Yupp!!!
This is the real part!
Yippie.

Stlh selesai membuat prolog dari jam setengah 12 sampai setengah 2. Author kembali tidur sampai jam setengah 4. Setelah itu barulah membuat ff ini. Hahahaha.

Tanpa edit mengedit langsung post.
Segera dibaca!!

Yippie!!

Cast:
Cho Kyuhyun
Shim Changmin
Song Hyejin

Hari pertama aku kembali ke kantor setelah Changmin menyatakan aku sudah sehat rasanya begitu menyenangkan. Aku membuka pintu apartemenku dan melihat Hyejin berdiri di hadapanku sambil tersenyum. “Oppa!!!” serunya dengan riang lalu memelukku. Aku memegang pinggang Hyejin dan mendorongnya menjauh dariku. Aku tidak kuat merasakan detak jantungku yang sangat cepat ketika bersentuhan dengannya. Dengan blouse salem dan rok mini hitamnya, tidak lupa sepatu hak tingginya, Hyejin terlihat sangat anggun sekaligus sexy.

“Mau apa kau kesini? Menguntitku?” tanyaku tetap dengan ketus.

Hyejin tersenyum, membuatku heran. Aku sudah berkali-kali mencercanya bahkan menghinanya tapi ia masih bisa tersenyum padaku. “Menjemput bosku,” jawabnya dengan ringan.

“Bos? Maksudmu?”

Hyejin merangkul lenganku dan mengajakku berjalan. “Tampaknya memang sudah nasibmu selalu diikuti olehku,” katanya sambil menyengir. “Aku dipindahtugaskan dari Singapore ke Seoul oleh perusahaan tempat kita bekerja. Awalnya juga aku tidak tahu ternyata kita bekerja di perusahaan yang sama. Sampai kemarin aku masuk kantor dan masuk ke ruanganmu. Ternyata Oppa atasanku. Senang sekali rasanya,” jawabnya dengan ceria. Sama seperti bertahun-tahun lalu saat dia masih mengikutiku berangkat ke sekolah.“Jadi maksudmu setiap hari aku akan bertemu denganmu?”

Hyejin mengangguk dengan senang. “Dan aku akan mengantarjemputmu setiap hari. Persis seperti waktu kita masih sekolah. Menyenangkan sekali bukan?”

Aku tidak menghiraukan perkataannya. Aku segera masuk ke dalam mobil dan menurunkan kacanya. “Kenapa kau masih berdiri di sana? Cepat masuk. Aku tidak mau terlambat,” kataku.

Hyejin memandangku dengan takjub lalu masuk ke dalam mobil sambil tersenyum. “Kenapa gadis ini suka sekali tersenyum? Aneh,” batinku dalam hati. Begitu ia masuk, aku langsung memacu mobilku menuju kantor.

Sesampainya di kantor, Hyejin lebih dulu turun dari mobil dan membukakan pintu untukku. “Tidak perlu sampai seperti itu. Aku bisa buka pintu sendiri. Kau jalan saja duluan,” kataku malu karena ada beberapa mata yang melihat kami dan tertawa-tawa.

Hyejin tersenyum. “Baiklah,” katanya. Ia lalu berjalan menuju lift sambil membalas orang-orang yang menyapanya. Aku mengikuti Hyejin dari belakang sambil memperhatikan sekitarnya. Hampir setiap orang yang sudah menyapanya, terutama laki-laki, akan terdiam sebentar untuk memperhatikan Hyejin. Aku melihat mata mereka yang penuh rasa kagum sekaligus nafsu.

“Kyu-nim,” panggil Hyejin saat pintu lift terbuka. Aku pun masuk ke dalam lift diikuti oleh Hyejin dan beberapa pegawai lain.

Aku berdiri di samping Hyejin yang sedang memperhatikan layar penunjuk lantai yang terus berubah-ubah sesuai dengan di lantai berapa lift ini berhenti. Tanpa sadar aku memperhatikan tangannya yang memegang tali tasnya. Tampak sebuah cincin emas putih melingkar di jari manisnya. “Kapan kau akan menikah?” tanyaku reflek karena teringat undangan yang dilemparkan Changmin padaku beberapa hari lalu.

“4 bulan lagi. Masih lama,” jawabnya singkat.

