Annyeong chingudeul!

ff ini terinspirasi dari MV Mblaq – It’s War. Jadi biar lebih meresapi, nonton mvnya dulu ya hehehe

created by: gyumontic, edited by: esterong.

Enjoy reading!🙂

Cast :
Kang Hamun
Shim Johee
Lee Donghae

Supporting Cast :
Choi Siwon
Cha Jihyun

—-

Waktu masih menunjukan pukul 05.00 pagi, bahkan matahari belum menampakkan sinarnya di ufuk timur. Disaat setiap orang masih tertidur, gadis bernama Kang Hamun sudah harus melangkahkan kaki keluar dari apartemennya. Hamun pergi ke tempat orang yang membutuhkan keahliannya. Kali ini, sebuah rumah yang terletak di belakang bukit menjadi tujuan Hamun. Rumah itu sangat besar dan mewah tapi memiliki aura mengerikan yang luar biasa.

Hamun memandang rumah itu sejenak sebelum memasukinya. “Hamun-ah, bersabarlah,” batin Hamun kepada dirinya sendiri. Setiap hari, hanya kata-kata itu yang bisa diucapkan Hamun agar tetap bisa bertahan dengan pekerjaannya sekarang.

Pintu pagar rumah itu dibuka, seorang pria yang memakai pakaian serba hitam menyambut Hamun dan langsung mengantarkan Hamun ke sebuah ruangan. Suasana ruangan itu tidak beda jauh dengan rumah induk ini : mewah tapi mengerikan.

“Ah Hamun-ssi, kau sudah datang rupanya. Aku punya pekerjaan untukmu,” kata Choi Siwon, pemilik rumah sekaligus bos Hamun.

“Ne. Apa tugasku kali ini?” tanya Hamun dingin tanpa basa-basi. Tentu saja, buat apa dia harus berbasa-basi kalau dia sendiri tahu untuk alasan apa dia dipanggil ke ruangan itu: membunuh. Sesungguhnya, ia sama sekali tidak berminat. Semua dilakukannya hanya untuk satu hal: bertahan hidup. Hamun bahkan berdiri sejauh mungkin dari meja, atau lebih tepatnya singgasana kepunyaan Siwon.

Siwon memegang sebuah foto. Ia menatapnya sebentar, sambil tersenyum melecehkan, lalu melemparkan foto itu kepada Hamun. “Aku ingin kau membunuh pria itu. Sekali tembak,” ucap Siwon.

Hamun melihat foto yang terjatuh tidak jauh dari kakinya. Diperhatikannya wajah pria yang terpampang di foto itu. Wajah yang tak asing bagi Hamun, bahkan pemilik wajah itu adalah pria yang selalu mengisi hari-hari Hamun dengan kegembiraan. Seketika mata Hamun membelalak. “Lee Donghae?” tanya Hamun terkejut, bukan pada siapa-siapa tapi Siwon menanggapinya.

“You’re absolutely right. Lee Donghae. Aku ingin akhir minggu ini dia sudah masuk liang kubur,” kata Siwon penuh dendam.

Tanpa berkata apapun, Hamun memungut foto itu lalu berbalik meninggalkan ruangan Siwon. Kakinya melangkah begitu saja, seolah sudah hafal seluk beluk rumah ini, menuju pintu keluar. Ditatapnya foto Donghae lekat dan hal itu membuat Hamun merasakan sesak luar biasa.

“Bagaimana aku bisa membunuhmu?”

Kang Hamun, seorang pembunuh bayaran profesional. Dengan bayaran 5 juta won, siapapun bisa dia bunuh, ya siapapun, tanpa pandang bulu, mau presiden atau gembel sekalipun. Hanya saja ada pengecualian dalam daftar Hamun : Lee Donghae, sahabatnya sekaligus satu-satunya pria yang bisa melelehkan hati Hamun yang dingin. Ya, Kang Hamun sang pembunuh bayaran itu mencintai Lee Donghae, targetnya.

