Anyeong🙂 seperti yang uda aku janjikan, aku bikin sequelnya Infinitely Yours🙂

but mianhe kalo ff ini mnurutku a bit pervert gitu –”

i dont know what’s going on with my brain huhuhu

but hope you enjoy it!

happy reading all :))

START!

Aku menutup kepalaku dengan selimut untuk menghalau cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai jedela kamarku. Aku masih terlalu mengantuk untuk membuka lebar mataku. Aku tak peduli kalau aku akan telat sekolah atau bahkan membolos sekolah, aku hanya ingin tidur!

“JoHee sayang, wake up dear,” ujar satu-satunya pria yang bisa memaksaku untuk bangkit dari tempat tidur, surga kemalasan ini: Lee Donghae.

Namun akibat drama yang kutonton hingga pukul 3 pagi, suara pria itu tak kuhiraukan, seakan masuk telinga kanan lalu keluar melalui telinga kiri.

“C’mon JoHee, aku bisa telat nanti,” katanya. Aku tahu pasti ia sudah berpikir kalau usahanya akan sia-sia. Ia melakukan tindakan lanjut dengan menarik paksa kedua tanganku hingga badanku pun ikut terangkat meski aku tak mau.

“JoHee, sadarlah, take a shower now,” ujarnya sambil menepuk-nepuk pipiku pelan.

Aku yang sedikit kesal akhirnya merajuk, “Kalau oppa menciumku, aku akan benar-benar bangun,” ujarku.

Aku membuka mataku sedikit dan samar-samar dapat kulihat wajah oppa semakin dekat denganku. Aku menutup mataku dan menunggu..

‘chu’ kesadaranku benar-benar sudah terkumpul berkat ciumannya. Namun bukan karena perasaan senang namun karena aku terheran. “Kau sudah bangun? Kaa, mandilah. Aku tunggu diluar,” kata Donghae oppa lalu meninggalkanku bersama pertanyaan yang membuatku kalut, “Mengapa oppa tak menciumku dibibir seperti biasanya?”

Aku menggosok keningku, tempat dimana ia mendaratkan ciumannya tadi. Apa yang terjadi?

*****

“Mungkin ia akhirnya sadar kalau kau memang bocah ingusan, JoHee,” ujar Sonrye menanggapi ceritaku pagi ini.

“Tapi dulu katanya ia mencintaiku apa adanya,” balasku menyanggah pernyataannya. Ada rasa kesal dan khawatir bergumul jadi satu didadaku.

“Time answers everything. But time also changes everything. Maybe no for now, but who knows about tomorrow? Lagipula dia itu kan pria. Pria dewasa,” kata Sonrye dengan penekanan pada kata ‘pria dewasa’.

“Hubungannya?” tanyaku masih tak mengerti karena Sonrye tak bicara to the point.

“Bisa dikatakan Lee Donghae adalah pria yang sempurna. Tampan, pintar, yang paling penting dia kaya. Tentu saja banyak wanita yang mengejarnya. Mereka cantik, juga seksi dan perlu kau garis bawahi, mereka tak akan segan-segan memamerkan tubuhnya untuk menggoda tunanganmu itu. Kau yang seorang gadis SMA biasa tentu saja kalah jauh dibanding mereka dari segi fisik,” jelas Sonrye yang membuatku makin down.

“Lalu apa yang harus kulakukan? Aku tak mau kehilangan Donghae,” ujarku nyaris menangis saking putus asanya.

“Bagimana kalau kau menjadi lebih agresif?”

*****

“Begitu ia pulang kantor, langsung sambut dia dengan lembut dan ramah. Kau membantunya membawakan tas, melepaskan dasinya, dan kancing lengan kemejanya.

Mandi yang harum. Ikat rambutmu agak ke atas agar tengkuk lehermu terlihat jelas, sisakan sedikit anak rambut dibelakangnya untuk menambahkan aksen seksi. Dan kita lihat saja hasilnya,”

“Selesai,” gumanku begitu selesai mengikat rambutku kebelakang. Aku terdiam menatap pantulan wajahku. Kurasa otak Sonrye agak tak beres karena menyuruhku melakukan hal ini, namun kurasa aku juga mulai gila karena tetap melakukan ide Sonrye ini.

Aku mendengar suara mobil Donghae memasuki parkiran rumahku, dengan segera aku keluar dari kamar untuk menyambutnya.

