Part 4
KYUHYUN POV
Aku senang sekali konser ini akhirnya dapat berjalan juga. Semua yang telah disiapkan jauh-jauh hari tidak sia-sia. Penontonnya juga ternyata tidak kalah seru jika dibandingkan dengan penonton di Korea. Aku melihat dari ujung ke ujung, semuanya sangat menakjubkan. Termasuk Sasa, satu-satunya wanita yang bisa aku temukan dengan mudah di antara ribuan wanita yang menonton kami.
“Yaa, kyuhyunaa. Jangan terus-terusan berjalan ke arah tempat duduk Sasa. Kamu juga harus menghampiri fans-fans di ujung panggung yang lain,” kata eeteuk hyung saat kami sedang menyanyi Carnival.
“aah, hyung. Baiklah,” sahutku.
Selama menyanyi Carnival, kami boleh berjalan sesuka hati kemanapun kami mau tapi aku selalu saja berjalan ke arah Sasa. Aku ingin dia dapat melihatku dari jarak yang sangat dekat atau mungkin kebalikannya. Aku ingin melihat dia dari dekat.Sempat terlintas ide di kepalaku untuk berfoto dengan salah satu fans sambil bernyanyi tapi aku agak ragu. “Hyung, kau mau berfoto bersama fans tidak?” tanyaku pada Sungmin hyung. Tanpa aku sangka-sangka Sungmin hyung setuju.
Kami berjalan ke arah fans terdekat yang sedang merekam kami dengan hapenya. Aku lanngsung mengambilnya dan memfoto diriku sendiri lalu Sungmin hyung dengan pemilik hape tersebut. Seketika dia langsung menjerit histeris kesenangan. Aku selalu senang melihat para fans ku menikmati apa yang kami beri.
Setelah menyanyi Carnival, kami menyanyikan lagu penutup konser kami, yaitu Marry U. Selama menyanyikan lagu ini aku selalu menatap ke arah Sasa tapi sayang sekali dia tidak menatapku. Aku justru melihat tatapan matanya kosong. Dia tidak memperhatikan konser sama sekali. Apa yang terjadi padanya?

Keinginanku terkabul tiga jam kemudian. Super Junior menutup konsernya dengan lagu “Marry U”, dimana semua ELF ikut menyanyikannya. Aku melihat Eeteuk Oppa sempat menangis mendengar kami ikut menyanyi.
Selesai konser, Super Junior mengadakan celebration party di hotel. Aku pikir pesta itu hanya untuk para member dan manajer serta kru yang telah melaksanakan konser tapi ternyata aku dan Ine juga mendapatkan undangan. Ya, undanganku tentu saja dari tangan Kyuhyun Oppa tapi undangan Ine tampaknya datang dari Siwon Oppa.
Ketika orang-orang pada sibuk keluar dari arena, Kyuhyun Oppa meneleponku. “Sasa, kamu dimana?” tanyanya.
“Masih duduk di tempatku tadi duduk. Kenapa, Oppa?” sahutku.
“Habis ini kami akan mengadakan perayaan atas kelancaran konser ini di hotel. Kamu ikut ya?”
Haaaaish, aku harus menunda pembicaraanku dengan Kyuhyun Oppa lagi padahal waktu yang aku punya semakin sedikit. Tapi aku tidak melawannya.
“Baiklah, Oppa. Jam berapa acaranya?” tanyaku.
“Jam 10,” jawabnya. “Kamu pulang saja duluan ke hotel ya. Biar bisa istirahat dulu. Maaf, aku masih belum bisa menemanimu.”
“Tidak apa, oppa. Santai saja.”
Aku lalu menutup telepon dan melihat Ine yang sedang senyum-senyum sendiri. “Kamu kenapa, Ne?” tanyaku penasaran.
“Aku diundang Siwon Oppa untuk datang ke acara perayaan konser mereka,” jawab Ine ceria. Dari nadanya aku tahu dia senang sekali. “Asik, kak. Aku bisa ketemu Siwon Oppa lagi!”
“Ya, ya, ya,” sahutku berpura-pura bosan melihat tingkahnya padahal sebenarnya aku tertawa geli.
Aku ikut senang karena dia juga diundang tapai aku belum bisa sepenuhnya senang jika masih ada masalah yang mengganjal di hatiku.
Aku lalu mengajak ke backstage karena aku ingin memberikan kejutan untuk Kyuhyun Oppa. Dengan senang hati Ine menurutiku. Ia menuntunku menuju ruang rias Super Junior. Tapi pada saat kami hendak mengetuk pintu ruangan tersebut, sang manajer datang menghampiri kami.
“Sebaiknya kalian pulang sekarang. Aku sudah memperbolehkan Kyuhyun mengundang kalian datang ke pesta. Seharusnya kalian bersyukur dan tidak minta lebih dari itu,” kata manajer tersebut galak.
