3 PART 5

Pok! Pok! Aku merasa pipiku ditepuk-tepuk. “Sasa, ayo bangun, sayang. Kamu harus ke kantor sekarang,” kata Kyuhyun Oppa membangunkanku.
“Jam berapa sekarang?” tanyaku masih dengan setengah nyawa.
“Jam tujuh,” jawab Kyuhyun Oppa. “Ayo, bangun. Lalu mandi biar aku antar kamu ke kantor.”
“Yiaaaa!!” pekikku kaget. “Cepat sekali sudah jam 7!”
Aku loncat dari sofa dan langsung masuk ke kamar mandi. Aku mandi dan siap-siap secepat yang aku bisa. Setengah jam kemudian, aku sudah siap untuk berangkat tapi Kyuhyun Oppa menahanku untuk memakan sarapan yang telah dia buatkan.
Oppa membuatkan roti panggang coklat dan segelas teh manis untukku. “Ayo, dimakan dulu baru setelah itu kita berangkat.”
Aku menuruti saja perkataan Kyuhyun Oppa. Setelah aku menghabiskan sarapanku, Kyuhyun Oppa mengantarkanku ke kantor. Sebelum aku masuk ke dalam gedung, Kyuhyun Oppa berkata padaku, “Mulai hari ini aku sibuk sekali karena besok adalah hari launching album baru Super Junior, setelah itu promo ke berbagai daerah, mungkin juga sampai ke luar negeri. Maafkan aku tidak bisa menemanimu ya.”Aku yang sudah terbiasa dengan hal ini tentu saja memakluminya. Karena itu aku mengacungkan jempolku. “Okeee, boss. Hihihi. Semoga lancar dan sukses ya,” kataku memberi semangat.
Hari ini pekerjaanku masih belum banyak. Masih belajar-belajar juga dari senior-senior. Jadi belum banyak juga yang bisa bikin aku tertekan. Hari ini bahkan aku bisa pulang lebih cepat dari kemaren.
Sebelum pulang ke apartemen, aku mampir ke supermarket untuk membeli beberapa mi instan, tisu dan pembalut. Saat keluar, aku berpapasan dengan Pak Reymond, atasanku di kantor. Dia sedang menggandeng adiknya yang waktu itu aku temukan.
“Annyonghaseyo, Pak,” sapaku. “Hai, adik kecil.”
“Aah, Sasa. Kebetulan sekali bertemu denganmu di sini. Sedang apa di sini?” tanya Pak Reymond padaku.
“Habis membeli beberapa kebutuhan hidup, Pak,” jawabku.
“Masih memanggil bapak ya? Panggil abang saja,” katanya. “Kami mau makan malam. Ikut saja dengan kami ya.”
Bang Reymond menawarkan makan malam. Aku sungkan untuk menerima tawarannya tapi adiknya terus menarik-narik bajuku memaksa aku untuk ikut. Kalau sudah anak kecil yang bertindak, aku tidak tega untuk menolaknya. Tapi aku belom menjawab saat adik kecil itu menggandengku masuk ke restoran di sebelah supermarket.
“Noona, duduk di sebelahku sini,” katanya sambil menunjuk tempat duduk di sebelahnya.
Aku memandang Bang Reymond dengan tatapan bingung dan dia menanggapinya dengan santai. “Sudah, duduk saja di sebelah Jimi,” katanya.
Setelah Bang Reymond bilang seperti itu, aku duduk di sebelah Jimi. “Aaah, ternyata namamu Jimi ya? Kenalkan namaku Sasa. Kita belum sempat kenalan waktu itu,” kataku menjulurkan tangan untuk berkenalan.
“Aah, Sasa noona. Akhirnya aku tahu namamu,” sahutnya. “Noona mau makan apa? Mie seafood di sini sangat enak. Bagaimana?”
“Kalo begitu, noona akan makan sesuai rekomendasimu,” kataku.
Aku heran bisa langsung akrab dengan anak ini walaupun kami baru bertemu sekali. Itupun tidak disengaja.
“Minumnya apa, noona?” tanya Jimi lagi.
“Humm, sama saja denganmu,” jawabku.
Jimi lalu beralih ke bang Reymond. “Abang juga akan makan itu kan?” tanyanya.
“Iya, Jimi,” jawab bang Reymond.
Aku melihat dari matanya bahwa ia sangat lelah tapi ia masih bisa memancarkan perasaan sayang yang luar biasa terhadap Jimi. Dengan semangat ia memesan makanan kepada pelayan yang mendatangi meja kami.
