annyeonghaseyo, esterong back (งˆヮˆ)ง

selamat menikmati ff ini ya😀

your comments are love for me, so leave your comment here ya chingu ^^

 

START!

 

JOHEE POV

Hari ini adalah hari pertama di tahun kedua dan merupakan hari pertamaku di sekolahku yang baru. Kelas baru, lingkungan baru, dan teman-teman yang baru pertama kali kutemui membuatku harus kembali beradaptasi.

“Shim Johee imnida dari Daegu. Bangapseumnida,” ujarku memperkenalkan diri.

“Nah, sekarang kau bisa memilih tempat dudukmu Johee,” ujar Leeteuk sem, wali kelasku, setelah aku selesai memperkenalkan diri. Aku memutuskan untuk duduk dibangku paling belakang pojok sebelah kiri agar aku dapat melihat langsung ke lapangan saat aku bosan.

Aku menyisir pandanganku ke setiap sudut kelas. Memperhatikan wajah, busana, gaya, mode, dan gerak-gerik calon teman-temanku ini. Sepertinya aku bisa tenang selama sekolah disini. Mereka terlihat seperti anak yang baik-baik tanpa masalah. Syukurlah, memang itu yang kuharapkan.

Aku membuka buku pelajaranku dan memulai berkonsentrasi pada Sem. “Okay, let’s open page..” suara Leeteuk sem yang hendak mengajar tiba-tiba saja tenggelam berkat suara pintu yang dibuka dengan kasar.

BRAK! Pintu itu kini terbuka lebar seakan mempersilahkan pria yang berdiri diambang pintu itu untuk masuk. Semua mata yang ada di kelas kini menatap pria itu.

Berandalan, nakal, kasar. Semua image itu kental sekali padanya. Ah, aku melewatkan satu hal. Mungkin dia juga seorang playboy karena wajahnya —kuakui— tampan dan ada gadis dengan tampang pesolek dan parfum yang menyengat bergelanyut manja ditangannya.

“Bye, honey,” ujar sang gadis itu lalu mencium pria itu tepat dibibirnya. Kurasa kiamat memang sudah dekat. Bagaimana seorang anak SMA berani berciuman didepan kelas saat semua mata tertuju pada mereka? Apa mereka sudah tidak waras?

Namun semua tetap diam dan suasana menegang saat ia berjalan memasuki kelas kami. Bisik-bisik pun mulai terdengar beberapa detik setelahnya.

“Eh, itu Lee Donghae. Kenapa kita harus sekelas dengan dia?” ujar salah seorang gadis yang duduk bergerombol di depan mejaku. Suara yang cukup keras —untuk ukuran orang yang sedang bergosip— membuatku ingin ikut dalam perbincangan tersebut. Bukan karena aku hobby bergosip namun karena aku sedikit penasaran dengan pria itu.

“Meski dia tampan, tapi tetap saja mengerikan,” ujar yang lain. Bagus, dia membuatku makin penasaran dengan pria bernama Lee Donghae.

“Mengapa dia mengerikan?” tanyaku pada mereka.

“Kau tak tahu?” tanya mereka balik walau tersirat unsur ejekan dalam kalimatnya sambil menatapku dengan mata sinis, tak percaya, dan mengejek.. Wait, bagaimana aku bisa tahu kalau baru 2 hari yang lalu aku pindah ke Seoul dan baru beberapa menit yang lalu aku resmi menjadi murid sekolah ini? Oke, whatever about them. Aku hanya melapangkan dada dan menjawab pertanyaan mereka dengan gelengan.

“Pria itu Lee Donghae. Berandalan tengil dan mengerikan, lihat saja sorot matanya. Dia tak punya teman sama sekali di sekolah ini. Temannya adalah gangster-gangster dan para wanita malam yang sudah lama diawasi oleh polisi. Dia juga sedang dalam masa pengawasan polisi. Dari luka-lukanya saja sudah menandakan kalau ia suka terlibat masalah,” ujar gadis itu panjang lebar.

Aku melirik pria yang bernama Lee Donghae itu. Memperhatikannya dari atas sampai bawah, mengamati seluk beluk tubuhnya. Ingin membuktikan apa yang kudengar itu adalah fakta. Tapi mungkin aku terlalu lama memandangnya sampai ia menyadari kalau aku memperhatikannya dan tanpa sengaja mata kami bertemu. Ia menatapku tajam, namun anehnya aku tak merasa takut ataupun gentar. Aku justru menatapnya lekat, cukup lama bahkan. Bagiku mata itu tak menakutkan tapi.. kesepian.

“Okay, let’s back to the topic. open page..,” suara Leeteuk sem akhirnya menyadarkanku dan membuatku mengalihkan mataku dari pria tadi.

Apa hanya perasaanku saja kalau dia kesepian? Mungkin lebih baik aku memang menjaga jarak dengannya.

*****

“Johee yang malang,” ujarku mengasihani diriku sendiri. Hari pertama di sekolah baru memang tak ada masalah namun aku belum punya teman. Akhirnya aku memutuskan untuk menghabiskan jam pulang sekolah dengan tidur di halaman belakang sekolah sendirian. Menikmati angin sejuk yang berhembus di Seoul dan alunan musik yang membuatku bernostalgia ke masa kecilku.

Masa-masa dimana aku menjadi secret admirer seorang anak kecil tampan yang selalu bermain piano di Serenade Music Shop milik ibuku. Sayangnya saat itu aku masih terlalu kecil untuk dapat membaca nametag yang ada di seragam sekolahnya, aku masih terlalu pengecut untuk bertanya langsung siapa namanya, dan aku masih terlalu dini untuk menyadari kalau apa yang aku rasakan saat itu mungkin.. cinta? Sampai pada akhirnya aku tak pernah tahu namanya, aku hanya tahu ia dipanggil ‘Hae’ oleh seorang pria menyeramkan yang selalu menariknya paksa untuk pulang.

Tunggu.. “Hae?” batinku terperanjat. Membuatku reflek, bangkit dari tidurku. Tanpa basi-basi aku mengikuti perintah otakku untuk segera berlari menuju sumber suara, ruang musik.

