3 PART 11
Saat aku sedang menonton tivi, bel pintu kamarku tiba-tiba berbunyi. Aku segera membuka pintu kamarku dan melihat Ine berdiri di depan kamarku sambil membawa beberapa tas.
“Ineeee!” seruku senang begitu melihat dia datang. “Kamu kok gak kasih tau kakak kalau mau datang ke sini? Kakak kan bisa jemput kamu.”
“Aku mau kasih kakak kejutan,” jawab Ine dengan santai.
“Adik yang baik,” kataku sambil memeluknya.
Aku lalu mengajaknya masuk ke dalam apartemenku dan menyediakan teh manis untuknya. “Katanya kamu mau datang ke sini waktu liburan semester. Kok udah datang sekarang? Bukannya kamu sekolah?” Aku bertanya serinci mungkin bagaimana Ine bisa berada di sini sekarang.
“Hahaha. Aku rasa kakak lupa kalau aku sudah kelas 12. Itu berarti sekolahku selesai begitu ujian selesai. Sekarang, aku nganggur deh kak. Hehehe. Daripada bosan di rumah, ya aku kesini aja,” jawab Ine.“Mama – papa tahu kan kamu ke sini?” tanyaku. Aku agak mencurigai Ine kabur dari rumahnya walaupun hanya untuk liburan karena tidak biasanya kedua orang tua Ine memperbolehkan dia pergi sendirian, apalagi ke luar negeri.
“Ya tahulah, kak. Mama tua aja juga tahu kok. Kakak pikir aku kabur dari rumah ya?” jawab Ine lalu menyeruput teh manisnya. “Kak, kak. Kakak pikir aku punya duit banyak apa sampai bisa kabur ke sini?”
Aku mengangguk malu. Aku tidak berpikir sampai ke sana. “Tapi kok mama tua sama mama muda gak kasih tau kakak kalo kamu mau kesini?” tanyaku.
“Kan udah aku bilang, kejutan kak. Kejutan.”
Ine lalu mengambil salah satu tasnya dan mengeluarkan tiga bungkus kado dari dalamnya. “Ini hadiah ulang tahun dari kak Delia, kak Cinta dan kak Jason,” kata Ine sambil menyerahkan hadiah-hadiah itu padaku. “Mereka pesan sama aku untuk menyampaikannya sekaligus minta maaf karena gak sempat ngucapain selamat ulang tahun buat kakak. Kado ini aja aku yang ngambilin ke tempat mereka satu-satu. Mereka sibuk sekali akhir-akhir ini, Kak.”
Aku tahu ulang tahunku sudah sangat lama tapi aku senang teman-temanku masih mengingatnya. Aku membuka kado-kado tersebut sambil terus ngobrol dengan Ine. “Waaa. Kak Jason mau nikah, dek!” kataku setelah membuka kado dari kak Jason. Di dalam kadonya, dia memasukkan undangan pernikahannya yang akan dilaksanakan minggu depan di Jakarta. Sayang sekali aku tidak bisa ikut.
Delia dan Cinta memberikan aku kalung berhiaskan namaku. Di dalam kado Cinta, terdapat kalung tersebut sedangkan di dalam kado Delia ada foto dimana Delia dan Cinta juga memakai kalung yang sama hanya saja namanya berbeda. Selain itu ada kartu ucapan ulang tahun buatku.
HAPPY BIRTHDAY YA SASA SAYANG. MAAF KITA GAK SEMPET NGUCAPIN SOALNYA KITA SIBUK BANGET. SORI YA SAYANG. SEMOGA LO PANJANG UMUR DAN SEHAT SELALU. WISH YOU ALL DE BEST YA SAYANG. SMOOOOCH❤ –DC-
Aku langsung memakai kalung pemberian Delia dan Cinta dan leherku. Setelah itu aku menyimpan bantal, yang diberikan kak Jason, ke dalam kamar.
