Hello!! SG is comeback!!!
Part 6 is ready to read🙂
Hope you enjoy this story..

Cast:
Super Girls
Super Junior
DBSK / JYJ
Kim Jung Hoon (Prince Manager)
Jessica SNSD
Etc…

HAMUN POV
Aku dan onnideul sudah hampir 3 jam terlantar di lobi Mnet tanpa kejelasan. Minah onni bolak balik menelepon Mr. Kim Tae Woo untuk mengurus masalah kami tapi yang bersangkutan malah mematikan handphone-nya. “Siaaaal!” umpat Minah onni saking kesalnya. Kalau bukan di tempat umum, mungkin ia sudah melempar apapun yang bisa tangannya lakukan.
“Onni, sudah. Tenang dulu. Jangan marah-marah terus,” ujarku berusaha menyabarkan Minah onni.“Ck! Bagaimana bisa sabar? Mnet itu dimulai 3 jam lagi dan kita sama sekali belum melakukan persiapan apapun!”
“Cih! Ini semua gara-gara nenek lampir sialan itu!” Ternyata Minah onni belum selesai melampiaskan emosinya. Aku hanya bisa mengelus-elus tangan Minah onni, berharap ia dapat lebih tenang.
Sambil menenangkan Minah onni, aku mendengarkan Jihyo onni dan HyunAh onni menyusun rencana. “Kita putar rekaman dari Minah ini saat Purple Rain tampil. Bagaimana onni?” tanya Jihyo onni.
HyunAh onni menyetujuinya tapi masih banyak hal yang dipikirkannya. “Kenapa nenek lampir itu tidak pergi dari dulu? Kenapa dia baru kabur sekarang? Kenapa dia tenang-tenang saja padahal dia tahu kita akan ke sini?”
“Urusan kalian itu bocah-bocahnya. Nenek lampir serahkan padaku,” imbuh Minah onni tiba-tiba. Dia masih sibuk dengan handphonenya tapi bukan lagi masalah SG, dari gelagatnya ia mulai kesal karena Yunho oppa tidak meneleponnya.
Aku kembali mendengarkan Jihyo onni dan HyunAh onni berdiskusi. Ya, aku hanya mendengarkan karena pada dasarnya aku malas balas dendam. Biarkan saja manajemen yang menyelesaikannya.
Tak lama handphoneku berbunyi, berkali-kali. Ternyata Hyejin onni dan Siwon oppa mengirimkan BBM pada saat yang bersamaan.

Song Hyejin
Kalian dimana? Aku sudah mau sampai studio.

Choi Siwon Oppa
Jagi, aku baru saja mendarat. SG masih di Mnet? Apa sudah ada yang menangani kalian?

Rupanya Siwon oppa sudah tahu masalah kami. Jihyo onni pasti langsung menceritakannya begitu kejadian bodoh ini menimpa kami.

Kita semua masih terlantar di lobi padahal acara dimulai 3 jam lagi.

Tenang, Jung Hoon hyung akan segera datang dengan semua tim. Aku sudah minta dia untuk mengurus semuanya.

“Jung hoon hyung? Jung Hoon? Kim jung hoon?” tanyaku bingung dalam hati. Begitu banyak nama Jung Hoon di SM tapi yang dekat dengan Siwon oppa hanya satu Jung Hoon.

Jung Hoon? Maksud Oppa Kim Jung Hoon? Prince Manager SJ?

kkkk. Kau benar! Kalian minta 3 manajer kan? Aku berikan 1 tapi yang terbaik!

