annyeong chingudeul! (งˆヮˆ)ง

this ff created by esterong

dedicated to Johae couple🙂

mianhe ya chingu, author uda jarang update ff huhuhu mianhe juga kalo ada typo atau ceritanya kurang menarik huhuhu but hope you enjoy it! Happy reading🙂

Your comments are love for me🙂

*****

“Kurasa kau sudah gila. Bagaimana bisa kau melakukan hal itu?”

“Aku juga tak tahu. Kurasa ‘cinta’ sudah membuat sel, jaringan, sistem organ, dan organ tubuhku, tidak berfungsi dengan semestinya,”

*****

Bagaimana kalau misalnya, tiba-tiba saja orang paling tampan, paling pintar, paling disukai oleh para gadis di sekolahmu mengatakan ‘saranghae’ padamu? Pasti tanpa berpikir panjang kau akan menjawab, ‘nado’ dan beberapa menit kemudian semua social networkmu pasti akan berganti dari single jadi in relationship.

Dan kau, si pria tampan, apa yang ada dipikiranmu saat menyatakan kata sakral itu pada gadis yang kau sukai? ‘Aku pasti diterimanya. Siapa yang mau menyia-nyiakan pria sepertiku?’ itu pasti terlintas dipikiranmu.

Tapi yang ada didunia nyata, apakah semudah yang telah kau bayangkan?

Manusia itu rumit. Cinta pun demikian. Apa yang kita pikirkan barusan tak semudah itu untuk terealisasikan. Dan.. tak semudah membalikan telapak tangan untuk membuat dirimu dan dirinya bersatu dalam status in relationship.

“Shim Johee, saranghae,” kata pria itu. Pria yang berdiri 5 m dihadapan gadis bernama Shim Johee. Tiliklah ia dari ujung rambut ke ujung kaki. Mata yang indah, senyum yang mempesona, garis wajah yang sempurna dan tubuh dengan abs berukuran ideal sudah menunjukkan kalau pria ini adalah tipe pujaan tiap kaum hawa.

“Shim Johee, saranghae. Would you be my girl?” tanya pria itu sekali lagi karena Johee tak kunjung merespon. Jangankan merespon, bereaksi saja tidak. Ia mematung. Terdiam. Terpaku. Matanya membesar, seakan tercekat karena sesuatu.

Suara desas-desus bisikan para siswa dan siswi yang ada disekitar tempat kejadian perkara mulai terdengar. Entah yang mereka bicarakan saat ini. Apa mereka kaget karena pernyataan cinta yang tak tahu malu ini? Atau mereka tak percaya kalau pria pujaan mereka menyukai wanita lain? Atau.. mereka bingung, bagaimana bisa seorang pria pujaan di sekolah mereka menyukai gadis itu?

“Shim Johee,” panggil pria itu sambil melangkah baju beberapa langkah, tapi tak membuat jarak dikeduanya semakin mendekat. Saat pria itu maju, maka saat itu Johee akan mundur.

Pria itu terheran dengan tingkah sang gadis. Ketidak-tahuannya membuatnya penasaran. “Johee sshi, kenapa kau..”

“Jangan mendekat!” seru Johee menyela pertanyaan pria itu.

“Kenapa?” tanyanya lagi, bingung.

“Ke..kenapa?” tanya Johee entah pada siapa. “Karena..” kalimatnya tertahan di kerongkongan.

“Karena aku benci padamu!” seru Johee. Satu kalimat yang mampu membuat berjuta-juta sel tubuh pria itu mati suri. Kini, dialah yang terpaku, terdiam. Matanya sendu menatap punggung Johee yang kian lama menghilang di lorong koridor.

“Donghae, gwencana?” tanya teman pria itu yang menjadi saksi kejadian dari detik awal sampai saat ini. Pria yang ternyata bernama Donghae tak menjawab. Ia terlalu shock dengan apa yang terjadi. Baru kali ini ia benar-benar jatuh cinta, namun cintanya yang tulus ditolak mentah-mentah. Parahnya, ini pertama kalinya Donghae ditolak oleh seorang gadis.

“Donghae-ah.. Donghae-ah, Donghae-ah, gwencana?”

