Akhirnyaaaaa, setelah semedi cukup lama. Author bisa menyelesaikan SGC 5!! Hahahaha.
*puas diri*
Semoga gak mengecewakan yaaa dan semuanya pada suka🙂

Cast :
Super Girls
Super Junior
DBSK / JYJ
Etc..

Jihyo pov
SMTOWN berjalan lancar. Konsernya sukses besar. SM untung gila-gilaan. Bos besar juga mengadakan pesta untuk merayakan keberhasilan ini. Aku tidak peduli. Aku justru lebih ingin pulang dan bertemu dengan Purple Rain. Aku ingin segera menghajar mereka habis-habisan.
“Jihyo, kenapa kau? Tidak tenang sekali. Bersenang-senanglah. Jarang-jarang kita punya pesta sebesar ini,” kata Sungmin oppa.
“Aku ingin pulang, Oppa. Pesta ini membosankan sekali,” sahutku jujur.Aku kemudian mencari-cari memberdeul yang lain, hanya ada Hamun dan HyunAh onni. Hyejin onni dan MinAh onni langsung kembali ke Korea begitu konser selesai. Mereka harus istirahat lebih lama.
Aku bergabung dengan Hamun dan Siwon oppa begitu Sungmin oppa pergi minum di meja Kyuhyun oppa. “Oppaaaa…” rengekku begitu berada di sebelah Siwon oppa.
“Waeyo, Jihyo-ya? Kenapa kamu?” sahut Siwon oppa.
Aku cemberut pada Siwon oppa meskipun dia tidak salah apa-apa. “Aku mau pulang. Aku bosan,” ujarku.
Hamun memandangku dengan terkejut. “Tumben. Onni mau kembali kerja? Astaga, bumi pasti terbalik!” kata Hamun.
“Hamuuuun. Aku bukan mau kembali bekerja tapi memang pesta ini membosankan. Member kita pun tidak lengkap. Lebih baik aku memikirkan rencana untuk menghajar Purple Rain.”
Hamun mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sebenarnya aku juga begitu. Kalau tidak karena ada Siwon oppa, aku sudah ikut pulang dengan Hyejin onni.”
“Sudahlah. Sabar saja dulu. Besok pagi kan kita sudah pulang,” kata Siwon oppa.
Siwon oppa sama sekali tidak membantu, membuatku semakin bosan. Aku mengambil sekaleng coca-cola dan pergi ke meja Jessica onni.
“Hey Jo, want some pie?” tanya Jessica onni.
“Of course.” Aku pun mengambil beberapa pie dan memasukkannya ke mulutku.
“Jo, aku sudah lihat MV barumu. Kau keren! I’m so proud of you.”
“Thank you, onni. I’m proud of you too. Your performance is the greatest!”
Aku mulai tidak ambil pusing mengenai pesta ini. Aku sudah asyik dengan Jessica onni. Sayang, si nenek lampir memang tidak bisa lihat orang senang.
“Ternyata kau di sini daritadi aku cari-cari. Cepat kembali ke hotel!” perintahnya.
Aku hanya bisa mencibir kesal. “Onni, aku duluan ya. Sampai jumpa.”
Jessica onni tersenyum padaku. “Tetap semangat ya,” ucapnya.
Aku berdiri dengan tidak semangat dan berjalan mengikuti si nenek lampir. Aku iri melihat oppadeul atau onnideul atau teman-teman lain yang masih asyik berpesta. Aku menyesal tidak menikmati pesta dari tadi. Penyesalan memang selalu datang terlambat.
“Oppa, aku pulang duluan ya. Nenek lampir menyuruhku,” ujarku pada Sungmin oppa yang sengaja kutemui sebelum pulang. Aku melihat Kyuhyun oppa juga di situ tapi karena berhubung aku sedang marah padanya, aku tidak menyapanya.
Sungmin oppa membelai kepalaku. “Sampai jumpa, sayang. Tetap semangat ya.” Aku tersenyum, seketika aku merasa lebih enak. Sungmin oppa memang mood booster terbaikku.

Hamun pov
Jihyo onni adalah orang yang paling kami tunggu-tunggu. Karena itu, begitu dia masuk ke dalam mobil, kami langsung kembali ke hotel. Belum ada semenit mobil ini berjalan, kami bertiga sudah sibuk mengobrol, tentu dengan menggunakan teknologi bernama BBM Multiperson Chat.