Aku tak menemukan yang kucari namun aku mendapatkan sesuatu yang lebih mengejutkan. Seorang pria dengan wajah yang penuh handsaplast, rambut dan baju yang kacau, dan jari yang penuh luka, sedang memainkan lagu yang dulu sering Hae mainkan. Aku memang tak begitu ingat dengan wajah Hae namun permainan luar biasa dan ekspresi lembut pria-kacau-balau tersebut membuat diriku —entah mengapa— yakin kalau ia adalah Hae.

“Hae?” gumanku menyuarakan isi otakku.

“Siapa yang kau panggil Hae?” tanyanya. Suara yang dingin dan melodi yang berhenti mengalun membangunkanku dari alam bawah sadar. Pria itu menghentikan permainannya. Sepertinya ia tahu kalau sedang diperhatikan dan kini mata kami bertemu.

Aku ingat mata itu. Mata milik pria yang sangat ditakuti, Lee Donghae. Tapi bagiku, mata kesepian itu kini terlihat begitu memikat. Aku merasakan dadaku sesak akibat suatu rasa yang tak tertahankan.

“Lupakan apa yang kau lihat,” ujarnya datar namun tersirat emosi. Lalu ia berjalan meninggalkanku tanpa mengucapkan apapun.

Aku menatap punggungnya dan kali ini aku benar- benar kehilangan fungsi otakku. Aku melompati jendela ruang seni dan menahan kepergiannya dengan menarik tangannya. Kini ia kembali menatapku dengan matanya yang tajam.

Sorot matanya dalam sekejap membuat jantungku berdetak kencang. Membuatku kehilangan kontrol pada otakku sendiri. Juga membuat otot motorik mulutku tidak dapat kukendalikan sampai-sampai aku mengatakan sesuatu yang seharusnya sangat pantang kukatakan, “Aku suka padamu, Donghae sshi,” Aku tak tahu apa yang membuatku bisa berkata seperti itu. Aku juga tak tahu perasaan suka ini muncul karena aku yakin dia adalah Hae-ku yang dulu atau aku terpesona dengan permainan lembut seorang Lee Donghae?

Pria itu menatapku sesaat lalu mendengus, seakan mengejekku, “Lebih baik kau menghapus perasaanmu sebelum kau menyesal,”

“Ta-tapi, aku sudah terlanjur menyukaimu,” ujarku tanpa kusaring lebih dahulu.

Lagi-lagi ia mengejekku, kali ini ia sudah tertawa sangat lantang. “Asal kau tahu, aku tak memacari gadis lugu sepertimu,”

“Bagaimana kalau kita coba untuk saling mengenal terlebih dahulu? Siapa tahu kau bisa menyukaiku?” tanyaku. Entah sejak kapan aku jadi begitu keras kepala seperti ini.

“Aku tak tertarik untuk mengenalmu. Dan tentang diriku, kau bisa tanyakan pada tukang gosip di kelasmu,” ujarnya dingin. Ia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.

“Aku tak percaya dengan gosip. Aku sangat yakin semua gosip tentang dirimu pasti salah setelah mendengar permainan pianomu yang lembut. Aku ingin mengenalmu secara lang…”

“Hentikan omong kosongmu,” kata pria itu menyela kalimat yang belum sempat kuselesaikan. Ia tak menatapku tapi suaranya sangat dingin. “Jangan berkata seolah-olah kau mengenalku sejak lama. Aku paling tidak suka dengan gadis sok akrab macam kau,” ujarnya sambil melangkahkan kakinya untuk meninggakanku. Untung saja aku masih bisa mencegah kepergiannya dengan menghadang pintu keluar yang hendak ia lewati dengan tubuhku.

“Apa kau benar-benar tak mengenalku? Shim Johee, Serenade Music Shop, Daegu, kau sering memainkan lagu itu di toko musik ommaku. Apa kau bukan Hae?” tanyaku mempertahankan keyakinanku pada dirinya.

Namun bukannya mendapat jawaban yang aku inginkan, ia justru kembali menertawakanku, tawa sinis merendahkan. “Kau terlalu lugu, nona Kang. Let’s face it, everybody have changed. Some for the better and some for the worse. Even if me is your ‘Hae’, what do you want for me? Be your friend? Nowadays, friends is only drama. So, just get out from my way,” ujarnya sambil mendorongku. Kali ini ia benar-benar pergi meninggalkanku.

Setelah kepergiannya, aku kembali teringat dengan serentetan kalimat yang ia ucapkan dan aku kembali merasakan sakit sesaat dibagian dadaku. Ternyata seperti ini rasanya ditolak? Tapi bukan Shim Johee namanya kalau sudah menyerah dengan sekali coba.

Even everybody say “if you love someone, let them go to see if they come back.” But in Johee’s Dictionary it should be, “if you really love them, your not letting them go.”

That’s what i’m gonna do now, i’m going to chase you, Lee Donghae and i will prove that you are my “Hae”

*****

DONGHAE POV

Aku menghela nafasku panjang karena sejak diruangan tadi dadaku tiba-tiba saja menjadi sesak dan jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Shim Johee..

“Apa kau benar-benar tak mengenalku? Shim Johee, Serenade Music Shop, Daegu, kau sering memainkan lagu itu di toko musik ommaku. Apa kau bukan Hae?” pertanyaan yang kembali membangkitkan ingatan yang sudah lama kukubur dalam-dalam.

Serenade Music Shop. Aku membaca papan nama tokoh musik baru yang berdiri di pusat kota Daegu. Dari kaca bening yang membatasi sisi luar dan dalam toko ini aku dapat melihat piano berjejer-jejer dan sebuah grand piano putih ditengah-tengah toko itu. Aku ingin sekali memainkannya namun ada rasa ragu, malu, dan takut di dalam dadaku yang saat itu masih berusia 5 tahun.

“Annyeonghaceyo, ada yang bica kubancu?” suara imut itu terdengar bersamaan dengan suara pintu yang terbuka. Seorang gadis kecil yang manis, yang tampak sebaya denganku, keluar dari toko itu.

“A-aku.. Aku ingin belmain piano icu. Tapi aku tak punya uang,” ujarku jujur.

“Kau bica belmain piano?” tanyanya. Matanya sudah membesar sekarang dan tiba-tiba saja ia menarikku memasuki tokonya.

“Mainkan sacu lagu untukku,” pintanya yang langsung aku turuti.

“Daebak!” serunya saat permainanku sudah selesai.