Hamun duduk sendirian di kantin kampusnya sambil menatap foto Donghae yang tadi pagi dilemparkan oleh Siwon ke kakinya. Ia tak bisa membohongi dirinya. Ia gundah. Kepalanya pusing, dan hatinya pun sakit setiap membayangkan peluru menembus jantung Donghae, apalagi peluru itu dilepas dari tangan Hamun sendiri.

“Ottoke?” batin Hamun frustasi.

“Hamun-aaah! Hamun-ah!!” teriak Johee dan Jihyun dari kejauhan. Mereka berjalan mendekati Hamun sambil melambai-lambaikan tangan dengan ceria. Dengan segera, Hamun memasukkan foto Donghae ke dalam tasnya.

“Ah Johee-ah, Jihyun-ah, kelas kalian baru selesai? Lama sekali,” sapa Hamun begitu kedua temannya sampai dan duduk di hadapannya.

“Ya begitulah, dosennya suka sekali mengajar. Menyebalkan,” sahut Jihyun. “Tampaknya minum es coklat akan menyegarkan.” Jihyun pun bangkit berdiri untuk membeli minuman yang ia inginkan.

Tinggal Johee dan Hamun yang saling bertukar pandang, seperti ada yang ingin dibicarakan tapi tidak berani diungkapkan. “Waeyo?” tanya Hamun pada akhirnya, lebih dulu membuka pembicaraan.

Johee menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa. Aku hanya merasa kau berbeda hari ini. Kau tampak… bingung,” kata Johee, tepat sasaran.

Hamun tersenyum masam. “Aku hanya tidak enak badan. Dari tadi pagi perutku mual,” dusta Hamun. Yaa, mana mungkin Hamun akan bilang ‘Iya Johee. Aku bingung. Seseorang menyuruhku untuk membunuh Donghae. Bagaimana ini?’ Tidak ada yang tahu tentang pekerjaan ini kecuali diri Hamun sendiri.

Jihyun kembali bergabung dengan Johee dan Hamun. Hanya saja kali ini dia tidak sendiri. Donghae ada bersamanya. “Hey ladies, kenapa kalian kumpul-kumpul tanpa diriku? Humm? Aku kecewa,” tanya Donghae dengan wajah cute-nya, pura-pura sakit hati. Setiap gadis yang melihat wajah itu pasti akan jatuh hati, kecuali Jihyun.

“Haish Oppa, jangan pasang tampang jelekmu itu di hadapan teman-temanku. Aku malu,” protes Jihyun yang notabene adalah sepupu Donghae. Donghae hanya tertawa-tawa.

Hamun menggeser duduknya dan membiarkan Donghae duduk di sampingnya. Seketika itu juga, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Darah yang mengalir dari tubuhnya terasa sangat deras. Dadanya sesak, seolah kekurangan asupan oksigen.

“Hamun-ah, kau kenapa? Wajahmu pucat sekali,” tegur Donghae melihat gadis yang duduk disampingnya.

Hamun mencoba tersenyum tapi tampaknya tidak sempurna.

“Kau sakit?” tanya Donghae lagi mulai khawatir.

“Perutnya mual,” jawab Johee, sesuai dengan apa yang dikatakan Hamun ketika ia merasakan ada yang tidak beres pada Hamun.

“Pulang saja. Istirahat di rumah. Biar aku antarkan,” tawar Donghae. Donghae mulai membawakan tas dan buku kuliah Hamun. Selanjutnya, dirangkulnya lengan Hamun dan membawa gadis itu ke mobilnya. “Kau harus istirahat, Hamun. Kalau memang sakit sekali, tidak usah dipaksakan masuk kuliah,” ujar Donghae sepanjang perjalanan.

Hamun hanya bisa tersenyum lemah. Hari ini memang tidak ada jadwal dia kuliah. Alasannya ke kampus hanyalah untuk menemui Donghae, memastikan Donghae masih aman. Hamun tahu siapa Siwon. Meskipun ia sudah menyewa Hamun untuk membunuh Donghae tapi Siwon tidak akan segan-segan untuk melaksanakan keinginannya dengan tangan sendiri jika ada kesempatan.

