Annyeong chingu!😀

ini sequel terakhir dari journey of love-nya JoHae couple (Infinitely Yours, Officially Yours). Hope you like it ya chingu :)) Enjoy reading🙂

START

Aku suka suasana di pagi hari. Kicauan burung, udara yang sejuk, aroma tanah yang segar, suasana sunyi nan damai dan cahaya matahari yang hangat membuat pagiku ini terasa begitu sempurna. Namun dari semua karunia Tuhan itu, ada satu hal yang paling aku sukai, aku sayangi, aku cintai, dan aku sangat bersyukur karena pagi ini ia masih sudi menemani keseharianku: Shim JoHee.

Tanpa membuang-buang waktu, begitu aku terbangun dari tidur, aku segera melengkahkan kaki menuju kamar gadis yang kupuja-puja itu untuk melakukan hobbyku dipagi hari: mengamati lekuk wajahnya, membangunkannya, dan memberikannya morning kiss -meski kadang ia menolak-

“JoHee sayang, wake up,” ujarku membangunkan JoHee. Seperti biasa, hal seperti ini adalah sia-sia belaka karena saat pagi hari JoHee bukan anak baik yang penurut. JoHee lebih cinta tidur dibandingkan Donghae -diriku- saat pagi hari, jadi ia lebih memilih untuk menjawabku dengan gumanan setengah sadar, “Eung..” lalu menganggapku tak ada dengan memutar tubuhnya sehingga kini ia memunggungiku.

Cara pertama gagal, saat aku melaksanakan tindak lanjut. Aku menaiki kasur JoHee dan berbaring tepat disampingnya. Aku memiringkan tubuhku sehingga kini aku dapat menatap jelas punggung JoHee. Aku memeluknya dari belakang dan membiarkan JoHee menggeliat dalam pelukanku.

“Aku akan menciummu kalau kau tak bangun dalam hitungan kelima. Arraseo, JoHee?” ancamku setengah bercanda yang tak ditanggapi oleh JoHee.

Aku pun mulai menghitung, “1.. 2.. 3.. 4.. 4,5..”

“Arra, arra, aku sudah bangun oppa..” guman JoHee meski ia masih setengah sadar. JoHee membalikkan tubuhnya dan menatapku kesal.

“Oppa kau suka cari kesempatan dalam kesempitan!” protes JoHee yang hanya kujawab dengan tawa.

“Kau memang harus cerdik memanfaatkan kesempatan, JoHee,” balasku memberi pembelaan.

JoHee mendengus, “Cih, dasar oppa. Kajja, ayo bangun,” ajaknya kali ini tapi sayang sekali naluri ke-laki-anku muncul lebih dahulu membuatku tak rela melepaskan JoHee dan ingin memeluknya lebih lama lagi.

“Seperti ini, 5 menit lagi, ya?” pintaku dengan mengandalkan puppy eyes yang aku latih khusus agar JoHee mau menuruti permintaan-permintaan anehku, seperti ini contohnya.

Lagi-lagi JoHee mendengus, ia menatapku kesal namun tangannya membalas pelukanku, “Cih, padahal tadi oppa yang memaksaku bangun,” katanya sambil memelukku lebih erat. Aku menyembunyikan tawaku melihat tingkah gadis ini. Aku tahu ia tak marah. Aku tahu ia hanya malu untuk mengakui kalau dirinya sendiri -sebenarnya- menginginkan hal yang sama sepertiku.

“JoHee, saranghaeyo,” bisikku tepat ditelinganya. JoHee tak menjawab secara langsung, tapi reaksi tubuhnya yang bisa kurasakan dan kulihat -pipi memerah, jantung berdetak kencang, dan tangannya yang mengeratkan pelukan ini- sudah cukup sebagai bukti kalau ia juga mencintaiku.

Keberadaan JoHee dalam hidupku dapat diibaratkan dengan ganja yang sangat dibutuhkan oleh pecandunya. Ya, aku rasa, diriku ini sudah addicted pada JoHee. Aku tak perlu khawatir tentang hubungan kami karena sebentar lagi aku akan mengikat JoHee dengan komitmen suci yang hanya akan kuucapkan sekali seumur hidup dan hanya pada JoHee. Aku hanya perlu bersabar menunggu ia lulus, sekitar 6 bulan lagi.

