@esterong

I’m back with Donghae ff now🙂

Hope you like it!

enjoy!🙂

>>>>

DONGHAE POV

“Engg..” gadis yang duduk dihadapanku sedari tadi ini akhirnya mengangkat kepalanya. Ia menatapku walau tampak jelas ada keraguan di balik bola matanya yang berwarna coklat itu.

“Engg.. Aku Shim JoHee. 16 tahun. Murid SMA biasa,” ujarnya memperkenalkan diri sambil memberi penekanan pada kata ‘Murid SMA biasa’.

Aku tersenyum menanggapinya. Kini giliranku yang harus memperkenalkan diri, “Lee Donghae, 25 tahun, senang berkenalan denganmu JoHee-sshi,” ujarku tak lupa diiringi dengan senyuman yang aku yakin mampu membuat semua gadis bertekuk lutut padaku, sayangnya tak ada seorang pun dari sekian ribu gadis itu yang bisa membuatku kembali percaya pada sebuah kata yang sudah menjadi tabu dalam kehidupanku beberapa tahun terakhir ini: CINTA

Aku menatap gadis SMA yang saat ini duduk tepat dihadapanku. Meniliknya dari ujung rambut sampai ke garis pinggangnya. Sebulir keringat mengalir dari dahinya meskipun kami sedang di restaurant yang memiliki AC disetiap sudut sisinya. Tangannya yang ia letakkan diatas meja tak henti-hentinya bergoyang. Dari semua reaksi tubuhnya itu dapat kusimpulkan kalau ia sedang: gelisah.

“Lalu ada apa nona JoHee memintaku untuk bertemu denganmu sebelum acara pertunangan kita?” tanyaku yang sepertinya tepat sasaran. Ia kini mulai menatapku dengan tatapan campur aduk yang aku sendiri tak mengerti.

JoHee kembali menatapku ragu. Ia menggigit bibir bawahnya seakan melarang bibirnya untuk bergerak terlebih dahulu. Beberapa kali mulutnya sempat terbuka, namun selang beberapa detik sudah ia tutup kembali bahkan sebelum ia sempat mengeluarkan suaranya.

“Katakan saja,” ujarku berusaha memahami kegelisahannya.

“Ehm.. kau bisa membatalkan pertunangan ini jika kau mau, Donghae-sshi,” ujarnya, akhirnya. “Aku akan mengatakan pada appaku dan ajjushi kalau aku yang meminta membatalkan pertunangan ini. Aku akan meminta pada appaku untuk tetap melakukan kerjasama dengan perusahaan Lee meski pertunangan ini dibatalkan. Bagaimana?” tanyanya setelah memberikan penjelasan tentang kerjasama yang ia tawarkan untukku. Meski itu 100% menguntungkan buat aku, tak semudah itu aku menyetujui sebuah ide riskan yang dicetuskan oleh gadis remaja sepertinya. Tentu saja harus ada alasan kuat yang melandasi perbuatan nekatnya ini.

“Kenapa? Apa alasanku untuk menolak pertunangan ini?” tanyaku.

Ia terdiam sebentar, sepertinya sedang berpikir. “Ah, ehm.. Tentu saja. Perbedaan umur kita terlalu jauh. Kau tentu tak ingin teman-temanmu mengejekmu karena calon istrimu adalah bocah ingusan, kan?” ujarnya yang membuatku sedikit menahan rasa geli yang bergejolak diperutku.

Aku menggelengkan kepalaku sebagai jawaban. “Hal itu tidak mungkin. Tak akan ada yang berani mengataiku seperti itu. Tidak mungkin,” jawabku tenang. Aku yakin, bukan itu alasan yang sebenarnya.

“Ehm.. Alasan lain kau ditunangkan denganku karena appa akan ke Jerman dan kau harus tinggal satu atap denganku, menjagaku 24 jam. Tidakkah itu merepotkan buatmu? Kau adalah pewaris tunggal perusahaan Lee, bukan?” ujarnya.

“No. Aku tahu kau anak baik dan tak akan terlalu merepotkanku,” jawabku seadanya. Aku dapat melihat perubahan raut wajah gadis itu. Perasaan putus asa dan sedih tepat tergambar jelas diwajahnya.

“Apa kau tak memiliki seseorang yang kau cintai?” tanyanya dengan suara yang lemah. Sebuah pertanyaan singkat namun mampu membuat jantungku berdetak kencang, dadaku bergejolak, dan ingatanku membawaku kembali ke masa menyakitkan itu.

Flashback.

 

Aku melirik jamku berulang kali, ini sudah kesekian kalinya dalam 5 menit terakhir. Kakiku berjalan beriringan ke kanan lalu ke kiri, aku mondar-mandir seperti setrika sedari tadi. Berulang kali aku membuka tutup kotak kecil yang ada di kantung jaketku lalu tersenyum tiap kali melihat kilau benda kecil didalamnya. Jantungku berdetak sangat kencang membayangkan bagaimana ekspresinya nanti.