“Good night oppa. Kau pasti lelah,” ujarku begitu ia masuk. Ia tak menjawab, justru menatapku heran. Aku pura-pura tak memperdulikannya dan tetap melakukan ide gila Sonrye.

Aku mengambil tasnya, melepas kancing lengannya, dan membuka simpul dasi Donghae oppa.

Posisi kami cukup dekat sekarang dan entah sejak kapan kepala Donghae oppa sudah bertumpu dibahuku. Aku dapat merasakan hembusan nafasnya dan bibirnya yang menciumi tengkukku.

Tangakku terhenti bergerak. Aku terdia, mematung akibat perbuatannya. Jantungku sudah memaksa untuk keluar dari tempatnya. Aku nyaris saja mati karena serangan jantung kalau oppa tidak mendorongku menjauhinya.

“Aku bisa sendiri. Terimakasih, kau tidurlah,” kata Donghae oppa tanpa memandangku. Ia hanya mengusap kepalaku sebentar lalu pergi begitu saja.

Apa yang terjadi? Apa aku sudah melakukan kesalahan? Aargh! Sudah kuduga ide gila ini tak akan berhasil!

*****

“Temui ia di kantornya. Bawakan ia makanan yang paling disukainya,”

Aku mengetuk-ngetuk jemariku di meja resepsoinis perusahaan Lee ini. Tante resepsionis ini menyuruhku untuk menunggu sebentar karena ia harus memeriksa apa tuan Lee berada diruangannya atau tidak saat ini.

“Maaf nona, tuan Lee kebetulan sedang ada meeting,” kata tante itu yang membuatku dengan kecewa menghela nafas panjang.

Padahal aku sudah membayangkan betapa romantisnya kalau kami makan siang berdua di cafe kantor ini dengan dilihat semua anak buahnya.

“Argh,” teriak seseorang yang aku tak sadar kalau aku menabraknya. Mungkin karena otakku terlalu berpusat pada Donghae oppa sampai aku tak menyadari keberadaannya dan menabraknya.

“Mi-mianhe,” ujarku sambil membungkukkan badan berkali-kali. Namun karena kecerobohanku lagi, aku tidak hanya menabraknya, aku juga akhirnya menjatuhkan tempat makan untuk Donghae yang kupegang sedari tadi.

“Omona,” pekikku dan dengan segera membereskan kesalahanku yang berceceran di lantai.

Aku dapat merasakan semuanya kini memandangku. Aku mulai mengutuki diriku sendiri. Aku baru sadar kalau ternyata aku sebodoh ini. Arrrgh.

“Aku bantu,” kata pria yang tadi kutabrak. Kini ia juga membantuku memunguti nasi dan lauk yang ada di lantai.

“Mianhe,” kataku penuh penyesalan yang dijawab dengan elusan hangat dikepalaku.

“Gamsahamnida,” ujarku tulus karena ia telah membantuku namun ternyata kesialanku tak berakhir sampai disini. Tiba-tiba saja perutku berbunyi nyaring sekali dan tentu saja pria dihadapanku ini dapat mendengarnya.

“Emph..” suara itu keluar dari arah pria tadi. Ia pasti sedang berusaha keras menahan tawanya. Aku menatapnya lirih berharap ia menghentikan tawanya karena aku sudah malu setengah mati

“Okay, okay, i’m sorry. Bagaimana kalau kita makan siang bersama dulu?” ajak pria itu yang tentu saja aku terima tanpa ragu. Alasan pertama karena aku memang lapar. Kedua, karena aku memang tak berduit untuk makan disini. Dan ketiga, aku percaya pada orang ini. Meskipun kata Donghae oppa aku harus waspada, tapi tak ada kepalsuan dari pria ini.

Namanya Eunhyuk, salah satu mitra bisnis perusahaan ini. Ternyata ia adalah alumni almamater sekolahku. Jadi yang kami bahas sedari tadi adalah tentang guru-guru killer, mitos-mitos sekolah, dan lain-lain. Saking serunya sampai tidak sadar kalau makananku sudah habis.

“JoHee sshi, ada saos di ujung bibirmu,” katanya sambil menunjuk ke wajahku.

Aku pun segera menghapusnya, “Disini?” tanyaku namun ia menggeleng, “Lebih keatas,”

“Disini?” tanyaku lagi dan masih tetap salah.

“Dimana?” tanyaku sedikit kesal. “Excuse me,” akhirnya Eunhyuk bangkit dari tempat duduknya dan mencodongkan badannya ke arahku untuk menghapus noda itu.