*****

“Jadi gadis itu anti pada laki-laki? Bagaimana bisa?” tanya Donghae pada temannya, yang juga teman SMP Johee.

“Entahlah, tak ada yang tahu pasti. Namun katanya, semua itu disebabkan oleh ayahnya,”

“Ayah?” tanya Donghae memastikan dan temannya menjawab dengan anggukan.

“Kau yakin akan mengejarnya? Trauma tak semudah itu disembuhkan,” tanya Eunhyuk, sahabat Donghae.

Donghae menyunggingkan senyum semringah, tanda ia percaya diri. “Tenang saja Eunhyuk-ah, aku bukan tipe pria yang menyerah hanya karena sekali di tolak,” ujarnya.

“Kurasa kau sudah gila. Bagaimana bisa kau melakukan hal itu?”

“Aku juga tak tahu. Kurasa ‘cinta’ sudah membuat sel, jaringan, sistem organ, dan organ tubuhku, tidak berfungsi dengan semestinya,”

*****

“Annyeonghaseyo, Johee-sshi,” sapa Donghae bersaaman dengan pintu loker Johee yang tertutup.

“Wa-waeyo?” tanya Johee terbata-bata, kemunculan Donghae yang tiba-tiba membuat Johee terperanjat.

“Aku mencintaimu,” ujar Donghae lugas, sekali lagi.

“Dan aku membencimu,” balas Johee, tegas, tanpa toleransi, dan tak peduli jika hati pria itu terlebur karena rasa sakit.

Namun Donghae menguatkan dirinya.

“Alasannya?” tanya Donghae lagi. Tak kenal kata menyerah. Ia sudah bertekad akan terus mengejarnya, dan bukan pria namanya kalau ia tak bisa menggenapi janjinya.

“Alasan?” tanya Johee entah pada siapa.

5, 10, 20, 30, 50, 60 detik terlewati dalam keheningan. Johee tak menjawab, tepatnya ia tak tahu jawabannya.

“Jadi, sesungguhnya kau tak punya alasan untuk membenciku kan?” tanya Donghae.

Seakan mati kutu, Johee tak membantah. Ia hanya diam, menundukan kepala. Menghindari kontak dari mata yang menatapnya intens sedari tadi.

“Kau tak mengenalku. Jadi kau tak mungkin membenciku tanpa sebab,” ujar Donghae.

“Lalu apa maumu?” tanya Johee pasrah.

“Jadilah pacarku sebulan kedepan, dan kau akan tahu bagaimana aku yang sesungguhnya. Kalau kau tak suka, kau boleh putuskan aku,”

“Aku menolak,” balas Johee tanpa berpikir.

“Kenapa?”

“Aku menolak. Titik,” Johee mengakhiri percakapan itu. Ia mulai berlalu meninggalkan Donghae.

“Apa ini karena ayahmu?” tanya Donghae yang membuat langkah Johee terhenti.

“Apa karena ayahmu kau membenci laki-laki? Apa karena kau menganggap semua laki-laki sama seperti ayahmu, maka kau membenciku? Apa karena itu?” tanya Donghae. Menuntut penjelasan lebih jelas. Ia kesal, dan sedih. Gadis yang ia cintai menolaknya karena orang lain.

Johee menggenggam tangannya lebih erat. Tak membiarkan ada sela sedikit pun. Ia menguatkan dirinya, ia menerima kenyataan, kalau semua yang diucapkan pria itu benar.

“Ya, kau benar. Aku benci padamu karena kau adalah laki-laki. Mereka semua jahat. Selalu bertindak kasar pada perempuan karena merasa punya kekuatan lebih. Selalu menghina perempuan karena merasa lebih kuat. Aku benci pada kalian,” kata Johee tanpa menoleh pada Donghae yang berdiri dibelakangnya. Ia tak mau pria itu melihat air mata yang mulai mengalir dipipinya.

“Tidak semua pria seperti itu. Aku, buktinya. Berikan aku kesempatan untuk membuktikan padamu kalau aku tak seperti yang kau bayangkan,” seru Donghae.

Johee mendengarnya namun ia tak menjawab. Ia merespon pria itu dengan cara: pergi meninggalkan Donghae begitu saja.

