3 PART 7
Saat aku bangun pagi, Kyuhyun Oppa sudah tidak ada. Dia meninggalkan pesan yang ditulis di sebuah kertas.
Sayaaaaangkuuu yang paling cantik, aku pergi dulu yaaaa. Mau cari duit yang buaaaaanyaaaak. Kekekekekek. Jangan bandel ya selama aku tinggal, sayang. Jaga kesehatan. Sukses trainingnya besokk. Saranghaeyo. Smoooooooooch.❤
“Noraaaaak!!!” seruku sambil senyum-senyum sendiri setelah membacanya.
Agendaku hari ini adalah mempersiapkan hal-hal untuk training ku besok. Trainingku akan dilaksanakan di hotel tempat aku mengantarkan Jimi dahulu yang dimiliki oleh perusahaan ini. Aku pikir trainingku akan berlangsung seminggu dua minggu tapi ternyata lamaaa sekali sampai sebulan. Yang jadi pikiranku adalah kalau sampai aku sebulan tidak bisa bertemu Kyuhyun Oppa, apa yang akan terjadi padakuuu?!
Aku mulai dengan mengepak beberapa baju ke dalam koper. Setelah itu bahan-bahan traning yang aku satukan dalam satu folder. Aku harus mempersiapkan segalanya mulai dari sekarang karena besok pagi-pagi sekali aku sudah harus berangkat.Setelah aku selesai menyiapkan semuanya, aku menelepon mamaku yang ada di singapura. “Maaaaaaama!” seruku begitu beliau mengangkat teleponnya.
“Haduuuh, kamu tuh ngagetin aja,” kata mamaku yang ternyata terkejut dengan sapaanku. Aku hanya tertawa saja menanggapinya.
“Lagi apa, Ma?” tanyaku.
“Jualan dooong. Cari duit buat bantu-bantu orang gak mampu. Kenapa?” balas mamaku dengan santai.
“Gapapa. Tanya aja. Basa-basi. Hahahaha,” kataku. “Oh ya, ma. Mulai besok aku ada training loh ma di Seoul Plaza Hotel. Bukan cuman seminggu atau dua minggu tapi sebulan!”
“Wuih wuih wuih. Enak dong, Nak? Semoga lancar ya training mu besok. Hohoho,” kata mamaku. “Jangan lupa berdoa ya.”
“Oke, ma. Tenang. Hahaha.”
Karena aku tidak ada kerjaan, aku memutuskan untuk pergi ke sentra elektronik terbesar di Seoul. Aku harus membeli hape baru yang dimiliki oleh provider Korea. Selama seminggu ini aku masih memakai hape dari Indonesia. Baru seminggu saja tagihanku sudah seperti memakainya sebulan! Huhu.
Hanya saja, sepertinya Yang Di Atas berkehendak lain. Saat aku mau turun ke lobi, Ryeowook Oppa mencegahku. Dia menarikku untuk ikut ke apartemen Suju di lantai 12. “Sasa, aku boleh minta tolong padamu ya? Sehari ini saja kok,” katanya sambil memohon.
“Ada apa emangnya, Oppa?”
“Hankyung Hyung sedang sakit. Dia demam tinggi sekali. Aku khawatir kalau tidak ada yang menjaganya. Karena itu, aku mohon padamu tolong jaga dia hari ini saja,” jawab Ryeowook Oppa cemas. “Kalo aku bisa menjaganya, aku akan menjaganya. Tapi hari ini aku sibuk sekali. Kamu bisa kan?”
Aku tidak sanggup menolak permintaan Ryeowook Oppa, lagipula hanya hari ini saja. Aku juga merasa senang dapat membantu Oppa-oppa ku. “Baiklah, Oppa. Aku akan menjaganya dengan baik,” kataku.
“Sasaaaa, terima kasih banyak ya. Gomawo jeongmal gomawo,” kata Ryeowook Oppa lega. “Aku pergi menyusul hyung yang lain ya, Sasa. Baik-baik di sini. Anggap saja rumah sendiri.”
“Baik, Oppa. Selamat bekerja. Hati-hati ya di jalan,” kataku.
Setelah Ryeowook Oppa pergi, aku masuk ke dalam kamar tidur Hankyung Oppa. Aku melihat dia terbaring lemah di kasurnya. “Hai, Oppa. Bagaimana keadaanmu?” tanyaku basa-basi. Aku agak kebingungan bagaimana cara merawatnya tapi aku akan berusaha.
