Tittle : Miami Night

AUTHOR : @Chaekyungbee

Cast :
– Cho Kyu Hyun [Marcus Cho]
– Brittany Shin [Shin Chae Kyung]

Rating : PG15+
Genre : Romance, Night Life

Warning : Ada kissing scene yang mungkin bikin muntah muahahaha😄 typo harap dimaklumin yaa^^

Disclaim : Cerita ini datangnya dari Tuhan begitu juga Kyuhyun yang diturunkan untuk jadi pendamping saya muahahaha..

Note : Inspired by Miami Night games hahahahaha😄 game ini bener-bener dah,ckckckc *geleng-geleng.. and i’ve been a jetster there !! muahahahaa !!!

Happy Reading^^

Miami.
Siapa yang tidak mengenal kota itu?
Kota yang sangat terkenal dengan kegiatan ‘one stand night’ nya atau relationship sejenis itu.
Aku menyanderkan tubuhku ke ujung sofa sambil bolak-balik menatap jam dinding.

“Mau jam berapa lagi yeoja itu pulang,” gumamku pelan.

Aku menarik napas berat. Tak lama pikiranku pun melayang ke saat dimana aku baru tiba di tempat ini. Miami.

-Flashback-

Aku melangkahkan kakiku dengan ringan setelah aku sampai di kota ini. Miami.

Aku merasa bebas. Bebas dari segala beban dan tekanan yang diberikan appa. Aku tahu appa tak akan mencariku ke kota ini. Satu dari ribuan kota yang paling enggan dikunjungi olehnya namun disinilah kini aku. Di kota ini, Miami.Aku terus berjalan sambil mencari penginapan atau hotel mungkin. Sebenarnya tidak sulit mencari tempat tinggal di kota segemerlap

Miami, hanya saja aku termasuk tipikal pemilih.

Aku mengedarkan pandanganku kekanan kekiri hingga mataku terhenti dan tertuju pada sesuatu. Bukan, lebih tepatnya pada sesosok yeoja dengan mini dress hitam yang tengah bersandar pada kap BMW i8 sambil memutar handphone miliknya.

Mataku terpaku padanya. Segala aktivitas di sekitarku tidak dapat mengganggu ‘kegiatan’ dadakan milikku. Aku terpaku bukan karena lekuk tubuh gadis itu yang terekspos. Bukan, tapi aku merasa tertarik. Ada sesuatu hal yang menarik diriku untuk memperhatikan gadis itu lebih lama dan intens lagi. Kesan pertamaku bagiku, ia berbeda. Dan seakan-akan besok ada gempa yang menghancurkan kota ini hingga aku tak dapat melihat gadis itu lagi.

Aku terus menatap gadis itu, tanpa sengaja mata kami bertemu. Aku tertegun. Aku merasa terhipnotis pada tatapan datar gadis itu yang dilayangkannya padaku.

Aku sadar bahwa aku sudah jatuh pada pesona gadis itu. Gadis yang baru 3 menit lalu kutatap. Aku merasakan euphoria yang membucah di dadaku hingga aku harus terhempas jatuh saat melihat gadis itu tengah berciuman dengan seorang pria yang mendatanginya.

Ciuman itu terkesan dalam dan menurutku tidak tahu malu. Aku tahu, orang-orang di sekitar mereka tidak peduli. Bagi mereka itu hal paling biasa dan sudah jadi konsumsi publik.

Aku mengerang pelan, entahlah kenapa aku ingin sekali menghabisi pria yang dengan beraninya menyentuh ‘gadisku’ itu. Gadis yang bahkan tidak aku tahui namanya. Aku merutuki diriku lalu melangkah pergi. Meninggalkan pemandangan yang sukses membuatku sesak.

***

Sudah satu minggu aku menetap di Miami. Aku masih menginap di hotel mengingat uang milikku tidak sanggup untuk membeli atau menyewa apartmen mewah.

Aku mengunyah pelan pasta di depanku hingga mataku tak sengaja menangkap sesosok gadis yang tak asing.

Gadis tanpa nama yang satu minggu lalu sukses meluluhlantakkan hatiku. Bukan tidak punya nama, hanya hingga hari ini aku tak tahu siapa namanya.

Gadis itu terlihat berbeda dengan apa yang kulihat satu minggu lalu. Hari ini, ia mengenakan sweater kebesaran, skinny jeans, sneaker putih, serta rambut yang digelung asal, sangat berbanding terbalik dengan pakaiannya malam itu. Mini dress hitam, heels senada dengan tinggi 10cm.

Aku bahkan akan menganggap gadis itu kembarannya jika aku tidak melihat tatapan datar gadis itu yang sangat tak asing bagiku.
Gadis itu tampak memesan sphagetti bolognase, white espresso dengan pancake durian sebagai dessertnya. Sambil menunggu pesanannya, gadis itu tenggelam novel yang ia bawa. Sungguh sangat terlihat kontras dengan imej ‘sexy’nya satu minggu yang lalu.

