Annyeonghaseyo chingudeul🙂

saya kembali dengan ff yang sangat ringan ini🙂

semoga menghibur ya😀 your comments are love for me so leave ur comment here (งˆヮˆ)ง

 

CAST:

Cho Kyuhyun

Song Hyejin

 

start!

 

“Kyaaa, Hyejin! Lihat itu Cho Kyuhyun! Lihat Hyejin! Dia selalu tampan seperti biasanya ya!” pekik Hamun yang sedari tadi memperhatikan pria bernama Cho Kyuhyun yang baru saja melenggang masuk ke lapangan, dari jendela kelas kami. Aku yang duduk dibelakangnya tidak memberikan respon apapun karena menyalin PR saat ini lebih penting daripada pria bernama Cho Kyuhyun itu.

“Omona Hyejin! Betapa perfectnya dia! Artis papan atas Korea Selatan! Sejak usia belia sudah mengumpulkan banyak penghargaan musik. Memiliki paras bak pangeran dari negeri dongeng, hati selembut malaikat, senyum yang mampu menaklukan hati para gadis hanya dalam hitungan detik. Dia sudah sangat tenar, tapi masih peduli dengan pendidikan. Buktinya dia masih tercatat sebagai salah satu murid berprestasi di sekolah kita. Aigoo! Hyejin beruntung sekali bisa sekelas dengannya! Bahkan duduk disampingnya! Aigooo!!” celoteh Hamun panjang lebar dengan girang yang lagi-lagi tak kuperdulikan.

“Hyejin, kenapa diam saja? Ngomong dong,” rengek Hamun yang membuatku terpaksa menghentikan kegiatanku sesaat. Aku menatap Hamun dengan kesal. “Lalu kau mau aku bagaimana Hamun? Heboh sepertimu? Maaf, tidak akan. Aku bukan penggemar ataupun antisnya. Aku tak peduli dia mau begini atau begitu. Yang jelas untuk saat ini, aku harus menyelesaikan pr ini sebelum sem datang,” jelasku pada Hamun.Ya, memang siapa Kyuhyun itu sampai aku harus peduli padanya? Dia hanya manusia biasa seperti aku, hanya saja nasibnya lebih beruntung.

“Omona, dingin sekali Hyejinku sayang ini,” celoteh Hamun sambil menatapku dengan ekspresi kaget yang dibuat-buat. Menyebalkan memang melihatnya sok imut, tapi itulah yang membuatku selalu tertawa saat bersamanya.

“Yaa, Hamun ah, berhentilah melakukan aegyomu itu. Aku jadi ingin mencubitmu,” pintaku setengah bercanda.

“Araseo Hyejin sayang,” balas Hamun masih dengan gaya aegyonya. Aku tak bisa berkata-kata lagi, hanya bisa tertawa melihat tingkahnya.  Aku pun tersadar bahwa masih ada PR yang harus diselesaikan, sebelum sem datang. Terpaksa aku harus kembali mengabaikan Hamun.

*****

Bel tanda istirahat baru saja dibunyikan. Seharusnya sebagai seorang siswa, aku senang dengan hal ini, namun sejak aku sekelas dengannya, aku jadi benci saat seperti ini. Saat kelasku menjadi sesak dan berisik karena begitu banyak wanita yang datang berkunjung ke kelasku hanya sekedar untuk berfoto dengan Cho Kyuhyun. Norak!

Namun yang membuatku lebih kesal lagi adalah, laki-laki itu tak pernah mengatur fans-fansnya sehingga sangat menganggu orang lain, termasuk aku. Terlalu sesak, sampai untuk keluar dari bangku saja tidak bisa.

“Oppa, foto denganku ya,” ujar salah seorang gadis. Kalau tak salah dia Hyeri, gadis yang populer di kalangan para lelaki, yang juga ketua fanclub Cho Kyuhyun di sekolah ini.

“Maaf, aku tak bisa melakukan fan service selama di sekolah,” jawab Kyuhyun ramah diiringi senyum yang biasa ia gunakan untuk membuat para fangirlsnya pingsan seketika. Tapi gadis itu ternyata keras kepala juga. “Aigo, ini bukan fanservice tapi friendservice. Arraseo?” sahut gadis itu memaksa.

