Here’s my new FF..
Dalam menyambut natal. Maafkan kalau garing..
Ini sequel dari Pan My Life is You. Hope you enjoy ya semuaaa..

Cast :
Cho Kyuhyun
Song Hyejin

Choi Siwon
Kang Hamun

Park Jungsoo
Kang Sora

Super Junior

Hope you enjoy🙂

Aku terbangun pagi-pagi sekali karena mendengar suara isak tangis. Pelan tapi sangat dekat. Aku menoleh pada wanita yang sedang terlelap di sebelahku. Meskipun ia sedang tidur tapi air matanya terus mengalir. Dadanya kembang kempis mengatur pernafasannya yang tidak stabil.

“Eomma… Appa… Jangan… Tidak… Jangan mati…” Ia mengigau.

Aku tahu wanita ini mengalami sesak luar biasa akibat masalah keluarganya yang tidak selesai-selesai. Aku mendekatkan tubuhku dan memeluknya dengan erat. Meskipun ia tidak tahu paling tidak ia bisa merasakan bahwa masih ada orang yang mau melindunginya.

“Hyejin, tenanglah. Tidak akan ada yang mati,” bisikku lalu mengecup keningnya dengan lembut.Tangisan Hyejin mulai mereda. Nafasnya pun mulai stabil. Tak lama kemudian, dirinya sudah kembali tenang. Dia tertidur pulas dalam pelukanku dan aku nyenyak sambil memeluknya. Aku harap dia benar-benar merasakan kehangatan dariku.

++++

Sinar matahari masuk menembus mataku, memaksaku untuk tersadar. Aku pun bangun dan menyadari Hyejin sudah tidak ada. Tidak ada siapa-siapa di sebelahku. Pelukanku sudah kosong. Aku pun bangkit dari tempat tidurku dan keluar kamar mencarinya. Aku menjelajahi beberapa pelosok rumah dan menemukan Hyejin sedang memasak di dapur.

“Selamat pagi. Terima kasih sudah menghangatkanku semalaman,” ucap Hyejin sambil tersenyum sebelum aku mencapai tempatnya. Ia lebih dulu menoleh kepadaku meski aku belum memanggilnya.

Aku balas tersenyum. Ia pun kembali sibuk dengan masakannya. Aku memperhatikannya dari meja makan dalam diam. Matanya sangat sembap. Pipinya sedikit basah. Sekarang bahkan aku dapat melihat punggungnya sedikit bergetar. Aku tahu dia menangis lagi.

Aku berjalan mendekatinya dan memeluknya kembali. “Jangan tanggung penderitaanmu sendirian. Aku ada di sini untuk berbagi denganmu, baik susah ataupun senang,” ucapku dengan lembut tapi serius. Aku tidak ingin dia menderita.

Hyejin meninggalkan masakannya dan memelukku dengan erat. Jeritannya mulai terdengar. Pernafasannya mulai tidak stabil lagi, seperti orang kehabisan oksigen. Air matanya sudah membasahi kaus ku. Tangannya mencengkram punggungku dengan kuat.

“Sakit. Aku..tidak mau..mati,” bisiknya nyaris tak terdengar di sela-sela isakannya.

“Dimana yang sakit?” Tanyaku.

“Kepalaku. Dadaku sesak. Terlalu penuh,” jawabnya.

Aku mengelus punggungnya dan sedikit melonggarkan pelukanku. Aku tahu yang ia maksudkan dengan sakit adalah bukan sakit yang membutuhkan rumah sakit atau dokter. Yang ia butuhkan adalah ketentraman.

“Apa kau akan ke rumah appa dan eomma lagi hari ini?” Tanyaku.

Hyejin hanya mengangguk. Tampak jelas ia frustasi. Seorang anak tunggal yang sangat bertanggung jawab kepada kedua orang tuanya meski yang dia hadapi setiap hari adalah caci maki antar keduanya.

“Bersiaplah. Aku akan menemanimu.”

Hyejin melepaskan dirinya. Dengan segala kekusutannya, baik secara fisik dan pikiran, Hyejin melepaskan dirinya dan bersiap-siap sementara aku menyelesaikan kegiatannya yang tertunda yaitu memasak. Kuselesaikan semua sampai makanan tersedia di meja.

Tidak sampai 5 menit, Hyejin sudah kembali. Kali ini tidak lagi kusut. Dia tampak lebih segar tapi wajahnya tampak panik luar biasa. “Rumah Sakit. Mereka masuk rumah sakit,” katanya dengan terburu-buru.

Aku segera meninggalkan meja makan dan mengambil kunci mobil. Hyejin menyambar apapun yang menurutnya ia perlukan. Kami pun langsung bergegas ke rumah sakit meski aku tidak tahu apa yang terjadi.

Hyejin tak bersuara. Ia hanya menunjukkan raut cemas dan mungkin ketakutan. Aku pun tidak berani mengajaknya bicara. Aku takut ia akan semakin kalut. Energinya sudah cukup banyak terkuras. Aku tak ingin menghabiskan kekuatan yang dia miliki.

Sesampai di rumah sakit, Hyejin segera berlari masuk UGD dan aku menyusulnya. Hyejin terpaku pada sebuah bilik yang berisi dua orang yang sangat dicintainya. Kedua orang itu terbaring lemah tak berdaya. Wajah pucat mereka tentu membuat Hyejin terhenyak.

“Maafkan kami,” ucap salah seorang dokter kepada Hyejin. Hyejin tak bergeming. Tatapan matanya kosong. Tangan dan kakinya begitu kaku. Ia bahkan nyaris lupa bernafas.

Hyejin berdiri mematung memandang kedua orang tua-nya untuk terakhir kalinya sedangkan aku mengurus segala administrasi serta keperluan pemakaman. Baru setelah itu, aku menariknya keluar.

Aku mengajak Hyejin duduk di luar UGD sembari dokter membereskan kedua orang tuanya. Hyejin sudah seperti orang mati. Tatapannya kosong. Tidak bergerak jika aku tidak menyuruhnya bergerak. Dia kaku sekali seperti robot membuatku sedih.

Aku duduk memangkunya seperti yang sudah sering aku lakukan. Berharap dia dapat sadar bahwa aku membutuhkannya. Aku butuh Hyejin yang hidup. Sudah bertahun-tahun aku mengalah hidup bersamanya yang selalu bersedih. Sekarang setidaknya jangan lebih parah.

++++

“Hyejin. Jagiya. Merry Christmas,” ucapku tepat di tanggal 25 desember. Aku melingkarkan sebuah kalung di lehernya sebagai hadiah untuknya di hari kudus ini.