“Mulai hali ini aku, Shim Johee, aku jadi penggemal peltamamu. Aku akan membeli tiket konsel tunggalmu nanti,” serunya

“Apa aku bica?”

“Tentu saja! Kau pasci semakin hebat nanti kalau sudah besal!”

Sejak saat itulah, aku selalu datang ke tempat itu untuk bermain musik dan menjadi secret admirer gadis kecil yang kuketahui namanya adalah Shim Johee. Sayang sekali kegiatanku itu hanya berjalan selama 3 minggu karena appaku akhirnya tahu. Ia bahkan akan mengancam untuk membakar toko itu kalau aku tetap datang kesana. Aku tak bisa menganggap remeh ancaman appaku karena aku tahu ia memiliki kuasa penuh dibalik dunia kejahatan di Daegu dan seluh Korea Selatan ini. Appaku seorang mafia, dan memiliki anak buah dimana-mana.

“Arghhh!” teriakku frustasi sambil memukul tembok yang tak bersalah. Shim Johee.. kenapa kau harus kembali dikehidupanku?

Kenapa kau harus muncul disaat aku ingin melepaskan cita-citaku?

*****

JOHEE POV

Aku tersenyum sendiri membaca note kecil yang aku bawa sedari tadi. Ternyata ia memang bukan orang jahat. Darimana datangnya rumor yang tak jelas itu selama ini?!

Bagaimana mereka bisa mengatakan pria yang membantu seorang nenek menyeberang jalan, memberi makan anjing jalanan dan burung merpati, dan… -masih banyak kebaikan kecil lainnya yang jika aku tulis satu persatu akan membuat kalian bosan untuk membacanya- adalah seorang pria menyeramkan?

Tapi kegembiraanku sirna dalam sekejap saat melihatnya memasuki salah satu club. Aku menghela nafas untuk melampiaskan kekecewaanku. Ternyata ada sebagian gosip itu yang benar. Apa yang ia lakukan di tempat seperti ini? Meski aku ragu untuk masuk namun rasa penasaran berlebihan ini memaksa otakku untuk memerintaku kakiku agar berjalan memasuki club yang remang-remang, crowded, dan berisik dengan musik yang tak jelas juntrungannya itu. Aku tak habis pikir bagaimana bisa mereka menikmati suasana seperti ini?
Aku berusaha mengabaikan pikiranku tentang club dan orang-orang di dalamnya. Aku harus kembali berpusat pada Lee Donghae yang keberadaannya belum kutemukan. Mungkin karena aku terlalu bernafsu untuk mencari bukti kalau ia adalah orang baik sampai-sampai aku tanpa sengaja menyenggol seorang pria menyeramkan dan itu membuat semua bir jatuh ke tubuhnya.

“Mi-mianhe, sungguh aku tak sengaja,” ujarku sambil membungkukkan badan. Bukannya memaafkanku, ia malah berjalan mendekatiku dengan tatapan ingin membunuhku. Ia bahkan sudah mengangkat tangannya yang memegang botol bir itu. Ya Tuhan, tolonglah aku. Apa hidupku sesingkat ini?

“Kyaaa!!” teriakku disusul dengan bunyi ‘PRANG!’ yang menandakan kalau botol itu pasti pecah tapi anehnya aku sama sekali tak merasa sakit.

“Jangan berani menyentuh gadis ini sesenti pun,” ujar seorang pria yang membuatku reflek segera membuka kedua mataku. Mataku membesar saat aku melihat Lee Donghae berdiri didepanku dengan lengan kanannya yang sudah berubah warna menjadi merah berkat darah segar yang mengalir dari punggung lengannya dan ada beberapa beling berwarna hijau yang menempel dikulitnya. Apa baru saja ia melindungiku?

“Mi-mianhe,” ujar pria yang tadi nyaris membunuhku lalu ia dan kerumunan lainnya segera pergi meninggalkanku dan Donghae sendirian. Pria ini jadi semakin misterius karena hanya dengan kata-katanya pria tadi langsung gentar. Namun bukan itu yang harus kupikirkan sekarang!

“Donghae, tanganmu..”

“Lepaskan!” Donghae menepis tanganku saat aku hendak menyentuhnya.

“Aku hanya ingin..”

“Pulanglah! Kau hanya membuatku repot kalau terlalu lama disini!” serunya padaku. Lagi-lagi ia menyela kalimatku! Apa ia tidak diajari sopan santun?!

“Yaa, kau! Kenapa selalu menyelaku saat aku berbicara?! Kalau kau mau memarahiku setidaknya tunggu sampai aku selesai bicara! Cih! Kau memang tak seburuk gosip yang beredar tapi tentang kau yang menyebalkan ternyata benar!” seruku dengan kesadaran penuh. Aku typical orang yang memiliki harga diri tinggi dan sangat menjunjung tinggi adat kesopanan sehingga tentu saja aku jadi marah seperti ini karenanya.

“Tapi.. terima kasih karena kau sudah menolongku. Akan kubalas lain kali!” ujarku berterima kasih walau masih dengan sisa amarah yang terdengar jelas dari suaraku dan dengan segera aku meninggalkan club itu.

*****

DONGHAE POV

Aku berusaha merobek bungkus roti yang kubawa dengan gigi dan jari kiriku namun entah mengapa rasanya sulit sekali. Aku tak bisa membukanya dan aku bukan typical orang yang dengan mudah meminta bantuan pada orang lain. Apa siang ini aku akan mati kelaparan? Aku menatap tangan kananku yang tergips rapi berkat kejadian semalam. Semalam…

“Yaa, kau! Kenapa selalu menyelaku saat aku berbicara?! Kalau kau mau memarahiku setidaknya tunggu sampai aku selesai bicara! Cih! Kau memang tak seburuk gosip yang beredar tapi tentang kau yang menyebalkan ternyata benar!”

Gadis sialan. Bagaimana bisa ia membentakku setelah ia kutolong?! Sejaka kapan Shim Johee berubah menjadi gadis yang menyebalkan?! Berkat dia, mau makan pun tak bisa. Tau begini aku biarkan saja dia..

“Buka mulutmu,”

“Ha?” gumanku terheran saat gadis yang sedang kuumpat dalam hati, tiba-tiba saja muncul di depanku dan menyuruhku membuka mulut dengan gaya bicaranya yang kasar.

