Annyeong yeorobuuun!!

This is the last sequel from FiRSt, SEconD and ThirD. FF pertama author @gyumontic yang tidak pernah dipost. Hihihi.

Hope you enjoy.

Cast :
Super Junior
Lisa
Ine
Reymond
and many more

3 PART 1

Enam bulan sudah aku berpisah dengan Kyuhyun Oppa. Sejak saat itu aku merasa stress dan kesepian. Setiap saat, yang ada di pikiranku hanya Kyuhyun Oppa seorang. Hal ini membuatku bertekad untuk menyusulnya ke Korea. Sehingga saat ada lowongan kerja di Seoul aku langsung daftar dan berusaha sekeras mungkin agar diterima. Puji Tuhan, usahaku tidak sia-sia.

Hari ini aku akan berangkat ke Seoul untuk bekerja di sana. Aku akan bekerja di salah satu kantor yang bergerak di bidang otomotif. Aku berhasil menembus serangkaian tes untuk menjadi karyawan bagian keuangan di kantor tersebut, sesuai dengan kuliahku dulu.

Kedua orang tuaku datang jauh-jauh dari Singapura hanya untuk mengantarkan aku ke bandara. Sampai kemarin, mereka tinggal di Singapura karena ada bisnis di sana sedangkan aku tinggal di Indonesia untuk melanjutkan kuliahku. Hal inilah yang membuat kami jarang sekali bertemu.Sejam lagi, pesawatku akan berangkat. Setelah itu, mama dan papaku akan kembali ke Singapura untuk mengurusi bisnis mereka. Awalnya, setelah aku lulus mereka menawarkan untuk langsung bekerja di perusahaan mereka tapi aku menolak. Aku beralasan karena aku mau mencari pengalaman dahulu padahal sebenarnya tidak seperti itu juga.

Perusahaan yang dimiliki oleh kedua orang tuaku bukan perusahaan besar. Ini hanya perusahaan perseorangan yang bergerak di bidang jual-beli barang-barang fashion berkualitas tinggi. Mama biasanya membeli barang-barang tersebut dari berbagai negara lalu menjualnya ke Indonesia dengan harga bisa sampai sepuluh kali lipat, tergantung jenis barangnya.

Sebelum pesawatku berangkat, mama memeluk dan menciumku. “Sayang, baik-baik ya di Korea. Kerja yang benar, kalo bisa sambil kuliah S2 di sana ya,” kata Mama kepadaku.

“Iya, Ma. Aku akan baik-baik di sana,” sahutku.

“Kalo liburan, usahakan kunjungi mama dan papa ke Singapura,” kata Papa. “Kita pasti akan lama sekali tidak bertemu.”

“Iya, Pa. Tapi kalo udah kerja pasti jarang ada liburan, Pa,” sahutku. “Papa sama Mama hati-hati ya balik ke Singapura. Jangan lupa telepon-telepon Sasa ya.”

“Iya, Sayang. Pasti kami akan telepon kamu,” kata mama kepadaku.

“Kamu kasih kabar ke kami ya kalo sudah sampai Korea. Oke?” kata papa padaku.

“Oke,” jawabku.

Aku memandang kedua wajah orang tuaku. Tidak ada rasa sedih sedikitpun di wajah mereka karena mereka memang tipe seperti itu. Mereka tidak akan menangis hanya karena melepas anak mereka ke negeri orang untuk berkembang. Mereka justru senang kalo aku punya banyak pengalaman di mana-mana.

Aku lalu masuk ke dalam pesawat sambil melambaikan tangan kepada kedua orang tuaku. Sejam berikutnya pesawat mereka akan datang untuk membawa mereka pulang ke Singapura.
Setelah menempuh perjalanan udara yang cukup lama, aku sampai juga di Incheon Airport. Aku sudah menyangka sebelumnya bahwa airport ini akan ramai sekali karena kedatanganku bertepatan dengan hari libur di sana.

Aku segera mengambil barang-barangku di luggage claim dan mencari taksi untuk mengantarkan aku ke tujuan. Salah seorang teman papa yang di Korea telah bersedia membantu untuk mencarikan apartemen untukku. Beliau menuliskan alamatnya pada sebuah kertas dan mem-fax-kannya pada papa dua hari sebelum keberangkatanku.

Aku kurang mengerti dengan apa yang dituliskan teman papa di kertas tersebut, maka aku menyerahkannya pada supir taksi. “Pak, tolong ke alamat yang ada di kertas ini,” kataku pada supir taksi. Supir taksi yang telah memahami tujuanku lalu melajukan mobilnya.