Hyejin menatap kalungnya lalu beralih pada mataku. Tatapannya penuh terima kasih tapi begitu menyakitkan. “Maafkan aku tidak menyiapkan apa-apa untukmu. Merry Christmas,” balasnya.

Aku hanya tersenyum menyatakan, “Tidak apa. Aku bisa merayakan natal bersamamu saja sudah menyenangkan.” Meskipun begitu sebenarnya hatiku sangat sedih.

Sudah sebulan berlalu sejak kepergian kedua orang tuanya tapi Hyejin belum kembali normal. Hyejin masih seperti zombie yang hidup tanpa punya akal. Setiap hari, kerja Hyejin hanya menangis, menangis dan menangis. Sekalinya dia tidak menangis, yang dia lakukan hanyalah diam dengan tatapan kosong. Sering aku merasa dia sudah menganggapku tidak ada.

“Aku akan bertemu dengan hyungdeul sepulang gereja. Apa kau mau ikut?” tanyaku setelah siap berangkat ke gereja. Hyejin hanya menggeleng dan aku pun tidak bisa memaksa. Hyejin kuantar pulang setelah kami bergereja. Setelah itu, baru aku menemui hyungdeul-ku, teman dekat yang sudah aku anggap seperti keluarga.

“Kyuuuu!!” seru hyungdeul-ku begitu aku datang. Mereka sudah ramai berkumpul, datang bersama pasangan mereka masing-masing bahkan juga bersama anak-anak mereka. Hanya aku yang sendirian. Aahm, tampaknya Siwon hyung juga sendirian tapi itu karena Hamun sedang di Amerika.

Aku duduk di antara Sungmin hyung dan istri Leeteuk hyung. “Annyeong, Kyu. Mana Hyejin? Kenapa dia tidak ikut?” tanya Sora, istri Leeteuk hyung begitu aku duduk. Pertanyaan yang paling tidak ingin aku dengar. Aku pun hanya tersenyum masam, entah dia sadar atau tidak.

Pertemuan ini sangat menyenangkan, apalagi jika Hyejin mau menemaniku. Aku iri melihat hyungdeul menggoda pasangan mereka dan pasangan mereka memasang tampang cemberut walau sebetulnya mereka suka sekali digoda. Aku juga iri melihat hyungdeul diambilkan nasi dan lauk-lauknya saat mau makan oleh pasangan mereka.

Aku tidak tahan lagi. “Permisi. Aku mau ke toilet dulu,” ucapku. Aku lalu masuk ke toilet, bukan karena aku ingin buang air tapi aku mau menenangkan pikiran dan jiwaku. Aku ingin sendiri. Aku sadar, Siwon hyung mengikutiku. “Hyung, aku tidak mau buang air bersamamu.” Aku mengatakannya bahkan sebelum Siwon hyung masuk ke dalam toilet.

Siwon hyung tertawa dan menghampiriku. “Aku bersumpah tidak akan mengintipmu,” ujarnya. Kami akhirnya masuk toilet bersama-sama dan yang kami lakukan hanyalah bersender pada wastafel dan sekali-sekali bercermin.

“Kapan Hamun kembali?” tanyaku basa-basi. Aku hanya tidak ingin Siwon hyung bertanya macam-macam yang tidak ingin aku jawab.

“Entahlah. Masih lama sekali mungkin. Aku juga tidak peduli,” jawab Siwon hyung santai. Ia kemudian melanjutkan jawabannya begitu melihat tampang bingungku, “Hamun sudah setahun meninggalkanku dan sama sekali tidak ada kabar. Apa aku layak berharap?”

Aku menaikkan kedua bahuku tanda aku tidak tahu. Rupanya masih ada yang hampir senasib denganku. “Apa kau masih menunggunya, hyung?”

“Kalau dia kembali, aku akan menerimanya. Tapi kalau tidak, masih banyak gadis yang mau bersamaku.”

Aku lalu membayangkan Hyejin. Apa dia akan kembali? Atau kalau tidak, apa aku akan melepaskannya? Kemudian aku menggelengkan kepalaku dengan kencang. “Aku tidak selemah itu,” batinku.

Handphone-ku bergetar. Rupanya ada pesan dari Hyejin. Kyu, apa kau masih lama? Kalau iya, aku tinggalkan kuncinya di tempat biasa. Aku mau tidur. Jalja….

“Hyung, aku pulang dulu. Hyejin sudah memanggilku,” ucapku pada Siwon hyung terburu-buru seperti dikejar setan. Satu pesan saja dari Hyejin akan membuatku terbirit-birit mengejarnya meski dia tidak menyuruhnya.

“Kau lebih beruntung daripada aku, Kyu. Berbahagialah,” sahut Siwon hyung. Aku tidak tahu siapa yang lebih beruntung.

+++++

Hyejin sudah tertidur pulas saat aku sampai di rumah. Lagi-lagi kutemukan ia tidur dalam keadaan tidak karuan, mata sembap, wajah kuyu dan sambil memegang foto kedua orang tuanya. Aku mengambil foto itu dan meletakkannya di tempat semula. “Apa kau tidak lelah menangis setiap hari?” bisikku tanpa berharap jawaban.

Aku membetulkan posisi tidur Hyejin agar ia dapat tidur dengan nyaman. Kuperhatikan, tidak ada cela pada diri Hyejin. Ia masih sempurna seperti pertama aku melihatnya belasan tahun lalu. Ia juga masih sama cantiknya ketika aku menikahinya. Hanya keadaan yang membuatnya jadi terlihat buruk.

“Aku akan membahagiakanmu,” gumamku. Aku melihat ke luar dan menyadari salju turun dengan indahnya. Memoriku berlari ke masa saat aku baru mengenal Hyejin. Aku ingat bagaimana aku menghabiskan natal-natalku bersamanya.

25 Desember 1995
“Merry Christmas,” ucapku sambil memberikan sebuah boneka pikachu kepadanya. Hyejin menatapku lalu pikachu lalu boneka kesayangannya yang bernama Mini. “Aku tidak minta kau mengganti Mini dengan boneka ini loh,” lanjutku.

Hyejin menerima boneka pemberianku. “Oppa, temani aku malam ini ya. Aku tidak mau natal sendirian,” katanya.

Saat itu, aku tahu keluarga Hyejin sudah berantakan. Dia hanya sendirian di usia 4 tahun. Aku pun menemaninya menikmati salju dan alunan lagu Natal di depan lobi apartemen kami. Untuk pertama kalinya aku melihatnya tersenyum. Kalau aku tidak bersamanya, entah bagaimana Hyejin menghabiskan malam natalnya.

