Annyeong buat readers. Thanks buat author udah mau muat ff yang gue buat ini. Gue juga masih ‘baru’ di blog ini, waktu itu iseng-iseng nyari fanfiction SuJu dan nemu di sini, dan sumpah gue langsung fall in love sama karakter Song Hyejin =). Mungkin para readers bingung sama author fanfiction sebuah boyband kok…errr… namja? Kekeke. Okay, gue namja dan gue juga ELF. So, semoga aja FF ini berkenan buat kalian. Follow @LukasJPhantera buat contact dan nambah-nambah temen (mention for folbeck ^^).

Oh ya, by the way FF ini gue buat karena terinspirasi dengan MV It’s War-nya MBLAQ ‘DITAMBAH DENGAN’ ff-nya @gyumontic dan @esterong yang udah me-rilis ff ini dua kali (versi Donghae dan MBLAQ), kali ini gue bikin versi KYUHYUN! So, buat para magnae-lovers, simak aja ya. Dan totally, ff ini TIDAK SAMA baik dengan ff author-author blog ini ataupun di MV MBLAQ. Penasaran? Okay, here’s the story.

p.s: segala jenis typo, ke-gajean harap dimaklumi karena FF ini dibikin kurang dari setengah jam, maaf juga kalo ‘kependekan’ wekekeke…

***
“Jangan! Hentikan! Kumohon!” erangnya kesakitan. Tubuhnya berguncang, meronta hebat di kursi tempat aku mengikatnya. Keringat bercucuran dari seluruh tubuhnya. Kyu tidak bergeming, pisau lipat di tangannya meneteskan darah. Ia menatap pria itu tanpa ekspresi.

“Tidak akan.” ucapnya dingin, mata peraknya bersinar dalam gelap menatap pria itu. Pria itu semakin memberontak, namun percuma. Tali itu tidak akan tertoreh sedikitpun.

“Berapa bayaranmu? BERAPA!? Akan kubayar sepuluh kali lipat! Jangan bunuh aku! Aku masih ingin hidup!” jerit pria itu. Kyu tersenyum, senyuman mengejek. Ia membuang pisau lipat itu ke lantai, ia meraih batang besi panjang yang sudah dipersiapkannya di ujung ruangan, kemudian berjalan ke depan pria itu, menatapnya dingin.

“Shireo! Jangan lakukan!! Cho Kyuhyun!” teriak pria itu lagi, menyebutkan nama lengkap Kyu.

“Hentikan! Apa kau lupa siapa aku? Aku gurumu! Orang yang selalu kau sapa dengan hormat dan kau panggil ‘songsaenim’!” Kim-songsaenim berteriak kuat. Kata-katanya terhenti saat batang besi itu dipukulkan dengan keras ke kakinya, bisa dipastikan tulangnya patah.

“Henti…kan.”

Suara Kim-songsaenim terdengar parau, wajahnya pucat seperti mayat. Kyu tersenyum, lagi-lagi senyuman sinis.

“Kau benar, aku harus menghentikan semua ini… ini akan berakhir dengan cepat, tanpa rasa sakit dan tanpa air mata”

Tangan Kyu masuk ke dalam saku celana karet hitamnya, mengeluarkan sepucuk pistol berwarna hitam, ia menempelkannya ke dahi Kim-songsaenim. Pria itu meronta dengan kuat, berteriak. Sumpah serapah keluar dari mulutnya.

“Annyeong, songsaenim.” bisik Kyu sembari menarik pelatuk handgun-nya.

“DOR!”

***

Kyu melangkah memasuki rumah itu, berjalan tanpa dipandu oleh pengawal seolah ia telah mengerti setiap lekuk di dalamnya, ia berhenti di depan sebuah pintu.

“Masuklah Kyu.” Terdengar suara dari intercom. Tanpa basa-basi Kyu segera melangkah masuk dan menghadap Park Jung Soo. Mereka bertatapan sejenak, Kyu mengeluarkan sebuah jam tangan perak dan melemparnya ke meja Jung Soo.

“Milik Kim Heechul.”

Jung Soo. Ia berdiri, memasukkan tangannya ke dalam saku jasnya dan melemparkan sebuah amplop dengan selembar foto tertempel di atasnya kepada Kyu.

“Sepuluh juta won berikut calon korbanmu berikutnya.” kata Jung Soo. “Namanya Lee Hyun Ji.”
Kyu mengamati foto itu sejenak lalu berbalik.

“Geurae.” ucapnya lalu segera pergi meninggalkan ruangan itu.

