3 PART 6

Aku sudah lima hari kerja dengan tiga hari tanpa bertemu ataupun mendapat kabar dari Kyuhyun Oppa. Selama tiga hari itu aku hanya bisa memantaunya dari koran. Hampir setiap surat kabar yang terbit di Korea pasti membahas album baru Super Junior, jadi aku tidak perlu khawatir. Kyuhyun Oppa ku masih baik-baik saja.
Hari ini adalah hari Sabtu, hari dimana aku bisa malas-malasan. Karena itu, aku bangun siang sekali dan langsung menonton tivi. Di tivi aku melihat Super Junior sedang menyanyikan lagu terbaru mereka dalam salah satu program musik. Seperti biasa mereka manyanyi sambil menari-nari.
Aku kemudian teringat dengan syuting di dorm yang mereka lakukan beberapa waktu lalu. Aku sama sekali tidak tahu apakah acara itu sudah disiarkan atau belum. Tapi sepertinya belum. Karena kalau sudah, ELF pasti akan ramai melihat aku muncul di sana. Bukan karena aku GR makanya aku berani bilang begitu tapi karena aku pernah mengalaminya sendiri.
Setahun lalu waktu mukaku ketangkap kamera di bandara saja, netizen sudah ramai apalagi sekarang saat mukaku muncul di televisi nasional yang mungkin saja disiarkan sampai ke luar negeri.
Aku mengganti channel tivi dan lagi-lagi melihat Super Junior. Kali ini bukan live performance tapi MV yang terbaru. Aku sangat senang melihat Kyuhyun Oppa tampan sekali di MV tersebut. Oppa yang lain juga tambah tampan tapi tidak setampan Kyuhyun Oppa-ku. Hohohoho.Tiba-tiba bel pintu kamarku berbunyi dan aku langsung membuka pintu. “Aaah, bang Reymond, Jimi,” seruku kaget. “Bagaimana bisa tahu aku tinggal di kamar ini?”
“Jangan lupa aku atasanmu, jadi aku tau dimana kamu tinggal,” jawab bang Reymond bercanda.
“Oh iya ya. Hehehe,” sahutku. “Abang sama Jimi ada perlu apa kemari?”
“Noona, ayo kita nonton bioskop malam ini. Ada film bagus sekali,” jawab Jimi bersemangat. “Pemainnya juga keren-keren loh, noona.”
“Jimi memaksaku untuk mengajakmu. Aku tidak bisa menolaknya,” sela bang Reymond.
Lagi-lagi aku tidak bisa menolak permintaan mereka. Aku mempersilahkan mereka masuk dan duduk di ruang tamu. Setelah menyuguhkan minuman dan makanan kecil, aku ngibrit ke kamar untuk mandi dan bersiap-siap.
Dalam sepuluh menit, aku sudah siap dan kami pun segera berangkat. Aku sadar hari ini adalah weekend jadi pusat-pusat hiburan seperti bioskop pasti ramai sekali. Untung saja kami tetap mendapatkan tiket walaupun harus menonton dari jarak dekat, secara kursi kami berada di baris ketiga dari layar.
Jam 7.15 malam, film dimulai. Jimi belum menonton separuh film tapi kepalanya sudah terkulai di bahuku. Dia tertidur sangat nyenyak. Saat film selesai pun, dia harus dibangunkan lebih dahulu.
“Jimi, bangun. Filmnya udah selesai,” kata bang Reymond.
Jimi yang terbangun langsung berkata, “Loh abang kok baru bangunin Jimi sekarang? Jimi gak nonton sampai habis dong.”
“Kapan-kapan kita nonton lagi,” sahut bang Reymond.
“Gak perlu, bang. Minggu depan Jimi bisa download dari internet kok,” kata Jimi lagi. “Sekarang kita makan saja dulu ya. Aku lapar sekali.”
Jimi lalu menggandeng tanganku dan berjalan keluar bioskop. “Noona, kamu suka download apa dari internet?” tanyanya mulai mengajakku ngobrol.
“Humm, paling hanya beberapa software gratis yang aku perlukan. Aku tidak begitu suka download karena noona gak begitu ngerti caranya. Hehehe,” jawabku jujur.
“Kalau begitu kapan-kapan aku akan mengajari noona download film, lagu dan sebagainya,” sahut Jimi.
“Oke, bos.”