*****

“Bagaimana persiapanmu ujian?” tanyaku pada JoHee ditengah candle light dinner yang aku siapkan khusus untuk JoHee. Malam ini aku berniat melamar JoHee. Aku ingin segera mengubah statusnya dari ‘fiancee’ become ‘Mrs. Lee’.

“Oppa tak perlu khawatir, aku sudah menjadi anak yang rajin sekarang,” jawab JoHee yang membuat kami berdua tertawa. “Lalu kenapa oppa mengubah ruang makan kita menjadi sangat romatis dan mengajakku candle light dinner seperti ini? Ada apa?” tanya JoHee.

Berkat pertanyaan sederhana itu aliran darah dalam tubuhku seakan melaju lebih cepat dari biasanya karena jantungku kini mulai memompa darah dengan tempo yang berlebihan. Aku sedikit nervous kali ini.

“JoHee,” gumanku menyebutkan namanya. Aku mau melanjutkan pernyataanku namun lidahku seakan kelu saat mata kami saling bertemu. JoHee memandangku lalu tersenyum, “Ada apa, oppa?” tanyanya

“Would you be my wife?”

‘PRANG!’ suara gelas pecah membahana di ruangan yang hanya terisi oleh kami berdua ini. JoHee yang tanpa sengaja menyenggol gelas itu pun menjadi panik. Ia segera bangkit dari kursinya namun bingung harus melakukan apa. Aku segera bangkit dari tempatku untuk membantu JoHee.

“Jangan dipegang JoHee!” peringatku pada JoHee namun aku telat, “Auw!” jari telunjuk JoHee terlebih dahulu tergores oleh kaca saat ia mau membersihkan pecahan itu dengan tangan kosong.

Aku segera menarik tangan JoHee dan menghisap darah yang keluar diujung jarinya itu, aku ikutan panik dan hanya ini yang terpikirkan olehku.

“Mi-mi-mianhe, Oppa,” ujar JoHee penuh penyesalan.

Aku menatap JoHee cemas, “Ada apa JoHee? Kau tampak pucat,”

“Aku baik-baik saja oppa. Don’t worry,” balas JoHee tapi aku tetap ragu.

“Lebih baik kau istirahat dulu ya JoHee,” ujarku sambil mengajak JoHee ke kamarnya. Aku bahkan sampai menyelimutinya seakan JoHee adalah orang sakit yang sedang kurawat.

“Oppa, kau berlebihan! Aku bisa sendiri, sayang,” ujar JoHee menyadarkan aku dari kekhawatiranku yang agak berlebihan.

“A- jeongmal? Mianhe, JoHee,” ujarku merasa bersalah yang dijawab oleh senyuman manis JoHee yang memang selalu bisa memberikan kelegaan padaku. Aku mengelus puncak kepala JoHee dan memberikan night kiss untuknya sebelum aku -dengan berat hati- keluar dari kamar JoHee.

Ah, aku lupa satu hal. Apa jawaban JoHee atas lamaranku? Mungkin lebih baik aku tanya besok saja.

*****

“JoHee,” panggilku saat JoHee sedang memasang sepatu sekolahnya. JoHee menoleh kearahku dengan tampangnya yang sangat menggoda iman. Untung saja aku ini pria yang baik.

“Apa jawabanmu, JoHee?” tanyaku pada JoHee tanpa tedeng aling-aling. Aku ingin segera mendengar jawaban itu keluar dari mulut JoHee.

Aku menatap gadis cantik yang berdiri tepat dihadapanku ini. Meniliknya dari ujung rambut hingga kakinya sambil menanti jawabannya. Sebulir keringat mengalir dari dahinya meskipun saat ini sedang musim dingin. Jari tangannya bergerak tiada henti. Seakan deja vu, pemandangan kali ini mengingatkanku pada pertemuan pertama kami, saat aku menyimpulkan bahwa semua reaksi tubuh gadis ini menunjukkan bahwa ia sedang gelisah. Lalu apakah JoHee merasakan hal yang sama saat ini? Ia gelisah? Apa yang menyebabkan ia gelisah?