—-

Hamun memandang keluar jendela apartemennya. Dari sini ia dapat melihat orang-orang dan mobil-mobil yang masih berlalu lalang meramaikan kota Seoul, yang tidak pernah mati. Dari sini juga, Hamun dapat melihat Donghae yang sedang memasuki apartemen di seberang apartemennya.

Kring! Kring!

Hamun membaca layar ponselnya. Choi Siwon, itulah yang tertulis disana. Dengan berat hati Hamun mengangkat ponselnya, menerima panggilan dari Siwon. “Yoboseyo,” ucap Hamun tak bersemangat.

“Apa yang kau lakukan? Kenapa kemarin kau tidak langsung membunuhnya? Itu kesempatan bagus!” geram Siwon terdengar dari ponsel Hamun.

Hamun kembali memandang keluar jendela. Kamar Donghae yang tepat bersebrangan dengan kamarnya sudah terang benderang, siluet Donghae yang berjalan mondar-mandir juga sudah terlihat. Hamun tak sanggup membayangkan jika pemandangan itu hilang dari matanya.

Hamun yang masih memiliki hati sebagai seorang gadis, tak bisa membendung perasaannya lagi. Pertahanannya runtuh. Tanpa bisa dikendalikan, air mata Hamun menetes. Ia benar-benar tak sanggup menjalankan perintah yang satu ini. Terlalu berat bagi Hamun untuk membunuh Donghae, aniya, membayangkannya saja Hamun sudah tak sanggup.

“Mianhe, jeongmal mianhamnida. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa membunuhnya,” ucap Hamun di sela-sela isak tangisnya.

Siwon yang sudah naik darah, menggeram penuh emosi dan memaki Hamun seenak jidatnya, “Apa kau bilang?! Tidak bisa membunuhnya?! Aku sudah membayar sesuai dengan yang kau minta! Kenapa sekarang bilang tidak bisa?!”

“Aku akan mengembalikan uangnya.”

“Cih! Tidak semudah itu! Kalau besok kau tidak bisa juga membunuhnya, akan aku lakukan dengan tanganku sendiri!!”

Siwon menutup ponselnya dengan kasar, meninggalkan Hamun menangis frustasi memikirkan apa yang harus dilakukannya terhadap Donghae? Hamun tidak bisa membunuhnya tapi apa Hamun bisa melindungi Donghae?

—-

Pagi-pagi sekali, handphone Hamun sudah bergetar. Nama Choi Siwon terpampang jelas di layar handphone itu. “Yoboseyo,” kata Hamun begitu menjawab panggilan itu.

“Aku tidak bisa menunggu lebih lama. Pagi ini juga, kau suruh Donghae ke air mancur Cheonsam. Suruh dia berdiri di sana seolah-olah menunggu kedatanganmu. Kau, dari Cheonsam Apartement nomor 1302, dapat membidiknya dengan mudah. Kalau kau tidak bisa melakukannya, kupastikan kali ini kalian berdua yang akan mati. Ingat, aku mengawasimu.”

Perintah Siwon semakin menyulitkan Hamun. Ia tidak punya pilihan lain. Dengan segera Hamun menelepon Donghae, “Oppa, apa kau ada acara pagi ini?”

Donghae yang tidak tahu menahu, menjawabnya dengan jujur, “Tidak ada. Memang kenapa, Hamun-ah?”

“Temani aku ke air mancur Cheonsam ya. Tunggu aku di sana jam 8. Okay?”

Tanpa banyak tanya, Donghae mengiyakan. “Okay, tentu aku akan menunggumu.”

Hamun menutup ponselnya, begitu juga matanya yang terus mengalirkan air mata. “Aku harus melakukan sesuatu,” batin Hamun gelisah.

Hamun berjalan ke ruang penyimpanan senjatanya. Sebuah pistol diambilnya dan disematkannya ke dalam jaket tebal yang dipakainya untuk menyamarkan bentuk pistol tersebut. Dengan langkah gontai, Hamun pergi menuju Apartemen Cheonsam lantai 13 nomor 1302.

