Nyamnyamnyam.
Weekend, bangun setengah 12 lalu bikin FF.
Tanpa edit mengedit langsung di post🙂
Maaf kalau kurang memuaskan.

RCL yaaa.

Enjoy!

Cast:
Cho Kyuhyun
Song Hyejin
Shim Changmin

Kepalaku sakit sekali, sampai untuk bangun pun aku tidak sanggup. Aku tidak mampu menggerakkan badanku untuk minum obat apalagi ke dokter. Aku hanya terbaring lemah di tempat tidur sambil memijit-mijit pelipisku, berharap sakit kepala ini segera sembuh. Tapi yang ada sakit kepalaku semakin menjadi.

“Kyu, aku mau putus. Aku bosan padamu. Kau terlalu sibuk. Kau lebih mementingkan pekerjaanmu daripada aku,” kata Song Qian melalui WhatsApp Messenger.

Tuhan, beritahu aku apa salahku sampai Kau membuatku seperti ini? Sudah hidup sebatang kara, kesehatan terganggu, ditinggal pacar pula. Untung, Kau tidak ikut mencabut pekerjaanku juga. Kalau sampai itu terjadi, aku rasa lebih baik Kau mencabut nyawaku sekalian.Aku pun menelepon Song Qian, “Kau serius? Kau benar-benar mau putus dariku?” Song Qian tidak segera menjawab, ia malah menangis. “Ya sudah kalau itu maumu. Maaf sudah terus menyakitimu. I’m so sorry,” lanjutku lalu menutup telepon. Aku tidak sanggup mendengar tangisannya lebih lanjut. Song Qian pantas mendapatkan yang lebih baik dariku.

Rasa nyut-nyut di kepalaku kini sudah tidak tertahankan lagi. Aku sudah sampai tahap susah melihat dan mendengar apapun saking sakitnya. Rasanya mungkin seperti mau mati. Tidak! Tidak! Aku belum mau mati sekarang. Aaaargh! Sakit di kepalaku semakin parah.

Dengan sisa-sisa tenaga yang aku miliki, aku menelepon dokter sekaligus sahabatku, Changmin. “Changmin-ah! Aku sakit. Segera ke apartemenku… Ah, kau tidak usah banyak tanya. Cepat kemari! Aku tidak bisa menahannya lagi… Cepatlah, cerewet!” kataku kesal. Aku sudah hampir tidak sadarkan diri, Changmin masih saja mengajakku bercanda.

Aku menunggu kedatangan Changmin setengah putus asa. Untung tak lama setelah aku menelepon, ia datang lengkap dengan peralatan dokternya. Ia menghampiriku dengan terburu-buru dan langsung memeriksaku. “Vertigomu kumat, Kyu. Kau terlalu memforsir dirimu untuk bekerja sampai kau tidak memeperhatikan kesehatanmu sendiri. Aku kan sudah bilang ….”

Changmin terus saja menceramahiku sambil menyiapkan suntikan dan obat-obatan untukku. Jujur, aku tidak peduli apa yang dilakukan Changmin asal aku bisa sembuh. Aku lebih peduli pada seorang gadis yang tidak aku sadari keberadaannya. Dia berdiri di belakang Changmin sambil menatapku tegang.

“Changmin-ah, siapa gadis itu? Apa dia pacarmu?” tanyaku penasaran.

“Gadis siapa?” tanya Changmin balik, membuatku takut. Apa aku hanya berhalusinasi?

“Itu yang berdiri di belakangmu. Dia terus mena…” Aku tidak bisa melanjutkan perkataanku karena tampaknya aku sudah tidak sadarkan diri. Changmin, kamarku dan juga gadis itu sudah tidak ada lagi dalam penglihatanku. Aku juga tiba-tiba tuli. Apa aku mati? Apa tadi yang aku lihat tadi malaikat? Apa gadis itu malaikat pencabut nyawaku?

+++++

Aku mengerjapkan mataku, menyesuaikan diri dengan sinar matahari yang menembus masuk. Aku membuka mataku dan melihat pemandangan yang sama dengan tadi malam aku lihat. Changmin, kamarku dan gadis itu. Bedanya gadis itu menatapku sambil tersenyum.

“Changmin Oppa, Kyu oppa sudah sadar,” katanya. Changmin yang entah sedang apa segera menghampiriku dan mengecekku kembali.

“Apa kepalamu masih sakit?” tanya Changmin.

Aku menggeleng karena memang tidak ada rasa sakit apapun sekarang. “Apa aku masih hidup?” tanyaku. Aku ingin tahu apa aku hidup di dunia nyata atau di dunia kematianku.