“JoHee..”

“JOHEEEEEE!!!!” teriak seseorang dari luar yang membuat suaraku terbenam.

“Ah, oppa, hari ini aku berangkat dengan Sonrye saja, bye oppa sayang,” kata JoHee dan dengan segera ia melesat keluar, bahkan tanpa memberikan morning kiss untukku. Ada apa ini?

*****

Sudah seminggu aku mengajukan pertanyaan yang sama pada JoHee namun sampai saat ini aku tak mendapatkan jawabannya. JoHee selalu saja menghindar saat aku mulai berbicara mengenai pernikahan.

“Kau ada masalah apa dengan JoHee?” tanya Eunhyuk yang datang dengan 2 cup coffee ditangannya, satu ia berikan padaku dan yang satunya lagi untuk dirinya sendiri. Tanpa minta ijin dariku, ia menarik kursi yang ada dihadapanku dan duduk disana.

“Aku tak ada masalah apa-apa dengan JoHee,” jawabku berbohong sambil menyesap kopi yang ia berikan tadi.

“Cih, kau berani membohongiku? Tak mungkin kau makan sendirian di cafetaria seperti ini kalau kau tidak ada masalah dengan JoHee. Kau sudah ribuan kali mendeklarasikan kalau kau tak suka makan sendirian,” kata Eunhyuk yang tak dapat kulawan karena ia sudah menyertakan bukti otentik sekaligus!

…..

“Mungkin JoHee sudah bosan padamu,” ujar Eunhyuk atas ceritaku yang tentu saja langsung kubalas dengan jitakan tanpa kasih sayang. Bagaimana ia bisa berkata seperti itu?!

“Cih, kau sedang tak bisa diajak bercanda rupanya,” gerutu Eunhyuk sambil menggosoki kepalanya.

“Setiap aku tanya pada JoHee, “Kau ada masalah apa, JoHee?”, ia selalu menjawab, “Aniya, don’t worry, oppa,” ”

Eunhyuk bangkit dari tempat duduknya dan mengacak rambutku gemas, “When a girl says, “Don’t worry about it,” you’d better worry about it. Berjuanglah,” ujarnya lalu meninggalkanku yang masih berusaha mencerna perkataannya.

*****

“JoHee, boleh aku pinjem penghapus?” tanyaku pada JoHee yang sedang sibuk memasak di dapur.

“Nee, oppa. Ada di saku jas sekolahku. Coba oppa cari,” seru JoHee. Aku segera masuk ke kamarnya dan mencari benda yang sangat kubutuhkan sekarang: penghapus.

“Gotcha,” gumanku karena aku sudah mendapatkan apa yang kucari namun ada benda lain yang menarik perhatianku. Kertas putih yang berstempelkan nama sekolah JoHee, Haegang Senior High School.

Aku yang dilanda rasa penasaran segera membuka kertas itu dan betapa kagetnya aku saat aku tahu kalau itu adalah Surat Pemberitahuan yang menyatakan bahwa JoHee memperoleh beasiswa jurusan designer di Paris. What??! PARIS?!

*****

Cahaya matahari membangunkanku dari tidur. Aku membuka mataku lalu duduk diatas ranjang. Aku memegang kepalaku yang entah mengapa terasa sedikit pusing lalu mengalihkan pandanganku ke sisi lain ranjangku dan mendapati JoHee sedang tertidur dengan bersandar di tepi tempat tidurku.

Senyumku mengembang secara otomatis begitu menyadari kalau semalaman tangannya menggenggam erat tangan kananku, bisa kurasakan dari keringat yang mengalir di sela-sela telapak tangan kami.

Namun tiba-tiba saja kejadian kemarin malam terlintas diotakku.

Flashback

 

Tanganku bergetar begitu selesai membaca surat itu. Aku tak bisa berpikir. Yang jelas saat JoHee masuk, aku langsung memeluknya. Memeluknya sangat erat agar ia tak pergi dariku.

