Annyeong chingudeul! Akhirnya.. jeng jeng jeng!! After Storynya sudah jadi (งˆヮˆ)ง

Hope you like it chingu🙂 Makasi ya sudah baca sampai akhir🙂

buat yang baru baca sequel ini, aku kasi link untuk sequel2 sebelumnya:

START!

“Anak-anak, tolong sampaikan surat ini kepada orang tua kalian ya. Diharapakan saat hari H semua orang tua bisa hadir. Dan kalian jangan lupa membuat karangan tentang orang tua kalian ya,” ujar Hyemi Sonsaengnim sebelum bel tanda pelajaran terakhir berbunyi.

“Nah kalau begitu, sampai jumpa anak-anak,” ujarnya lalu meninggalkan kelas disusul oleh murid-murid yang juga ingin bergegas pulang ke rumah masing-masing.

“Surat Pemberitahuan Hari Kunjungan Orang Tua untuk wali murid siswa-siswi kelas 2 Haegang Elementary School. Diharapkan kehadirannya,” itulah inti dari pengumuman yang ada diselembaran yang tadi dibagikan ke masing-masing anak.

Begitu pengumuman tentang rencana kunjungan orang tua tersebar, anak-anak menjadi heboh membicarakannya. Ada yang mulai memamerkan pekerjaan orang tua mereka, ada yang bingung tentang karangan yang harus ditulis tentang orangtua mereka, ada yang berdebar karena ini kunjungan orang tua yang pertama, namun dari semua kegembiraan itu ada satu anak yang terdiam. Ia hanya memandang surat itu dengan tatapan berpikir seakan-akan ia tak tau harus meng-apa-kan surat itu.

“Papa mama JoHae akan datang saat kunjungan nanti?” tanya salah satu teman anak gadis yang ternyata bernama JoHae itu.

Perhatian JoHae teralihkan. Ia memandang temannya itu sesaat lalu tersenyum, tapi ia tak memberikan jawaban.

“Apa aku berikan saja pada mama papa? Tapi kalau mereka datang…”

“JoHae, ppali!” seru temannya menyadarkan JoHae dari pro-kontra yang terjadi didalam batinnya. Ternyata ia sudah tertinggal jauh dibelakang temannya berkat dirinya yang terlalu banyak berpikir.

“Apa omma dan appa tidak usah datang saja?” batinnya. Untuk anak usianya, dia termasuk kategori terlalu banyak berpikir.

*****

“Omma.. Appa..” panggil JoHae sambil mengetuk pintu kamar kedua orangtuanya itu. Ia menunggu sesaat, tapi tetap tak ada sahutan dari dalam.

“Omma.. Appa..” panggilnya lagi tapi tetap saja usahanya nihil. Akhirnya ia memutuskan untuk masuk. Ia memegang kenop pintu kamar itu lalu memutarnya. Entah beruntung atau malah buntung karena pintu itu tidak terkunci, yang jelas saat pintu itu terbuka, JoHae dapat melihat kedua orang tuanya sedang bermesraan di balkon kamar dengan posisi appa yang memeluk ommanya dari belakang.

“JoHee, what do you want for New Year’s gift?” tanya appa JoHae pada JoHee, ommanya.

“Ehm.. roses, maybe?” jawab JoHee. Donghae appa dengan segera menanggapi jawaban JoHee omma, “Ah! That’s too cheap, honey. I’ll give you more,”

Masih dengan posisi appa yang memeluk omma dari belakang, JoHee omma memutar kepalanya sedikit agar dapat melihat wajah Donghae appa dengan jelas. “What?” tanyanya.

Donghae appa tersenyum sambil menatap JoHee omma penuh cinta, “My heart, baby,” jawab appa lalu mencium kilat bibir omma.

“Yaa!! Omma!! Appa!!” seru JoHae yang menghancurkan momen romatis kedua orangtuanya itu.

“Ah, JoHae! Come here, honey,” panggil Donghae appa. JoHae pun segera melangkahkan kakinya ke balkon kamar orang tuanya. Kini appa tak lagi memeluk omma, tapi sekarang ia menggendong anak gadisnya itu.

“Ada apa JoHae sayang?” tanya JoHee omma sambil tetap bergelanyut manja pada Donghae appa.

“Omma, appa, kalau kalian mau bemersraan itu jangan lupa kunci pintunya. Aku kan masih belum cukup umur untuk melihat adegan beginian!” omel JoHae yang justru ditanggapi dengan tawa oleh orangtuanya.

“Arraseo, mianheyo JoHae sayang. Habis appa selalu lupa diri kalau sudah melihat ommamu,” jawab Donghae appa.

“Dan omma juga tak bisa menahan diri kalau appamu sudah bersikap romantis,” imbuh JoHee omma.