“Pppaliwa! Buka mulutmu! Sudah kukatakan kalau aku akan membalas kebaikanmu kan?” serunya memerintahku. Aku diperintah? Oleh seorang gadis lugu sepertinya?! Bagaimana bisa ia marah-marah padaku sekarang padahal kemarin ia mengatakan kalau dirinya itu mencintaiku?!

“YAA! KAU…” kalimatku terputus bersamaan dengan makanan yang masuk ke mulutku. Perut yang lapar membuat mulutku segera tertutup dan mengunyah makanan itu dengan lahap.

“Kau tak boleh hanya mengisi perutmu dengan roti isi yang mungkin saja mengandung banyak pengawet di dalamnya. Kau harus makan makanan 4 sehat 5 sempurna. Dan..”

“Apa yang mereka lakukan? Apa yang dilakukan gadis itu sampai-sampai mereka bisa akrab? Atau jangan-jangan Donghae sudah melakukan yang tidak-tidak padanya,” desas-desus mulai terdengar membisikkan kami berdua. Aku tak pernah mempermasalahkan jika yang menjadi korbannya adalah aku sendiri namun jika sudah menyangkut orang lain, aku paling tidak bisa menerima hal itu.

Aku hendak bangkit dari tempat dudukku untuk membungkam mulut mereka satu-persatu, aku tak peduli meski itu seorang wanita sekalipun. Tapi gerakanku telat selangkah dan sudah didahului oleh gadis ini. Ia bangkit dari tempat duduknya dihadapanku itu lalu memukul mejaku dengan keras. Tak hanya mereka yang kaget dan terdiam aku pun merasakan hal yang sama.

Rumors are carried by haters, spread by fools, and accepted by idiots. Kalau kalian tidak tahu yang sebenarnya tentang Donghae, lebih baik kalian diam dan urus saja urusan kalian masing-masing,” ujar gadis itu, Johee. Gadis yang pertama kalinya dalam hidupku, ia berani membelaku tanpa peduli kalau ia akan dibenci yang lainnya juga. Gadis yang untuk kesekian kalinya mampu membuatku berdebar karena perbuatannya.

Aku sangat mengenal diriku dan aku tahu apa yang terjadi pada diriku. Tubuhku memanas, pipiku memerah, dan jantungku berdebar kencang. Reaksi tubuhku ini membuatku tanpa sadar melangkahkan kaki keluar dari kelas dan tak memperdulikan Johee yang sudah berulang kali menyerukan namaku. Tapi reaksi tubuhku itu pula yang akhirnya menyadarkanku kalau rasa yang selama ini telah terkubur kini kembali mengusikku.

Kenapa kau datang kembali ke kehidupanku Johee?

*****

“Why you keep following me?!” seruku kesal saat mendapati gadis itu masih mengikutiku meski jam sekolah sudah berakhir. “Are you stalker?!” imbuhku.

Ia terhenti dan menatapku dengan mata yang sudah membesar. Wa..w..wae geude? Apa aku kelewatan memarahinya?

“How could you know?” tanyanya balik yang membuatku makin tak mengerti bagaimana jalan pikiran gadis ini.

“I’m officially become your stalker since yesterday. Aku ingin lebih mengenalmu dan aku ingin membuktikan kalau kau adalah Hae-ku,” ujarnya diiringi senyum yang entah mengapa membuatku kehilangan akal sehatku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan menepuknya perlahan untuk mengecek kalau tidak ada sekrup di kepalaku yang hilang. Sebenarnya saat ini yang tidak waras itu aku atau dirinya??

“Crazy,” gumanku sambil mempercepat langkah kakiku. Gadis itu tiba-tiba saja sudah berada di sebelahku dan bisa mengimbangi langkah kakiku. Ia menatap langit sambil tersenyum dan berkata,

People always do crazy thing when they’re in love. Don’t you know?” tanyanya padaku. Kini ia sudah menatapku dengan matanya yang jernih dan tak ada keraguan disana. Ia baru saja menyatakan cinta padaku secara gamblang?

“Uwa! Lee Donghae! Pipimu memerah! Are you shy?!” pekiknya tak percaya yang langsung aku sangkal. “Tentu saja tidak!” seruku balik.

“Cih, bagaimana bisa kau masih menyangkal meski aku sudah lihat kenyataannya?” gumannya sambil mengerucutkan bibirnya.

Ya Tuhan, aku mohon jauhkan gadis ini dariku. Bukan karena aku membencinya, namun karena akhirnya aku sadar, aku masih mencintainya.

“Apa kau sangat penasaran aku adalah Hae-mu atau tidak?” tanyaku pada Johee tiba-tiba. Otakku mulai merangkai skenario yang akan kugunakan untuk membuat gadis ini menjauh dariku. Suatu taktik ‘bunuh diri’ karena berkat hal ini aku harus mengorbankan perasaanku, ani, bukan hanya perasaan namun juga cita-citaku.

Johee menatapku dengan mata yang seakan berbicara, ‘jinja?’ dan kujawab dengan anggukan kepala. Johee dengan segera mengalungkan tangannya di lenganku sambil memberikanku senyum yang selama ini selalu menjadi mimpi terindahku.

“Tapi ada syaratnya. Kau mau? Dan kau harus benar-benar melakukan persyaratan itu,” ujarku kembali menegaskan dan Johee mengangguk mantap.

“So, where are we going now?” tanyanya

“Kau akan tahu nanti,”

*****

“Play for me!” seru gadis ini sambil menepuk salah satu grand piano yang ada di toko ini. Aku menepuk kepalanya pelan. “Bagaimana aku bisa main jika tangan kananku digips seperti ini, ha? Pabo,” balasku ketus, tepatnya berpura-pura ketus.

“Aku akan membantumu,” ujarnya. Ia segera duduk di kursi piano itu dan membuka tutup yang melindungi tuts piano ini.

“Kau bisa?” tanyaku pura-pura tak percaya yang dibalas dengan tatapan kesal darinya.

“Jangan meremehkanku. Meski tak sehebat permainanmu yang kudengar saat itu, tapi begini-begini aku anak pemiliki Serenade Music Shop di Daegu dulu,” ujarnya dengan percaya diri.