“Jangan pergi, JoHee. Aku mohon. Jangan tinggalkan aku. Jangan pergi ke Paris. Aku tak bisa hidup tanpamu, JoHee,” ujarku pada JoHee berulangkali sampai aku tak sadar kalau aku sudah menangis.

“Oppa, please stop crying,” pinta JoHee sambil mengusap air mataku. Aku yang diliputi ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran tak bisa tenang hanya dengan kalimat itu. Aku butuh kejelasan.

“Tolong jangan tinggalkan aku, JoHee,” pintaku memohon bak seorang pengemis.

“Aku tak akan pergi, oppa. Aku akan menolaknya,” ujar JoHee sambil menciumku. Ciuman yang sangat hangat dan meyakinkan aku kalau JoHee tak akan pergi dariku, selamanya.

“Gomawo JoHee. Gomawo. Jeongmal saranghae,” bisikku tepat ditelinganya.

 

Setelah itu yang kuingat hanya aku membiarkan emosi yang tersisa mengalir dalam bentuk air mata dan JoHee terus memelukku sampai akhirnya aku tertidur.

*****

“JoHee?! Apa yang kau lakukan?!” teriakku saat mendapati rumahku sudah berasap tebal dan bau gosong melekat di udara. Aku segera menuju dapur dan mematikan kompor yang menjadi sumber kepanikan ini.

“JoHee!!” panggilku lagi, tidak, aku sudah berseru sekarang. JoHee dengan tergopoh-gopoh muncul didepanku. Ia menatapku dan panci gosong diatas kompor dengan rasa bersalah.

“Kau dimana JoHee?! Bagaimana bisa begitu ceroboh?! Apa yang kau pikirkan, ha?!” seruku kesal. Aku kesal karena JoHee begitu ceroboh dan nyaris membahayakan dirinya sendiri.

Mata JoHee yang nyaris mengeluarkan air mata membuatku sadar kalau aku sudah agak kelewatan memarahinya. Dengan segera aku menarik JoHee ke dalam pelukanku agar ia bisa tenang.

“Mi-mianhe, oppa. Mianhe. Aku benar-benar lupa,” katanya. Aku menghela nafasku untuk menstabilkan emosiku.

“Aku juga, mianhe sudah memarahimu. Aku hanya kesal karena kau membahayakan dirimu sendiri. Aku tak berani membayangkan apa yang akan terjadi padaku kalau sampai terjadi apa-apa padamu JoHee,” jelasku agar JoHee tak salah paham.

“Mungkin kau harus istirahat. Ini bukan pertama kalinya dalam seminggu ini kau nyaris membahayakan dirimu sendiri,” ujarku sambil memapahnya ke kamar tidurnya.

Aku mencium kening JoHee setelah yakin ia sudah berada di dunia mimpi sekarang. Aku hendak beranjak dari kamarnya itu namun tanpa sengaja tanganku menyenggol setumpuk majalah yang ada di meja kecil yang ada di sisi kanan tempat tidur JoHee.

Aku dengan segera membereskannya. Semuanya majalah fashion. Disela-sela majalah itu banyak kertas-kertas bergambar baju yang merupakan hasil karya JoHee. Satu hal akhirnya aku sadar: JoHee sangat menyukai dunia fashion. Apa yang harus kulakukan?

*****

“Oppa, sebaiknya kau jangan terlalu sering membuang uang seperti ini. Kau memesan candle light dinner di Hyatt Hotel hanya untuk kita berdua?! Berapa banyak uang yang kau keluarkan oppa?!” protes JoHee. Aku menatapnya sedih, “Kau tak suka?” tanyaku.

JoHee menatapku, kini dengan tatapan merasa bersalah. Ia menarik nafasny panjang. “Joha, nomu joha. Aku sangat tersanjung oppa memperlakukanku seperti ini. Tapi candle light dinner di rumah menurutku sudah lebih dari cukup, Donghae oppa sayang,” balasnya sambil mengelus pipiku.

“Tapi nikmati saja ya apa yang sudah kupesankan khusus untukmu ini, JoHee,” ujarku dan ia mengangguk.

