Annyeong yeorobun..
Hihihihi..
Dalam merayakan tahun baru, author @gyumontic mau kasih FF nihh..
Kali ini ff-nya hyukjae!! Alias uri asia anchovy!!!
Semoga suka yaaa🙂

Cast :
Lee Hyukjae
Cha Jihyun
Cha Kihyun
Lee family

New Year’s Eve. Yang aku lakukan adalah duduk di ruanganku, menyelesaikan segala pekerjaan yang harus terbit awal tahun, tepatnya tanggal 2 Januari. Meskipun semua bawahanku sudah mengeluh, aku tidak bisa berbuat banyak karena ini adalah perintah dari direktur langsung. What a life!
For once, i hate my boss. Dia masuk ke ruanganku dengan terburu-buru dengan tampang panik. What can make he run to my office? Very important about company or ….
“Hyukjae-ah, tolong jemput Jihyun di bandara. Aku lupa kalau dia pulang hari ini,” kata Cha Kihyun, direktur perusahaanku bekerja sekaligus seniorku waktu di kuliah juga sahabatku. Sedangkan Jihyun adalah adiknya yang sangat tergila-gila padaku.
Jujur, aku tidak ingin menuruti perintah yang satu ini. I’m tired being followed by that girl 24 hours everyday. “Hyung, pekerjaanku belum selesai,” alasanku, cukup klise.
“Don’t worry. Seseorang akan menyelesaikannya untukku. Kau cepat jemput Jihyun, sebelum dia marah. I’m begging you.”
I still sit on my chair, don’t wanna move even a milimeter. “Hyung, kau kan punya supir. Suruh dia saja yang jemput.”
“Tidak bisa. Aku akan ke ujung Korea malam ini juga, ada rapat. So please Hyuk, don’t make it harder. Pick her up and send to home.”
Kihyun hyung sudah pergi dari ruanganku. Dengan terpaksa, aku pergi menjemput gadis paling mengerikan yang pernah aku temukan seumur hidupku. Paling mengerikan. She’s not phisically good, all she got just excellent brain and lot of money. Two things I hate the most from a girl.
+++++
“Oppa, see you 3 years forward. Aku pastikan kau akan jatuh cinta padaku. I’m sure you’ll begging me to marry you,” kata Jihyun saat aku mengantarkannya ke airport, 3 tahun lalu. Why me? Because Kihyun hyung is too busy just to send his sister go abrod. Jihyun melanjutkan kuliahnya ke Jerman.
Saat itu, aku hanya tertawa tanpa mengatakan apapun. However, she’s my bestfriend’s sister. I’m not gonna hurt her. Sekarang, tampaknya aku akan melakukan hal yang sama begitu Jihyun datang dan aku harus menyambutnya penuh senyum. However, she’s my boss’ sister. I can’t do anything bad to her if I want my career goes well.
Aku menunggunya di pintu terminal kedatangan, berdesak-desakan dengan puluhan orang yang senasib denganku, menunggu kedatangan seseorang di malam tahun baru yang sangat dingin ini. Oh ya, sebagian pasti menunggu dengan sukacita tapi aku yakin tidak sendiri yang merasa terpaksa. It’s better to sit in my office all night long than pick somebody you want to avoid.
Aku berdiri menunggu Jihyun menampakkan dirinya dari pintu itu tapi tidak kunjung ada gadis berkulit gelap, berkacamata dengan rambut berantakan keluar dari sana. Aku berdiri menunggunya sambil memperhatikan orang-orang yang muncul dari pintu keluar. “What is she wearing? Is she insane? Kaus tipis dengan rok mini?! Okay, she’s wearing jacket but it’s not enough in this winter. She must be crazy,” batinku saat melihat seorang perempuan keluar dengan pakaian seminim itu. I let her go and watching for others.
“Oppa! Hyukjae Oppa!” panggil seseorang. Aku menengok ke kanan dan kiri sampai akhirnya aku menemukan gadis yang baru aku ejek tadi memanggil namaku. Ia melambaikan tangannya kepadaku sambil tersenyum cerah. Aku memicingkan mataku untuk mengenalinya.
“Oppa, it’s me Jihyun,” katanya. Tampaknya dia tahu, aku tak mengenalinya. Aku mendekatinya dan menemukan bahwa dia benar-benar Cha Jihyun, orang yang aku tunggu-tunggu kedatangannya dari sejam lalu.
“Oh. Annyeonghaseyo. Bagaimana perjalananmu? Pasti melelahkan, iya kan?” Oh Lee Hyukjae, betapa hebat kau berbasa-basi sekarang. Yes, back to earlier statement : however she’s my boss’ sister. I can’t do anything bad to her if I want my career goes well.
Jihyun tertawa. “Tidak bisa dibandingkan denganmu yang harus masuk kerja di malam tahun baru. That’s must be more tired,” sahutnya.
Okay, she remind me that I have a lot to do. Aku tersenyum. “Aku akan mengantarmu ke rumah. Kajja!” kataku yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Jihyun.
“No. I wanna go to my office first. Aku mau melihat ruangan yang sudah disiapkan Kihyun Oppa untukku.” Aku menelan ludahku, menatap Jihyun dengan terkejut. Jihyun rupanya mengerti. “I’ll be an editor same as you. Kihyun oppa belum menceritakannya padamu?”
Aku menggelengkan kepalaku. Jihyun tersenyum. “I gave you surprise then,” ujarnya lagi. Yeah, it’s not a surprise but A BIG SHOCK!!! She’ll be my officemate. How great my life is! PS : Please say itu in sarcasm mode.
+++++
Aku kembali ke pekerjaanku begitu selesai dengan Miss Cha Jihyun’s things, let the brother do the rest. I sit in my office, correct all the my writers’ script, article, or whatever we want to publish TOMORROW! Oh yeah, it’s New Year and all I have to do just war with the deadline. Hectic is my middle name.