Changmin tertawa keras. “Memang siapa yang mati? Kau hanya pingsan kemarin akibat suntikan dariku. Kenapa kau berpikir seperti itu?”

Aku terdiam. Aku lalu menoleh pada gadis yang kini sudah berdiri di samping Changmin. Dia terus saja tersenyum kepadaku. “Oppa, lega rasanya melihat kau sudah sembuh,” katanya.

Changmin lalu merangkul bahu gadis itu. “Dia yang kau tanyakan tadi malam? Kau pikir dia malaikat pencabut nyawa?” tanya Changmin tepat seperti pikiranku. Aku tidak tahu sejak kapan Changmin memiliki keahlian untuk membaca pikiranku. Pokoknya dia selalu bisa mengatakan sesuatu yang ada di pikiranku tanpa perlu aku menjelaskannya terlebih dahulu. Begitu juga sebaliknya.

Aku menganggukkan kepalaku. Changmin pun tertawa lebih keras. “Masa kau lupa dengan dongsaeng kita? Song Hyejin. Kau lupa?” tanya Changmin lagi. Aku menatap gadis itu lekat-lekat. Pikiranku berlari ke tahun-tahun dimana aku sering sekali bersamanya. Aku ingat.

“Song Hyejin, gadis gendut, jelek dan berkulit gelap yang selalu mengikutiku kemanapun aku pergi sampai-sampai aku selalu kena ejek dan tidak bisa punya pacar karena kau,” ucapku.

Hyejin tersenyum. “Oppa benar. Maafkan aku,” sahutnya.

“Ada apa kau kemari? Mau menguntitku lagi? Meskipun kau sudah langsing dan cantik, jangan coba-coba untuk mendekatiku. Aku tidak tertarik pada gadis penuh operasi plastik sepertimu,” kataku to the point.

“Yaa Kyuhyun-ah! Kejam sekali mulutmu,” tegur Changmin. Aku tahu ucapanku memang kejam tapi aku tidak akan meminta maaf apalagi menarik ucapanku. Aku benci gadis ini. Aku tidak suka padanya sejak ia menjadi tetanggaku dan suka mengikutiku. Sejak itu, hidupku jadi susah dibuatnya dan aku tidak bisa memaafkannya.

Hyejin masih tersenyum sambil berbicara dengan Changmin. “Tidak apa, Changmin Oppa. Aku tahu Kyu oppa pasti masih marah padaku. Aku juga yang salah. Sudahlah,” katanya. Ia lalu kembali menatapku. “Aku kemari hanya untuk menyapa Oppa saja. Kalau Oppa tidak suka, tidak masalah buatku. Yang penting, aku melihat Oppa baik-baik saja. Itu sudah cukup.”

Hyejin lalu membungkukkan tubuhnya kepadaku dan Changmin. “Aku pulang dulu. Senang bisa bertemu Oppadeul lagi setelah sekian lama. Permisi,” pamit Hyejin lalu keluar dari kamarku sambil membawa tasnya.

Changmin mengantarkan Hyejin sampai ke pintu keluar lalu kembali ke kamarku. Wajahnya terlihat sangat marah. “Kau gila! Kau pasti sudah tidak waras! Tega-teganya kau bicara seperti itu pada Hyejin! Hyejin hanya ingin menjaga hubungan baik denganmu, tidak lebih. Asal kau tahu, dia itu akan menikah!” seru Changmin marah-marah. Ia lalu mengambil sebuah undangan dari atas meja kerjaku. “Lihat! Kau lihat undangan ini?! Hyejin mengantarkannya sendiri untukmu!!”

“Buat apa dia mengundangku?” tanyaku sinis.

Changmin melemparkan undangan itu padaku. “Dari dulu sampai entah kapan, dia akan terus mencintaimu. Secara fisik, dia memang berubah tapi hatinya tidak. Aku rasa kau harus belajar menilai orang dari hatinya bukan hanya penampilan. Permisi,” jawab Changmin tidak nyambung sama sekali. Aku pun berusaha mencerna jawabannya tapi malah kebingungan sendiri.

Aku menyusul Changmin yang sudah mencapai pintu apartemenku. “Jadi buat apa dia menikah dengan orang lain jika ia mencintaiku? Bukankah itu akan menyakitkannya? Melihatku di pesta pernikahannya. Dia pasti berharap aku yang menikah dengannya kan?” tanyaku lagi.

“Apa kau akan menikahinya?”

Aku menggelengkan kepalaku. “Karena itu…”

“Jadi, buat apa dia menunggu orang yang jelas-jelas tidak mencintainya? Lebih baik dia menikah dengan orang lain yang mencintainya dan belajar mencintai pria itu.”