Kami pun mulai bercerita banyak hal sambil menyantap hidangan mewah yang sudah tersedia.

“JoHee, kau mencintaiku?” tanyaku padanya.

“Tentu saja. Aku sangat mencintaimu,” jawab JoHee tanpa keraguan, salah satu sifat yang menjadi daya tariknya bagiku.

“Kalau begitu, would you be my wife?” tanyaku lagi namun kali ini pandangan JoHee berubah. Ia terlihat ragu dan gelisah.

Aku menghela nafasku panjang, berusaha meyakinkan diriku kalau keputusan yang aku ambil ini akan membuatnya bahagia dan hanya aku yang akan merana.

Aku bangkit dari tempat dudukku. Mengangkat dagu JoHee agar aku dapat menelusuri lekuk wajahnya yang sempurna itu dan menciumnya tepat di bibir.

“Kau tak perlu menjawabnya sekarang. 4 tahun cukupkan sebagai waktu untuk berpikir?” tanyaku pada JoHee. JoHee tak meresponku, ia hanya memandangku dengan tatapan tak percaya.

“Begitu kau pulang dari Paris, kau harus segera memberikanku jawaban. Dan aku tak terima penolakan, arrachi?”

“O-oppa mengijinkanku untuk melanjutkan studi di Paris?” tanya JoHee meyakinkan dirinya kalau ia tak salah dengar.

Dengan segala rasa sakit dan ketidak-relaan yang masih bergejolak didada, aku mengangguk. “Ya. Tapi hanya 4 tahun!” ujarku.

Semua terjadi sangat cepat, kini JoHee sudah memegang kedua pipiku dan menciumku kilat namun tak hanya sekali-dua kali namun berkali-kali namun mengapa sekarang terasa asin? Aku membuka mataku dan mendapati air mata JoHee sudah mengalir dipipinya.

“JoHee, waeyo?” tanyaku panik sambil menghapus air matanya.

“Oppa, aku sangat sayang padamu. Sangat sayang, sampai aku tak tahu bagaimana harus mengungkapkannya,” kata JoHee sesegukan.

“Omona, oppa, kenapa kau yang menangis sekarang?” tanya JoHee yang membuatku sadar kalau tenyata pertahananku sudah runtuh. Air mata yang kutahan sedari tadi akhirnya keluar juga.

“Aku pasti merana kau tinggal sendirian di Seoul ini,” ujarku sambil memeluknya.

“So do I,” jawab JoHee.

Dan akhirnya acara candle light dinner berubah menjadi acara tangis perpisahan dua insan.

*****

4 years later..

Aku menatap suasana asing disekitarku. Suasana yang romantis, para lelaki tampan dengan hidungnya yang tinggi, pasangan yang tersebar dimana-mana dan menara yang sangat terkenal akan keindahannya, Eiffel Tower. Ya, aku berada di Paris sekarang berkat telepon dari JoHee 3 minggu yang lalu.

“Oppa, aku tidak bisa pulang hari ini karena dosenku memilihku untuk ikut ajang designer amatir di acara Paris Fashion Street bulan depan. Selama sebulan ini mungkin aku akan sangat sibuk oppa,”

Dan ia membuktikan kata-katanya. Ia bahkan tak sempat untuk mengangkat teleponku. Tidak mendengar suaranya selama satu hari saja sudah cukup membuatku uring-uringan, lalu bagaimana setelah 3 minggu JoHee tak pernah mengangkat teleponku? Aku bak mayat hidup. Hidup segan, matipun tak mau.

Dengan sisa kekuatan yang ada, aku memutuskan untuk berangkat ke Paris tadi siang. Aku segera meluncur ke asrama JoHee dan menunggunya didepan asrama karena JoHee tinggal di asrama khusus wanita.

1 jam, 2 jam aku menunggu, aku tak melihat keberadaan JoHee padahal sudah pukul 1 pagi waktu Paris. Kemana JoHee?

Tiba-tiba saja sebuah mobil Mercedesz Benz berhenti di depanku dan keluarlah seorang pria tampan yang aku kenali wajahnya sebagai Choi Yesung, model ternama Korea Selatan. Ia berlari menuju pintu kursi penumpang untuk membukakan pintunya.