“Dulu ada seorang anak laki-laki yang selalu bermain piano di toko musik ibuku itu. Aku tak pernah tahu namanya, namun dulu ada seorang pria menyeramkan yang selalu memanggilnya ‘Hae’. Aku langsung terpesona dengan permainannya sejak pertama kali ia datang ke toko ibuku itu. Bisa dikatakan dia adalah cinta pertamaku,” ujar Johee. Kini mata Johee berpindah haluan, dari yang sebelumnya melihat tuts kini menatap mataku lekat. “Tapi kurasa kau juga akan menjadi cinta terakhirku,” lanjut Johee yang membuatku senang, berbunga-bunga, berdebar, dan sedih disaat bersamaan.

“Kau sangat yakin aku adalah Hae mu?” tanyaku dan ia mengangguk tanpa keraguan. Tanpa aku kendalikan, tiba-tiba saja bibirku menyunggingkan senyuman yang sudah lama tak pernah muncul diwajahku. “Baiklah, kalau begitu coba pastikan sendiri,” ujarku dan menyiapkan tangan kiriku untuk memainkan lagu yang selalu kumainkan untuknya dulu.

*****

JOHEE POV

Aku tak bisa menahan rasa haru dan bahagia yang membuncah didadaku. Akhirnya aku menemukan Hae-ku yang ternyata benar adalah Lee Donghae, pria yang sedang memainkan piano untukku sama seperti yang dulu ia sering lakukan. Aku tak mungkin salah, bahkan Donghae masih melakukan kesalahan-kesalahan kecil yang dulu sering Hae lakukan.

Aku tak bisa menahan diriku lebih lama. Tepat setelah ia menekan tuts terakhir, aku segera menyambarnya dengan pelukan erat seakan aku tak mau ia pergi lagi dariku.
“Do..donghae, saranghae. Jeongmal sa..saranghae. Akhirnya aku kembali bertemu dengan..mu,” ujarku sambil terisak karena akhirnya pertahananku runtuh juga dan air mataku keluar. Aku merasakan tubuhku menjadi hangat dan bisa kurasakan belaian lembut di punggungku dan kepalaku. Donghae membalas pelukanku.

“Nado saranghae Johee,” bisiknya yang membuatku berbunga-bunga.

“Mulai sekarang kau harus lebih sering memainkan piano untukku ya Hae,” ujarku. Tiba-tiba saja Donghae melepas pelukannya, “Mianhe, aku tidak bisa,” ujarnya yang membuat kepalaku dipenuhi dengan tanda tanya.

“Kau ingat perjanjian kita tadi?” tanyanya dan aku mengangguk.

“Aku minta kau menjauh dariku mulai detik ini,”

“Mwo?” tanyaku berusaha meyakinkan diriku kalau aku pasti salah dengar.

“Aku minta kau menjauh dariku. Dan kuharap kau menepati janjimu,” ujar Donghae dingin dengan sorot matanya yang tajam.

“M-mwo? Wa-w-wae geude?” tanyaku menuntut penjelasan namun Donghae tak memperdulikanku. Ia meninggalkanku yang masih berusaha mencerna perkataannya, sendirian di toko musik itu.

“Mworago? Ia memintaku menjauhinya setelah sekian lama aku tak bertemu dengannya? Mwo?” tanyaku pada diriku sendiri.

Dengan segera aku keluar dari toko itu namun aku terlambat. Aku tak melihat keberadaan Donghae lagi. Berulang kali aku menyerukan namanya, ia tetap tak muncul. Aku memegangi dadaku, rasa sakit perlahan merayapi urat nadi dan persendianku. Kakiku bahkan sudah tak sanggup untuk menopang tubuhku lagi. Aku terduduk tak berdaya dan air mataku meluap.

Apa yang sebenarnya terjadi?

*****

DONGHAE POV

“Kau pasti bohong padaku. Apa yang kau katakan tadi siang pasti bercanda. Betulkan Lee Donghae?” tanya Johee yang tiba-tiba saja muncul di club yang biasa kukunjungi.

‘Ya, ini hanya kebohongan’ ingin sekali aku menjawab seperti itu namun tentu saja aku tak bisa. Aku tak boleh terbawa perasaan dan aku harus tetap menjalankan skenarioku agar Johee benar-benar pergi dari hidupku meskipun aku tak rela.

“Cih, apa yang kau harapkan dariku gadis lugu? Mencintaimu? Apa kau pikir dengan aku memelukmu tadi siang itu berarti aku mencintaimu?” tanyaku skeptis. Dengan segera aku menarik salah satu gadis yang sedari tadi berngelanyut manja disekelilingku dan mencium bibirnya.

“See? Aku bahkan bisa mencium setiap gadis tanpa perlu aku mencintainya,” ujarku. Johee terdiam terpaku. Ia tak bergeming sedikit pun hanya saja kini air mata mulai menetes dari matanya. Aku mohon Johee jangan menatapku dengan mata itu. Mata yang membesar dan lirih penuh kesedihan dan kekecewaan. Mata yang membuatku ingin memeluk dan menciumnya sekarang juga.

“PLAK!” suara tamparan terdengar jelas sekali membuat kami berdua menjadi pusat perhatian. Johee baru saja menamparku. Ya, aku memang pantas mendapatkan itu. “Aku membencimu Lee Donghae!” seru Johee dengan emosi yang sudah tak bisa ia kendalikan dan dengan segera ia meninggalkanku.

Aku mengerjapkan mataku beberapa kali untuk mencegah air mata yang memaksa keluar dari tempatnya.

“Donghae, gwencana?” tanya Siwon hyung padaku yang hanya kujawab dengan anggukan kepala. Dengan segera aku membawa tubuhku keluar dari tempat bising itu.

Aku memegangi dadaku, rasa sakit perlahan merayapi urat nadi dan persendianku setiap kali bayang-bayang Johee seliweran di kepalaku yang saat ini memang hanya terisi oleh kenangan yang Johee buat. Gadis yang aku cintai dan aku sayangi, yang baru saja kembali kutemui namun harus kembali kutinggalkan. Kakiku sudah tak sanggup untuk menopang tubuhku lagi. Aku terduduk tak berdaya dan air mataku mulai mengalir tanpa ekspresi.

*****

JOHEE POV

Aku merasa seperti orang bodoh. Disaat pria itu sedang asik bersama gadis-gadis lain, aku tetap saja datang ketempat ini hanya untuk memperhatikannya. Apa yang kau harapkan Shim Johee? Dia sejak awal tak mencintaimu. Ia hanya mempermainkan perasaanmu. Namun sebagian kecil hatiku masih mempercayainya dan meyakini kalau semua yang ia lakukan hanya sandiwara dan itu beralasan.