25 Desember 1999
“Oppaaaa!! Selamat Natal!!” seru Hyejin dengan ceria. Ia bahkan menyiapkan sebuah kado natal untukku : sebuah CD game. Meski aku tidak tahu game apa itu, aku tetap menerimanya.

“Jadi, kemana kita natal ini?” tanyaku.

Hyejin tersenyum cerah sekali. “Kali ini, aku akan pergi dengan eomma dan appa. Mianhe Oppa, aku tidak bisa menemanimu,” katanya. Tak lama, Hyejin meninggalkanku sambil terus melambaikan tangannya dengan ceria.

Aku balas melambaikan tangannya dan menyemangatinya. “Selamat Natal, Hyejin-ah!!” seruku tidak kalah gembira. Untuk pertama kalinya, Hyejin bisa merayakan Natal bersama keluarganya tanpa ada kekacauan atau pertengkaran. Aku sangat bahagia melihatnya.

25 Desember 2004
Hyejin datang ke apartemenku dengan mata bengkak tanda ia habis menangis. Ia berjalan ke tempat pohon natalku tanpa melepas mantelnya yang tebal karena ini musim dingin. “Oppa, Seungri memutuskanku. Baru saja,” katanya tanpa semangat.

Hyejin berdiri membelakangiku. Aku melihat tubuhnya sedikit bergetar. Lalu suaranya yang mulai bergelombang. Aku sadar Hyejin benar-benar terpuruk. Dia benar-benar sendirian. Orang tuanya ataupun pacarnya sama saja, sama-sama meninggalkannya. Tanpa sadar, aku memeluk Hyejin dengan erat.

“It’s Christmas. Don’t cry,” ucapku.

Hyejin semakin menjadi-jadi. Dia terus menangis sampai akhirnya dia capek dan tertidur, membuatku harus menggendongnya ke kamar. Semalaman aku menjaganya agar tetap nyenyak.

25 Desember 2006
Aku memandang kotak musik yang baru aku beli untuk Hyejin. Di dalamnya aku masukkan sebuah cincin. “Semoga dia suka,” batinku. Tanpa sadar, aku tersenyum sendiri. Entah mengapa. Aku pun segera menemui Hyejin di apartemennya.

“Kyuuuu!!” serunya begitu melihatku. Tidak seperti biasa, ia tampak sangat gembira. Ia bahkan memanggilku tidak lagi dengan sebutan Oppa.

“Kau tampak sangat gembira. Apa kau begitu menantikanku?” godaku.

Hyejin tertawa. “Kali ini kau salah, Kyu,” katanya.

Keningku pura-pura berkerut seolah bingung. “Lalu?”

“Hari ini aku akan natalan dengan Jinki.”

“Jinki? Nugu-ya?”

Hyejin tersenyum penuh arti. “Pacar baruku,” bisiknya dengan senang. Senyuman bahagia terukir di wajahnya. Kemudian ia siap-siap untuk pergi dengan Jinki. Saat itu aku sadar bahwa aku adalah laki-laki paling bodoh di muka bumi ini. Belasan tahun bersama gadis yang aku sayangi tapi tidak sekalipun aku menjangkaunya.

25 Desember 2011
Natal pertama yang aku lalui bersama Hyejin sebagai sepasang kekasih. “Kyu, kau belum memberikan hadiah natal untukku. Aku mau perlengkapan make-up itu,” kata Hyejin sambil menunjuk sebuah perlengkapan make-up yang terpajang di Etude House yang kami lewati.

Aku yang senang menggodanya, tentu saja tidak akan semudah itu menurutinya. Aku pura-pura menolaknya. “Yaaaa… Itu terlalu mahal. Aku tidak punya uang,” kataku.

Hyejin menatap perlengkapan make-up itu lalu menatapku. “Ya sudah. Kapan-kapan saja,” katanya lalu kembali menggandengku dan kami berjalan menuju pohon natal terbesar yang dipasang di tengah kota. Ini yang aku suka dari Hyejin, dia tidak pemaksa.

Di tengah salju, Hyejin terus melingkarkan tangannya di perutku sambil memandangi pohon natal itu. “Kyu, aku mencintaimu. Aku bersumpah akan menghabisimu jika kau berani meninggalkanku,” kata Hyejin lalu menciumku. Natal paling manis yang pernah aku lalui selama aku mengenal Song Hyejin. Saat itu, aku tidak sabar menanti natal yang akan aku lalui jika sudah menjadi suaminya.

25 Desember 2012
Aku memandang Hyejin yang masih tertidur dengan nyenyak. Semua kenanganku berhasil membuatku bersyukur, paling tidak natal kali ini aku bisa melewatkannya bersama Hyejin sebagai istriku, sesuai dengan permintaanku tahun lalu. Tuhan sudah memberikan kesempatan, aku yang harus mempergunakannya dengan baik.

Pohon natal yang kurangkai sambil mengenang natal-natal bersama Hyejin menyala-nyala bahkan bernyanyi dengan riang merayakan kelahiran Yesus. Begitu pun seharusnya aku dan Hyejin merayakannya.

Di tengah malam, ketika natal hampir berakhir, aku membangunkan Hyejin sambil membawa kotak besar untuknya. “Merry Christmas,” ucapku.

“Humm? Kau kan sudah mengucapkannya tadi pagi. Kau bahkan sudah memberikan aku hadiah, Kyu. Apa itu kurang?” tanya Hyejin, dingin.

Aku tersenyum. “Apa tidak boleh? Kalau aku mau mengucapkannya 100 kali, apa kau melarangnya?”

“Tidak sih.”

“Ya sudah kalau gitu. Sekarang buka hadiah keduamu,” perintahku.

Hyejin lalu mengambil alih kotak besar di tanganku. Ia membukanya dengan hati-hati. “Make up!” serunya.

“Yah, tahun lalu aku kan lupa membelikannya untukmu,” sahutku. Saat mengenang natal tahun lalu, aku membeli make-up kit itu khusus untuk Hyejin. Tahun lalu, aku tidak jadi membelikan make-up kit etude yang Hyejin minta karena aku benar-benar lupa.

“Maldives?” tanyanya bingung begitu menemukan dua buah tiket pesawat menuju tempat itu.

“Just for a week, I want second honeymoon. Aku pastikan kita akan bersenang-senang di sana,” jawabku tanpa lupa tersenyum untuk meyakinkannya. Aku tahu Hyejin ingin sekali menolak. Dari matanya aku tahu ia ragu.

