Ready for the next part?
Yupp!!

Enjoy🙂

.Kyuhyun POV.
“Sasa kenapa tiba-tiba tidak enak badan ya? Padahal tadi dia sangat sehat sampai menghajar habis kita semua saat main monopoli,” tanya Sungmin hyung padaku.
“Aku juga tidak tahu, hyung,” jawabku.
Aku tidak tahu kenapa Sasa tiba-tiba merasa tidak enak badan. Apa makanannya tidak cocok dengannya tapi rasanya tidak mungkin karena itu. Dia bahkan tidak mau aku antarkan ke kamarnya.
“Kamu kenapa masih diam di sini?” tanya Eeteuk hyung padaku. “Cepat susul Sasa dong. Kalau dia sakit beneran gimana?”
“Tapi kita kan ada meeting sebentar lagi, hyung,” sahutku.
“Jangan lama-lama kalau begitu. Sudah sana cek dulu keadaan Sasa,” kata Eeteuk hyung.
Setelah mendapat izin dari Eeteuk hyung, aku langsung menyusul Sasa ke kamarnya. Aku ingin mengetahui dengan pasti apa yang terjadi padanya.

Aku langsung duduk di depan meja rias memikirkan semuanya. Ya tuhan, apa yang terjadi padaku. Kenapa aku jadi seperti ini? Kyuhyun Oppa hanya mengelus kepalaku tapi aku menjadi sangat kacau.
Tidak lama kemudian, bel pintu kamarku berbunyi. Dengan enggan, aku membuka pintunya. Aku melihat Kyuhyun Oppa berdiri di depan kamarku lalu masuk dengan tidak sabar.
“Kamu sakit ya, sasa?” tanya kyuhyun Oppa.
“Ani. Aku hanya merasa tidak enak badan,” jawabku.
Aku segera naik ke tempat tidurku dan menyelimuti badanku. Aku berusaha menghindari tatapan kyuhyun Oppa tapi dia malah duduk di sampingku. Tangannya memegang keningku lalu pipi dan leherku.
Tidaaaak. Oppa, cepat lepaskan tanganmu dari wajahku. Aku bisa mati kalo seperti ini terus. Aku berteriak-teriak dalam hati. Aku yakin seyakin-yakinnya, wajahku pasti sudah merah seperti kepiting rebus saat Kyuhyun Oppa memegang wajahku.
“Tapi, kau tidak panas kok, Sasa,” katanya.
“I…iya tapi a…aku gak terlalu fit saja,” sahutku.
“Aneh. Padahal tadi kau baik-baik saja. Ya sudah, kamu istirahat saja dulu. Nanti jam 1 aku akan menjemputmu untuk ikut SuJu latihan ya. Sekarang aku ada meeting.”
Aku ingin sekali menolaknya tapi aku takut menyesal kalo harus sendirian di dalam kamar sampai mereka pulang. Lalu aku ada ide. “Aku akan menyusulmu kesana dengan adikku ya. Boleh?” tanyaku pada Kyuhyun Oppa.
“Ehm, aku tidak yakin. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Soalnya fans-fans pasti mengerumuni hotel dan tempat kami latihan. Yang ada nanti kamu gak ketemu aku,” jawabnya. “Kamu suruh saja Ine untuk menyusul ya.”
Aku menganggukkan kepalaku pasrah. Kyuhyun Oppa lalu keluar dari kamarku untuk memberikan waktu istirahat untukku. Aku mencoba untuk tidak memikirkan hal-hal yang membuatku panas-dingin dan aku berhasil. Tapi keberhasilan itu baru tercapai sejam kemudian saat aku mulai tertidur.
Aku merasa baru tidur sebentar saat bel pintu kamarku berbunyi lagi. Aku terbangun lalu membukakan pintu. Ternyata Kyuhyun Oppa yang datang. “Gimana keadaanmu? Sudah baikan?” tanyanya.
“Lumayan,” jawabku berbohong. Bagaimana aku bisa menjadi lebih baik kalo sekarang aku kembali harus berdekatan dengan Kyuhyun Oppa. “Kita pergi sekarang?”
Kyuhyun Oppa menganggukan kepalanya. “Ayo, cepat ambil tasmu,” katanya.
Aku lalu mengambil tasku dan menutup pintu kamarku. Sebelum berangkat, Kyuhyun Oppa memasangkan topi dan kacamata hitam kepadaku.
“Buat apa topi dan kacamata ini?” tanyaku heran.
“Menyamarkanmu sesaat,” jawabnya.