Lift pun berhenti di lantai 4, tempat bagianku berada. Aku pun segera keluar dari lift diikuti oleh Hyejin. “Selamat bekerja,” ucapnya begitu aku mau memasuki ruanganku.

Aku hanya membalas, “Humm.” Hyejin lalu berjalan menuju tempatnya dan mengerjakan apa yang seharusnya dia kerjakan. Sebagai pegawai, tampaknya ia tidak akan mengecewakan. Hanya saja cincin yang dipakainya itu sangat menyilaukan mataku.

++++

Hari sudah hampir larut tapi aku masih harus menyelesaikan pekerjaan-pekerjaanku yang terbengkalai karena aku tidak masuk selama sakit. Kulihat kantor sudah hampir kosong, tinggal Hyejin dan suara tivi yang menyatakan aku tidak sendirian.

“Oppa, apa kau belum selesai?” tanya Hyejin yang ternyata sudah masuk ke dalam ruanganku.

“Sedikit lagi,” sahutku.

“Oppa, pulanglah. Istirahat. Oppa kan baru sembuh.”

“Kau sendiri kenapa belum pulang?” jawabku tanpa mengalihkan sedikitpun fokusku dari pekerjaan.

“Aku menunggumu. Tidak akan kubiarkan Oppa sendirian di kantor ini. Oppa kan baru sembuh, aku takut penyakitmu tiba-tiba kumat apalagi caramu bekerja sampai selarut ini.”

“Humm,” sahutku cuek. Aku terus saja menyelesaikan pekerjaanku. Tanpa sadar, Hyejin sudah berada di belakangku dan mengalungkan lengannya di leherku. Refleks, aku membentaknya, “Lepaskan!”

Hyejin melepaskan tangannya dan mundur beberapa langkah dariku. Wajahnya menatapku dengan takut. “Kau turun duluan. Kita pulang sekarang,” perintahku galak.

Hyejin menurutiku. Ia segera keluar dari ruanganku dan pergi menuju parkiran mobil. Sedangkan aku lebih dulu membereskan pekerjaanku sekaligus detak jantungku yang kembali tidak normal gara-gara Hyejin. Tampaknya aku sama sekali tidak bisa bersentuhan dengan Hyejin.

“Oppa,” ucap Hyejin begitu aku masuk ke dalam mobil.

“Waeyo?” tanyaku sambil menyalakan mesin mobilku.

“Mi…mianhe. Aku hanya sangat merindukanmu,” jawabnya pelan.

Seketika jantungku kembali berdebar tidak karuan mengingat apa yang terjadi. Tangannya yang menyentuh leherku. Kepalanya di bahuku. Nafasnya. Bau parfumnya. Semua yang membuatku jadi tidak normal, termasuk cincin yang dipakainya, yang mengingatkanku bahwa Hyejin milik pria lain.

“Lupakan. Anggap tidak pernah terjadi apa-apa,” sahutku.

Aku langsung memacu mobilku menuju apartemen. Aku menginjak gas sekencang mungkin, selaras dengan emosi yang kutransfer dari kepalaku ke kaki. Tak lama, mobilku sudah terparkir rapi di basement apartemen.

Aku segera turun tapi tidak dengan Hyejin. “Kenapa kau tidak turun?” tanyaku bingung.

Hyejin menatapku ragu-ragu. “Aku tidak tinggal di apartemen ini, Oppa. Aku tinggal di rumah keluarga pacarku. Kira-kira setengah jam naik bis dari sini tapi bis terakhir jam setengah 11 tadi,” jawab Hyejin.

Aku menelan jawabannya dan menertawakan diriku sendiri. Tampaknya, hanya aku yang masih terkungkung dalam kenangan masa lalu. Bagaimana mungkin aku berpikir bahwa Hyejin masih tetanggaku seperti beberapa tahun lalu? Apartemen Hyejin hanya beda beberapa kamar dari apartemenku, ketika aku masuk SMP sampai mau kuliah. Bukan ketika Hyejin akan menjadi istri orang 4 bulan lagi.

“Aku tidak bisa mengantarmu. Terserah kau mau tidur dimana,” kataku tidak peduli. Haaahh. Lebih benar kalau kukatakan aku marah walau aku tak tahu siapa yang harus aku marahi. Diriku sendiri mungkin?

Aku melangkahkan kakiku menuju lift yang sedang menuju basement ini. “Oppa,” panggil Hyejin sambil melangkahkan kakinya menyusulku.

