Cast : Kim Jaejoong, Hwang Jaehyun

PART 2.
Aku tersadar dan kulihat aku sudah berada di salah satu kamar hotel-ku yang terbaik. Aku kemudian bangkit dari tempat tidurku dan keluar menuju dapur. “Ne, gomonim. Aku akan memberitahukan Gomo kalau Oppa sudah sadar. Ne, Gomo. Algeutseumnida.” Aku mendengar Jaehyun bicara melalui ponselnya. Ia pasti sedang bicara dengan eomma.
Aku merebut Jaehyun. “Kyaaaa!” seru Jaehyun kaget. Aku memerintahkan Jaehyun untuk diam dan menyuruhnya membuat teh hangat untukku. Sedangkan aku menggantikannya bicara dengan eomma. “Eomma. Aku baik-baik saja. Tadi aku hanya tiba-tiba pusing lalu pingsan. Mianhe sudah membuat eomma cemas,” ujarku. Aku menghela nafas kecewa. Bukan kecewa karena telah membohongi ibuku tapi membohongi diriku sendiri. Aku belum sembuh.Jaehyun selesai membuat teh tepat selesai aku bicara dengan eomma. Dia meletakkannya di atas meja makan lalu berdiri menatapku dengan cemas. “Oppa, neo gwencana?” tanyanya.
Aku tersenyum, meskipun lemah tapi aku yakin cukup meyakinkan Jaehyun. “Nan gwencana, Jaehyun-ah.”
Aku lalu mengembalikan ponsel Jaehyun kepada pemiliknya. Aku pun mengambil teh-ku dan meminumnya dengan perlahan. Kehangatan teh itu mengalir di seluruh tubuhku dan memberikan sedikit ketenangan. Aku menutup mata untuk lebih menikmati kehangatan teh yang dibuat oleh Jaehyun ini. Tanpa terasa, teh itu sudah habis dan aku pun kembali membuka mataku.
“Oppa, jinjja gwencana? Apa kau sakit?” tanya Jaehyun lagi sambil menyentuh keningku dengan telapak tangannya. Jaehyun tidak berubah dari posisinya semula. Dia masih berdiri di sampingku dengan cemas, seolah-olah aku akan mati. Tapi, wajah cemasnya cukup menambah ketenangan untuk diriku.
Aku tersenyum, lebih pasti, tapi wajah Jaehyun tidak juga berubah. “Haish, kenapa dia tetap cemas seperti itu?” batinku. Tanpa sinkronisasi yang baik dengan otakku, tanganku memegang tangan Jaehyun lalu menariknya mendekat kepadaku. Ketika aku merasa dia sudah cukup dekat, aku memeluk pinggang Jaehyun dan menyenderkan kepalaku di perutnya. “Nan gwencana, nona Hwang Jaehyun. Kau tidak perlu cemas seperti itu,” ucapku. Aku tidak tahu apa yang dirasakan Jaehyun tapi dengan begini aku merasakan bahwa kehangatan dan kenyamanan yang Jaehyun berikan tidak kalah dengan apa yang diberikan eomma kepadaku.
Jaehyun bergerak. Kupikir dia ingin melepaskan diri dariku. “Sebentar lagi ya. Aku mohon,” pintaku. Jaehyun bergerak lagi tapi ia tanganku masih melingkar erat di pinggangnya. Yang ada, aku merasakan sentuhan di leherku dan kepalaku. “Aku pikir tadi Oppa akan mati. Aku cemas sekali,” ujarnya. Kemudian kurasakan tangannya semakin erat memeluk leherku dan kepalaku sedikit basah karena air matanya. Setelah 4 tahun tak melihat ia menangis, kini aku bisa melihatnya menangis. Ah ani, aku tidak langsung melihatnya karena mataku terhalangi tubuhnya. Aku hanya merasakan bahwa dia benar-benar menangis karena aku.
Keadaan pun sekarang berbalik. Aku menjadi orang yang harus menenangkan Jaehyun. Pelan-pelan kutepuk punggung Jaehyun agar ia berhenti menangis. “Sudah ya. Lebih baik sekarang kita pulang. Istirahat. Kau tampaknya sudah lelah sekali mengurusku,” ujarku. Aku lalu menggandengnya menuju mobil. Anehnya, dengan sangat penurut, Jaehyun mengikuti instruksiku. Dia masuk ke mobil ketika aku menyruhnya masuk. Dia tidur ketika aku menyuruhnya tidur. Menyenangkan sekali rasanya punya sekretaris se-penurut ini.
Sialnya, dia tidak menuruti perintahku ketika aku menyuruhnya bangun. Terpaksa aku menggendongnya masuk ke dalam rumah dan menidurkannya di kamarnya. Setelah itu barulah aku mengurus diriku sendiri sampai aku siap tidur.