“JoHee!” seru seorang pria yang sangat kukenal suaranya. Aku pun segera menoleh ke sumber suara dan mendapati Donghae oppa berdiri di depan pintu cafe dengan wajah.. cemas?

“Donghae oppa,” seruku sambil melambaikan tangan padanya. Sekarang perhatianku kembali pada Eunhyuk. “Eunhyuk sshi, dialah yang daritadi kutunggu,” kataku menjelaskan dan ia hanya membalas dengan senyuman. Tapi rasanya senyuman itu tidak sama seperti yang sebelumnya. Ada sesuatu yang tersembunyi namun aku tidak tahu itu apa.

“JoHee, kajja, kita pulang sayang,” kata Donghae oppa sambil menggenggam erat tanganku, kini ia terlihat benar-benar cemas. Desah nafas yang cepat dan tak beraturan membuktikan kalau ia terburu-buru saat kesini tadi.

“Jangan mendekati JoHee,” ujar Donghae oppa pada.. Eunhyuk? Satu-satunya orang yang ada disini adalah Eunhyuk, jadi tentu saja oppa berbicara pada Eunhyuk. Ada apa ini? Mereka saling mengenal?

“JoHee, kajja,” ujar Donghae oppa membuyarkan pikiranku. Aku segera mengambil tasku dan mengikuti kemana oppa menarikku.

“O-oppa,” panggilku pada Donghae oppa yang sudah memelukku lebih dari 5 menit begitu kami masuk mobilnya.

“Kau membuatku sangat khawatir, JoHee,” katanya sembari mengeratkan pelukannya. Aku membalas pelukan itu dan menepuk punggung, berusaha membantunya menenangkan hatinya meskipun aku sendiri tak tahu apa alasannya menjadi sangat khawatir seperti ini.

“JoHee,” Donghae oppa menggumankan namaku. Ia melepaskan pelukannya dan menatapku lurus. Ia mencondongkan tubuhnya kearahku, yang membuatku segera menutup mata dan menunggu ciuman darinya. Jantungku sudah berdetak sangat kencang namun ciuman itu tak kunjung datang. Aku membuka mataku dan melihat tangan oppa terjulur kebelakang kepalaku. Ia melepaskan ikatan rambutku dan berkata, “Saat diluar, kau tak boleh mengikat rambutmu ya,” katanya.

“Kenapa?” aku bingung. Tak mengerti dengan permintaannya barusan. Donghae oppa tak menjawab, ia hanya tersenyum sebentar dan langsung menjalankan mobilnya.

Cih, lagi-lagi rencana Sonrye tak berjalan lancar.

*****

“Oppa, mau kemana habis ini?” tanyaku pada Donghae saat mendapatinya sedang sibuk memilih setelan jas.

“Aku ada pesta bersama teman-teman sekantorku,” ujar Donghae oppa tanpa mengalihkan perhatiannya padaku.

“Kau harus ikut dengannya saat ia ada acara bersama teman-teman sekantornya. Ingat! Dandan yang cantik! Tunjukan eksistensimu sebagai calon istri tuan Lee,”

“Boleh aku ikut?” tanyaku. Donghae oppa menatapku bingung cukup lama dan akhirnya ia mengangguk.

“Tapi apa kau akan betah?” tanyanya ragu dan aku pun mengangguk mantap. Aku tak sabar melakukan ide dari Sonrye.

“JoHee, masih lamakah?” tanya Donghae oppa.

“A-aniyo oppa,” seruku. Aku hanya perlu meresleting gaunku dan persiapanku pun akan selesai. Namun apa daya, tangan yang terlalu kecil membuatku tak bisa melakukannya seorang diri.

“Oppa, bisa kau membantuku?” tanyaku pada Donghae oppa. Aku membuka pintu kamarku dan membiarkan oppa masuk ke dalam. Jujur saja, aku deg-degan karena Donghae oppa menatapku tajam tanpa berkedip sedari tadi. Apa aku tampak jelek?

“Oppa,” panggilku sambil mengayunkan tanganku diwajahnya.

“Ah, ne, apa yang bisa kubantu?” tanya Donghae oppa.

Aku segera memutar badanku dan menunjukkan problem utamaku sedari tadi.

“Tolong resletingkan oppa, tanganku tak bisa,” kataku jujur.