Aku hanya patuh saja terhadapnya. Kyuhyun Oppa lalu mengajakku berkumpul dengan anggota SuJu lain yang telah dikawal ketat oleh sejumlah bodyguard. Aku tahu dia akan menggandengku, karena itu aku reflek menghindar. Sepertinya Kyuhyun Oppa sadar aku menghindari gandengannya tapi ia tidak berkomentar.
Kami dibagi menjadi tiga kelompok karena akan dipisah menjadi tiga mobil. Dari sini, aku tahu aku akan semobil dengan Kyuhyun Oppa, Donghae Oppa, Yesung Oppa dan Siwon Oppa. Kami turun ke lobi bersama-sama. Dari lobi, aku melihat begitu banyak fans Suju yang berteriak-teriak histeris di luar. Karena itu, kami dikawal ketat sampai masuk ke mobil. Jalan menuju mobil rasanya sempit dan sesak karena begitu banyak ELF yang mendesak kami.
Dengan terpaksa aku meraih ujung kaus Kyuhyun oppa karena aku tidak mau hilang dari rombongan. Kyuhyun oppa pun langsung menyuruhku untuk masuk telebih dahulu ke dalam mobil. Setelah semua lengkap, mobil pun berangkat menuju tempat latihan.
Selama perjalanan, aku berusaha untuk tidak mengadakan kontak dengan kyuhyun Oppa apalagi sampai bersentuhan dengannya. Meskipun dia duduk tepat di sebelahku tapi aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan Yesung Oppa yang lebih banyak mengajakku bicara dibandingkan yang lain.
“Kau tidak ada kuliahkah hari ini, Sa?” tanya Yesung Oppa.
“Ani, oppa. Kampusku sedang liburan semester. Makanya aku bisa ikut sekarang,” jawabku.
“Hahaha. Untung saja kampusmu libur. Oh iya, kamu besok nonton konser kami dengan siapa?”
“Oh, dengan adikku, Oppa. Tenang saja. Kami akan mendukung konser kalian selalu.”
“Bagus, bagus.”
Kyuhyun Oppa lalu menyela pembicaraanku dengan Yesung Oppa, “Kamu sudah telepon Ine? Katanya kamu mau dia menemani kamu.”
“Oh iya,” jawabku. Aku hampir saja lupa mengajak Ine untuk ikut melihat latihan Super Junior. “Halo, Ine?”
“Halo, Kak. Kenapa?” sahut Ine dari seberang sana.
“Kamu mau ikut nonton latihan Suju gak?” tanyaku.
“Maaaaaau,” jawab Ine semangat. “Dimana? Dimana?”
Aku sama sekali tidak tahu dimana mereka akan latihan maka dari itu aku bertanya pada Yesung Oppa karena aku sedang menghindari Kyuhyun Oppa, “Oppa akan latihan dimana?”
“Tempat kami konser besok. Stadium apa gitu. Pokoknya disana,” jawab Yesung Oppa.
Aku meneruskan jawaban Yesung Oppa kepada Ine. “Di tempat konsernya besok, ne. Cepet nyusul kakak ya. Daaaah.”
Aku lalu menutup telepon dan kembali diajak bicara oleh Yesung Oppa. “Adikmu umur berapa?”
“15, Oppa,” jawabku.
“Wuiiih, masih muda sekali. Beda 11 tahun denganku. Hihihi,” sahut Yesung Oppa. “Apa dia secantik kakaknya?”
“Hahaha. Oppa bisa saja. Terima kasih. Dia jauh lebih cantik dariku, Oppa. Nanti aku akan mengenalkanmu padanya,” kataku.
“Oke. Umurmu berapa Sasa?”
“20, Oppa. Emang kenapa?”
“Ah, kita tidak beda jauh. Kalau gitu, aku denganmu saja. Hahaha.”
Aku tertawa mendengar godaan Yesung Oppa. Aku merasa yang lain juga tertawa tapi ada satu orang yang justru menatapku dengan marah. Kyuhyun Oppa menatapku marah dan berkata, “Tampaknya kau baik-baik saja sekarang.”
Setelah itu, dia sudah menutup wajahnya dengan masker dan tidur membelakangiku. Aku tidak mengerti kenapa dia marah padaku. Memang sih aku yang salah selalu menghindarinya tapi itu reflek aku lakukan. Sumpah, aku gak sengaja melakukannya.

.Kyuhyun POV.