“Ini untukmu,” ujar seseorang sambil memberikanku orange jus yang tidak kupesan. Aku menatap jus itu dan bartender yang memberikanku minuman itu bergantian.

“Tenang saja, free. Dariku,” ujarnya.

“Geumampseumnida,” balasku lalu meminum jus itu.

“Sudah sebulan berlalu dan kau masih tetap datang kesini untuk melihatnya. Apa kau tak menyerah saja?” tanyanya.

Aku tertawa lirih. Ya, sudah sebulan berlalu sejak kejadian itu. Disaat pria itu move on, aku tetap saja stuck disini untuk menantinya. “Kau pasti ingin berkata kalau aku bodoh, kan? Silahkan. Itu memang sudah tak bisa diubah,” ujarku setengah bercanda – setengah sedih. Namun bukannya menertawakanku, tapi bartender itu malah mengelus lembut kepalaku.

“There’s a story behind every person. There’s a reason why they’re the way they are. They aren’t just like that because they want to. Something in the past created them, and sometimes it’s impossible to fix them,” ujarnya diakhiri dengan senyum lembut yang mampu melegakan jiwa raga.

“Mengingat perkataanmu, apa boleh aku menyimpulkan kalau Donghae tidak sungguh-sungguh ingin aku pergi darinya? Apa dia punya alasan kuat untuk melakukan itu semua?” tanyaku

“Kalau kau mencintainya dan kau punya keberanian, kau akan tahu apa yang harus kau lakukan saat ini,” ujar bartender itu sambil menunjuk pada Donghae yang sedang dihampiri oleh pria berjas hitam yang terlihat seperti anak buah seorang mafia dan tak lama kemudian Donghae bangkit dari duduknya lalu mengikuti pria tadi.

Ah, aku tahu apa yang kulakukan sekarang.

“Gamapseumnida …”

“Siwon. Choi Siwon,”

“Gamapseumnida Siwon-nim,” ujarku berterima kasih dan tanpa babibu aku segera meninggalkannya dan mengikuti punggung Donghae hingga akhirnya hilang setelah ia memasuki salah satu pintu ruang VIP club itu.

*****

DONGHAE POV

“Jadi kau bermain-main denganku, Lee Donghae?” ujar appaku sambil menghisap cerutu di kursi keagungannya. Aku yang tak mengerti apa yang ia bicarakan tentu saja memasang tampang kebingungan.

Appaku melemparkan beberapa foto yang menunjukan gambar diriku dan Johee sebulan yang lalu, saat kami di toko musik, bermain piano dengan gembira, berpelukan, dan diakhiri oleh tangisan.

“Kau ingin bermain piano lagi? Kalau tahu akan begini, seharusnya sejak dulu kusingkirkan saja gadis itu,” ujar appaku skeptis yang membuat emosiku melunjak seketika.

“HENTIKAN!” seruku. “Aku sudah lakukan apa yang kau mau. Aku sudah berhenti bermain piano dan aku bersedia menjadi penerus organisasi gelap yang kau dirikan ini! Apa lagi yang kau inginkan? Tidak cukupkah omma yang menjadi korbanmu? Jangan sekalipun kau berani menyentuh Johee! Aku benar-benar tidak akan memaafkanmu!”

“BRAK!” pintu ruangan appaku terbuka dengan kasar dan seorang gadis yang sangat kukenal melenggang masuk tanpa permisi.

“Bagaimana bisa seorang appa memperlakukan anaknya seperti itu?” tanyanya. Appaku sudah tertegun dan menatap gadis itu tak percaya, begitu pula aku.

“Apa ajjushi tak mengenal anakmu sendiri?” tanyanya lagi

“Apa ajjushi tak tahu bagaimana ia sangat menyukai musik dan bagaimana sakitnya saat ia tak bisa melakukan apa yang menjadi passion hidupnya?” tanyanya lagi

“Yaa.. Kau..”

“Apa ajjushi tak pernah melihat dan mendengar permainan Donghae? Apa ajjushi tak tahu kalau ia sangat hebat?”

“Diam!” seru appaku membuat Johee terdiam namun tak gentar. Ia tetap menatap lurus appaku.

“Kau.. Shim Johee, kan? Apa orangtuamu tak pernah mengajarimu sopan santun?” tanya appaku sinis.

Johee tersenyum, “Mereka mengajariku hal itu dengan sangat baik, namun mereka juga mengajariku untuk berani membela kebenaran,” balas Johee yang membuat urat nadi disekitar pelipis appaku bermunculan.

“Mulai hari ini aku akan membantu Donghae untuk mengejar cita-citanya,”

“Kau akan menyesal telah berani melawanku, nona Kang,” ujar appaku.

“Coba saja,” ujar Johee menyunggingkan senyum sombong untuk appaku. Kini ia menatapku dalam, “Aku tak takut pada ajjushi karena Donghae akan selalu melindungiku,”

“Sombong sekali,” ujar ayahku sambil mendengus kesal.

“Aku yakin itu,” jawab Johee lugas tanpa keraguan. Aku yang sudah tak bisa menahan perasaanku lebih lama segera menariknya keluar dari ruangan itu.

*****

“Stupid! What the hell are you doin there? Apa kau tak tahu bagaimana dengan mudahnya appaku dapat mencelakakan dirimu?” bentakku pada Johee.

“Mi-mianhe. Aku tak bisa mengendalikan diriku,” balas Johee lirih, tersirat rasa bersalah dari nada bicaranya.

“Apa kau tak tahu kalau appaku punya banyak anak buah yang bisa kapan saja menculikmu?!” seruku masih tetap kesal. Emosiku belum melunak.

“Mianhe,” balas Johee. Satu-satunya kata yang bisa Johee ucapkan.

Aku menghela nafasku panjang. “Sudah kubilang, menjauh dariku. Kalau kau mengikuti saranku, kau tak akan terlibat dalam kehidupanku,” balasku lirih. Aku nyaris menangis membayangkan yang tidak-tidak. Bagaimana kalau misalnya appa benar-benar akan membalas semua perlakuan Johee tadi?

“Don’t cry over the past, it’s gone. Don’t stress about the future, it hasn’t arrived. Live in the present and make it beautiful,” ujar Johee dengan senyumnya.