Oppa dengan gesit melakukannya, “Sudah,” ujar oppa. Aku pun hendak memutar tubuhku untuk berterima kasih tapi aku terlambat. Donghae oppa sudah lebih dulu memelukku dari belakang. Ia melingkarkan tangannya di pinggangku.

Ia menyingkapkan rambut panjangku ke sisi kiri leherku. Oppa kini bertumpu pada bahu kananku yang terpampang jelas karena aku memakai gaun tanpa tali dan ia mulai menciuminya sampai aku sendiri jadi berdebar dibuatnya.

“O-o-oppa,” panggilku dan tiba-tiba saja Donghae oppa mendorongku menjauhinya.

“Aku tunggu di mobil,” katanya singkat dan terkesan dingin.

Ada apa sih dengannya? Selalu berubah-ubah seenaknya! Menyebalkan!

*****

“Cantik sekali,” guman orang-orang begitu aku datang bersama dengan Donghae.

Aku cukup tersanjung dengan pujian mereka. Semoga Donghae oppa dengan ini akan kembali bersikap lembut padaku.

“Hei, Donghae, apa kabar?” tanya salah seorang teman yang menghampirinya.

“Baik, kau?” balas Donghae. Mereka mengobrol berdua, aku tak bisa mendengarnya karena suara musik di club ini sangat keras.

Aku bisa merasakan pria itu menatapku dari atas kebawah dan berbisik pada Donghae.

“Dia itu hanya adik sepupuku,” kata Donghae oppa yang entah sial atau beruntung bisa kudengar dengan sangat jelas.

Dadaku sakit sekali. Apa ia sebegitu malunya memiliki seorang tunangan yang masih bocah ingusan? Lalu mengapa ia melamarku dulu? Apa maunya pria ini?

Tanpa kusadari air mataku mulai mengalir. Aku mulai terisak. Bahuku pun mulai naik turun. Aku hanya menunduk untuk menyembunyikan wajahku agar tidak ada yang melihat, setidaknya hingga tak ada yang memperhatikan kami berdua.

“JoHee ah,” panggil Donghae oppa sambil mendongakkan wajahku.

“Kenapa kau menangis?” tanyanya kaget dan bingung. Aku tak menjawab. Aku menjinjit untuk menggapai lehernya dan memberikan kiss mark disana.

Tangisku makin tak terbendung. Aku memukul dadanya pelan. “Mengapa kau bilang aku adalah adikmu? Aku ini tunanganmu! Kau sendiri yang melamarku! Apa kau malu kalau calon istrimu adalah bocah ingusan sepertiku? You are mine!” pekikku kesal lalu segera keluar dari tempat itu. Hati kecilku berharap Donghae oppa berteriak memanggilku atau ia langsung mengejarku. Namun itu adalah harapan kosong karena aku tak mendengar seruannya dan aku tak melihat bayangannya dibelakangku.

*****

Rasanya aku menjadi pusat perhatian orang-orang yang berlalu lalang disekitarku. Tentu saja. Aku yang menangis, wajah yang sangat berantakan dengan eyeliner yang luntur berkat air mataku, juga cara jalanku yang menjinjing gaun dan sepatuku pasti menjadi suatu pemandangan yang tak biasa.

“Ini,” kata seseorang yang menyodorkan minuman isotonik padaku. Aku mengangkat kepalaku dan mendapati Eunhyuk sudah ada dihadapanku.

“Ayo, kita duduk di taman,” kata Eunhyuk dan langsung kuturuti. Aku lelah berjalan tanpa arah sedari tadi.

Hening. Tak ada suasana canggung namun tak ada yang memulai pembicaraan diantara kami. Aku memang memilih untuk diam agar aku bisa mendinginkan kepalaku.

“Kau tunangan Donghae?” tanya Eunhyuk tiba-tiba yang membuatku sedikit heran.

Aku mengangguk, “Bagaimana kau tahu?” tanyaku.

Eunhyuk kini menatapku, ia mengeluarkan sapu tangannya lalu membersihkan wajahku.

“Tadi dia bilang kalau kau adiknya kan? Itu hanya kode kamuflase,” katanya dengan tangan yang masih sibuk menghapus make-up ku.

“Saat kami kecil kami sering melakukan pengkodean ini. Kode ini memiliki arti yang berlawanan dengan arti sesungguhnya, ehm.. seperti jika ia mengatakan benci berarti arti sesungguhnya adalah ia suka. Ya, something like that lah. Kami belajar dari Sherlock,” ujar Eunhyuk diiringi tawa yang menunjukkan gummy smilenya.