“Waeyo?” tanyaku, masih dengan galak.

“Boleh aku menginap di tempatmu?”

Aku menganga mendengar pertanyaan Hyejin. Apa yang ada di pikirannya saat ini? Dia akan menikah tapi masih mau nginap di tempat seorang pria selain calon suaminya?! “Kau gila?” tanyaku.

Hyejin menggeleng. “Aku tidak punya pilihan. Aku tidak mungkin berjalan kaki ke rumah, apalagi selarut ini. Bisa-bisa aku diperkosa di jalan. Kajja, Oppa!” jawabnya ringan. Ia pun melenggangkan kakinya masuk ke dalam lift. Aku hanya mengikutinya dengan perasaan tidak percaya. Apa yang dia pikirkan?

++++

Hyejin keluar dari kamar yang aku pinjamkan untuknya dengan kaus dan celanaku yang juga aku pinjamkan untuknya. Dia mendatangiku dan duduk di sampingku yang sedang menonton tivi, meski sekarang sudah hampir jam 2 pagi.

“Oppa, kenapa sih kau susah sekali disuruh istirahat? Nanti kalau vertigomu kambuh bagaimana?” oceh Hyejin yang membuat kupingku panas mendengarnya.

“Astaga Hyejin, kau cerewet sekali. Kau tidak ada bedanya dengan Changmin. Aku tidak akan kenapa-kenapa. Tenanglah,” protesku.

“Tapi Oppa, kau sudah terlalu lelah. Bangun jam 6 pagi, lalu ke kantor sampai larut malam. Sedetikpun belum istirahat. Mau jadi apa…”

“Mana cincinmu?” potongku ketika aku memperhatikan Hyejin dan menemukan cincin tunangannya, mungkin, tidak ada di jarinya.

“Di kamar. Aku lepas tadi waktu aku mandi. Kenapa?” sahutnya.

“Tidak apa,” kataku singkat. Aku lalu kembali menonton tivi. Begitu juga dengan Hyejin. Aku melihat acara tivi di hadapanku tapi tidak aku mengerti. Pikiranku terlalu kacau, memikirkan Hyejin.

“Hye, apa kau akan benar-benar menikah?” tanyaku pelan. Aku begitu penasaran dengan jawabannya.

“Tampaknya begitu,” jawab Hyejin dengan singkat.

Aku mengubah posisi dudukku jadi menghadap Hyejin. “Apa maksudmu dengan tampaknya begitu?”

“Yah, undangan sudah disebar. Kalau batal, mau ditaruh di mana mukaku.”

“Apa kau mencintainya?” tanyaku dengan serius. Hyejin terdiam. Jantungku berdebar tidak karuan. Suasana di antara kami jadi kaku dan dingin.

“Apa aku harus menjawabnya dengan jujur?” tanya Hyejin balik.

Aku menganggukan kepalaku.

“Tidak tapi dia sangat mencintaiku dan kurasa itu cukup.”

“Apa…kau masih mencintaiku?”

Hyejin menatapku sambil tersenyum. “Tentu. Tidak pernah bisa berubah sekeras apapun aku mencoba.”

Aku merasakan ketulusan Hyejin dalam setiap ucapannya, begitu juga dadaku yang rasanya mau meledak saat mendengarnya masih mencintaiku. Tapi aku tidak bisa begitu saja membalas cintanya. Aku terlalu jahat untuknya.

“Aku rasa kau sudah jatuh cinta pada orang yang salah. Aku sudah banyak sekali berbuat jahat padamu, Hye. Tidak seharusnya kau masih mencintaiku. Justru kau harus membenciku.”

Hyejin menatap langsung mataku dan membelai lembut kedua pipiku. Dia menangkupkan kedua telapak tangannya di pipiku. “Oppa boleh mengatakan apa saja padaku asal jangan menyuruhku membencimu. Tidak bisa. Itu lebih susah daripada menghadapi jarum operasi. Kalau Oppa tidak bisa membalas cintaku, aku tidak masalah. Tapi jangan minta aku membencimu. Arraseo?”