“Jejung-ah. Apa kau ada di dalam nak?” Eomma mendatangiku ketika aku sedang membaca laporan harian hotel-ku. Aku menganggap panggilannya adalah penyelamat. Aku sudah lelah menatap laporan terus menerus setiap hari. Kuputuskan untuk menutup sesi membaca laporan. Eomma lebih penting dari laporan. “Ne, eomma. Chakkaman,” sahutku lalu beranjak dari meja kerjaku.
Dengan sumringah, aku membukakan pintu untuk eomma. Eomma pun masuk ke kamarku. “Eomma belum tidur?” tanyaku. Eomma menggeleng dengan lesu. “Eomma kenapa tidak bersemangat?” tanyaku lagi. Eomma tidak menjawab. Dia hanya menghela nafas lalu naik ke tempat tidurku. Wajahnya tampak sangat sedih. Aku pun segera mengikuti jejaknya lalu memeluk eomma. “Eomma kenapa?” tanyaku.
Eomma mengelus-elus rambutku dengan lembut. “Apa kau teringat Appa?” tanyanya. Eomma betul-betul mengerti diriku. Tanpa aku jelaskan apapun, dia mengerti apa yang aku rasakan. Dia tahu apapun mengenai diriku tanpa ada satu patah kata pun yang perlu aku keluarkan untuk memberi tahunya.
Aku menganggukkan kepalaku. “Aku hanya melihat Jaehyun mengejar anak kecil di hotel. Lalu segalanya melintas saja di kepalaku. Kemudian, aku tidak sadarkan diri. Semudah itu, eomma,” jawabku.
Eomma menghela nafas, terasa sangat berat di telingaku. “Eomma juga merindukan Appa-mu tapi eomma yakin ia menjaga kita berdua dari surga. Tenanglah,” ucap eomma dengan lembut. Aku memeluk eomma semakin erat. Eomma juga tidak berhenti mengelus kepalaku. “Tidurlah, nak. Mimpi yang indah. Sampaikan salam untuk Appa jika kau bertemu dengannya.” Aku pun membetulkan posisi tidurku sampai aku mendapat posisi yang nyaman untuk tidur sekaligus memeluk eomma. Aku tidak peduli bermanja-manja seperti anak umur 4 tahun meskipun aku sudah berumur 28 tahun.

++++++++

Rasanya hari ini baru berjalan 2 jam tapi pintu kamarku sudah berisik sekali akibat digedor oleh seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah sekretarisku. “Sajangnim! Kim Jejung! Oppa-yaaa! Ppali ireona! Jam 8 kau ada meeting dengan tim produksi pembuatan iklan untuk hotel kita. Ppaliwa!!!!” teriak Jaehyun tanpa henti. Sambil mengumpulkan nyawa, aku melihat jam di dinding kamarku. Jam 7.15.
“YAAAA HWANG JAE HYUN!!! Kenapa kau baru membangunkanku?! Ini sudah jam berapa?!” teriakku dari dalam kamar sambil berlari-lari heboh memasuki kamar mandi. “Aku sudah mencoba membangunkanmu dari jam setengah 7 tapi kau tidak kunjung bangun juga. Jangan salahkan aku!!! Sekarang, bukakan pintu untukku!!!!” sahut Jaehyun cukup kencang sehingga bisa kedengaran sampai ke dalam kamar mandi-ku. Aku tersenyum geli. Aku terlalu heboh sampai lupa membuka pintu kamarku untuk Jaehyun. “Jaehyun, aku akan membuka pintu setelah mandi. Sabar ya. Mianhe!”
Setelah mandi, aku membukakan pintu untuk Jaehyun. Tampang galaknya sudah terpasang mantap di wajahnya. Selaras dengan tampangnya, Jaehyun masuk ke dalam kamarku dan langsung mengobrak-abrik isi lemariku. “Pakai ini,” perintahnya sambil melemparkan kaus, blazer, celana jeans dan sneakers semi formal. “Karena hari ini Oppa akan meeting dengan orang kreatif jadi gayanya kasual saja.” Aku pun menuruti pilihan busananya.
“Cool!” serunya begitu aku sudah siap. Aku lalu menjitak kepalanya. “Jangan kal kul kal kul doang. Ini sudah jam berapa? Gara-gara kamu, aku bisa telat tahu!” omelku melampiaskan kepanikanku. Sudah jam setengah 8 dan aku masih di rumah. “Cepat siapkan mobil dan supir yang bisa menyetir dengan cepat!” perintahku. Jaehyun pun segera pergi mengeksekusi perintahku. Aku menyusulnya kemudian setelah berpamitan pada eomma.