“Cih, dasar omma dan appa,” balas JoHae menanggapi jawaban konyol kedua orang tuanya tersebut dengan nada kesal namun bibirnya tetap menyunggingkan senyuman.

JoHae sudah sangat terbiasa dengan sikap kedua orangtuanya yang sangat terbuka. Bahkan kadang JoHae pun mempermasalahkannya karena mereka terkesan tidak punya malu. Tapi ternyata justru berkat sifat kedua orang tuanya yang seperti itu, JoHae dapat merasakan kasih mereka yang tulus pada dirinya.

“Saranghae, omma, appa,” ujar JoHae sambil memeluk appa yang menggendongnya.

“Nado saranghae, JoHae,” balas omma appanya bersamaan disertai dengan pelukan hangat.

“Mungkin lebih baik mereka tidak perlu datang,” batin JoHae mengambil keputusan.

*****

Semua omma dan appa berjejer rapi di bagian belakang kelas. Dengan penuh senyum, tawa, dan haru, mereka memperhatikan dan mendengar dengan seksama hasil karangan yang ditulis sang anak tentang orang tua mereka.

JoHae menoleh kebelakang dan tak menemukan orangtuanya disana. Dalam hati kecilnya, ia merasa kecewa. Namun itulah keputusan yang ia ambil karena menurutnya memang lebih baik seperti itu.

“Lee JoHae?” panggil Hyemi sem yang menandakan kalau sekarang adalah gilirannya untuk membacakan hasil karangannya. JoHae segera berdiri dan menatap lekat kertas ditangannya.

“Omma dan appa tidak bisa datang, sem,” ujar JoHae sebelum mulai menceritakan kehidupan orangtuanya.

*****

“Donghae appa, JoHee omma, adalah kedua orang tua yang sangat JoHae sayangi. Setiap hari mereka sangat sibuk, namun mereka tak pernah lupa tentang tugas mereka sebagai orangtua.

Mereka tak pernah membiarkan aku makan sendirian dirumah karena appa selalu berkata, “Makan sendirian itu menyedihkan,”

Omma dan appa juga selalu menyempatkan diri untuk mengantarku tidur. Kadang mereka bernyanyi untukku, kadang mereka bercerita untukku, namun bukan cerita dongeng putri salju atau putri tidur yang diceritakan, namun kronologi cerita cinta mereka yang diberi judul:  

“Johee – Donghae’s love story”

Story 1:

“Omma dan appa sudah dijodohkan sejak awal,” kata omma membuka dongeng pengantar tidur untuk JoHae

“Really? Lalu omma dan appa langsung menikah, begitu?” tanya JoHae

“Ani. Itu hanya awal dari kisah cinta kami, sayang,” sahut appa. “Saat itu ommamu mencintai pria lain dan appa tidak percaya dengan cinta. Akhirnya ommamu meminta appa untuk membatalkan pertunangannya demi laki-laki itu,”

“Lalu apa setuju?” tanya JoHae lagi

“Tentu tidak. Appa penasaran dengan laki-laki yang bisa membuat ommamu bertindak nekat. Singkat cerita, akhirnya appa jatuh cinta pada omma karena ia adalah orang yang tulus,” lanjut appa sambil menatap omma penuh arti.

“Akhirnya kami jadi saling mencintai. Namun appamu tiba-tiba saja menghilang dan tiba-tiba saja muncul kembali dengan wajah memar disana-sini,”

“Apa yang terjadi??” tanya JoHae antusias. Ia mulai terlarut dalam cerita orang tuanya.

“Appamu membatalkan pertunangan kami!” seru omma dengan mimik yang sangat meyakinkan.

“Seriously??” tanya JoHae tak percaya.

“Yes, tapi itu karena appa mau melamar omma secara resmi, sayang,” jawab appa. Kini omma dan appa sudah saling bertatapan. Nyaris saja mereka tenggelam dalam dunia mereka kalau JoHae tidak ambil tindakan.

“Omma! Appa! Argh! Why both of you always do something like that in front of me?!”

“Mianhe, honey. From the story, you’ve already know that your daddy is a romantic man, right?”

 

Story 2:

“Your mommy tried to tempt me,”

“For what?” tanya JoHae

“Soalnya appamu bersikap dingin sama omma. Omma takut kalau appa tergoda sama rekan-rekan bisnisnya yang saat itu jauh lebih seksi dari omma,” jawab omma

“Apa yang omma lakukan appa?”

“Kau tak boleh tahu. Bagian ini appa skip sampai kau besar nanti,” ujar Donghae appa sambil tertawa puas. Entah apa yang menyebabkan dia merasa sepuas itu.

“Lalu ternyata apa yang menyebabkan appa dingin pada omma?”

“Appa kan harus menahan diri untuk tidak menyentuh omma sampai nanti setelah mereka menikah,” jawab appa

“Tapi karena itulah, omma jadi tahu kalau appa adalah orang yang posesif,” sahut omma

“Darimananya?”