Sudah 2 tahun kami berpacaran. Aku tak mau hubungan ini hanya sekedar main-main. Hari ini aku mau melamarnya sebagai tunanganku. Semoga dia senang.

“Donghae oppa,” panggil seorang wanita yang sangat kukenal suaranya. Dengan segera aku menyembunyikan kotak kecil itu lalu menghampiri gadis itu.

“Hei jagi, mianhe membuatmu keluar rumah tengah malam seperti ini. Aku baru saja kembali dari New York menyelesaikan suatu proyek. Mianhata,” ujarku

“Gwencana oppa, aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu,” katanya. Aku melihat raut wajahnya sedikit berubah, bukan raut wajah senang bertemu dengan kekasihnya melainkan raut wajah yang dingin, tegang. Sepertinya ia mau menyampaikan sesuatu yang penting.

“A-ada apa  Hyejin-ah?” tanyaku gagap. Ada keraguan dan ketakutan dibalik pertanyaanku barusan.

“Aku..” Hyejin terdiam sebentar. Ia yang sedari tadi menunduk, kini menatap lurus mataku.

“Donghae oppa, aku ingin kita putus,

Hening. Aku mematung, terdiam, terpaku.

Aku berusaha mencerna kalimat yang baru saja keluar dari mulut Hyejin. Aku tahu, dia bercanda. Aku mendengus tak percaya dengan perkataan gadis itu.

“Hyejin, bercandamu keterlaluan say-,

“Jangan memanggilku seperti itu! Aku bukan pacarmu lagi! Dan aku tak bercanda!” teriaknya padaku. Ternyata dia memang tidak bercanda.

Aku merengkuh kedua sisi bahunya. “W.. Wae? WAE!?” tanyaku tak percaya

“Aku lelah. Kau selalu meletakan pekerjaanmu diatasku. Kau tak punya waktu untukku,” ujarnya parau. Ia mulai menangis.

“Kau sendiri yang mengatakan tak masalah!

“Itu dulu! 2 tahun yang lalu! Saat aku masih sangat naif dan aku berpikir semua pekerjaanmu itu tidak masalah bagiku!” bentaknya

“Kalau begitu, berikan aku kesempatan Hyejin. Kita ulang dari awal,” pintaku namun ia menggeleng

“Wae?

“Aku sudah punya orang yang aku cintai,” ujarnya

“Mianhata Donghae ah,” ujar seseorang. Aku mencari sumber suara dan mendapatkan sosok pria yang sangat ku kenal sebagai Kyuhyun sedang berdiri tak jauh dari kami berdua. Kyuhyun, sahabatku.

Aku menatap Kyuhyun dan Hyejin bergantian.

“Kau…

Hyejin mengangguk seakan tahu apa yang akan kutanyakan.

Otakku tak dapat bekerja dengan baik. Aku dengan segera menghampiri Kyuhyun dan memberikan satu pukulan tepat di pipi kanannya sampai ia tersungkur.

“Oppa! Hentikan!” teriak Hyejin lalu menghampiri Kyuhyun. Ia menangis sambil meyapukan tangannya di ujung bibir Kyuhyun yang berdarah.

Aku mengepalkan tanganku. Mengukuhkan pertahananku agar air mata yang sudah ada dipelupuk ini tidak jatuh.

 

Akhirnya tergenapilah apa yang appaku katakan sejak dulu, “Nowadays there’s no honor, no loyalty, no love. Only drama. Your friend today can be your enemy tomorrow.”

 

Mulai saat itulah aku percaya kalau cinta, persahabatan, itu tidak ada.

…….

“Tidak,” jawabku singkat atas pertanyaannya tadi.

“Tapi jawabanku atas pertanyaan tadi adalah, ya. Aku memiliki seseorang yang aku cintai, Donghae sshi,” ujarnya. Tanpa kusadari bibirku sudah tertarik membentuk sebuah senyum simpul yang selalu muncul saat aku menonton film roman picisan. Senyum yang merendahkan orang-orang yang sudah dibodohi oleh cinta.

“Kau sudah berpacaran dengannya?” tanyaku ditengah kesunyian diantara kamu. Ia kini menatapku ragu lalu menggelengkan kepala

“Dia tahu perasaanmu?” tanyaku dan sekali lagi ia menggelengkan kepalanya. Aku mendengus kesal, tak percaya kalau gadis itu sangat bodoh.

“Ta-tapi aku akan berusaha membuatnya jatuh cinta padaku!” ujarnya. Kali ini ia menatapku lurus dengan matanya yang menyiratkan keseriusan.

Aku tersenyum getir mendengar pernyataannya itu, “Kau sangat polos. Terlalu polos. Asal kau tahu, cinta itu tidak ada,” ujarku

‘PLAK!’ bunyi tamparan terdengar jelas mengisi seluruh ruangan ini. Kini semua perhatian sudah tertuju pada JoHee dan aku, Aku yang sedang memegang pipiku yang terasa panas dan JoHee yang sudah menatapku kesal dengan air mata yang mengalir dipipinya.