Aku masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Jaehyun. Tanpa sengaja aku memperhatikan pakaiannya. Kaus, blazer, hi-waist mini skirt, dan sepatu flat. Tampak sangat menggoda. “Haish, apa yang aku pikirkan?!” batinku lalu mengalihkan pandanganku. “Mana bahan rapatku?” Aku bertanya tanpa memandang Jaehyun.
“Semua sudah aku siapkan di kantor. Sebagai referensi, Oppa dengarkan saja omonganku. Tim kreatif ingin membuat iklan dengan anggaran produksi sekitar 50 juta won. Mereka ingin memakai artis-artis terkenal seperti SNSD, 2PM, Big Bang, dan lain-lain. Setelah itu, biaya penayangan iklan itu di stasiun-stasiun tivi ternama pada jam prime time akan menghabiskan dana sekitar 200 juta won. Estimasi biaya lain-lain yang akan dikeluarkan sekitar 50 juta won. Jadi kita harus menyiapkan dana sekitar 300 juta won.”
“MAHAL SEKALI! Mereka pikir 300 juta won datang begitu saja dari langit?” protesku penuh emosi. Aku paling tidak suka jika orang-orang menghabiskan uang hanya untuk sesuatu yang sebenarnya bisa diefisiensikan.
“Karena itu, saya punya ide. Buat iklannya cukup dengan satu artis yang benar-benar merepresentatifkan Korea, Choi Siwon. Penayangannya di tivi juga tidak perlu setiap hari di jam-jam prime time. Cukup di hari Sabtu dan Minggu, waktu biasa keluarga menonton. Selebihnya kita bisa bekerja sama dengan kedutaan besar Korea yang ada di seluruh dunia. Tampaknya mereka bisa membantu kita. Selain itu, kita manfaatkan saja jaringan bisnis yang sudah ada. Dari sini saja kita bisa menghemat sampai 150 juta won, hampir setengahnya.”
Aku memandang Jaehyun sekali lagi dengan takjub. Gadis ini memang benar-benar brilian. Seharusnya dia yang menjadi manajer dan aku yang menjadi sekretarisnya. Aku rasa dunia sudah terbalik. “Kau memang yang terbaik! Daebak Jaehyun-ah! Eomma salah besar menempatkanmu jadi sekretaris,” pujiku, benar-benar mengaguminya.
Jaehyun tersenyum. “Nyonya Kim tidak salah. Aku yang memintanya menempatkan aku di sini,” sahut Jaehyun yang membuatku syok setengah mati. “Aku juga yang merengek pada Gomo untuk menarikku ke Korea,” lanjut Jaehyun kemudian. Untuk pertama kalinya aku benar-benar tidak percaya dengan perkataan seorang Hwang Jaehyun.
“MWO?! Apa kau bilang? Kau minta eomma untuk menjadikanmu sekretaris? Hanya sebagai sekretaris loh, Jaehyun. Sekretaris. Padahal otakmu itu otak manajer,” tanyaku tidak percaya sekaligus kaget.
“Apa menurut Oppa menjadi sekretaris itu mudah? Enak saja! Setiap pagi kau harus bangun lebih pagi dari boss-mu, menyiapkan semua kebutuhan boss, mengecek dan memastikan jadwal boss setiap harinya, koordinasi dengan bawahan boss-mu, memahami pekerjaan boss dan lain sebagainya. Itu semua melelahkan ya.” Jaehyun membela diri bahwa pekerjaannya sekarang bukanlah pekerjaan yang bisa dianggap sebelah mata. Dia menjelaskan betapa krusialnya peran sekretaris dalam sebuah organisasi. “Coba bayangkan jika saat rapat, Oppa harus menyiapkan segalanya sendirian. Pasti pusing kan?”
Jaehyun benar. Waktu aku mendengar Jo hee diambil eomma, aku langsung stress. Bagaimana mungkin aku mengerjakan segalanya sendirian? Mulai dari memikirkan ide sampai menuangkannya dalam presentasi. Tidak mungkin aku mengerjakannya sendirian. Hellow, aku juga manusia. Aku suka caranya menjelaskan betapa pentingnya peran seorang sekretaris atau lebih menjurusnya, asisten. Tapi aku lebih suka gaya bicaranya yang ekspresif sehingga membuatku tertawa karenanya.
“Jangan tertawa. Tidak ada yang lucu tahu,” protes Jaehyun sambil membelalakan matanya dengan galak. Aku tahu dia tidak serius makanya aku tetap saja tertawa. Tampangnya sangat lucu sehingga wajar saja jika aku tidak bisa berhenti tertawa. “Oppaaaa, jangan tertawa terus….” Sekarang ia malah memohon agar aku tidak menertawainya lagi yang justru membuatku semakin tertawa keras. Terakhir, Jaehyun hanya memanyunkan bibirnya sambil menatapku memelas. Aku berusaha menahan tawaku agar tidak meledak.