—-

Hamun berdiri di balkon kamar nomor 1302 dan dengan sekali pandang, Hamun tahu kamar ini sangat strategis untuk membidik Donghae. Balkon kamar ini memiliki tembok yang cukup tinggi tapi masih menyisakan tempat untuk orang yang berdiri di balkon ini menikmati pemandangan langsung ke air mancur yang menari-nari dengan indah. “Hahahaha,” tawa Hamun getir. Ternyata, Siwon sangat pintar dalam hal bunuh membunuh.

Ponsel Hamun kembali bergetar. Siwon kembali meneleponnya. “Aku senang kau sudah siap di tempatmu tapi mana korbannya? Kenapa dia belum muncul?”

“Aku menyuruhnya datang jam 8 pagi. Sabarlah sebentar,” jawab Hamun.

Tepat jam 8 pagi, Donghae memunculkan dirinya di tempat yang diminta Hamun. Donghae datang seorang diri dan tampak seperti orang hilang di antara kerumunan orang-orang. “Hamun, kau dimana? Ramai sekali di sini,” kata Donghae sambil menelepon Hamun.

Hamun yang berada tepat di depan air mancur cheonsam dapat melihat Donghae yang mondar-mandir sendirian seperti orang linglung. Semakin lama Hamun melihat Donghae, semakin besar ketidakmampuaannya untuk membunuh Donghae. Hamun menyerah, ia benar-benar tak bisa membunuh pria itu. Ia lebih memilih untuk melindungi Donghae walau ia tahu resikonya sangat besar. Bahkan hal itu bisa merenggut nyawanya.

Hamun melihat sekeliling dan menemukan ada beberapa anak buah Siwon yang berjaga-jaga. Ia tidak bisa mengulur waktu lagi. “Oppa, apa kau lihat penjual jagung di dekat tembok nama Cheonsam Garden?”

“Ne. Waeyo?”

“Semenit lagi, kau berjalan ke sana pelan-pelan. Jangan langsung setelah kau menutup telepon. Tunggu semenit. Aku akan menemui Oppa di sana. Arraseo?”

Hamun menutup ponselnya dan memperhatikan Donghae yang tampak kebingungan tapi berusaha menuruti permintaan Hamun. Setelah semenit, Donghae berjalan ke tempat yang perintahkan oleh Hamun. Hamun memeriksa sekelilingnya yang tanpa penjagaan. Secepat kilat, Hamun berlari menyusul Donghae.

“Oppa, kajja, kita lari dari sini,” kata Hamun dengan nafas terengah-engah sambil menarik tangan Donghae. Dengan tangan yang saling bertautan, Hamun membawa Donghae berlari menuju tempat yang bisa menyembunyikan Donghae. Sial, anak buah Siwon berhasil menyusul mereka dan melepaskan sebuah peluru ke bahu Donghae.

“Arggh!” teriak Donghae selang beberapa detik setelah letusan senjata api tersebut.

Melihat bahu Donghae yang bersimbah darah membuat emosi Hamun naik sampai titik puncaknya. Tanpa keraguan ia mengacungkan pistol di tangannya dan melesatkan peluru yang ada didalamnya. Tak perlu waktu lama bagi Hamun untuk membereskan anak buah Siwon itu. Hanya dengan sekali tembak, anak buah Siwon pun terkapar dan tinggal menunggu malaikat pencabut nyawa datang untuk menjemputnya.

Perhatian Hamun kini kembali tertuju pada pria yang ia cintai, Lee Donghae, yang sedang mengerang kesakitan berkat peluru yang terperangkap dibahunya. “Oppa, bertahanlah,” bisik Hamun sambil memapahnya menuju tempat yang Hamun pikir paling aman untuk Donghae saat ini, rumah Johee.

—-

Johee yang kedatangan Hamun dan Donghae yang berlumuran darah hanya bisa menganga bingung. “Bantu aku mengobatinya,” kata Hamun dengan tegas, tidak menerima pertanyaan. Johee pun segera mengambil handuk, air dan peralatan lain yang sekiranya dapat membantu.