“Kyaaa!” pekikku girang tak karuan. Minah onni yang tampaknya sedang telpon-telponan dengan Yunho oppa langsung menutup handphonenya dan menghampiriku.
“Ada apa? Waeyo? Wae? Wae?” tanyanya penasaran.
Aku tersenyum senang tapi penuh misteri pada mereka. Jihyo onni semakin penasaran. “Ada apa, Hamun? Kenapa kau girang gitu?”
“Tebak siapa yang akan menjadi manajer kita?”
HyunAh onni menatapku dengan sebal. “Sekarang bukan saat yang tepat untuk main tebak-tebakan. Siapa manajer baru kita?” tanyanya galak. Hhh, HyunAh onni betul-betul butuh Changmin oppa untuk memawanginya.
“Onnideul, kenapa kalian tidak bisa bercanda sebentar sih? Huh,” protesku. Aku kemudian memamerkan BBM dari Siwon oppa kepada mereka. “Prince Manager akan jadi manager kita. Dia akan datang sebentar lagi,” ujarku.
Aku menunggu reaksi dari onnideul. “Jinjja?!” Jihyo onni bersorak kegirangan karena dia memang sejak dulu ngefans dengan manajer satu itu. Minah onni senang karena dia memang senang dekat-dekat namja tampan. Sedangkan HyunAh onni tampak sangat antusias karena menurutnya Prince Manager Oppa bisa sangat diandalkan, termasuk urusan menghancurkan Purple Rain dan kroni-kroninya.
“Sekarang dimana Hyejin? Apa dia sudah sampai?” tanya Minah onni. Aku sampai lupa Hyejin onni juga BBM aku.
Aku segera menelepon Hyejin onni untuk memberitahukan posisi kami tapi dia lebih dulu menelepon. “Aku di ruang tunggu nomor 8. Kalian cepat kemari. Tim wardrobe sudah datang. Prince Manager Oppa sedang mengatur semuanya agar hari ini kita tetap tampil.”
“Apa onni sudah mengetahui semuanya?”
“Tentu saja. Aku bahkan tadi berpapasan dengan si nenek lampir. Hampir saja aku menjambaknya. Sayang di tempat umum.”
Aku pun langsung tertawa mendengar perkataan Hyejin onni. “Onni, kau sama saja dengan onnideul yang lain. Mereka bahkan sudah susun rencana untuk…”
“Aku tahu. Tidak usah banyak bicara lagi. Ayo ke sini! Aku punya hadiah khusus untuk kalian.”
Aku pun mengajak onnideul menuju ruang tunggu. Begitu masuk, ruangan itu terasa sempit karena selain ada tim wardrobe, tim penyemangat kami juga datang : Siwon Oppa, Donghae Oppa, Shindong Oppa, Yunho oppa, Changmin Oppa dan KyuMin oppa.
“Oppa!” seruku girang sambil berlari memeluk Siwon oppa kemudian Donghae Oppa.