++++++++

Aku berkutat dengan ide-ide kreatif tim iklan yang unik dan menarik. Sayang, ide mereka memakan banyak sekali biaya. “Kita pakai Choi Siwon saja sebagai artisnya, sisanya kita pakai karyawan sendiri saja. Saya mau mengefisiensikan biaya iklan, cukup 150 juta won. Tidak lebih. Saya juga minta perinciannya,” kataku terus terang, mengikuti saran Jaehyun. Aku paham tim kreatif pasti tidak akan dengan mudah menerima efisiensi anggaran produksi mereka.
Tim kreatif pun mulai bernyanyi. “Hanya dengan 1 artis tidak akan merepresentasikan hotel kita. Selain itu, pegawai kita belum tentu cocok. Anggaran yang dipakai memang mahal tapi feedback untuk perusahaan jauh lebih besar.”
Aku pun tidak mau mengalah begitu saja. Ini adalah hotelku. Aku adalah manajernya. Jadi semua keputusan ada di tanganku. “Kalian seleksi dulu pegawai di hotel kita. Masa dari hampir 2000 orang, gak ada 10% bakat jadi artis? Aku akan minta Jaehyun ssi untuk membantu kalian. Aku yakin hasilnya paling tidak akan sama baik seperti ide kalian. Oke?”
Tim kreatif sudah mulai diam meski aku tahu, dalam hatinya mereka pasti sudah ngedumel macam-macam. Aku tidak peduli. Aku adalah pembuat keputusan di sini. Seenak jidat minta dana 300 juta won.
Aku lalu memanggil Jaehyun ke dalam ruang rapat untuk bertemu dengan tim kreatif. “Perkenalkan ini sekretaris Saya, Hwang Jae Hyun. Dia akan menjadi penasihat dalam produksi iklan ini. Selamat bekerja sama,” ucapku dengan tegas, tanda aku tidak mau dibantah.
Jaehyun menatapku penuh kebingungan tapi aku hanya tersenyum. “Aku yakin kau bisa. Berusahalah!” Aku lalu bersalaman dengan tim kreatif sebelum keluar dari ruang rapat. Jaehyun langsung mengikutiku dari belakang.
“Sajangnim,” panggilnya diiringi nafas yang terengah-engah karena berusaha mensejajarkan langkahnya denganku.
“Waeyo?” sahutku.
“Kenapa kau menjadikanku penasihat?”
“Aku rasa kau cocok bekerja di sana. Aku hanya tidak ingin kau bosan dengan pekerjaanmu yang sekarang.”
“Sajangnim,”
“Wae? Kau tidak suka?” Aku memperhatikan wajah Jaehyun. Tidak tampak ekspresi senang ataupun sedih. Dia hanya menatapku bingung. “Kalau kau tidak mau, aku akan membatalkannya. Tidak usah bingung,” kataku lagi. Kemudian Jaehyun menggelengkan kepalanya. “Jangan. Apa kata orang kalau sajangnim menelan ludah sendiri? Aku akan berusaha sebaik mungkin,” ujar Jaehyun.
Aku tersenyum puas kepada Jaehyun lalu masuk ke dalam ruanganku sedangkan Jaehyun duduk di mejanya. Saat itu, tanpa sengaja aku memperhatikan cara berjalan Jaehyun dan cara dia berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalaku. “Jaehyun, ikut aku. Kajja!” Tanpa segan aku menarik tangannya.
“Kita mau kemana, sajangnim? Kenapa menarikku begini?”
“Aku rasa kau cocok jadi model iklan hotel kita. Aku mencalonkan dirimu. Sekarang kita temui tim kreatif.”
“Mwo?!”
Aku pun menarik Jaehyun masuk ke ruangan tim kreatif. Secara mendadak, aku menemui ketua proyek iklan ini. “Miki ssi. Aku rasa Siwon akan cocok berpasangan dengan Jaehyun. Aku harap akan sesuai dengan konsepmu,” kataku.
Miki menatap Jaehyun dari atas sampai bawah dengan teliti. Dari ekspresinya aku tahu Miki setuju dengan pilihanku tapi Miki bukanlah orang yang mudah sependapat denganku. Dia malah cenderung kontra denganku. “Aku akan memikirkannya karena kita harus mendapat persetujuan Siwon juga,” katanya. Aku cukup puas dengan jawabannya. Miki tidak menolak ideku. Aku tersenyum puas pada Jaehyun.
Jaehyun menatapku dengan kesal. “Kau menambah pekerjaanku saja, sajangnim,” ucapnya sinis. Aku meringis minta maaf. “Untuk kali ini saja, aku mohon bantuanmu ya,” ucapku. Aku bahkan sampai membungkukkan tubuhku kepadanya.
Jaehyun menghela nafas panjang. “Oke, kali ini saja tapi!”