Dengan peralatan seadanya itu, Hamun dengan sigap mengeluarkan peluru dari bahu Donghae dan menjahit luka akibat tembakan itu.

“Apa yang terjadi?” tanya Johee setelah Hamun selesai dengan pekerjaannya.

“Luka tembak,” jawab Hamun pelan. Matanya memandang Donghae yang terbaring lemah di tempat tidur Johee. Bahunya yang dibalut perban itu pasti sangat sakit, sama sakitnya dengan hati Hamun.

—-

Meski langit sudah sangat gelap dan waktu sudah memberitahu kalau saat ini adalah jam tidur, Hamun tetap terjaga disamping Donghae. Merawat dan menjaganya. Ia bahkan tidak membiarkan dirinya sendiri untuk pergi meninggalkan Donghae walau hanya untuk beberapa menit.

Hamun mengompres kepala Donghae dengan sabar sambil terus mengamati wajah pria itu. Mata Hamun tak bisa lepas dari Donghae. Ia menjelajahi seluk beluk garis muka Donghae dan mendapatkan secuil rasa bahagia di hatinya karena hari ini mereka berdua sangat beruntung. Donghae tidak terbunuh, baik oleh Hamun atau oleh pembunuh bayaran lainnya.

Namun Hamun tahu kalau saat ini dia masih belum boleh tenang, justru ini adalah awal dari perang sesungguhnya karena keberuntungan hari ini tidak akan datang untuk kedua atau ketiga kalinya. Bukan Choi Siwon namanya, kalau tidak memiliki rencana B atau C dan Hamun sangat mengerti itu.

“Argh,” erang Donghae pelan membuat pikiran Hamun kembali pada Donghae. Donghae menggeliatkan badannya lalu membuka matanya.

“Hamun?” guman Donghae memastikan penglihatannya yang samar-samar.

“Ne,” jawab Hamun. Melihat Donghae yang meraba luka dibahunya membuat Hamun sedikit cemas.

“Apa masih terasa sakit?” tanya Hamun dan Donghae menggangguk lemas. Melihat pemandangan itu membuat suasana hati Hamun campur aduk. Sedih dan dendam mendominasi perasaan Hamun.

“Oppa tidur lagi saja, biar sakitnya tidak terasa,” usul Hamun yang disetujui Donghae. Dengan segera Donghae memejamkan matanya untuk kembali ke alam mimpi. Hamun melanjutkan aktivitasnya tadi. Tubuhnya berada disamping Donghae untuk menjaganya namun pikirannya sudah liar memikirkan apa yang harus ia lakukan.

Membunuh Choi Siwon adalah cara pertama yang terlintas dipikiran Hamun namun untuk hal itu tidaklah mudah, karena jika ia gegabah, taktik itu bisa menjadi taktik bunuh diri. Atau.. mungkin Hamun bisa membawa Donghae untuk hidup diluar negeri bersamanya. Selain untuk kabur dari kejaran pembunuh bayaran lain yang diperintah Siwon, disana nanti Hamun dapat menyusun ulang kehidupannya. Memulai segala sesuatunya dari awal. Melepas status sebagai pembunuh bayaran profesional dan hidup bahagia bersama pria yang ia sayangi.

Membayangkan itu semua membuat Hamun tersenyum-senyum sendiri sambil menatap lekat Donghae. Ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya dan ia tak sabar untuk segera mewujudkan impiannya.

Hamun meninggalkan stick note di pigura foto yang terpampang gambar dirinya dan Johee. “Aku mohon padamu, jaga Donghae Oppa baik-baik. Kalau ia sudah sadar, bilang padanya, aku akan menemuinya 3 hari lagi,” itulah yang ia tuliskan. Tanpa menunggu matahari terbit, Hamun segera melangkahkan kakinya keluar dari rumah Johee dan bergegas untuk menyiapkan semuanya. Mulai dari tiket pesawat, tempat tinggal, dan masih banyak lagi yang harus Hamun kerjakan dan itu memakan waktu yang cukup lama.