Aku memandang takjub gadis itu. Gadis itu sukses membuatku makin tertarik dan penasaran.
Aku sengaja menjadi stalkernya untuk ‘memuaskan’ rasa penasaranku. Menjaga jarak di belakang gadis itu, mengikuti kemanapun tujuan gadis itu.

Aku tersenyum kecil saat melihat gadis itu memasuki daerah rumah sakit. Bukan senyum meremehkan, namun senyum tulus yang begitu saja terkembang saat melihat gadis itu tengah menghibur dan tertawa bersama para pasien di rumah sakit itu.

“Benar-benar gadis yang menarik.”

Aku kembali mengikuti gadis itu, dan kali ini aku benar-benar tertegun saat mendapati gadis itu memasuki sebuah gereja kecil di pinggiran kota.

Gadis itu terlihat berdoa dengan khusyuk, dan sesekali terdengar isakan dari bibirnya.
Aku mengerutkan dahi. Aku sungguh benar-benar penasaran. Jika diukur dengan termotemer mungkin sudah mencapai angka 100 derajat.
“Sungguh gadis yang unik.”

Aku terus mengikuti gadis itu hingga terhenti pada sebuah rumah. Rumah itu tidak besar, bisa dibilang mungil namun terkesan elegan dan nyaman sekaligus. Disisi bagasinya terpakir Audy A5, Ferrari Hitam, serta BMW i8 yang kulihat minggu lalu.

Dihalaman depan terdapat jembatan kecil yang menghubungkanteras, dibawah jembatan terdapat kolam ikan yang dialiri dari air mancur yang terdapat di tengah halaman. Rumah yang unik, di tengah kota metropolitan yang hingar bingar ini.

Hari sudah menunjukkan pukul 8 malam, namun aku tak kunjung ingin menghentikkan ‘kegiatanku’ ini. Aku ingin memastikan dulu benarkah gadis minggu lalu dan yang tadi kutemui adalah orang yang sama.

Aku menendang kerikil,aku mulai bosan ketika melihatnya keluar rumah, dan nampaklah sosok gadis yang minggu lalu kulihat. Dengan menggunakan mini dress merah menyala, ia berjalan menuju Audy miliknya.

Aku tak berkedip menatapnya. Sungguh tak percaya. Gadis itu berjalan angkuh hingga ia tenggelam dalam mobil yang membawa ia memecah keramaian Miami.

Aku menghela napas berat.
“Siapakah dirimu sebenarnya? Mengapa begitu banyak misteri pada dirimu yang membuatku semakin tertarik? Tertarik pada yeoja asing? Sungguh bukan diriku,” aku sedikit bergumam lalu beranjak meninggalkan tempat mengintai gadis itu.

***

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Mungkin pantun itu cukup untuk menggambarkan betapa beruntungnya aku saat ini.
Beberapa saat lalu aku menemukannya sedang ditodong. Entah punya keberanian dari mana hingga aku melawan penodong itu, padahal belajar bela diri pun tidak pernah.

Beruntung. Ya..beruntung karena menang dan tidak terkena lecet sedikit pun. Aku pun segera menghampirinya yang menunduk di sudut gang itu.

“Are you ok?” tanyaku sambil memperhatikan tubuhnya.

Siapa tahu ia dilecehkan atau bahkan dianiaya.
Ia mendongakkan kepalanya. Astaga..katakan jika aku bodoh, matanya sungguh menghipnotisku.

Benar-benar menghipnotis. Wajahnya sungguh cantik. Ada sedikit rona dipipinya. Dagunya sungguh menarik, disitu terdapat lesung pipit.

Manis sekali. Kulitnya putih layaknya orang Asia. Aku membeku memperhatikan tiap detail wajahnya. Mungkin jika akal sehatku sudah hilang aku akan menariknya ke hotel terdekat. Menyekapnya agar tak ada satu orang pun menyentuhnya.

“I’m ok. Thanks,” balasnya singkat, ia akan beranjak pergi saat aku tanpa sadar menarik tangannya.

“Don’t you want to pay my aid, lady?” tanyaku lantang. Sejujurnya aku gugup bertanya seperti itu, apalagi pada seorang wanita. Ini sungguh bukan diriku.

Ia menatapku jengah sambil tersenyum kecut.”What do you want? Money? Ah.. How much? 10000 dollars?” tanyanya skeptis.

Aku tertawa, sedang ia mengerenyitkan dahinya.

“Why? Something wrong huh?”

“Aniyo.. Ups.. I mean No,” aku mengutuki diriku. Saking nyamannya berada di sisi gadis ini, aku jadi menggunakan bahasa ibuku.