Aku melihat Ine akan melawan tapi aku menahannya. Aku berpamitan dan menarik Ine pulang. Selama perjalanan Ine ngomel-ngomel padaku.
“Kakak kenapa ngalah gitu aja sih?” tanya Ine padaku. “Gak ada gunanya dong kita dapat backstage pass ini!”
“Maaf, ine. Kakak cuman gak mau nyusahin Kyuhyun Oppa saja. Maaf ya,” sahutku.
Ine cuman menghela nafas panjang dan tidak berbicara apa-apa lagi. Dia mengeluarkan mobil dari parkiran. Jika melihat parkiran umum yang masih macet total, aku bersyukur mobil kami dapat keluar dengan lancar. Dalam perjalanan ke hotel, kami juga tidak mengalami kemacetan karena semuanya masih tertahan di parkiran. Ternyata, backstage pass ada fungsinya. Hahaha.
“backstage pass ada fungsinya kok, ne. Kalo gak ada ini, kita pasti udah macet-macetan keluar dari parkiran,” kataku pada Ine.

2 PART 5
Sesampai di hotel, aku dan Ine langsung masuk ke kamarku. Kami berdua harus menunggu Kyuhyun Oppa mengabari kami dahulu sebelum kami pergi ke pesta tersebut. Selama aku punya waktu kosong , aku kembali membicarakan hubunganku dengan Kyuhyun Oppa yang sedang ada masalah kepada Ine.
“Kakak harus gimana dong ini Ine?” tanyaku. “Waktunya semakin sempit. Nanti pasti pestanya sampai malam. Besok pagi Suju harus udah balik ke Korea. Gimana dong?”
“Gimana ya kak? Aku juga bingung. Gimana kalo pas pesta itu aja, ngobrol-ngobrol ringan aja, kak,” jawab Ine.
“Haduh, gak bisa dong Ine. Ini kan masalah serius, mana bisa diomongin dengan santai. Lagipula kakak gak mau bebanin Kyuhyun Oppa. Masak lagi seneng-seneng gitu kakak ganggu? Kan gak enak,” sahutku.
“Ya udah, kalo gitu tunggu aja sampe selesai pesta. Sempet-sempetin buat ngobrol gitu,” kata Ine memberikan usul.
“Humm.. ya mungkin itu lebih baik kali ya?”
“Gak akan ada yang tahu kecuali kakak coba nanti.”
Aku menyetujui usul Ine. Selesai pesta, aku akan bicara dengan Kyuhyun Oppa mengenai masalah ini. Aku tidak mau memendamnya lama-lama.
Tiba-tiba aku mendengar suara pintu diketuk. Aku menyuruh Ine untuk membukanya. Ternyata yang datang adalah Siwon Oppa. Dia datang untuk menjemput kami ke pesta perayaan konser mereka.
“Ayo, kita turun sekarang sekarang,” kata Siwon Oppa kepada kami.
“Kyuhyun oppa kemana? Kok gak ikut kesini?” tanyaku.
“Dia sedang bicara dengan manajer. Kamu mau menunggunya atau pergi bersama kami?” kata Siwon oppa.
“Aku dengan kalian saja,” sahutku.
Tanpa malu-malu, Ine jalan di samping Siwon Oppa sedangkan aku berjalan sendirian di belakang mereka. Aku memutuskan untuk ikut turun dengan mereka karena Kyuhyun Oppa sama sekali tidak memberi kabar. Aku berpikir dimana Kyuhyun Oppa sekarang. Kenapa dia tidak datang menjemputku?
Setelah sampai di tempat pesta tersebut, aku juga tidak melihat Kyuhyun Oppa. Kehadiranku justru disambut oleh Ryeowook Oppa. “Sasa, aku pikir kamu tidak akan datang,” serunya senang sambil memelukku. “Terima kasih ya sudah mau nonton konser kami. Bagaimana menurutmu? Bagus tidak?”
“Bagus sekali, Oppa! Kau terlihat sangat keren!!” jawabku. “Aku sangat menyukaimu terutama waktu kau menyanyi dan menari solo. Aku langsung jatuh hati. Hihihi.”
“Aiiih. Kamu bisa saja,” sahutnya malu-malu. “Terima kasih ya.”
“Sama-sama, Oppa. Kau memang keren kok,” balasku. Aku yang penasaran dimana Kyuhyun Oppa berada akhirnya tidak bisa lagi menahan. Aku bertanya pada Ryeowook Oppa, “Oppa, Kyuhyun Oppa kemana ya? Kok gak keliatan daritadi?”