“Hyukjae-nim, Kihyun sajangnim sedang berkeliling mengenalkan editor baru. Katanya editor baru itu sangat cantik dan pintar,” kata sekretarisku penuh semangat. I still on my chair. Aku tidak peduli. Aku sudah tahu siapa yang akan dikenalkan Kihyun hyung. This magazine is more important than a new editor. “Haish! Ayo!” Sekretarisku memaksa sehingga aku berdiri menyambut Cha bersaudara yang baru saja masuk ke teritori-ku.
“Annyeonghaseyo,” ucapku sambil membungkukkan dengan hormat. “Welcome to Financial Department. Lee Hyukjae imnida,” lanjutku setelah menegakkan tubuhku lagi.
Jihyun tersenyum. “I know,” katanya sambil menepuk lenganku. Ia lalu dengan anggun, mengenalkan dirinya pada semua orang di ruangan ini. “Annyeonghaseyo, Cha Jihyun imnida. I’m your new Chief Editor. Finance, Fashion, Love and Sex are mine. Selamat bekerja!” katanya sangat singkat tapi membuat semua orang terpesona, including me!
Semua bawahanku sangat terpesona dengan Jihyun, baik laki-laki ataupun perempuan. They admire Jihyun’s body, gestures and intelligence. Ruanganku langsung ribut membicarakannya setelah mereka pergi. And I? Aku sangat terpesona dengan 3 bagian sekaligus yang dia pegang : Finance, Fashion, Love and Sex. It means I’m her subordinate and she’s my BOSS!!! Why me?!
+++++
Aku mendengar Jihyun menjadi berita besar hanya dalam beberapa jam. She really make herself as a headline! Direktur Pemasaran bahkan sampai meminta untuk mengganti cover majalah menjadi wajah Cha Jihyun. Aku tidak tahu apa itu trik Direktur Pemasaran untuk menjilat Kihyun hyung but what happen with this company?! She’s just common, too common.
“Hyuku-nim! Miss Jihyun ingin melihat semua tulisan sebelum diterbitkan besok,” kata sekretarisku dengan panik. Ia mengumpulkan semua tulisan bagian kami dan meletakkannya di mejaku.
“Tapi kita belum sempurna. Masih ada beberapa yang harus kukoreksi. Besides, we still have an hour to fix it,” sahutku.
“I know but she wants it NOW!”
Eeeergh! Kenapa wanita ini selalu saja membuatku susah? Apa yang ia inginkan sebenarnya. “Excuse me,” ucapku ketika mengetuk pintu ruangan Jihyun. Jihyun mempersilakan aku masuk. Aku masuk dan melihatnya sedang berbicara di telepon dengan serius.
“Yes, I got it… I know… I can’t push you anymore… Umm… Thank you.” Jihyun menutup teleponnya lalu membalikkan badannya kepadaku. I can see her eyes, red enough and teary. She’s just crying.
“What happened?” tanyaku spontan.
“Nothing. Aku hanya ingin tahu apa yang akan kau terbitkan besok. Let me see,” jawabnya.
Aku menyerahkan tulisan-tulisan yang akan diterbitkan esok sambil memperhatikan Jihyun. Dia tampak sangat sedih. “I mean, why did you cry?” tanyaku lagi, masih penasaran walaupun aku tahu itu bukan hakku untuk bertanya.
Jihyun tertawa. “I’m engaged until a minute ago,” jawabnya lalu melepas cincin yang terpasang di jari manis tangan kirinya. “I’ve just got dumped, by phone.” Jihyun kembali tertawa, tawa yang sangat menyakitkan.
Aku terdiam, memperhatikan Jihyun yang sedang memeriksa tulisan bagianku. I see her and feel so stupid. She said she’ll back and make me propose her. But what i’ve just heard, she was engaged. She broke the promise. I feel bertrayed. In 3 years, I do nothing but work.
What? I ask myself : Am I waiting for her for this long?
+++++
Majalah sudah naik cetak dan Jihyun mengajak kami semua, editor dan writer bawahannya, untuk berpesta bersama. “I’m sorry for disturb your new year. So celebrate our new year and our magazine. Let’s partyyyyyyyyyy! Drinks on me of course,” seru Jihyun. Dia menyewa sebuah pub untuk kami and a private room for herself.
Aku mengikuti Jihyun. Don’t ask me why I follow her. I don’t know! Aku menemukan dirinya sudah mabuk. She drinks while crying. Aku melihat minuman yang dia minum, mengandung alkohol nyaris 70%. Refleks, aku merebut gelasnya ketika Jihyun mau meneguknya kembali. “Kau bisa mati,” kataku.
Jihyun tertawa kepadaku, seperti orang gila. Tubuhnya sudah limbung. “Lebih baik, ukh, mati, ukh, daripada batal, ukh, menikah. I’d rather die, ay, ay, ay. I wanna die,” ucapnya berantakan. She’s totally ruined.
“I wanna die,” ucapnya lalu menangis. “I wanna die.”
Aku tidak mempedulikan ocehannya. “I’ll send you home,” kataku lalu menggendongnya. Jihyun terus saja mengoceh yang tidak ingin aku dengarkan. I should close my ears tight. Aku memasukkannya ke dalam mobil dan langsung melajukan mobilku menuju rumah keluarga Cha.
Aku mengenal rumah keluarga Cha seperti aku mengenal rumahku sendiri sehingga aku tidak perlu repot-repot berteriak untuk minta bantuan. Aku bisa mengantarkan langsung Jihyun ke kamarnya. Aku membaringkannya di tempat tidurnya, melepaskan sepatunya, dan menggantikan bajunya. I touch her, mau tidak mau. She’s really perfect now. I admit it. Pretty, smart, rich, she has everything. She’s changed. She makes everyone crazy about her, including me for past years.
+++++
Majalah sudah beredar dan bahkan sudah terletak dengan rapi di mejaku jauh sebelum aku datang. Aku membaca halaman demi halaman dan merasa puas, segalanya begitu sempurna. My writers are always the best. Aku meletakkan majalah itu and suddenly stuck with the cover. Cha Jihyun : Queen of the Magazine. She’s Back!