JIHYO POV
Aku senang luar biasa kedatangan tim penyemangat yang datang untuk mendukung comeback kami. “Oppa…” Aku bergelayut manja pada Sungmin oppa seperti anak kecil.
Sungmin oppa menepuk-nepuk kepalaku dengan pelan. “Ayo, semangat! Aku yakin comeback kalian pasti sukses!” ujarnya membuatku lebih percaya diri.
Aku tersenyum. “Gomawo, Oppa!” Aku lalu berpindah pada Siwon oppa yang sedang mengobrol dengan Hamun. “Siwon oppa!” seruku sambil meloncat ke punggungnya.
“Aigoo, anak ini. Kau berat tahu!” balas Siwon oppa.
Aku pun turun dari punggungnya sambil merajuk. Siwon oppa menertawaiku. “Hahahaha. Tampangmu jelek sekali. Semoga yang mendandanimu nanti bisa mengubahmu lebih cantik,” katanya. Aku memukul lengannya, cukup kuat meski dengan sayang.
“Hamun, tolong ajarkan oppa-ku ini sopan santun. Aku tahu dia sangat tampan tapi dia tidak boleh mengatai adiknya jelek! Huh!” kataku pada Hamun. Hamun pun tertawa. Aku lalu berpindah ke tempat duduk rias karena stylist ku sudah memanggil.
“Rambutmu aku potong sedikit ya, Jihyo,” kata stylist-ku.
“Kupercayakan padamu,” sahutku. Aku lalu mengambil ipadku dan membiarkan stylist mendandaniku sesukanya.
Ruangan ini terisi banyak orang sehingga terasa sangat ramai. Ada yang mengobrol, ada yang berteriak minta roll atau apalah apalagi tidak lama kemudian Jessica onni, Heechul Oppa, Yonghwa oppa dan Joong-padeul datang.
“Minah-ya!” seru Heechul Oppa kepada Minah onni.
“Hyejiiiin!” teriak Jaejoong dan Joong Ki oppadeul.
Ruangan ini semakin berisik. “Aargh!” batinku. Aku lalu memasang earphone agar kebisingan ini tidak menembus telingaku.
“Yaa! Buat apa kau pasang earphone?” tanya Jessica onni yang tiba-tiba duduk di sebelahku. Aku menyeringai padanya.
“Apa kau tidak deg-degan?” tanya Jessica onni sambil bercermin, merapikan rambutnya.
“Sedikit tapi aku yakin semua akan lancar,” jawabku.
Jessica onni tertawa. “Bagus. Bagus. Kau harus tampil maksimal nanti,” katanya. Aku mengangguk dengan keyakinan penuh. “Oh ya, tadi aku lihat Seo Jin Ah di luar. Kenapa dia tidak bersama kalian?” tanyanya. Jessica unni ini memang kalau bicara tidak bisa berhenti.
“Ceritanya panjang, onni. Nanti kau juga tahu sendiri. Aku sudah muak dengannya. Intinya, dia bukan manajer kami lagi. Dia mengkhianati kami. Rupanya dia berada di belakang Purple Rain,” kataku merangkum segala permasalahan kami.
Jessica onni lalu tersenyum. “Aku sudah lama ingin menghajar perempuan satu itu. Sewaktu dia manajer kami, ia juga sangat menyebalkan! Lalu, siapa manajer baru kalian?” tanyanya.
“Jung Hoon oppa, Prince Manager,” kataku berseri-seri. Kelihatan dari dulu, aku memang ngefans dengannya.
Baru saja diomongin, orangnya datang. “Okay. Okay. Sudah cukup santai-santainya. Aku minta yang tidak berkepentingan keluar,” katanya dengan tegas. Beberapa orang segera menuruti perintahnya tapi ada juga yang pura-pura tidak mendengar. “Heechul-ssi, Minah harus siap dalam 10 menit. Jangan diganggu lagi. Ayo. Kyu, bawa hyungmu ini,” kata JungHoon oppa.
Kyuhyun oppa pun menarik Heechul oppa keluar sehingga tersisa tinggal SG, tim wardrobe dan manajer oppa.
JungHoon oppa menatap kami satu-satu, memperhatikan kami dengan seksama. “Ok. Sebentar lagi kalian akan rehersal sedangkan perform akan dimulai sejam lagi. Aku tahu comeback stage ini tidak berjalan mulus seperti biasa tapi aku mohon jangan putus asa. Berikan yang terbaik untuk para pendukung kalian yang sudah mati-matian mengangkat kalian. Jangan kecewakan mereka. Arraseo?”
Kami menjawab, “Ne!” dengan kompak dan penuh semangat. Aku sadar kami berlima sudah terhipnotis dengan JungHoon oppa. Dia sangat berkarisma dan keren. Jauh beda dengan manajer kami sebelumnya. Tidak salah aku mengaguminya.
Junghoon oppa lalu memanggil Hyejin onni untuk mengikutinya. Aku memperhatikan mereka bicara serius. Aku ingin tahu apa yang mereka bicarakan. Sayang, telpon dari Key ini mengacaukan segalanya.
“Jihyo-yaaa! Good luck! Aku yakin kau sukses besar!” serunya penuh semangat sampai telingaku sakit mendengar suaranya.
“Yaaa Kim Key-Bum! Kecilkan suaramu. Telingaku sakit mendengarnya. Bagaimana kabarmu di Jepang? Kenapa tidak pulang-pulang?” ujarku.
Key tertawa nyaring di Jepang sana. “Entahlah. Aku tidak peduli. Pokoknya aku masih bisa belanja. Hahahaha,” katanya santai.
Aku pun ikutan tertawa. Yang ada di kepala Key memang hanya shopping.
“Kyaaa!” Aku mendengar suara teriakan Minah onni dari luar. Setelah itu, suara orang-orang banyak berdengung.
“Key, kita lanjut nanti ya. Tampaknya Minah onni ada masalah,” kataku. Aku langsung menutup teleponku dan berlari keluar. Minah onni sedang bertengkar dengan dua member Purple Rain yang tidak aku tahu namanya. Maaf, mereka tidak cukup layak untuk aku kenal.