“Kepala dan perutku sakit. Panas sekalii,” jawab Hankyung Oppa tidak bertenaga.
“Oppa sudah ke dokter?” tanyaku lagi.
Hankyung Oppa hanya menggelengkan kepalanya lalu berkata, “Aku baru merasa sakit tadi pagi. Aku mau ke dokter tapi tidak ada yang mengantar padahal aku sangat lemas.”
Aku merasa sangat kasihan melihat Hankyung Oppa yang sama sekali tidak bertenaga padahal selama ini aku lihat dia sangat bersemangat. Karena itu, aku berinisiatif untuk mengantarkannya ke dokter.
“Kalau gitu, nanti aku akan mengantarkan Oppa ke dokter. Sekarang, aku akan membuatkan sarapan untuk Oppa,” kataku lalu pergi ke dapur dan mulai membuat sarapan.
Aku menghidangkan semangkuk nasi dan sup ayam di depan Hankyung Oppa. Dia benar-benar tidak bertenaga. Karena itu, aku memapahnya untuk duduk agar tidak tersedak saat makan.
Hankyung Oppa baru makan sesuap dia merasa mual. “Aku tidak bisa makan nasi karang. Aku jadi mual,” kata Hankyung Oppa menahan untuk muntah.
Aku mulai panik. Dengan sigap, aku mengambil nasi dari depan Hankyung Oppa dan menggantinya dengan bubur. Aku juga menyuapi Hankyung Oppa agar dia bisa lebih rileks. Setelah Hankyung Oppa selesai makan, aku segera menemaninya ke dokter.
Aku memapah Hankyung Oppa dari kamar sampai ke taksi dan dari taksi sampai ke dalam rumah sakit. Kami menunggu beberapa menit sebelum dipannggil oleh dokter. Hankyung Oppa dibantu oleh suster saat masuk ke dalam ruang pemeriksaan sedangkan aku menunggu di luar.
Hankyung Oppa diperiksa selama hampir setengah jam lalu diantarkan kepadaku oleh suster yang tadi membawanya masuk ke dalam. Hankyung Oppa diantarkan dengan kursi roda karena masih lemas. “Annyeong. Ini adalah beberapa obat yang harus dibeli untuk menyembuhkan Tuan Hankyung. Dia sakit maag yang cukup akut dan penurunan daya tahan tubuh yang cukup drastis. Dia harus istirahat beberapa hari ini,” kata suster itu padaku.
“Baiklah, suster. Gomawo,” balasku.
Aku lalu mendorong Hankyung Oppa ke apotik. Kursi roda ini mempermudahku dalam membawa Hankyung Oppa kemana-mana. Selain itu juga tidak menghabiskan energi Oppa untuk berjalan.
Aku segera membeli obat yang dituliskan oleh sang dokter dan pulang ke apartemen. Hankyung Oppa segera beristirahat di kamarnya sedangkan aku menyiapkan obat-obatnya. “Oppa, minum obatnya dulu baru tidur ya,” kataku sambil memberikan obat yang tadi aku beli di apotik.
Setelah minum obat, Hankyung Oppa segera tertidur. Aku tidak berani kembali ke apartemenku walau cuman sedetik. Aku lebih memilih untuk menjaga Hankyung Oppa saja di sini kalau-kalau tiba-tiba dia memerlukanku.
Aku duduk di meja makan sambil membaca sebuah buku. Dari tempat ini aku bisa mengawasi Hankyung Oppa yang sedang tidur dengan jelas. Dua jam kemudian, aku harus membangunkan Hankyung Oppa karena dia harus minum obat lagi tapi aku sungguh tidak tega membangunkannya.
Dengan ragu akhirnya aku membangunkan Hankyung Oppa. “Oppa. Hankyung Oppa, bangun. Oppa harus minum obat lagi,” kataku pelan-pelan.
Hankyung Oppa terbangun lalu meminum obatnya.
“Bagaimana keadaanmu, Oppa? Sudah mendingan?” tanyaku sambil memegang dahinya untuk merasakan apakah demamnya sudah turun atau belum.
“Lebih baik dari tadi pagi, Sasa,” jawabnya. “Terima kasih banyak ya.”
“Sama-sama, Oppa,” kataku. “Demam Oppa sudah turun, perut Oppa bagaimana? Masih sakit?”
“Iya tapi kepalaku sudah tidak terlalu.”
“Baiklah kalau begitu. Oppa istirahat lagi ya. Dua jam lagi aku bangunkan lagi untuk makan siang dan makan obat.”