Aku yang memang mendapat posisi duduk di samping tempat duduk Kyuhyun bisa melihat dengan jelas kalau ia terganggu. Ia tak mau difoto, namun sepertinya ia tak kuasa menolak. Ia hanya bisa memberikan sebuah senyum terpaksa.

“Sini biar kufotokan,” ujarku menawarkan diri. Hamun menarik lengan bajuku, “Apa yang kau lakukan?!” desis Hamun panik yang hanya kubalas dengan wink ‘tenang saja’. Tentu saja gadis itu tanpa ragu langsung memberikan ponselnya padaku.
“Tapi habis ini kalian keluar dari kelas ini ya,” ujarku yang langsung disetujui mereka. Aku pun segera mencari angle terbaik, yaitu kaki mereka. Hamun yang berada dibelakangku hanya bisa menahan tawa melihat hasil jepretanku.

“Selesai,” sahutku lalu memberikan kamera itu pada Hyeri yang sudah sangat tidak sabar untuk melihat hasil jempretnya. Aku dapat melihat perubahan raut wajahnya saat ia melihat hasil foto tadi dari kameranya.

“Yaa Song Hyejin!” pekik gadis itu sambil menatapku tajam. Namun itu tak membuatku gentar sedikit pun, karena aku tak melakukan hal yang salah.

“Kau sudah kufoto bersama Cho Kyuhyun. Sekarang, keluar dari kelasku,” ujarku tenang namun tajam. Ia dan gadis yang lain hanya bisa membalasku dengan tatapan ‘awas kau Song Hyejin!’ lalu pergi dari kelasku.

“Hamun, kajja, akhirnya kita bisa keluar juga,” seruku pada Hamun sambil mengajaknya keluar kelas. Namun saat aku diambang pintu, aku mendengar namaku dipanggil.

“Hyejin sshi,” aku menoleh ke sumber suara dan ternyata Cho Kyuhyun lah yang memanggilku.

“Gamsahamnida,” ujarnya diiringi senyuman lembut mempesona, tapi entah mengapa aku tak menyukai senyuman itu.

“Untuk apa? Aku tak melakukan apa-apa untukmu,” jawabku singkat lalu melanjutkan langkahku yang sempat terhenti.

Sepanjang jalan menuju kantin, tak henti-hentinya Hamun mengomeliku karena sikapku yang, -kata Hamun- terlalu dingin pada Kyuhyun.

“Habis dia menyebalkan,” jawabku jujur sebagai pembelaan

“Yang bisa ia lakukan hanya tersenyum. Seperti dibuat-buat. Aku tak suka itu,” imbuhku pada pembelaan diriku.

“Dia seperti menyiksa dirinya sendiri dengan berakting menjadi seorang pria sempurna baik di film maupun di kehidupan nyata. Apa dia tak lelah? Harusnya dia belajar untuk jadi dirinya sendiri,” jelasku yang untuk beberapa saat tidak mendapat tanggapan apapun dari Hamun.

“Ada apa?” tanyaku pada Hamun yang menatapku dengan matanya yang sudah membesar dan mulutnya yang sudah terbuka setengah.

Hamun menutup mulutnya lalu meletakan tangannya dipundakku sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tak kusangka kau sangat perhatian pada Kyuhyun, Hyejin. Jadi sebenarnya kau ini fansnya juga?” tanya Hamun yang dengan cepat kusanggah.

“Ya! Hamun ah! Jangan berkata tidak-tidak!” gerutuku dan berlalu meninggalkan Hamun yang sudah membuatku sedikit kesal.

Aku fansnya? Aigo, bahkan pikiran untuk mengenalnya lebih jauh saja tak pernah terlintas diotakku.

*****

“Hyejin, kau mau uang?” tanya oppaku tanpa basa basi saat aku baru saja pulang dari sekolah, tepat saat aku baru saja membuka kenop pintu rumahku. Aku yang terlalu kaget hanya bisa menatapnya heran lalu mengangguk.

