Anyyeong chingudeul!😀

terinspirasi daru tumblr dan ga bisa nahan diri untuk tidak merealisasikannya hehe

Mianhe kalau ffnya kurang bagus (╥﹏╥)

so enjoy reading ^^

written by :@esterong

*****

Apa kau tahu salah satu hal yang menjadi alasanku untuk pergi ke sekolah? Ini bukan soal masa depan atau soal cita-cita tapi ini adalah soal cinta yang sayangnya tidak akan berujung pada happy-ending seperti fairytale yang selama ini selalu kudengar.

Yang kulakukan selama ini hanyalah memandang punggungnya dari tempatku duduk. Tidak munafik, aku tak puas hanya dengan hal itu. Namun sayangnya aku tak punya kesempatan untuk mengakui perasaanku.

Hatinya sudah terpaut pada gadis lain. Gadis yang selalu ia pandang dari tempat duduknya yang mengarah langsung ke lapangan. Gadis yang selalu ia pandang melalui jendela yang membatasi kelas kami dengan dunia luar. Gadis yang selalu membuat pria itu tersenyum tulus. Gadis yang-entah-siapa yang sudah mampu merebut hati seorang Lee Donghae.

Ya, Lee Donghae, pria itulah yang menjadi alasanku untuk berangkat ke sekolah namun kadang ia menjadi salah satu alasanku untuk memilih tidur di rumah daripada harus berangkat ke sekolah dan lagi-lagi menyadari kenyataan pahit kalau perasaanku bertepuk sebelah tangan..

Meskipun aku tahu kalau perasaanku akan berakhir dengan tangisan, hatiku tetap tidak menurut. Perasaan ini tidak menghilang, malah kian hari makin bertumbuh dan mungkin kini sudah mengembang dan ikut mengalir dalam aliran darahku.

Aku mencintai Lee Donghae. Perasaan yang absolut dan entah apa aku mampu mengubahnya meski waktu terus bergulir.

*****

Aku mulai memainkan pensil yang ada disela-sela jari telunjuk dan jari tengahku, pertanda kalau aku sudah mulai bosan. Aku melihat papan tulis yang ada di depan kelas dengan tatapan kosong. Tidak ada gairah untuk mempelajari rumus-rumus yang tertera disana.

“Shim Johee!” panggil sem dengan lantang yang membuatku tersadar dari lamunan.

“Kerjakan soal dipapan ini,” ujar sem sambil mengetuk sisi papan dimana soal itu terpampang jelas.

Aku mulai gentar. Tanganku mulai basah karena rasa cemas yang menyerangku. Meskipun sudah kucoba untuk berpikir dan mengotak-atik rumus yang kebetulan melekat diotakku, tetap saja aku tak menemukan jawaban yang tepat. Atau kasarnya, aku tak bisa mengerjakan soal itu. Matematika sama sekali bukan bidangku.

“Johee, berapa jawabannya?” tanya sem mulai menagih. Ia menatapku dengan matanya yang menandakan kebencian. Ya, ia memang tak menyukaiku karena aku bukan murid teladan; aku tahu itu, tapi bukan berarti kau harus meng-skak-mat diriku dengan soal yang hanya bisa diselesaikan oleh anak olimpiade matematika.

Arah jam 11 dari tempat dudukku, 130 derajat sudut penglihatanku, aku melihat sebuah lembaran yang diatasnya tertulis sebuah formula yang tak kumengerti dari mana asalnya, namun aku mengerti apa tujuannya memberitahukanku deretan angka itu.

“Jawabannya 6x-3/2y+8,” jawabku yang mampu membuat sem menelan ludah untuk menahan kekesalannya karena aku bisa menjawab pertanyaan itu dengan benar.

“Gomawo,” gumanku pada sosok yang tadi telah membantuku. Ia tak menjawabku dengan suara namun senyuman simpul di wajahnya seakan berkata, “Itulah gunanya teman,”

Bagimana aku bisa melupakannya kalau ia begitu baik padaku?

It’s so pathetic. When he means everything to me, but i’m just nothing to him.

*****

“Kau akhir-akhir ini suka melamun, Johee,” ujar Donghae sambil mengambil kursi lain dan duduk berhadapan denganku.

“Hanya perasaanmu saja,” jawabku seadanya tanpa membiarkan diriku terlarut dalam emosi.

“We’re best friend, right?” tanya Donghae tiba-tiba yang membuatku tersenyum dan mengangguk, sayang sekali hal itu tidak kulakukan dengan tulus. Rasanya aku ingin berteriak tepat ditelinganya kalau aku mencintainya.

“Aku ingin cerita padamu tentang perasaanku. Aku menyukai seseorang,” ujarnya sambil menatapku lurus tanpa keraguan. “Ah, aniya, perasaan itu kini sudah berubah menjadi cinta. Aku mencintainya,” lanjut Dongae meralat perkataannya.