“Sudah selesai, you look more beautiful without make-up,” ujar Eunhyuk sambil mengelus lembut pipiku.

“Buat apa Donghae melakukan hal itu?” tanyaku masih tak mengerti jalan pikiran Donghae.

“Dia ingin melindungimu dari pers dan orang-orang jahat yang mengincar kekayaannya. Kau harus tau kalau calon suamimu itu adalah orang terkaya nomor 1 di Korea. Musuhnya ada dimana-mana dan pers sangat menginginkan berita yang layak dijual. Ia tak mau kau menjadi korban. Sama seperti yang biasa ia lakukan padaku,” ujar Eunhyuk menjelaskan panjang lebar.

“Padamu? Wae?” tanyaku. Terlalu banyak misteri dalam kehidupan Donghae yang belum kuketahui.

“Nama asliku Lee Hyukjae, adik tirinya. Kalau pers tahu tentang hubungan kami, mereka pasti akan membuat berita palsu agar memperoleh berita yang layak dijual misalnya perberebutan harta warisan, dan masih banyak lagi,” kata Eunhyuk yang hanya bisa kujawab dengan anggukan.

Ternyata selama ini Donghae-lah yang paling menderita.

“Lalu kalau Donghae sayang padamu, mengapa ia menyuruhmu jangan mendekatiku?” tanyaku saat mengingat ucapan Donghae di cafetaria beberapa hari yang lalu.

“Ah, itu.. Dia memang sayang padaku tapi sepertinya ia lebih sayang padamu. Makanya ia menyuruhku menjauhimu,” katanya Eunhyuk yang selalu membuatku tidak mengerti. Bukan karena aku bodoh, tapi karena ia tidak langsung to the point!

“Waeyo?” tanyaku.

Eunhyuk menatapku lekat dan tanpa kusadari ia mencium bibirku kilat.

“Satu yang aku sesalkan karena menjadi saudara Lee Donghae: kami memiliki tipe wanita yang sama. Jadi kalau kau bisa membuat Donghae mencintaimu, itu berarti Donghae tahu, kalau kau juga bisa membuatku mencintaimu,” ujarnya dengan senyum lirih khas pria yang baru saja patah hati.

“Mianhe Eunhyuk, aku hanya mencintai Donghae, and only him,” ujarku sedikit merasa bersalah.

“I know, i know, aku tahu kalau ini akan berakhir dengan one sided love. Hanya saja aku tak bisa melarang perasaan ini tumbuh,” katanya.

“Dan seharusnya, kata-kata tadi langsung kau sampaikan pada orangnya,” lanjut Eunhyuk sambil menunjuk ke belakangku. Aku mengikuti jari telunjuknya, memutar badanku dan mendapati Donghae oppa sudah berdiri 5 meter dari tempat kami duduk.

“Hyukjae-ah! Sudah kuperingatkan kau untuk menjauh dari JoHee!” seru Donghae oppa.

Eunhyuk berbisik padaku sebelum ia pergi, “Kau perlu hati-hati pada Donghae. Ia pria yang sedikit posesif. Dan saat ia cemburu, ia bisa berubah seperti serigala,”

“Sudah kukatakan menjauh dari JoHee! She is mine!” seru Donghae lagi.

“Arraseo, arraseo,” ujar Eunhyuk sambil berjalan menghampiri Donghae.

Saat mereka tepat berhadap-hadapan, Eunhyuk membisikan sesuatu pada Donghae tapi aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Yang jelas Donghae oppa segera menarikku, menyetir mobilnya dengan kecang, dan begitu sampai rumah ia menarikku ke kamarnya.

Ia mengunciku di tembok dengan kedua tangan di samping kepalaku.

“Eunhyuk menciummu?” tanyanya.

Aku menatapnya ragu lalu mengangguk, dan dengan sekejap Donghae sudah menciumku.

*****

Aku memukul dadanya pelan mengisyaratkan kalau ciuman ini sudah terlalu lama dan aku membutuhkan oksigen namun sepertinya ia tidak menghiraukanku. Mungkin ini yang dimaksud oleh Eunhyuk tadi.

Dengan segenap kekuatan yang tersisa, aku mendorongnya lalu menamparnya.

“Oppa, sadarlah!” seruku sambil mengguncang bahunya.

“Ha-JoHee? Apa yang sudah kulakukan padamu?” tanya Donghae oppa kebingungan.