“Baiklah, kalau begitu selama 1 bulan ini kau gantikan aku di tempat kerjaku ya Hyejin,” ujar oppaku yang membuatku makin tak percaya.

“Nee??” pekikku menyuarakan rasa ‘tak percaya’ku. Selama ini yang kutahu, oppa bekerja disebuah agensi, tapi aku tak tahu bekerja dibagian mananya, bahkan aku tak tau di agensi apa dia bekerja. Dia merahasiakannya dan aku juga tak sepenuhnya perduli.

“Pekerjaanmu sangat mudah. Kau hanya perlu datang ketempat ini,” ujar oppaku sambil menyerahkan sebuah alamat apartemen beserta denah dan sebuah kunci, “Lalu bereskan segala sesuatu yang kau anggap tak beres di dalam apartemen itu,” lanjut oppaku yang membuatku makin bingung dengan pekerjaannya yang sesungguhnya apa.

“Oppa, kau bukan seorang pembantu kan?” tanyaku ragu yang dibalas dengan jitakan “hangat” oleh oppaku.

“Pekerjaanku ini sangat elit tahu! Enak saja menyamakan dengan pembantu. Kau justru harus berterima kasih padaku karena banyak gadis diluar sana yang ingin sekali pekerjaan ini,” omel oppaku yang tak ingin kubantah karena aku sudah lelah.

“Ingat! Mulai besok sepulang sekolah kau harus ke tempat ini,” ujar oppaku yang lebih terkesan memerintah. Dasar kejam.

“Arraseo!” balasku sambil berlalu meninggalkannya. Namun langkahku terhenti saat aku mengingat sesuatu yang harusnya kupertanyakan dari tadi. “Berapa gajiku?” tanyaku to the point.

Oppaku menatapku sambil menyunggingkan senyum simpul. “200.000 won + bonus dariku,” ujar oppaku yang membuat tercengang. Dengan segera aku menghampirinya lalu memeluknya
“Gomawo Oppa!!! Aku akan bersungguh-sungguh!!” pekikku kegirangan.

*****

“Hyejin ah, karoukean yuk,” ajak Hamun dan temanku yang lain. Sesungguhnya, aku ingin sekali ikut menikmati masa mudaku bersama kalian teman. Hanya saja selama sebulan ini, demi 200.000 won dan bonus dari oppaku, aku akan bekerja.

“Mianhe, aku tak bisa,” jawabku lirih.
Karena sekolahku melarang kerja sambilan, sebaiknya sebelum mereka bertanya lebih jauh, aku segera keluar dari kelas dan berjalan menuju tempat yang sudah dituliskan oppaku.

Begitu aku tiba di kamar apartemen yang diberitahukan oppaku, mulutku hanya bisa menganga saking takjub dengan apartemen yang terlalu berkelas ini. Furnitur yang ada diruangan ini semuanya adalah merek ternama. Dipikiranku hanya “Berapa biaya yang di keluarkan untuk membeli apartemen ini?”

Namun pikiranku teralihkan saat seseorang memanggil nama oppaku. “Joong Ki? Kaukah itu?” serunya. Suara seorang pria. Dan sepertinya aku mengenal suara ini. Tapi siapa ya?

Namun pikiranku lagi-lagi teralihkan saat ada seorang pria keluar dari salah satu kamar sambil menggosok-gosok rambutnya yang basah dan hanya dengan handuk yang menutupi bagian bawahnya. Ini pertama kalinya aku melihat seorang pria nyaris telanjang selain oppaku dan hal itu membuatku mematung tak bisa berkutik, tak bisa berbicara.

“Yaa Joong Ki sshi, katanya kau mau ijin sebulan tapi kenapa kau…” pria itu menghentikan kalimatnya saat ia sudah benar-benar menatapku sekarang dan membuatku bisa menatapnya dengan jelas juga.
Mataku membesar, menyatakan ‘ketidak-percayaan’. Cho.. Kyuhyun?