“Aku harap kau setuju dengan tawaranku tadi. Aku tak sudi untuk ditunangkan dengan orang yang tidak percaya cinta,” ujarnya datar dan terkesan dingin. Ia mengambil mantel yang ia gantung disenderan kursinya, merongoh saku mantel itu, dan mengeluarkan beberapa lembar uang 5000 won lalu melemparkannya di meja kami.

“Maaf, uang recehan. Maklum aku hanya anak SMA. Tapi tenang saja, jumlahnya cukup untuk membayar pesananku. Aku tak sudi berutang budi padamu,” katanya lagi. Tersirat kebencian dibalik perkataannya barusan.

“Annyeonghasimika,” ujar gadis itu tak lupa membungkukan badannya, baru setelah itu ia benar-benar pergi meninggalkanku.

Aku menarik nafasku dalam-dalam. Menahan semua emosi yang sudah berkecamuk. Aku mengusap ujung bibirku dengan ibu jariku tanpa memperdulikan orang-orang yang masih menatapku heran, tentu saja aku tak memperdulikan mereka karena aku pun masih terheran dengan apa yang baru saja terjadi. Aku dimarahi seorang bocah?

“Menarik sekali,” gumanku tak sadar. Tanpa kontrol dari otakku, ujung bibirku tertarik. Menyunggingkan sebuah senyuman sinis. Senyuman yang kupastikan akan menjadi mimpi buruk bagi Shim JoHee.

*****

JOHEE POV

Ting Tong! bel rumahku berbunyi. “Tunggu sebentar,” jawabku dan dengan gesit aku bergegas membukakannya.

“Annyeong.. haseyo,” suaraku melemah dan raut wajahku berubah dipenghujung kalimat saat orang yang tidak kuharapkan sama sekali berdiri di depan pintu rumahku. Betapa kagetnya aku begitu mendapati pria yang -erggghhhh- ditunangkan oleh appaku sudah berdiri diambang pintu dengan 2 koper ukuran huge, yang cukup untuk menampung semua baju dan pernak perniknya untuk persiapan selama setahun.

“Dimana kamarku JoHee-sshi?” tanyanya santai lalu melenggang masuk bahkan sebelum kupersilahkan.

“Bukankah sudah kuminta kau untuk membatalkan pertunangan ini? Kenapa kau masih kesini?” tanyaku setenang mungkin namun sayangnya masih terdengar ketus.

“Aku tidak mau membatalkan pertunangan kita, JoHee-sshi,” jawabnya lembut diiringi senyum manis namun palsu. Ia berjalan menuju sova ruang tamu. Dengan tenangnya ia duduk bak tuan besar sambil membaca koran.

Aku yang sudah naik pitam, menghampirinya dan merebut koran yang sedang ia baca. “Aku minta kau segera pergi dari tempat ini,” ujarku, masih dengan segenap usaha untuk mengendalikan emosi.

“Ada sesuatu yang harus kau perbaiki dari caramu bertutur kata. Kau harus memanggilku, ‘oppa’,” katanya dengan senyum usil terurai jelas diwajahnya.

“Shiroe,” balasku dengan senyum manis.

Ia bangkit dari kursinya. Menjelajahi ruanganku sambil berhenti ditiap pigura yang terpajang disudut ruangan. “Baiklah, aku tak akan pergi dari rumah ini. Aku sudah diminta appamu untuk menjagamu. Lagipula, aku ingin sekali melihat kau menangis,”

“Menangis?” tanyaku tak mengerti maksudnya.

“Menangis. Ya, menangis karena ternyata pria itu tak mencintaimu sedikit pun,” ujar pria itu sambil menyunggingkan senyum sinis penuh keyakinan padaku.

Aku mengepalkan tanganku. “Aku sungguh benci padamu!” kali ini aku tak menahan diriku lagi. Aku sudah berteriak dan menangis. Aku segera lari menuju kamarku dan membanting pintu kamarku sebagai sebuah ultimatum untuk mengajaknya perang.

*****

DONGHAE POV

 

“Kalau kau mau mengantarku, jangan menggunakan mobil mewah seperti ini,” kata gadis yang ada disampingku dengan ketus.

“Oke. Kaa, turun sana. Kau membuatku telat,” balasku tak kalah ketus darinya.

Ia menatapku tajam. “Aku benar-benar benci padamu,” ujarnya yang kusambut dengan tawa

“Tenang saja, aku akan menolakmu saat kau jatuh cinta padaku nanti,” balasku yang berhasil membuatnya geram. Ia segera turun dari mobil dan membanting keras pintu mobilku.

“Kurasa sebentar lagi aku harus ganti mobil,” gumanku diiringi tawa kecil. Aku memasukan gigi dan mulai menginjak kopling. Namun tanpa sengaja aku melihat JoHee sedang bercengkrama dengan seorang pria di ambang gerbang sekolahnya.