“Baik.”
“Kalau ada apa-apa, Oppa panggil aku saja. Aku ada di meja makan.”
Aku lalu meninggalkan Hankyung Oppa untuk istirahat kembali. Aku ingin sekali kembali menekuni bukuku tapi hasratku tidak ke sana. Aku malah menyalakan tivi dan menonton dari meja makan. Aku memindah-mindah channel dan berhenti saat aku melihat tayangan dorm super junior.
Aku menontonnya sambil tertawa pelan karena takut membangunkan Hankyung Oppa. Tapi baru sebentar aku menonton, tayangan tersebut sudah habis. Aku terlambat menontonnya. Segera saja aku pindah ke channel lain dan menonton infotainment yang menurutku sangat update.
Bagaimana tidak update? Baru beberapa jam yang lalu aku mengantarkan Hankyung Oppa ke dokter dan sekarang beritanya sudah muncul di tivi.
“Jong Ran, kamu lihat penampilan Suju tadi pagi tidak? Mereka tidak tampil bersama Hankyung karena dia sedang sakit. Dan memang benar, tadi kami melihat Hankyung Super Junior pergi ke rumah sakit bersama seorang wanita,” kata presenter cewek kepada presenter cowok yang bernama Jong Ran.
“Benarkah?! Siapa wanita itu ya? Apakah manajernya?” balas Jong Ran berusaha memanas-manaskan berita.
“Kita lihat saja sekarang,” jawab cewek itu dengan centil.
Sedetik kemudian, muncullah aku dan Hankyung Oppa yang sedang memasuki rumah sakit. Video ini juga sempat me-zoom mukaku. Setelah itu muncullah gambar wajahku saat acara dorm super junior.
“Ternyata wanita ini adalah tetangga baru mereka. Dia juga sempat muncul di acara dorm super junior beberapa waktu lalu. Tampaknya mereka sangat dekat,” kata presenter wanita. “Apa dia punya hubungan dengan salah satu anggota Super Junior?”
“Hahaha. Biarkan waktu yang menjawab,” sahut Jong Ran. “Yang penting sekarang, kita doakan Hankyung cepat sembuh dan kembali bersama Super Junior.”
Aku menatap tivi cukup lama dan hanya berkomentar, “Mampus gue.” Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi hari esok. Wajahku pasti sudah dikenal di seluruh Korea. Semoga saja seluruh fans Suju tidak akan ada yang mengangguku.
Tiba-tiba bel pintu apartemen berbunyi. Sebelum membuka pintu, aku mengintip terlebih dahulu untuk melihat siapa yang datang. Aku melihat Eeteuk Oppa dan Ryeowook Oppa yang datang sambil membawa begitu banyak bunga dan hadiah. Aku membukakan pintu untuk mereka.
“Hai, Sasa. Bagaimana kabar Hankyung?” tanya Eeteuk Oppa kepadaku. Dia menaruh semua bawaannya di ruang depan lalu masuk ke dalam kamar Hankyung Oppa. “Apa dia sudah lebih baik?”
“Sudah, oppa. Aku sudah memberikan obat. Sebentar lagi, aku akan membangunkan Hankyung Oppa untuk makan siang,” jawabku.
“Sasaaa, aku benar-benar mengucapkan terima kasih padamu. Aku tidak tahu bagaimana nasib kami kalau tidak ada kamu,” kata Ryeowook Oppa.
“Tidak usa berterima kasih padaku, Oppa. Terima kasih saja pada Tuhan yang sudah menjaga Hankyung Oppa,” jawabku. “Oppa sudah selesai bekerja kah?”
“Belum, Sasa. Kami mampir untuk melihat keadaan Hankyung. Anggota yang lain masih berada di studio,” jawab Ryeowook Oppa. “Sekarang kami harus segera pergi. Tolong jaga Hankyung hyung ya, Sasa.”
“Iya, Oppa,” sahutku.
“Oh ya, di ruang depan itu semua adalah pemberian fans untuk Hankyung. Tolong berikan padanya ya nanti. Sampaikan salam kami untuk Hankyung,” kata Eeteuk Oppa padaku.
Aku mengangguk tanda mengerti lalu mengantarkan mereka keluar dari apartemen. Setelah itu, aku menyiapkan makan siang untuk Hankyung Oppa dan menaruh semua pemberian fans ke kamarnya lalu membangunkannya.
“Oppa, ayo makan siang dulu,” kataku.