MINAH POV
Aku memegang pipiku yang baru saja ditampar oleh Go Ra Ya, leader Purple Rain. Dia marah besar pada kami karena mengambil slot performance mereka untuk comeback kami. Oke, itu memang salah satu penyebabnya tapi pemicu dia menamparku adalah aku yang mengatai mereka sebagai girlband plagiat.

.flashback.
“Annyeong, sunbae,” sapa RaYa saat kami berpapasan di dekat toilet. Aku membungkukkan tubuhku karena jujur saja aku tak berminat bicara satu patah kata pun dengan mereka. Raya dan entah-siapa namanya-yang-pasti-member-PR tersenyum PALSU lalu meninggalkanku. Bodohnya, mereka tidak sadar aku masih memperhatikan mereka.
“Sombong sekali! Mentang-mentang lagi naik daun!” kata RaYa.
“Bodohnya, manajer dan koreo mereka bisa kita bajak,” sahut si entahlah.
“Lihat saja kita pasti bisa mengalahkan mereka.”
Kedua gadis centil itu lalu tertawa cekikikan membuatku emosi. Aku membatalkan niatku ke toilet untuk menghajar mereka.
“Aku tidak masalah jika kalian membajak manajer SG dan koreo kami tapi artis yang tidak punya originalitas, tidak akan bersinar,” kataku.
RaYa memandangku penuh kebencian. Aku tersenyum sinis padanya. “Kalian polos sekali. Sukses itu diraih dengan kerja keras bukan mencontek. Camkan itu. Kalau tidak percaya, buktikan saja sendiri.”
Aku pergi meninggalkan kedua gadis payah itu. Aku ingin menemui Hyejin dan JungHoon oppa tapi rupanya PR masih belum puas membuatku kesal. Mereka menyusulku kemudian tiba-tiba Raya menarik bajuku sampai aku nyaris terjatuh.
“Kyaaa!” seruku kencang saking kagetnya. Aku berbalik berhadapan dengan Raya. Plak! Raya menamparku.
“Berani-beraninya kalian mengambil slot kami!” teriaknya.
Flashback end.

“Minah!” seru JungHoon oppa sambil menyeruak di antara orang-orang yang mengerumuni kami. Dia menggandeng tanganku dan menarik keluar dari kerumunan.
“Kalau kalian artis sejati, kalian tidak akan seenaknya mengambil slot kami!” teriak Raya.
Junghoon oppa terdiam. Dia balik kepada Raya dan bicara dengan tegas, “Kalau kalian mau jadi artis sejati, tanya manajer kalian apa dia berniat menjadikan artis sejati? Kalau iya, seharusnya dia sekarang ada di sini untuk melindungi kalian bukan membiarkan kalian bertengkar dengan cara murahan seperti ini.”
Tanpa mempedulikan orang-orang sekitar, Jung Hoon oppa menarikku menuju panggung. “Aku tidak mau mendengar banyak alasan. Mulai hari ini, jaga kelakuan mu. Aku tidak mau mendengar image jelek beredar di masyarakat. Arraseo?” kata JungHoon oppa tak terbantahkan. Aku jadi merasa bersalah karenanya. Aku pun menganggukan kepalaku.
“Bagus. Sekarang gabung dengan SG, mulai rehersal kalian. Aku mau mengurus masalah PR dan mantan manajer kalian,” kata JungHoon oppa.
“Tapi…”
“Tidak ada kata tapi. Tidak akan kubiarkan kalian bertindak sendiri.”
“Tapi oppa, aku ingin mereka tahu rasa. Mereka tidak bisa seenaknya.”
JungHoon mengelus kepalaku dengan lembut. “Aku bisa jamin kau akan mendengar kabar yang menyenangkan mengenai masalah ini. Tenanglah. Tugas artis adalah tampil sebaik mungkin di hadapan publik dan tugas manajer adalah mengurus semua masalah artisnya. Ok?”
Lagi-lagi aku hanya bisa menganggukan kepalanya saking terhipnotis karismanya.
“Good. Sekarang cepat naik panggung. Berikan yang terbaik. Lihat Yunho mendukungmu penuh semangat!” godanya membuatku tersipu malu.
Aku sangat beruntung mendapatkan manajer yang baik dan paling penting, pengertian. Meskipun Yunho oppa-ku tetap lebih baik dan pengertian. Hihihi.