—-

Donghae akhirnya sadarkan diri dan melihat Johee yang sedang membersihkan wajahnya. “Johee,” ucap Donghae pelan, membuat Johee sedikit terkejut.

“Oppa, kau sudah sadar? Syukurlah,” sahut Johee gembira sekaligus cemas. “Apa bahumu masih sakit?”

Donghae mengangguk pelan. “Dimana Hamun?” tanya Donghae sambil mencoba duduk.

“Ia akan kembali 3 hari lagi. Ada yang harus ia kerjakan sepertinya,” jawab Johee.

Donghae hanya menghela nafas pendek. Bahunya masih terasa sakit. Kepalanya juga. Begitu sulit memahami apa yang terjadi sampai ia bisa luka seperti ini.

Johee lalu menyodorkan semangkuk ramen ke hadapan Donghae. “Maaf, aku hanya bisa membuat ramen,” ucap Johee malu-malu membuat Donghae tersenyum.

“Gwencana,” sahut Donghae. Dengan tangannya yang masih sehat, Donghae melahap ramen buatan Johee. “Kenyaaaang. Gomawo, Johee-ah.”

“Cheonmaneyo, Oppa.” Johee lalu mengambilkan obat Donghae beserta segelas air putih. “Minum dulu obatnya, Oppa.”

Donghae mengambil obat dari tangan Johee dan menelannya langsung tanpa banyak mengeluh. Obat sebanyak apapun tidak masalah asal sakit di tubuhnya ini segera pergi.

—-

Hamun menatap tiket dan kunci yang ada ditangannya dengan gembira. Yang perlu Hamun lakukan hanyalah: pergi ke rumah Johee secepatnya untuk menjemput Donghae. Semuanya sudah ia persiapkan dengan matang. Dengan kepintaran dan kecerdikannya, Hamun memprediksikan segala sesuatunya dengan cermat agar ia bisa hidup dengan tenang bersama Donghae di negara tetangga.

Namun sayang, Hamun melewatkan sesuatu. Ia tidak pernah memprediksikan satu hal: Bagaimana jika.. saat ia kembali untuk membawa Donghae pergi, hati Donghae sudah terpaut oleh gadis lain, Shim Johee?

Perang sesungguhnya baru saja dimulai.

—-

Selama 3 hari, Johee merawat Donghae dengan sungguh-sungguh. Hal ini membuat Donghae merasakan ada yang berbeda ketika Johee berada di dekatnya. Donghae tidak lagi mengganggap Johee sebagai sahabat. Kini posisi Johee dihati Donghae sudah berubah menjadi sosok yang Donghae cintai.

“Johee-ah,” panggil Donghae ketika Johee sedang menonton televisi.

“Ne, oppa?” tanya Johee.

Donghae duduk di sebelah Johee lalu mengambil tangan kiri Johee dan menggenggamnya. Perasaan yang tumbuh karena kebersamaan mereka selama 3 hari ini membuat Donghae tak bisa menahan diri untuk tidak mengucapkan kata-kata itu. “Saranghae,” ucap Donghae serius. Atmosfer yang mendukung membuat Donghae mendekatkan wajahnya lalu mengecup pipir Johee kilat. Johee yang masih berusaha mencerna situasi saat ini merasakan jantungnya berdegup kencang, tidak karuan.

Donghae adalah pria idaman setiap wanita. Jadi wajar bagi Johee jika ia deg-degan ketika menerima pernyataan cinta dari Donghae. “Johee, saranghae. Apa kau tidak mencintaiku?” tanya Donghae lirih dengan tatapan yang pasti mampu meluluhkan hati semua gadis. Johee terdiam, tak bisa memberikan jawaban secara langsung. Salah satu sisi dihatinya merasakan kebahagian yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata mendengar pernyataan Donghae tersebut. Namun di sisi yang lain, Johee bimbang. Karena ia tahu dengan pasti kalau sahabatnya, Kang Hamun sangat mencintai Donghae. Bagi Hamun, Donghae seperti oksigen yang sangat ia butuhkan untuk bertahan hidup.