Ia menatapku dengan mata yang juga sudah membesar lalu beralih kebadannya. Ia menatapku, lalu kembali menatap badannya. Menatapku, menatap badannya. Menatapku, menatap badannya…

“AAAAAAAAA!!!” teriak Kyuhyun sambil menutup dadanya. Namun kurasa itu adalah pilihan yang salah karena handuk dibagian bawah tidak memiliki pertahanan sehingga…

“KYAAAAAAAA!!!” teriakku ganti saat handuk itu, jatuh tanpa peringatan.

“KYAAAAAAAA!!!”

“AAAAAAAAAA!!!”

*****

Sunyi, berbanding terbalik dengan kondisi tadi. Tadi.. Arrggh! Aku menggeleng-gelengkan kepalaku untuk menghapus ingatan yang menjadi sejarah paling kelam dalam hidupku. Aku menghela nafas panjang dan membenamkan wajahku ke meja makan berkelas ini. Aku benar-benar frustasi.

“Hei, makanlah,” ujar seseorang yang suaranya membuatku kembali mengingat hal tadi.

“Arrrrrgh!” geramku sambil menggeleng-geleng kepalaku untuk kesekian kalinya dalam 5 menit terakhir. Ini sungguh membuatku tertekan. Aku harus berhenti dari pekerjaan ini.

“Kyuhyun sshi,” panggilku yang membuatnya berhenti menyumpitkan nasi ke dalam mulutnya.

“I’m quit,” ujarku. Sunyi. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya. “A- aku tak tahu apa hubunganmu dengan kakakku. Dia hanya menyuruhku untuk membereskan apartemen ini selama sebulan dengan gaji 200.000 won. Tapi sekarang aku berubah pikiran. Aku tak akan mengambil uangnya dan kau boleh mencari orang lain,” terangku. Aku bangkit dari tempat dudukku dan hendak berlalu meninggalkannya. Namun saat aku diambang pintu kamar apartemennya, ia memanggilku.

“Hyejin sshi,” panggilnya. Namun suara ini terkesan beda. Ehm, suara ini terdengar jernih, tegas, dan berani, membuatku tak berkutik saat ia memanggilku.

“A-apa?” tanyaku ragu. Entah mengapa saat aku menatap matanya, aku merasa gentar. Seperti bukan Song Hyejin yang biasanya, dan ia seperti bukan Cho Kyuhyun yang biasanya.

“Kau tak boleh pergi dari tempat ini,” ujarnya

“Mwo?” tanyaku tak percaya dengan pendengaranku. Tapi saat ini aku lebih tak percaya dengan penglihatanku. Kyuhyun yang selalu terlihat lemah, ramah, dan lembut, sekarang terlihat seperti .. Evil. Sebuah evil smirk tersungging jelas diwajahnya.

Dia berjalan mendekatiku, lalu menangkup wajahku dan hal itu terpaksa membuatku mendongak karena dia lebih tinggi dariku. Ia menatapku lekat.

“Selama sebulan ini, kau adalah milikku, Song Hyejin. Dan kau tak akan bisa kabur dariku,” ujarnya yang membuatku naik pitam dan mendorongnya. Entah darimana aku dapat kekuatan itu.

“Maksudmu apa?!” tanyaku emosi

Kini ia berpindah tempat. Ia duduk di sova ruang tamunya yang terlihat sangat empuk. “Jadi begini, Joong Ki oppamu, adalah managerku. Ia mengurusku. Namun sebulan ke depan ia mengambil cuti tanpa bilang ke agensi, karena agensi pasti tak akan memberikannya izin. Jadi ia berjanji padaku akan mencari penggantinya, dan ternyata itu kau, Song Hyejin. Aku sendiri baru tahu kalau kau ternyata adiknya Joong Ki,” jelasnya. Ia terdiam sebentar sambil menyeringai padaku, “Tapi, kalau kau keluar seenaknya begini, aku pasti kerepotan. Jadi aku harap kau bisa bekerja sama ya, Hyejin sshi,” ujarnya

“Kalau aku menolak?” tanyaku menantang

“Aku akan melapor ke agensi dan resikonya kakakmu akan dipecat. Bagaimana?” ujarnya sambil mengeluarkan sebuah ponsel dari kantongnya.

“Ja- jangan!” seruku yang membuatnya menyunggingkan sebuah senyum kemenangan.