“Tadi pulang sama kami kok tapi abis itu aku gak liat, Sa,” jawab Ryeowook Oppa. “Mungkin nanti dia menyusul.”
Aku pikir perkataan Ryeowook Oppa ada benarnya. Kyuhyun Oppa pasti akan menyusul nanti. Dia tidak mungkin meninggalkan pesta sepenting ini.
Saat pesta dimulai, Kyuhyun Oppa masih juga belum terlihat. Aku bertanya pada Eeteuk Oppa tapi dia juga tidak tahu dimana Kyuhyun Oppa. Dia malah berpikir Kyuhyun Oppa akan datang bersamaku.
“gak kok,oppa. Kyuhyun oppa tidak bersamaku. Kata siwon oppa, kyu sedang bersama manajer tapi kenapa lama sekali ya?” kataku pada eeteuk oppa.
“humm. Mungkin mereka sedang membicarakan masalah yang serius,” sahut eeteuk oppa.
“masalah apa ya, oppa?” tanyaku.
“aku juga tidak tahu. Manajer kami memang begitu. Kadang suka berbicara serius dengan member.”
Haduh, bagaimana ini? Masa tidak ada yang tahu dimana Kyuhyun Oppa berada? Padahal dia seharusnya ada di sini sekarang. Kenapa tidak ada yang mencari Kyuhyun Oppa sih? Aku mau mencarinya tapi aku harus cari kemana, aku tidak tahu. Hapenya pun tidak diangkat saat aku telpon.
Aku duduk di salah satu meja sambil memandang ke seluruh ruangan. Aku berharap Kyuhyun Oppa tiba-tiba akan muncul tapi ternyata sampai pesta selesai, batang hidungnya pun tidak terlihat.

KYUHYUN POV
“Sial, aku tidak bisa ikut pesta karena manajer mau bicara padaku. Apa yang akan dia bicarakan ya?” gumamku dalam perjalanan menemui manajer di kamarnya.
Manajer langsung mempersilahkan aku masuk ke kamarnya setelah aku membunyikan bel pintu kamarnya. Dia menyuruh aku duduk lalu berbicara to the point.
“Aku melihat akhir-akhir ini kamu terlalu dekat dengan Sasa,” kata manajer padaku. “Aku tidak melarangnya kalau hanya sebatas dekat tapi kamu tahu kan kalo semua anggota Super Junior dilarang untuk pacaran selama masih terikat kontrak.”
Aku tidak menyangka manajer akan membicarakan masalah ini sekarang. Apa dia tahu bahwa aku pacaran dengan Sasa. Kalau dia sampai tahu, bisa gawat. Kontrakku di SME bisa terancam begitu juga dengan Sasa, dia pasti akan mendapat gangguan supaya memutuskan aku. Aku harus berbohong.
“Aah, aku tahu hyung. Dari dulu aku menganggap Sasa hanya sebagai adikku. Jadi aku merasa harus mengajaknya terus bersamaku selama aku berada di sini. Maklum kami sangat jarang bertemu,” kataku pada manajer.
“Aku mengerti tapi sekali lagi aku peringatkan padamu. Jangan sampai kamu melanggar kontrak. Kamu tahu, kamu penyanyi inti Super Junior, kalau kamu sampai meninggalkan SUJU bisa jadi kacau semua,” kata manajer.
“Aah, arraseo, hyung,” sahutku.
Setelah membicarakan masalahku dengan Sasa, manajer hyung membicarakan masalah konser SUJU-KRY yang akan dilangsungkan di Jepang bulan depan.

Aku segera kembali ke kamar begitu pesta selesai meskipun yang lain belum kembali ke kamar mereka masing-masing. Aku juga melihat Ine masih sibuk ngobrol dengan Siwon Oppa. Sampai di kamar, aku menelepon Kyuhyun Oppa lagi dan aku mendengar bunyi dering handphone dari luar.
“Itu suara hape Kyuhyun Oppa,” gumamku sambil membuka pintu kamarku. Benar saja, aku melihat Kyuhyun Oppa sedang berjalan ke arahku. Dia menatapku dengan tajam lalu masuk ke dalam kamar.
“Ada yang harus kita bicarakan,” katanya dengan nada tegas.
“Ada apa?” tanyaku.
“Aku baru saja bicara dengan manajer. Dia bilang aku tidak boleh terlihat terlalu dekat dengan wanita,” jawabnya.
“Karena itu Oppa tidak ikut pesta tadi?” tanyaku.
Kyuhyun Oppa menganggukkan kepalanya. “Begitu aku sampai ke hotel, manajer langsung mengajakku bicara. Dia banyak sekali bicara, intinya aku tidak boleh punya pacar karena manajemen melarangnya.”