“Johee, apa kau tak mencintaiku?” tanya Donghae lagi. Melihat wajah Donghae membuat Johee merasa bersalah dan dengan cepat ia menjawab, “A.. aniya. Na.. nado saranghae oppa,” balas Johee yang membuat Donghae dengan segera kembali mencium Johee tepat dibibirnya.

Kali ini ciuman itu berlangsung cukup lama dan cukup panas. Awalnya Johee hanya diam dan tak membalas ciuman Donghae karena masih ada sebagian dari dirinya yang merasa bersalah pada Hamun. Namun semakin lama, perasaan bersalah itu memudar, diganti oleh nafsu yang membuat Johee mulai berani membalas ciuman itu dan mengalungkan tangannya dibalik leher Donghae.

—-

Hamun berjalan dengan riang menuju rumah Johee. Rasanya sudah lama Hamun tidak merasa sangat bahagia seperti ini. Ia bak anak kecil yang baru saja memperoleh hadiah natal. Namun sepertinya Tuhan tak mengijinkan Hamun untuk merasakan kebahagiaan itu lebih lama. “Jo.. hee..” suara Hamun terputus. Ia merasa tubuhnya seperti disengat oleh listrik. Ia tercekat dengan pemandangan yang sama sekali tak pernah ia harapkan. Senyum yang sedari tadi menghiasi wajah Hamun kini sudah menghilang, berganti dengan wajah tanpa ekspresi dan emosi, karena ia bingung ekspresi mana yang harus ia tunjukan lebih dahulu.

Tak ada yang bisa mendeskripsikan perasaan Hamun saat ini. Saat ia, dengan mata kepalanya sendiri, melihat pria yang menjadi satu-satunya alasan untuk ia bertahan hidup, berciuman dengan sahabat yang paling ia percayai. Rasa sakit dan sedih karena patah hati dan rasa kecewa, benci, marah, karena di khinati oleh sahabatnya sendiri bergejolak bersamaan di relung dada Hamun dan menyebar kesetiap bagian tubuhnya. Rasa pedih yang ia rasakan dan pertahanan diri yang melarang Hamun untuk menangis, membuat Hamun makin tersiksa.

“Hamun,” guman Johee setelah ia menyadari keberadaan Hamun diambang pintu kamarnya. Rasa bersalah kembali menggeluti perasaan Johee. “A.. aku bisa jelaskan,” ujar Johee dengan suaranya yang sudah bergetar.

Hamun tak mau mendengar sepatah kata apapun dari Johee. Hatinya terlalu sakit untuk melihat pemandangan dihadapannya lebih lama. Hamun segera keluar dari rumah itu. Dengan segenap kekuatan Johee menyusulnya dan menahan kepergian Hamun.

“Mianhe, Hamun-ah,” ujar Johee.

Hamun menggigit bibir bawahnya dan menengadahkan kepalanya untuk menghalau air mata yang memaksa untuk keluar dari tempatnya. “Untuk apa minta maaf?” tanya Hamun dingin dan aura kebencian sangat terasa dari gelombang suaranya.

“Mianhe Hamun,” balas Johee lagi. Kini air mata keluar dari pipinya. Melihat hal itu membuat Hamun tak bisa menahan emosinya lebih lama lagi. Ia menggapai kedua sisi bahu Johee lalu mencengkramnya dengan kuat.

“Kenapa.. Kenapa kau tega melakukan hal ini padaku?!!!” pekik Hamun histeris.

“Mianhe.. Mianhe Hamun,” ujar Johee parau namun hal itu tak menyelesaikan masalah, justru malah membuat Hamun makin tak bisa memaafkannya.

“Kalau kau tahu hal ini salah, kenapa kau masih melakukannya?!!!” seru Hamun. “Kau tahu aku sudah mencintainya sejak 10 tahun yang lalu. Kau sangat tahu kalau Donghae adalah satu-satunya alasanku untuk hidup setelah kematian kedua orang tuaku! Kau tahu itu Shim Johee!! Tapi kenapa kau tega melakukan hal ini padaku?! Wae.. WAE?!!” teriak Hamun tanpa bisa mengendalikan emosinya. Ingin sekali rasanya ia meluapkan emosinya ini dengan perbuatan.

