The last part come!!!
Hey.. Finally🙂

PART 7
Aku akui selama berjalan-jalan di mall, aku lebih fokus kepada Kyuhyun Oppa sehingga kak Jason agak terabaikan. Seperti pada saat menonton bioskop, aku membiarkan kak Jason membeli tiket untuk kami semua sedangkan aku tetap asik dengan Kyuhyun Oppa. Bukan aku tidak menghargai kehadiran kak Jason tapi aku tidak bisa melepaskan Kyuhyun Oppa sendirian.
Bahkan pada saat kami sudah masuk ke dalam studio, aku lebih memilih untuk duduk di sebelah Kyuhyun Oppa dibandingkan kak Jason. Sebenarnya, aku juga ingin kak Jason duduk di sebelahku hanya saja Delia sudah menempati tempat itu lebih dahulu. Aku tidak mungkin menyuruh Delia pindah.
“Sasa, kita perlu bicara sebentar,” kata kak Jason tiba-tiba setelah kami selesai nonton.
“Nde. Ada apa, kak?” tanyaku.
“Aku rasa kamu sudah keterlaluan. Kamu terus-terusan nyuekin aku hanya karena ada si Kyuhyun,” jawab kak Jason.Aku merasa sangat bersalah tapi tetap saja badanku tidak bisa diajak kompromi. Aku lebih tertarik dengan Kyuhyun Oppa saat ini. “Kak, maafin aku. Aku gak bermaksud begitu kok. Aku hanya ingin menemani Kyuhyun Oppa sebentar sebelum dia kembali ke Korea. Lagipula kami jarang bertemu. Aku mohon kamu mengerti,” kataku memohon pengertian dari kak Jason.
“Aku mengerti tapi kamu tidak seharusnya secuek ini padaku,” kata kak Jason lagi.
Saat aku dan kak Jason sedang berbicara, tiba-tiba Kyuhyun Opaa mendapat telepon. Seketika itu juga perhatianku teralih lagi dari kak Jason. Aku memperhatikan Kyuhyun Oppa yang sedang menelepon.
“Arraseo, arraseo,” kata Kyuhyun Oppa mengakhiri panggilan telepon tersebut.
Kyuhyun Oppa menatapku lama dengan bingung. “Ada apa, Oppa?” tanyaku.
“Ehm, aku baru dapat telepon dari manajerku. Katanya aku harus pulang malam ini juga ke Korea,” jawab Oppa dengan pelan.
Aku terkejut bukan main mendengarnya. “Apa, Oppa?’ tanyaku tidak percaya.
“Mianhe, Sasa. Aku juga tidak mau begini tapi mau gimana lagi. Mianhe jeongmal mianhe.”
Aku merasa sangat kecewa menerima kenyataan bahwa kyuhyun Oppa harus pulang hari ini juga padahal kami baru bersama sebentar.
Ingin rasanya aku tetap menahan Kyuhyun Oppa di sini tapi aku tidak bisa. Kami harus segera kembali ke hotel. Karena itu aku segera berpamitan kepada yang lainnya, terutama dengan kak Jason.
“kak, aku pamit pulang duluan. Kyuhyun Oppa ada urusan mendadak,” kataku pada kak Jason. ‘Nanti aku akan menghubungimu lagi ya.”
“Kamu tidak perlu menghubungiku lagi, Sasa. Sampai jumpa,” sahut kak Jason dengan sinis.
Pada saat itu aku tidak terlalu memikirkan kak Jason karena Kyuhyun Oppa sudah memburu-buruku agar cepat kembali ke hotel. Aku kesal bukan main karenanya. Selama di mobil aku terus mengomel kepada Kyuhyun Oppa.
“kenapa Oppa harus pulang sekarang sih? Katanya kamu akan berada di sini sebentar lagi tapi kalo ini sih terlalu sebentar,” omelku kesal.
“Mianhe, Sasa. Aku juga tidak tahu,” jawab Kyuhyun Oppa.
Aku terus saja mengomel sepanjang perjalanan bahkan sampai ke hotel. Kyuhyun Oppa bahkan sudah tidak bisa lagi memberikan pengertian kepadaku walaupun aku tahu omelanku tidak akan berguna. Kyuhyun Oppa tetap harus pulang.