Aku sepakat dengan Jaehyun. Kami pun segera kembali ke ruangan tapi Miki menahan kami. “Kami butuh Jaehyun di sini untuk rapat. Jadi jaehyun aku minta tinggal,” kata Miki.
Jaehyun melangkahkan kakinya mengikuti Miki sedangkan aku hanya diam berdiri menatap kepergiannya. Aku tidak memperhitungkan bahwa menambah pekerjaannya berarti mengurangi jatah pekerjaannya sebagai sekretaris. Aku berpikir untuk mengikutinya tapi buat apa? Aku mengutusnya jadi penasihat agar aku tidak perlu lagi ikut-ikut rapat. Kalau sekarang aku mengikuti Jaehyun, berarti aku menjilat ludah sendiri. Padahal Jaehyun tidak memperbolehkanku menarik ucapanku.

++++++++

February 4th, 2006. Jaehyun mengeluarkan koper-kopernya dari kamar dengan susah payah karena beratnya sudah melebihi berat badan Jaehyun sendiri. Bagaimana tidak? Semua barangnya tidak ada yang terlupa untuk dia bawa ke Amerika, tidak banyak yang ia tinggalkan di Korea atau lebih tepatnya di rumah Jaejoong.
Jaejoong mengintip dari kamarnya. Dia tidak siap menerima kenyataan bahwa Jaehyun akan segera meninggalkannya. Oleh karena itu, meskipun bawaan Jaehyun berat-berat Jaejoong tidak bisa membantu. Ia merasa lebih baik untuk pura-pura tidur.
“Gubrak! Buk! Duk! Buk! Aaaauw!” suara koper jatuh disusul jeritan Jaehyun memaksa Jaejoong keluar dari kamarnya dan segera berlari menyusul Jaehyun.
“Jaehyun-ah, neo gwencana?” tanya Jaejoong cemas setengah mati.
Jaehyun duduk di bawah tangga sambil memijit kakinya. Wajahnya mencerminkan dia sangat kesakitan. “Appo, oppa. Tapi pesawatku berangkat 2 jam lagi. Ottoke?” jawab Jaehyun.
Tanpa banyak bicara, Jaejoong membalurkan minyak urut dan membalut kaki Jaehyun yang keseleo. Jaejoong lalu menggendong Jaehyun menuju mobilnya. “Aku akan mengantarmu ke bandara. Tenanglah,” ucap Jaejoong lalu memasukkan barang-barang Jaehyun.
Berkali-kali Jaejoong menoleh cemas pada Jaehyun. “Kau tidak bisa menunda keberangkatanmu? Paling tidak sampai kakimu sembuh.”
Jaehyun menggeleng. “Begitu aku sampai, aku harus langsung mendaftar. Tidak ada waktu lagi, Oppa.”
“Kau benar-benar yakin mau ke Amerika?” Jaejoong berusaha mencari keraguan dari Jaehyun. Sayang, Jaehyun mengangguk. Jaejoong pun tidak sanggup berkata apapun karena yang ia rasakan kini hanya kekosongan.
Jaejoong lebih dulu menurunkan Jaehyun baru kemudian barang-barang Jaehyun. “Biar aku yang check-in. Kau tunggu di sini saja,” kata Jaejoong agar Jaehyun istirahat. Jaejoong pun membawa tiket, paspor, koper dan segala keperluan check-in ke ruang check-in, meski tanpa semangat. Setelah itu, barulah Jaejoong kembali ke tempat Jaehyun menunggu.
Jaehyun masih berada di tempat yang sama. Tangan kanannya melambai-lambai kepada Jaejoong sedang tangan kirinya memegang sebuah kue kecil. Jaejoong pun segera menghampiri Jaehyun.
Meskipun sambil duduk menahan sakit, Jaehyun tetap tersenyum. Disodorkannya kue kecil itu ke hadapan Jaejoong. “Saengil chukkae, Oppa,” ucap Jaehyun.
Satu-satunya hal yang ingin dilakukan Jaejoong adalah menangis, tapi ia tidak cukup berani untuk itu. Jaejoong hanya tersenyum dan menerima kue itu. “Gomawo, Jaehyun-ah.”
Tidak lama kemudian, panggilan boarding pesawat Jaehyun berkumandang. Jaehyun bangkit berdiri meskipun masih sakit. “Aku pergi dulu ya, Oppa. Sampai jumpa.”
“Hati-hati di Amerika. Cepatlah pulang,” sahut Jaejoong.
Jaehyun memeluk Jaejoong sebentar lalu meninggalkannya. Jaejoong menatap Jaehyun yang berjalan pelan-pelan memasuki ruang boarding. Jaehyun berbalik sebentar untuk melambaikan tangan. Jaejoong balas melambaikan tangannya sambil tersenyum. Dari jauh, Jaehyun lega melihat senyum di wajah Jaejoong tanpa dia tahu bahwa sesungguhnya yang Jaejoong rasakan berbeda jauh dari senyumannya.