Aku membuka-buka lagi majalahku dan berhenti tepat di Cover Story. I read it. The writer tell me everything I’ve known. Cha Jihyun adalah adik dari Cha Kihyun, CEO of this magazine. I know. Dia kuliah jurnalisme di Jerman setelah lulus SMA. I know. Sewaktu kecil, Jihyun bercita-cita jadi artis atau model tapi saat SMA dia menemukan bahwa ia sangat mencintai dunia tulis menulis. Bla bla bla bla bla. I know everything. Aku melewati cerita si penulis sampai ke bagian cerita cintanya. Jihyun pernah tergila-gila pada seorang pria. Dia mengikuti kemanapun pria itu, bahkan sampai ke toilet pria. Sedetikpun ia tidak mau berpisah. Suddenly, I smile dan meneruskan membaca tulisan itu. Sayang, pria itu menolak Jihyun. “He hate me because I’m smarter and richer than him. And maybe because I was ugly. I’m so messy at that time,” kata Jihyun dalam majalah itu. But now, she got her PRINCE. She’s engaged to a man who love her so much and they’re getting married. Happy for our Chief Editor!
Aku menutup majalah itu dan menaruhnya di laci kerjaku. “Majalah paling buruk adalah majalah yang tidak update,” prinsipku. She’s single. She’s got dumped! Mengapa kalian tulis dia akan menikah?! I don’t know why I’m so angry.
+++++
Handphoneku berdering di saat aku sedang sibuk-sibuknya membuatku kesal bercampur panik. “Yoboseyo?!” ucapku, lebih tepatnya berseru.
“Oppa, kenapa kau begitu galak?” Aku mengenal suara Jihyun.
“Waeyo? I’m so busy right now,” kataku.
“Aku mau mengajakmu makan siang bersama. Datang ke ruanganku ya. See you.”
Jihyun menutup handphonenya. Aku melihat jam tanganku, baru jam setengah 12 siang dan Jihyun sudah mengajakku makan siang. However, she’s my boss. I follow her order.
“Oppa,” sambut Jihyun dengan ceria begitu aku masuk ke ruangannya. Dia menyambutku dengan hangat dan menyuruhku untuk duduk. “You look frustated,” katanya.
Well, she’s almost right. Aku tersenyum. “Aniya. Aku hanya stress menyiapkan bahan untuk majalah 2 minggu ke depan. Aku pusing menatap pergerakan harga di komputer,” sahutku.
Jihyun tertawa. Ia menawarkanku croissants. “Jangan terlalu stress, Oppa. Lupakan dulu itu sementara. Lebih baik kita makan-makan dulu.”
Aku pun menerima jamuannya sambil mengobrol dengan Jihyun mulai dari pekerjaan sampai masa lalu. “Oppa masih ingat, waktu aku menguntitmu main basket? Aku masih SMA kelas 1 waktu itu sedangkan kau semester 3 atau 4 kalau gak salah. Aku diam-diam ke kampusmu dan menonton pertandingan basketmu.”
“Iya, aku ingat,” kataku sambil tertawa. Saat itu memang lucu.
“Aku bersorak paling keras untukmu sampai aku tidak sadar, rok ku sudah terangkat sampai celana dalamku kelihatan. Orang-orang menertawaiku tapi kau tidak.”
Aku tertawa. “Sebenarnya saat itu aku juga mau tertawa tapi melihat wajahmu yang sudah mau nangis, aku jadi tidak tega,” kataku.
“Hahahaha. Ternyata kau sama saja tapi terima kasih sudah tidak menertawaiku,” sahutnya. “Ah lalu, apa kau ingat waktu Kihyun oppa menitipkanku ke rumahmu?”
“Aku ingat. Kau pasti sengaja meminta Kihyun hyung untuk menginap di rumahku kan?”
Jihyun menganggukkan kepalanya sambil menyerinagi. “Aku tahu kau tidak suka tapi aku tetap memaksa untuk menginap agar aku lebih dekat padamu. I’m so sorry.”
“Gwencana,” ucapku. That’s just a past. I don’t mind anymore.
Aku terus mengobrol dan tertawa-tawa dengannya sampai waktu tidak terasa berlalu. “Ah, ada satu hal yang belum kau ketahui pasti,” kata Jihyun.
“Apa?” tanyaku.
“Kau ingat saat mengantarku ke bandara? Waktu aku mau ke Jerman?” Aku mengangguk. “At that time, for the first time I know how feel being rejected.” Aku mengernyitkan dahiku. Apa maksud gadis ini? Jihyun tersenyum. “Waktu itu aku bilang aku akan kembali dan membuatmu menikahiku, didn’t I?” Kembali, aku hanya mengangguk. I rewind my memories while she’s talking. “You answer me with a laugh, a sarcasm one. Akhirnya, aku menyadari bahwa kau tidak sedikitpun tertarik padaku. I’m broken. Selama di pesawat, aku hanya menangis.” Jihyun tertawa. “Selama setahun kau sama sekali tidak memberikan kabar padaku. Aku berasumsi kau sudah punya pacar. Dua tahun lalu, aku memutuskan untuk melepaskanmu. Aku tidak mau berharap lagi padamu.”
Oh Geez. Why me? Kenapa dia harus memceritakan kenangannya kepadaku?
Jihyun lalu kembali melanjutkan ceritanya. “Aku berusaha membunuhmu dengan belajar dan bekerja sebagai seorang penulis di sana. Sampai suatu hari, editorku, namanya Dean, menyatakan cintanya padaku dan membuatku tergila-gila padanya. He’s so perfect and suitable for me. He proposed me and I agreed for an engagement. I’m ready for marriage but . . . you know.”
“Do you love him?” tanyaku.
Jihyun mengangguk sambil tersenyum. “I never felt love like I love him.”
Aku mengaduk-aduk makananku dengan perasaan marah. Aku merasa Jihyun sudah membohongiku. Dia mengatakan kalau ia mencintaiku tapi ternyata tidak. Dan sekarang apa maksudnya menceritakan segala kenangannya?