“Are you Korean?” tanyanya tepat sasaran.

Aku mengangguk,”Ya, i’m Korean.” Aku memandangnya lekat,”Why? Interested with me?”

“What? Hahaha.. It’s so ridiculous,” balasnya sambil tertawa kecil.

Deg..

Manis, ia sungguh cantik saat tertawa.

“Why do you laugh?”

Dia mengibaskan tangannya. “Ani, bukan apa-apa.”

Tunggu..

Tadi ia menjawab dengan bahasa korea? Bahasa korea? Apa dia..?

“Yeah, i’m Korean too just like you,” ujarnya santai seakan membaca pikiranku.

“Kau? Orang korea?” tanyaku tak percaya. Ia mengangguk sambil berjalan meninggalkanku. Tentu saja aku mengejarnya.

“Kau benar-benar dari Korea? Matamu tidak seperti orang Korea,” tukasku sembari menyamai langkahnya.

“Tentu saja. Aku campuran, ayahku Korea, sedang ibuku Amerika-Perancis.”

“Lalu bagaimana bisa kau tinggal di kota ini bukan di Seoul?”

Ia menatapku tak suka,”Its not your bussines Mr.”

“Ehm.. Geurae, aku minta maaf untuk itu. Mungkin itu privasimu. Tapi bisakah aku meminta tolong padamu?”
Aku sontak menghentikan langkahku, saat ia juga berhenti.

“Kau memerlukan apa? Cepat katakan. Aku tak punya banyak waktu untuk pria sepertimu,” katanya datar.
Aku tersenyum senang, semoga dia mau membantu.

“Aku butuh tempat tinggal, aku tidak mungkin tinggal lebih lama di hotel, jadi bisakah aku tinggal di rumahmu?”

“MWOOO?”

***

Akhirnya kami -aku dan gadis itu- di rumahnya, setelah berusaha merayunya untuk mengizinkan aku tinggal dirumahnya. Ternyata memang benar, rumah ini benar-benar nyaman.

“Kau bisa tidur di situ,” katanya sambil menunjuk sebuah kamar.
Aku mengangguk mengerti.

“Oya, anyway namamu siapa?”

Dia terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Kita sudah bicara panjang lebar, kau meminta tolong tinggal di rumahku, bahkan aku sudah menunjuk dimana kamarmu, tapi kita belum saling berkenalan, bahkan nama pun tidak. Oh.. Tuhan, kurasa ini benar-benar gila,” ia menggeleng tak percaya, sedang aku terkekeh pelan.

“Cho Kyuhyun imnida, kau?”

“Apa kau tak punya nama barat? Nama korea terlalu sulit diucapkan,” sahutnya santai.
Astaga gadis ini benar-benar..

“Marcus. Marcus Cho. Itu nama baratku, kau?”

“Brittany Shin.”

“Kau tidak punya nama korea?”

“Punya.”

“Apa?”

“Haruskah aku mengatakannya?”

“Kenapa tidak?”

“Karena aku tidak suka,” balasnya singkat. Aku menyipitkan mataku, gadis ini benar-benar misterius.

“Waeyo?”

“Apa aku harus menjawabnya?”tanyanya skeptis.

“Ya..jika tidak, cukup sebutkan nama koreamu saja,” jawabku santai sambil mengedikkan bahuku.

“Oh hell! Stranger sepertimu memang benar-benar menyebalkan,” gerutunya yang hanya ku balas dengan gedikan bahu serta kekehan kecil.

“Hhhh.. Nama koreaku Shin Chae Kyung, puas kau?” jawabnya kesal.

Aku tertawa puas, entah puas untuk apa yang pasti aku senang sekali saat ini.

-Flashback End-

Aku tersenyum pahit. Kejadian itu terjadi 1 tahun lalu.
Dulu aku tak tahu apa-apa tentangnya. Kini, aku tahu sebagian besar tentang gadis itu.
Shin Chae Kyung.

Gadis misterius yang menarikku jatuh ke dalamnya.
Seperti yang ku katakan tadi, aku tahu sebagian besar tentangnya.
Tidak percaya?

Baik aku ceritakan sedikit tentangnya. Lahir di Los Angeles, 28 Februari 1993. Umurku dan dia terpaut 5 tahun tapi ia enggan memanggilku oppa. Umur 19 tahun, ia sudah Sarjana dari jurusan Management. Dia itu sedikit brilliant. Ayahnya pengusaha software terbesar di Korea, sedang ibunya pemilik butik terkenal di Perancis. Ia sangat menyukai hujan, jika sudah hujan ia pasti akan bermain di halaman. Ia menyukai musim dingin dan salju. Aku tahu makanan kesukaannya adalah pancake durian asal Indonesia, serta tiramisu. Aku tahu ia suka keripik kentang dan coklat. Aku tahu ia alergi seafood, tapi suka sekali laut. Ia pecinta coffee tapi juga milkshake strawberry.