Gadis yang selalu menahan emosinya saat bersamaku, yang selalu marah padaku, yang tak bisa mengekspresikan dirinya itu, kini ia tersenyum manis. Ia menatap pria itu dengan lembut dan penuh cinta. Tatapannya seakan ingin menyampaikan rasa sukanya yang telah meluap.

Satu kenyataan terkuak: gadis ini benar-benar sedang jatuh cinta. Debaran jantungnya seakan menular padaku karena kini, entah mengapa, jantungku pun ikut berdetak saat melihat senyumannya itu.

******

Aku mengendap-endap bak maling saat memasuki ruang tamu yang sudah diisi oleh JoHee. Aku mendapati JoHee sedang duduk di sova sambil membaca sebuah majalah dan menatap selembar foto yang memarkan wajah seorang pria yang kulihat tadi pagi dan dirinya yang sedang ternyum manis. Manis? Apa baru saja aku mengatakan dia manis? Aku mengacak rambutku untuk membuyarkan pikiranku. Aku kembali berpusat pada JoHee yang sedang tersenyum-senyum sendiri pada foto itu.

“Namanya Choi Siwon, bukan?” tanyaku tiba-tiba saja dari belaShim JoHee. Reflek, JoHee pun segera menyembunyikan foto Siwon di balik punggungnya. Ia pasti heran bagaimana aku bisa sampai tahu, namun aku lebih heran sendiri dengan diriku yang bersusah payah mencari informasi tentang pria itu walau aku sangat tahu kalau diluar sana ribuan anak buahku yang sedia setiap saat untuk melaksanakan perintahku. Aku tak tahu apa yang menyebabkanku begitu penasaran dengan pria yang membuat JoHee jatuh cinta sampai-sampai ia nekat mengambil semua resiko yang akan ia tanggung jika pertunangan kami benar-benar dibatalkan sesuai skenario yang ia rancang.

Aku berjalan menuju sova yang ada dihadapanku. “Kalau kau berhasil membuat Siwon jatuh cinta padamu, aku akan membatalkan pertunangan ini,” tawarku yang tentu saja membuatknya kaget dan senang disaat yang bersamaan

“Jeongmalyo?” tanya JoHee yang kujawab dengan anggukan.

“Gomawoyo!” teriak JoHee girang dan memelukku tiba-tiba. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku. Aku merasa waktu seakan terhenti namun jantungku berdetak dengan tempo yang lebih cepat. Tubuhku ingin membalas pelukannya dan hati kecilku menginginkan pelukan ini lebih lama lagi.

“Mianhe,” ujar JoHee tiba-tiba sambil menjauh dariku.

Aku pura-pura batuk untuk menghilangkan suasana canggung ini, “Tak masalah,” kataku meski jantungku masih berdetak sangat kencang dan ada secuil rasa kecewa terbesit dihatiku.

“2 hari lagi valentine. Kau harus menyatakan perasaanmu hari itu,” ujarku

“I- itu terlalu cepat! Aku belum siap!” bantahnya

“Kau mau menunggu sampai kapan? Sampai ia mempunyai pacar lain?” ujarku lalu ia menggelang

“Bagus. Selamat berjuang,” ujarku

*****

“Apa maksud tanganmu?” tanyaku pada JoHee yang tangannya sedang menengadah padaku

“Pinjami aku uang untuk membeli bahan membuat cokelat,” ujarnya yang tentu saja membuatku tertawa.

“Kalau aku tak mau? Aku kan bukan moneymaker-mu,” ujarku berniat menggodanya.

“Memang atas ide siapa aku melakukan hal seperti ini?” tanyanya balik sambil menatapku sinis seolah menyindir.

Aku tertawa pelan sambil memberikan uang secukupnya. “Ini,” ujarku.

“Gomawo, kaa, kau sudah telat karena aku,” ujarnya lalu ia turun dari mobil. Sebelum sempat aku menginjak kopling, JoHee mengetuk jendela mobilku.

Aku membuka jendelaku, “Wae?” tanyaku bingung

“Sekarang aku tak sepenuhnya membencimu,” ujarnya singkat lalu meninggalkanku lagi.

Namun saat melihat punggung JoHee yang semakin menjauh, aku teringat ada sesuatu yang lupa untuk kuberikan. Kali ini aku yang berteriak untuk memanggilnya.

“JoHee!” Ia menoleh ke arahku dan menatapku heran. Tanpa banyak tanya ia segera menghampiriku.

“Apa lagi?” tanyanya tak sabaran dan dengan segera kuberikan tiket yang sudah ada di jok mobil sedari tadi.

“Kurasa akan lebih romantis kalau kau melakukan pernyataan cintamu di tempat itu,” ujarku diiringi senyum puas saat mendapati JoHee sudah melongo tak percaya. Tentu saja, itu adalah tiket edisi terbatas untuk malam valentine di Lotte World yang harganya sudah dipastikan bukan untuk kantong anak SMA. Aku tahu JoHee sangat menginginkannya berkat majalah yang JoHee baca.

