junho ramah dan Taecyeon ternyata ada di sebelahnya tersenyum padaku, mereka berdua duduk di meja makan yang seharusnya cukup untuk 10 orang “Gomawo oppadeul” kata Minyoung lalu duduk di sana diikuti olehku dan teman-teman Minyoung. “Jadi kapan kalian debut?” tanya Taecyeon “12 hari lagi oppa, aku deg-degan” jawab Jiyeon sang magnae”Ne, kami cemas dengan penerimaan masyarakat” Minyoung menimpali “Lalu MinAh-ssi, kenapa tidak debut sebagai artis juga?” tiba-tiba Taecyeon bertanya hal yang paling menggelikan dalam hidupku “Mwo? Kamu bercanda ya?” jawabku, Minyoung tertawa terbahak-bahak “Eonni jadi artis? Oppa belum pernah mendengar kalau dia bernyanyi sama Yunho oppa sih, Yun oppa suaranya bagus, eonni suaranya ancur” celetuk Minyoung yang membuatku terdiam. Karaoke dengan Yunho memang salah satu hobby kami, aku makan dengan tidak berselera.

“Eonni aku latihan lagi ya, 1 jam lagi jemput aku di ruang latihan. Kajja” ajak Minyoung pada teman-temannya meninggalkanku dengan 2 artis ini “Yaaa Park Minyoung” tapi sepertinya dia tidak mendengarku “Permisi MinAh-ssi aku harus menemui manajer hyung. Hyung aku duluan” tiba-tiba Junhopun meninggalkan kami berdua. Dengan bete aku meminum milkshake cokelatku “Jadi, yang sudah membuatku menangis adalah Yunho?” pertanyaan Taecyeon membuatku kaget “Ne” jawabku pendek, mungkin Tacyeon merasa sudah menyinggungku sehingga dia melontarkan pertanyaan lain. Akhirnya selama 1 jam kami mengobrol, ternyata dia namja yang menyenangkan sehingga aku tidak berpikir dua kali untuk bertukar nomer hp dengannya.

***

Sudah 2 minggu aku dan Taecyeon intens berkomunikasi, kami mengobrol berbagai hal karena kami punya banyak kesamaan. Aku berpikir mungkin sudah saatnya aku melangkah maju melupakan masa lalu, tapi setiap aku berusaha melupakannya nama Jung Yunho malah terlintas di pikiranku dan membuatku menangis “Yaaa kenapa kamu selalu muncul? Sudah seharusnya aku melupakanmu, seharusnya aku bisa membuka hatiku untuk namja lain” kataku terisak sambil menatap foto kami berdua di meja riasku. Mungkin ini juga salahku sendiri karena aku tidak bisa memindahkan barang-barang yang berhubungan dengannya, mulai boneka, foto, gantungan hp, tapi sudah kucoba berpuluh-puluh kalipun aku tidak sanggup mengenyahkan barang-barang itu seperti aku mengenyahkan namanya dari hatiku. Sekuat apapun aku mencoba, sekeras apapun aku mencari kesalahannya agar aku membencinya, tapi hatiku sudah membeku karena Jung Yunho dan hanya dia yang bisa mencairkannya.

“MinAh” panggil eomma sambil mengetuk pintu kamarku “Ne” jawabku sambil cepat-cepat menghapus air mataku dan membuka pintu “Tolong antarkan lasagna buatan eomma ke rumah Yunho, eommanya ingin mencicipinya” kata eomma sambil tersenyum bangga karena semua orang mengakui kalau eomma pintar memasak “Kenapa bukan Minyoung?” tolakku, eomma benar-benar tidak mengerti kalau anaknya ini sedang tidak ingin ke sana. “Park MinAh, kalau kamu sedang bertengkar dengan Yunho cepatlah berbaikan seperti biasanya, jangan sok jual mahal. Kalian tidak boleh bertengkar terlalu lama karena eomma tau kalian sangat tergantung satu sama lain, kamu tidak bisa hidup tanpa Yunho begitupun sebaliknya. Sudah cepatlah ganti baju dan antarkan ke sana” perintah eomma lalu meninggalkanku termenung di depan kamar, eomma mengerti perasaanku. Dengan terpaksa aku mengganti baju tidurku dengan celana pendek dan jumper lalu pergi ke rumah keluarga Jung, rasanya sudah lama sekali aku tidak ke sana.