“So?”
“So, i need your help.”
“My help? To bring him back to you? Sorry, I can’t.” Aku dapat merasakan ucapanku yang sangat tajam kepada Jihyun.
Jihyun menatapku. “No. I need your help to marry me.”
Aku hampir tersedak mendengar permintaannya. “MARRY YOU?!”
“Yes. I hope you read the article about me,” kata Jihyun pelan-pelan. Tentu saja, aku membacanya. “Penulisnya menulis bahwa aku akan menikah tapi kenyataannya kau tahu sendiri. Aku, aku tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau orang tahu aku batal menikah dan…dan…”
“Marry me,” kataku spontan. Aku pasti sudah gila. Aku memandang Jihyun dengan serius dan menatap matanya. “Let’s get married. Aku tidak tahu apa yang aku bicarakan. Just marry me. Deal?”
Jihyun menatapku tidak percaya tapi wajahnya berseri-seri. Ia bangkit dari tempat duduknya lalu memelukku penuh terima kasih. “Gomawo. Gomawo. I just need a marriage for 2 or 3 years. Thank you, Oppa,” ucapnya. Aku tersenyum pada Jihyun, tidak tahu apa yang baru saja aku perbuat.
Jihyun memberikan cincin yang persis sama dengan cincin tunangannya. Dia memaksaku untuk memakainya dan detik pertama begitu aku keluar dari ruangan Jihyun, semua orang menatapku. Mereka menatap cincin yang aku pakai.
“Kenapa kau baru memakainya?”
“Kenapa kau tidak pernah bilang?”
“Are you her PRINCE?” tanya orang-orang kepadaku yang hanya sanggup aku balas dengan senyuman.
“You’re really lucky guy. Bestfriend of our CEO and now, you’re getting married to his sister.”
“Congratulation! You got the hottest chick!”
Aku kembali ke ruanganku dan memandang cincin yang baru saja terpasang di jari manisku. “What did I do? What am I gonna do?” batinku. Aku meremas kepalaku dan menjambak rambutku. I’m definitely crazy.
+++++
Drama dimulai dengan kepindahanku dari apartemen ke rumah keluarga Cha. Jihyun memaksaku pindah ke rumahnya agar orang-orang lebih percaya bahwa kami akan segera menikah. Jihyun menyediakan sebuah kamar yang bersebelahan dengan kamarnya. “Tidak usah sungkan. Kau tahu ini juga rumahmu,” katanya. Tentu aku tidak akan sungkan. Aku bingung. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan persoalan ini ke keluargaku dan juga keluarga Cha.
“Jihyun, soal pernikahan kita. Bagaimana menjelaskannya ke keluarga kita?” tanyaku saat sedang makan malam bersamanya.
Jihyun tersenyum. Dia mengeluarkan formulir registrasi pernikahan dari dalam tasnya dan menyodorkannya kepadaku. “Tanda tangani dulu formulir ini,” perintahnya. Aku pun menandatanganinya. “Kita hanya perlu mengarang sedikit cerita cinta kita. Keluargaku tahu bahwa aku sudah lama tergila-gila padamu, jadi mudah saja. Bilang saja ternyata Oppa juga mencintaiku dan aku menerima lamaranmu,” katanya.
“Apa mereka tahu mengenai Dean?” tanyaku.
“They know and fortunately, they hate Dean. They hate if I’m marrying not Korean,” jawabnya.
“Lalu bagaimana dengan keluargaku?”
“ Do you have girlfriend?” Aku menggeleng. Bagaimana bisa aku punya pacar kalau yang aku pikirkan hanya bekerja? Jihyun tersenyum. “That would be easier. Kita akan memberitahukan keluargamu bahwa kau jatuh cinta padaku saat menjemputku di bandara. You propose me and I agree. Simple.”
Aku tidak tahu darimana datangnya semua ide gila ini. Aku akan menikahi Jihyun dalam waktu sebulan, benar-benar menikahinya dan dalam 2 atau 3 tahun ke depan aku akan menceraikannya. Married then Divorce. Just as simple as that, as long as you don’t put any feelings.
+++++
Berita pernikahanku sudah tersebar di seluruh kantor, mulai dari lantai paling bawah sampai paling atas. Seluruh pegawai, mulai dari jajaran pramubakti sampai bos-bos juga sudah tahu aku akan menikah dengan adik dari CEO perusahaan tempatku bekerja. Bahkan Kihyun hyung pun memberikan aku libur seminggu untuk mengurus pernikahanku. “I’m glad that my sister will marry my bestfriend. I’m gonna be your brother in law. What’s better? Nothing!” ujar Kihyun hyung antusias.
Aku pun mengajak Jihyun mengunjungi keluargaku. Bagaimana pun untuk menyempurnakan drama ini, aku harus mengenalkan Jihyun kepada keluargaku. “Just tell everything you know about me. Don’t tell another lies. Agree?” ujarku kepada Jihyun sebelum masuk ke dalam rumah.
Jihyun mengangguk. “Aku mengerti,” katanya. “By the way, is this all free?”
Aku menggeleng. “You should doubled my salary. Make Kihyun hyung agree to promote me as chief Editor and try to love me,” jawabku asal. Aku tidak pernah memikirkan sebelumnya bayaran apa yang harus aku terima karena sudah mau berperan dalam drama ini. Aku menggandeng Jihyun masuk ke dalam rumahku. “Appa, Umma, Nuna, We’re home!” seruku dengan ceria.
Appa, Umma, dan Sora Nuna berbondong-bondong menyambut kami. Mereka memeluk kami bergantian dan juga mencium pipi kami. “Senang melihat kalian akhirnya bersama,” kata Umma. Dia memegang wajah Jihyun lalu menciuminya. Sora nuna pun begitu. Make me feel bad.
“Hei sudah, mereka pasti lelah. Biarkan mereka istirahat dahulu. Masih ada hari esok,” kata Appa.