Nafasku tercekat di kerongkonan saat aku melihat gadis yang sangat cantik, anggun, dan aku cintai keluar dari dalam mobil itu: Shim JoHee. Yesung memberikan senyuman manis untuknya begitu pula JoHee. Tiba-tiba saja Yesung mencondongkan tubuhnya seakan ia mau mencium JoHee dan tanpa kusadari kakiku sudah melangkah sendiri ketempat mereka berdua sekarang dan secepat kilat aku menarik JoHee dan memeluknya.

“Jangan sekali-kali kau berani menyentuhnya,” ujarku padanya, datar namun aura ingin membunuh kental sekali terasa dari gelombang suaraku.

Yesung menatapku kaget namun beberapa detik berikutnya ia tersenyum. “Jadi kau yang bernama Lee Donghae? Ternyata aku benar-benar tidak punya kesempatan ya, JoHee?” tanya Yesung kini kepada JoHee. Aku melepas pelukanku pada JoHee agar JoHee bisa berbicara pada Yesung.

“Mianhe, oppa. Mianhe,” ujar JoHee lirih sambil memeluk Yesung dan pria itu hanya bisa tersenyum lirih.

Aku tak tahu hubungan mereka seperti apa yang aku yakin hubungan mereka sudah cukup dekat dan dalam. Tak dapat dipungkiri, aku sangat kesal, cemburu, dan khawatir sekarang. Aku tak bisa menahan diriku hingga akhirnya aku mencium JoHee begitu mobil Yesung pergi meninggalkan kami.

“Would you be my wife?” tanyaku setelah aku melepaskan ciuman yang nyaris membunuh kami berdua karena kekurangan oksigen. Aku mengeluarkan kotak cicin yang sudah sedari tadi ada di saku mantelku.

“Oppa, kenapa tiba-tiba?” tanya JoHee gelisah. Aku sudah sangat hafal gelagatnya yang satu ini. Ia selalu tampak gelisah begitu aku bertanya soal pernikahan dan itu membuatku kesal!

“Apa waktu 4 tahun tak cukup untukmu berpikir?! Apa susah mengatakan ‘YA’?! Atau kau mencintai pria lain? Ha? Choi Yesung itu?!” bentakku melampiaskan semua emosi yang sudah kutahan selama ini.

“Oppa..” JoHee menatapku lirih. Tatapan yang aku yakin akan membuatku luluh dalam sekejap namun untuk kali ini saja aku ingin menjadi pria yang tegas agar JoHee juga tidak menggantungkanku. Aku butuh kejelasan!

“Pikirkan dalam waktu seminggu. Aku tak bisa menunggu lebih dari itu,” kataku sambil menyerahkan cincin itu padanya lalu aku meninggalkannya meskipun ia sudah beberapa kali berseru memanggil namaku.

*****

“Wake up dear, sudah pagi,” ujar seorang gadis membangunkanku. Aku sangat mengenal suara ini. Suara yang sangat kurindukan, Shim JoHee. Cih, tapi apa benar itu JoHee? Tak mungkin. Aku mengabaikan suara itu dan kembali berusaha memasuki alam tidurku.

“Yaa, Donghae oppa, palliwa!” seru suara itu lagi namun kali ini aku juga merasa tubuhku diguncang. Argh! Kalau bukan JoHee, siapa yang berani mengganggu tidurku?! Aku yang sangat kesal akuhirnya memutuskan untuk bangun.

“Yaa! Mengapa kau mem… bangunkanku?” suaraku melemah saat aku mendapati The Real JoHee benar-benar ada di dalam kamar hotelku. JoHee yang aku rindukan ada di dekatku. Aku ingin menariknya dalam pelukanku dan menciumnya namun aku ingat harga diri yang harus kupertahankan sampai ia memberikan kejelasan padaku.

“Mengapa kau disini setelah 6 hari kau tak memberiku kabar? Bagaimana kau bisa tahu aku menginap di hotel ini?” tanyaku bak polisi yang sedang mengintrogasi tersangkanya.