“Kalau kau takut aku kenapa-kenapa, jangan pernah menyuruhku untuk menjauh darimu. Mulai hari ini kau harus selalu disampingku karena aku sudah berkata pada appamu kalau kau akan melindungiku. Mau ditaruh mana wajahku kalau kenyataannya tidak seperti apa yang kukatakan?” ujar Johee dengan wajahnya yang berniat bercanda. Sungguh, gadis ini benar-benar tak bisa tebak.

Aku menarik Johee kedalam pelukanku. Dan membiarkan kepalaku ditopang oleh bahu sebelah kirinya. “Bagaimana mungkin kau masih bisa bercanda disaat seperti ini, Johee?” tanyaku masih dengan kekhawatiran yang tersisa.

“Karena tak ada yang perlu kutakutkan. Kau ada bersamaku,”

“Yeah, you’re right. I will protect you, my girl,”

*****

Seperti deja vu. Aku membaca papan nama tokoh musik baru yang berdiri di pusat kota Seoul, Serenade Music Shop. Dari kaca bening yang membatasi sisi luar dan dalam toko ini aku dapat melihat piano berjejer-jejer dan sebuah grand piano putih ditengah-tengah toko itu seakan memanggilku untuk memainkannya. Aku ingin sekali menekan tuts berwarna hitam putih itu namun ada rasa ragu dan takut di dalam dadaku.

“Don’t you want to play it?” tanya Johee yang sepertinya mengerti akan kekalutanku. Johee tersenyum padaku dan menggenggam tanganku erat lalu berkata, “Tenang saja, appamu tak akan tega melukaiku,” ujarnya penuh keyakinan.

“Mengapa kau bisa berkata seakan sudah sangat mengenal ayahku?” tanyaku pada Johee.

“Karena ayahmu itu mirip dirimu. Tak ingatkah bagaimana kau menyuruhku untuk menjauhimu? Kau bahkan sampai tega mencium wanita lain dihadapanku. Kau melakukan hal seperti itu demi kebaikanku. Aku yakin ayahmu juga demikian. Dia pasti punya alasan,” ujar Johee. “Lagipula kalau misalnya ajjushi memang mau melukaiku, bukankah kau sudah berjanji untuk melindungiku, Donghae ah?” tanya Johee yang membuat kepercaya-dirianku kembali.

“Yeah, you right,” balasku sambil menatap lekat gadis yang paling bisa membuatku merasa tentram.
Dengan penuh kesadaran, aku mendekatkan wajahku pada Johee dan dengan cepat aku mencium bibirnya yang tipis itu. “Mianhe, aku tak bisa menahan diri,” balasku sambil mengalihkan wajahku agar ia tak melihat pipiku yang saat ini pasti sudah merona.

“Tak masalah, aku suka kok,” ujar Johee dan dipenghujung kalimatnya ia mencium pipiku. Ia mengerlingkan matanya padaku sambil menyunggingkan evil smirk saat mendapati aku tertegun dan sedikit shock dengan sifat agresifnya. Tanpa menungguku tersadar, ia sudah masuk duluan ke toko itu.

“Omma, appa! Where are you? Aku membawa calon menantu kalian,” seru Johee yang membuatku kembali ke alam sadar. What?! Johee bilang ‘calon menantu’ ? Aku segera menyusul Johee dan memarahinya, bukan karena aku kesal tapi karena aku malu. “Yaa Johee kenapa kau berkata seperti itu?” seruku yang dibalas Johee dengan tatapan lirih, “Jadi kau tak mau menikah denganku?” tanya Johee sedih.

“Bu..bukan begi..” suaraku terputus saat aku mendengar suara derap langkah bersahutan menuruni tangga yang ada di salah satu sudut toko itu

“MANA? DIMANA? DIMANA PRIA PALING BERUNTUNG ITU?” tanya omma dan appa Johee antusias bahkan sebelum mereka tiba di lantai bawah.

Johee mendorongku seakan menyuruhku untuk memperkenalkan diri. Dengan segala kegugupan yang menggerayangi tubuhku, akhirnya aku bisa memperkenalkan diriku dengan baik. Kesan pertama itu sangat penting.

“Lee Donghae imnida, pacar Johee, ajjushi ajjuma,”

*****

JOHEE POV

Aku memperhatikan Donghae yang sedang bermain piano bersama seorang gadis kecil yang duduk dipangkuannya saat ini. Dengan sabar Donghae menuntun jari kecil gadis itu untuk menekan tiap tuts piano itu.

Sudah sebulan ini Donghae membantuku untuk bekerja menjaga toko musik ini seusai sekolah dan dalam kurun waktu itu aku bisa melihat banyak perubahan dari dirinya. Ia tertawa, tersenyum, dan menunjukkan beragam ekspresi yang selalu ia sembunyikan selama ini. Lee Donghae bukan lagi seorang pria yang dingin dan menyeramkan, kini ia adalah pria lembut  yang sangat mempesona. Bukan hanya wajah namun permainan piano juga, buktinya setiap kali ia bermain piano pasti mereka yang berjalan di depan toko kami akan rela menghentikan langkahnya untuk menikmati permainan Donghae.

“KLING” suara pintu bel toko kami berbunyi. Aku hendak membungkuk untuk menyapanya namun suaraku tercekat ditenggorokan saat aku melihat dengan jelas siapa tamu tersebut.

“A.. ajjushi?” gumanku.

Tak perlu waktu lama, Donghae kini sudah berdiri didepanku bak perisai yang berusaha untuk melindungiku. Ia menggenggam tanganku erat.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Donghae, datar namun dingin.

“Aku hanya ingin memberikan tawaran terakhir untukmu,” ujar ajjushi. “Kau memilih kekayaan, kekuasaan, dan posisiku atau kau lebih memilih hidup miskin bersama gadis itu?” tanyanya.

Suatu pilihan yang cukup sulit -menurutku- namun tak butuh hitungan menit Donghae sudah memberikan jawabannya. “Aku lebih memilih untuk hidup bersama Johee,” jawabnya tanpa keraguan. Jawaban yang keluar dari mulutnya membuatku semakin mengeratkan genggaman tangan kami.

