3 PART 4
Aku sampai di kantor tepat waktu dan langsung menuju ruang kepala HRD. Di sana, aku bertemu dengan dua orang yang juga pegawai baru. “Selamat datang. Terima kasih telah mau bergabung dengan kami,” kata kepala HRD kepada kami. “Sebentar lagi sekretaris saya akan mengantarkan anda ke bagian masing-masing.”
Sang sekretaris lalu muncul dan menyuruh kami untuk mengikutinya. Sambil berjalan, sekretaris ini menjelaskan sedikit-sedikit mengenai perusahaan. Aku mendengarkannya sambil melihat ke sekeliling. Banyak sekali orang bule dan orang Asia Timur di sini, memang ada ras lain tapi hanya 1 atau 2 orang saja. Aku mungkin satu-satunya orang Indonesia di sini.
Setelah mengantarkan dua orang pegawai baru tadi, si sekretaris mengantarkanku ke bagianku. Kami naik ke lantai 6 lalu masuk ke dalam sebuah ruangan kecil besar. Di dalam ruangan ini ada sekitar 15 orang yang sedang sibuk dengan kerjaannya masing-masing. Aku pikir aku akan langsung bergabung dengan mereka tapi rupanya aku masih harus bertemu dengan atasanku dahulu.Letak ruangan atasanku itu lebih tinggi daripada ruangan yang kami masuki ini jadi kami harus naik beberapa anak tangga. Setelah dipersilahkan masuk, si sekretaris menyuruhku masuk dan meninggalkan aku di sana.
Pada awalnya aku deg-degan saat aku harus masuk sendirian ke dalam ruangan tersebut tapi perasaan tersebut berubah menjadi terkejut. “Aah, anda yang adiknya aku temukan kemarin kan?” tanyaku reflek begitu melihat wajahnya yang aku kenal beberapa hari lalu.
Dia memandangku lalu tersenyum. “Aaah, ternyata kamu yang akan jadi pegawai baru saya. Hahaha. Sangat kebetulan ya,” katanya.
“Ah, iya, Pak,” sahutku salah tingkah. “Annyonghaseyo.”
“Annyonghaseyo,” kata pria itu. “Siapa namamu?”
“Lisa, Pak tapi biasa dipanggil Sasa,” jawabku sopan.
“Kalo tidak salah kita sama-sama dari Indonesia ya?”
“Iya, Pak. Bagaimana Bapak bisa tahu?”
“Waktu itu kamu yang memberitahu saya. Oh ya, perkenalkan nama saya Reymond dan kalau bisa jangan panggil saya bapak. Saya belum setua itu.”
Atasanku yang bernama Reymond itu lalu menyalamku dan menyuruhku segera bekerja. Sebagai pegawai baru aku masih belajar dari pegawai-pegawai yang lebih senior daripada aku. Seharusnya sih aku ditraining dahulu tapi training tersebut baru dimulai minggu depan. Aku tidak tahu alasannya dengan pasti.
Hari ini banyak ilmu yang aku dapat. Ternyata pengaplikasian ilmu dengan teori yang ada di buku-buku itu berbeda. Jauh lebih ribet dalam prakteknya menurutku. Senior-senior di sini juga baik-baik dan ramah-ramah tetapi semangat kerja mereka sangat tinggi. Mereka tidak akan pulang kalau kerjaan mereka belum selesai.
Untung saja hari ini pekerjaanku belum banyak jadi aku bisa pulang lebih cepat daripada beberapa orang padahal saat itu sudah jam 9 malam. Aku segera pulang ke apartemen menggunakan bis umum yang sama dengan saat aku berangkat tadi pagi.
Aku ingin segera masuk ke apartemenku untuk istirahat tapi harus tertahan oleh Kyuhyun Oppa yang telah berdiri di depan kamarku. “Sasa, kamu kemana saja sih? Aku mencemaskanmu setengah mati tahu!” katanya kesal seperti aku hilang entah kemana dan hampir membuat dia mati. “Aku menghubungimu daritadi pagi tapi tidak kamu jawab.”
Aku yang sudah capek tapi harus mendengar orang ini ngoceh macam-macam membuatku naik darah. “Aku menghubungimu dari kemaren siang juga tidak kamu jawab,” kataku pelan tapi menusuk.
“Mianhe, Sasa. Mianhe jeongmal mianhe. Aku sibuk sekali kemaren. Ini saja aku baru pulang,” kata Kyuhyun Oppa.
“Aku juga sibuk sekali. Maafkan aku,” sahutku tidak kalah menusuk dari perkataanku yang sebelumnya. “Dan sekarang aku mau istirahat. Selamat malam.”
Aku masuk ke dalam apartemenku. Saat aku mau menutup pintunya, Kyuhyun Oppa menahannya dan berhasil ikutan masuk. Aku yang terlalu capek, tidak peduli apa yang akan dilakukan Kyuhyun Oppa.