Sejak menjemput Sasa dari kamarnya, aku merasa dia menghindariku tanpa sebab yang jelas. Selama perjalanan dia juga mengabaikanku. Aku berusaha bersabar dan memaklumi bahwa Sasa memang sedang tidak enak badan tapi dia memunculkan sikap berbeda 180 derajat jika berhadapan dengan orang lain. Dia bahkan merasa sangat enjoy saat mengobrol dengan Yesung hyung. Apa yang sebenarnya terjadi pada anak ini.
“Kau tampaknya baik-baik saja sekarang, Sa,” kataku dengan pedas lalu menutupi wajahku dengan masker dan membelakanginya.
Aku benar-benar marah padanya sekarang. Sasa sungguh membuatku cemas sejak selesai sarapan dan membuatku tidak konsentrasi saat meeting tapi yang aku lihat barusan benar-benar tidak perlu dikhawatirkan. Dia berceloteh riang dengan Yesung hyung dan hyung yang lain. Dia bahkan bisa tertawa-tawa jika salah satu dari mereka mengeluarkan lelucon.
Sedangkan jika aku yang mengajaknya bicara, dia akan langsung memasang wajah “JANGAN DEKAT-DEKAT”. Dia benar-benar membuatku naik darah. Karena itu, begitu kami sampai di tempat latihan, aku langsung meninggalkannya. Biar saja dia berjalan dengan Yesung hyung atau Siwon hyung.

Sesampainya di tempat latihan sekaligus tempat konser, Kyuhyun Oppa adalah orang pertama yang turun dari mobil. Dia meninggalkan aku berjalan masuk bersama dengan Oppa yang lain. Saat sampai di dalam stadion, aku bertemu dengan Oppa-oppa yang lain yang tidak semobil denganku. Mereka sedang bersiap-siap untuk latihan.
“Yah, jadi tidak kejutan lagi buatmu deh kalau kamu melihat latihan kami,” kata Kangin Oppa padaku.
“Aku akan pura-pura terkejut besok, Oppa,” sahutku sambil tertawa.
“Ah, kamu memang yeodongsaeng yang paling mengerti. Aku jadi semakin menyukaimu,” kata Kangin Oppa lalu pergi meninggalkanku.
Aku mencari-cari Kyuhyun Oppa tapi tidak berhasil menemukannya sama sekali dan aku tidak tahu harus berbuat apa disini. Untung saja, Ine segera datang. Dia meneleponku untuk memberitahukan aku bahwa dia sudah sampai. Aku menyuruhnya segera masuk. Tidak berapa lama kemudian, aku sudah melihat Ine duduk di salah satu kursi penonton. Lalu akupun menyusulnya.
“Kamu sendiri kesini?” tanyaku pada Ine.
“Iya. Emang mau sama siapa?” jawabnya.
“Edo?”
“Haha. Aku udah putus kak. Dia ternyata menduakan aku. Sial.”
Aku duduk di sebelah Ine dan menonton latihan Suju untuk konser mereka besok. Aku melihat Kyuhyun Oppa sudah ada di panggung bersama yang lainnya padahal daritadi aku mencarinya. Tahu begitu, aku sudah duduk di sini dari tadi.
“Kyaa, Siwon Oppa sangat keren ya kak?” kata Ine tiba-tiba mengagetkanku.
“Ine, jangan mengagetkan kakak kayak gitu dong,” sahutku yang tidak berkomentar soal Siwon Oppa.
Bagiku, semua anggota Super Junior adalah yang terbaik tapi aku selalu hanya berfokus pada Kyuhyun Oppa. Seperti sekarang, aku menonton latihannya dengan seksama. Aku bahkan bisa menangkap Kyuhyun Oppa hampir kehilangan keseimbangannya saat menyanyikan Don’t Don.
“Ine, kamu naik apa kesini?” tanyaku hanya supaya ada obrolan.
“Mobil,” jawabnya singkat.
“Loh? Bukannya supir kamu dipakai abang ke luar kota ya?” tanyaku lagi. Aku curiga dia membawa mobil sendiri padahal dia belum punya SIM.
“Iya, kak.”
“Berarti kamu bawa mobil sendiri? Emang kamu udah punya SIM? Kamu kan masih belum cukup umur.”
“Tapi aku punya uang yang cukup untuk mendapatkan SIM di umurku sekarang, Kak. Kakak jangan berisik kayak emak-emak deh. Kalo aku bisa bawa mobil sendiri, kakak kan juga ikutan senang. Aku bisa nganterin kakak kemana-mana.”