“Kamu mau ngapain aja selama di Korea, sayang?” tanyaku pada Ine sambil menyiapkan makan malam.
“Jalan-jalan dong, Kak. Selain itu mau ketemu sama Siwon Oppa,” jawabnya sambil tertawa terbahak-bahak. “Dia pasti terkejut dengan kedatanganku.”
Aku ikut tertawa bersama Ine. Dia benar-benar percaya diri kalau sudah menyangkut masalah pria. Jika dia yakin kalo seorang pria harus jadi miliknya maka dia akan berjuang untuk mendapatkannya. Seperti yang dia rasakan pada Siwon Oppa sekarang. Aku memang tidak terlalu yakin apakah Ine menyukai Siwon Oppa tapi aku tahu Ine merasa nyaman bersama Siwon Oppa, jadi pasti dia akan terus mendekati Siwon.
“Kak, mana Kyuhyun Oppa? Kok dia tidak kemari?” tanya Ine yang langsung mengubah moodku 180 derajat.
“Kami udah putus, dek,” jawabku singkat.
“Kenapa?” tanya Ine meminta penjelasanku tapi tidak aku berikan dengan lengkap.
“Yah, ketahuan manajemen. Kyuhyun Oppa memutuskan kakak beberapa hari lalu.”
“Haissssh! Dasar laki-laki itu!” seru Ine dengan kesal. “Terus kakak terima gitu aja?”
“Awalnya sih gak dek tapi gak ada jalan lain. Ya sudah lah.”
“Aku akan bicara dengannya nanti,” kata Ine dengan tegas.
“Tidak usah, sayang. Kakak sudah menerimanya kok. Kakak gak mau menyulitkan Kyuhyun Oppa.”
Ine tidak menjawabku tapi dia menggeleng dengan tegas dan keluar dari kamarku.
“Hei, kamu mau kemana?” seruku sambil mengejar Ine.
“Ke dorm Kyuhyun Oppa di lantai 11,” jawabnya.
Aku tidak tahu bagaimana Ine tahu dimana tempat tinggal Kyuhyun Oppa dan aku tidak akan mengikutinya ke sana karena aku tidak mau bertemu lagi dengan Kyuhyun Oppa. Aku lebih baik kembali ke kamar dan mempersiapkan makan malam untuk kami berdua.
Saat aku menyiapkan makan malam, bel pintu kamarku berbunyi. Aku berlari untuk segera membukanya karena aku pikir itu adalah Ine. Jujur saja, aku ingin tahu apa yang dibicarakan Ine dengan Kyuhyun Oppa. Begitu aku membuka pintu, bukan Ine yang aku lihat melainkan Jimi dan Bang Reymond.
“Hai, Sa,” sapa bang Reymond.
“Hai, bang,” sahutku. Aku lalu menyapa Jimi, “Hai, jimi. Apa kabar? Sudah lama ya kita tidak bertemu.”
"Aku baik kok, kak. Kakak apa kabar? Aku kangen sama noona,” jawab Jimi sambil memelukku.
“Ooh, i miss you too, sayang.” Aku membalas memeluk Jimi lalu mempersilahkan mereka berdua untuk masuk.
“Kamu sedang menyiapkan makan malam ya, Sa? Apa akan ada tamu yang datang? Kok kamu menyiapkan untuk dua orang?” tanya bang Reymond saat melihat dapurku.
“Iya. Itu untuk aku dan adikku. Dia sedang liburan ke Korea,” jawabku.
“Kamu punya adik? Bukannya kamu anak tunggal?” kata bang Reymond yang sepertinya terkejut mendengar aku punya adik.
“Aah, ani. Adik sepupu maksudku.”
Jimi lalu gantian berbicara padaku. “ Kakak ada acara gak hari ini?" tanyanya.
"Gak ada sih, jim. Emang kenapa?" kataku pada Jimi. Aku yakin kali ini Jimi akan mengajak aku jalan-jalan lagi entah kemana.