HYUNAH POV
Kami melakukan rehearsal untuk yang terakhir sebelum comeback stage sejam lagi, karena kami yang terakhir tampil. Jantungku mulai berdebar tidak karuan karena deg-degan. Bagaimanapun kesuksesan SG di comeback stage pertama akan menentukan comeback stage kami selanjutnya.
“Girls,” panggil Hyejin untuk mengumpulkan SG. Kami pun duduk melingkar di ruang tunggu kami dan saling berpegangan tangan. “Aku harap kita bisa tampil jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Semoga Tuhan membimbing kita agar semua berjalan lancar dan sukses,” kata Hyejin.
“Semoga kita tidak mengecewakan para fans,” sahut Hamun.
“Album kita makin laku,” lanjut Minah.
“SG makin laris,” kata Jihyo.
Tiba giliranku. Semua sudah menatapku menunggu kata-kata dari mulutku. Aku tersenyum. “SG tetap jaya bersama selamanya!” seruku.
Kami lalu berpelukan dan tertawa-tawa. Meskipun deg-degan, kami tidak sabar menunggu giliran kami tampil.
Aku mengintip keluar panggung dan melihat penonton yang sangat ramai. Sebagian besar dari mereka adalah The Goddess, terlihat dari lightstick dan balon-balon ungu yang mereka pegang. Aku menyisir tempat duduk yang sudah penuh terisi, Changmin oppa duduk bersama artis SM yang datang untuk mendukung kami di barisan tengah sambil memegang balon ungu bertuliskan Jung HyunAh Super Girls – Saranghae! Aku jadi senyum-senyum sendiri melihatnya.
“Kyaa!” pekikku pelan ketika aku merasa ada tangan yang memegang bahuku. “JungHoon oppa,” kataku lega begitu mendapati Prince manager yang memegangku.
“Ayo bersiap,” katanya.
SG pun segera naik panggung. MC berceloteh dengan semangat membuka penampilan kami. Balon dan lightstick sudah bergerak seirama dengan semangat. The Goddess pun sudah mulai menyerukan nama kami, “Super Girls! Super Girls!”
“I know what you want, guys. SUPER GIRLS!” seru MC tidak tanggung-tanggung. Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengeluarkan suara sekencang itu.
Musik kami pun mulai mengalun. Jihyo dan Hamun mulai menari sesuai dengan part mereka.

Hey Handsome, handsome. Come to me. I hug you and Won’t Let you go!! No! No! No. Hey handsome! Uuuh.

Hey Handsome, lagu nomor dua di album kami selesai ditampilkan dan penonton sudah berteriak meriah. Saatnya, menampilkan lagu andalan kami. Almost Losing You.

I thought you were my friend
So, I let you around
No notice about you
Then you come
I feel something. You’re no longer a friend
Fall. Fall. Fall. I fall for you but it’s too late.
Someone got you and I depressed.
I’m watching you but you never comeback.

Knock on my door.
Someone told me you got hurt.
I run to you. Seek you in every way.

this is our path. Our path.
I found you.
Sick. Sleeping and screaming my name.
I hug you and see you smile.
Almost Losing You.