Aku terdiam. Anak ini memang benar-benar selalu membuatku cemas. Sejak kecil, dia selalu saja suka cari masalah denganku sehingga sering membuatku kesal. Alhasil, setiap bertemu kami pasti berantem. Entah sejak kapan kami jadi sangat akrab seperti ini. Sejak sangat akrab inilah aku jadi mengerti lebih jauh tentang dirinya.
Ine adalah adik terbaik yang aku punyai tapi juga banyak ulah. Dia suka tiba-tiba kabur dari rumah dan nginep di kost ku karena bosan disuruh belajar terus. Sekarang, dia bawa mobil sendiri entah dengan sepengetahuan mamanya atau tidak.
Aku dan Ine menonton latihan Suju sambil sekali-kali mengobrol. Aku sedang tidak berniat banyak bicara dan begitu juga dengan Ine. Aku paham kenapa Ine sedang tidak ingin bicara, tampaknya dia lebih memilih untuk fokus menikmati super junior.
Dua jam kemudian, latihan telah selesai. Eeteuk Oppa memanggilku untuk bergabung dengan yang lain. Aku dan Ine lalu menghampiri Eeteuk Oppa.
“Ini siapa?” tanya Eeteuk Oppa padaku. “Cantik sekali…”
“Hahaha. Sama aku, cantikan mana Oppa?” sahutku.
“Ehm, sama-sama cantik. Dia siapa, Sasa?” tanya Eeteuk Oppa.
“Oh, kenalkan Oppa, dia ini adikku. Namanya ine.”
Ine lalu memperkenalkan dirinya satu per satu kepada semua anggota Suju yang ada dan sepertinya ada yang tertarik padanya. Saat Ine sibuk berkenalan dengan anggota yang lain, Eeteuk Oppa menarikku pergi. Dia mengajakku duduk di salah satu pojokan panggung.
“Kamu lagi berantem sama Kyuhyun?” tanya Eeteuk Oppa.
“Gak kok, Oppa,” jawabku.
“Lalu kenapa sepertinya kalian jadi seperti menjaga jarak. Aku merasa Kyuhyun sedang bad mood,” tanya Eeteuk Oppa lagi. “Sepanjang latihan dia memang berlatih dengan serius tapi wajahnya menampilkan emosi yang tidak enak.”
“Entah, Oppa. Saat di mobil, dia tiba-tiba marah padaku. Aku ditinggal sendirian,” jawabku.
“Kenapa dia marah?”
“Aku… gak terlalu tahu, oppa. Hanya saja…”
“Hanya saja apa?”
“Yah, aku memang agak menghindarinya sejak kita main monopoli tadi, Oppa.”
“Kenapa kamu menghindarinya?”
Aku terdiam, tidak bisa menjelaskannya. Eeteuk Oppa terus menatapku mencoba menarik jawaban dari mulutku tapi mulutku tetap terkunci. Mana mungkin aku bisa menjelaskan hal sekonyol deg-degan karena bersentuhan dengan Kyuhyun Oppa pada Eeteuk Oppa.
“Baiklah kalo kamu tidak mau mengatakannya pada Oppa tapi aku sarankan kamu harus menjelaskan semuanya pada kyuhyun. Oppa merasa hal ini sangat menganggunya,” kata Eeteuk Oppa.
“Arraseo, Oppa. Aku akan bicara dengan Kyuhyun Oppa nanti.”
Eeteuk Oppa lalu menggelengkan kepalanya. “Ani. Kamu harus menjelaskannya sekarang. Dia pasti sedang berada di ruang tunggu sambil bermain Starcraft. Susul dia sana.”
Aku menuruti Eeteuk Oppa. Aku berdiri lalu pergi ke ruang tunggu. Aku mengetuk pintunya tapi tidak ada yang menjawab. Aku membuka pintunya dan melihat Kyuhyun oppa seorang diri di dalam sedang bermain dengan laptopnya.
“Oppa,” panggilku pelan tapi kyuhyun oppa tidak memalingkan perhatiannya dari game-nya. Aku mencoba memanggilnya sekali lagi tapi aku mendapatkan reaksi yang sama.
Aku berjalan mendekatinya dan duduk di sebelahnya. “Oppa, kau marah padaku ya?” tanyaku. Bukannya menjawabku, Kyuhyun Oppa malah menutup laptopnya dan berdiri.
“Oppa, tunggu sebentar,” kataku sambil menarik kausnya.
“Ada apa?” tanyanya galak. “Kamu mau apa kesini?”