Umma lalu mengantarkan kami ke kamarku. Kamar yang sudah lama aku tinggalkan. Aku menyusuri kamarku, tidak ada perubahan. “Aku benar-benar merindukan kamar ini,” kataku. Umma tersenyum.
“Kalian segera istirahat. Besok semua keluarga akan datang. Kami membuat acara untuk menyambut calon anggota keluarga kami yang baru,” kata Umma sambil menatap Jihyun penuh kasih sayang. Jihyun mengganggukkan kepalanya sambil tersenyum. “Kamsahamnida, gomonim,” ucap Jihyun malu-malu. “Jangan panggil aku gomo. Panggil saja, eommonim. Arraseo?” koreksi Umma. Jihyun tersenyum lagi. “Ne, eommonim.”
“Jaljayo,” ucap Umma lalu meninggalkan kami berdua.
Jihyun menatapku. “So we will sleep in one bedroom?” tanyanya.
Aku menggangguk. “ Tidak ada kamar lain di rumah ini. Kecuali kau mau tidur di kamar mandi,” jawabku.
“Oppaaaaaa….”
Aku merebahkan diriku di tempat tidur sedangkan Jihyun pergi mandi. Aku mendengar air kamar mandi mulai mengalir. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan otakku. Aku mulai membayangkan hal yang tidak-tidak dengan Jihyun. “Tetap di tempatmu, Lee Hyukjae! Jangan bergerak kemana pun kalau kau mau tidak ada masalah!” perintah diriku sendiri. Aku pun sekuat tenaga memaksa diriku untuk tetap berada di tempat tidur.
+++++
Aku bangun saat mendengar suara Umma dan ketukannya di pintu kamarku. “Jihyun, Hyukjae, apa kalian sudah bangun? Sebentar lagi keluarga datang, bersiaplah. Jihyun, Hyukjae.” Dengan tergesa-gesa aku membangunkan Jihyun yang tidur di bawah beralaskan karpet dan selimut tebal.
“Umma datang!” desisku.
Jihyun segera bangkit dari tidurnya dan melemparkan semua peralatan tidurnya kepadaku. Ia lalu memakai kimono tidurnya dan berjalan menuju pintu. “Jakkaman, eommonim,” kata Jihyun. Ia lalu membukakan pintu untuk Umma.
“Ah, untunglah kalian sudah bangun. Ini aku siapkan sarapan untuk kalian. Dimakan ya. Setelah itu bersiaplah karena sebentar lagi keluarga akan datang. Ya?” Umma menaruh sarapan kami di meja belajarku lalu meninggalkan kami setelah mencium Jihyun.
“Kamsahamnida, eommonim.”
“Gomawo, Umma.”
Aku lalu mengambil setangkup roti dan langsung memasukkannya ke mulutku. “Kau semalam tidak mandi dan sekarang yang kau lakukan langsung makan? Ckckckckck. Oppa, kau sangat jorok,” komentar Jihyun begitu aku mengambil sarapanku.
“Cerewet. Kau mandi saja duluan sana,” sahutku. Aku terlalu lapar untuk mendahulukan mandi.
Jihyun pun mandi dan siap dalam 10 menit. Sedangkan aku menyusulnya hampir setengah jam kemudian. “Kau ini ternyata kalau mandi lebih lama dari perempuan.” Ternyata, Jihyun masih saja cerewet dan banyak komentar.
“Sudahlah. Orang-orang sudah menunggu di luar. Simpan suaramu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka nanti,” kataku.
Aku lalu menggandeng tangan Jihyun dan keluar dari kamar untuk menemui keluarga-keluargaku. Mereka sudah ramai berkumpul di ruang keluarga, sambil minum anggur atau berbincang, ada juga yang sedang menonton tv. “Annyeonghaseyo,” sapaku dan Jihyun bersamaan sambil membungkukkan tubuh kami.
Keluargaku membungkukkan tubuhnya juga lalu menyambut kami dengan gemuruh, “Pengantin baru! Woohooo!!!”
Aku tersenyum. “Yes, soon-to-be-newlyweds,” sahutku.
Orang-orang lalu menyuruh kami duduk dan minum bersama. Mereka meminta kami untuk bercerita mengenai kisah cinta kami. “Tell us how both of you decide to marry each other? Don’t you hate this girl, Hyuk?” tanya sepupuku.
Aku menatap Jihyun takut kalau ia marah tapi ia hanya tersenyum. “I know he hates me. Siapa yang tidak akan benci kalau terus-terusan diikuti? Aku tergila-gila padanya. Tapi lihat sekarang siapa yang memohon-mohon?” kata Jihyun dengan ekspresi yang sangat tepat, menipu semua orang.
Keluargaku pun tertawa. “So, how did he propose you?” tanya sepupuku yang lain.
Jihyun menatapku sebentar sambil tersenyum. “Aku kembali ke Korea dan Oppa menjemputku di bandara. I think at that time he realized that I’m changed. I grow up sexier. Hahaha. Dia menyesal telah menolakku. Lalum sewaktu kami makan siang beberapa hari lalu dia melamarku. Of course, I accept it. I’ve been waiting for him for so long.”
Jihyun menggenggam tanganku sambil menatapku dalam. Kemudian ia menciumku, the warmest one. “I love you,” bisiknya sambil tersenyum. Sempurna. Betul-betul sempurna. Kalau aku tidak ingat bahwa ia pernah mengambil kelas acting mungkin aku juga akan tertipu.
Keluarga kami pun bersorak lagi setelah melihat ciuman yang Jihyun berikan kepadaku. Mereka memberikan kami selamat dan dukungan untuk segera menikah. Aku hanya sanggup tertawa. Jihyun? Dia memainkan perannya dengan sangat baik, tidak perlu dikhawatirkan. Ia bisa berbaur dengan cepat dengan seluruh anggota keluargaku. Jihyun bahkan sudah langsung diikutsertakan dalam acara Girls Day Out keluargaku, jadi semua perempuan di keluarga ini akan pergi ke club atau kemanapun untk berpesta. Sedangkan yang laki-laki dibiarkan terserah berbuat apa.