Ting tong “Nugu?” tanya orang di dalam rumah Yunho “Park MinAh-imnida” jawabku melalui interkom, tidak lama kemudian pintu pagar terbuka dan aku langsung masuk ke dalam rumah. Ahjumma di rumah Yunho sudah membukakan pintu untukku “Nyonya Jung sudah menunggu agasshi di taman belakang” katanya ramah “Ne, gomawo” aku cepat-cepat ke taman karena semakin cepat bertemu eomma Yunho semakin cepat aku meninggalkan rumah ini. Aku menemukan eomma Yunho sedang bermain dengan anjingnya “Annyeong..” sapaku, begitu melihatku dia langsung memelukku “MinAh! Lama sekali kamu tidak main-main ke sini” katanya dengan nada kecewa “Joesonghamnida ahjumma, saya sedang sibuk” kataku beralasan “Bohong, pasti bertengkar dengan Yunho ya? Aiissshh bocah itu, sudah kubilang jangan menyakiti hatimu dan membuatmu menangis eh dia malah sering sekali melakukannya. Tapi ahjumma tau, kalian tidak bisa hidup tanpa satu sama lain. Sebentar, ahjumma panggilkan Yunho. Yunho…!!” teriak ahjumma lalu meninggalkanku sendirian tanpa mendengarkan penolakan dariku. Aku sempat berpikir untuk pergi diam-diam tapi itu akan sangat tidak sopan mengingat hubungan baik keluarga kami “Annyeong” sapa Yunho yang langsung membuatku deg-degan, ya Tuhan kenapa aku masih saja deg-degan hanya dengan mendengar suaranya. “Annyeong” balasku lalu menatapnya yang sudah duduk di sampingku “Gwenchana?” tanyanya, entah apa deskripsi kata baik-baik saja bagi Yunho tapi aku memutuskan untuk berbohong “Nan gwenchana” lalu kami sama-sama terdiam.

Kriing kriing Taecyeon meneleponku “Yoboseyo” sapaku “Yoboseyo, sedang apa?” tanyanya “Aku sedang di rumah Yunho mengantarkan lasagna buatan eomma” jawabku jujur “Oooohh oke, i’ll call you later” katanya lalu menutup telponnya. “Nugu?” tanya Yunho “Nae chingu, dia artis di agency appa. Minyoung cukup dekat dengannya, tapi tidak ada hubungan spesial di antara kami” jawabku, aku tidak ingin Yunho salah paham, lalu kami berdua kembali terdiam. Setelah beberapa saat aku memutuskan untuk pulang karena sudah terlalu malam dan percuma saja aku di sana karena kami berdua hanya diam, dalam perjalanan pulang aku kecewa karena sebenarnya aku ingin berbicara dengannya, memeluknya, menciumnya tapi kemudian aku sadar kalau aku sudah tidak punya hak untuk melakukan semua itu.

***

Hari ini ada perayaan ulang tahun agency appa yang kesepuluh, semua artis, trainee, trainer, staff, dan semua pegawai hadir di restoran mewah yang sudah dipesan oleh appa. Aku datang dengan mini dress berwarna merah maroon dengan ankle boots yang baru kubeli kemarin, di sana sudah ramai sekali saat aku dan keluargaku sampai “Annyeong yorobeun, tuan Park sudah datang  mari kita mulai acara perayaan 10 tahun ulang tahun agency ini. Baik pertama-tama kita dengarkan sambutan dari tuan Park” sekretaris Cho yang bertindak sebagai mc mempersilahkan appaku naik ke panggung. Setelah beberapa sambutan akhirnya saat yang paling kutunggu datang yaitu jamuan makan malam, karena dihidangkan secara buffet aku mengambil beberapa makanan yang kira-kira enak sekaligus “Agasshi, banyak sekali makanmu. Tidak takut gemuk?” bisik seseorang di telingaku “Heeyyy dasar, aku tidak takut gemuk” kataku pada Taecyeon “Ne, arra” sahutnya sambil mengangguk-angguk, lalu kami mengobrol sebentar sebelum dia tampil. Setelah semua artis dan trainee melakukan performance saatnya DJ menghentak lantai dansa, awalnya aku berdansa dengan Jungsoo oppa dan Minyoung tapi mereka meninggalkanku dan aku berdansa dengan Taecyeon, dia memeluk pinggangku yang membuatku teringat saat-saat clubbing pertamaku denga Yunho. Aiiissshhh namja itu lagi, akhirnya aku memutuskan untuk balas memeluk Taecyeon dan berusaha melupakan bayangan Yunho.