Tiba-tiba saja pintu mobil dibuka dan aku kembali merasakan kehangatan yang kuinginkan. JoHee kembali memelukku. Sangat erat, sangat hangat.

“Gomawo, gomawo,” kata JoHee berulang kali tepat ditelingaku. Desah nafasnya membuat jantungku mulai berdetak tak beraturan.

“Semoga kau juga segera menemui orang yang bisa membuatmu kembali mempercayai cinta,” kata JoHee yang dalam sekejap membuatku kembali merasakan sakit bergejolak.

“Bye Donghae-shhi, kau harus segera berangkat kalau kau tidak mau benar-benar telat,” katanya lalu meninggalkanku sendiri.

Sakit. Dadaku terasa sakit. Sakit yang sama seperti kurasakan dulu. Namun penyebabnya bukan karena aku mengingat insiden itu tapi karena kini aku sadar kalau aku mencintai JoHee namun aku juga sadar kalau ini adalah ‘one sided love’ story.

*****

JOHEE POV

“Oh, hai Donghae-sshi, baru pulang?” tanyaku pada Donghae yang baru saja memasuki dapur tanpa menatapnya. Perhatianku sudah tertuju pada coklat-coklat yang sedang dalam proses pembuatan.

“Kau mau tahu cara untuk menyatakan perasaanmu?” tanya Donghae yang tiba-tiba saja sudah ada dibelakangku dan kepalanya sudah bertumpu dibahu kananku. Deru nafasnya terdengar jelas sekali ditelingaku sampai-sampai jantungku pun ikut berdetak kencang.

Aku segera membalikkan tubuhku untuk menghadapnya dan dengan sekejap tubuhku sudah berada dalam pelukan Donghae.

“Do-donghae-sshi?” panggilku namun ia tak merespon.

“Saat kau naik bianglala nanti, peluklah ia seperti ini,” katanya sambil mempererat pelukannya. Aku terdiam tak melakukan perlawanan karena tubuhku sudah lemas saking tegangnya namun alasan sebenarnya adalah tubuhku menikmati pelukan ini.

“Lingkarkan tanganmu dibelakang punggungnya. Dan biarkan kegugupanmu menjalar ke tubuhnya,” kata Donghae dan entah mengapa tubuhku menjadi sangat penurut seperti ini. Aku mengikuti petunjuknya dan membalas pelukannya.

Aku memejamkan mataku, membiarkan kehangatan dan kegugupan yang entah berasal dariku atau Donghae sshi menjalari setiap relung tulangku.

Namun ternyata hal itu tak bertahan lama, Donghae mendorongku menjauhi tubuhnya.

“Yang terakhir katakan padanya…” kalimat Donghae sshi menggantung. Kini wajahnya sudah sangat dekat denganku sampai membuatku tanpa sadar menutup mata.

“Aku suka kamu,” kata Donghae sshi tepat ditelingaku. Sebuah kalimat singkat yang mempu membuat dadaku sesak dan berbunga-bunga disaat bersamaan. Jantungku pun berdetak tak karuan.

“Praktekan sesuai yang kuajari padamu. Good luck JoHee,” kata Donghae lalu meninggalkanku.

Aku merasakan lututku lemas tak berdaya. Sebagian dari diriku merasakan sakit yang berkecamuk karena ternyata semua perbuatan dan perkataannya hanya sandiwara.

Tapi mengapa semuanya terasa begitu nyata?

*****

“Aish, kenapa aku harus ikut segala?” seru Donghae kesal. Aku tahu ia pasti kesal karena aku sangat merepotkannya. Memintanya dengan segera datang ke tempat ini dari kantornya hanya untuk menemaniku dikala aku gugup. Ia bahkan masih menggunakan setelan jasnya yang membuat semua mata para gadis tertuju padanya. Ya, ia benar-benar mempesona. Tunggu? Apa yang kupikirkan barusan? Aku mengacak rambutku frustasi. Aku rasa efek gugup menyerang otak juga.

“Mianhe, aku membutuhkanmu. Aku sangat gugup sekarang,” jawabku sejujur-jujurnya yang dijawab dengan helaan nafas panjang oleh Donghae.

*****

 

DONGHAE POV

Cih, padahal aku ingin pergi jauh-jauh darinya hari ini. Aku tak sanggup melihatnya bergembira bersama pria lain selain aku. Aku tak sanggup mendengar kabar kalau ia sudah resmi menjadi pacar Siwon dan aku harus meresmikan pembatalan pertunangan ini.

Aku.. mencintainya. Aku tak ingin kehilangannya. Tapi apa yang bisa kulakukan? Tubuhku tak bisa menolak setiap permintaannya. Buktinya aku bahkan sampai rela mendelay meetingku hanya demi dirinya yang memintaku untuk menemaninya. Andai saja yang ia minta adalah hatiku. Aku akan memberikannya secara cuma-cuma.

Kini perhatianku kembali pada JoHee yang sedari tadi menatap cokelat ditangannya dengan bimbang.