Jung HyunAh
Mau apa dia?

Kang Hamun
NGAPAIN DIA MENARIKKU TEPAT KETIKA SIWON OPPA MAU MEMELUKKU?! DASAR LAMPIR! GAK BISA LIHAT ORG SNG!

Choi Jihyo
Mana aku tahu. Aku juga tiba-tiba dipanggil.
Ciyeh, ciyeh Hamun. Berani sekali Oppa-ku memelukmu di tempat umum. Aigoo!

Kang Hamun
ooonni.. Jangan menggodaku.

Jung HyunAh
beruntung sekali Minah dan Hyejin tidak bertemu dengan nenek lampir ini.
Ah, aku masih ingin bertemu dengan changmin oppa.

Choi Jihyo
Aku ingin menjambak nenek lampir! Haish!

Kang Hamun
wkwkwkwk. Onni pikir apa aku tidak ingin melakukan hal yang sama?
Btw, kita ini dibawa kemana? Kenapa bukan hotel?

Aku baru sadar bahwa kami dalam perjalanan ke airport. “Miss Seo, apa kita akan kembali ke Korea?” tanya Hamun.
“Menurut kalian? Besok jadwalnya comeback stage kalian, jelas kalian harus pulang sekarang,” jawab Miss Seo.
Aku rasa bukan hanya aku yang kaget. “Mwo? Bukannya minggu depan?” tanya HyunAh onni spontan.
“Wae? Kalian belum siap? Kalau belum, gak usah jadi artis,” ujar Miss Seo.
Astaganaga, aku ingin sekali mencekik perempuan satu ini. Kenapa kami punya hanya satu manajer dan itupun sangat menyebalkan.
“Ini tiket dan passport kalian. Segera check-in dan boarding.” Miss Seo memberikan tiket dan passport kepada kami masing-masing. Setelah itu, ia langsung pergi meninggalkan kami.
“Dasar perempuan gila! Seharusnya Appa memecat dia!” gerutu Jihyo.
“Wait, i think we have same flight with Minah and Hyejin,” kata HyunAh onni tiba-tiba.
Refleks, aku melihat jam penerbangan di tiket kami. Benar kata HyunAh onni, kami satu pesawat dengan Minah onni dan Hyejin onni. Mereka berdua langsung ke airport begitu konser selesai sedangkan kami berpesta sebentar. Tahu gitu, onnideul ikut pesta saja sebentar.
“Ayo kita susul mereka.” Jihyo onni tiba-tiba berubah semangat. Dia masuk ke tempat check-in dengan riang. Aku dan HyunAh onni mengikutinya.

HyunAh pov
Kami masuk ke dalam ruang boarding dan menemukan Minah duduk di sana, sendirian ditemani ipod-nya. “Minah onni!” teriak Jihyo sambil berlari memeluk Minah.
Minah tampak terkejut melihat kami. “Jihyo! Kenapa kalian ada di sini? HyunAh? Hamun?” tanya Minah.
“Miss Seo…”
“Nenek lampir, maksud Hamun,” koreksiku. “Ia menyuruh kami pulang karena jadwal comeback kita dimajukan jadi besok.”
Minah menghela nafas panjang. “Astaga. Labil sekali manajer yang satu itu. Mana dia? Kenapa aku tidak melihatnya?”
Aku tertawa sinis. “Mungkin masih mau berpesta. Mana Hyejin?”
Minah menatapku dengan bingung. “Bukannya dia ke Las Vegas? Ada pemotretan. Kalian tidak tahu?”
Aku, Hamun dan Jihyo menggelengkan kepala kami nyaris bersamaan. Minah menghela nafas panjang. “Nenek lampir kalian memang tidak bisa diharapkan,” ujar Minah.
Aku pun langsung penasaran akan satu hal. “Kapan Hyejin pulang? Apa ia akan langsung comeback stage begitu sampai?”
“Menurutmu?”
“Dia akan naik panggung tanpa latihan? Ck! Mana bisa! Koreografinya saja dia tidak hafal! Mau jadi apa comeback stage kita?!”
Tiba-tiba saja aku menjadi sangat emosi. Manajer itu sudah mengambil banyak langkah yang salah. Aku sudah muak padanya. “Jihyo, apa Appamu tidak ada rencana membuang Lampir dari kita? Aku muak dengannya! Kalau appamu tidak berniat, aku yang akan membuangnya!”
Aku tahu Jihyo agak ketakutan padaku. “Onni, kau seram sekali. Kalau kau menunjukkannya kepada Purple Rain, mungkin mereka akan kapok,” katanya.
Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal dengan kencang. Nenek lampir itu membuatku frustasi, tambah lagi dengan Purple Rain. “Kita susun rencana untuk makhluk-makhluk centil itu di pesawat. Kajja!”
Aku lebih dulu memasuki pesawat dan duduk di tempatku. Minah duduk di depanku karena ia mau segera istirahat, badannya belum sehat betul. Dengan senang hati, Jihyo bertukar tempat duduk dengan Minah. Jihyo jadi duduk di sebelahku.
“Jadi onni, apa yang akan kita lakukan pada Purple Rain?” tanya Jihyo bersemangat.
“Tugasmu adalah beraksi dengan dance yang mereka kopi. Sedangkan aku, akan membongkar semuanya! Aku tidak akan berhenti bicara sebelum mereka mengaku sambil menjerit-jerit.” Entah sejak kapan aku jadi jahat dan penuh dendam seperti ini.