Karena merasa lelah aku memutuskan untuk mengambil minum “Mau berjalan-jalan sebentar?” ajak Taecyeon, aku mengangguk dan mengikutinya yang menggandeng tanganku dengan erat. Kami berhenti di halaman belakang restoran yang sepi lalu duduk-duduk di sana, kami hanya duduk tanpa berkata apa-apa. Taecyeon menyampirkan jasnya ke bahuku karena mungkin dia tau kalau aku kedinginan kemudian tiba-tiba dia memegang daguku dan mendekatkan bibirnya ke bibirku, oke MinAh saatnya melangkah maju pikirku. Aku menutup mataku dan sudah siap menerima ciumannya, tapi wajah Yunho dan kenangan-kenangan kami seketika itu juga terbayang di pikiranku dan langsung membuatku merasa bersalah. Dengan perlahan aku membuang wajahku karena tidak ingin menyakiti perasaan Taecyeon “Mianhae” kataku pelan “Gwenchana” jawabnya sambil tersenyum kemudian aku menyandarkan kepalaku ke bahunya dan berkata “I can’t forget him, sorry” lalu aku menangis. Taecyeon memelukku dan membelai rambutku entah sampai berapa lama, yang jelas aku merasa lega karena sudah berkata jujur.

***

Besoknya Minyoung membangunkanku dengan heboh “Eonni, bangun! Lihat ini” dia menunjukkan Ipadnya, aku yang masih mengantuk mengambil Ipad yang dia sodorkan padaku dan membaca artikel yang ada di sana ‘Park MinAh anak pemilik JYP agency ternyata punya hubungan khusus dengan 2PM Taecyeon. Apakah ini cinta, atau sekedar hubungan bisnis?’ lengkap dengan fotoku dan Taecyeon yang sedang berdansa dengan intim, aku langsung terlonjak dari tempat tidurku “Mwo?!” teriakku “Apa-apaan ini” aku membacar artikel lain yang memberitakanku juga, judulnya berbeda-beda tapi isinya sama-sama sampah. Aku langsung menemui appa untuk protes “Appa, bagaimana bisa berita bohong seperti ini muncul?” tanyaku dengan nada tinggi “Park MinAh, tidak bisakah kamu bertanya dengan nada yang normal pada appamu?” tegur eomma “Joesonghamnida, tapi appa kenapa bisa ada berita ini?” tanyaku lagi dengan nada yang lebih rendah “Molla, di sana kan memang banyak wartawan yang meliput. Lagipula kamu memang nampak dekat dengan Taecyeon saat dansa. Apa kamu memang ada hubungan spesial dengannya?” appa bertanya dengan nada yang penasaran “Ani, aku hanya berteman dengan Taecyeon dan kami berdansa juga sebagai teman tidak lebih. Bagaimana ini kalau Yunho tau?” aku sangat cemas memikirkan kalau ternyata Yunho juga membaca artikel-artikel itu walau sebelumnya dia tidak pernah membaca artikel-artikel gosip tapi tetap saja aku khawatir “Kamu cukup menjelaskannya dengan jujur pada Yunho, appa yakin jika dia mempercayaimu dia pasti tidak termakan gosip-gosip itu. Sedangkan untuk artikel-artikel yang sudah terlanjur muncul appa akan membicarakannya dengan manager dan pihak manajemen untuk mencari jalan keluarnya. Lain kali berhati-hatilah sebelum bertindak Park MinAh” kata appa  dengan nada tinggi lalu pergi meninggalkanku. “Eomma” kataku “Appa benar Min, seharusnya kamu berpikir dulu sebelum bertindak, siapa kamu dan posisimu saat ini. Lalu banyak pihak yang akan terkena imbasnya kalau kamu bertindak ceroboh, appa, agency, keluarga kita, Taecyeon, dan yang terpenting Yunho” kata eomma dan meninggalkanku juga. Aku merasa bersalah dan kecewa pada diriku sendiri, aku hanya bisa menangis dan menangis meratapi kebodohan yang kuperbuat sampai tidak mempedulikan orang-orang yang berusaha menenangkanku.