Hankyung Oppa membaik sangat cepat. Jika tadi pagi dia sama sekali tidak punya tenaga, siang ini dia sudah bisa makan sendiri meskipun masih di atas tempat tidur. Dia menikmati makan siangnya sambil melihat hadiah-hadiah dari fansnya. Sedangkan aku duduk di sebelahnya sambil makan siang.
“Oppa dapat banyak sekali hadiah,” kataku. “Karena itu, oppa harus cepat sembuh supaya bisa tampil lagi di depan fans-fans Oppa.”
Hankyung Oppa tertawa lalu berkata, “Aku senang fans masih perhatian padaku. Tapi sebenarnya aku lelah sekali seperti ini. Aku sama sekali tidak bisa beristirahat dengan cukup. Selalu saja ada kerjaan. Aku sering sekali lupa makan dan minum. Kesehatanku jadi terganggu.”
Aku mendengarkann cerita Hankyung Oppa. Dia menceritakan betapa sibuk dirinya sehingga dia seringkali lupa untuk menjaga kesehatan. Apa yang dia konsumsi ternyata tidak sebanding dengan energi yang harus dia keluarkan.
Aku hanya bisa mendukung yang terbaik untuk Hankyung Oppa. Jika aku berada di posisinya, aku mungkin akan berpikir untuk keluar secepat mungkin tapi Oppa masih berjuang untuk mimpi dan fans-fansnya.
Aku langsung memberikan obat untuk Hankyung Oppa setelah ia selesai makan. “Sasa, kamu sudah merawatku dengan baik. Aku juga merasa lebih baik,” kata Hankyung Oppa padaku setelah menelan obatnya. “Kamu pulang saja istirahat. Aku janji akan menghubungimu kalau ada apa-apa.”
Jujur saja aku memang lelah tapi ini belom apa-apa dibandingkan dengan apa yang dilakukan Hankyung Oppa setiap harinya jika ia tidak sakit. Karena itu aku tidak mau pulang. Aku bersikeras untuk menjaga Hankyung Oppa sampai setidaknya ada salah satu anggota lain yang pulang dan menjaganya.
Hankyung Oppa tetap memaksaku untuk pulang tapi aku tidak mau. Akhirnya dia menyuruhku untuk istirahat di kamar Eeteuk Oppa tapi aku menolak. Aku akan istirahat di sofa saja. Aku tidak mau menggunakan kamar orang tanpa seijin yang punya kamar.
Karena lelah, baru sebentar saja merebahkan diri, aku sudah tertidur. Dalam tidurku, aku mimpi Hankyung Oppa sudah sehat dan datang ke apartemen untuk berterima kasih. Dia membantuku untuk membersihkan apartemenku. Tiba-tiba aku terjatuh dan dia menggendongku. Dia mendudukan aku di sofa tapi tiba-tiba aku terbangun.
“Maaf, aku membangunkanmu ya?” kata Kyuhyun Oppa yang sudah berdiri di sampingku.
“Aku dimana sekarang?” tanyaku bingung. Aku tidak mengenal kamar ini. “Kenapa Oppa ada disini? Bukannya Oppa harus show?”
“Ini kamarku, sayang. Aku tidak tega melihatmu tidur di sofa,” jawab Kyuhyun Oppa. “Aku mengajukan diri untuk melihat keadaan Hankyung hyung sekalian melihatmu. Hehehe. Sebentar lagi juga aku harus pergi.”
“Oh. Bagaimana keadaan Hankyung Oppa?” tanyaku cemas.
“Kamu sudah merawatnya dengan baik. Hankyung hyung sudah jauh lebih baik dibandingkan tadi pagi,” jawabnya. “Sayang sekali bukan aku yang sakit. Coba aku yang sakit pasti aku akan senang kamu merawatku. Hihihi.”
Aku agak geli mendengar kata-kata Kyuhyun Oppa. “Haaiiish, Oppa. Jangan berkata seperti itu. Aku geli mendengarnya. Jangan sampai kamu sakit ya, Oppa. Bisa repot aku,” kataku pada Kyuhyun Oppa sambil tertawa.
“Haha. Kamu tenang saja. Aku kan kuat jadi tidak mungkin sakit. Kekekekek. Ya sudah, aku mandi dulu ya habis itu aku akan pergi,” katanya.
Aku yakin belum ada lima menit setelah Kyuhyun Oppa pergi mandi tapi sekarang dia sudah kembali ke kamarnya hanya dengan sehelai handuk yang menutupi bagian pinggang sampai lutut kakinya.