Hyejin pov
Perutku mual luar biasa karena masuk angin dan belum makan dari pagi tapi aku tidak bisa melakukan apapun kecuali menyelesaikan pemotretan sebelum jam 5 pagi karena pesawatku menuju Korea akan berangkat jam 7 pagi.
“Hyejin-ah, mian,” ucap Junsu oppa begitu aku keluar dari kamar mandi, aku baru saja muntah. Junsu oppa menatapku dengan cemas. “Kalau aku tidak memintamu jadi partnerku, sekarang kau sudah bisa pulang dan istirahat.”
Aku tersenyum tulus meskipun lemah. “Gwencana, oppa. Kau juga pernah membantu SG sampai MV kami sukses besar. Sekarang, gantian.”
“Junsu, Hyejin, ayo bersiap!” panggil fotografer kami.
Aku dan Junsu oppa pun segera bersiap di lokasi, sebuah kamar hotel di Mandalay Bay – Las Vegas. Pengarah gaya mulai mengarahkan kami.
“Junsu, kau menempel ke jendela. Matamu menatap ke kamera. Hyejin, tempelkan tubuhmu ke Junsu. Matamu menatap kamera yang terpantul di jendela. Junsu, masukkan tanganmu ke saku belakang celana Hyejin dan Hyejin letakkan tanganmu di punggung Hyejin,” jelas pengarah gaya kami dengan detil. “Ok! Cue!”
Fotografer pun mulai memotret kami berkali-kali. “Ganti gaya,” ucap fotografer. Pengarah gaya pun mulai mengarahkan kami lagi.
Ia menyuruh Junsu untuk berbaring di sofa. “Hyejin kau di atas Junsu. Topang tubuhmu dengan tanganmu. Junsu dekatkan wajahmu seolah-olah mau mencium Hyejin tapi Hyejin palingkan wajahmu ke kamera tapi jangan melihat kamera. Arraseo?”
Aku dan Junsu oppa sudah bergaya dan aku benar-benar kepanasan di ruangan yang bersuhu 20 derajat. Wajah Junsu oppa yang begitu dekat membuatku deg-degan. “Make it quick,” ucap Junsu oppa pelan. Aku hanya mengangguk. Aku tidak sanggup lagi berpikir.
“Good! Next pose!”
Aku dan Junsu oppa pun kembali ganti gaya yang semakin lama semakin membuatku gerah, bukan karena aku tidak suka tapi karena pose kami yang semakin lama semakin mesra.
“Last pose. Ganti baju kalian,” ujar pengarah gaya. Aku mengganti pakaianku dari jeans ketat menjadi hotpants hitam ketat dan kemeja pink kebesaran sedangkan Junsu oppa hanya mengenakan celana panjang, topless.
“Oke. Kali ini aku mohon, berpose lah yang natural. Berciuman seperti sepasang kekasih. Bergaya sesuka kalian yang penting natural,” kata pengarah gaya.