“Oppa, jangan marah-marah seperti itu padaku.”
“Lalu aku harus seperti apa?! Aku baik, kamu perlakukan aku seenakmu. Sebentar baik padaku tiba-tiba mengabaikan aku.” Kyuhyun Oppa sudah mulai mengeluarkan semua emosinya padaku.
Jadi ini penyebab kemarahan Kyuhyun Oppa. Dia sadar aku menghindarinya daritadi tapi aku tidak menyangka dia akan semarah ini.
“Mianhe, Oppa. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku punya alasan.”
“Alasan apa? Alasan untuk menghindari aku? Alasan untuk mengabaikan aku? Atau alasan untuk bisa ngobrol dengan Jongwoon Hyung?”
“Oppa, aku mohon tolong mengerti aku.”
“Sasa, aku kurang mengerti apalagi sama kamu? Kamu lapar, aku ngerti. Kamu ngambek, aku ngerti. Kamu sakit, aku ngerti. Aku kurang ngerti apalagi?! Sampai-sampai setahun ini kamu menggantungku, aku tidak pernah protes sedikitpun!”
Suara Oppa terdengar sangat keras dan mungkin terdengar sampai keluar. Aku tidak pernah dibentak sekeras ini sebelumnya, bahkan orangtua ku pun sendiri tidak pernah. Hal ini membuatku panas, meskipun aku tau aku yang salah.
“Kau belum mendengar penjelasanku sama sekali tapi sudah marah-marah! Emang apa hakmu marah-marah padaku?!” Aku balas membentak Kyuhyun Oppa.
“Aku tidak butuh penjelasanmu untuk mengetahui semuanya! Kau memang gadis paling menyebalkan yang pernah aku temui seumur hidup. Aku menyesal telah mengenalmu.”
“Kamu pikir aku tidak menyesal?! Aku menyesal harus merasa deg-degan saat tanganmu menyentuh kepalaku! Aku juga menyesal harus merasa kacau saat bersentuhan denganmu. Dan… yang paling aku sesali adalah aku menyesal telah jatuh cinta pada laki-laki payah seperti mu!”
Seketika, ruangan yang tadinya berisik oleh suara kami yang saling membentak menjadi sunyi senyap. Aku terlanjur mengatakan sebenarnya kepada Kyuhyun Oppa dengan cara yang salah dan aku tidak mau melihat seperti apa reaksi dari Kyuhyun Oppa. Aku segera angkat kaki dari ruangan itu dan membanting pintunya dengan keras.
Aku sadar, ada beberapa orang yang memperhatikan aku tapi aku tidak peduli. Aku segera pergi menghampiri Ine dan mengajaknya pulang.
“Ine, ayo pulang!” kataku galak.
“Tapi, kak… aku belum selesai ngomong dengan Siwon Oppa,” jawab Ine.
“Yasudah, nanti kamu balik lagi kesini setelah mengantarkan aku pulang.”
“Ada apa ini?” tanya Siwon Oppa bingung.
“Mianhe, Oppa. Ine harus mengantarkan Sasa onni pulang dulu. Kapan-kapan kita ngobrol lagi ya. Senang mengenalmu,” jawab Ine.
Aku lalu berpamitan kepada siwon Oppa dan pergi ke tempat parkir mobil Ine.

.Kyuhyun POV.
“Apa yang baru dia katakan?” tanyaku pada diri sendiri.
Aku sangat kaget mendengar pengakuannya barusan. Ternyata dia menghindari aku karena dia merasa kacau saat aku mendekatinya. Sasa juga baru saja menyatakan cintanya padaku.
Setelah bertahun-tahun, akhirnya aku berhasil membuatnya jatuh cinta padaku. Aku tidak boleh diam saja di tempat ini. Aku harus mengejarnya dan meminta penjelasan.
“Hyung, hyung. Apa kamu lihat Sasa?” tanyaku pada Donghae hyung, orang pertama yang aku lihat setelah aku keluar dari ruang tunggu.
“Dia pergi ke arah sana tadi,” jawab Donghae hyung sambil menunjuk tempat parkir. “Ada apa memangnya?”
“Akan aku jelaskan nanti,” sahutku sambil berlari ke arah parkiran.
Di sana, aku melihat Sasa dan Ine yang akan masuk ke dalam sebuah mobil. Aku mempercepat lariku dan berhasil sampai sebelum Ine masuk ke dalam mobil. Aku meraihnya dan meminta izin untuk meminjam mobil sekaligus kakaknya.

.To be continued.