Mendengar pernyataan tegas yang keluar dari bibirnya sendiri membuat semua bagian tubuhku seakan dicabik-cabik oleh sesuatu yang sangat kusesali keberadaanya, perasaanku pada Donghae.

“Ah, She must be very lucky,” ucapku tanpa sadar. Untung saja otakku masih berfungsi dengan baik meski emosi mulai mengambil sebagian jiwaku.

“Definitely. I’ve loved her ever since i met her,” ujar Donghae. Argh, ingin sekali kututup telingaku untuk tidak membiarkan serentetan kalimat dari bibir manis itu membuat hatiku sakit lebih dalam lagi.

“Really? Well, since we’re best friend, i wanna meet her. Go call her then,” ujarku tanpa kusaring. Ah, ternyata cinta membuat orang jadi sangat bodoh. Aku baru saja melakukan aksi bunuh diri.

“Oh, okay. Wait,” ujar Donghae dan dengan sigap ia mengeluarkan ponselnya dan menekan tombolnya dengan cepat, tampatnya ia sudah hafal luar kepala nomor telepon gadis itu.

Disaat yang bersamaan Donghae meletakkan speaker ponselnya di telinga, aku merasakan ponselku bergetar.

“Wait, hold on. I think i’m getting a call,” ujarku lalu mengambil ponselku dan mengangkatnya tanpa melihat nama si penelpon tersebut.

“Hello?” sahutku tepat saat aku menempelkan ponsel tersebut ditelinga.

“Hey, Shim Johee. I love you,”

……

Aku menatap Donghae dengan air mata yang sekuat tenaga kutahan agar tak mengalir keluar dari pelupuk mata.

“Hey, Shim Johee. I love you,” kata-kata yang terdengar di seberang telepon, suara yang terdengar nyata oleh telinga sisi kananku, dan gerak bibir pria yang duduk dihadapanku yang melafalkan kalimat itu membuat tubuhku tak mampu berbuat apa-apa. Aku terpaku dan terdiam untuk sementara waktu dengan ponsel yang kubiarkan disisi telingaku dan mataku tetap menatap lurus padanya. Mencari suatu bukti kebohongan yang ia lakukan.

“You lied,” ujarku mengambil kesimpulan.

“Kenapa kau berkata seperti itu?” tanyanya.

Tak salah satu dari kami mengambil inisiatif untuk menutup sambungan itu dan menurunkan ponsel yang tertempel ditelinga kami meski kami duduk berhadapan.

“Kalau kau memang mencintaiku, apa alasanmu, ha?” tanyaku sedikit skeptis. Emosi yang sedari tadi kutahan kini mulai menguasaiku.

When you love someone, you just do. There are no maybes, no buts, and no whys,” jawabnya. Sebuah jawaban manis namun entah mengapa justru membuatku merasa sakit. Sebagian dari diriku masih tak mempercayai perkataannya.

“Kalau kau mencintaiku? Siapa gadis yang selama ini selalu kau pandang melalui jendela itu? Kau jangan membohongiku!” pekikku dengan air mata yang mulai mengalir. Aku merasakan beberapa sorot mata menatap kami namun untuk saat ini aku benar-benar tak peduli.

Donghae tak menjawabku, ia hanya tersenyum lembut sambil menghapus air mataku dengan ibu jarinya.

“Cobalah kau duduk ditempatku,” ujarnya sambil menuntunku untuk duduk ditempatnya.

Sinar matahari yang membias di kaca jendela itu membuatku dapat melihat bayangan beberapa teman yang duduk dibelakangku, namun yang paling mencolok dan menjadi pusat penglihatanku adalah Lee Donghae yang duduk ditempat dudukku.

Air mata karena emosi kini berubah menjadi air mata kebahagiaan. Ternyata yang selama ini ia pandang bukanlah gadis lain, melainkan diriku sendiri.

“Kau sudah percaya padaku?” tanyanya yang hanya kujawab dengan anggukan. Perasaan yang masih labil ini membuat lidahku kelu.

“Lalu apa jawabanmu Johee?” tanya Donghae.

“Do you love me? Or do you love another man?” tanyanya. Raut kekhawatiran tergambar jelas diwajahnya.

“Yes, i love someone,” ujarku. Kini Donghae menatapku lirih dan pasrah.

“Can you tell me?” tanyanya sambil mencoba tersenyum meski sangat terlihat jelas kalau iya tidak tulus.

“You can’t laugh,” ancamku

“Okay, just tell me,”

“It starts with a ‘Y’ and ends in ‘U’ ” jawabku sambil menyunggingkan senyum simpul yang sepertinya bisa dimengerti oleh Donghae. Ia tak lagi sedih. Ia bahkan bergerak lebih dulu dan mencium bibirku kilat meski masih banyak temanku yang melihat kami berdua bagai tontonan drama romantis.

“Yeah, i love that person too, Johee sayang,”

END