Aku mengelus kedua tangan Hyejin lalu memindahkannya dari wajahku ke punggungku. Aku menariknya lebih dekat dan menguncinya dengan erat di pelukanku. “Mianhe. Jeongmal mianhe,” bisikku. Aku merasa sangat bersalah atas apa yang selama ini telah aku perbuat padanya. Beratus-ratus kali aku menghinanya tapi dia tidak pernah marah. Dia tetap mencintaiku dan menerima aku apa adanya. Dan ketika aku menyadari bahwa aku membutuhkannya lebih dari apapun, semua sudah terlambat. Aku sudah melakukan banyak kesalahan bodoh yang mempersulit hidupku.

++++

Aku merasa ada sesuatu yang sangat berat menimpa tubuhku, yang membuatku jadi susah untuk bangun. Aku membuka mataku dan melihat Hyejin ternyata sedang mendudukiku. Ia menatapku sambil tersenyum. “Good Morning!” sapa Hyejin dengan riang lalu mendaratkan sebuah ciuman di bibirku.

“Yaa! Apa yang kau lakukan?!” seruku kaget.

“Anggap saja itu hadiah dariku karena semalam akhirnya kau akui juga bahwa kau mencintaiku,” sahut Hyejin sambil menyengir gembira.

“Semalam kapan?” tanyaku pura-pura lupa. Aku ingat mengatakannya saat memeluknya semalam. Saat itu, aku tidak kuat lagi menahannya.

Hyejin memanyunkan bibirnya. “Pura-pura lupa. Dasar jahat. Padahal aku menunggu ucapan itu keluar dari mulutmu sejak bertahun-tahun lalu.”

Aku tersenyum memandang Hyejin lalu memeluknya. “Aku mencintaimu,” ucapku tepat di telinganya. Hyejin tertawa lalu mengelus kepalaku dengan lembut.

“Bagus. Aku suka setiap Oppa mengatakannya.”

Aku tersenyum dan memeluk Hyejin semakin erat. Hyejin tertawa-tawa saat aku meniup belakang telinganya dengan mulutku. “Oppa, geli,” katanya dengan manja. Tentu saja itu membuatku jadi lebih ingin menggodanya.

“Oppa,” kata Hyejin lagi sambil tertawa.

“Wae?” tanyaku polos.

“Sudah ah. Aku mau buat sarapan.”

Hyejin lalu melepaskan diri dariku dan berjalan keluar kamar. Saat Hyejin membuka pintu, Changmin adalah orang yang pertama kami lihat. Ia datang tidak pada waktunya.

“Annyeong Oppa,” sapa Hyejin lalu meninggkalkan kami berdua.

Changmin menatapku dengan penuh curiga. “Apa yang dilakukannya di sini? Apa kau mempermainkannya? Ingat dia sudah mau menikah, Kyu. Jangan hancurkan masa depannya,” oceh Changmin tanpa memberikan kesempatan padaku untuk bicara.

Aku bangun dan bicara dengan Changmin. “Aku tidak lupa bahwa Hyejin adalah calon istri orang tapi aku tidak bisa lagi menahan perasaanku. Aku mencintainya. Aku sudah mengatakan pada Hyejin bahwa aku juga mencintainya jadi sekarang tinggal Hyejin yang memilih. Kalau ia mau bersamaku, aku akan menerimanya dengan senang hati,” sahutku.

“Bagaimana kalau ia tidak mau bersamamu dan kebersamaan kalian saat ini hanya sesaat?” tanya Changmin.

“Ya sudah kalau itu memang maunya. Aku tidak bisa memaksa.”

“Apa kau tidak akan memperjuangkannya?”

“Kalau ia tidak mau?”

Changmin menertawaiku. “Kau gila. Kuberitahu padamu. Hyejin sudah menunggumu bertahun-tahun. Kalau kau melepaskannya begitu saja di saat kalian sudah saling mencintai, kurasa yang akan sakit bukan hanya kalian berdua. Aku juga akan sakit.”

“Wae?”

“Karena kupastikan kau pasti akan menderita sakit parah, mungkin berkeinginan mati, dan memaksaku untuk mengurusmu.”

Changmin memang mengatakannya dengan bercanda tapi aku tahu maksudnya serius. “Kalau memang Hyejin tidak mau, aku mau bilang apa?”

“Setidaknya berjuanglah dulu. Buat dia memilihmu. Bodoh!”

Changmin menatapku dan menunggu reaksiku. Aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya keluar dari kamarku dan menemui Hyejin yang sedang memasak sarapan untuk kami. Aku memandang punggungnya yang bergerak-gerak akibat menggoreng-goreng telur.