Cho Kyuhyun, alias Kyu. Pembunuh bayaran profesional. Sepuluh juta won, sekali tembak, dan satu nyawa akan terenggut. Kyu melangkah keluar dari rumah Jung Soo. Ia menatap nanar ke foto gadis yang kini berada di tangannya. Semua orang bisa ia bunuh, semuanya… kecuali Lee Hyun Ji.

Lee Hyun Ji, sahabatnya satu-satunya. 22 tahun, orang korea asli, tinggal satu apartemen dengan Kyuhyun, dan juga seorang mahasiswi, namun bukan itu yang membuat Kyuhyun tidak bisa membunuhnya. Karena dia adalah… pemilik hati sang pembunuh.

***

“Jadi, kau jatuh cinta pada korbanmu?” tanya Donghae, ia adalah sahabat Kyu dan Hyun Ji, sekaligus ‘rekan kerja’ Kyu, sesama pembunuh.

“Ne.” jawab Kyu datar seraya menyesap hot chocolate-nya. Ia sedang berada di kafe bersama Donghae, awalnya mereka hanya sekedar bertemu untuk melepas rasa rindu, namun akhirnya pembicaraan berubah menjadi ‘curhatan pekerjaan’.

“Dan kau tahu siapa calon korbanku?” tanya Kyu, ia meletakkan kembali hot chocolate itu ke atas meja.

“Nugu?” tanya Donghae, matanya membulat menatap Kyu, membuat pria itu ingin meringis.

“Lee Hyun Ji.”

Mata Donghae terbelalak, mulutnya menganga.

“MWO? Lalu? Kau akan menerimanya?”

“Mungkin.”

Donghae berdiri, menatap Kyu dengan tatapan tajam.

“Kau gila!” bentaknya emosi. Kyu berdiri dan menaruh tangannya di bahu Donghae, mencoba menenangkannya.

“Tenangkan dirimu Hyung.” Kyu memberi penekanan pada panggilan hyung-nya pada Donghae, membuktikan seberapa serius dirinya.

“Andwe!” sentak Donghae lagi, penuh emosi. “Bagaimana mungkin kau bisa menerima tawaran pekerjaan seperti ini, kau… kau… apa kau berbohong padaku tentang bagaimana kau mencintainya?”

Andai aku bisa aku sudah membohongimu bertahun-tahun yang lalu hyung

Kyu tertawa pelan.

“Aniya, tapi aku juga tidak tahu bahwa akan seperti ini.” jawab Kyu santai.

“Maksudmu? Kau bisa menolaknya! Kau…”

“Lalu membiarkannya terbunuh di tangan pembunuh lain yang disewa Jung Soo?” potong Kyu sebelum Donghae sempat menyelesaikan ucapannya, membuat Donghae terdiam.

“Jadi? Apa kau pikir membunuhnya dengan tanganmu sendiri akan merubah hasilnya?” Emosi

Donghae sudah mereda, namun ia tetap tidak menerima keputusan Kyu.

Kyu menghela nafas. Ia menatap Donghae dengan tatapan serius.

“Aniyo.”

“Lalu apa gunanya!? Kita bisa pikirkan cara lain.”

“Tidak ada hyung, hanya ada dua hal. Pertama, dia mati…” Kyuhyun mengambil jeda dalam kalimatnya. “Atau aku yang mati.”

Donghae ingin segera membantah kalimatnya, tapi cepat-cepat Kyuhyun melanjutkan.

“Tapi aku punya rencana untuk mencegah kedua hal itu, tentu saja kau harus membantuku hyung.”

Kyu menunjuk kursi, dengan enggan Donghae kembali duduk, mendengar rencana Kyu.

***
Donghae melirik jam dindingnya, ia mengetuk-ngetukkan handphone-nya ke meja. Waktu serasa berjalan dua kali lebih lama dari biasanya. Akhirnya iPhone putih itu berbunyi, dengan cepat Donghae menjawabnya.

“Yoboseyo?”

“Ne, hyung… datanglah ke taman, kita tidak punya banyak waktu.”

“Arraseo.”

Donghae menutup telepon, dengan cepat ia meraih jaketnya dan melesat pergi dengan motornya ke taman di dekat rumahnya. Berharap bahwa rencana Kyuhyun akan berhasil.
Hyung, besok malam tunggulah telepon dariku. Lalu pergilah ke taman biasa tempat kita bertemu.

Donghae sampai di taman, ia bergegas memarkir motornya dan mencari Kyu dan Ji Hyun, ia berlari ke tengah taman, tempat yang selalu dikunjungi oleh mereka bersama Ji Hyun.