Kami bertiga lalu makan malam di restoran Indonesia yang katanya bang Reymond ini adalah restoran paling enak di Korea karena sangat sesuai dengan lidahnya. Kali ini aku lagi-lagi ditraktir oleh bang Reymond. Aku jadi merasa tidak enak.
“Kapan-kapan aku yang harus mentraktir bang Reymond dan Jimi. Sepakat?” kataku saat mereka menolak untuk ditraktir aku.
“Sepakaaaaat,” jawab bang Reymond dan Jimi dengan kompak.
Setelah itu, kami turun ke tempat parkir mobil. Saat Jimi mau menyeberang, ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arahnya. Sebelum terlambat aku menarik Jimi ke tempatku dan memeluknya. Beberapa detik kemudian, mobil itu melaju di sisiku dengan sangat kencang.
Aku merasa jantungku berdegup cepat karena syok melihat mobil itu. Untung saja, Jimi tidak sempat ditabrak mobil itu. Bang Reymond yang sudah duluan tiba di mobil menghampiri aku dan Jimi.
“Ya Tuhan, terima kasih. Terima kasih, Sasa. Kamu selalu menolong kami di saat yang tepat,” kata bang Reymond penuh terima kasih sekaligus syok.
Aku yang masih syok tidak menjawab apa-apa. Aku malah memeluk Jimi semakin erat. Setelah aku tenang, aku baru melepaskan Jimi dan masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan, tidak ada satupun dari kami yang bicara apalagi membahasnya.
Saat sampai di depan apartemen pun, aku turun dari mobil tanpa banyak bicara. Aku segera masuk ke dalam apartemen dan menemukan sebuah bunga mawar di depan kamarku. Aku lalu membungkuk untuk memungut bunga itu dari lantai. Saat aku mau berdiri ada seseorang yang menutup mataku dari belakang.
“Aaah, Kyuhyun Oppa!” seruku. Aku sangat mengenal tangan dan baunya jadi tidak mungkin aku salah. “Bunga ini pasti juga dari kamu kan?”
Kyuhyun Oppa lalu tertawa dan melepaskan tangannya dari mataku. “Ternyata kamu sudah sangat mengenalku. Hohoho,” katanya.
“Yaiyalah,” sahutku. “Oppa sudah lama menungguku?”
“Baru beberapa jam,” jawabnya sok serius. “Kamu pulang lama sekali.”
“Halah, paling juga baru sepuluh menit,” kataku tidak percaya. Mana mungkin di padat-padatnya jadwal Super Junior, dia bisa pulang dan santai-santai sejak beberapa jam yang lalu.
Kami masuk ke dalam apartemenku dan Kyuhyun Oppa langsung memelukku. “Hmm, aku sangat merindukanmu,” katanya. Lalu dia mulai menciumku dan tiba-tiba berhenti.
“Kamu pakai parfum ya?” tanya Kyuhyun Oppa saat itu juga.
“Gak kok. Emang kenapa?” sahutku.
“Kamu abis darimana?” tanya Kyuhyun Oppa lebih dalam tanpa menjawab pertanyaanku.
“Nonton bioskop sama atasanku dan adiknya,” jawabku jujur.
“Atasanmu laki-laki?” tanya Kyuhyun Oppa lagi.
“Iya,” jawabku dengan sangat amat jujur.
“Haiiish!” seru Kyuhyun Oppa mengagetkanku sambil menghentakkanku sampai hampir jatuh.
“Oppa kenapa sih?” tanyaku yang masih belum tahu kenapa tiba-tiba Kyuhyun Oppa bertingkah seperti itu.
“Kamu masih bertanya aku kenapa?!” bentaknya padaku.
Dari suaranya aku tahu dia marah karena cemburu. Seharusnya aku tidak usah cerita darimana aku tapi aku berusaha jujur padanya. Aku lalu mendekatinya. “Oppa marah padaku. Maafkan aku. Aku bisa menjelaskannya kok.”
Kyuhyun Oppa menghela nafas panjang dan menjatuhkan dirinya di atas sofa. “Baik, karena aku ingin LEBIH MENGHARGAI KAMU maka aku akan mendengar penjelasanmu,” kata Kyuhyun Oppa dengan memberikan penekanan sinis di kata lebih menghargai kamu.
Sebenarnya aku bosan jika setiap bertemu yang kami lakukan hanya bertengkar lalu baikan lalu bertengkar lagi lalu baikan lagi. Aku sudah lelah dengan yang namanya bertengkar maka kali ini aku kan menjelaskannya dengan sabar. Apapun yang dikatakan Kyuhyun Oppa aku tidak boleh marah.