“Wuaaaaa!” teriak The Goddess begitu kami selesai. “Song Hyejin! Park Minah! Jung HyunAh! Choi Jihyo! Kang Hamun! Saranghae!” teriak mereka lagi.
Aku sungguh senang melihat sambutan mereka. Aku ingin tetap di sini dan menikmatinya tapi Jung Hoon oppa sudah memberikan sinyal untuk kami agar segera turun dari panggung.
Kami pun turun dari panggung dan kembali ke ruang tunggu. “Daebak! Super Girls daebak! Neomu johae! Aku mencintai kalian!” seru JungHoon oppa penuh senyum kepuasan.
Kami langsung serabutan memeluk JungHoon oppa yang sudah bekerja keras membuat comeback kami hari ini jadi kenyataan. Kami sangat berterima kasih kepadanya. JungHoon oppa memang yang terbaik. “Gomawo, Oppaaaa!” seru kami gembira.
Tidak lama, ruangan kami sudah kembali penuh. Orang-orang tersayang kami datang untuk mengucapkan selamat. “Chukkae Jung dongsaeng-i!” ucap Yunho oppa dan Yonghwa oppa. Mereka memberikan ciuman di keningku dan pelukan hangat.
“Gomawo, oppa-deul!” sahutku.
Changmin oppa berada di belakang mereka, tersenyum padaku sambil memegang sebuah buket bunga. “Boleh aku mendapatkan giliranku?” tanyanya kepada oppadeulku.
Changmin oppa membuatku gemas. Aku melewati kedua oppaku untuk memeluk Changmin Oppa. “Gomawo, Oppa…” ucapku bahagia dan semakin erat memeluknya. “Gomawo sudah mau memegang balon ungu bertuliskan saranghae untukku,” bisikku kemudian.
Changmin oppa tertawa di atas kepalaku. Dia mengelus punggungku dan terus tertawa. Aku merasa sangat bahagia. Sukses ditemani orang-orang yang disayang. Tidak ada yang bisa menandinginya. Kalau bisa, waktu ini diberhentikan saja.