“Hyejin-ah,” panggilku.

“Wae?” sahutnya sambil menoleh kepadaku dengan senyuman ceria.

“Batalkan pernikahanmu. Menikahlah denganku,” ucapku begitu saja.

++++

Aku, Hyejin dan Changmin duduk bersama di meja makan sambil menikmati omelet mi anggur yang dibuat oleh Hyejin. Tidak ada pembicaraan di antara kami sampai Changmin mengajukan diri untuk meninggalkan kami berdua.

“Hye, jadi bagaimana permintaanku tadi?” tanyaku takut tapi aku ingin segera mendapatkan jawaban darinya.

Hyejin duduk dengan tegang sambil menatapku. “Bisa kita membahasnya nanti? Dua hari ini aku adalah yeojachingu Oppa dan kita akan bersenang-senang. Okay?”

Aku tertawa. “Terserah kau saja. Asal kau memikirkannya dengan serius. Aku mau menikah denganmu.”

Hyejin tersenyum. “Iya, pasti aku memikirkannya. Sekarang Oppa lebih baik mandi. Kita akan jalan-jalan.”

“Kemana?”

“Belanja perlengkapan apartemenmu ini. Masa sapu saja tidak ada? Kulkas pun hanya ada air putih. Mau jadi apa Oppa?”

Aku pun memeluk Hyejin dan mengecup pipinya. “Saranghae,” bisikku lalu berlari ke kamar mandi. Aku sangat bersemangat untuk kencan pertamaku bersama Hyejin meskipun itu hanya untuk membeli sapu.

“Oppa. Ayo berangkat!” seru Hyejin dari luar kamarku. Aku pun segera menemuinya dan merangkulnya.

“Kajja!” ucapku. Kami pun segera meluncur ke supermarket untuk berbelanja. Rasanya seperti pasangan suami istri yang baru menikah, yang ingin mengisi rumah.

Sesampai di supermarket, Hyejin langsung mengambil barang-barang yang menurut dia diperlukan di apartemenku. Sedangkan aku hanya mengikutinya dari belakang sambil mendorong troley. Menyenangkan sekali melihat Hyejin sibuk memilih-milih untuk kepentinganku.

“Oppa, lapar tidak? Kita makan dulu baru pulang mau tidak?” tanya Hyejin ketika aku selesai memasukkan semua belanjaannya ke dalam mobil.

“Okay. Aku juga lapar sekali. Kau mau makan dimana?”

“Oppa ingat restoran waktu aku merayakan ulang tahunku yang ke 13? Apa restoran itu masih ada?”

Aku menganggukkan kepalaku. Restoran italia kesukaan Hyejin sejak kecil masih berdiri kokoh di dekat apartemenku. “Kita kesana sekarang,” kataku bersemangat. Hyejin pun tidak kalah bersemangat.

Saat aku mau menjalankan mobilku, seorang pria berdiri di samping mobilku sambil mengetuk-ngetuk kaca di bagian Hyejin. “Hye, turun. Aku mau bicara denganmu,” teriak pria itu meskipun aku hanya mendengarnya samar-samar.

Hyejin menatap pria itu dengan ketakutan. “Jinki Oppa,” gumamnya lalu membuka pintu dan turun dari mobilku. Pria yang bernama Jinki itu lalu menarik Hyejin menjauh. Aku yang cemas, segera menyusul mereka.

“Dasar wanita murahan!” bentak Jinki kepada Hyejin. Plak! Ia juga menampar Hyejin dengan kencang.

Hyejin memegang pipinya sambil menahan air matanya. “Oppa, maafkan aku. Maaf,” ucap Hyejin berkali-kali sambil berlutut di hadapan pria itu.

“Katamu kau di luar kota karena ada tugas. Tapi apa yang kulihat? Kau bermesraan dengan seorang pria. Padahal kau akan menikah denganku beberapa bulan lagi!” teriak laki-laki itu lalu kembali menampar Hyejin.

Hyejin sudah jatuh terduduk di hadapan laki-laki itu. “Oppa, aku mohon ampuni aku,” isak Hyejin.