“Bagus. Kalau begitu pulanglah,” ujarnya yang membuatku senang.

“Secepat ini?” tanyaku girang

Kyuhyun bangkit dari tempat duduknya dan menghampiriku, “Nde, namun 1 jam lagi kau sudah harus disini,”

“Ndee???” pekikku makin tak percaya

“Aku menyuruhmu pulang untuk kemas-kemas. Karena selama sebulan ini kau akan tinggal bersamaku disini Hyejin,” ujarnya sambil mencubit pelan kedua pipiku diiringi sebuah senyum simpul yang menyebalkan.

*****

“Aku benci padamu, Kyuhyun. Aku benci padamu, Kyuhyun. Aku benci padamu, Kyuhyun. Aku benci padamu. Aku benci padamu, Kyuhyun,” berulang kali aku menggumankan kalimat itu, seperti membaca mantra, berharap Pria bernama Cho Kyuhyun itu tidak pernah ada.

“Yaa! Kau kenapa Hyejin ah?” tanya Hamun bingung. Aku mengacak rambutku frustasi dan beralih pada Hamun, “Argh! Cho Kyuhyunmu itu ternyata sri..”

“Hai Hyejin!” panggil sebuah suara yang menenggelamkan suaraku. Sebuah suara yang membuatku teringat akan hari-hari kelam yang akan kujalani.

“Aku benci padamu, Kyuhyun,” hanya itu yang bisa kukatakan padanya. Arrgh pria ini membuatku frustasi. Ia malah tertawa sambil merangkul bahuku.

“Kau benar-benar lucu ya Hyejin,” ujarnya ramah diiringi senyum manis yang mengkamuflase evil smirknya lalu berlalu meninggalkanku yang sudah ditatap dengan ratusan pasang mata dari berbagai sudut.

Aku tahu sekarang. Ia melakukan hal ini untuk membalasku. Ia membuat semua gadis di sekolah ini membenciku.

“Kau dan Kyuhyun ada apa?” tanya Hamun bingung. Aku ingin menceritakan yang sesungguhnya padanya namun kurasa itu hanya akan membuat masalah ini makin bercabang. Jadi aku hanya bisa tersenyum dan menggeleng, menyatakan kalau aku tidak apa-apa.

*****

“Jadwal hari ini khusus untuk recording Running Man di Lotte World. Hanya itu,” ujarku setelah membaca agenda yang kemarin diberikan kakakku. Semua jadwal Cho Kyuhyun selama sebulan sudah tersusun rapi.

“Lalu mengapa manager duduk di situ? Seharusnya manager kan yang menyetir?” tanyanya yang sudah duduk di bangku supir.

Aku menatapnya sinis. “Kau mau aku yang menyetir lalu kau kehilangan wajah tampanmu akibat kecelakaan, atau bagaimana?” tanyaku sebal namun ia hanya tertawa.

“Baiklah, kau beruntung sekali ya Hyejin bisa disupiri oleh supir tampan sepertiku. Kita berangkat!” serunya sambil memasukkan gigi lalu menginjak kopling.

Aku merebahkan badanku disandaran kursi. Aku menikmati angin AC yang sepoi-sepoi meniup wajahku dan aku mengijinkan angin itu membuatku tertidur.

Entah sudah berapa lama aku tidur, tiba-tiba aku terbangun. Aku memegang dadaku dan mendapati jantungku masih berdetak sangat kencang. Ya, ini karena mimpiku yang aneh. Aku bermimpi ada seorang pria yang menciumku, tapi aku tak tahu siapa dia. Wajahnya tak tergambar jelas dimimpiku.

“Yaa Hyejin! Sudah sampai!” seru seseorang. Aku menoleh ke sumber suara dan mendapati Cho Kyuhyun duduk disampingku.
Ah iya, ternyata aku tertidur selama perjalanan menuju Lotte World.

“Ohmona, Running Man daebak! Ia bisa mengosongkan taman bermain!” pekikku kagum saat aku masuk ke dalam Lotte World.