HYEJIN POV
Sebagai leader, tidak ada yang lebih membahagiakan daripada melihat memberku bahagia dan keberhasilan SG. “Chukkae Hamun Jagiya!” ucap Siwon oppa kepada Hamun sambil membelai kepala magnae-ku tersebut. Hamun tersenyum senang karenanya. Memberku yang lain pun juga begitu, HyunAh, MinAh dan Jihyo tidak kalah bahagia bersama orang-orang terkasihnya. Aku pun juga begitu.
“Hyejin-ah!! Daebak! Kau sempurna!” pekik Jaejoong oppa ceria lalu memelukku.
“Hahaha. Gomawo, oppa. Terima kasih sudah mau mendukungku,” sahutku.
“Haish.” Jaejoong oppa melepas pelukannya. “Sudah kewajibanku mendukungmu. Iya kan, Junsu?”
Junsu oppa yang berdiri di sebelah Jaejoong oppa tersenyum memandangku. “Chukkae, Hyejin,” ucapnya. Aku balas tersenyum. “Gomawo, Oppa.”
“Yaaa! Aku yang oppa aslinya kenapa yang terakhir?!” protes Joong Ki oppa dengan gaya pretty boy-nya, yang membuatku gemas.
“Oppa…” bujukku agar Joong ki oppa tidak ngambek. “Gomawo. Apa kau mau makan steak?”
Joong Ki oppa tertawa kemudian. “Steak? Boleh. Asal makannya di Itali. Aku bosan daging Korea,” kata Joong Ki oppa menggodaku. Aku tertawa mendengarnya.
Aku seru mengobrol dengan ketiga J-oppa. Sayang, mereka tidak bisa lama-lama. “Aku harus kembali syuting, Hyejin-ah. Mianhe,” kata Joong Ki oppa dengan sedih.
“Lalu kalian?” tanyaku pada Jaejoong dan Junsu oppadeul.
“Kami harus ke London untuk syuting CF. Mianhaeyo, Hyejin-ah. Jangan marah ya,” kata Jaejoong oppa.
Aku tidak bisa menyembunyikan perasaan kesalku. Aku kesal karena jarang sekali bertemu mereka dan sekalinya bertemu selalu saja sebentar. “Lain kali bertemu kalian harus dalam keadaan libur dan harus menginap di rumahku. Titik! Dan harus bawa makanan. Sudah lama kita tidak bersenang-senang, Oppadeul,” rajukku.
Jaejoong Oppa mengelus kepalaku. “Oke. Aku akan menyanggupi permintaanmu. Tenanglah,” katanya. Joongki oppa pun sependapat dengan Jaejoong Oppa. “Kita akan bertemu lagi secepatnya. Aku janji,” kata Joong Ki oppa.
Aku lalu memeluk kedua Joongpa-ku dan mengecup mereka satu per satu. “Saranghae. Nan jeongmal saranghaeyo,” ucapku.
“Nado, dongsaengi. Jaga dirimu baik-baik ya.”
Aku menganggukkan kepalaku. “Sampai jumpa, oppadeul.”
Joongpa-deul keluar dari ruang tunggu SG disusul Junsu Oppa. “Hubungi aku kalau ada apa-apa ya. Jaga kesehatanmu. Semoga SG sukses terus,” kata Junsu Oppa sebelum meninggalkanku.
Ingin rasanya aku menyusul Junsu Oppa dan menahannya agar tetap tinggal. “Aku pasti sudah ketergantungan,” batinku.
“Hyejin-ah,” panggil orang yang sangat aku kenal, Kyuhyun. Aku berhadapan dengannya dan merasa air mataku keluar. “Chukkae,” ucapnya.
Aku menundukkan kepalaku, dalam, dan tidak menegakkannya kembali sampai aku yakin air mata itu sudah kuhapus dengan sempurna. “Gomawo,” balasku sambil tersenyum.
Sebenarnya aku sedih karena biasanya yang terjadi antara aku dan Kyuhyun jika bertemu habis perform adalah seruan gembira dan pelukan hangat, bukan kecanggungan dan kesedihan seperti ini. Aku merindukannya, sangat merindukan hubungan kami yang dulu.
Kyuhyun tersenyum kepadaku. “Kau hebat!” pujinya. Aku hanya tersenyum. Air mata ini sudah mau keluar lagi dari sumbernya. Aku tidak bisa menahannya.
Untung, JungHoon oppa menyelamatkanku. “Kyu, hyungmu sudah mau pulang. Kau tidak bareng mereka?” tanya JungHoon oppa dengan halus.
Kyu menganggukkan kepalanya lalu pamit kepadaku dan member SG yang lain juga kepada JungHoon oppa. “Hyejin, sampai jumpa,” ucapnya.
JungHoon oppa memandangku. Tangannya menepuk-nepuk pelan kepalaku. “Jangan menangis. Hubungan kalian memang tidak bisa dilanjutkan lagi,” kata JungHoon oppa.
“Wae?” tanyaku. Aku seperti dipotong-dipotong mendengarnya. Patah hati. Kecewa. Sedih.
“Kyuhyun tidak bisa melepaskan Victoria.”
“Maksudnya? Mereka kan hanya bersahabat.”
“Iya justru itu. Kyuhyun tidak akan bisa fokus padamu. Dia akan membaginya dengan Victoria.”
“Dia mendua?”
“Bukan begitu.”
“Lalu? Selama ini kami berdua baik-baik saja.”
JungHoon oppa menjelaskan dengan sabar. Aku memang sangat keras kepala masalah yang satu ini. “Itu dulu. Sekarang beda keadaannya. Victoria jatuh cinta pada Kyuhyun. Dia tidak akan melepaskan Kyuhyun, bagaimana pun caranya. Dia bahkan akan mencelakaimu kalau tetap bersama Kyuhyun. Kyu tidak mau itu terjadi, makanya ia memutuskanmu. Kali ini, aku menyetujui keputusannya. Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa,” ujarnya.
Aku ingin lagi mendebat Jung Hoon Oppa tapi air mataku lebih dulu meluap. Aku memeluk Jung Hoon oppa dengan erat, melampiaskan semua kesedihanku. Aku dan Kyuhyun tidak bisa lagi bersatu padahal selama ini impianku adalah terus bersama dengan Kyuhyun.
Jung Hoon oppa menepuk punggungku pelan-pelan dan membiarkan aku terus menangis di pelukannya. Aku tidak peduli meski kini semua orang melihatku dan bertanya-tanya. “Lebih baik kita pulang sekarang. Kau harus istirahat,” katanya.
Jung Hoon pun berjalan mengikuti SG menuju van kami. Hamun berjalan di sampingku sambil mengamit lenganku. “Biar seluruh dunia meninggalkan onni, SG dan The Goddess akan tetap bersama onni. Jangan sedih lagi ya.” Hyejin berusaha menenangkanku. Tampaknya dia mendengar pembicaraanku dengan Jung Hoon Oppa.

-to be continued-