“Berikan, Tidak. Berikan, Tidak,” gumannya. Aku yakin batinnya sedang berperang.

“Kalau aku berikan, dan ternyata ia tak punya perasaan apa-apa padaku.. Aku takut. Aku takut kalau ia akan menjauhiku,” ujarnya padaku, yang setia menemaninya dalam diam.

“Tapi kau akan lebih menyesal jika kau gagal sebelum mencoba, JoHee,” balasku yang sedikit ia setujui dengan anggukannya.

“Semua terserah padamu, JoHee. Tapi aku harap, kau tak akan menyesal. Itu dia sudah datang,” ujarnya lalu memberikan sebuah tepukan semangat dipunggungnya.

Aku memandang punggung JoHee meski bayangannya sudah tak terlihat lagi. Dadaku sakit. Aku tak rela ia pergi.

“Ajjushi,” aku dapat mendengar suara memanggilku dan merasakan jasku ditarik oleh sebuah tangan kecil. Aku melihat seorang gadis cilik menatapku. Aku berjongkok, mensejajarkan wajahku dengannya.

“Ajjushi, kenapa menangis?” tanyanya. Reflek, aku mengusap pipiku dan baru tersadar kalau sedari tadi aku menangis karena JoHee.

“Jangan menangis ya ajjushi,” kata anak kecil itu sambil mengusap kepalaku.

“Omma selalu melakukan hal ini jika aku menangis,” katanya yang hanya bisa kubalas dengan senyuman.

Bodoh. Bagaimana mungkin seorang pria berumur 25 tahun seperti aku dihibur oleh anak kecil sepertinya? Semuanya karena cinta. One sided love is so pathetic.

*****

JOHEE POV

Aku menghela nafas panjang, berusaha mengatur denyut jantungku. Aku sudah mengambil keputusan. Aku akan mengatakan perasaanku padanya.

Aku melangkahkan kakiku mendekati pria yang sedang berdiri membelakangiku sambil berbincang dengan entah-siapa di depan merry go round.

Sekali lagi aku mengambil nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, “Siwon ah!” teriakku memanggil namanya.

Ia membalikkan badannya dan memberikan senyuman yang bisa melelehkanku. Aku berjalan agar lebih dekat dengannya namun langkahku terhenti seketika saat melihat seorang gadis menutup mata Siwon dari belakang. Aku melihat dengan jelas bagaimana Siwon dengan lembut melepas tangan itu dari matanya. Memberikan senyum yang penuh cinta pada gadis yang tadi menutup matanya dan mencium pipi gadis itu mesra.

Jantungku terhenti sejenak. Aku hanya menatap kosong pemandangan di depan mataku ini. Aku sedih, aku kecewa. Entah. Aku tak bisa menggambarkan perasaanku sekarang. Aku patah hati, bahkan sebelum ia tahu perasaanku.

“Yaa, JoHee ah!” panggil Siwon yang membuatku dengan berat hati harus menghampiri mereka

“Kenapa kau memintaku kesini?” tanyanya

Aku menyembunyikan cokelatku dibalik punggung. Aku bingung harus mencari alasan apa. Mulutku akhirnya menjawab dengan sendirinya, “Aku patah hati,” ujarku singkat. “Aku ingin cerita padamu, tapi sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat,” ujarku sambil melirik gadis yang bergelanyut manja pada Siwon

“Siapa pria yang berani membuatmu patah hati JoHee? Beritau alamat rumahnya dan aku akan menghajarnya,” ujarnya yang membuatku tertawa. Apa kau akan menghajar dirimu sendiri kalau kau tau penyebab aku patah hati adalah kau?

“Sudahlah, lain kali saja kuceritakan,” ujarku berusaha mengakhiri percakapan ini. Aku tak bisa menahan air mata ini lebih lama lagi.

“Oia JoHee, aku tahu kau sedang patah hati tapi aku ingin kau mengenal pacar pertamaku dan bisa berteman dengannya,” ujar Siwon

“Aku Kang Hamun, murid SMA K, pacar Choi Siwon,” ujar gadis itu sambil mengulurkan tangannya padaku. Gadis yang anggun dan manis didepanku ini membuatku merasa kalah bahkan sebelum berperang.

Aku menerima tangannya dan memperkenalkan diri, “Aku Shim JoHee, sahabat Siwon,”

“JoHee, kami tak bisa lama-lama, film kami sebentar lagi akan diputar,” ujar gadis itu

“Tapi Hamun, JoHee..”

“Sudah, pergilah, bye,” ujarku dan gadis itu pun segera menarik Choi Siwon.

Aku melihat Siwon yang beberapa kali masih menoleh ke arahku dan menatapku dengan tatapan bersalah.

Setelah punggung Siwon tak terlihat lagi, aku berniat untuk kembali ke tempat Donghae menungguku tapi saat aku berbalik, aku sudah melihat ia berdiri beberapa meter dariku. Ia menatapku lirih dan tersenyum sedih. Aku tahu. Dia melihat semua kejadian tadi.