++++++++

Aku melihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul setengah dua pagi dan kamar Jaehyun masih tidak ada tanda-tanda kehidupan. Dia belum pulang. Terakhir kali aku meneleponnya, dia bilang masih rapat. Rapat apa sampai selarut ini?! Aku saja yang hampir setiap hari rapat, tidak pernah sampai selarut ini. Rapat yang benar itu seharunya cukup 2 jam! Aku kembali mengambil ponselku. “Jaehyun-ah, kau dimana? Kenapa sampai sekarang belum pulang?” tanyaku cemas ketika meneleponnya lagi.
“Aku sudah di jalan,” jawab Jaehyun dengan lemas.
Aku yakin dia pasti lelah sekali. Aku pun tidak tega mengajaknya bicara lama-lama. Lebih baik ia istirahat selama perjalanan. “Baiklah. Kau istirahat saja dulu sebentar di mobil. Tapi sebelum itu, tolong berikan teleponku pada supir,” ujarku agar aku bias menyuruh supir menjaga Jaehyun dengan baik sampai ke rumah.
“Aku tidak bersama supir. Jinki yang mengantarkanku.”
Keningku seketika berkerut ratusan lapis mendengar jawabannya. “Jinki? Siapa dia?”
“Temanku dari Amerika.”
Klek. Tuttutututut. Jaehyun menutup ponselnya tanpa mengucapkan salam, membuatku bukan lagi cemas tapi sudah jantungan. Apa-apaan? Pulang larut malam dengan seorang pria? Tidak aku kenal pula. Sebenarnya apa yang Jaehyun lakukan? Jantunganku sudah memasuki stadium yang lebih tinggi karena cemas memikirkan Jaehyun tapi yang bisa kulakukan pun hanya mondar-mandir di halaman rumahku menanti kepulangannya.
Tepat jam 2 pagi, sebuah mobil berhenti di depan rumahku. Seorang pria turun lalu berjalan cepat untuk membukakan pintu di sisi lain mobilnya. Setelah pria itu membukakan pintu, Jaehyun keluar. Saat itu juga, aku langsung menajamkan mataku. Jantungku berdetak sangat cepat. Pikiranku mulai memikirkan yang tidak-tidak. Pria yang aku duga bernama Jinki itu lalu mencium pipi Jaehyun, Jaehyun pun tersenyum. Mereka lalu saling melambaikan tangan sebelum pria itu benar-benar meninggalkan Jaehyun. Aku memperhatikan keduanya tampak sangat dekat. Apa mereka pacaran? Frustasi mulai menyergapku. Aku ingin tahu sekali apa yang sebnarnya terjadi di anatara mereka berdua.
Jaehyun masuk ke dalam rumah tanpa menyapaku sama sekali, mungkin karena dia terlalu lelah atau jangan-jangan dia tidak menyadari keberadaanku karena sudah dibutakan oleh pria itu. Haish. “Jaehyun-ah!” panggilku tapi Jaehyun tidak menyahut. Ia terus saja berjalan ke dalam rumah. Aku berusaha berpikiran positif : Jaehyun hanya terlalu lelah tapi hatiku tidak sepositif itu. Hatiku ingin kejelasan kenapa Jaehyun bias pulang dengan orang yang tidak aku kenal padahal aku sudah bilang padanya agar pulang bersama supir. Aku mengikuti Jaehyun menuju kamarnya. “Jaehyun-ah! Aku ingin bicara,” panggilku, kali ini lebih tegas.
Jaehyun membalikkan badannya untuk melihatku. “Aku lelah, oppa. Kita bicara besok saja ya. Jalja!” ujarnya. Jaehyun tampak tidak peduli padaku. Beda sekali dengan pria tadi. Meskipun dia lelah tetap saja ia mau dicium oleh pria itu.
Entah setan darimana yang datang untuk membangkitkan emosiku. Aku menarik Jaehyun lalu menciumnya dengan paksa. Tanganku mencengkram lengannya. “Oppa!” seru Jaehyun kencang dan mendorongku menjauh dari dirinya.
“Mianhe,” ucapku kemudian penuh penyesalan. Aku melepasakan tanganku dari lengan Jaehyun dan berjalan mundur beberapa meter dari dirinya. Jaehyun menatapku sedih meskipun kemudian ia tersenyum. “Gwencana, Oppa,” ucapnya lembut. Aku rasa pikiranku sudah kacau samapi bias mencium Jaehyun semudah itu. “Mian,” ucapku sekali lagi lalu meninggalkannya. Aku tak tahu apa setelah itu dia masuk ke kamarnya atau bagaimana.