“Aku punya informan terpercaya, Eunhyuk,” jawab JoHee diiringin senyumnya meski ia tak menatapku. JoHee sedang sibuk menyeduh 2 cup teh yang ia buat untukku dan dirinya.

“Ini,” kata JoHee sambil menyodorkan salah satu cup yang ada ditangan kirinya dan akhirnya aku dapat melihat dengan jelas kalau di jari manis sebelah kiri JoHee tidak  terpasang cincin yang minggu lalu ia berikan. Jadi inikah cara ia menolakku? Bagus sekali. Kau memang pintar untuk membuat pria patah hati. Pertama Eunhyuk, lalu Yesung, dan terakhir: Aku. Setelah 6 hari tanpa kabar, akhirnya ia benar-benar menolakku dengan cara seperti ini. Miris sekali. Harusnya sejak awal aku tak membiarkankan diriku jatuh dalam lubang yang sama: cinta.

“Pulanglah, aku sudah tahu tujuanmu datang kesini,” ujarku dingin.

JoHee menatapku bingung dan lirih, “Maksud oppa?” tanyanya

“Jangan berpura-pura tak mengerti!” seruku yang membuat JoHee terperanjat. JoHee bangkit dari tempat duduknya dan menatapku lirih. Ia berjalan menghampiriku lalu menciumku kilat. “Aku tak tahu apa yang membuatmu seperti ini, namun aku mohon datanglah ke acaraku nanti. Aku sudah menyediakan busana yang harus kau pakai di atas meja itu. Hanya itu tujuanku datang sepagi ini. Mianhe oppa sayang,” ujar JoHee lalu meninggalkanku.

Aku menatap kotak yang ada di mejaku. Kau mengundangku ke acara itu setelah kau menolakku? Bagaimana bisa ia menjadi wanita sekejam itu?! Aku tak akan datang!

*****

“Lee Donghae! Bangun! Kalau kau tak bangun, akan kurebut JoHee darimu!” seru sebuah suara yang aku yakini itu adalah Eunhyuk.

Aku menutupi seluruh tubuhku dengan selimut, “Aku tak peduli lagi pada JoHee,” ujarku lemah.

Eunhyuk menarik selimutku dan menarikku paksa. “Tak peduli bagaimana? Wajahmu sangat kacau karena menangisinya,” ujarnya sambil mengacak rambutku gemas.

“Paboya, kau tidak melihat isi kotak yang JoHee berikan?” tanya Eunhyuk lagi

“Sudah kukatana, aku tak pedulu pada JoHee lagi!” seruku kesal

“Jadi kau tega membiarkan pengantinmu jalan sendiri diatas catwalk nanti?” tanya Eunhyuk yang tak kumengerti. Aku segera menghampiri Eunhyuk dan melihat isi kotak itu.

Sebuah cincin, secarik kertas, dan baju pengantin pria yang sederhana namun indah untuk dipandang. Aku mengambil kertas itu dan membacanya. “Oppa, aku sudah mendesign baju pengantin ini khusus untukmu. Aku harap kau mau menjadi model catwalk terakhir bersamaku nanti karena menurutku hanya imagemu yang cocok untuk design ini. Aku menunggumu. Jawaban atas pertanyaanmu akan terjawab disana ^^”

“Bagaimana? Kau masih tak peduli pada JoHee?” tanya Eunhyuk retoris. Tentu saja aku peduli! Ternyata aku salah paham pada JoHee!

Tanpa menjawab pertanyaan Eunhyuk aku segera melesat ke kamar mandi untuk mandi bebek dan menyiapkan diriku setampan mungkin agar aku tak mempermalukan JoHee di depan publik.

Begitu aku sudah siap dengan baju yang JoHee buat untukku aku segera keluar dari kamar hotel dan hendak berlari menuju tempat acara karena 15 menit lagi aku harus menemani JoHee diatas catwalk!

“Yaa Donghae! Kau mau kemana?” tanya Eunhyuk

“Tentu saja ketempat acara!” seruku kesal atas pertanyaan bodoh Eunhyuk.