“Kyuhyun sshi! Bolehkah aku main?” tanyaku tanpa sadar yang disambut dengan tawa kecil oleh Kyuhyun. Aish, bodoh sekali, ia datang kesini untuk kerja.
“Sudahlah. Tak jadi. Jangan dipikirkan,” desisku sebelum Kyuhyun sempat berkata apa-apa.

Syuting pun dimulai. Setelah 8 jam berlalu, semua terlihat lelah, terutama Kyuhyun. Namun ia tenyata sangat profesional. Ia masih sanggup untuk tersenyum pada semua kru setelah syuting ini berakhir.

*****

“Kyuhyun sshi, makanannya sudah ja..” kalimatku terputus saat aku mendapati pria itu sudah tertidur dengan posisi duduk di sova bahkan sebelum ia melepas sepatunya.

Aku menghampirinya, membaringkan badannya di sova itu. Melepaskan sepatu dan dasinya agar ia lebih nyaman. Aku terduduk di lantai agar posisi wajahnya sejajar denganku. Aku menatap lekat wajahnya. Menelusuri lekuk wajahnya yang baru kusadari, memang sangat sempurna. Tapi diwajah yang tak bercacat itu, tersirat jeritan ‘aku lelah’, yang untuk pertama kali membuatku merasa kalau ia bukan pria yang beruntung.

Sikap Cho Kyuhyun saat di sekolah, atau di lingkungan pekerjaan, sangat berbeda dengan sikapnya saat di rumah. Keharusan untuk menjaga image pria perfect membuatnya harus menjadi orang lain meski ia sendiri tak menginginkannya.

“Kau pasti lelah harus memakai topeng sebagai pria yang sempurna setiap saat,” gumanku tanpa sadar menyuarakan isi hatiku.

“Tapi saat bersamaku, kau boleh menjadi dirimu sendiri. Kau bebas melakukan apapun yang kau mau,” ujarku lagi meski aku tahu ia tak mendengar.

“Apapun yang aku mau?” sahutnya tiba-tiba yang membuatku sedikit terperanjat.

“A-aku yang membangunkanmu?” tanyaku gagap, sedikit merasa bersalah

“Tentu saja, aku mana bisa tidur kalau kau berbisik terus,” omelnya yang membuatku merasa bodoh.

“Tapi apa yang kau katakan tadi benar? Aku boleh melakukan apa saja?” tanyanya lagi yang kujawab dengan anggukan mantab.

“Kau tak akan marah?” tanyanya lagi dan sekali lagi aku mengangguk mantap.

Sekejap aku merasa waktu seakan berlalu begitu cepat. Saat ini aku tak tahu apa yang terjadi pada otak Kyuhyun, tiba-tiba saja ia mencium keningku, tersenyum penuh arti -meski aku tak tahu artinya apa- padaku, dan langsung saja melenggang meninggalkanku yang masih mematung berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.

Namun yang paling tidak kumengerti adalah diriku sendiri. Apa yang terjadi padaku? Aku tak tahu. Yang kutahu dengan pasti hanya jantungku yang berdebar kencang, dan parahnya semua itu disebabkan oleh Cho Kyuhyun.

*****

“AAAAA!!!” teriakku.

Aku terjatuh dan segera melepas sepatuku. Yang kutemukan adalah sepatuku sudah dipenuhi paku payung dan ada tulisan “Jangan dekati Cho Kyuhyun”

Sialan. Siapa yang mengerjaiku sampai seperti ini? Aku mencoba bangkit, namun kakiku tak berdaya. Aku terjatuh. Dan begitu yang terjadi selama beberapa kali. Sedangkan orang-orang disekelilingku hanya menatapku dengan tatapan heran, tak peduli, dan puas.

Aku ingin minta tolong pada Hamun namun ia belum datang. Aku hanya bisa menghela nafasku untuk menghilangkan emosiku. Sekali lagi aku mencoba untuk bangkit, namun tetap tidak bisa.

“Naik,” ujar sebuah suara yang sangat kukenal. Cho Kyuhyun.