“Jangan mendekati JoHee,” seru omma dengan suara yang ia ubah seperti appa. “Appamu mengatakan hal itu dulu pada Eunhyuk ajjushi,”

“Yaa JoHee! Jangan ceritakan bagian itu!”

 

Story 3:

“We were married in catwalk stage,” ujar appa yang membuat mata JoHae berkilau saking antusiasnya dengan cerita satu ini.

“How come?!”

“Ommamu yang merencanakan. Saat itu appa sudah diambang keputus-asaan karena ommamu tak menjawab lamaran appa selama 4 tahun menunggu. Appa nyaris memutuskan pertunangan kami tapi untung saja Eunhyuk ajjusi datang tepat waktu dan menyadarkan appa,”

“Singkat cerita, kami menjadi peraga wedding dress yang ommamu rancang khusus kami berdua. Namun saat mau kembali dari stage, omma menahan appa dan tiba-tiba saja Eunhyuk ajjushi datang sambil membawa Alkitab,”

“Jadi omma dan appa beneran menikah disana?”

“Of course not. Eunhyuk ajjushi bukan seorang pendeta kan? Jadi itu masih belum resmi,” ujar appa menjelaskan.

“Kau melupakan sesuatu, appa,” sahut omma tiba-tiba. “Asal JoHae tau, appa JoHae ini cengeng sekali,” lanjut omma

“Bagaimana bisa omma?”

“Appamu menangis tersedu-sedu saat tahu omma mendapatkan beasiswa ke Paris. Appa memohon omma untuk tidak mengambil beasiswa itu,”

“Yaa JoHee..” ujar appa namun hanya dibalas dengan evil smirk oleh omma.

“Kalau appa cengeng kenapa omma masih mau sama appa?”

“Because guys always make girls cry, but if a girl can make a guy cry, she must really mean something to him. Kau akan mengerti hal itu nanti,” ujar omma sambil mengelus kepala JoHae.

“Aah, aku terharu, JoHee. May i kiss you?”

“With pleasure,”

“OMMA! APPA! I AM HERE!!!!!!!”

 

Story 4:

“Mengingat pernikahan di Paris saat itu tidak resmi, appa segera mengajak omma pulang ke Seoul. Dan tanpa basa-basi, appa segera meluncur ke rumah calon mertuanya, rumah haraboeji,”

“Apa yang appa lakukan omma?”

“Proposing me, dear,” jawab omma.

“Apa yang haraboeji katakan pada appa?”

“She is my princess. What else can you give to her?” Haraboeji bertanya seperti itu pada appa,”

“Lalu appa jawab apa?” tanya JoHae kini pada appanya.

I will make her my queen,” jawab appa sambil menatap lekat omma yang wajahnya sudah berser-seri.

“Apa omma dan appa tak pernah bertengkar?” tanya JoHae penasaran karena selama ini yang ia lihat adalah kedua orang tuanya itu sangat lengker seperti perangko dan amplop.

“Eh? Tentu saja pernah..”

 

Story 5:

“Bertengkar karena apa?” tanya JoHae

“Karena appamu cemburu,” sahut omma

“Appa ternyata sangat pencemburu ya, omma,” imbuh JoHae yang disetujui omma dengan anggukannya.

Appa tak mau kalah, ia segera memberikan pembelaan, “Itu kan sindrom yang biasa dialami saat menjelang pernikahan JoHee,”

“Memangnya apa yang terjadi omma?”

“Teman omma, Yesung ajjushi, datang ke rumah ini untuk mengucapkan selamat. Appa salah paham. Singkat cerita, setelah Yesung ajjushi pulang, appa langsung marah-marah pada omma,”

“Seperti apa kalau appa marah omma?”

“I hate you JoHee! I swear I won’t forgive you!” appa berkata seperti itu pada omma,”

“Serius, omma?? Lalu omma bagaimana??”

“She said, “Sorry,” she pouting lips then do aegyo,” jawab appa.

“Lalu appa bagaimana omma??”

“Appa jawab, “Okay, you are forgiven,

“Secepat itu omma dan appa baikan?”

“Tentu saja secepat itu kalau omma minta maaf menggunakan cara aegyo seperti itu,” balas appa sedikit kesal. Mungkin karena akhirnya anaknya tahu kalau appanya ini sangat lemah pada ommanya?

 

Story 6:

“Apa ada JoHee-Donghae’s Love Story edisi tentang JoHae, omma?” tanya JoHae pada omma.

“Tentu ada. Itu adalah Story ke-enam. Saat itu omma sedang mengandung dirimu dan kandungan omma sudah cukup besar,”

“Lalu bagaimana ceritanya omma?”