Temui aku dan Ji Hyun di bangku taman. Setelah itu aku tidak tahu apalagi yang harus dilakukan, tindakanmu selanjutnya tergantung pada keputusanku di tempat itu. Kau bisa menembakku jika aku terlihat ingin membunuh Ji Hyun, atau kita akan berdamai dan melupakan semua ini.

Berharap saja aku tidak mengambil jalan pertama, karena aku belum membuat keputusan.

“Cih! Rencana macam apa itu, Cho Kyuhyun!” bentak Donghae dalam hatinya. Ia hampir sampai di bangku taman, namun pemandangan yang dilihatnya sungguh membuatnya terkejut.
Lima meter di depannya Kyuhyun berdiri, berjarak tiga meter dari Hyun Ji… dengan handgun hitam berada dalam genggamannya.

“Hyun Ji!” pekik Donghae, ia segera berlari ke depan Hyun Ji, menjadi perisainya. Ia menatap Kyuhyun yang kini menatap mereka dengan tajam. “Kyu! Hentikan! Apa yang sebenarnya ada di otakmu!?”

Kyu tidak menjawab. Hyun Ji memeluk Donghae dari belakang, tubuhnya yang mungil bergetar.

“Oppa, ada apa dengan Kyu? Aku, Aku takut…”

Hyun Ji terisak. Donghae memutar tubuhnya dan memeluk Hyun Ji, mencoba menenangkannya.

“Tenanglah Hyun Ji, semua ini akan segera berakhir.” ucap Donghae lembut. Sedetik kemudian ia mendengar suara peluru yang dikokang. Tersadar, Donghae kembali menoleh menatap sosok Kyu di hadapannya. Kyu memiringkan tubuhnya, mengangkat pistol itu sejajar bahunya, lurus ke depan.

“Benar… ini akan berakhir dengan cepat, tanpa rasa sakit dan tanpa air mata.”
Donghae meringis. Ia tahu kalimat itu, kalimat yang selalu diucapkan Kyuhyun sebelum membunuh calon korbannya. Dia serius. Donghae mengeratkan pelukannya pada Ji Hyun.

“Oppa! Shireo!” pekik Ji Hyun, terisak. Donghae tahu bahwa waktu mereka tidak akan lama lagi. Kyuhyun akan segera menembak setelah mengucapkan ‘annyeong’. Ia hanya perlu menunggu, menahan peluru itu menggunakan tubuhnya agar tidak mengenai Hyun Ji.

Donghae terkejut saat melihat Kyuhyun tersenyum, matanya terlihat berair. Kyu membuka mulutnya, mengatakan ‘jaga dia baik-baik untukku, hyung.’ tanpa suara, Donghae bisa membacanya dengan mudah karena bahasa itu telah dipelajari oleh mereka sebelum menjadi pembunuh. Kyu mengalihkan pandangannya pada Hyun Ji.

“Saranghae, Lee Hyun Ji.”

Kyu menarik pelatuk handgun. Suara ledakan mesiu terdengar bersamaan dengan meluncurnya peluru perak dari ujung pistol itu. Peluru itu melesat tepat ke punggung Donghae, Donghae dan Hyun Ji memejamkan mata.

Tidak, peluru itu tidak mengenai mereka, baik Hyun Ji maupun Donghae. Tepat sebelum peluru itu mengenai punggung Donghae, ia berbelok. Peluru itu menuju semak-semak di belakang mereka, menembus kepala Ki Bum, pembunuh lain yang telah disewa oleh Jung Soo, kemudian berbalik… berbalik dengan cepat menembus kepala Kyuhyun, bersamaan dengan airmatanya yang jatuh.

“KYU!” jerit Donghae dan Hyun Ji bersamaan. Kyuhyun terjatuh, tangannya yang terkepal membuka, menjatuhkan dua lembar tiket pesawat ke Amerika atas nama Lee Donghae dan Lee Hyun Ji berikut kunci apartemen tempat mereka akan tinggal.

Bau rumput dan tanah di taman itu kini menghilang, digantikan dengan bau besi yang becampur dengan mesiu di udara. Darah merah mengalir membasahi rumput yang hijau, mengubahnya menjadi merah pekat.

Cho Kyuhyun. Kyu. 23 tahun. Pembunuh bayaran handal. Sepuluh juta won, sekali tembak, dan satu nyawa akan terenggut, nyawa siapa saja… kecuali Lee Hyun Ji.

-the end-