Ia sudah berada disampingku sambil menawarkan punggungnya untuk dinaiki. “Kalau aku menerima tawaranmu, sama saja seperti aku keluar dari lubang harimau tapi masuk ke lubang singa,” ujarku

“Kalau begitu, mulai sekarang aku yang akan melindungimu. Kau percaya padaku kan?” ujarnya sambil memberikanku senyuman lembut yang menghapus semua ketakutan dan keraguanku. Aku naik ke punggung Kyuhyun dan membiarkannya membawaku entah kemana.

“Siapapun yang berani menyakiti Hyejin, aku tak akan segan-segan menghabisi kalian. Sekalipun kalian seorang wanita. Camkan itu,” ujar Cho Kyuhyun yang membuatku takjub dan senang disaat yang bersamaan.

Selang beberapa detik kemudian bisik-bisik jelas terdengar ditelingaku. Kyuhyun membawaku pergi diiringi berbagai jenis tatapan mata. Ada yang menatapku benci dan ada yang menatap Kyuhyun heran. Namun saat ini aku tak memperdulikan itu semua. Aku terlalu gembira dengan perubahan pria ini.

“Wah, wah, wah, tuan muda Cho Kyuhyun sudah mengubah imejnya ya,” sindirku berniat menggodanya namun ia hanya tertawa, tapi kali ini adalah tawa yang tulus.

“Kira-kira besok bagaimana ya?” tanyanya padaku

“Mulai besok lakukanlah apa yang mau kau lakukan,”

“Apapun?”

“Ya, apapun,” ujarku sambil menyenderkan kepalaku dipundak sebelah kirinya.

“Hyejin,” panggil Kyuhyun yang membuatku menoleh kearahnya namun tiba-tiba bibirnya menempel tepat dibibirku.

Aku mematung, sedangkan ia malah tersenyum simpul, untung saja otakku segera kembali bekerja. Tak segan-segan aku menjitak kepalanya. Tak peduli meski ia harus operasi atau apa setelahnya.

“YAA! Itu ciuman pertamaku!” seruku kesal namun ia malah tertawa.

“Mianhe, itu ciuman keduamu,” balasnya yang tak kumengerti.

“Aku pernah tidak sengaja menciummu sewaktu kau tidur dalam perjalanan ke Lotte World kemarin. Kau terlalu… manis,” ujarnya tulus yang membuatku mati kutu karena malu dan senang disaat yang bersamaan.

*****

“Kajja, beres!” gumanku puas melihat hasil masakanku yang berjejer dimeja ini. Aku berjalan menuju kamar Kyuhyun untuk mengajaknya makan malam namun “Kyuhyun..” suaraku tenggelam saat aku mendengar Kyuhyun sedang berbicara pada seseorang melalui ponselnya.

“Joong Ki, kapan kau akan pulang?” tanyanya. Ternyata ia sedang berbicara dengan oppaku
“Tak bisakah lebih cepat?” tanyanya yang membuat dadaku sedikit merasakan sakit. Kenapa dia ingin oppa segera kembali? Apa ia tak mau bersamaku.”Aku tak bisa lebih lama bersama Hyejin. Aku tak akan mengekangnya lagi dengan jadwalku yang sangat banyak itu,” ujarnya

Hatiku mencelos mendengar percakapan itu. Air mataku sudah terkumpul dipelupuk mataku. Kenapa tiba-tiba jadi seperti ini? Padahal aku baru saja menyadari kalau aku mencintainya. Cho Kyuhyun jahat.

*****

“Hyejin, kau kenapa?” tany Kyuhyun saat kami sedang menyantap sarapan pagi. Aku tak menjawab dan terus melakukan kegiatanku.

“Matamu bengkak,” ujarnya sambil menyentuh mata kananku namun aku menepisnya.

“Aku duluan,” ujarku sambil berlalu meninggalkannya. Aku membiarkan air mataku jatuh tanpa pertahanan.
“Kalau memang tak mencintaiku, jangan memberikanku harapan,” gumanku sambil sesengukan.

*****

“AAAA!” teriakku. Lagi-lagi paku payung. Apa tak puas dengan yang sebelumnya? Kakiku sakit sekali, sampai untuk berdiri pun aku tak bisa. Sama seperti hatiku. “Sakit,” rintihku sambil sesenggukan

“Hyejin, gwencana?” tanya Kyuhyun yang tiba-tiba saja muncul dengan raut muka khawatir diwajahnya.