“Maafkan aku ya, Sa. Aku salah tidak menghubungi kamu dari kemaren. Tidak memakan masakanmu padahal kamu sudah capek membuatkannya untukku taapi itu semua karena jadwalku sangat padat. Aku juga tidak menyangka akan lama sekali untuk menyelesaikan pekerjaanku,” kata Kyuhyun Oppa mencoba menjelaskan.
Aku mendengarkan apa yang dia katakan tapi aku tidak peduli. Aku masuk ke kamar mandi yang berada di dalam kamar tidurku untuk mandi. Setelah selesai mandi, aku bersiap untuk tidur tapi Kyuhyun Oppa masih saja berisik mengetuk-ngetuk pintu kamar tidurku.
Aku ingin malam ini bisa tidur dengan tenang. Karena itu, aku membukakan pintu untuk Kyuhyun Oppa. “Sudah selesai mengoceh?” tanyaku tajam.
“Sasa, maafkan aku. Aku tidak akan pulang sebelum kamu maafkan aku,” katanya mengancam.
“Terserah Oppa,” sahutku tidak peduli. “Kamu boleh melakukan apa saja sesukamu kok, Oppa.”
Aku segera naik ke tempat tidur dan menarik selimut sampai ke atas kepalaku. Aku mendengar Kyuhyun Oppa menghela nafas panjang sebelum berkata, “Baiklah kalo begitu. Aku tidak akan pulang sebelum kamu memaafkan aku.”
Aku tidak menjawab. Kyuhyun Oppa pun lalu keluar dari kamar tidurku dan pergi ke ruang tivi. Aku mendengar sayup-sayup suara tivi yang dinyalakan oleh Kyuhyun Oppa. Sebenarnya aku tidak akan marah kalau saja Kyuhyun Oppa tidak langsung menyodorkan pertanyaan seolah-olah hanya aku yang hilang entah kemana. Tidakkah dia bertanya dahulu pada dirinya sendiri?!
Maksud hati aku ingin tidur nyenyak tapi apa daya, pertengkaran ini membuatku justru tidak bisa tidur. Selain itu, aku kepikiran Kyuhyun Oppa yang mungkin sedang tidur di sofa. Tidak nyaman sekali rasanya. Karena itu aku keluar sambil membawa selimut.
Aku menghampiri Oppa di ruang tivi. Dia tidur di sofa dengan kaki menekuk ke dadaanya. Sepertinya dia kedinginan. Aku menyelimutinya dengan selimut yang aku bawa dari kamar lalu pergi ke dapur untuk membuat dua cangkir coklat panas untuk menenangkan hati dan pikiran.
Awalnya aku tidak tega membangunkannya tapi pertengkaran ini harus segera berakhir. Karena itu aku membangunkannya. “Oppa. Oppa, bangunlah. Oppa,” kataku sambil menempelkan cangkir cokelat panas ke pipinya.
Kyuhyun Oppa pun bangun. Dengan masih setengah sadar, dia berubah posisi dari tidur menjadi duduk. Aku duduk di sebelahnya lalu menyerahkan satu cangkir cokelat panas yang aku buat tadi. “Minumlah dulu baru kita bicara,” kataku.
Dia lalu menerima cokelat panas itu dan menyeruputnya pelan-pelan. “Kau mau memaafkan aku?” tanyanya pelan.
“Sebelum aku putuskan untuk memaafkan Oppa atau tidak, Oppa harus tahu beberapa hal,” jawabku tanpa memberikan kesempatan baginya untuk menyela. “Pertama, aku kecewa padamu karena tidak memenuhi janji untuk makan masakanku padahal kau sendiri yang minta. Kedua, Oppa tidak berhak marah padaku hanya karena aku tidak bisa dihubungi. Kita masing-masing punya kesibukan. Aku menghargai kesibukanmu karena itu aku tidak pernah protes sedikitpun saat Oppa sama sekali tidak memberi kabar padaku. Aku harap Oppa bisa lebih menghargaiku.”
Setelah aku selesai bicara, Kyuhyun Oppa baru bicara. “Maafkan aku. Aku tahu aku salah, Sasa. Aku janji akan lebih menghargaimu,” kata Kyuhyun Oppa.
“Oke kalo gitu. Aku pegang janjimu,” sahutku. “Sekarang sebaiknya Oppa habiskan cokelat panasnya lalu pulang. Oppa butuh istirahat.”
Kyuhyun Oppa tidak menjawab. Dia malah membelai-belai rambutku sambil berkata, “Aku tahu dari dulu memang kamu yang terbaik. Terima kasih ya.”
Aku sangat suka Kyuhyun Oppa-ku yang seperti ini. Kyuhyun Oppa yang lembut, baik hati dan selalu memperlakukanku dengan manis. Kalau sudah begini, hanya dengan dibelai saja aku pasti akan langsung jatuh ke pelukannya.
Detik berikutnya, aku sudah menaruh kepalaku di bahu Kyuhyun Oppa dan dia terus membelai kepalaku sampai aku tertidur.

-to be continued-