Alih-alih ke kamarku, aku masuk ke kamar eomma. Eomma sudah nyenyak di tempat tidurnya. Aku pun menyelinap pelan-pelan berbaring di sebelahnya. Aku masuk ke dalam selimut eomma dan memeluknya. “Eomma, aku baru saja melakukan kesalahan. Aku mencium Jaehyun dengan paksa. Aku cemburu melihatnya bersama pria lain. Aku…masih mencintainya, eomma,” bisikku pelan.
Eomma menggeliat pelan dalam pelukanku. Ku pikir ia hanya membetulkan posisi tidurnya tapi ternyata kemudian aku merasakan belaian lembut di tanganku. “Kali ini kau harus mendapatkannya. Eomma sudah menantinya selama bertahun-tahun. Eomma tak akan mengampunimu kalau kau gagal,” kata eomma pelan dan sedikit mengancam. Seketika wajahku memanas karena malu. Aku tidak menyangka Eomma sangat mengharapkan Jaehyun menjadi anaknya.

++++++++

Untuk pertama kalinya aku bangun tanpa bantuan Jaehyun. Begitu juga untuk baju yang aku kenakan, aku sudah bisa memadu-madankannya tanpa bimbingan Jaehyun. Aku bahkan sudah siap di meja makan tanpa harus dipanggil dulu olehnya. “Mana Jaehyun?” tanyaku pada pelayan yang sedang menghidangkan makanan untukku dan eomma karena aku tidak menemukannya duduk bersama aku dan eomma di sini untuk makan pagi.
“Masih tidur sepertinya. Tadi saya panggil-panggil tidak ada jawaban,” jawab pelayanku.
“Oh,” sahutku singkat. Aku tahu Jaehyun pasti sangat kelelahan. Lebih baik aku biarkan ia tidur lebih lama lagi. Aku pun hanya menganggukkan kepalaku lalu mulai menyantap makan pagiku. Hany saja tatapan Eomma yang langsung menusuk mataku membuatku kehilangan selera makan. “Eomma, wae? Kenapa eomma menatapku seperti itu? Menakutkan sekali,” tanyaku pada eomma.
“Aigoooo! Kau ini bodoh atau apa sih, Kim Jejung! Kenapa kau masih di sini? Bangunkan Jaehyun sana!” perintah Eomma setengah mengomel.
Dengan malas, aku meletakkan sendok dan garpuku lalu bangkit dari tempat dudukku untuk memabangunkan Jaehyun. “Jaehyun-ah! Jaehyun-ah! Bangun!” seruku sambil mengetuk pintu kamarnya dengan kencang. “Jaehyun-ah!!” Aku terus menyerukan nama Jaehyun tanpa menghentikan ketukan di pintu kamarnya.
Tak lama, pintu kamar Jaehyun dibuka. Aku segera masuk. Kulihat dengan langkah kaki sedikit menyeret, Jaehyun kembali ke tempat tidurnya dan dalam waktu sedetik dia sudah kembali ke alam mimpinya. “Yaaa Jaehyun-ah! Kau pikir sekarang jam berapa? Masih berani tidur lagi! Ppali ireona!!!” omelku
Jaehyun bukannya bangun malah menarik selimutnya sampai menutup seluruh tubuhnya. “Oppa, ijinkan hari ini saja aku telat. Ya? Aku masih mengantuk sekali,” katanya dari dalam selimut dengan suaranya yang parau.
“Andwe. Ayo bangun!” Aku lalu mencoba menarik badan Jaehyun agar dia terbangun tapi hasilnya malah aku yang terjatuh ke lantai. “Hwaaaa Hwang Jae Hyun!” seruku kencang tapi tidak ada efeknya buat Jaehyun. Ia tetap saja terlelap. Dengan segera aku bangkit dan duduk di tempat tidur Jaehyun. “Yaaa Hwang Jaehyun! Ireona!” teriakku. Aku lalu menarik Jaehyun lagi sampai ia benar-benar terbangun.
Kini Jaehyun sudah terduduk di hadapanku, meskipun masih dengan nyawa yang belum terkumpul. “Opppaaaa, kau kejam sekali. Aku baru tidur jam 4 pagi,” kata Jaehyun dengan mata yang masih setengah tertutup.
Aku menatapnya dengan bingung. “Kau kan sudah sampai rumah jam 2. Ngapain tidur jam 4? Apa masih ada yang kau kerjakan?” tanyaku.
“Yaaa Oppa! Kau kira jadi model iklan itu gampang? Banyak yang harus dipersiapkan tahu. Semalam aku masih harus mereview konsep iklan yang diberikan oleh tim kreatif. Aigoooooooo…. Ini semua gara-gara Oppa,” protes Jaehyun yang membuatku merasa bersalah.
Dengan salah tingkah aku meminta maaf pada Jaehyun, “Mianhe, Jaehyun-ah,” ucapku sungguh-sungguh.