Aku memandangnya dengan takjub. Badannya memang tidak bagus-bagus amat tapi aku tetap terpesona padanya. Bagiku, dia adalah pria terbaik yang pernah diciptakan Tuhan setelah Ia menciptakan papaku.
“Hei, kenapa kamu melihatku seperti itu? Aku begitu menggoda ya?” kata Kyuhyun Oppa padaku dengan nada genit menggoda.
“Oppaaa!” pekikku dengan nyaring sambil menarik selimut sampai menutupi mata. “Pakai bajumu sana aaaah…”
Kyuhyun Oppa lalu tertawa terbahak-bahak. “Aku memang mau pakai baju. Aku kesini hanya untuk mengambilnya kok. Jangan GR gitu dong kamu,” katanya tanpa berhenti tertawa.
Aku malu setengah mati karenanya. Aku yakin pipiku pasti sudah memerah karena godaan Kyuhyun Oppa. Aku akui memang aku terpesona padanya tapi tidak lebih dari itu. Sungguh.
Kyuhyun Oppa sudah berpakaian rapi saat dia kembali ke kamar untuk menemuiku. Dia masih tertawa lebar melihatku. “Bagaimana? Aku sangat keren kan?” tanyanya kepadaku. Aku tahu dia bermaksud menggodaku makanya aku hanya menjawab, “Aku jauh lebih keren.”
“Humm, bagiku memang kamu yang paling keren. Kekekeekek,” sahut Kyuhyun Oppa yang langsung membuatku mati gaya. “Aku akan kembali bekerja. Kamu baik-baik ya di sini. Jangan lupa makan malam. Oke?”
“Oke, bos.”
“Bagus! Hahaah. Selain itu, aku minta tolong rawat Hankyung Oppa sebentar lagi ya. Kami semua mengkhawatirkannya.”
“Oke, Oppa. Aku akan merawatnya sebaik mungkin.”
Kyuhyun Oppa menciumku lalu pergi. Aku yang masih berada di kamar tersebut memperhatikan dengan seksama isi kamar Kyuhyun Oppa. Ada beberapa foto keluarganya, beberapa buku dan beberapa pasang sepatu di bawah tempat tidurnya. Yang membuat aku kagum adalah dia memiliki banyak CD game yang tersusun rapi dalam rak di sebelah tempat tidurnya.
“Dasar gamer gila,” gumamku.
Aku keluar dari kamar untuk menyiapkan makan malam untuk Hankyung Oppa. Aku pikir dia masih istirahat di kamarnya tapi ternyata dia sedang asik nonton tivi. “Hai, Sasa. Bagaimana istirahatmu? Enak?” katanya santai.
Aku kaget melihat perkembangannya yang sangat pesat. Dia terlihat sudah benar-benar sehat sekarang. “Kau sudah sehat, Oppa?” tanyaku takjub.
“Ya, kurang lebih begitulah. Aku tidak merasa sakit lagi. Obatnya sangat manjur! Tidak lupa, kamu juga sangat hebat dalam merawatkku,” jawab Hankyung Oppa.
“Ah, tidaklah Oppa. Tuhan yang menyembuhkan Oppa. Terima kasih sama Dia saja,” sahutku merendah. Aku hanya merawatnya sesuai kemampuanku belum ada apa-apanya kalau Yang Di Atas tidak bertindak.
“Iya, pasti.”
“Sip. Aku siapkan makan malam dulu ya, Oppa. Oppa mau makan apa?”
“Terserah kamu, Sasa. Tapi buatku lebih baik masih makan bubur saja dulu. Aku takut nanti tiba-tiba kambuh.”
“Oke.”
Aku lalu menyiapkan bubur dan sayur wortel, buncis dan telor yang aku orak-arik jadi satu. Hankyung Oppa memakannya dengan lahap lalu menelan obatnya. Untuk kedua kalinya, dia menyuruhku pulang.
“Sasa, kamu pulang saja. Besok kamu harus kerja kan. Aku akan baik-baik saja disini. Aku janji,” kata Hankyung Oppa.
Kali ini aku mengikuti perkataan Hankyung Oppa karena dia memang sudah jauh lebih baik. Aku tidak perlu terlalu khawatir jika meninggalkannya sekarang. Aku bilang padanya dia harus memanggilku kalau ada apa-apa. Setelah itu, aku kembali ke kamarku.

-to be continued-