Aku tidak sanggup lagi melihatnya. Aku bergerak mendekati Hyejin dan menariknya berdiri. Mataku bergerak marah pada Jinki yang ternyata adalah calon suami Hyejin. “Aku tidak peduli siapa kau. Yang pasti tidak akan kuserahkan Hyejin kepada laki-laki sekejam kau!” Seruku kesal.

Aku tidak peduli apa yang diumpatkan laki-laki itu padaku. Aku tetap menarik Hyejin masuk ke dalam mobilku. “Kau benar-benar harus membatalkan pernikahanmu. Bagaimana kau bisa hidup dengan pria yang suka memukul seperti itu?”

Hyejin mengusap air matanya dengan tisu. “Aku tidak bisa. Keluargaku punya hutang yang sangat besar kepadanya. Satu-satunya cara agar hutang itu lunas adalah aku menikah dengannya.”

“Batalkan pernikahanmu! Aku yang akan membayar semua hutangmu!” seruku penuh emosi, sampai aku memukul setir mobilku.

“Tidak mungkin. Bagaimana kau bisa mendapatkan uang 100 juta won untuk membayarnya?”

“Akan aku lakukan segala cara asal kau bisa lepas darinya. Titik!”

Prang!! Laki-laki itu memecahkan kaca mobilku lalu membuka pintunya. Dengan penuh amarah, dia menyeret Hyejin pergi. Ia memasukkan Hyejin ke dalam mobilnya dan melarikannya entah kemana.

Sekencang mungkin aku melajukan mobilku, berharap aku bisa menyusulnya tapi mobil itu melaju jauh lebih kencang dari aku. Aku kehilangan jejaknya. Aku kehilangan Hyejin.

++++

Aku segera menelepon Changmin untuk membantuku menyelesaikan masalahku. “Changmin-ah, apa kau punya uang 50 juta won?” tanyaku tanpa basa-basi.

“Untuk apa?” tanya Changmin kaget.

“Bayar hutang.”

“Kau punya hutang sebanyak itu?”

“Itu hanya setengahnya. Boleh aku pinjam uangmu?”

“Boleh asal kau ceritakan dulu bagaimana kau bisa punya hutang … 100 juta won?”

“Demi mobil sportmu yang mahal itu, Changmin. Kau tahu apa alasan Hyejin menikah?”

“Tidak.”

“Karena 100 juta won itu. Keluarga Hyejin memiliki hutang kepada pria yang akan menikahi Hyejin ini. Hyejin tidak punya pilihan lain. Kalau hutang itu tidak terbayar, Hyejin tidak bisa lepas dari pria itu. Sekarang, cepat pinjamkan aku 50 juta won atau kau mau sakit bersamaku karena aku gagal menikahi Hyejin?! Pilih sendiri, Shim Changmin.” Aku bicara sangat terburu-buru karena aku sangat ingin segera melepaskan Hyejin dari laki-laki bernama Jinki itu.

“Baiklah, baiklah. Aku akan meminjamkan uangku padamu. Tapi kalau boleh tahu siapa nama laki-laki itu?”

“Lee Jinki, kalau tidak salah.”

“Lee Jinki anak pengedar narkoba itu?”

“Mana aku tahu, bodoh.”

Changmin terdiam tapi tidak memutuskan telepon di antara kami. “Aku yakin itu dia. Berikan saja dimana alamat pria itu dan aku akan menyusulmu, tentu dengan polisi-polisi kesayangan kakakku. Pintar-pintar mengulur waktu.” Changmin lalu menutup teleponnya.

Aku berpikir sebentar. Bagaimana bisa aku memberikan alamat pria itu kepada changmin jika aku sendiri tidak mengetahuinya? Double stupid!!

Aku mencoba menghubungi Hyejin tapi selalu saja gagal. Terakhir, ponselnya justru tidak aktif. Aku menyetir dengan frustasi. Kemana aku harus mencarinya?!

Kantor. Aku melajukan mobilku menuju kantor dan langsung menuju lantai bagian HRD. Aku masuk dan mengubek-ubek komputer salah satu pegawai mencari database pegawai. Dalam waktu yang lama aku berhasil menemukan tempat tinggal Hyejin dari database tersebut.

Aku kembali menelepon Changmin dengan panik. “Cheongdam no. 33,” kataku.

“Aku tahu tempat itu. Kau pintar-pintar mengulur waktu. Aku sudah transfer uangnya ke rekeningmu,” kata Changmin.

