by @esterong

annyeong chingudeul🙂

ff ini kelanjutan dari sequel Donghae-Johee love story hehe mianhe kalo kurang bagus dan tidak memuaskan T^T soalnya ff ini dibuat hanya dalam waktu 1 jam huhu

enjoy reading ^^

your comments are love for me so leave ur comment here🙂

sequel sebelumnya:

*****

“Oppa, aku rapikan bagian ruang tamu. Oppa bersihkan kamar kita,” ujar Johee dihari pertama kami memasuki rumah yang akan kami huni sebagai.. ehem, pasangan suami-istri.

Tanpa menunggu waktu bergulir lebih lama, Johee segera memulai aksinya. Ia segera mengambil pigura segiempat yang besar dan mulai memasang foto yang memamerkan senyum bahagia kami itu: foto pernikahan kami, Lee Donghae dan Shim Johee. ah, salah, seharusnya Lee Johee.

Ah.. Rasanya aku tidak percaya kalau kemarin aku baru saja resmi menikah dengan gadis yang sudah menjadi penantianku selama 4 tahun belakangan ini.
Aku mendekati Johee dan memeluknya dari belakang, sekali lagi meyakinkan diriku kalau sejak kemarin, gadis di dalam dekapanku ini officially mine.

“Yaa, Oppa! Kenapa kau tidak segera ke kamar?” tanya Johee tanpa menghentikan kegiatan yang sedang ia lakukan. Aku yang masih memeluknya ini, tidak memberikan jawaban, hanya tersenyum bahagia walau ia tidak melihatnya, dan makin mengeratkan pelukanku.

“Yaa.. Oppa! Lepaskan” seru Johee sambil berusaha melepaskan tanganku yang bertengger dipinggangnya. Sekuat apapun ia mencoba untuk melepaskan pelukan ini, sekuat itu pula aku mengeratkan pelukanku. Tenang saja, kekuatan pelukanku tidak akan membuat tubunya remuk redam.

Menyadari kalau usaha dan tenaganya terbuang sia-sia, Johee pun bertanya, “Oppa mau apa dariku?” Sebuah pertanyaan khas yang selalu Johee lontarkan jika ia sudah pasrah dengan perbuatanku.

Aku menyunggingkan senyum kemenangan dan berbisik padanya, “Panggil aku.. yobbo, Johee,”

Aku dapat melihat wajah Johee sudah jadi semerah apel. Ia beberapa kali membuka tutup mulutny, tanda ia ragu dan malu untuk mengatakannya. Ia masih belum terbiasa dengan statusnya yang baru: istri Lee Donghae.

“Yo-yo-yobbo,” guman Johee.

“Ne? Aku tak dengar,” ujarku walau sebenarnya aku mendengar jelas suaranya, tapi aku belum puas menggoda Johee.

“Yob-bbo..” ujar Johee sekali lagi, yang lagi-lagi kubalas dengan pertanyaan yang sama, “Ne? Aku tak dengar,”

“Arrgh,” geram Johee. “Yobbo Yobbo Yobbo Yobbo Yobbo Yobbo!!” seru Johee berulang kali yang membuatku benar-benar puas.

Aku melepaskan pelukanku dan memutar Johee agar ia berhadapan denganku. Tak selang beberapa detik, tanpa kendali dari otakku, aku mendaratkan ciuman singkat dibibirnya dan ujung bibirku tertarik membentuk senyuman yang terdesign khusus untuk Johee.

“Kau harus mulai memanggilku yobbo mulai sekarang. Arrachi, cagi?” tanyaku dengan mengimbuhkan penekanan pada tiap suku kata ‘ca-gi’. Pipi Johee merah seketika dan ia hanya menjawab perkataanku dengan tundukan malu-malu.

*****

Aku memandang puas kamar kami yang sudah kutata sangat rapi dan cantik ini. Niat hati ingin segera menggeletakkan badan ditempat tidur, namun sayang sekali ternyata tugasku belum selesai. Masih ada beberapa kardus berisi pakaian yang harus kupindahkan ke dalam lemari.