“Ya sudah, aku mau bilang apa lagi,” sahutku sedih.
Aku masuk ke dalam kamarku dengan lemas. Tanpa banyak bicara aku segera naik ke tempat tidur. Aku pun tidak peduli saat Kyuhyun Oppa ikut masuk ke kamarku.
Dia duduk di sampingku. Terlihat dari wajahnya bahwa dia merasa sangat bersalah.
“Mianhe, Sasa. Mianhe,” katanya lagi.
Aku menghela nafas panjang. “Iya, Oppa. Aku mengerti. Sudahlah, tidak usah minta maaf terus,” sahutku.
“Tidak bisa. Aku bersalah padamu. Aku sudah berjanji akan berlibur tapi ternyata aku harus pulang sekarang.”
Aku mulai menangis karena terlalu kecewa tapi aku tidak mau Oppa melihat air mataku. Selimut kutarik sampai menutupi seluruh tubuhku. Oppa mungkin tahu aku menangis karena aku merasa dia membelai kepalaku. “Jangan menutupi airmatamu dari aku. Aku yang bertanggung jawab atas itu. Mianhe,” kata Kyuhyun Oppa.
Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Aku memeluk Kyuhyun Oppa sambil menangis. “Oppa.. ap.. apa Oppa harus pulang hari ini juga? Gak bisa ditunda seharii saja,” kataku terisak-isak.
“Kalau aku bisa, aku akan pulang lusa atau minggu depan. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku harus pulang nanti malam.”
Aku terus menangis dalam pelukan Kyuhyun Oppa dan dia tidak henti-hentinya menenangkan aku. Saking seriusnya menangis, aku sampai kecapekan dan akhirnya aku tertidur. Yang terakhir aku ingat adalah aku tertidur sambil memeluk Kyuhyun Oppa yang berada di sampingku.
Dua jam kemudian aku terbangun tapi aku tidak bisa mengangkat kepalaku karena ada yang menindihnya. Ternyata yang menindihku adalah kepala Kyuhyun Oppa. Dia juga tertidur dengan nyenyak.
Aku berusaha menegakkan kepala Kyuhyun Oppa tanpa membangunkannya tapi aku gagal. Kyuhyun Oppa terbangun. “aaah. Kau sudah bangun,” kata Kyuhyun Oppa.
Aku menganggukan kepala. Aku sudah merasa lebih baik sekarang dan merelakan Oppa harus pulang lebih cepat. “Oppa, pulang jam berapa? Sekarang sudah jam 7 malam loh.”
“Kata manajerku, pesawat take off jam 10 malam nanti. Aku akan mengantarkan kamu lebih dulu pulang ke kos baru aku ke bandara,” jawab Kyuhyun Oppa.
“Gak mau. Aku mau nganterin Oppa ke bandara,” pintaku manja.
“Arraseo. Arraseo. Kau mandi dulu kalau begitu. Kita berangkat jam 8an.”
“Ani. Aku tidak mau. Aku mau sama-sama Oppa terus.”
Aku pikir Kyuhyun Oppa akan mengelus kepalaku lagi atau apalah tapi ternyata dia malah menjauhkan dirinya dari aku. “Sasa, dengar. Kau harus mandi sekarang,” kata Kyuhyun oppa tegas.
Aku sebal melihatnya. Dia yang bersalah kok malah aku yang dimarahin. Karena itu aku semakin merajuk. “Gak mau.”
“Sasa, kamu gak boleh manja begini. Haduuuh.”
“Kenapa gak boleh? Salahnya Oppa cepat-cepat meninggalkan aku.”
Kyuhyun Oppa mondar-mandir kamarku sambil mengaruk-garuk kepalanya. Aku tahu dari gelagatnya dia sedang merasa tidak nyaman tapi aku tidak tahu apa yang membuatnya merasa tidak nyaman.
“Kau kenapa Oppa?” tanyaku.
Kyuhyun Oppa tidak menjawabnya. Dia masih saja mondar-mandir bikin kepalaku pusing. Haiiiish.
“Ya sudah, ya sudah. Aku mandi. Haaaasssh,” kataku merajuk sambil turun dari tempat tidur.
Saat aku mau masuk kamar mandi, Kyuhyun Oppa menarikku ke dalam pelukannya. “Maafkan aku ya, Sasa. Aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini.”