Jimi lalu mengajakku ngobrol. “Noona tinggal di mana?” tanyanya.
“Di apartemen dekat tempat kita bertemu waktu itu. Kapan-kapan kamu main ke sana ya,” jawabku.
“Pasti,” sahutnya semangat. “Nanti aku akan mengajak noona main permainan paling seru di dunia.”
Aku menganggukan kepala sambil tertawa lalu bertanya lagi, “Jimi sekolah dimana? Kelas berapa sekarang?”
“Aku gak suka sekolah. Teman-teman di sana jahat. Aku suka diejek-ejek karena mataku besar dan kulitku yang sawo matang,” jawab Jimi dengan polos.
Aku begitu kaget mendengar Jimi bisa menceritakan segala sesuatunya kepadaku tanpa rasa sungkan seolah-olah aku dan dia sudah dekaaaat sekali. Padahal jelas sekali dia baru mengenalku.
“Lalu Jimi belajar sama siapa?” tanyaku lagi.
“Bang Reymond punya teman di kedutaan yang selalu mengajariku setiap sabtu dan minggu. Aku belajar macam-macam dari teman bang Reymond itu,” jawab Jimi lagi-lagi dengan sangat terbuka.
“Biasanya Jimi bermain dengan siapa?”
Semakin aku mendapatkan jawaban yang terus terang semakin aku ingin mengetahui pribadi anak ini. Agak aneh mendengar ada anak kecil berumur 10 tahunan tidak sekolah dan tidak punya teman.
“Di apartemen kami ada internet. Dengan internet, aku bisa bermain dan belajar apa saja sesuka hatiku,” jawabnya. “Noona suka main internet?”
“Humm, kalau sedang senggang aku suka kok,” kataku.
Begitu makanan datang, Jimi langsung melahapnya. Dia fokus pada makanannya tapi tetap santai dalam menghabiskannya. Sesekali dia meneguk minumannya saat dia agak kesulitan menelan. Begitu makanannya sudah habis, dia baru bicara, “Kenyaaaang. Pulang yuk, bang.”
“Sebentar ya, abang selesaikan dulu makan abang terus kita antar Sasa noona pulang baru kit akembali ke apartemen. Oke?” sahut bang Reymond pada adiknya, Jimi.
“Oke, bos!”
Walaupun aku telah berkelit ke sana ke mari, bang Reymond dan Jimi berhasil memaksaku untuk diantar pulang. Jimi bahkan menyuruhku duduk di jok depan karena ia mau tidur di jok belakang.
Dalam perjalanan, bang Reymond banyak bercerita padaku. “Maaf telah merepotkanmu, Sasa,” katanya padaku. “Tampaknya Jimi sangat menyukaimu. Maafkan dia karena terlalu banyak bicara.”
“Ah, tidak apa-apa kok, bang. Aku senang bisa mempunyai teman baru,” sahutku.
“Jimi pasti juga senang,” kata bang Reymond. “Aku tidak pernah melihatnya bercerita seperti tadi kepada siapapun kecuali padaku.”
“Oh ya?” tanyaku tidak percaya.
“Iya, sejak kedua orang tua kami meninggal. Aku tinggal hanya berdua dengan Jimi. Perbedaan usia kami yang terlalu jauh membuat hubungan kami jadi rumit. Di satu sisi, Jimi membutuhkan sosok ayah, ibu dan kakak tapi aku tidak bisa menyediakannya sekaligus,” kata bang Reymond menjelaskan. “Aku harus memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan Jimi sekaligus memberikannya kasih sayang tapi di satu sisi aku tidak punya banyak waktu untuk itu. Aku harus bekerja dari pagi sampai malam untuk menghidupi dia.”
Bang Reymond terus bercerita mengenai Jimi dan aku terus memandangnya takjub. Aku tidak bisa percaya bahwa saat ini aku sedang mendengarkan curhatan dari atasan yang baru aku kenal beberapa hari. Sepertinya abang dan adik ini punya pribadi yang sama, gampang sekali menceritakan segalanya padaku.
Aku ingin sekali mendengarkan lebih banyak cerita dari bang Reymond tapi kami sudah sampai di depan apartemenku. Setelah berterima kasih, aku turun dari mobil. “Sampai jumpa besok, bang,” kataku.
“Sampai jumpa,” balasnya.
Setelah mobil pergi, aku masuk ke dalam apartemenku dan langsung istirahat masih dengan pakaian kerjaku.

-to be continued-