Dengan segera aku kembali ke mobil dan meluncur ke rumah pria bernama Jinki itu. Jantungku berdetak tidak karuan. Bukan karena gugup, melainkan cemas. Aku cemas memikirkan Hyejin di sana. Aku takut sesuatu terjadi padanya.

++++

Aku sampai lebih dahulu di rumah Jinki daripada Changmin. Aku pun segera memencet-mencet bel rumah itu dan memanggil-manggil nama Hyejin. “Hyeeejin!! Apa kau di dalam?! Yaaa! Lee Jinki! Keluarkan Hyejin sekarang juga. Aku akan membayar lunas 100 juta won-mu!” teriakku dari luar pagar.

Pagar itu dibuka. Seorang pesuruh Jinki tampaknya sedang menjalankan perintah Jinki. Ia membuka pintu dan langsung menyuruhku masuk. Ia menggiringku langsung menemui Jinki di ruangannya.

“Mana Hyejin?” bentakku begitu bertemu dengan Jinki.

“Mana uang 100 juta won-ku? Katanya kau mau bayar lunas?”

“Aku mengeluarkan kartu ATM ku dari dompet. Di sini ada uang 100 juta won-mu. Aku akan memberikannya jika kau sudah memberikan Hyejin padaku.”

Jinki tertawa. “Berikan dulu 100 juta won-ku baru aku akan menyerahkan Hyejin.”

“Tidak bisa. Bawa Hyejin kesini sekarang juga!”

Jinki lalu menyuruh asistennya untuk membawa Hyejin ke hadapanku. Dengan mulut tersumpal dan tubuh yang diikat, Hyejin ditunjukkan kepadaku. Hatiku sangat sakit melihatnya.

“Lepaskan dia!”

“100 juta won!”

Aku melemparkan kartu ATM ku pada Jinki. “Lepaskan Hyejin!”

“Berapa pinnya?”

“0302.”

Jinki lalu menyuruh bawahannya melepaskan Hyejin. Aku pun segera menggendong Hyejin yang sudah terduduk lemas. Kulepas sumpelan di mulutnya dan kuhapus airmata yang mengalir dari matanya. Hyejin mengalungkan tangannya di leherku dan membenamkan kepalanya di dadaku. Tubuhnya gemetar. Ia sangat ketakutan. “Kau sudah aman. Tenanglah,” bisikku.

Aku hendak beranjak keluar dari ruangan itu saat tiba-tiba Jinki berteriak, “Tidak ada uang di rekeningmu! Kau menipuku!” Anak buah Jinki mencegat jalanku.

“Tarik gadis itu kembali,” perintah Jinki.

Brak!! Pintu menjeblak terbuka. Aku melihat Changmin dan kakaknya serta beberapa polisi bergerak masuk dan menyergap Jinki serta anak buahnya.

“Tidak semudah itu. Maaf,” kata Changmin dingin. “Kau seharusnya meringkuk di penjara bukan duduk tenang di sini, Lee Jinki.”

“Yaaa! Siapa kau?!” teriak Jinki frustasi. Tangannya sudah diborgol dan siap dimasukkan ke sel penjara oleh polisi yang dibawa oleh Changmin.

Changmin hanya tersenyum sinis pada Jinki. “Hanya orang yang tidak suka melihat penjahat berkeliaran. Selamat menikmati penjara.”

Para polisi lalu menangkap semua pasukan Jinki beserta tuan mereka dan menggiring mereka menuju kantor polisi. Tinggal aku, Hyejin dan Changmin.

“Gomawo, Changmin-ah. Jeongmal gomawoyo,” ucapku.

“Tidak usah berterima kasih. Aku memang ingin sekali melihat dia masuk penjara. Dia itu sama jahatnya dengan ayahnya. Puas sekali bisa meringkusnya.”

Aku tersenyum pada Changmin. “Terima kasih sudah memblokir rekeningku kalau begitu,” ucapku. Aku tahu pasti Changmin yang melakukannya sampai uangku tidak bisa berpindah tangan.

Changmin menyengir padaku. “Kalau itu baru kerjaanku. Sama-sama,” katanya. Ia lalu menatap Hyejin yang meringkuk dalam gendonganku. “Apa dia baik-baik saja?” tanya Changmin cemas.

“Tampaknya ketakutan luar biasa,” jawabku.