“I…iya, Oppa,” sahutku terkejut. “Sudahlah, tidak usah minta maaf terus.”
Kyuhyun Oppa tidak membalas apa-apa. Dia justru semakin erat memelukku. “Kamu sudah membuatku tidak tenang, Sasa.”
“Opp..Oppa. Maksud Oppa apa?”
“Seharusnya kau tidak usah berlaku manja seperti tadi. Kau benar-benar mengacaukan diriku. Selama ini aku terus menahannya karena aku pikir saatnya belum tepat.”
“Oppa, kau ngomong apa sih?”
“Saranghae, Sasa. Bukan sebagai adik atau teman tapi lebih dari itu.”
Aku sungguh-sungguh terkejut dengan perkataan Kyuhyun Oppa. Meskipun aku memang belum dewasa, tapi aku mengerti maksud dari perkataan Oppa. Dia mempunyai perasaan khusus padaku yang tidak pernah aku sadari sebelumnya karena aku pikir dia hanya menganggapku sebagai adiknya.
Hal berikutnya yang terjadi, lebih jauh mengejutkanku.Aku sadar Kyuhyun Oppa mendekatkan kepalanya untuk menciumku. Karena masih terkejut, aku mendorongnya dengan kuat sampai-sampai ia terjatuh. “Mian, Oppa. Mianhe. Aku mandi dulu,” kataku dengan cepat dan langsung menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, aku terus memikirkan apa saja yang baru terjadi. Aku masih tidak percaya kalau Oppa baru saja menyatakan perasaannya padaku. Aku tidak tahu harus senang atau sedih. Jujur saja, aku sangat sangat menyayanginya karena dia aku mengganggapnya seperti abangku sendiri. Hanya saja, karena kejadian ini, perasaanku jadi tidak menentu.
Pernyataan Kyuhyun Oppa membuatku bingung. Di sisiku masih ada kak Jason yang masih aku harapkan pernyataan cintanya tapi ternyata yang aku dapatkan adalah pernyataan dari Kyuhyun Oppa, yang selama ini aku anggap sebagai kakakku. Aku tidak tahu harus bagaimana.
Selesai mandi, aku melihat Kyuhyun Oppa masih berada di kamarku. Dia duduk di atas tempat tidurku tanpa semangat. Dia menatapku sebentar lalu mengalihkan pandangannya ke televisi. Aku tahu dia kecewa.
Kalau aku jadi Oppa pasti aku juga akan kecewa setengah mati. Susah-susah menyatakan perasaan tapi ternyata hanya mendapatkan balasan didorong sampai jatuh. Aku mendekati Oppa dan membelai kepalanya pelan-pelan.
Dia menegadahkan kepalanya ke atas agar bisa melihatku. “Ada apa?” tanyanya.
“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mendorong Oppa seperti itu. Aku hanya terkejut setengah mati tadi,” jawabku.
“Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Salahku tiba-tiba begitu,” sahut Oppa. Kyuhyun Oppa berusaha menghindariku tapi aku berhasil menahannya tetap duduk.
“Tidak bisa tidak dipikirkan, oppa. Aku tidak akan mengijinkan kamu pulang sebelum masalah ini selesai.”
“Maumu apa sih, Sasa? Tadi nangis-nangis, merajuk ingin bersamaku. Begitu aku mau, kamu malah mendorongku. Sekarang, kamu malah seperti ini.”
Meskipun Kyuhyun oppa berkata galak seperti itu, aku tidak boleh terpancing emosi. Aku tetap harus tenang. Aku harus menyelesaikannya sebelum Kyuhyun Oppa pulang agar hal ini tidak menjadi beban pikirannya. Aku duduk di sebelah Oppa dan mulai berbicara.
“Oppa. Selama ini aku berpikir kamu sayang padaku karena aku adikmu. Karena itu aku sayang padamu karena kamu abangku. Tapi aku terkejut karena Oppa memiliki perasaan yang lebih dari itu. Aku tidak tahu harus bagaimana menanggapinya karena pada saat ini aku juga sedang menunggu pernyataan dari kak Jason. Aku jadi kacau, Oppa. Aku tidak tahu harus menyayangimu sebagai apa,” kataku.
Emosi pada diri Kyuhyun Oppa sudah mulai mereda dan dia sudah mau menatapku. “Terus?” tanyanya.