"Ikut ke festival yuk, Kak. Aku sama bang reymond mau kesana tapi aku gak mau kalo cuman berdua," kata Jimi mengutarakan keinginannya.
Nah, benar akan perasaanku. Jimi akan mengajakku keluar. Seperti biasa, aku tidak bisa menolak permintaan Jimi. Karena itu, aku segera bersiap-siap setelah selesai menyiapkan makan malam untuk Ine. Aku juga tidak lupa meninggalkan pesan dan kunci kamar di bawah keset di depan kamar. Setelah itu aku baru pergi bersama Jimi dan Bang Reymond.
Bang Reymond menyetir mobilnya ke lokasi festival dilaksanakan. Aku melihat di sana sudah ramai sekali. Aku rasa pengunjungnya sudah mencapai ribuan orang dan acara sudah mulai sepertinya.
"Ayo, kita sudah terlambat," kata bang reymond sambil menggendong jimi. "sasa, kamu pegang tanganku ya biar kita tidak terpisah. Ramai sekali disini."
Dengan ragu, aku memegang tangan bang reymond. Aku mengikuti kemana bang reymond berjalan. Aku terdorong ke kanan dan kiri saking ramainya festival ini. Karena itu, aku memegang tangan bang Reymond dengan lebih erat. Aku takut kehilangan mereka di keramaian seperti ini.
Di tengah jalan, jimi minta turun dari gendongan krn dia mau beli sesuatu. "Bang, aku mau topi itu. Keren banget," kata jimi.
Bang reymond lalu membelikan topi itu untuk Jimi dan kembali berjalan. Sejujurnya aku sama sekali tidak menikmati hal ini karena aku tidak bisa melihat apa-apa. Yang ada aku hanya capek berdesak-desakan.
Secara gak sengaja, aku melihat ada tempat makan yang sepertinya enak. Aku lalu menawarkan Jimi dan Bang Reymond untuk makan malam. "bang, bagaimana kalo kita makan dulu? Aku yang traktir," kataku.
"ide yang bagus," sahutnya. Kami lalu langsung masuk ke dalam dan memesan makanan. Stand makanan ini ramai sekali tapi kami beruntung bisa mendapatkan tempat duduk untuk bertiga.
Selama jalan-jalan dengan bang reymond dan jimi aku bisa melupakan kyuhyun oppa. Tidak terbersit sedetik pun kyuhyun Oppa di otakku. Aku juga merasa lebih hidup dan bersemangat, perasaan yang tidak pernah hinggap di diriku sejak kyuhyun oppa memutuskan aku.
"Setelah makan, kita nonton pergelaran musik ya, kak," kata jimi kepadaku.
"Pergelaran musik dimana?" tanyaku.
"Di sini juga. Itu termasuk dalam rangkaian festival ini kok, kak," jawab jimi.
“Oke,” jawabku.
Karena Jimi sudah meminta untuk menonton pergelaran musik, setelah makan kami bertiga nonton pergelaran musik sesuai dengan keinginan Jimi. Pergelaran ini menghadirkan berbagai artis Korea dari berbagai jenis aliran musik, dari musik tradisional sampai modern. Aku mengacungkan keempat jempolku untuk pergelaran musik ini.
Pargelaran musik baru selesai dini hari dan jimi baru mau pulang setelah pargelaran selesai. Alhasil, aku baru diantar pulang sekitar jam 2 pagi. Aku melihat Jimi langsung tertidur lelap begitu masuk mobil sedangkan aku harus tetap terjaga demi harga diriku di depan bang reymond.
"Kita sudah sampai, Sa," kata bang reymond sambil memberhentikan mobilnya di depan apartemenku.
"Terima kasih ya, abang. Terima kasih juga sudah mau mengajakku jalan-jalan malam ini," sahutku sebelum turun dari mobil.
"Sama-sama," kata bang reymond. "Sasa, aku boleh menciummu?"
aku begitu terkejut dengan pertanyaan bang reymond. Aku masih berpikir saat bang reymond menciumku. Otakku bilang seharusnya aku menolak ciumannya tapi aku justru menerimanya karena aku merasa nyaman. Entah perasaan apa ini.