Ia suka mendengarkan musik, dan membaca novel.

Ia suka film-film bergenre romantis.

Ia suka melihat bintang di malam hari, ia punya insomnia.

Ia tidak bisa tidur dengan lampu menyala, suka memeluk bantal atau boneka ketika ia tidur.

Punya penyakit bronkitis sejak kecil, dan aku wajar saja jika terkadang napasnya sesak.

Dia punya banyak kebiasaan unik, dan salah satunya adalah clubbing dan berhubungan dengan banyak pria.
Ia seperti perempuan murahan? Tidak, aku tidak pernah berpikir demikian.

Meskipun berhubungan dengan banyak pria, tapi ia real masih perawan. Ia berhubungan hanya sebatas hugging dan kissing. Ia tidak pernah memberi lebih.

Aku heran akan kebiasaan, tapi katanya ia punya alasan untuk kebiasaannya itu. Dan hal itu yang tak ku tahui, aku juga tidak tahu lagi tentang keluarganya dan penyebab ia tinggal disini.

Sejujurnya aku tidak menyukai bukan aku amat sangat membenci kebiasaannya itu. Aku benci saat tahu akan ada pria lain lagi yang menyentuhnya dan itu membuat amarahku naik. Tapi aku bisa berbuat apa? Aku hanya seorang pria pengecut yang mencintai gadis itu dan munafiknya aku memakai label ‘teman’ untuk selalu dekat di sisinya. Setiap malam aku ingin berteriak di wajahnya bawa aku tidak suka, aku benci kebiasaan malamnya itu. Aku amat benci.

Aku ingin menghalanginya pergi, menariknya ke kamarku, dan mengurungnya agar tidak ada lagi pria lain yang menyentuhnya.
Tapi aku benci mengakui, aku sungguh pengecut. Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku membutuhkannya disini.

Aku hanya bisa menatap kepergiaannya dalam diam dan menunggu kepulangannya dengan cemas.

Aku layaknya seorang appa yang menunggui anak gadisnya yang sedang jalan dengan kekasihnya.

Aku melirik lagi jam lagi. Sudah pukul 2 dan dia belum pulang.
Aku mengacak rambutku frustasi,”Argh.. Shin Chae Kyung berhenti membuatku frustasi…” erangku keras.

***

Aku hampir terlelap saat mendengar suara mobil masuk. Aku beranjak ke arah pintu, seperti biasa membukakannya pintu.

Aku memasang wajah sangar yang tidak dipedulikan olehnya.

Ia hanya melewatiku tanpa merasa bersalah. Ya tentu saja tanpa rasa bersalah, aku bukan ‘siapa-siapa’ nya.

“Kenapa wajahmu seperti itu? PMS?” tanyanya datar tanpa melihatku. Ia melewatiku begitu saja menuju kamarnya yang terletak di seberang kamarku.

“Kenapa baru pulang?” tanyaku dingin.

“Bukan urusanmu Marcus. Dan ini baru jam 3, tidak usah berlagak seperti suamiku,” balasnya sebelum masuk ke kamarnya.

Aku terdiam. Iya, aku tahu itu, aku sadar. Aku bukan siapa-siapanya namun aku begitu protektif terhadapnya.
Salahkah??

***

Aku sedang membuat sandwich saat melihatnya keluar dari kamar hanya menggunakan kemeja kebesaran yang membalut tubuhnya hingga ke paha. Jika aku bejat, mungkin aku sudah menidurinya dari dulu tapi lagi-lagi cinta membuatku untuk bertahan untuk tidak menyentuhnya.

Aku memang pernah menciumnya saat ia tengah tertidur karena demam. Aku yang saat itu tengah khilap mengecup bibir merahnya.

Untung hanya kecupan singkat jika lebih kurasa ia sudah menendangku jauh dari rumahnya.

“Kau baru bangun?” sapaku begitu ia duduk di meja makan.

“Eum..” ia mengambil sandwich buatanku dan meneguk habis susunya. Setelah itu ia terburu-buru meninggalkan meja makan dan berlalu menuju kamarnya.

Ia kembali keluar dengan blazer hitam dan rok rample mini nya dengan terburu-buru,saat aku tengah mencuci gelas bekas susu.

“Kau mau kemana?” tanyaku penasaran.

“Bertemu Bryan. Aku ada janji dengannya.” ia meraih heels yang ada di rak.

“Sepagi ini?” ia mengangguk, terlihat ia membawa sebuah tas yang agak besar.

“Oya, kau jangan menungguku pulang. Bryan dan teman-temannya yang lain mengajakku berpesta dan bermalam di Savage Beach, kemungkinan aku baru pulang besok siang. Jaga rumah. See ya..”ujarnya sebelum menghilang di balik pintu.