+++++

Hyejin akhirnya mengikuti bujukanku. Aku berhasil mengajaknya pergi ke Maldives. Meskipun harus aku yang menyiapkan segalanya, aku tidak keberatan asal aku berhasil mendapatkan bulan madu keduaku.

“Kajja,” ajakku begitu semua sudah siap. Hyejin berdiri di depanku sambil membawa foto kedua orang tuanya. Aku tersenyum mengambil foto itu dari tangannya. “Nanti foto ini bisa hilang di sana. Kau tidak mau kan? Lagipula Eomma dan Appa akan menjaga kita dari surga,” kataku.

Hyejin menurutiku. Ia melepaskan foto itu dan membiarkan aku menaruhnya di tempat semula. Alasanku sebenarnya : aku tidak ingin semua rencanaku terganggu hanya karena Hyejin terus-terusan bersedih atas orang tuanya. Mau seumur hidup ia menangis, orang tuanya juga tidak akan kembali. Hyejin justru harus gembira agar orang tuanya juga bahagia, meski di tempat yang berbeda.

Hyejin mengikuti kemanapun aku berjalan karena aku menggandengnya dengan erat kemanapun aku melangkah. Aku tidak ingin kehilangan Hyejin hanya karena keramaian di setiap jalan di kota ini, apalagi di airport. Semua orang tentu ingin menikmati hari libur ini.

“Kyu, saljunya sangat deras. Apa kita masih bisa terbang?” tanya Hyejin saat kami sedang menunggu pesawat boarding.

Aku menunjuk papan penunjuk daftar penerbangan. “Tidak ada kata delay ataupun cancel. Kita terbang 20 menit lagi,” kataku.

Hyejin kemudian sibuk dengan novel dan mp4 yang sudah terpasang kokoh di telinganya. Ia tidak lagi mempedulikanku. Aku hanya bisa tersenyum melihatnya. Mungkin ini menyakitkan bagiku tapi aku bisa merasakan yang jauh lebih sakit di hati Hyejin.

Aku duduk menunggu sambil menelepon seluruh keluargaku. “Merry Christmas!! Hahahaha. Don’t worry. I’m going to Maldives. Wait until next week, nuna. Hahaha. I’m with Hyejin of course. Ne. Ne. Send my greetings to eomma and appa. See you next week.” Aku tahu keluargaku khawatir akan diriku, terutama hubunganku dengan Hyejin. Karena itu, aku selalu bilang semua baik-baik saja.

“Kyu, pesawatnya sudah datang. Ayo kita masuk,” kata Hyejin mengagetkanku. Aku mengangguk. Kumasukkan handphoneku ke dalam kantong lalu mengangkat tas kami. Tanpa disuruh, Hyejin mengamit tanganku. Aku tersenyum penuh kasih padanya.

+++++

Sesampai di Maldives, Hyejin menjadi orang yang lebih dulu keluar dari pesawat. Ia meninggalkanku dengan tas-tas kami. Aku menyusulnya tidak lama kemudian. Kulihat ia sedang menghirup udara Maldives dalam-dalam sambil merentangkan kedua tangannya. Aku sangat senang melihatnya.

Hyejin kemudian berbalik melihatku. “Kyu, ppali,” perintahnya. Dengan semangat, aku pun menghampiri Hyejin. Hyejin terlihat cerah dan menenangkan. Aku tidak tahu pasti apa dia sudah melupakan kesedihannya atau tidak.

Hyejin segera menggandengku menuju pintu keluar. Kami berjalan mencari travel sekaligus tour guide yang bisa membantu kami selama berada di sini karena jujur saja, persiapanku ke Maldives hanyalah dua buah tiket pesawat, tanpa akomodasi selama di sini. Beruntung kami menemukan sebuah travel yang masih mempunyai mobil dan tour guide kosong di hari libur yang ramai ini.

“Hello. I’m Samantha. I’ll be your driver and guide also as long as you hire me,” ujarnya memperkenalkan diri. Aku memperhatikan Samantha dengan seksama. Ia sangatlah ramah dan penuh semangat. Secara fisik, ia juga sangat cantik.

“Hay. I’m Kyuhyun and she’s my wife, Hyejin. We’re from Korea. Please help us patiently,” sahutku.

“Ah, I see it’s your honeymoon, isn’t it?”

Aku tersipu malu. Samantha rupanya benar-benar pintar. Aku menganggukkan kepalaku. Tampaknya, aku tidak perlu khawatir. Aku yakin Samantha akan menjadi guide yang baik selama aku dan Hyejin di sini.

“So, will we go now?” tanya Samantha.

“Yes. But, can you help us to find a hotel? The best one,” sahutku.

Samatha tersenyum hangat padaku. “Don’t worry. I’ll find the best one for you two. Let’s go!”

Akhirnya aku dan Hyejin sampai di hotel yang ditunjukkan oleh Samantha. Hotel yang benar-benar bagus dan memenuhi ekspektasiku. “Thank you, Sam,” ucapku setelah ia memesankan kamar untuk aku dan Hyejin.

“Don’t mention it,” sahutnya. Aku tersenyum penuh terima kasih padanya. Ia lalu memberikanku secarik kertas. “Call me anytime when you two need me. I’ll deliver both of you anywhere you want. See you!”

Samantha lalu meninggalkanku dan Hyejin. Langkahnya sempat mengalihkanku sampai aku tidak sadar Hyejin tidak lagi bersamaku. Kemana dia?? Haish!!

“Hyejin!! Hyejin!!” seruku tidak terlalu kencang tapi cukup didengar. Aku berkeliling hotel tapi tak juga menemukan Hyejin. Aku lalu meneleponnya, dengan cemas, “Hye, dimana kau?”

“Di kamar. Aku lelah,” jawabnya lalu menutup telepon.

Mendengar itu, perasaan lega luar biasa melandaku. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan aku lakukan jika aku benar-benar kehilangan Hyejin, apalagi hanya karena keteledoranku.

+++++

Hari natal membuat segalanya di hotel ini berbau natal, mulai dari hiasan, seragam pelayan, sampai isi toko merchandise yang lucu-lucu, membuatku ingin membelikan hadiah natal ketiga untuk Hyejin. Tampaknya sebuah topi santa dan setumpuk coklat bisa membuat Hyejin gembira.

Aku masuk kamar dengan memakai topi santa dan memegang coklat yang dimasukkan dalam karung mini. “Hohohoho. Merry Christmas! Merry Christmas!” seruku berlaku seolah-olah Santa. Hyejin menatapku sejenak lalu beralih ke novel yang sedang dipegangnya.