Kami sudah dalam posisi kami masing-masing. Junsu oppa sudah siap di depanku. Aku pun sudah memeluknya. Seketika, Kyuhyun muncul di pikiranku. Aku melepas tanganku dan mendorong Junsu oppa menjauh.
“Waeyo?” tanya Junsu oppa.
“Aniya. Aku…hanya terbayang Kyuhyun,” jawabku jujur.
Junsu oppa tersenyum. “Kalau kau tidak bisa melakukannya, aku akan bilang pada fotografer,” katanya.
Aku berpikir mempertimbangkan sarannya. Di satu sisi, aku tidak ingin melakukannya tapi di lain sisi, aku harus profesional.
“Yaaa! Apa yang kalian tunggu? Cepat berpose! Ini sudah jam setengah 5 pagi,” protes fotografer.
Aku menghela nafas panjang lalu merangkul Junsu oppa. Kudekatkan wajahku. “Jangan dipaksa kalau kau tidak mau,” ucap Junsu oppa.
“Just do it,” kataku.
Kemudian, Junsu oppa menciumku. Fotografer memotret kami dari berbagai sudut di saat kami bergaya.
Aku memeluk Junsu oppa semakin erat dan merasakan ciuman kami yang semakin lama semakin hangat. Aku merasakan ketenangan yang luar biasa dari Junsu oppa. Kalau ini mimpi, aku berharap tidak segera berakhir.
“Oke! Cut!” seru fotografer.
Junsu oppa melepaskan dirinya. Dia menatapku penuh rasa bersalah. “Mianhe. Ayo kita pulang,” ucapnya.
Bukannya merasa lega, aku justru merasa sesak. Aku merasa sesak karena tadi bukanlah mimpi tapi kenyataan yang pura-pura. Junsu oppa hanya pura-pura menciumku.
“Hye, ayo kita pulang. Nanti ketinggalan pesawat.” Junsu oppa mengajakku sekali lagi karena aku masih saja berdiri terpaku. “Kau kenapa? Mau tinggal di Las Vegas?” tanyanya bercanda.
Aku tersenyum getir. “Mana bisa. Aku tetap harus pulang. Nanti siang, SG comeback,” jawabku.
Kalau memang boleh, aku pasti akan menjawab iya. Kenyataannya, tidak bisa. Aku harus kembali ke Korea menghadapi kehidupanku.
Junsu oppa tersenyum. “Lalu kenapa kau masih berdiri di sana? Kajja!” Ia lalu menggandengku keluar dari hotel. Ia tidak melepaskannya bahkan sampai kami siap terbang.
“Kau tidak takut kan?” tanyanya.
Aku mengerutkan kening, kebingungan. “Takut? Kenapa?”
“Kyuhyun?” Junsu oppa mengucapkannya dengan sangat pelan tapi aku bisa mendengarnya. Ya ampun Oppa, kenapa kau bawa-bawa nama itu lagi? Kau yang justru membuatku takut!
Aku tersenyum setengah hati. Junsu oppa semakin menggenggam tanganku dengan erat. “Aku akan bersamamu. Tenanglah,” ujarnya. Aku sadar perasaan takut mulai menyergapku. Aku takut aku mulai tergantung pada Junsu oppa.