Aku menghela napas. Rupanya manajer sudah berbicara juga dengan Kyuhyun Oppa tentang ini. Berarti sekarang aku memang harus membicarakannya dengan Kyuhyun Oppa.
“Manajer juga sudah membicarakan hal itu denganku,” sahutku. “Aku bermaksud membicarakannya dengan Oppa malam ini. Apa yang harus kita lakukan?”
“Aku tidak tahu,” jawab Kyuhyun Oppa. “Aku sama sekali tidak tahu kalau manajemen melarang semua anggota Super Junior untuk memiliki pacar.”
“Bukannya tertulis di kontrak Oppa?” tanyaku tidak yakin dengan pernyataannya. Mana mungkin manajemen berani melarang artisnya pacaran kalo hal tersebut telah tertulis di kontrak yang disetujui oleh kedua belah pihak.
“Aku lupa apakah kontrak tersebut bilang begitu atau tidak. Aku masih terlalu muda waktu menandatangani kontrak itu jadi aku tidak memahami isi kontrak dengan benar tapi aku tetap tanda tangan.”
“Lalu kita harus bagaimana?”
Kyuhyun Oppa memberikan jawaban. “Kita bisa pacaran diam-diam. Lagipula kita kan akan sangat jarang ketemu. Jarak kita terlalu jauh. Tidak mungkin ketahuan.”
“Tapi kalau mereka mengetahui ternyata kita pacaran bagaimana?”
“Aku akan diskors atau didenda atau apalah karena telah menyalahi kontrak. Tapi itu bukan masalah. Aku bahkan siap keluar jika memang itu jalan yang harus aku lakukan agar tetap bersama kamu.”
Mendengar jawaban Kyuhyun Oppa, hatiku sangat senang mendengarnya tapi logikaku berkata lain. Buat apa dia mengorbankan seluruh karirnya selama ini hanya untuk aku?
“Oppa, jangan bertindak gegabah seperti itu,” kataku. “Kau tidak boleh mengorbankan seluruh karirmu hanya untuk aku. Kita belum tentu akan bersama sampai mati. Lagipula kau sudah berjuang terlalu keras untuk mencapai karir seperti ini, mana bisa kamu tinggalkan begitu saja.”
“Terus kita harus bagaimana?” tanyanya padaku.
“Kita putus. Aku harus menjaga jarak denganmu, Oppa. Kau tidak boleh terlihat lagi bersamaku,” jawabku dengan ragu-ragu.
“Itu satu-satunya jawaban yang paling tidak ingin aku dengar sepanjang hidupku,” sahutnya tajam. “Buang pikiran itu dari otakmu.”
“Kalo tidak begitu, aku akan semakin menyusahkanmu, Oppa. Kalo kita tetap pacaran, tidak mungkin kita tidak ada komunikasi. Bisa saja kan seluruh saluran komunikasi kita diperiksa oleh mereka?” kataku. “Justru karena kita jauh, banyak sekali hal-hal yang buat kita tertangkap kalo kita punya hubungan.”
“apa saja hal itu? Kita hanya butuh telpon atau chatting atau sms. Mana mungkin mereka akan tahu hubungan kita,” kata Kyuhyun Oppa menolak ideku.
“tapi oppa mungkin saja hapemu dibuka oleh mereka atau internet diputus atau apalah. Banyak kemungkinan yang bisa membongkar hubungan kita.”
Aku berkata seperti itu seolah-olah aku ingin sekali putus dari Kyuhyun Oppa padahal hatiku berkata lain. Saat mengatakannya, mulutku bergerak dengan lancar tapi hatiku menangis sedih sekali. Tapi ini semua aku lakukan demi Kyuhyun Oppa. Aku tahu Kyuhyun Oppa tidak akan bisa hidup tanpa menyanyi karena di situlah jiwanya.
Kyuhyun Oppa menatapku dengan sedih dan berkata, “Aku tidak menyangka kamu akan berkata seperti itu, Sasa. Aku pikir kamu akan berjuang bersamaku tapi ternyata . . .” Kyuhyun Oppa tidak melanjutkan perkataannya. Dia memutuskan keluar dari kamarku dan aku tidak mengejarnya.
Setelah Kyuhyun Oppa keluar dari kamar, aku tidak berusaha mengejarnya. Aku justru membereskan pakaianku untuk pulang ke kos-kosan. Sudah tidak ada gunanya aku berada di sini. Aku meninggalkan pesan untuk Ine.
Sayang, kakak pulang duluan ya. Nanti kakak jelasin semuanya ke kamu. Oke? Have fun ya, sayang. .
Aku tidak boleh lagi berada di dekat Kyuhyun Oppa kalau itu akan menyulitkannya. Aku lebih baik mendukungnya dari belakang dan dia akan terus mencapai hal-hal terbaik dalam hidupnya.

.END.