“Hohohoho! Nona Song, kenapa kau cemberut? Ini aku punya coklat untukmu! Hohohoho.”

Aku memberikan karung coklat kepada Hyejin. Hyejin menutup novelnya lalu berbaring membelakangiku, tanpa memandangku sama sekali. “Jagi, kau kenapa? Marah ya? Kau tidak suka berlibur ke sini?” tanyaku cemas. Aku takut Hyejin marah karena memaksanya ke Maldives.

“Pikir saja sendiri. Aku mau tidur. Jalja,” ucapnya.

Aku semakin cemas. Bagaimana aku bisa berpikir kalau Hyejin seperti ini. Pikiranku keburu kalut memikirkannya. “Hyejin-ah, kau kenapa? Ayo bilang padaku,” tanyaku penasaran tapi Hyejin tetap tak bergeming.

Aku berusaha membalik badan Hyejin tapi ia bersikeras tak mau menghadapku. Akhirnya aku pun naik ke tempat tidur, berbaring menghadap Hyejin. Aku menatap wajahnya dengan seksama. Tidak ada raut sedih atau tanda-tanda ingin menangis. Yang ada hanya wajah kesal.

“Kau marah padaku. Kenapa?” tanyaku lembut. Aku kenal rautnya kalau sedang marah.

“Kan sudah ku bilang, pikir saja sendiri,” jawab Hyejin lalu membalikkan badannya, kembali membelakangiku.

Seketika, aku teringat kejadian beberapa waktu lalu saat dia melihat aku berjalan dengan teman sekantorku yang notabene adalah gadis tercantik di kantor. Hyejin melakukan hal yang sama, tidak mau bicara berhari-hari sampai aku menemukan jawaban bahwa ia cemburu.

Aku mendekatkan tubuhku lalu mendekap Hyejin. Ku cium puncak kepalanya. “Mianhe. Aku tidak ada perasaan apa-apa pada Samantha. Aku hanya menghargainya sebagai guide kita. Mianhe membuatmu merasa terabaikan,” ucapku yang aku yakin tepat sasaran.

Hyejin tidak bergeming. Aku tidak peduli. Aku menciumnya sekali lagi. Dua kali. Tiga kali. Empat kali. Sampai Hyejin akhirnya melunak. “Iya, iya kau kumaafkan. Haish!” ucapnya setengah merajuk. Kini ia sudah menghadapku. Matanya menatap mataku dengan sendu. “Aku mohon jangan abaikan aku. Kau satu-satunya alasan aku masih hidup,” bisiknya dengan suara bergetar.

Dengan lembut aku menarik Hyejin ke dalam pelukanku dan membiarkan ia balas memelukku dengan lebih erat. “Alasanku hidup adalah agar kau tetap hidup. Karena aku juga tidak bisa hidup tanpamu, jagi,” ucapku sambil mengelus-elus punggung Hyejin. Kurasakan kepala Hyejin mengangguk-angguk di bawah kepalaku. Ia meletakkan kepalanya di dadaku senyaman yang ia inginkan. Ia terus memelukku sampai akhirnya ia tertidur pulas.

+++++

Rasanya sudah ratusan kali aku terbangun dan Hyejin sudah tidak ada di sampingku. “Hyejin-ah!! Kau dimana?” seruku sesantai mungkin meski sebenarnya aku kesal.

“Di sini,” jawab Hyejin entah darimana.

Aku bangkit dari tempat tidur dan mencari Hyejin. Ia sedang berdiri menatap balkon sambil meminum secangkir susu. “Kenapa pagi-pagi sekali kau sudah bangun?” tanyaku lalu mengecup pipinya. Aku berdiri di sebelahnya dan ikut-ikutan menatap balkon.

“Aku rindu pada eomma dan appa,” ucap Hyejin lemah. Sebentar lagi, ia pasti akan menangis. Perlahan, aku merangkul Hyejin. Berharap ia tidak akan menangis. Kalaupun terjadi, ia tahu aku bersamanya.

Hyejin akhirnya menangis. Aku menepuk pundaknya yang kurangkul, dengan lembut. “Jangan menangis terus. Eomma dan Appa juga akan sedih kalau kau terus menangis. Aku juga seperti itu. Kalau kau sedih, aku juga sedih. Jangan menangis. Kau harus gembira,” ujarku.

“Andai eomma dan appa masih hidup, aku pasti tidak akan seperti ini.”

Tanpa Hyejin ketahui, aku membatin kesal, “Ada mereka pun kerjaanmu hanya menangis. Tidak ada bedanya. Sadarlah! Aku terus yang jadi imbasnya.”

“Kyu…”

Aku menghela nafas panjang untuk menenangkan diriku. Aku tidak mau tampak emosi di hadapan Hyejin. “Dengar, kalau kau gembira, eomma dan appa juga akan gembira. Mereka sudah damai di Surga jadi jangan kau bebani mereka dengan kesedihanmu. Mereka menjagamu dari Surga loh. Jadi kenapa kau harus sedih?” jelasku seperti ayah yang sedang memberi penjelasan kepada anak umur 4 tahun.

“Aku merindukan mereka…”

Aku kehabisan kesabaranku untuk pertama kalinya. Kurasa segala kesal yang aku pendam selama ini siap meledak. “Aku tahu. Dan kuharap kau paham betapa aku juga merindukanmu. Jangan egois. Kau tidak hidup sendirian. Tolong pahami juga perasaanku,” kataku meluap-luap, tidak membentak tapi cukup membuat Hyejin tiba-tiba bengong melihatku.

“Sekarang lebih baik kau siap-siap. Samantha akan menjemput kita sejam lagi,” lanjutku kemudian meninggalkannya. Aku mendinginkan kepalaku, sebelum segalanya menjadi lebih buruk.

+++++

Bel kamar hotelku berbunyi saat aku sedang mandi jadi Hyejin yang membukakannya. Aku yakin Samantha sudah datang menjemput. “Hello, Mrs. Cho. Are you ready to go?” tanya Samantha pada Hyejin. Aku pun mempercepat mandiku.

“Hay, Sam! How fast you come!” kataku begitu melihat Samantha. Ia sudah duduk manis di ruang tamu menunggu.

Samatha tersenyum, manis sekali. “Can we go now? I’ll show you something beautiful but it can’t be seen after 9. So, we better faster.”

“Of course.” Aku lalu mencari Hyejin. Ia duduk di tempat tidur dengan mata bengkak. Tatapannya kosong. “Kau kenapa lagi? Tidak capek menangis terus?” tanyaku.