“Oppa menciumku sampai aku hampir mati karena kekurangan oksigen,” jawabku jujur yang membuat Donghae oppa benar-benar merasa bersalah.

“Mianhe, aku benar-benar tak sadar JoHee,” katanya.

“Mianhe, karena aku juga sudah membuatmu menangis,” lanjut oppa sambil menenpelkan keningnya pada keningku.

“Gwencana, Eunhyuk sudah menjelaskan semuanya. Aku juga minta maaf karena tidak memahamimu, terlalu banyak menuntut, dan.. tanda ini,” ujarku sambil menunjuk bekas kiss mark yang kuberikan.

“Tanda? Ini?” tanya Donghae oppa sambil menunjuk lehernya.

“Ini bukan kiss mark, JoHee. Lebih tepat kalau dikatakan: bekas gigitan,” ujar Donghae oppa yang membuatku malu setengah mati.

“Ma-mau bagaimana lagi? Pengalamanku memang nol!” seruku balik tak terima dengan ejekannya.

“Mianhe, apa kau mau kuajarkan?” tanya Donghae oppa sambil tersenyum penuh arti.

*****

“Good morning, JoHee,” sapa Donghae saat aku membuka mata. Melihat wajahnya yang sangat dekat denganku membuat kesadaranku segera pulih. Aku melihat tubuhku dan tubuhnya masih mengenakan piyama kami dengan rapi. Dengan segera aku meminta maaf padanya.

“Mi-mianhe oppa, aku ketiduran. Akhirnya kita tak melakukan apapun. Mianhe, mianhe, jeongmal mianhe,” ujarku berulang kali pada Donghae oppa.

Donghae oppa memang paling tahu cara memperlakukanku. Ia memelukku erat dalam posisi tidur ini.

“Kau bicara apa? Kau sendiri masih gemetaran saat aku mau menciummu. Tak perlu terburu-buru, aku akan menunggumu, JoHee,” ujar Donghae oppa.

“Oppa pasti bohong,” ujarku yang membuat Donghae oppa menatapku bingung.

“Beberapa minggu ini oppa selalu menghindar dariku, juga kadang-kadang oppa jadi begitu dingin. Itu pasti karena kau mulai bosan denganku kan? Oppa pasti lebih memilih gadis-gadis seksi yang menyukai oppa di club kemarin,” ujarku sejujur-jujurnya. Akhirnya aku bisa mengungkapkan perasaanku.

Donghae oppa tertawa begitu aku menjelaskan unek-unekku.

“Kenapa?” tanyaku tak mengerti

“Bagaimanapun aku ini pria, JoHee. Mudah tergoda oleh gadis yang aku cintai tapi aku kan sudah berjanji padamu untuk menunggu sampai kita resmi menjadi suami-istri. Jadi aku harus mengurangi hobby skinshipku denganmu,” jelas Donghae oppa. Aku mengamati wajahnya dan memang tidak ada kepalsuan disana.

“Bukan karena aku membosankan? Tapi mengapa oppa tak tergoda padaku? Padahal aku sudah mencoba saran Sonrye,” tanyaku bingung.

“Tergoda? Maksudmu kejadian saat kau menyambutku sepulang kerja itu dan yang kau memintaku membantumu menutup resleting gaunmu?” tanya Donghae oppa balik.

“Yang pertama iya, tapi kejadian kedua itu benar-benar tidak direkayasa. Aku memang tak bisa menutup resletingnya sendiri, oppa,” kataku menjelaskan.

“Tentu saja aku tergoda,” kata Donghae oppa lugas yang tentu membuatku malu.

“Tapi kenapa oppa tiba-tiba jadi begitu dingin?”

“Karena aku harus mengendalikan diriku JoHee,” jelas Donghae oppa yang akhirnya membuatku mengerti tentang tindak tanduknya selama ini.

“Berarti yang kulakukan selama ini sia-sia..” gumanku pada diriku sendiri.

“No,” imbuh Donghae oppa yang sepertinya mendengarku.

“Berkat ide dari temanmu itu, akhirnya kita bisa lebih memahami satu sama lain kan? Aku akan menunggumu. Tenang saja, ya sayang. Jangan khawatir,” ujar Donghae oppa yang memberikanku kelegaan luar biasa.

“Apa aku boleh mempercayainya?”

“Of course. This world is full of lies, but Loving you is the only truth,

END.