Ini adalah kali ketiga aku ke Seoul. Pertama kali, waktu aku kecil. Aku ingat itu adalah kali pertama aku bertemu dengan Kyuhyun Oppa, abang terbaikku sekaligus (mantan) pacarku. Kali kedua aku kesini itu beberapa tahun lalu dan yang terakhir adalah hari ini.

Aku belum memberitakan kedatanganku ke Seoul kepada Kyuhyun Oppa. Aku berencana untuk memberikannya kejutan. Sesampai aku di apartemenku, aku akan beres-beres sebentar lalu pergi mendatangi Kyuhyun Oppa di dorm-nya.

Tidak lama, aku telah sampai di apartemen yang dimaksudkan oleh teman papaku. Aku segera membayar taksi dan turun. Aku melihat apartemen ini sangat bagus. Pilihan teman papa benar-benar tepat. Aku segera masuk dan naik ke lantai 10, letak kamarku berada.

Sesampai di lantai 10, aku keluar dari lift dan melihat hal yang sangat mengejutkanku. Aku melihat Kyuhyun Oppa berdiri tepat di depanku bersama seorang gadis. Seketika hatiku mencelos melihat gadis itu, bukan karena cantiknya tapi karena tangannya yang terus menggelayuti lengan Kyuhyun Oppa.

“Oppa,” kataku pelan. “Ngapain Oppa di sini?”

“Kamu ngapain di sini?” tanya Kyuhyun Oppa yang juga kaget melihatku ada di sana.

“A…aku ehm… aku tinggal di sini sekarang,” jawabku jujur. “Permisi.”

Aku melihat Kyuhyun Oppa akan menyusulku setelah dia meminta ijin kepada gadis yang bersamanya tadi.

“Hyejin, kamu kembali dulu ke kamar ya. Oppa ada urusan. Nanti kalo urusan Oppa udah selesai, Oppa akan jalan-jalan bersamamu. Oke, cantik?” kata Kyuhyun Oppa pada gadis itu.

“Oke, Oppa,” sahut gadis tersebut manja.

Kupingku panas mendengarnya. Ya Tuhan, ternyata aku salah telah memilih Korea untuk menjadi tempatku bekerja. Aku pikir dengan pindah ke Korea aku bisa kembali dekat dengan Kyuhyun Oppa tapi ternyata dia telah mempunyai pacar baru padahal dia bilang dia tidak mungkin punya pacar karena dilarang oleh manajemennya. Karena larangan dari manajemennya itulah, hubungan kami jadi seperti ini sekarang. Tidak jelas. Antara pacaran dan tidak.

“Yaaa, Sasa. Hei! Tunggu,” seru Kyuhyun Oppa padaku yang terus berjalan. Aku pura-pura tidak mendengarkan panggilan Kyuhyun Oppa.

Aku baru berhenti saat aku telah tiba di depan kamarku. Aku hendak membuka pintu kamar saat Kyuhyun Oppa sudah berdiri tepat di sampingku.

“Hei, kenapa kamu bisa ada disini?” tanya Kyuhyun Oppa.

“Aku tinggal di sini,” jawabku singkat.

“Aku tahu. Maksudku, kenapa kamu bisa ke Korea? Ada apa?”

“Aku kerja di sini sekarang.”

Aku membuka pintu dan memasukkan semua barang-barangku. “Mau masuk?” tanyaku basa-basi pada Kyuhyun Oppa. Sesungguhnya, aku ingin sekali cowok ini tidak masuk ke kamarku tapi aku tahu itu hanya khayalan belaka. Tanpa ditawari dua kali, Kyuhyun masuk ke dalam apartemenku.

“Kamu kerja di mana? Sejak kapan? Kamu kok gak cerita-cerita padaku?” tanya Kyuhyun Oppa bertubi-tubi.

“Banyak sekali pertanyaanmu, Oppa,” sahutku.
“Sudah jawab saja,” kata Kyuhyun Oppa tidak sabar.

“Aku akan kerja di Hyundai mulai minggu depan,” kataku akhirnya. “Oppa sendiri sedang apa disini? Dorm-mu kan bukan disini.”

“SuJu sudah pindah ke dorm ini sejak sebulan lalu. Kami mencari apartemen yang lebih besar. Aku tinggal di lantai 11,” jawab Kyuhyun Oppa.

Sebelum ada kata meluncur lagi dari mulutnya aku menyela, “Oh, bukannya Oppa mau pergi ya tadi? Kasian gadis itu sudah menunggumu.”