"Maaf, aku tidak bisa menunggu lebih lama," kata bang reymond setelah menciumku. "Aku begitu terpesona padamu."
Aku tidak berkomentar apapun. Aku hanya tersenyum lalu turun dari mobil.
"Gila. Bang reymond benar-benar gila," gumamku sambil tersenyum tanpa aku sadari. Aku merasa hasrat hidupku kembali.
Aku mengecek bawah keset dan tidak menemukan apapun di sana. Itu berarti Ine sudah pulang. Aku membunyikan bel agar Ine membukakan pintu kamar untukku. Awalnya aku pikir Ine sudah tidur tapi ternyata dia masih bangun dan justru sedang ngobrol dengan seseorang.
“Kakak darimana? Kok pergi tiba-tiba sih?” tanya Ine memprotes aku yang pergi tidak memberi tahunya.
“Ada deh,” jawabku menutupi apa yang terjadi tapi sekaligus memancing rasa penasaran Ine.
“Kakak darimana? Kasih tau aku dong, Kak,” kata Ine memaksa aku untuk bercerita.
Aku hanya tersenyum-senyum sambil masuk ke kamarku. Aku benar-benar sedang merasa senang. Saking senangnya aku tidak sadar Kyuhyun Oppa sedang berada di apartemenku.
“Hai, Sa,” sapanya.
Aku kaget setengah mati mendengar suaranya. “Aaah! Oppa! Ngagetin aja sih! Oppa ngapain di sini?!” seruku kaget.
“Mianhe, Sasa. Aku cuman sedang ngobrol dengan Ine,” jawab Kyuhyun Oppa merasa bersalah. “Kamu darimana aja? Kenapa baru pulang jam segini?”
“Jalan-jalan,” jawabku singkat lalu masuk ke kamarku. “Aku istirahat ya, Oppa. Permisi.”
Bang Reymond benar-benar membutakan aku malam ini. Aku sampai memimpikannya dalam tidurku. Aku tidak mungkin jatuh cinta secepat ini padanya tapi perasaan ini apa artinya.

.Kyuhyun POV.
“Kakakmu pergi kemana sih, Ne? Kok jam segini belum pulang?” tanyaku kepada Ine sambil melihat jam tanganku.
“Gak tau, Oppa. Dia gak bilang mau kemana. Begitu aku pulang aja, cuman ada kertas sama kunci di bawah keset,” jawab Ine.
Sekarang sudah jam dua pagi tapi Sasa belum kembali ke apartemennya. Dia bahkan tidak bilang pada Ine kemana dia pergi. Aku yakin Sasa pasti sedang pergi bersama bos-nya itu. Haaaish!
“Aku yakin dia pasti lagi pergi sama bosnya,” kataku pada Ine.
“Oppa kenapa begitu yakin?” tanya Ine.
“Aku sudah tahu dari dulu laki-laki itu mengincar kakakmu makanya aku tidak suka jika kakakmu dekat-dekat dengan dia. Sekarang, begitu dia tahu ada kesempatan pasti akan bergerak,” jawabku dengan kesal.
“Ya, Oppa juga yang salah. Kenapa mutusin kak Sasa?! Hah?! Udah dapetinnya susah, panjang lagi kisahnya. Oppa nih aneh deh!” Ine terus saja mengomel kepadaku sejak aku menemuinya.
Tadi aku langsung menemui Ine di apartemen Sasa begitu aku sampai di apartemen. Aku sempat kaget saat dapat SMS dari Ine yang ingin bertemu denganku. Aku pikir aku harus ke Indonesia untuk menemuinya tapi ternyata dia sedang ada di Korea untuk berlibur dan dia nginap di apartemen Sasa.
“Oppa! Kenapa bisa putus dari kak Sasa?!” tanya Ine begitu aku melangkahkan kaki masuk ke apartemen Sasa.