Minah pov
Begitu pesawat mendarat, van kami sudah menunggu dan siap mengantarkan kami menuju Mnet studio untuk rehearsal comeback stage, tanpa mandi apalagi make up terlebih dahulu. Aku hampir gila.
“Min, kau sudah sampai?” tanya Leeteuk oppa tepat ketika aku masuk ke dalam van.
“Baru saja dan sekarang aku mau langsung ke Mnet! Gila! Aku bahkan belum mandi!” omelku melampiaskan kekesalan walau bukan pada orang yang tepat.
“Yaa Park Minah…” seru Heechul oppa dilanjutkan seruan Leeteuk oppa, “Yaa Kim Heechul!”
Bisa dipastikan Heechul oppa baru saja merebut ponsel Leeteuk oppa. “Ya Park Minah? Apa kau sudah baikan?” tanya Heechul oppa.
“Lumayan, meski aku masih sangat lelah. Aku hampir gila!!” Emosiku kembali meluap-luap.
Heechul oppa tertawa-tawa nyaring dari ponsel. “Kuberi tahu ya, kalau kau kesal pada manajermu, ungkapkan! Kalau manajemen menekanmu, bilang! Jangan ditahan-tahan. Nanti kau yang sakit,” kata Heechul oppa.
“Heechul-ssi, jangan ajarkan Minah-ku yang aneh-aneh!” terdengar seruan Leeteuk oppa.
“Aku mengajarkan hal yang baik,” balas Heechul oppa.
“Yaaa oppadeul! Kalau mau berdebat, aku tutup teleponnya ya!” Aku pun menutup teleponku.
“Haduh Minah, kau jangan galak-galak sama oppadeul,” nasihat HyunAh.
“Aku gak galak. Mereka aja yang cerewet,” balasku. “Oh ya HyunAh, apa oppamu sudah menghubungimu?”
“Yonghwa oppa?”
Aku rasanya ingin menggigit HyunAh saat itu juga karena berani menggodaku. HyunAh tentu jelas tahu bahwa aku menanyakan Yunho oppa bukan kembarannya. “Hyun…”
HyunAh menyeringai jahil. “Belum, belum. Mungkin mereka sedang sibuk mau pulang.” Ya, mungkin saja.
“Ya sudah. Tapi kalau nanti Yunho oppa tidak menghubungiku, aku akan menghajarnya!” Tentu saja, aku serius.
Aku memandang jalanan yang cukup padat. Terutama di sekitar pusat perbelanjaan. Aku memerhatikan toko-toko yang berjajar, terutama toko musik, poster SG sudah dipasang di pintu masuk. Album pun sudah dipajang di etalase terdepan. Salah satu gedung memutar MV kami di big screen mereka. Orang-orang bahkan mengantri untuk membeli album kami. Aku merasa bangga sekaligus puas pada kerja kerasku dan teman-teman SG. Semua penderitaan yang aku terima gara-gara album itu rasanya terbayar. Aku harus bisa memberikan yang terbaik untuk fans.
“Omona!!” seru Jihyo tiba-tiba membuat kami semua terkejut.
“Waeyo? Waeyo? Waeyo?” tanyaku, HyunAh dan Hamun berkali-kali nyaris bersamaan.
Jihyo memamerkan ipad-nya pada kami. Layarnya yang terang benderang itu dengan jelas menunjukkan pada kami ‘Junsu-JYJ kembali ke Korea bersama Hyejin-SG’. Bukan itu saja, gambar mereka bergandengan tangan di airport juga terpasang di berita itu.
“Jadi mereka ke Las Vegas berdua?” tanyaku penuh curiga.
Jihyo mengangguk. “Mereka ada pemotretan berdua untuk sebuah majalah. Kita tunggu saja nanti,” ujar Jihyo.
Aku membaca berita elektronik itu lalu memberikannya kepada Jihyo. “Aku harap Junsu oppa serius dengan Hyejin. Semoga dia bisa membahagiakan Hyejin,” ucapku serius. Aku sudah muak melihat Hyejin yang terus bersedih karena Kyuhyun.
“Tapi onni, kalau fans mencium ada hubungan khusus antara mereka, nasib kita bisa di ujung tanduk,” kata Hamun.
“Tolong ya Hamun, 4 dari 5 member SG punya pacar dan tidak ada yang membuat kita di ujung tanduk. Kita justru sukses besar! Jadi, tidak ada masalah kan? Aku dukung mereka!”
“Aku juga!” seru Jihyo. “Kyuhyun oppa biar tahu rasa.”
“Diam!” perintah HyunAh dengan galak. Seketika, aku, Jihyo dan Hamun terdiam. Kami memandang HyunAh dengan bingung. HyunAh benar-benar galak kali ini.
“Waeyo, onni?” tanya Hamun.
HyunAh menatap keluar jendela penuh amarah. Matanya sangat tajam. Dia memandang Purple Rain yang sedang memasuki gedung Mnet. “Tampaknya Purple Rain masih tampil di Mnet. Bagaimana kalau kita rusak?” kata HyunAh pada kami bertiga.