“Oh, gadis itu. Tidak apa-apa dia menungguku sebentar. Lagipula kami hanya akan membeli cemilan kok,” jawab Kyuhyun Oppa.

Hah! Bagus sekali. Hanya untuk membeli cemilan saja, mereka harus melakukannya berduaan. Sungguh romantis sekali. Aku marah-marah dalam hati tapi wajahku tetap datar.

“Siapa gadis itu? Pacar barumu, Oppa?” tanyaku ingin tahu. Aku berusaha menggunakan nada yang ramah tapi yang keluar malah nada sinis.

“Kenapa kamu mau tahu? Kamu cemburu ya?” tanya Kyuhyun Oppa padaku. Mungkin dia mendengar nada sinis dari mulutku makanya dia balik bertanya seperti itu.

Mendengar pertanyaannya, aku pura-pura sibuk membereskan barang-barangku. Aku hilir mudik kesana kemari, menaruh barang-barang sekenaku saja. Aku berharap Kyuhyun Oppa segera pergi tapi ternyata dia malah mengikutiku hilir mudik.

“Sasa. Yaaa, sasa. Kamu cemburu ya?” tanyanya.

“Tidak. Aku cuman bertanya,” jawabku berbohong.

“Bohong. Aku mendengar kau bertanya dengan sinis tadi. Aku yakin kau cemburu kan? Kau tidak ingin aku punya pacar lagi kan?”

Aku memilih tidak menjawab. Tiba-tiba Kyuhyun Oppa menarik tanganku lalu menyudutkanku ke tembok. “Dengar, aku sudah bosan dengan dirimu yang tidak jujur pada perasaanmu sendiri. Sekarang bilang padaku, kau cemburu atau tidak?” tanya Kyuhyun Oppa dengan nada sedikit mengancam.

Aku merasa tidak berdaya sekali sekarang. Semua kekuatanku hilang. Aku terpaksa jujur, “Iya, aku cemburu.”

“Bagus. Memang seharusnya begitu,” katanya lalu mencium dan memelukku. “Aku sangat merindukanmu.”

Itu adalah ciuman pertama yang aku dapat dari Kyuhyun Oppa. Biasanya aku tidak pernah mau dicium olehnya tapi mungkin karena aku sedang ditekan olehnya, aku hanya bisa pasrah. Tapi mungkin juga karena aku terlalu merindukannya.

“Kamu masih mau tahu siapa gadis itu?” tanya Kyuhyun Oppa.

Aku mengangguk saja.

“Dia itu adik sepupuku yang berumur 15 tahun. Dia ke dorm-ku untuk mengambil partitur untuk resital pianonya,” kata Kyuhyun Oppa.

“Sebenarnya aku sudah melihatmu tadi dari jendela dormku. Aku sekongkol dengan Hyejin dan ternyata aku berhasil.”

Aku kaget ternyata semua ini sudah direncanakan oleh Kyuhyun Oppa. “Tapi bagaimana Oppa tahu aku akan turun di lantai 10?” tanyaku.

“Begitu aku melihatmu, aku langsung berlari turun dan mengecek ke setiap lantai apakah liftmu akan berhenti atau tidak. Kalau aku melihat lift tidak berhenti, aku akan langsung lari ke lantai berikutnya lewat tangga darurat,” jawabnya polos. “Untung saja Hyejin bisa diajak bekerja sama.”

“Dasar gila,” gumamku tapi terdengar oleh Kyuhyun Oppa.

“Kau yang membuatku gila tahu,” sahutnya. “Oh ya, kenapa kamu memilih kerja di Korea?”

“Apa aku harus menjawabnya dengan jujur?” tanyaku.

Oppa menganggukkan kepalanya dengan tegas.

“Aku ingin bersamamu. Semenjak hubungan kita tidak jelas, aku selalu memikirkanmu. Aku cemas bila tidak ada kabar darimu. Aku juga gak bisa tidur kalo ada gosip tentang dirimu,” jawabku jujur. “Aku memutuskan untuk menyusulmu saja ke sini. Kalo memang kamu masih ingin bersamaku, kita bisa jalan diam-diam tapi kalau tidak yaah, aku pasrah saja.”

Aku melihat ada senyum terkembang jelas di wajah Kyuhyun Oppa. “Kau gila kalau kau berpikir aku sudah tidak mau bersamamu,” kata Kyuhyun Oppa nyaris berbisik.