Aku menghampirinya dan memberikan cokelat yang seharusnya untuk Siwon padanya.

“Aku tak mau menerima cokelat bekas, JoHee,” canda Donghae yang membuatku tertawa atau tepatnya memaksakan diri untuk tertawa.

Aku meletakkan kepalaku didadanya dan air mataku mulai mengalir dengan sendirinya. Donghae menepuk-nepuk punggungku pelan tanpa berkomentar. Angin dingin menghembus ditengah kesunyian diantara kami berdua.

*****

“Cih, akhirnya aku menaiki bianglala ini denganmu,” ujarku sinis pada Donghae walau sebenarnya aku hanya bercanda.

“Kau tak suka? Padahal aku sangat mengharapkan moment ini,” ujar Donghae sambil menatapku lurus tanpa keraguan.

Aku merasakan posisi dudukku menjadi oleng karena Donghae berdiri dari tempat duduknya.

Ia berjalan mendekatiku, lalu menarikku hingga kini aku kembali masuk kedalam pelukannya.

Pelukan yang hangat dan erat.

“Aku menyukaimu,” ujarnya tepat ditelingaku yang membuatku mendorongnya menjauhiku.

Aku sedikit kesal karena ia mempermainkanku dengan kalimat itu. Aku takut kalau ini juga hanya sebuah sandiwara.

“Jangan mempermainkanku. Kau bilang kau tak percaya cinta. Bagaimana bisa kau menyukaiku?!” ujarku sedikit kesal.

“Ketulusanmu pada Siwon yang membuatku luluh. The moment that I didn’t even notice, my heart went one step ahead. You melted a little, my frozen heart,” ujarnya dan belum sempat aku menyanggahnya ia sudah membungkamku dengan ciuman lembut dibibirku.

“Saranghae, jeongmal saranghae, JoHee,”

*****

Aku menatap pintu kamar Donghae dengan bimbang. Aku bingung bagaimana harus bersikap saat bertemu dengannya nanti namun aku tak ingin suasana diantara kami berdua menjadi canggung. Aku ingin bertemu dengannya, menjelaskan semua yang aku rasakan agar tak terjadi kesalah pahaman diantara kami. Setelah mengumpulkan segenap keberanian, aku membuka pintu itu namun yang kudapat adalah.. nihil. Tak ada tanda-tanda keberadaan makhluk hidup bernama Donghae disitu.

Aku mengepalkan tanganku dan menggigit bibir bawahku. Emosi dan sedih sudah bercampur menjadi satu dan memaksa mataku mnghasilkan air mata.

Bagaimana mungkin ia pergi bahkan tanpa berpamitan padaku?

“Lee Donghae brengsek! Bagaimana mungkin kau meninggalkanku sendiri tanpa berpamitan?!” teriakku entah pada siapa. Yang jelas kini aku sudah menangis tersedu-sedu dan tersungkur dilantai. Aku marah karena ia mempermainkan perasaanku dan aku sedih karena akhirnya aku menyadari kalau keberadaannya sangat penting bagiku.

*****

DONGHAE POV

Satu hal yang ingin aku lakukan begitu mendarat di Seoul: bertemu JoHee. 2 minggu tak bertemu JoHee, kehidupanku bagai sayur yang tidak diberikan garam, kurang enak, kurang sedap. Namun saat impian itu tercapai, entah aku harus senang atau harus sedih karena aku mendapati JoHee sedang tertidur di depan pintu rumahnya. Apa yang ia lakukan? Angin musim gugur cukup mampu untuk membuatnya sakit. Dan seperti yang kuduga, tubuhnya sangat panas. Tanpa basa basi aku segera menggendongnya ke kamarnya.

Aku membaringkannya di tempat tidur, menyelimutinya, lalu mengompresnya. Aku ingin terus berada disampingnya namun sayang suara perutku yang lapar ini sangat berisik. Aku memutuskan untuk keluar sebentar menuju ruang makan untuk mencari sesuatu yang bisa kumakan.

Aku cukup kaget saat mendapati sepasang piring dan gelas pasangan tersusun rapi di atas meja. Lauk pauk yang terbungkus rapi diatas meja pun porsinya sangat banyak. Setidaknya cukup untuk 2 orang.

Aku tersenyum karena sebuah pikiran terlintas dipikiranku, “Apa JoHee menginginkan kehadiranku?”

Aku senang sekali namun aku juga tak berani terlalu berharap.

Aku mengisi perutku dengan makanan yang JoHee sediakan lalu kembali menuju kamar JoHee. Aku duduk ditepi tempat tidurnya sambil menggengam tangannya dan menatapnya. Aku sangat merindukannya. Wajahnya saat ini sangat sayang untuk dilewatkan.

*****

Sinar matahari yang menyusup melalui celah korden membuatku terbangun. Dengan segera aku memeriksa suhu tubuh JoHee yang  -syukurlah- panasnya sudah turun. Aku mengelus puncak kepalanya sambil tersenyum-senyum sendiri melihat wajah manisnya itu.