Hyejin bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar. “Aku bilang pun kau tidak peduli,” katanya. Ya Tuhan, selama ini siapa yang tidak peduli? Dia atau aku?

“Hyejin-ah! Yaa Song Hyejin!” seruku sampai Hyejin memberhentikan langkahnya.

“You like her. Aku tahu dari awal, kau menyukai Samantha. Karena dia, kau marah padaku! Karena dia, kau tidak mempedulikan aku! Aku tahu! Aku tahu!” Hyejin berteriak histeris padaku. Air matanya mengalir deras, membuatku merasa sangat bersalah.

Aku marah pada Hyejin sama sekali tidak ada hubungannya dengan Samantha tapi mengenai perasaanku pada Samantha mungkin Hyejin ada benarnya. Samantha begitu menarik, ceria dan hangat. Samantha membawa sesuatu yang sudah lama tidak aku rasakan.

+++++

Hari Natal yang seharusnya damai justrus seperti kekacauan buat diriku. Aku bertengkar hebat dengan Hyejin. Dia tidak mau ikut pergi. Alhasil, aku pergi sendirian, ah tidak, Samantha menemaniku. Ia membawaku ke sebuah pantai. Tidak terlalu ramai tapi sangat indah.

“Very beautiful. Thank you for bring me here,” ucapku pada Samantha.

Samantha tersenyum. “I just feel you’re not in good mood. I think this place can make you feel better. I’m sorry if I’m wrong,” ujarnya.

“No. No. Thank you very much, Sam. I’m better now.”

Aku lalu duduk di pinggir pantai, tidak peduli dengan ombak yang menghampiri dan membasahiku, hampir seperti terkena air es . Aku melihat hamparan pantai dan matahari yang terbit di ujungnya. Sangat indah meski salju menyelimuti. Tapi akan lebih indah jika ada Hyejin.

Andai Hyejin bisa lebih mengerti aku. Andai Hyejin mau sedikit lebih mengalah. Andai ia tidak memikirkan dirinya sendiri. Andai aku memiliki kesabaran ekstra menghadapinya dan segala liku hidupnya. Andai saja…

Tanpa terasa, mataku rasanya pedas. Aku tertawa pada diriku sendiri. Ternyata aku bisa juga menangis. Segera aku hapus air mataku agar tidak dilihat orang tapi rupanya Samantha lebih dulu melihatku menangis.

“Release it if it can make you better,” ucap Samantha. Ia kemudian memelukku dengan hangat. Air mataku mulai mengalir. Semua perasaanku, rasa frustasi, keluar melalui air mata ini. Samantha mengelus-elus kepalaku dan aku semakin meluapkan emosiku sampai aku merasa lega, jauh lebih baik.

“Thank you,” ucapku pada Samantha. Ia tersenyum padaku dengan tulus.

Tidak terasa, hari natal kedua sudah lewat setengah hari dan tidak ada dari 12 jam ini yang kulewati dengan kehangatan bersama Hyejin. Semua terasa dingin, sama dinginnya dengan cuaca hari ini.

“Are we back to hotel now? Don’t you worry about Hyejin?” tanya Samantha.

Aku berdiri lalu bergerak menuju mobil. Samantha berjalan di sebelahku. Ia mengantarkanku kembali ke hotel dengan selamat. “Have a nice day. Call me when you need me. Anytime, as always,” kata Samantha sebelum pergi.

++++

Aku berdiri di depan kamar hotelku penuh dengan ketakutan. Aku takut menghadapi Hyejin. Aku takut bagaimana jika begitu aku masuk, Hyejin marah padaku. Aku takut begitu aku melihat Hyejin, aku yang justru tidak bisa mengontrol emosiku.

Nafasku terasa sangat berat. Aku menghelanya dengan panjang. Aku berusaha meraih kekuatan untuk menghadapi Hyejin. “Hyejin-ah!” panggilku begitu masuk ke dalam kamar tapi tidak ada sahutan dari Hyejin. “Hyejin-ah!” panggilku sekali lagi tapi lagi-lagi tidak ada jawaban. Kamar ini pun terasa sunyi sekali.

Aku mencari Hyejin ke ruang tidur dan tidak menemukan siapapun. Begitu juga ke kamar mandi. Hyejin tidak ada dimana pun. Aku lalu menerima BBM darinya.

Kyu. Kyuhyun oppa, annyeong!🙂
Apa kau sudah pulang? Bagaimana harimu? Menyenangkan?
Maafkan aku sudah membuatmu susah selama ini. Aku sungguh-sungguh minta maaf.

Kyu. Oppa. Saat kau membaca BBM ini, mungkin kau tidak akan melihatku lagi. Aku tidak bunuh diri. Tidak. Aku hanya memutuskan untuk pergi darimu. Aku tidak bisa menyakitimu lebih lama lagi. Aku akan menanggung segala kepahitan hidupku, seorang diri. Maafkan aku sudah melibatkanmu selama ini.

Dari jauh, aku berdoa untukmu. Semoga kau bisa jauh lebih bahagia tanpaku. Aku tahu masih banyak hal di luar sana yang bisa membahagiakanmu tapi tidak bisa kau raih hanya karena terhalang olehku. Aku tidak ingin lagi menjadi batu sandungan hidupmu. Aku ingin kau tersenyum lagi. Tertawa. Tak memiliki beban.

Inilah akhir dari hubungan kita dan awal dari hidup kita masing-masing. This is our ending and beginning. We should end something to start another. Hope you have wonderful life. I’m sorry for every pain I bring to you. Love you.

PS: I’m sorry for steal your debit card. I’ll pay it back later.

Tidak ada yang bisa menggambarkan perasaanku yang campur aduk ini. Kesal. Sedih. Rapuh. Kecewa. Bersalah. Sesak. Tak ada harapan. Semuanya bercampur jadi satu di hatiku. “Hyejiiiiin!!” teriakku meski aku tahu itu tidak akan membuatnya kembali.

Aku mencoba menelepon handphone-nya tapi sudah mati. “Hyejin,” batinku. Untuk pertama kalinya, aku berharap kematian datang menghampiriku jika Hyejin tidak kembali padaku. Bagaimana bisa aku hidup jika separuh nyawaku pergi? Hidupku juga akan setengah-setengah. Setengah hidup. Setengah mati. Aku sekarat.

+++++

Aku mencoba menelepon semua orang yang mengenal Hyejin tapi tidak ada satu orang pun yang mendapat telepon dari Hyejin. Rata-rata dari mereka bahkan sudah lama tidak berhubungan dengan Hyejin. Aku benar-benar frustasi.