“Kakakmu sudah cerita padamu kalo kami putus ya? Sudah cerita alasannya juga?” Aku balas bertanya kepada Ine.
“Sudah lah Oppa. Kenapa kamu nyerah begitu saja?! Oppa kan sudah lama mengharapkan kak Sasa. Sekarang kenapa udah dapat malah diputusin?!”
“Ine. Dengerin Oppa ya. Kalo Oppa dan Sasa terus sama-sama, itu justru akan semakin menyusahkan kakakmu. Selain itu juga akan menyusahkan Super Junior. Kamu mengerti kan?”
“Iya, Oppa. Ine ngerti banget tapi kalau Oppa tahu akhirnya jadi begini kenapa Oppa masih terus aja pacaran sama kak Sasa. Itu kan jadi buat kak Sasa semakin susah ngelupain Oppa!”
Aku sadar aku telah membuat keputusan yang salah dengan membiarkan Sasa berpacaran denganku. Hal itu aku lakukan karena aku terlalu sayang sama Sasa dan hal itu membutakanku. Aku tidak mau dia diambil pria lain. Sayangnya aku terlambat menyadari kekeliruanku.
Baru saja Ine bilang begitu, aku melihat Sasa pulang dengan wajah sumringah. Dia tersenyum-senyum seperti ada hal menyenangkan yang terjadi pada dirinya. Dia bahkan sampai tidak menyadari kehadiranku di sana sampai aku menyapanya.
“Hai, Sa,” sapaku tanpa bermaksud mengagetkannya tapi Sasa ternyata terkejut.
“Aah! Oppa! Apa yang Oppa lakukan di sini?!” serunya.
Aku jadi merasa bersalah padanya karena itu aku langsung meminta maaf. Melihat wajahnya, aku jadi tidak tahan untuk mengetahui darimana saja dia tapi dia tidak menjawab pertanyaanku malah pamit masuk ke kamarnya.
“Aku rasa kamu salah, Ne. Kakakmu sudah ceria lagi. Oppa rasa dia sudah melupakan Oppa,” kataku pada Ine.
“Gak mungkin! Aku tahu kak Sasa gak semudah itu melupakan Oppa! Dia sayang banget sama Oppa,” sahut Ine menentang perkataanku.
“Tapi kamu lihat sendiri kan, Ne. Dia aja tidak menyadari Oppa ada di sini,” balasku.
“Aaaah, aku gak tau ah! Pokoknya Oppa harus balikan lagi sama Kak Sasa!” kata Ine memaksa.
“Gak bisa, Ne. Oppa gak bisa pacaran lagi sama kakakmu.”
“Oppa masih sayang kan sama kak Sasa?”
Aku mengangguk dengan tegas. Aku yakin tidak ada pria yang menyayangi Sasa seperti aku. Aku rela mengorbankan apapun demi Sasa tapi jangan Super Junior dan ELF. Mereka adalah pihak yang tidak boleh tersakiti hanya karena keegoisanku.
“Nah, kalo gitu. Oppa harus berjuang dong! Usaha apa kek gitu! Paksa manajemen buat menghapus peraturan itu kek atau apa kek,” lanjut Ine masih ngomel-ngomel.
Aku harus ekstra sabar menghadapi adik yang satu ini. Dia tidak akan menerima perlawanan yang keras. “Kalau Oppa bisa juga pasti Oppa lakukan tapi masalahnya hal itu gak mungkin.”
“Oppa aja udah bilang gak mungkin duluan gimana mau jadi mungkin?!”
Aku menyerah menghadapi Ine. Apapun yang aku katakan pasti akan dia patahkan dengan menyuruh aku usaha ini-itu. Dia tidak berpikir bagaimana posisiku sekarang, terjepit. Kalau aku bisa memaksa manajemen untuk menghapus larangan itu dari kontrak pasti akan aku lakukan.

-to be continued-