Aku berlari ke arah jendela, dan melihatnya tengah di jemput seorang pria. Aku tidak dapat melihatnya jelas karena pria itu tidak turun dari mobilnya.

Aku hanya melongo, menatap kepergian mereka. Apa yang dia lakukan? Menginap bersama pria yang tidak tahu asal usulnya?

Perasaanku benar-benar tidak enak. Sesegera mungkin aku mengganti baju dan mengambil kunci mobil.

Aku sedang menyetir saat ponselku bergetar menandakan sebuah pesan.

Aku membaca pesan itu sambil terus memegang setir.

From : Naui yeoja~
Where will you go?

Bagaimana bisa dia tahu aku pergi??
Aku mengetik balasan dengan cepat.

To : Naui yeoja~
Kemana saja. Aku bosan dirumah.

 From : Naui yeoja~
Geurae. Cepat kembali.

Astaga yeoja ini…

Aku memperlambat laju mobilku. Aku tahu mobilnya tak jauh dariku, hingga tahu aku akan pergi. Sengaja selama 1 jam aku memberhentikan mobilku di pinggir jalan, agar ia tak tahu aku mengikutinya. Setelah yakin mobilnya menjauh, aku kembali melajukan
mobil yang ku kendarai.

***

Dua jam perjalanan hingga aku tiba di Savage Beach. Pantainya sungguh indah, namun benar-benar menjijikan. Siang hari bahkan kau bisa melihat mereka ‘bermain’ di pasir. Sialan! Kalau begini bisa-bisa Chae Kyung diapa-apakan oleh mereka.
Aku bisa melihat Chae Kyung dan ‘rombongannya’ memasuki sebuah villa. Nampaknya mereka menyewa untuk satu malam villa itu.
Aku mengamati mereka dengan teliti dari mobil, sampai aku jatuh tertidur.

***
Aku menggeliat pelan, lalu mengucek mataku yang agak perih.
Astaga..

Aku tertidur selama 5 jam? Lama sekali. Bagaimana bisa?
Aku kembali ke kegiatan awalku. Mengintai. Saat ini baru pukul 7, tapi sepertinya mereka sudah memulai pesta pantai mereka.
Aku tidak melepaskan sedetik pun pandangan mataku dari padanya. Sungguh aku lebih peduli pada kegiatan yang sedang ia lakukan dibanding dengan perutku yang sedari tadi memanggil.

Aku melihatnya tak lama ditarik oleh seorang pria. Entah pria mana lagi itu, dan aku melihat mereka berciuman. Ciuman yang lumayan
dalam dan sungguh memuakkan. Mereka benar-benar tidak tahu malu.

Tak lama pria itu terlihat memaksa menyentuh Chae Kyung lebih dalam dan Chae Kyung memberontak. Pria itu bermain kasar lalu menampar Chae Kyung. Bukan sekali tapi tiga kali.

Sialan! B*st*rd!

Aku akan membunuhnya sekarang juga.

Aku bergegas menghampiri mereka, menarik pria itu dari atas tubuh Chae Kyung, dan meninjunya habis-habisan.
“You! Pervert! B*st*rd! You’re f*ck! Don’t ever touch my girl anymore! Got it! Cih! Loser!” hinaku penuh amarah tanpa menghentikan tinju yang ku layangkan padanya.

Setelah puas memberi tanda pada pria itu aku segera menghampiri Chae Kyung.

“Gwaenchana?” aku melihatnya hampir pingsan dengan bekas memar di pipinya dan mini dressnya yang setengah terbuka. Ia mengangguk setengah sadar, kemudian aku menggendongnya ke mobil.

Seorang pria menghadang jalanku ke kursi kemudi.

“What happen? Why do she has fainted?” tanyanya cemas.

“I have no time to explain. Its my name card, call me if you wanna know. I should take her to doctor. So please, move!” sentakku membuatnya terdiam lalu mengambil kartu nama milikku.

Aku mengemudikan mobil dengan kecepatan abnormal. Hanya satu keinginanku. Memastikannya baik-baik saja.

Aku sungguh benar-benar cemas ketika tiba dirumah ia masih tak sadarkan diri.
Aku sesegera mungkin menghubungi dokter, perawat, atau ahli kesehatan lainnya.
Aku baru bisa tenang saat dokter Casey mengatakan bahwa Chae Kyung hanya kaget, dan sedikit anemia.

Ya..walaupun belum sepenuhnya. Aku meminumkan obatnya melalui mulutku lalu mengompres perlahan bekas memar di wajahnya.
Aku menyusuri wajahnya dengan jariku.