“Kau mau berlari? Tak akan sempat. Naik ini saja,” ujar Eunhyuk dengan gaya sombongnya sambil bersandar pada mobil Ferrari yang aku tak tahu kapan ia membelinya.

*****

“Oppa!” seru JoHee begitu aku memasuki back stage. JoHee sangat cantik dengan wedding dress yang ia kenakan. Ia bak seorang bidadari yang terjatuh ke bumi.

“JoHee, mianhe, aku..”

“Oppa, nanti saja! Kita harus cepat!” pekik JoHee lalu mengamit kedua tanganku dan tiba-tiba saja tirai yang ada di depanku terbuka lebar. Aku segera menyesuaikan langkahku dengan JoHee dan menatap lurus kedepan dengan tatapan percaya diri.

Kami berhenti beberapa saat diujung panggung membiarkan blits kamera bergantian memotret kami. Setelah kurasa cukup, aku hendak berbalik namun JoHee menahan tanganku.

“Tunggu disini,” kata JoHee sambil tersenyum dan menatapku penuh arti. Aku sangat bingung dengan situasi yang ada terutama saat Eunhyuk memasuki arena catwalk dengan Alkitab di tangan kanannya.

“We are going to marry,” ujar JoHee

“WHAT?! RIGHT NOW?! RIGHT HERE?!” pekikku tak percaya yang hanya disambut JoHee dengan senyum.

“People always do crazy things when they’re in love, right?” tanya JoHee padaku yang disambut dengan seruan, siulan, ucapan selamat dan tepuk tangan dari para hadirin yang datang

“Apakah kau, Shim JoHee, bersedia menjalani sisa hidupmu dalam suka dan duka bersama Lee Donghae?” tanya Eunhyuk. JoHee menatapku dan menjawab, “Yes, i do,”

“Dan kau Lee Donghae, Apakah bersedia menjalani sisa hidupmu dalam suka dan duka bersama Shim JoHee?” kini Eunhyuk bertanya padaku dan hanya kujawab dengan anggukan.

“Silahkan mencium pasangan anda,” kata Eunhyuk namun aku hanya terdiam terpaku.

Aku masih berusaha mencerna semua kejadian yang rasanya berlalu begitu cepat dan masih belum bisa kupercaya ini.

“Aku pasti mimpi,” gumanku yang ternyata JoHee dengar.

“No, you’re not. Akan kubuktikan kalau semua ini kenyataan,” ujar JoHee dan detik berikutnya ia sudah menciumku. Ciuman yang lembut dan hangat yang memberikanku keyakinan kalau ini semua memang nyata.

“Bagaimana?” tanya JoHee sambil memberikanku evil smirk setelah ia menciumku.

Aku membalas senyumnya dan kali ini aku yang mengambil kendali untuk menciumnya lebih dahulu. Aku bisa mendengar semua orang yang ada disana ikut berbahagia bersama kami.

*****

“Mianhe, tadi pagi aku memarahimu,” ujarku pada JoHee yang tertidur disampingku.

JoHee tersenyum padaku, “Gwencana. Salahku juga sudah menggantungkan oppa selama 4 tahun lebih,” balasnya. Aku menatap JoHee dan mengamati apa saja yang berubah pada wajahnya selama 4 tahun ini.

“Kau makin cantik sekarang,” ujarku yang dibalas dengan pukulan kasih sayang oleh JoHee.

“Sejak kapan oppa pintar merayu wanita?” balas JoHee

“Aku tak merayumu, JoHee. Aku mengatakan sesuai fakta yang ada,” balasku memberikan pembelaan. JoHee tersenyum padaku dan mencium keningku. “Terima kasih oppa, kau juga sangat tampan sekarang,” ujar JoHee yang membuatku ingin memeluknya dan kulakukan itu.

Aku memeluk JoHee sangat erat. Aku sangat mensyukuri keberadaannya dalam hidupku. “Terima kasih kau sudah mau menjadi istriku dan menerimaku apa adanya,” ujarku

“Of course because love is not about finding the perfect person but by seeing an imperfect person perfectly. In the end, Love make two imperfect people come together to form something perfect, oppa,”

 

END.