Jaehyun kemudian tersenyum. Matanya yang besar kini sudah sepenuhnya terbuka. Organ tubuh itu bahkan kini menatapku dengan tatapan jahil. “Jadi Oppa tahu kan Oppa salah. Orang yang berbuat salah selalu punya hukuman. Karena itu, aku akan menghukum Oppa!”
“Mwo?!”
“Mulai hari ini, aku yang jadi bos. Oppa sekretarisku.”
“Mwo?!”
“Gendong. Aku mau ke kamar mandi.”
Tanpa basa-basi, Jaehyun menempel di punggungku dan memerintahkanku untuk membawanya ke kamar mandi. Ia benar-benar memerintahku, seperti nyonya besar yang berkuasa atas segalanya. Ia juga tidak mau mendengar apapun segala perkataanku. Intinya, aku harus mengikuti segala perkataannya.
“Oppa-ya!! Ambilkan bajuku yang warna kuning!” perintahnya dari kamar mandi. Aku pun membuka lemarinya untuk mengambil baju permintaannya. “Bajumu warna kuning banyak sekali, Jaehyun-ah. Kuning yang mana?” sahutku bingung.
“Haish. Kuning yang ada kancingnya di depan.”
“Semua ada kancingnya, Jaehyun-ah!”
“Haiiiishh! Dasar oppa tidak berguna!”
Klek. Aku mendengar pintu kamar mandi terbuka. Refleks, aku membalikkan tubuhku karena aku tidak mau melihat Jaehyun yang hanya berbalutkan handuk di tubuhnya. Aku tidak ingin mengotori pikiranku di pagi yang cerah ini.
“Aigoo, oppa-ya. Masa mencari baju segampang ini saja tidak bisa sih. Jelas-jelas di depan mata begini.” Jaehyun mulai cerewet. Entah kenapa Jaehyun jadi sangat menyebalkan seperti ini.
“Yaaaa!” seruku. Aku membalikkan badanku, tidak peduli apa Jaehyun sudah berganti baju atau belum. Aku benar-benar kesal di buatnya.
“Ne, oppa?” tanya Jaehyun yang ternyata sudah berpakaian rapi. Sekarang ia malah sedang berdandan di depan meja riasnya. Wajah yang terpantul di cermin memandangku sebentar lalu tertawa. “Mianhe, Oppa. Aku hanya ingin mengerjaimu,” katanya. Aku tak menjawabnya. Aku membalas pandangan Jaehyun, dengan kesal, karena ia berhasil mengerjaiku.
“Oppa, apa kau marah?” Raut wajah Jaehyun mulai terlihat ketakutan. Aku tahu dia takut jika aku benar-benar marah padanya. “Oppa,” panggilnya sekali lagi dan aku tetap diam. Jaehyun mulai bangkit berdiri dan menghampiriku. “Oppa, jebal. Jangan marah padaku. Aku hanya bercanda. Aku mohon jangan marah. Ya,” pinta Jaehyun sungguh-sungguh.
Jaehyun lalu memegang pipiku dengan kedua tangannya. Matanya menatap langsung mataku. “Oppa, mianhe. Aku hanya ingin bercanda denganmu. Aku tidak sungguh-sungguh. Aku juga tidak benar-benar ingin kau jadi sekretarisku. Aku mohon, jangan marah.” Wajah cantik Jaehyun terpampang jelas di hadapanku. Aku menelusurinya dengan seksama dan mengakui kalau tidak ada cela sedikitpun di sana. Wajah ini lah yang seharusnya menjadi milikku. “Oppa, jawab aku. Jangan diam saja.”
Bodohnya, aku tidak menjawab tapi justru mencium Jaehyun lagi tanpa izin darinya. Aku menempelkan bibirku di bibirnya, berharap Jaehyun merespon positif. Aku menunggu balasan darinya tapi yang datang justru tangannya yang mendorong tubuhku.
“Haish. Oppa! Kau itu sudah tua tapi masih payah soal ciuman. Apa seumur hidup kau tidak pernah melakukannya? Aigooo…”
Aku menatap Jaehyun tidak percaya. Apa yang baru saja dia bilang?! Aku tidak bisa berciuman? Mwo? Mworago? “Yaaa!” protesku.
“Sudah. Sudah. Tidak usah Oppa jelaskan. Biar aku mengajari Oppa.”
Jaehyun lalu meletakkan tanganku di pinggangnya dan tangannya di leherku. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke wajahku. Semakin lama semakin dekat. Nafasnya terasa sangat hangat di wajahku. Jantungku berdetak semakin kencang. Aku tak sanggup lagi menahannya. Aku memejamkan mataku, merasakan bibir Jaehyun yang sudah menyatu dengan bibirku.

++++++++

-to be contiuned-
@gyumontic