“Naik,” perintahnya namun tak kuperdulikan

“Naik, Hyejin,” ujarnya sekali lagi

“Aku tak mau,” jawabku

“Kau apa-apaan sih? Cepat naik! Kau harus diobati!” bentaknya sambil menarik tanganku

“AKU TAK MAU!” teriakku sambil menepiskan tangannya. Air mata yang sedari tadi tertahan kini sudah mengalir bersamaan dengan emosiku yang tak stabil. “Kalau kau tak suka padaku, jangan membuatku berharap seperti ini. Seenaknya saja berubah. Hari ini kau sangat baik padaku, besoknya kau minta aku berhenti dari pekerjaanku,” ujarku sesenggukan

Kyuhyun menjentikkan jarinya, “Kau pasti mendengar percakapanku dengan Joong Ki?” tanyanya sambil tersenyum padaku. “Kurasa kau salah paham. Kajja,” ujarnya sambil memberikanku piggy back

*****

“Kenapa tiba-tiba memelukku?” tanyaku sedikit kesal

“Karena aku tak mau melepaskanmu,” ujarnya yang membuatku naik pitam dan mendorongnya.

“Jangan mempermainkan perasaanku! Katakan dengan jelas!” bentakku sambil menarik kerah bajunya

“Bukankah semua yang kulakukan padamu sudah cukup jelas mengambarkan perasaanku? Aku yang memintamu menjadi menagerku, aku yang menciummu, aku yang memberikan piggy back padamu,”

“Tu-tunggu, kenapa piggy backnya termasuk dalam hitungan bukti cintamu?” tanyaku bingung

“Hyejin ah, apa kau lupa aku artis papan atas korea selatan? Tubuhku adalah asetku. Hanya orang yang kucintai saja boleh menaiki punggungku,” ujarnya yang membuat memukulnya pelan.

“Intinya, aku mencintaimu,” ujarnya sambil menatapku lekat. Tak ada kepalsuan dimatanya

“Lalu mengapa kau minta oppaku untuk segera kembali? Mengapa kau minta oppaku untuk menghentikanku?” tanyaku masih sedikit kesal

“Aku tak mau kau bersamaku karena paksaan. Aku ingin kau bersamaku karena kau juga ingin, Hyejin,” ujarnya

“Harusnya kau bilang itu dari awal,” gerutuku sambil memeluknya

“Mianhe,” ujarnya

“Oia Hyejin, aku bukan tipe orang yang mudah melepaskan apa yang sudah kudapat. Jadi aku tak akan melepaskanmu meskipun kau ingin. Arrachi?”

*****

Aku menjinjit untuk mengambil cangkir yang ada di lemari atas dapur tuan Cho ini. Nyaris saja aku terjatuh kalau Kyuhyun tak tiba-tiba muncul dibelakangku.

“Kalau tak bisa, panggil aku, sayang,” ujarnya sambil memberikan cangkir itu padaku

“Kau tadi sedang tidur, aku tak tega membangunkannya,” ujarku sambil membuat kopi untuknya.

“Aigo, baik sekali Hyejin-ku ini,” ujarnya sambil memeluk dari belakang

“Yaa, Kyuhyun aah, kalau begini aku tak bisa bergerak,”

“Kalau begitu berikan aku morning kiss dulu,” ujarnya sambil memutar badanku.
Kini kami sudah berhadapan dan ia sudah mengunciku dengan tangannya yang berada dikanan kiriku. Wajahnya sudah sangat dekat……

“Yaa! Kyuhyun ah!” teriak seseorang yang kukenal suaranya sebagai suara oppa.

“Kyuhyun ah, lepaskan aku. Oppa datang,”

“Kenapa? Kau kan pacarku,” ujarnya sambil mencium bibirku

“Kyuhyun ah, kenapa ada sepatu Hyejin ya di depan?”

“Yaa Cho Kyuhyun! Apa yang kau lakukan pada adikku!!?!?!!!”

END