Seluruh tubuhku merinding mendengar suaranya yang tepat didengarkan ke telingaku. Yang bikin aku lebih merinding adalah ciumannya yang kedua, yang tidak aku sangka-sangka terasa lebih menggairahkan. Selanjutnya, aku tidak sadar apa yang terjadi. Yang aku tahu, sekarang aku sudah duduk di sofa ruang tivi sambil melingkarkan tanganku di pinggang Kyuhyun Oppa.

“Kau tidak jadi pergi, Oppa?” tanyaku.

Kyuhyun Oppa menggelengkan kepalanya.

“Lalu bagaimana dengan Hyejin? Bukannya kamu janji untuk mengajaknya jalan-jalan ya?”

“Hahaha. Itu juga cuman alasan. Aku menyuruhnya kembali ke dorm maksudnya adalah menyuruhnya pulang karena tugasnya sudah selesai. Kekekekekek,” jawabnya sambil menatapku nyengir.

Dia lalu berdiri dan berjalan hilir mudik mengitari apartemenku sedangkan aku mulai menonton tivi sambil tiduran di sofa.

“Oppa, bagaimana album barumu? Sudah selesai?” tanyaku.

“Belum. Masih tahap finishing,” jawabnya dari dapur. “Hei, di apartemen ini apa tidak ada makanan sama sekali ya?”

Ternyata Kyuhyun Oppa mencari makanan padahal aku belom sama sekali membeli makanan. “Ya belomlah, Oppa. Aku baru sampai. Belom sempat ngapa-ngapain, kau sudah datang merecokiku,” sahutku.

“Heh! Enak saja. Seharusnya sebelum kemari, kamu beli makanan dulu tahu,” katanya dari sisi lain apartemenku.

Aku lalu teringat membawa beberapa biskuit di tas. Aku menyeret tas terdekat dari jangkauanku dan mengambil semua makanan yang ada di dalamnya.

“Aku cuman punya beberapa biskuit saja, Oppa. Sini,” kataku.

Kyuhyun Oppa lalu menghampiri ku ke ruang tivi. “Mana?” tanyanya.

Aku menyodorkan tiga bungkus biskuit padanya. Setelah menerimanya, Kyuhyun Oppa duduk di bawahku. Dia mulai memakan biskuit-biskuit tersebut sambil menonton tivi.

“Biskuitnya enak. Kamu mau?” tanya Kyuhyun Oppa.

“Tidak. Aku kenyang,” jawabku.

“Kenyang?! Tidak mungkin. Kamu loh tukang makan.”

“Oppa, aku sedang diet.”

Seketika tawa Kyuhyun Oppa meledak. “Huahahahaha, kamu diet? Sejak kapan? Emangnya bisa?”

“Oppa, jangan menertawakan aku kayak gitu doong. Oppa sendiri bilang aku gendut.”

“Hahaha. Kalo gitu, mendingan sekarang kamu bersihin apartemen kamu biar kamu kurus.”

“Gak mau. Capek. Oppa aja.”

“Enak aja. Apartemen siapa yang bersihin siapa. Gak mau. Weeeek.”

Aku tidak menanggapi perkataannya. Aku malah membalikkan badanku dan berpura-pura tidur.

“Haiiish, anak ini,” kata Kyuhyun Oppa.

Dia lalu berdiri dan menarikku bangun. Kyuhyun Oppa memaksaku membereskan apartemenku dan aku melakukannya dengan mood-moodan. Kyuhyun Oppa juga ikut membereskan tapi sambil ngomel-ngomel melihatku bekerja sangat pelan.

“Hei, pemalas! Ayo cepat bereskan apartemenmu. Ampuuun deh,” seru Kyuhyun Oppa.

Dalam 3 jam, seluruh sudut apartemen sudah rapi dan bersih, sebagian barang sudah tersusun dengan rapi. Aku yang merasa capek, langsung merebahkan diri di sofa lagi.

“Yaaa, kau malah tidur lagi. Mandi dulu sana lalu makan malam,” kata Kyuhyun Oppa padaku.

“Iya, Oppa. Nanti aku akan makan lalu mandi. Aku capek sekali sekarang,” sahutku.

Oppa lalu tersenyum melihatku. “Yasudah, istirahat saja dulu. Aku kembali dulu ke kamar. Jangan lupa makan malam ya nanti.”

Aku menggangguk mengerti. Kyuhyun Oppa mengelus kepalaku lalu keluar dari kamar. Sepuluh menit kemudian, aku sudah ketiduran.

-to be continued-