“Bawa ke rumah sakit. Aku akan memeriksanya,” ucap Changmin. Aku pun mengikutinya.

++++

Aku masuk ke dalam ruang rawat Hyejin dan melihat ia sedang tertawa-tawa dengan Changmin. “Yaa. Apa yang kalian bicarakan? Jangan-jangan membicarakanku ya?”

Hyejin mencibirkan bibirnya kepadaku. “Changmin Oppa, tolong bilang pada Kyuhyun Oppa aku tidak mau menikah dengan pria yang suka GR.”

Changmin menatapku dengan serius. “Kau dengar sendiri apa katanya kan, tuan Cho?”

Aku tertawa melihat tingkah mereka berdua. “Kalian berdua sama saja,” kataku. Aku lalu duduk di samping Hyejin dan merangkul bahunya. “Sekarang katakan padaku, apa dia menjelek-jelekan aku?” tanyaku pada Hyejin sambil menunjuk Changmin dengan telunjukku.

“Aish. Lebih baik aku keluar daripada mengganggu kalian,” kata Changmin lalu keluar meninggalkan aku dan Hyejin.

“Jadi apa yang dikatakan Changmin padamu sayang?” tanyaku penasaran. Aku ingin tahu apa Changmin membujuk Hyejin agar mau menikah denganku.

“Changmin Oppa memberikan masukan yang sangat bagus untukku,” jawab Hyejin.

“Apa masukkannya?” tanyaku lagi.

“Menurut pendapatnya, aku harus segera menikah dengan Oppa,”

Aku tersenyum bangga pada Changmin. “Itu jelas masukkan yang harus kau turuti.”

“Aku tidak setuju.”

Aku menatap Hyejin dengan kaget. “Mwo?! Kau tidak mau menikah denganku? Kenapa? Kau tidak berpikir untuk menikah dengan Jinki begitu dia keluar dari penjara kan?”

“Tidak. Aku berpikir lebih baik aku menikah dengan Changmin Oppa. Dia sangat pintar dan kaya. Tampaknya aku akan bahagia dengannya.”

Aku menatap Hyejin dengan sungguh-sungguh. Ia juga balas menatapku. “Kau serius?” tanyaku takut.

“Tentu saja.”

“Kau yakin?”

“Tentu saja aku bercanda, tuan Cho yang bodoh!” ucap Hyejin lalu tertawa-tawa. Sial, ia berhasil mengerjaiku.

Aku melepas rangkulanku dan memalingkan wajahku. “Itu tidak lucu, Hyejin-ah,” kataku.

Hyejin menangkap wajahku dan menolehkannya sampai berhadapan dengannya. Mata kami bertemu. Ia menatapku sambil tersenyum. “Maafkan aku. Aku hanya mau menggodamu. Aku pasti akan menikah denganmu. Tapi bisakah menungguku beberapa bulan lagi? Aku harus membicarakannya lebih dulu dengan keluargaku.”

Aku menggelengkan kepalaku. “Tidak bisa. Kau harus menikah denganku paling lambat minggu ini. Aku tidak terima penolakan,” kataku.

Hyejin tersenyum lembut sekali kepadaku. “Dasar pemaksa. Keras kepala,” ucapnya lalu menciumku. “Kita menikah kapanpun Oppa mau.”

Aku memeluk Hyejin dengan perasaan bahagia yang meluap-luap. Segalanya terasa indah di mataku. Masa depanku bersama Hyejin mulai terbayang-bayang dalam pikiranku.

Tiba-tiba ponselku bergetar. Incoming message from Shim Changmin. Aku segera membaca pesan itu : Jadi kapan kau akan menikah? Hanya dalam beberapa hari Ia mampu mengubah bencimu jadi cinta. See? We will never now God’s plan, buddy. Happy wedding!!”

Aku tersenyum membaca pesan itu. Ya, kita tidak akan pernah tahu rencana Tuhan. Beberapa tahun lalu aku menghina gadis ini meskipun sebetulnya ia sempurna tapi sekarang aku memujanya dengan sangat. Aku juga pernah mengusirnya, menyuruhnya pergi jauh dariku tapi sekarang jika itu terjadi aku pasti akan mati. Beberapa hari lalu aku masih sangat membenci gadis ini tapi sekarang aku memohon-mohon padanya untuk menikah denganku. We will never know.

-the end-