Changmin membuka pintu apartemenku lalu menutupnya kembali dan menatapku. “Atau mungkin dia masih berharap padamu. Dia berharap kau membalas cintanya dan menghentikan pernikahannya itu,” kata Changmin dengan serius.

Aku tertawa. “Tidak mungkin. Dia tahu aku membencinya. Dia tahu, sampai matipun aku tidak akan mencintainya,” balasku.

“Ada satu yang tidak satupun dari kita ketahui,” kata Changmin.

Aku menaikkan alisku, menantangnya. “Apa?”

“Tuhan. Kita tidak tahu apa rencana Tuhan, Kyu.” Kali ini Changmin membuka pintu apartemenku dan meninggalkanku dengan perkataan-perkataan yang membuatku pusing. Haish!

++++

Flashback

Aku membuka pintu apartemenku dan menemukan gadis berkacamata, berkawat gigi dengan rambut ekor kuda berdiri di depanku. “Selamat pagi, Oppa,” sapanya sambil tersenyum ramah. Aku menatapnya dengan kesal lalu berjalan begitu saja tanpa mempedulikannya. Ia mengikutiku dan mensejajarkan langkahnya denganku.

“Oppa, apa hari ini Oppa akan pergi ke Busan? Aku dengar, anak-anak kelas 3 SMA akan pergi kesana untuk merayakan kelulusan. Apa Oppa akan ikut?” tanyanya yang sangat menggangguku.

“Bukan urusanmu,” jawabku ketus.

“Kalau Oppa ikut apa boleh aku ikut?” tanyanya memancing emosiku.

Aku menghentikan langkahku, begitu pun juga dia. Aku memutar badanku agar bisa berhadapan langsung dengannya. “Song Hyejin, dengarkan aku baik-baik. Ini mungkin sudah keseribu kalinya aku mengatakan ini padamu. Aku muak denganmu. Aku tidak suka kau mengikutiku terus. Aku tahu kau mencintaiku tapi aku tidak. Aku jijik denganmu. Kau lihat gadis-gadis seumurmu itu, mereka begitu menggairahkan hanya dengan memakai seragam sekolah mereka. Berbeda jauh denganmu. Jadi mulai sekarang, jangan dekat-dekat denganku lagi. Titik!”

Aku kembali berjalan dan melihat Hyejin tidak lagi mengikutiku. Ia berdiri tetap di tempatnya dengan kepala tertunduk. Lebih baik seperti itu. Akhirnya setelah bertahun-tahun aku diikutinya terus, dia lepas juga. Aku mendapatkan kebebasan dan harga diriku kembali! Yes!

—-

Sudah seminggu aku berangkat ke sekolah sendiri. Pulang pun sendiri. Makan malam, belajar dan apapun sendiri. Hyejin sudah seminggu tidak muncul di hadapanku. Apa dia sangat sakit hati dengan ucapanku? Apa aku harus minta maaf?

Aku mengambil handphoneku dan mencari nomor Hyejin di list penelepon, karena aku tidak pernah menyimpan nomornya. Baru aku mau menghubunginya. Ia sudah lebih dahulu menghubungiku.

“Kyuhyun Oppa,” sapanya dengan riang. “Kau sedang apa? Sudah makan? Sudah seminggu kita tidak bertemu, apa kabar?”

Banyak sekali pertanyaannya, membuat kesal saja. “Cerewet! Dimana kau? Kenapa tidak pernah muncul lagi? Apa kau…sakit hati dengan ucapanku?” tanyaku ragu-ragu.

Hyejin tertawa. “Tidak. Aku tidak sakit hati. Oppa memang benar kok. Karena itu aku tidak mau menemui Oppa lagi. Aku tidak ingin membuat Oppa malu. Maafkan aku ya,” ucapnya membuatku jadi merasa sangat bersalah.

“Iya, iya kumaafkan. Kau dimana sekarang?”

“Aku pindah ke Singapore. Aku akan melanjutkan sekolahku di sini. Oppa baik-baik ya di sana. Sampai jumpa lagi meski aku tidak tahu kapan. Jaga kesehatanmu dan jangan lupa cari pacar. Hihihi. Daaah, Oppa!”

Hyejin menutup teleponnya. Saat itu hatiku terasa sangat sakit. Aku merasa sangat bodoh dan berdosa. Pada saat yang bersamaan, aku juga merasa sangat kesepian. Aku menyadari bahwa Hyejin adalah satu-satunya temanku. Marah. Kesal. Benci. Segalanya campur aduk di dadaku sehingga membuatku sesak. Susah sekali rasanya untuk bernafas. Hanya satu yang aku sadari: KACAU. Aku mengacaukan hidupku sendiri.

-to be continued-