“Hyung, tolong aku. Aku mohon padamu. Sungguh-sungguh aku mohon padamu,” kataku pada Siwon hyung, orang terakhir yang aku harap bisa membantuku.

“Waeyo, Kyuhyun-ah?” tanya Siwon hyung.

“Hyejin kabur. Dia pergi meninggalkanku. Aku mohon bantu aku menemukannya.”

“Dia pergi kemana?”

“Mana aku tahu! Kalau aku tahu, aku tidak akan minta tolong padamu, hyung!” Aku mulai membentak-bentak. Aku sudah benar-benar frustasi. “Yang pasti dia keluar dari Maldives. Aku mohon kerahkan seluruh anggotamu untuk mencarinya.”

“Ne. Ne, Kyuhyun-ah. Aku akan mengabarimu begitu mendapat kabar.”

Aku menutup telepon lalu membereskan semua barang-barangku dan Hyejin yang masih berada di luar koper. Aku mengubek lemari dan tas, Hyejin sudah membawa pergi segala identitasnya dan kartu penunjang keuangan untuk hidupnya. Setelah itu, aku check-out dan langsung menuju airport. Walau aku tak tahu akan pergi kemana.

+++++

Siwon hyung menelepon beberapa jam kemudian, di saat aku sudah kebingungan luar biasa. “Kyu, Hyejin pergi ke Amerika dengan pesawat jam 10. Dia mungkin akan sampai beberapa jam lagi,” kata Siwon hyung.

“Dia pergi kemana?” tanyaku.

“California. Dia pergi ke tempat Hamun.”

Aku sangat berterima kasih pada Siwon hyung. Dia memang sangat bisa diandalkan. Tidak sia-sia dia tercipta menjadi orang kaya nomor 1 di Korea, yang mempunya jaringan di seluruh negeri ini. “Gomawoo, hyung!” ucapku.

Aku melihat jam tanganku sudah menunjukkan jam 5 sore. Segera aku membeli tiket pesawat menuju Amerika. Sial, aku baru dapat penerbangan jam 10 malam.

Aku kembali menelepon Siwon hyung, “Hyung aku berangkat jam 10 malam. Bisa minta tolong kirimkan alamat Hamun?”

“Aku kirimkan juga kau tidak akan mengerti. Aku akan menjemputmu begitu kau sampai di sana. Sekarang, aku mau terbang juga kesana. Kau pikir hanya kau saja yang mau menemui Hyejin? Aku juga mau bertemu Hamun. Sampai jumpa.” Siwon hyung lalu menutup teleponnya.

Aku tidak tahu apa yang direncanakan Siwon hyung tapi mungkin perasaannya saat ini sama seperti diriku, akan melakukan apapun hanya untuk menemui orang yang dicintainya. 5 jam serasa 5 tahun buatku.

+++++

Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan kota California ini. Semuanya tampak sama saja seperti Korea. Hanya ada bangunan, gedung-gedung, mobil-mobil. Padat. Tidak ada bedanya. Aku bahkan tidak tertarik meneliti kota ini lebih jauh. Aku hanya ingin cepat sampai di apartemen Hamun dan bertemu dengan Hyejin.

“Hyuuuung! Kenapa kau lama sekali?” protesku begitu melihat Siwon hyung muncul untuk menjemputku.

“Tampaknya kau sudah frustasi berat gara-gara Hyejin,” sahut Siwon hyung.

Aku segera masuk ke dalam mobilnya dan melaju menuju apartemen Hamun. Siwon hyung menunjukkan apartemen Hamun padaku. “Hyejin sedang sendiri di dalam. Aku dan Hamun sengaja ingin membiarkan kalian berdua,” kata Siwon hyung lalu meninggalkanku.

Aku masuk ke dalam apartemen Hamun perlahan. Kulihat Hyejin sedang menonton tv sambil memakan sereal. “Hamun, apa itu kau? Kau sudah pulang?” tanyanya. Dia berbalik dan melihatku. Aku tahu dia pasti terkejut.

Aku tersenyum. “Tega sekali kau meninggalkanku. Aku hampir gila tahu,” kataku. Aku lalu mendekatinya. Hyejin tidak bergeming. Dia tetap duduk di tempatnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya.

Aku tertawa terpingkal-pingkal mendengar pertanyaannya. “Menurutmu? Tentu saja menjemputmu, sayang. Apa kau pikir aku akan diam saja? Tidak akan kubiarkan kau pergi.”

Hyejin berpaling dariku. “Jangan bohong. Aku selalu menyiksamu. Mana mungkin kau masih mau denganku. Mana ada orang yang mau terus menderita,” katanya.

Aku duduk di sebelah Hyejin lalu membelai-belai kepala Hyejin. “Kalaupun aku harus menderita seumur hidup asal kau tetap bersamamu, aku tidak keberatan. Asal kau tetap hidup bersamaku, apapun akan kujalani.”

“Bohong!”

“Kau tahu aku tidak pernah bohong.”

Hyejin menatap langsung ke dalam mataku, entah apa yang dia cari. Tak lama kemudian, ia menangis. “Maafkan aku. Maafkan aku,” ucapnya berkali-kali sambil memegang tanganku dengan erat.

Aku memeluknya. Mantelku rasanya sudah basah oleh salju, sekarang ditambah air mata Hyejin. “Tidak ada yang salah jadi buat apa minta maaf?”

Hyejin memelukku dengan sangat erat. Terus-terusan dia berkata, “Jangan tinggalkan aku.”

“Aku tidak akan meninggalkanmu tapi kau juga harus janji jangan bersedih lagi. Mulai hari ini kau harus gembira. Hidupmu masih panjang dan sangat berharga. Kau harus bisa menikmatinya.”

Hyejin menganggukkan kepalanya dalam dadaku. Kurasakan tubuhnya masih bergetar. Kudorong sedikit Hyejin dari tubuhku lalu kuangkat dagunya. Kuusap air matanya dengan tanganku.”Hey, sudah kubilang jangan bersedih. Kenapa masih menangis?”

Hyejin berusaha menghentikan tangisnya. Meski masih ada sisa-sisa, aku tetap menghargainya. “Istriku jauh lebih cantik jika tidak bersedih,” ucapku lalu menciumnya. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Hyejin tersipu malu melihatku. “Saranghae,” ucapnya padaku.

“Arra,” sahutku. Tanpa perlu dia bilang pun aku tahu betapa dia mencintai diriku. Begitu juga aku.

Hyejin menatapku. Tampaknya dia menanti sesuatu. “Wae?” tanyaku.

“Apa kau tidak ingin mengatakan hal yang sama padaku?” tanyanya.