“Jagiya, aku pergi dulu ya. Jangan nakal,” kata Jihyun sambil memelukku. “Ah, I’ll be missing you.” Ia lalu bergabung dengan perempuan-perempuan lainnya dan meninggalkanku. Saat aku melihat punggungnya bergerak menjauhiku, aku sadar sesuatu yang salah sudah terjadi. Something wrong happened. Something shouldn’t happen, it does.
+++++
Jihyun pulang nyaris subuh dalam keadaan mabuk. Bau alcohol menyeruak tajam ketika ia masuk ke dalam kamar. I know she’s great in drinking. Aku yang menunggunya pulang segera membopongnya dan membantunya berjalan menuju tempat tidur. Aku membantunya duduk dan melepaskan segala aksesoris di tubuhnya. “Aku akan menikah. I’m getting married. You heard that? I’m GETTING MARRIED!” seru Jihyun lalu tertawa-tawa. Alkohol sangat berpengaruh padanya.
“I know,” sahutku sambil melepaskan kalung dan gelang-gelang di tubuhnya.
“Akhirnya aku akan menikah. Yeaaaah!”
Aku biarkan saja ia terus meracau. Aku berjongkok untuk membuka sepatunya. Kurasakan Jihyun sangat dekat denganku. Aku bisa merasakan bau alcohol yang menguar dari mulutnya, menusuk tajam hidungku. “Berapa gelas yang kau minum?” tanyaku tanpa mengharapkan jawaban.
Jihyun tertawa kemudian terdiam. Aku merasakan ada tetesan air yang membasahi kepalaku. Aku mendongak dan melihat Jihyun sedang menangis. “I’m going to be Mrs. Allersberg, Dean Allersberg. I’m going to be a Germany!”
Aku tidak tahan lagi. Aku mengusap air mata Jihyun dengan punggung tanganku. Ku tatap matanya dalam. “No. You’re getting married to Lee Hyukjae. You’ll be Mrs. Lee and you’ll still Korean. Remember that. You marry a man named Lee Hyukjae,” ucapku dengan sungguh-sungguh lalu menguncinya dengan ciuman. She reply my kisses and everything just go with basic human instinct.
+++++
Hari ketiga di rumah Appa kuawali dengan menyingkirkan tangan Jihyun dari dadaku dan menyelimuti tubuhnya agar tidak kedinginan. It’s still winter. Snow fall out there. Aku turun dari tempat tidur dan memakai bajuku yang terserak di lantai. Aku tersenyum, bahagia, melihat kamarku berantakan. Aku kembali menatap Jihyun, dia masih tertidur dengan nyenyak. Aku meletakkan sebuah piyama di sampingnya sebelum aku keluar meninggalkannya.
“Hyuk, kau baru bangun?” tanya Appa begitu melihatku keluar dari kamar.
“Ne,” jawabku. Aku melihat jam di ruang keluarga ini menunjukkan pukul 4 sore. “Apa aku melewatkan sesuatu?”
“Ani. Hanya saja tadi Jina datang tapi kau tidak kunjung bangun juga.”
Jina, mantan pacarku yang sangat kucintai. Aku memutuskannya beberapa tahun lalu saat aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke Seoul. Awalnya kami Long Distance tapi makin lama terasa sangat menyakitkan, akhirnya aku memutuskannya. Saat itu aku menyesal dan memintanya untuk kembali tapi Jina menolak dengan sangat halus. Ia bilang, “Aku akan menunggumu sampai kau siap, Hyuk,” katanya. Seketika aku merasa sangat bersalah.
“Lalu kemana dia pergi?” tanyaku.
“Dia sedang pergi dengan umma dan Sora. Sebentar lagi juga akan kembali,” jawab Appa. Aku sedikit bernapas lega. Aku masih mempunyai kesempatan untuk menjelaskan segalanya kepada Jina.
Appa menatapku dengan bingung. “Do you still love her?”
“Kami pulang!!!” seru Sora nuna.
Aku menatap Appa. “I’ll answer later. I have to meet Jina,” jawabku. AKu lalu berlari ke pintu dan menyambut kedatangan mereka dengan ceria.
Aku memeluk Jina dan mengajaknya ngobrol di taman belakang. “Aku sangat merindukanmu, Jina,” ucapku jujur.
“Nado. Aku sangat senang begitu mendengar kabar kau pulang. Aku langsung ke rumahmu tapi ternyata kau masih tidur dengan calon istrimu,” sahutnya.
Aku menatap mata Jina dan ada kepahitan di sana. Kepahitan yang aku sebabkan. “Mianhe, Jina. Jeongmal mianhaeyo,” ucapku.
Jina menggelengkan kepalanya. “Dunia berputar. People change. If I’m still not move, that’s my mistake. Kau tidak salah, Hyuk. Jangan meminta maaf.”
“Maafkan aku. Pernikahan ini hanya akan berjalan 2 atau 3 tahun. Aku mempunyai kesepakatan dengan Jihyun. Aku akan bercerai dengan Jihyun begitu kesepakatan tercapai,” kataku. Aku begitu saja menceritakan segalanya kepada Jina demi menjaganya agar tidak lari. Aku memeluk Jina kemudian menciumnya. “Aku akan menikah denganmu begitu aku bercerai dengan Jihyun,” ucapku.
+++++
Aku melihat Jihyun sedang duduk di hadapan Appa, Umma, dan Sora Nuna di ruang tamu sehabis mengantarkan Jina pulang ke rumahnya. Jihyun duduk dengan tanpa mengangkat wajahnya. Aku merasa suasana tegang ketika bergabung dengan mereka. “Ada apa?” tanyaku sambil duduk di samping Jihyun.
“I told them everything,” kata Jihyun.
“What do you mean?” tanyaku cemas. Aku takut Jihyun mengatakan kepada keluargaku bahwa pernikahan kami dilakukan hanya untuk menutupi sesuatu. Bukan untuk sesungguhnya.