“Kau benar-benar hebat, membuatku kelimpungan saking mengkhawatirkanmu. Tahukah kau aku benar-benar membencimu yang membuatku jatuh ke dalam pesonamu lalu menghempaskanku, membuat remuk di hatiku,” aku bergumam pelan.

Ia terlihat gelisah dalam tidurnya.

“Berhenti.. Hentikan semuanya. Aku benci.. Sangat menbenci kalian. Hentikan… Ku mohon,” igaunya. Aku mengelus perlahan kepalanya.

“Tenanglah. Siapa yang kau benci? Mereka tidak ada disini. Tenanglah,” kataku menenangkannya.
Ia mulai tenang dalam tidurnya.

“Kau benar-benar misterius. Terlihat sangat kesakitan, namun kau mendiamkannya? Apa sebenarnya yang membuatmu seperti ini?” tanyaku lirih. Ia sungguh terlihat rapuh saat ini, dan aku ingin menjaganya. Melindunginya, mulai saat ini, aku harus benar-benar menjaganya.

Teleponku berdering. Ada panggilan masuk dari nomor tak dikenal.

“Hallo,” sapaku lemah.

“Hallo. Can i speak with Marcus Cho?” tanyanya ragu.

“Yes, its me. Who is there?” tanyaku malas.

“My name’s Bryan. Brittany’s friend. Ah..aku sedang malas berbicara dengan English sekarang. Bagaimana keadaan Brittany? Tentu kau mengerti kan apa yang ku katakan,” ujar orang itu.

“Eum..tentu saja. Ternyata kau Korean juga. Dia baik-baik saja. Saat ini ia sedang beristirahat.”

“Ya.. I’m Korean. Kim Ki Bum imnida. Kau Cho Kyuhyun kan? Ah..begitukah? Syukurlah.. Aku percaya padamu dapat menjaganya. Sudah ya…”

“Tunggu.. Ada yang ingin ku tanyakan padamu,” aku memotong pembicaraannya sebelum ia menutup teleponnya.

“Tentang?”

“Chae Kyung, maksudku Brittany.”

“Brittany? Geurae, temui aku besok jam 4 di The Manor. Jangan terlambat. Sampai jumpa besok.”

Terdengar suara handphone yang ditutup. Astaga orang ini benar-benar.

***

Saat ini aku sedang perjalanan ke The Manor salah satu tempat clubbing terbesar di Miami. Aku berani meninggalkan Chae Kyung setelah yakin ia masih terlelap karena bius yang diberikan dokter kemarin.

Begitu memasuki kawasan The Manor, mataku berjelajah mencari sesosok pria. Itu dia..
Aku segera menghampirinya yang sedang memainkan wine di gelasnya itu.

“Apa yang kau ingin tanyakan?” tanyanya to the point begitu aku duduk di hadapannya.

“Kau sungguh to the point,” cibirku.

“Jika bukan menyangkut Chae Kyung, aku mungkin tidak akan se-to the point itu.”

Aku mengerutkan dahiku,”Apa sebenarnya hubunganmu dengan Chae Kyung?”tanyaku jengah. Entah kenapa aura pria ini terasa sangat ah..aku tidak bisa mengungkapkannya.

“Sahabat.”

“Benarkah hanya sahabat?”tanyaku meyakinkan.

Ia memandangku dengan pandangan remeh,”Lalu kau ingin mendengar apa?”

“Baiklah. Lupakan itu. Sejak kapan kau mengenalnya?”

“Junior High. Sampai universitas, dia adalah teman sekelasku.”
Bryan menuang wine ke gelas kosongnya.

“Kau ingin tahu lebih banyak?” tanyanya seakan mengetahui pikiranku yang sedari tadi tak meresponnya.
Bryan menarik napas, bersiap untuk bercerita.

“Dia gadis jenius yang ceria, ramah dan senang membantu orang lain. Sempurna, itulah sosoknya. Ditambah wajahnya yang cukup manis. Aku sempat tertarik padanya, namun sepertinya berubah menjadi rasa perhatian seorang kakak terhadap adiknya terutama saat masuk SMA, ia berubah menjadi seorang ‘pemain’. Prestasinya masih tetap namun sikapnya jadi sedikit angkuh, dan aggresive.”

Bryan mengambil sedikit jeda.
“Ia terus seperti itu hingga kini, aku terus melarangnya tapi ia seakan tak peduli. Aku hanya bisa menjaganya dari jauh agar ia tak kebablasan. Aku ingin sekali mencintainya agar ia menghentikan ‘kebiasaannya’ yang aku sendiri tidak tahu alasannya. Tapi aku tahu, aku tidak bisa menyukainya lebih dari seorang kakak.”

“Tapi entah kenapa, aku merasa sesuatu yang berbeda denganmu,” sambungnya.
Aku menyipitkan mataku tanda tak mengerti.

“Apa maksudmu?”