Aku tersenyum. Kuraih tubuhnya ke dalam pelukanku dan kucium bibirnya dengan lembut. “Bertahun-tahun kau hidup bersamaku, apa kau masih tidak bisa mengerti betapa aku mencintaimu? Humm?” Kucium Hyejin sekali lagi. “Nado saranghae,” ucapku.

Hyejin akhirnya tersenyum cerah. Wajahnya berseri-seri. Tidak ada lagi kesedihan di wajahnya. Sekarang raut sukacita menyelimuti Hyejin.

“Merry Christmas,” ucapnya tiba-tiba. “Aku belum memberimu hadiah. Kau mau apa?”

Aku pura-pura berpikir. Kukerutkan keningku seolah aku memikirkan sesuatu. Aku kemudian mendekatkan mulutku ke telinganya. “Baby. Aku ingin punya bayi,” bisikku. Aku tersenyum nakal padanya lalu menggendongnya ke kamar terdekat.

“Kyuuuu!” seru Hyejin sambil tersipu malu-malu. Aku menguncinya di bawah tubuhku. Tangannya mengunci tubuhku agar tidak terlepas darinya. Hyejin menatapku sambil tersenyum, sangat cantik.

“Tahun depan aku ingin merayakan natal bertiga. Tahun depannya lagi berempat. Tahun depan lagi berlima. Terus begitu setiap tahun, anggota keluarga kita bertambah satu,” godaku.

Hyejin tertawa mendengar permintaanku. “Boleh. Semakin banyak anakmu, semakin kau akan terlantar,” balasnya.

Aku menyeringai nakal. ” Kalau gitu cukup 3. Tidak boleh kurang!” kataku bernegosiasi mengenai keturunan.

Hyejin mengangguk lalu menarik wajahku ke hadapannya. “As your wish, Mr. Cho. Merry Christmas,” bisiknya lalu menciumku dengan hangat dan lembut.

Aku melihat pohon natal yang terpasang di sudut kamar ini. Warna-warni lampunya yang nyala-mati bergantian membuatku sadar bahwa hidup ini memang begitu. Kadang berwarna, kadang suram. Suka dan duka akan datang silih berganti. Senang dan susah. Kebahagiaan dan penderitaan. Mereka akan berlalu pada waktunya. Semua tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Tuhan lahir untuk mendatangkan sukacita bagi kita. Jika pun kita sedang menderita, Tuhan tidak memberikannya melebihi kemampuan kita. Semua akan diangkatnya dari pundak kita dan berganti kebahagiaan. Merry Christmas!!!

+++++

25 Desember 2013

Hyejin berteriak dengan kencang sambil memegangi perutnya. “Oppaaa! Kyu oppa!! Sakit! Perutku sakit sekali!!” Teriaknya. Dengan panik, aku mendekati Hyejin sambil mengelus perutnya yang besar, seakan siap meledak.

“Tapi jadwalmu melahirkan masih 2 minggu lagi kan?” Tanyaku.

“Mana aku tahu!! Cepat antarkan aku ke rumah sakit!!” Teriaknya. Kini ia tambah semakin ganas. Ia sudah mencengkram kuat bajuku. Aku paham rasa sakit yang sedang dirasakannya. Pasti sangat sakit.

“Tunggu sebentar ya,” ujarku, masih dalam kondisi panik. Bagaimana tidak panik? Ini adalah pengalaman pertamaku berhadapan dengan orang yang akan melahirkan, apalagi ini istriku sendiri. Parahnya tidak ada yang bisa membantuku.

Aku segera membereskan barang-barang yang sekiranya diperlukan Hyejin di rumah sakit. Baru setelah itu, kami berangkat ke rumah sakit. Aku harus rela menyetir dalam keadaan stress karena Hyejin terus berteriak kesakitan sambil mencengkram tanganku. Kukunya bahkan nyaris menembus kulitku. Perih sekali rasanya walau aku tahu rasa sakit yang dirasakan Hyejin jauh lebih luar biasa daripada kukunya yang tertancap di lengan tanganku.

“Sabar ya, sayang. Sebentar lagi,” ucapku. Aku pun segera menelepon rumah sakit untuk memesan ruang persalinan. Aku tidak ingin Hyejin masih harus menunggu kesakitan begitu kami sampai.

Hyejin langsung dimasukkan ke kamar operasi begitu aku sampai di rumah sakit. Para suster menemaninya masuk ke ruang operasi. Sedangkan aku harus lebih dulu mengurus administrasi dan hal-hal kecil lainnya. Setelah selesai, aku menyusul masuk ke ruang operasi.
Kulihat Hyejin sudah berbaring di tempat tidur persalinan. Dokter sudah mengatur posisi Hyejin agar bisa melahirkan dengan lancar. Aku berdiri di sampingnya sambil memegang tangan Hyejin.

“Ayo, nyonya. Mulailah mengeden. Anak anda sudah mau keluar,” kata dokter.

Hyejin mulai mengeden dan berteriak-teriak, “Eeeeuuugh! Euuuugh!” Kemudian ia menarik nafas sebentar kemudian mengenden lagi. Tangannya mencengkramku dengan kuat. Aku berusaha menyemangatinya dengan mencium tangannya. “Hyejin, kau pasti bisa! Aku tahu kau pasti ingin melihat Kihyun,” kataku.

Tidak lama, suara tangis seorang bayi pecah di antara kami. Hyejin terbaring lemas tapi sangat lega. Aku melihat bayi merah yang baru saja keluar dari rahim Hyejin. Sangat tampan! Meski darah masih menyelimutinya, aku tahu dia sangat tampan. Cho Kihyun yang tampan, sama seperti appa-nya.

Suster lalu menyerahkan Kihyun pada Hyejin. Aku membantu Hyejin menaruh Kihyun di dadanya karena aku tahu Hyejin tidak mempunyai tenaga lagi. Hyejin menatap Kihyun penuh kasih sayang. Aku tersenyum melihat mereka berdua. Mereka adalah harta paling berharga untukku.

Kelahiran Kihyun merupakan hari natal yang terindah yang aku alami. Sudah setahun, aku tidak pernah lagi merasa terbebani karena Hyejin sudah kembali ceria. Dia tidak pernah lagi bersedih. Setiap hari, yang dia lakukan hanyalah tertawa. Tidak ada lagi air mata. Tambah lagi Kihyun sekarang hadir di antara aku dan Hyejin. Tidak ada yang bisa menggantikannya. Berkat Tuhan memang luar biasa.

Merry Christmas. Damai Natal beserta kita semua!