“I told them that we’re getting married just because I wanna protect my image as a successor. I feel so wrong. Terutama saat melihat Oppa dengan Jina di taman belakang. Kalian saling mencintai dan seharusnya kalian yang menikah. Bukan aku dan Oppa. Mianhe,” jawab Jihyun.
Jihyun lalu berdiri sambil membawa tasnya. “Kau mau kemana?” tanyaku.
“Pergi. Aku tidak ingin mengganggu Oppa lagi,” jawabnya. Jihyun lalu keluar dari rumah dan meninggalkanku. Aku bergerak untuk menyusulnya tapi Appa menahanku. Ia meminta penjelasan akan semua ini. Aku jadi bingung. Aku bingung bagaimana agar Jihyun kembali padaku. Bagaimana menjelaskan kepada keluargaku apa yang sebenarnya terjadi.
“So, do you love Jina or Jihyun?” tanya Appaku tanpa memberikan kesemoatan padaku untuk berpikir.
“Mollayo,” jawabku.
“Tentukan hatimu, Hyuk. Ambil keputusan. Siapa yang sebenarnya kau cintai dan ingin kau nikahi?” desak Appa, membuatku semakin bingung dan kalut.
“Appa, please don’t make it harder.”
“I don’t, you do. You love Jihyun but when Jina appear, your past love appear too. Now, make your decision. Apa yang kau rasakan ketika Jihyun pergi meninggalkanmu?”
Appa, kau sama sekali tidak membantu. Aku justru semakin pusing!!!!
+++++
Aku kembali ke Seoul tepat di hari terakhir Kihyun hyung memberikan cuti untukku. Aku segera ke kantor karena banyak hal yang harus aku selesaikan, termasuk Jihyun. Begitu aku melangkahkan kaki masuk ke gedung kantor majalah ini, hampir semua mata memandangku dan menggumamkan sesuatu. They’re gossiping ME!
“Did you really cancel your wedding?” tanya sekretarisku begitu melihatku.
Aku duduk di kursiku. “Kata siapa?” tanyaku dengan tenang.
Sekretarisku menunjuk sebuah surat dan kotak kecil yang menimpanya. Kedua benda itu terletak rapi di mejaku. “Miss Jihyun meletakkannya 3 hari yang lalu. Dia menangis di ruanganmu hampir sejam.”
Aku melihat sebuah surat dengan tulisan di depannya : I’m sorry. Really Sorry. Aku membuka surat itu dan membacanya.
I’m sorry if I hurt your family. They’re so nice. They deserve real daughter in law
I’m sorry because I mess up your life
I’m sorry make you separate from your real love
I’m sorry ruined your life with all my crazy ideas and my intolerate behavior, the follower thing
I’m sorry I can’t doubled your salary but I can make Oppa to promote you as Chief Editor
And I’m sorry for every lies I made
I lie to make you marry me. I just hope in 2-3 years forward you can love me but I’m wrong
Since beginning, there’s no one named Dean. No one can make me fall in love like I fall for you
Since beginning, I come back to try to make you fall for me but I’m failed
I’m sorry. I’m really sorry. I hope you can forgive me before you marry someone you loved
I’m sorry for loving you too much. Cha Ji Hyun.
PS : I made this ring for you and Jina. Hope you both like it.

Aku membaca surat itu dan tanpa sadar menangis. Aku membuka kotak cincin dan menemukan dua buah cincin nikah di dalamnya. “Stupid. Lee Hyukjae, nan paboya!” makiku kepada diriku sendiri. Aku merasa bodoh selalu menyadari segalanya dengan terlambat. Aku sadar aku mencintai Jihyun sejak dia meninggalkanku ke Jerman. Saat itu, aku ingin sekali mencegahnya pergi dan tetap tinggal bersamaku tapi egoku melakukan hal yang sebaliknya, aku membiarkan ia pergi. Sekarang aku melakukan kesalahan yang sama. Hanya orang yang lebih bodoh dari keledai yang bisa jatuh ke lubang yang sama dua kali.
“Apa Jihyun masih di Korea?” tanyaku.
Sekretarisku menggelengkan kepalanya. “Miss Cha langsung pergi begitu meninggalkan surat itu.”
“Odi?”
“London.”
“Pesankan satu tiket ke London untukku beserta akomodasinya,” perintahku terburu-buru. Aku ingin segera menyusul Jihyun.
Sekretarisku tersenyum. “Already. Termasuk alamat Miss Cha di sana,” katanya. Aku menatap sekretarisku dengan sumringah lalu memeluknya dengan erat.
“Gomawo, Jisung-ah! I promise will make you Editor!” seruku.
Jisung tersenyum padaku. “I keep your promise,”sahutnya.
Aku pun segera berlari menemui mobilku dan melajukannya secepat yang aku bisa menuju airport. Aku tidak peduli dengan klakson-klakson mobil yang melakukan aksi protes terhadap caraku mengemudikan mobil. Aku hanya ingin bertemu Jihyun secepatnya.
+++++
Aku sampai di London jam 8 malam dan langsung menuju tempat tinggal Jihyun. Sial, pintunya masih tekunci rapat dan tidak ada orang yang menyahut ketika aku membunyikan bel di depan pintu kamarnya. Dia belum pulang. Dengan terpaksa, aku menunggunya di tengah salju yang dingin ini.
Sak. Sak. Sak. Aku mendengar langakh di tengah salju yang semakin mendekatiku. Aku membuka mataku dan menemukan Jihyun sudah berdiri di hadapanku sambil menatapku dengan bingung. “Oppa, what are you doing here?” tanyanya.
Aku bangkit dari dudukku dan mengeluarkan cincin pemberian Jihyun dari sakuku. Aku menyodorkannya kepada Jihyun sambil berlutut. “Marry me,” ucapku.
Jihyun memandangku lalu tertawa. “Don’t make any jokes. You don’t love me, don’t you?” kata Jihyun. Aku paham mengapa ia bilang begitu.