Aku duduk di sebelahnya dan menceritakan kejadiannya dengan rinci, mulai dari aku menemukan Jimi yang tersesat sampai tadi aku pulang. Tidak kelupaan curhatan bang Reymond dan Jimi kepadaku ikut aku ceritakan kepada Kyuhyun Oppa.
“Jadi begitu ceritanya. Nonton bioskop, makan malam dua kali, diantar pulang, lalu mendengarkan cerita mereka. Memangnya kau siapanya mereka?!” sela Kyuhyun Oppa dengan sinis saat aku berusaha menceritakan kejadiannya.
Aku menjelaskan aku tidak bisa menolak permintaan mereka karena aku tidak tega. Aku tidak bisa menolak kalau Jimi yang sudah memintanya.
“Memangnya Jimi itu anakmu sampai kamu gak bisa menolak satu pun permintaanya?” Kyuhyun Oppa kembali berkomentar tajam di sela-sela penjelasanku.
Aku juga berkali-kali menekankan bahwa aku tidak berbuat yang aneh-aneh dengan atasanku tapi Kyuhyun Oppa tidak percaya. Dia terus saja menekanku.
“Terus aku harus percaya padamu?” tanya Kyuhyun Oppa tajam.
“Oppa, kau harus percaya padaku. Itu sudah penjelasanku yang sejujur-jujurnya,” jawabku putus asa.
“Kalau kau bisa menjelaskan kenapa bajumu bisa bau parfum pria, baru aku akan mempercayaimu,” katanya padaku. “Bisa kamu jelaskan padaku darimana kamu dapat bau itu kalo kamu gak berbuat apa-apa dengan dia?”
Aku terdiam. Aku sama sekali tidak tahu darimana bau parfum di bajuku ini berasal. Aku tidak bersentuhan dengan laki-laki manapun tadi kecuali Jimi. Aku memeluknya saat dia mau ditabrak mobil. Aku yakin itu penyebabnya.
“Aku bisa menjelaskannya pada Oppa,” kataku. “Saat kami mau pulang, ada mobil yang melaju kencang ke arah Jimi. Secara spontan aku menarik dan memeluknya. Aku memeluknya cukup lama jadi pasti parfumnya sempat menempel di bajuku.”
“Kau yakin? Bisa aku percaya padamu?” balas Kyuhyun Oppa masih dengan nada tajam.
Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana menjelaskannya kepada Kyuhyun Oppa. Aku sudah benar-benar putus asa sehingga tanpa kusadari aku mulai menangis. “Op..pa, ka..u harus per..caya pa..daku. Aku ti..dak bohong pada..mu. Sung..guh,” kataku sambil sesenggukkan.
Setelah aku menangis, Kyuhyun Oppa baru percaya padaku. “Baiklah, aku percaya padamu. Sudah, jangan menangis lagi ya. Aku hanya cemburu. Maafkan aku ya,” kata Oppa sambil memelukku.
Meskipun Kyuhyun Oppa telah mengatakan bahwa ia percaya padaku, aku masih saja menangis. “Hei, jangan menangis lagi. Aku benar-benar percaya padamu kok. Sungguh. Sudah ya,” kata Kyuhyun Oppa menenangkanku. “Tadi aku memang marah karena aku pikir kamu mengkhianatiku padahal aku merindukanmu setengah mati tapi setelah kau bisa menjelaskan semuanya, aku tidak berhak marah lagi padamu.”
“Oppa benar-benar sudah tidak marah? Sudah percaya padaku?” tanyaku untuk meyakinkan diriku sendiri.
“Iya, sayang. Aku sudah tidak marah. Aku percaya 100% padamu,” jawab Kyuhyun Oppa sambil menatap mataku lekat-lekat.
Setelah aku yakin Kyuhyun Oppa sudah tidak marah barulah tangisanku berhenti. Aku lalu meminta maaf padanya karena telah membuatnya marah. “Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu marah. Aku hanya ingin berkata jujur,” kataku.
“Iya, aku maafin. Sudah ya, gak usah dibahas lagi. Lebih baik kamu menceritakan kegiatanmu selama aku tidak ada saja,” sahut Kyuhyun Oppa.
Kami berdua akhirnya menghabiskan malam itu dengan saling bercerita apa saja yang kami lakukan selama kami berpisah meskipun besok kami akan berpisah lagi untuk waktu yang cukup lama.

-to be continued-