“Kau tidak perlu pura-pura bodoh Kyuhyun-ssi. Aku tahu perasaanmu pada adikku itu.”

“M-mwo? Kau? Ba-bagaimana bisa?” tanyaku tak percaya.

“Oh.. Ayolah Kyuhyun-ssi, when you’re in love. You’ve lose control. Hanya pesanku, ikuti saja perasaanmu. Apa yang akan kau lakukan. Ah waktuku denganmu sudah habis. Saatnya menikmati dunia. Sampai jumpa lagi, Kyuhyun-ssi.”

Bryan, ia meninggalkanku dengan penuh pertanyaan.

***
Aku baru tiba dirumah, saat melihatnya keluar kamar dengan pakaian malamnya.

“Mau kemana kau?” tanyaku dingin.

“Party,”jawabnya singkat.
Aku mengerang pelan. Gadis ini, benar-benar menanggalkan kewarasanku.
Aku mencekal tangannya.

“Kau tidak boleh pergi,” kataku tegas.

“Kenapa?”

“Kenapa? Apa kau tak peduli dengan apa yang terjadi padamu semalam hah?” sentakku sambil mengeratkan pegangan tanganku.

“Itu sudah biasa terjadi,” katanya sambil berusaha melepaskan genggaman tanganku.”Lepaskan tanganku Marcus.”

“Tidak akan. Aku tidak akan membiarkanmu keluar sejengkal pun dari rumah ini,” ujarku sedikit mengintimidasi.

“Apa? Kau… Kau tidak punya hak melarangku! Kau bukan siapa-siapaku!” balasnya sewot.

“Ya..kau benar, aku bukan siapa-siapamu! Puas kau?” bentakku. Kulihat ia terperangah.

“Kau membentakku? Membentakku? Kau berani-beraninya membentakku?”

“Ya aku membentakmu. Karena kau gadis bodoh dengan kebiasaanmu yang sungguh memuakkan! Aku benci! Aku sungguh benci saat melihatmu bermesraan dengan pria lain! Aku benci saat aku harus meredam emosiku untuk tidak membunuh pria yang menyentuhmu!

Aku benci! Aku benci jadi pihak yang merasa sakit karena kebiasaanmu itu!” aku menarik napas perlahan,”Tidak bisakah kau hentikan semua ini?” ujarku lirih.

Chae Kyung melayangkan pandangan merendahkan,”Tidak. Aku tidak bisa berhenti. Aku punya alasan setiap membuat jalan yang akan ku tempuh. Kau tidak punya hak mengaturku!” balasnya datar kemudian ia menyentak tanganku lalu beranjak menuju pintu.

“Aku mencintaimu,” sahutku lemah tapi masih terdengar olehnya.”Aku mencintaimu, dan karena itu aku punya hak untuk melarangmu.”

“Cinta?” ia menatapku sengit. “Cih.. Ironis. Setiap orang juga akan mengatakan begitu, tapi selanjutnya mereka akan berselingkuh, dan ketika ditanya mengapa, mereka akan mengatakan cinta mereka telah pudar.”
Ia berbalik menatapku,”Cinta, kau hanya tinggal menunggu kapan cinta itu pudar lalu kau akan meninggalkanku. That’s it.”

***

Aku mondar-mandir di ruang tengah tanpa mengalihkan pandanganku dari pintu masuk.
Ini sudah hampir jam 5 pagi dan dia belum juga kembali.
Tak lama terdengar ketukan pintu. Aku segera bergegas membuka pintu, dan terlihat Bryan tengah memapah Chae Kyung yang dalam keadaan mabuk.

“Sedari tadi dia merancau yang tak jelas, hampir saja keadaannya dimanfaatkan orang. Sepertinya dia mabuk berat,” tukas Bryan sambil menyerahkan Chae Kyung dalam keadaan setengah sadar.

“Thanks, sudah mengantarnya pulang dan menjaganya dengan baik.”

“Itu sudah jadi tugasku. Aku percayakan dia padamu. Aku pamit,” Bryan melambaikan tangannya dari mobilnya.

Aku memapah Chae Kyung masuk, ia terus merancau tak jelas.
Aku mendudukkannya di sofa, menepuk pipinya perlahan.

“Chae Kyung sadarlah, kenapa kau bisa mabuk seperti ini? Apa karena perkataanku tadi? Jika iya maafkan aku,” kataku perlahan sembari terus menepuki pipinya.

Ia terlihat membuka matanya, menatap mataku intens, tak lama kemudian ia menangis.

Ia menangis sampai tergugu, aku pun meraihnya dalam pelukanku.
“Aku benci mereka, mereka yang membuatku seperti ini, membuatku jatuh,” ujarnya dalam tangis. Perlahan aku mengelus rambutnya.
“awalnya mereka saling mencintai, tapi kini mereka saling menyakiti. Appa berselingkuh di depan mataku ketika aku SMA, begitupula dengan Umma. Mereka sungguh menjijikan!” aku mendengarkan ceritanya dengan baik.