Hamun nyaris akan menjambak rambut Johee namun tiba-tiba.. PLAK! Suara tamparan terdengar sangat keras dan Hamun bisa merasakan pipinya panas. “Kang Hamun! Cukup! Apa yang kau lakukan?!” teriak Donghae.

Hati Hamun sakit mendapati kanyataan kalau baru saja ia ditampar oleh orang yang sangat ia cintai demi wanita lain. Namun hatinya lebih sakit saat melihat Donghae memeluk erat Johee yang sudah terisak-isak. Melihat pemandangan itu membuat sekujur tubuh Hamun terasa seperti ditusuk-tusuk oleh benda tajam. Rasanya lebih menyakitkan daripada saat peluru menembus kakinya dulu.

Donghae tak pernah merangkul Hamun seperti itu, ia juga tak pernah melihat Donghae menatapnya dengan tatapan penuh cinta seperti itu. Jadi.. Donghae sangat mencintai gadis ini? Lalu bagimana dengan Hamun? Bagaimana dengan hati, tubuh, jiwa, dan otaknya yang hanya terisi oleh pria bernama Lee Donghae? Apa ia sanggup menahan rasa sakit setiap kali melihat Donghae dan Johee bersama? Apa Hamun sama sekali tak punya kesempatan untuk mengisi hati Donghae?

Hamun memandang Donghae dengan putus asa. Ia sendiri tahu jawabannya. Hati Donghae sudah terisi oleh Johee dan tak ada ruangan sekecil apapun untuk Hamun dapat masuk.

Mata Hamun sudah memerah, siap mengeluarkan air mata yang dari tadi ia tahan sekuat tenaga. Tubuhnya yang kaku perlahan berjalan mundur menjauhi Donghae. Tangannya mengeluarkan pistol dari dalam jaketnya. Diarahkannya pistol itu kepada Johee.

“Hamun! Apa yang kau lakukan?!” teriak Donghae ketakutan. Ia berdiri di depan tubuh Johee untuk menjadi perisainya.

Hamun tersenyum lirih menyembunyikan hatinya yang terluka lalu menarik pelatuk pistolnya.

“DOR!” suara letusan terdengar bersamaan dengan air mata Hamun yang mengalir tanpa ekspresi.

“Joheeeeeee!!” teriak Donghae ketika peluru itu mendekati mereka.

Tapi tidak terjadi apa-apa. Dalam waktu sepersekian detik, peluru itu membelok melewati Donghae dan Johee. Peluru itu berputar, entah bagaimana caranya, kembali kepada orang yang mengeluarkannya.

“Donghae Oppa, saranghaeyo,” ucap Hamun pelan dengan senyum tulus dan setetes air mata mengalir dari mata kanannya, sebelum peluru itu menembus kepalanya dan mematikan seluruh saraf yang bersarang di otaknya.

“HAMUN!!” pekik Donghae dan Johee tak percaya. Mereka segera menghampiri Hamun yang bersimbah darah namun terlambat. Nyawa Hamun tak tertolong lagi. Otot Hamun yang sudah tak berfungsi membuat genggaman tangan Hamun terbuka. Didalamnya ada 2 tiket menuju Maldives atas nama Kang Hamun dan Lee Donghae juga sebuah kunci apartemen tempat tinggal mereka yang sudah Hamun persiapkan.

Hati Donghae ikut merasa sakit melihat pengorbanan Hamun.. “Hamun!!” pekik Donghae.

Hamun, seorang pembunuh bayaran profesional yang mampu membunuh siapapun, termasuk dirinya sendiri, asal bukan Lee Donghae. Nama itu tidak ada di kamusnya. Hamun, seorang pembunuh profesional yang tidak akan mampu membunuh baik fisik ataupun hati seorang Lee Donghae.

-the end-