“Ah! Appa ingat! Yang appa selalu ngikutin omma kemana-mana itu kan?” tanya appa meyakinkan dirinya dan omma mengangguk.

“Mungkin saking khawatirnya, appa selalu mengikuti omma kemanapun omma pergi. Entah itu ke butik, ke toko buku, bahkan ke dapur saja appa selalu mengikuti omma. Sampai omma jadi kesal!” seru omma diujung kalimat.

“Lalu omma bagaimana?”

“Appa! why you keep following me? Omma bertanya seperti itu pada appa,”

“Appa answer, “I wanna catch you, honey”

Eh why??” tanya omma pada appa saat itu,”

“He answer again, “Well, my mom said I should follow and catch my dream ,

“Akhirnya omma tak jadi marah pada appa?” tanya JoHae yang dijawab oleh anggukan kepala ommanya. Sedangkan JoHae hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tanda ia tak percaya dengan tingkah kedua orang tuanya itu.

“Mengapa aku merasa lebih dewasa daripada omma appa ya?”

*****

“Kurasa 6 cerita tadi sudah sangat menggambarkan sifat kedua orang tuaku. Sejujurnya, masih banyak kisah cinta mereka yang menarik untuk aku ceritakan. Namun tanganku capek kalau harus menulis semuanya,”

“Meski kadang aku merasa  mereka memalukan dan terlalu berisik, tapi aku sadar kalau itu justru kelebihan mereka sebagai orang tua. Aku sangat sayang pada appaku yang gentle namun cengeng dan yang romantis namun posesif itu. Aku juga sayang pada ommaku yang polos, lugu, dan bisa mengimbangi kepribadian appaku itu,”

“Saat ini aku tak tahu bagaimana membalas kebaikan mereka tapi aku akan berusaha untuk jadi anak yang manis agar mereka bangga padaku. Sekian, dan terimakasih,”

“Mianhata, kalau omma dan appa…”

“Siapa bilang kami tak datang?” tanya seseorang yang membuat semua perhatian kini tertuju pada sumber suara yang berasal dari pintu masuk kelas ini. “Kami sudah ada disini sejak JoHae membaca story 1 tadi,” lanjut wanita cantik itu, omma JoHae.

“Omma.. Appa?” guman JoHae tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Tega sekali JoHae tidak memberikan surat ini pada omma dan appa, hem?” tanya Donghae appa lembut sambil memamerkan surat pemberitahuan yang sudah lecek.

“Mi-mianhe, omma, appa, soalnya kalau omma dan appa datang pasti…”

“Bukannya itu Lee JoHee? Designer terkenal itu kan?”

“Kau benar! Berarti pria yang ada disampingnya itu Lee Donghae? Pria terkaya nomor 1 di Korea Selatan yang terkenal karena wajahnya yang tampan dan otaknya yang cemerlang?”

“Kalau begitu berarti….”

“KYAAAAA!!!! Lee JoHee! Lee Donghae! Boleh kami minta tanda tangan kalian??”

“KYAAA!”

“KYAA!”

“KYA..”

JoHae menghela nafas dalam-dalam. Apa yang  Ia perkirakan benar-benar terjadi. Sekarang semua ibu-ibu sudah berkerumun mengerumuni omma dan appa. Ada yang minta tanda tangan, ada yang minta dibuatkan baju oleh omma, ada yang sksd untuk dan mulai menawarkan appa asuransi, ada juga yang langsung ingin mengajak appa menjadi mitra bisnisnya, dan masih banyak lainnya. Yang jelas sepertinya acara pertemuan orang tua ini akan batal.

“Ternyata omma dan appa JoHae orang terkenal ya?” tanya salah seorang teman JoHae.

“Bisa dibilang seperti itu..”

*****

“Omma.. Appa..” panggil JoHae sambil mengetuk pintu kamar kedua orangtuanya itu. Ia menunggu sesaat, tapi tetap tak ada sahutan dari dalam.

“Omma.. Appa..” panggilnya lagi tapi tetap saja usahanya nihil. Akhirnya ia memutuskan untuk masuk. Ia memegang kenop pintu kamar itu lalu memutarnya. Entah beruntung atau malah buntung karena pintu itu tidak terkunci, yang jelas saat pintu itu terbuka, JoHae dapat melihat kedua orang tuanya sedang bermesraan di balkon kamar dengan posisi appa yang memeluk ommanya dari belakang.

“Honey, you know i can touch the star?” tanya Donghae appa pada omma.

Omma dengan segera memutar kepalanya 90 derajat agar bisa menatap lurus mata appa. “Wow, how can you do that?” tanya omma balik.

Appa tersenyum sambil menatap omma. Wajah mereka semakin mendekat sampai akhirnya bibir mereka bersentuhan. “See? That is easy, right?” ujar appa setelah melepas ciumannya.

“OMMA!! APPA!! I AM HERE!!!!!!!!”

END.