Dengan berat hati, aku berjalan menuju tumpukan kardus dan memindahkan satu-persatu isinya. Perhatianku sepenuhnya sudah tertuju pada kegiatanku ini. Aku hanya ingin segera menyelesaikannya agar aku bisa tidur. Tapi sebuah kotak dengan ukuran 30x20x10 cm kubik dan warnanya yang kelabu akhirnya berhasil menyita perhatianku. Aku malah sudah duduk di lantai untuk dapat segera melihat isinya.

Mainan, aksesoris, koin kecil, kancing jas sekolah, dan kertas ulangan dengan nilai 0 atas nama Lee Donghae membuatku tersenyum-senyum sendiri saat mengingat setiap kenangan dibalik barang-barang itu.

Semakin lama, aku semakin terhanyut dengan ingatan masa lalu, apalagi saat aku menemukan foto gadis kecil di dasar kotak itu. Senyumku mengembang makin lebar saat aku kembali teringat tentang gadis yang pertama kalinya membangkitkan kesadaranku atas hal terindah yang ada di dunia ini: LOVE.

Yeah, she’s my first love.

*****

Aku tak mengenalnya. Aku tak tahu namanya. Aku hanya mengetahui kebaikan gadis yang tanpa sengaja kulihat dalam perjalanan pulang sekolah itu.

Saat itu hujan turun sangat deras. Semua murid berlindung dibawah payung masing-masing. Tidak ada hasrat untuk berbagi payung dengan yang lain karena hujan yang turun saat ini terlalu menyakitkan jika bersentuhan dengan kulit.

Tapi ternyata hal ini tidak berlaku untuk gadis kecil yang sejak tadi berjalan beberapa meter didepanku. Tanpa berpikir kalau dirinya nanti bisa sakit, atau bukunya bisa basah, atau mungkin ia akan dimarahi orangtuanya, ia segera memberikan payungnya itu pada seekor anak anjing terlantar yang ia temui.

Tanpa memikirkan dirinya, ia tak langsung berlari untuk mencari tempat berteduh. Ia terduduk di hadapan anjing itu lalu menangis dan berdoa untuk anjing itu. Berulang kali ia mengucapkan kata ‘mianhe’ karena gadis kecil itu tak bisa membawanya pulang, ommanya alergi pada binatang.

Aku terhenyak melihat ketulusan hatinya. Dan tanpa tendeng aling-aling, tiba-tiba saja aku sudah terjatuh ke dalam lubang yang disebut cinta. Ya, tanpa peringatan, aku sudah jatuh cinta padanya.

Otakku memerintahkan kakiku untuk berjalan menghampirinya, namun kakiku menolak karena mataku masih menikmati pemandangan yang jarang sekali kulihat.

Aku terus terdiam memandangnya dari kejauhan sampai akhirnya ia bangkit dan berlalu. Namun selembar kertas yang terjatuh dari tasnya membuatku reflek mengambilnya agar terlindung dari hujan.

Sebuah foto yang memamerkan senyuman manis gadis itu dan masih kusimpan sampai saat ini di dasar kotak itu.

*****

Aku kembali tersenyum dengan flashback yang aku ingat kembali.

Apa kabar dirinya sekarang?

Pasti ia sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.

Semoga ia menemukan pria yang bisa membahagiakannya seperti kehadiran Johee yang telah mengubah hidupku jadi lebih berwarna.

*****

3 months later..

“Eng, oppa,” panggil Johee sebelum ia naik ke tempat tidur.

“Ne? Ada apa Johee?” tanyaku. Dengan segera Johee menghampiriku dan menyodorkan sebuah foto seorang gadis kecil. Ya, foto gadis itu. My first love. “Where did you get this picture?” tanya Johee.

“I kept that since i was a child. Why Johee? Jealous?” tanyaku sedikit menggodanya.

Johee menggeleng. “Ani oppa,”

“Lalu kenapa Johee sayang?”

 

….

 

“I lost this picture when i was nine,”

END :3