Ajjushi menyinggungkan senyum sinis sambil berkata,  “Baiklah, aku tidak peduli lagi padamu. Mau kau jadi pengemis sekalipun dengan musikmu itu. Tapi kau jangan menyesal kalau tidak dapat harta warisan dariku,”

“Tentu saja, aku tak akan menyesalinya,” balas Donghae

*****

Seakan de javu, aku kembali memperhatikan pria tampan itu dari balik meja pegawai ini. Kegiatan yang kulakukan saat aku berumur 4 tahun, kini kembali terulang. Mataku tak bisa lepas darinya.

“Johee, berhentilah menatapku seperti itu,” ujar Donghae yang menyadarkanku.

“Ah, mi.. mianheyo,” balasku salah tingkah dan berpura-pura membaca buku administrasi yang ada dihadapanku.

“KLING” suara pintu bel toko kami berbunyi. Dengan segera aku membungkuk dan menyapanya. “Annyeonghaseyo,”

“Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku

*****

“Aku sangat menyukai permainanmu. Lembut, hangat, namun kuat dan berkarakter. Tinggal diasah sedikit lagi, kau pasti akan jadi pianist hebat. Kami akan memberikanmu beasiswa sekolah musik selama 4 tahun untukmu dan setelah itu kau berhak memilih untuk bersolo karir atau bergabung dengan agensi kami,” ujar pria yang baru beberapa menit lalu muncul dihadapanku dan Johee. Nama pria ini adalah Yoon Il san, seorang produser yang tertarik pada permainanku.

“Jadi apa kau berniat mengambil beasiswa itu?” tanyanya sekali lagi yang hanya membuatku dan Johee saling bertatapan, masih tak percaya dengan kenyataan indah yang datang padaku.

*****

5 years later..

1st Live in Concert
Lee Donghae
Story Of My Life

There is a point in your life when God will bring someone in, at a very unexpected time, and that will change everything. Just like when my first love come to my life for the second time. She safe me and help me to reach my dream. Because of her, i can stand in here. So, the last song.. This is only for you, Shim Johee,”

Aku tersenyum-senyum sendiri melihat Donghae yang sedang memainkan lagu terakhir dengan pianonya. Lagu yang ia ciptakan khusus untukku, “Only You”

“Aku sempat tak percaya kalau ternyata anakku itu sudah berubah. Ia bukan lagi anak manja yang selalu berpijak pada kekuatan orang lain,” ujar sebuah suara yang terdengar jelas ditelinga. Suara yang kukenal. Suara milik ayah Donghae.. Ajjushi?

“A..ajjushi? Kau datang?” pekikku tak percaya dengan keberadaan pria paruh baya disampingku ini.

“Kau sangat mirip dengan istriku,” ujar ajjushi yang membuatku sedikit malu. “Ia juga sangat percaya padaku seperti kau mempercayai Donghae. Namun sayangnya aku tak bisa menjaga kepecayaannya.

Aku takut hal itu terjadi juga pada Donghae dan akan membuat kalian berdua merasakan sakit seperti yang kurasakan,” ujar ajjushi. “Tapi melihat senyum diwajah kalian kurasa Donghae tak akan merusak kepecayaanmu,” lanjutnya.

Aku menatap lekat ajjushi, bisa kulihat sorot matanya yang sedih dan kesepian. Aku memeluk ajjushi dan merasakan kehangatan yang sama seperti saat aku memeluk appa. “Ajjuma sudah memilihmu sebagai pendampingnya dan ia tak pernah menyesal dengan pilihannya itu. Aku yakin itu,” ujarku dan dibalas dengan belaian lembut di kepalaku.

“Terima kasih, kau mengatakan sesuatu yang sudah lama ingin kudengar,” ujar ajjushi sambil melepas pelukanku.

“Aku makin tak sabar menantimu memanggilku ‘aboeji’. Aku harus pulang, jangan lupa kirimkan undangan kalian untukku,” ujar ajjushi yang memberikan tanda tanya besar untukku.

Apa maksudnya?

Tiba-tiba saja aku melihat sebuh tangan terjulur didepanku. Aku menengadah untuk melihat si empunya tangan itu dan ternyata.. Donghae??

“Yaa! Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku bingung dan shock.

“Come with me,” ujarnya sambil menggandeng tanganku erat dan membawaku ke atas panggung.

“If One is divided by Zero, what’s will it be?” tanya Donghae tiba-tiba begitu kami sudah berdiri ditengah panggung dan kembali menjadi pusat perhatian.

“Unlimited,” jawabku.

“That’s how my love for you works as well,” balas Donghae yang membuatku malu dan senang seketika. Aku dapat mendengar suara para tamu yang menertawakan kemampuannya dalam merayu wanita.

“So, what are are you going to do, Donghae?” tanyaku to the point.

“Say that you love me,” pinta Donghae. Aigo, namja ini.. Bagaimana ia bisa meminta hal tersebut didepan banyak orang seperti ini?

“If i’ll say i love you, will you let me go from here?” tanyaku memastikan.

“Okay. But, if i’ll say i love you too, will you marry me?” tanya Donghae sambil tersenyum manis padaku dan menyodorkan sebuah cincin cantik.

“Jeongmal saranghae Shim Johee. Would you be mine?” tanya Donghae tanpa keraguan.

“Are you.. Proposing me now?” tanyaku tak percaya.

“Of course. So, would you be mine? Yes or yes?” tanyanya yang membuatku tertawa dalam hati.

“Do you think i have another choice except say yes?” tanyaku.

“Of course, you don’t. Aku tak terima penolakan, Johee sayang,” balas Donghae yang membuatku tertawa dan mengangguk sebagai jawaban.

“Ne, i want to be yours,” balasku yang dengan sekejap dibalas oleh Donghae dengan perbuatan, ia menciumku didepan ribuan orang yang datang untuk menyaksikan konser tunggalnya.

Dan tentu saja keesokan harinya wajah Donghae dan aku menghiasi sebagian besar media massa Korea.

*****

“Meeting you was fate, becoming your friend or your enemy was a choice, but falling in love with you was beyond my control. Saranghae Shim Johee,”

—Lee Donghae, “Donghae-Johee Get Married”, Seoul Newspaper

“To love someone is nothing. To be loved by someone is something. To love and be loved by someone is everything. Nado saranghae Donghae ah,”

—Shim Johee, “Donghae-Johee Get Married”, Seoul Newspaper

END.