“Mereka..mereka.. Menjijikan! Mereka tidak bercerai tapi saling menusuk dari belakang. Dan mereka hanya mengatakan bahwa perasaan mereka sudah pudar hingga harus seperti itu,” ia sudah menangis sesenggukkan.”Karna mereka, cinta seperti permainan.
Akan tamat bila sudah jenuh bermain. Bagi mereka cinta hanya alat kepuasan semata. Jadi salahkah aku seperti mereka dan tidak mempercayai cinta? Salahkah aku?”

Aku mengecup perlahan puncak kepalanya. Sengaja melonggarkan dekapanku agar dapat melihatnya.

“Kau tidak salah, sama sekali tidak. Tapi alangkah baiknya jika kau tidak tenggelam dalam dunia yang menjijikkan seperti orang tuamu.

Kau tidak sama seperti mereka, karena cintaku padamu bukan seperti mereka. Aku bukan orang tuamu yang akan memberi cinta sesaat.

Aku tulus mencintaimu, tidak bisakah kau melihatnya?” ujarku meyakinkannya. Ia menatapku dalam, senyum di sudut bibirnya terkembang.

“Aku sudah melihatnya dari dulu hanya saja aku mengabaikannya, dan juga perasaan ini.” aku menatapnya bingung, menuntut penjelasan lebih.

“Aku…aku juga mencintaimu,” jawabnya mantap.
Aku menatapnya tak percaya. Senyum dibibirku pun terkembang bahagia.

“Aku juga.. Aku sangat mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Saranghae.”

“Na do saranghae Kyuhyun-ah,” aku mengecup keningnya singkat.

Aku melepaskan kecupanku saat mata kami bertemu. Perlahan tapi pasti wajahku mendekati wajahnya.

Aku dapat merasakan hembusan napasnya.

Seakan mengerti tindakanku, ia menutup matanya. Tak lama bibir kami pun bertautan, aku mengecupnya lembut, lama-kelamaan ciuman kami makin meningkat.

Aku melumat bibir atasnya. Ia mengalungkan tangannya di leherku agar ciuman kami makin intens.

Kami terus melakukan French Kiss. Bibirku mulai beralih kelehernya, saat kesadaranku kembali.

Aku melepas pagutan bibirku dari lehernya.

“Tidak, aku tidak mau menyakitimu dengan melakukan ini. Aku tidak bisa, tidak. Ini tidak boleh terjadi,” aku menjauhinya, bergeser ke tempat yang lebih jauh dari tempat duduknya.

Ia tampak kecewa, tapi aku tak ingin menyakitinya.

Ia memelukku dari belakang.

“Aku percaya padamu. Dan aku ingin kau menandaiku sebagai milikmu.”

***

Aku menggeliat pelan di tempat tidur. Aku sedikit meregangkan ototku, saat mataku menangkap sosoknya yang tengah pulas hanya berbalut selimut di sebelahku.

Ya..tadi malam kami benar-benar melakukannya. Aku benar-benar bahagia, karna aku pria pertama yang menyentuh tubuhnya lebih dari pria lain. Dan aku sudah menandai bahwa ia hanya milikku.

Aku menariknya lebih dekat dalam dekapanku membuat kulit polos kami bergesekkan. Lalu mengecup bibirnya pelan.

“Morning kiss, honey.”

Ia tampak menggeliat sebentar lalu balas mendekapku.

“Eum..tapi ini masih sudah siang Kyu, aku juga masih lelah.”
Aku mengelus perlahan rambutnya.

“Aku tahu, tidurlah. Tadi kita ‘bermain’ terlalu lama.”

“Eum..gwaenchana. Aku juga menikmatinya.”

“Yasudah tidurlah.. Saranghae…”

“Eum.. Na do Kyu..”

Ia nampak kembali terlelap, aku menarik selimut dan akan terlelap saat ku dengar handphoneku bergetar.
Ada pesan masuk. Aku mengambil handphoneku perlahan agar tak mengganggu Chae Kyung.
Ku baca pesan yang masuk seketika aku membeku.

From : +822102364101
Miami.
Kota yang indah untuk berpesta tapi tidak untuk melarikan diri anakku.
Gadismu sungguh cantik Kyu, apa kau tak ingin mengenalkannya padaku?
Tunggu aku, aku akan menjemputmu Cho Kyuhyun.

“A-appa?”

-THE END-

Muahahahaha gimana ceritanya aneh?? ajaib?? hahaha lets coment guys^^
kalo sempet say hallo aja di blog pribadi aku..
http://chaekyungbee.wordpress.com

and last annyeong gamsahae^^
-bee-