Tiba-tiba mata JoHee terbuka dan mata kami langsung bertemu. Namun bukan reaksi gembira yang kudapat namun ia malah memalingkan wajahnya. Aku sedikit kesal namun kini aku tahu penyebabnya apa.

“Aku pasti bermimpi,” guman JoHee yang masih bisa didengar Donghae. Ternyata JoHee masih belum mepercayai penglihatannya sendiri.

“Yes, this is me. Ini aku, JoHee,” ujarku lembut yang membuat JoHee kembali menatapku namun kini matanya lebih membesar dan mulutnya setengah terbuka. Ia bahkan bangkit dari tidurnya bak orang yang sehat walafiat.

“I’m back. Don’t you miss me?” tanyaku padanya yang aku yakin pasti tepat sasaran. Kupikir aku akan dipeluk oleh JoHee seperti yang biasa kulihat dalam drama roman picisan namun pada kehidupan nyataku ini, aku justru mendapat tamparan keras dari JoHee!

“Kenapa kau menamparku?” tanyaku setengah kesal, setengah bingung. Ia tak menjawab, malah menampar pipiku yang lain. “JoHee, waeyo?” tanyaku. Namun lagi-lagi ia tak menjawab. Kini ia tidak lagi menamparkan namun memukulku, bertubi-tubi, diseluruh bagian atas tubuhku. Ia cukup kuat sebagai wanita yang masih sakit namun masih tak cukup kuat untuk mengendalikan emosinya. Ia kini mulai menangis. Aku menahan tangan yang sedari tadi memukulku lalu aku menariknya dalam pelukanku.

“Mengapa kau meninggalkanku? Wae? Aku sudah seperti orang bodoh menunggumu,” omelnya. Aku tau aku salah dalam hal ini, namun aku punya alasan yang kuat.

“Mianhe,” kataku. Hanya itu satu-satunya kata yang pantas kulontarkan saat ini. JoHee mendorongku pelan untuk menjauhinya. Ia menatap wajahku lama lalu mengusap ujung bibir dan pelipisku.

“Argh,” erangku kesakitan yang tentu saja membuat JoHee tak bisa tinggal diam. Tanpa titik dan koma ia memberikan pertanyaan bertubi-tubi sampai aku bingung harus menjawab yang mana.

“Apa yang terjadi? Explain to me!” serunya. Baru kali ini aku melihat JoHee mengekspresikan kekhawatirannya. Aku cukup senang karen aitu berarti ia mencemaskanku.

“Aku membatalkan pertunangan kita. Akhirnya appaku memukuliku,” jawabku yang langsung disambut oleh jitakan hangat dari JoHee.

“Mengapa kau membatalkan pertunangan kita?!” tanyanya kesal tanpa menunggu kelanjutan dariku.

Aku tersenyum padanya dan mengeluarkan sebuah kotak yang sudah lama ingin kuberikan padanya. “Karena aku ingin secara resmi melamarmu sebagai tunanganku,” ujarku sambil membuka kotak itu dan memerkan kilau benda kecil yang ada didalamnya.

“2 minggu bukan waktu yang sebentar kan untuk mempertimbangkanku?” ujarku karena JoHee hanya terdiam menatap cincin di dalam kotak ini.

“Tapi aku masih bocah ingusan. Duniamu jauh berbeda denganku,” kata JoHee. Kini air mata mulai mengalir dipipinya. Dengan segera aku menangkup wajahnya dan mengusap air matanya.

“Aku suka itu,” jawabku sambil mencium keningnya.

“Aku cengeng,”

“Aku suka itu,” jawabku sambil mencium pelipisnya.

“Aku ceroboh,”

“Aku juga suka itu,” jawabku sambil mencium pipinya

“Aku..”

“I love you, just the way you are,” jawabku sambil menciumnya tepat dibibir. Sebuah hasrat yang sedari dulu kupendam namun kini perasaan yang meledak-ledak membuatku tak mampu mengontrol diri.

JoHee memukul dadaku pelan sebagai peringatan untukku melepaskan ciuman yang cukup lama itu. “Mianhe, aku akan belajar mengendalikan diriku,” ujarku yang hanya dibalas dengan senyuman lembut oleh JoHee.

“Oppa, ” panggil JoHee yang membuatku senang bukan main. Ini pertama kalinya ia memanggilku dengan sebutan itu. Parahnya ia menggunakan aksen aegyonya. Ia sama saja membangkitkan serigala yang tertidur didalam jiwaku!

“Apa yang orang dewasa lakukan setelah melakukan kissu?” tanya JoHee polos. Sungguh, aku tak menduga kalau aku bisa jatuh cinta pada bocah ingusan macam dirinya.

Aku mencium bibirnya kilat dan tersenyum padanya. “Akan kuajarkan setelah kita resmi menjadi suami-istri,”

 

END.