“Aku harus menata lagi perasaanku terlebih dahulu baru aku bisa memberi jawaban padamu. Aku tidak tahu apakah nanti aku sayang padamu sebagai abang atau lebih dari itu. Aku juga harus memikirkan kak Jason. Apapun keputusanku nanti aku tetap menyayangimu, oppa.”
Mungkin tidak mudah bagi Oppa untuk mengerti diriku tapi aku yakin dia mau mencobanya.
“Kalaupun nanti, aku akhirnya jatuh cinta pada Oppa tapi oppa sudah jatuh cinta pada gadis lain, aku akan menerimanya kok Oppa,” lanjutku. “Begitu juga dengan Oppa. Kalau nanti aku ternyata lebih memilih kak Jason, Oppa harus menerimanya.
Kyuhyun Oppa lalu memelukku dan dia berkata, “Aku akan menunggunya. Aku sudah memendam perasaan ini selama bertahun-tahun. Menunggu beberapa tahun lagi tidak akan menjadi masalah.”
“Bertahun-tahun?” tanyaku kaget. “Jadi, Oppa sudah menyukaiku selama bertahun-tahun?”
“Haiish, berani menggantungkan perasaanku berati jangan banyak komentar,” sahut Kyuhyun Oppa yang justru tidak menjawab pertanyaanku. “Ayo, kita pergi.”
Kyuhyun Oppa lalu menggandengku keluar dari kamarku dan masuk ke dalam kamarnya hanya untuk mengambil barang-barangnya.
“Kau gak mandi dulu, Oppa?” tanyaku.
“Tadinya aku mau mandi tapi gara-gara kau bertingkah aneh, aku tidak jadi mandi. Kalau mau mandi sekarang, sudah tidak sempat,” jawab Kyuhyun Oppa.
Aku melihat jam tanganku sudah menunjukkan jam setengah 9 malam. Padahal Oppa harus berangkat jam 10 nanti. Karena itu, kami cepat-cepat berangkat ke bandara.
Kali ini dia menyewa supir untuk mengantarkan kami ke bandara. Dia meminta supir untuk menyetir mobil secepat yang dia bisa. Karena itu, sekitar jam 9 kami sudah sampai di bandara. Aku dan Kyuhyun Oppa segera mengambil tiket pesawat yang telah dibelikan manajernya dari Korea. Setelah itu, Kyuhyun Oppa berpamitan padaku.
“Sasa, Oppa pulang dulu. Aku janji akan menjumpaimu lagi. Maaf tidak bisa menepati janji untuk menemanimu lebih lama,” katanya.
“Sudah, tidak apa-apa. Oppa baik-baik ya di sana. Kerja yang benar, makan yang sehat dan istirahat yang cukup,” sahutku.
Oppa menganggukan kepalanya lalu mencium keningku dengan lembut. “Ingat, pertimbangkan aku baik-baik. Aku akan menagih jawabanmu nanti.”
“Iya, Oppa.”
Aku lalu mengantarkannya sampai ke batas dimana pengantar hanya boleh sampai di situ. Selanjutnya aku hanya bisa melihat dari luar Kyuhyun Oppa check-in. Aku pun pulang setelah Kyuhyun Oppa menghilang dari pandanganku.
Aku membeli pulsa dulu sebelum kembali ke kos ku karena aku perlu menghubungi kak Jason. Aku mau menghubungi kak Jason tapi rupanya dia sudah menghubungi lebih dulu.
“Halo,” sahutku menjawab telepon dari kak Jason.
“Sasa, lebih baik kita mengakhiri hubungan kita sekarang. Aku tidak melihat adanya kesempatan untukku bersama kamu,” kata kak Jason langsung pada inti masalah.
“Maksud kakak apa?” tanyaku tidak mengerti. Aku terkejut dengan perkataan kak Jason yang tiba-tiba seperti itu.
“Kita hanya cocok sebagai teman. Terima kasih atas kedekatan kita selama enam bulan ini. Maaf kalau aku banyak mengecewakanmu,” katanya lagi lalu menutup telepon.
Aku mengerti, hubunganku dengan kak Jason seudah berakhir. Aku dan dia tidak mungkin punya hubungan yang lebih jauh lagi dari sekedar teman.

.END.