“I love you since you left me in the airport 3 years ago.”
“No way! Kalau kau memang mencintaiku seharusnya kau mencegahku pergi.”
“I should but I can’t. Logikaku tidak bisa menghentikanmu. Bagaimana jika waktu itu aku menghentikanmu dan ternyata kita tidak cocok? Bagaimana dengan mimpimu?”
I know, I will have fight with this girl.
“Lalu kenapa kau tidak mengejarku waktu aku pergi dari rumahmu?”
“Aku harus membereskan masalah-masalahku dengan Appa. Mana mungkin aku langsung meninggalkan mereka setelah pengakuanmu yang mengejutkan mereka.”
“Bagaimana dengan Jina unni?”
“Aku sudah menjelaskan kepadanya sebelum aku kembali ke Korea. Aku bilang padanya bahwa aku mencintaimu dan tidak bisa melepaskanmu.”
“Lalu dia bilang?”
“Run into her. Catch her.”
Jihyun tertawa sinis padaku. “Oppa, listen to me. You slept with me and after you wake up, you propose another girl. You propose her then realize that you love me. After that, you broke her, again. Same can goes to me,” katanya lalu masuk ke dalam apartemennya. Dia tak mengijinkan aku masuk bersamanya.
+++++
Tiga hari sudah aku berjuang mendapatkan hati Jihyun tapi ia sama sekali tidak bergeming. “Aku belum mendapatkan cukup bukti kau mencintaiku,” kata Jihyun setiap aku merayunya. Aku hampir kehabisan waktu. Aku sudah 10 hari tidak masuk kerja dan itu sangat membebaniku. However, I still have responsibility as an Editor.
Hari keempat, aku tidak bisa menunggu lebih lama. Aku mendatangi apartemen Jihyun dan memaksa masuk. “Kenapa kau tidak menjawab satu pun telepon dariku?” tanyaku kesal.
“Aku sedang tidak enak badan,” jawabnya.
Aku melihat Jihyun yang berbaring di sofa. Wajahnya pucat. Aku memegang dahinya untuk memeriksa siapa tahu Jihyun demam. “Gwencanayo?” tanyaku cemas. Jihyun tidak demam tapi jelas ia sedang sakit.
“Jelas tidak. Minggir,” jawabnya lalu berlari secepat mungkin ke kamar mandi. Aku menyusul Jihyun. Ia terduduk di depat kloset dan muntah-muntah ke dalam kloset. “Jangan mendekat. Aku sangat bau,” perintah Jihyun dengan galak.
Aku tetap mendekatinya dan membersihkan bibirnya dari sisa-sisa muntahannya. “Kau mual?” tanyaku. Jihyun mengangguk. Aku menggedongnya dan meletakkannya kembali ke sofa. “Istirahatlah, aku akan membelikan obat untukmu,” kataku. Aku pun segera keluar untuk membelikan obat, juga sesuatu yang menurut feelingku harus aku beli.
“Testpack?!” seru Jihyun saat aku menyuruhnya untuk menggunakannya. “Tidak mungkin! We did it last week. Tidak mungkin secepat itu.”
“Coba saja dulu,” paksaku. Aku yakin bahwa penyebab Jihyun tidak enak badan karena ada sebuah kehidupan yang berkembang di rahimnya. Kehidupan yang sedang menyesuaikan diri dengan dunianya yang baru sehingga membuat inangnya kehilangan keseimbangan. Aku yakin Jihyun hamil.
Jihyun akhirnya menurut. Ia membawa testpack itu bersamanya saat ia ingin buang air kecil. “Nih,” katanya padaku sambil memberikan testpack yang telah dipipisinya. “Aku mau istirahat.” Jihyun pun kembali berbaring di sofa dengan aku yang duduk di sampingnya, menunggu hasil dari uji testpack.
+++++
“Bagaimana?” tanya Jihyun padaku begitu ia terbangun.
Aku menyerahkan hasil testpack itu pada Jihyun. “I’m sorry.” Ujarku.
“Tuh kan sudah aku bilang tidak mungkin. Mana mungkin ia berkembang secepat itu. Kau piker kau Edward Cullen dan aku Bella Swan yang dalam sehari umur kandungannya serasa sebulan?”
Aku tersenyum pada Jihyun. “Kau ini cerewet sekali. Aku minta maaf karena kau harus menikah denganku. Lihat baik-baik hasilnya. You’re pregnant. Lee junior is inside your tummy,” kataku.
Jihyun lalu meperhatikan hasil testpack itu dan membelalakan matanya. “Positif?” tanyanya takjub.
Aku menyeringai sambil menganggukkan kepalaku. “She or he is my evidence. You have no Leeice but marry me,” ujarku penuh kemenangan.
“Should I marry you?”
“Yes. Unless you don’t love me.”
“I love you but …”
Aku memotong ucapan Jihyun dengan ciuman. “Marry me, Cha Jihyun. I’m begging you. Please, marry me,” pintaku.
Jihyun memandang wajahku. Tangannya membelai pipiku dengan lembut. Ia lalu tersenyum padaku. “ Promise me you’ll always love me and this baby.”
“I will. Aku berjanji akan mencintaimu dan setiap bayi yang keluar dari rahimmu,” ujarku sambil mengelus-elus perutnya yang masih rata. Jihyun lalu tertawa. “Wae?” tanyaku.
“I’m just really happy seeing you begging me to marry you. Setelah aku jatuh bangun mengejarmu akhirnya kau juga yang memohon-mohon padaku untuk menikah denganmu,” jawabnya lalu kembali tertawa.
“Yes, you don’t stop believe that I’ll fall in love with you. People may fail but believe in God doesn’t.”
Jihyun tersenyum. “Thank you,” ucapnya. Jihyun lalu mengubah posisinya sehingga sekarang ia duduk dengan kaki selonjor di kakiku. Ia merentangkan tangannya kemudian memelukku. “I know HE won’t disappoint me. I love you.”

.The End.