Seharian aku mengurung diri di kamar “Eonni, boleh masuk?” tanya Minyoung pelan-pelan “Ne” jawabku, Minyoung naik ke tempat tidur dan duduk di sebelahku “Eonni, jangan sedih lagi ya. Appa sudah membereskan semuanya” katanya. Aku tau appa bisa membereskannya hanya dalam waktu beberapa jam tapi yang kupikirkan saat ini adalah perasaan Yunho, entah apa yang ada di pikirannya jika tau artikel-artikel itu. Kriing kriing, yang kutakutkan terjadi, Yunho meneleponku “Yoboseyo” sapaku “Min, apa itu benar? Apa artikel-artikel tentang kamu dan Taecyeon itu benar?” tanyanya “Andwae, itu tidak benar. Aku tidak ada hubungan spesial dengan Taecyeon” aku berusaha menjelaskannya dengan jujur berharap Yunho bisa merasakan kejujuran dari nadaku. “Mmmmm kalau itu benar tidak apa-apa, semoga bahagia. Aku tidak berhak melarangmu dan ikut bahagia jika kamu bahagia. Chukkae” katanya dengan nada yang tidak bisa kudeskripsikan antara sedih, kecewa dan menyesal. Aku terdiam lalu Yunho menutup telponnya dan langsung membuatku menangis histeris, orang yang paling kuinginkan untuk percaya padaku ternyata tidak mempercayaiku. “Tenang eonni. Sabarlah” kata Minyoung memelukku, aku tidak ingin menjawab atau berkata apapun, air mata adalah sahabat terbaikku saat ini.

***

Beberapa hari kemudian setelah pemberitaan mereda aku masuk kuliah dan masuk kantor, tapi tetap saja banyak yang memperhatikan dan berbisik-bisik ketika aku lewat “Park MinAh, kamu sudah jadi artis sekarang” goda Jieun saat berjalan bersamaku menuju parkiran selesai kuliah “Han Jieun!” kataku  dan melotot padanya, dia hanya tertawa.

Sampai di kantor aku ragu untuk turun dari mobil, aku tidak siap bertemu Yunho “Kamu mau pulang?” tanya Jieun, dia memang orang yang paling mengerti aku “Apa kalau aku pulang keadaan bisa berubah? Aku tidak bisa selamanya lari dari kenyataan, lari dari Jung Yunho” kataku lalu turun dari mobil berusaha menenangkan hati dan pikiranku. Ternyata di lobby kantor orang-orang juga memperhatikan dan berbisik-bisik ketika aku lewat terutama Sooyeon “Ternyata dia pacaran dengan artis” aku berpura-pura tidak mendengarnya dan tetap berjalan seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Saat aku dan Jieun menunggu lift “Yunho oppa” sapa Sooyeon dengan suara cemprengnya, aku menutup mata berharap tidak mendengar balasan dari Yunho, tapi “Park MinAh!” panggil Yunho. Aku tidak menanggapinya karena aku takut jika itu hanya ilusiku, jika aku berbalik menghadapnya ternyata dia tidak memanggilku “Yaa Park MinAh!” kali ini Yunho memanggilku sambil berteriak. Ting! Pintu lift terbuka “Tunggu, Park MinAh saranghae, neol saranghae. I love you so much” teriaknya yang aku yakin bisa membuat semua orang di lobby ini mendengarnya, apa dia gila? Aku berbalik dan melihat Yunho sedang berjalan menghampiriku dengan terburu-buru, lalu dia memegang bahuku dan menatapku lekat-lekat “Park MinAh, mianhae aku sempat tidak percaya padamu, mianhae sudah berbohong dengan mengatakan aku tidak apa-apa jika kamu bersama namja lain padahal kenyataannya tidak, mianhae aku selalu membuatmu menangis bahkan sejak pertama bertemu denganmu, mianhae aku tidak membatasi diri dengan yeoja lain, mianhae kita jarang bertemu saat kita pacaran, dan mianhae karena aku selalu mencintaimu dan tidak bisa melepaskanmu walau aku tau itu akan membuatmu menderita” lalu Yunho menciumku dengan lembut dan aku membalasnya, rasanya semanis ciuman pertama kami saat jadian. “I love you too Jung Yunho, you should be realize it from the first time i met you when you helped me, that i will always love you. And my tears, it’s okay to cry every day as long as you stay by my side” kataku menatapnya lembut lalu menciumnya lagi. “Tapi Yunho-ssi, sekarang semua orang tau kalau kita saling mencintai. Ottokae?” tanyaku yang baru menyadari kalau saat ini kami baru saja berciuman di tempat umum “I don’t care, as long as i have you” jawabnya lalu menciumku untuk ketiga kalinya di tempat umum. Aku tidak peduli dengan air mata yang sudah dan akan kukeluarkan karena Jung Yunho, aku juga tidak peduli jika hatiku membeku ataupun mencair karena Jung Yunho, karena dia adalah alasan utamaku untuk selalu merasa bahagia.

 

The end.

Hope you like it readers..🙂