“Bagaimana caranya onni?” tanya Jihyo.
“Jangan dulu. Kita tunggu sampai saat yang tepat. Rencana kita harus matang,” kata Hamun.
“Kita harus secepatnya menghajar mereka,” kata Jihyo berbanding terbalik.
Aku memandang 3 memberku dengan pasrah. “Terserah apa yang mau kalian perbuat tapi sekarang aku mohon kita segera turun. Aku mau mandi,” kataku. Aku lalu menaikkan tudung hoodie-ku, memakai kacamata dan masker untuk menutupi wajah-tidak-mandi-ku.
Aku masuk menuju studio mencari ruang tunggu SG. Dari ujung ke ujung kutelusuri tapi tak ada satupun ruangan yang ditempeli nama Super Girls. “Masa SG tidak diberi ruangan sedangkan Purple Rain mempunyai ruangan, cukup besar lagi,” batinku.
Tidak sengaja aku bertemu dengan Minyoung, managing director Mnet Countdown, sekaligus temanku sewaktu SMP. “Minah-ssi, ada syuting apa?” sapanya yang membuatku bingung.
“Mnet Countdown. Hari ini comeback stage SG,” jawabku.
Minyoung menatapku dan membuatku semakin bingung. Minyoung lalu membalik-balik kertas yang dia pegang. “Jwisonghamnida, Minah-ssi, tapi hari ini tidak ada jadwal comeback SG. Kalian tidak ada dalam list penampilan hari ini,” kata Minyoung.
“Kau serius?”
Minyoung mengangguk dan aku menatapnya tidak percaya. “Akan aku coba cek sekali lagi,” kata Minyoung. Ia lalu menelepon anak buahnya untuk memastikan. “Maaf Minah-ssi, SG memang tidak ada jadwal hari ini.”
Aku mencoba tetap tenang tapi emosiku tidak bisa diredam lagi. Aku benar-benar marah pada nenek lampir bermarga Seo itu! “Seo Jin Ah, jangan sekali-kali menampakkan wajahmu di hadapanku! Aku bersumpah akan memenggal kepalamu begitu melihatmu! Dasar bodoh!” makiku. Aku tidak peduli. Aku sudah terlanjur sakit hati dibuat oleh nenek lampir itu.
Hamun, Jihyo dan HyunAh yang baru datang, melihatku marah-marah, jadi bingung. “Ada apa, Min?” tanya HyunAh.
“Jihyo, minta Appamu manajer baru 3 orang! Aku sudah memecat nenek lampir itu! Manajer bodoh!” perintahku bercampur marah. Jihyo yang bingung langsung menelepon ayahnya dan meminta manajer baru sesuai permintaanku.
HyunAh dan Hamun masih memandangku dengan bingung sekaligus ngeri. Aku membiarkan mereka sejenak. Aku harus menelepon department head yang membawahi SG. “Tae Woo-ssi.”
“Ne. Nugu?”
“Park Minah, Super Girls.”
“Ne, Minah-ssi. Waeyo?”
“I just wanna ask you. Apa hari ini jadwal comeback SG?”
“Humm… Betul. Aku sudah menyuruh Seo Jin…”
“Jangan sebut namanya lagi! Asal kau tahu, dia tidak menyiapkan apa-apa! Kami sudah sampai di Mnet studio tapi tidak ada jadwal comeback kami. Aku tidak mau tahu, hari ini kami harus tampil kalau kau masih mau jadi dept head!” Aku lalu menutup teleponku dengan kasar.
HyunAh menatapku. “Apa kita salah jadwal? Atau…”
“Tidak. Kita tidak salah. Nenek lampir sialan itu yang salah!” selaku.
Aku lalu berjalan menuju toilet yang kebetulan tidak jauh dari ruang tunggu Purple Rain. Pintu mereka terbuka cukup lebar sehingga aku dapat melihat mereka cekikikan bersama beberapa orang. Aku mendekati ruangan itu dan semakin jelas mendengar suara mantan manajerku dan koreografer brengsek yang membuat hidupku susah. Rupanya mereka sekongkol untuk menghancurkan SG.
Diam-diam, aku memotret dan merekam pembicaraan mereka. Setelah itu, aku mengirimkannya kepada memberdeul beserta sebuah pesan : HyunAh, Jihyo, Hamun, kalian urus 4 gadis centil itu. Aku dan Hyejin akan mengurus nenek lampir dan koreografer brengsek itu. PS : susun rencana begitu Hyejin tiba.
“Tunggu tanggal mainnya, manusia-manusia sialan,” batinku penuh dendam. Mereka sudah membuatku menderita maka kalian akan aku buat menderita.

.to be continued.
@gyumontic