*****

Seminggu sudah sejak hari Donghae menyatakan cintanya pada Johee. Sudah seminggu ini Donghae melakukan berbagai aksi pendekatan namun hal itu tak mendapat reaksi dari Johee. Hukum aksi-reaksi tidak berlaku disini.

“Apa kau masih mengejarnya? Tidak menyerah? Gadis itu memang manis, tapi terlalu tertutup,” ujar Eunhyuk saat mendapati Donghae terus menatap Johee yang sedang berolahraga di lapangan.

“Tidak. Aku tak mau menyerah. Aku ingin menjadikannya milikku, dan aku.. ingin menolongnya keluar dari rasa takutnya,” balas Donghae yang tak disanggah lagi oleh Eunhyuk. Sekali Donghae berucap demikian, tak ada seorang pun yang dapat mengugurkan niatnya.

“Tapi apa yang menyebabkan dirimu jadi begitu mencintainya?”

……

Pertanyaan Eunhyuk membawa Donghae kembali pada masa seminggu yang lalu. Pertama kali ia melihat senyum Johee, dan saat itulah ia akhirnya jatuh cinta padanya.

“Kau tak boleh membawanya. Kau harus membuangnya. Kau tahu kan kalau omma alergi anjing, Donghae?” kata-kata omma Donghae, membuatnya dengan terpaksa harus membuang anjing yang ia rawat dengan sembunyi-sembunyi selama ini.

Ia meletakkan anjing itu ditepi jalan perumahannya, berharap ada orang baik yang mau memungutnya.

Tak lama setelah Donghae kembali, hujan tiba-tiba turun amat deras. Dan tanpa perduli dimarahi oleh orangtuanya, ia menerjang hujan untuk melihat kondisi anjing kesayangannya.

Namun, “Kemana Bada?” tanya Donghae tidak pada siapa-siapa. Anjingnya tak ada didalam kardus. Matanya mulai mengedar ke segala arah dan mendapati Bada sedang berada di dalam dekapan seorang gadis yang berlindung didalam kotak telepon.

Gadis yang didalam itu menggunakan seragam yang sama sepertinya. Ia tak tahu siapa dia, namun itu tak terlalu ia pikirkan. Karena, gadis yang tak ia kenal itu, dalam sekejap, sudah berhasil merebut hati Donghae dengan senyum tulus yang ia berikan -sayang sekali- untuk Bada.

…..

“Aku ingin melihatnya tersenyum lagi,” ujar Donghae diakhir cerita.

“Baiklah, memang repot jika berurusan dengan pria yang sedang kasmaran,” ledek Eunhyuk yang membuat keduanya tertawa bersama. Namun kebahagiaan itu hanya mampir sebentar.

“PRANG!” bunyi suara kaca pecah membahana. Tapi tak ada yang tahu dari kaca sebelah mana asalnya.

Namun Donghae yang sedari tadi tak melepas pandangannya dari Johee tahu, kalau gadisnya dalam bahaya.

“Johee! Awas!” seru Donghae

*****

“Ga-gamsahamnida,” ujar Johee pada pria yang baru saja berhasil menyelamatkan nyawanya.

“Gwencana,” balasnya.

“Apa yang bisa kulakukan untuk membalasnya?” tanya Johee.

“Aniya, kau tak perlu,”

“Tapi aku tak mau berhutang budi padamu. Kau boleh minta apapun, aku tak akan menolaknya,” balas Johee keras kepala.

“Kalau begitu jadilah pacarku sebulan kedepan. Kau tak akan menolakkan?” tanya pria itu, men-skak-mat Johee. Johee tak mungkin menelan ludahnya sendiri kan? Dia sendiri yang menawarkan hal itu.

*****

“Kenapa kau mengajakku kesini?” tanya Johee.

“Kencan,” balas Donghae yang membuat tubuh Johee tegang seketika.

“Tenang saja, aku tak akan menyentuhmu sedikit pun. Aku hanya ingin mengajakmu bermain,” balas Donghae yang sepertinya mengerti kekhawatiran Johee.

“Baiklah,” balas Johee.

Kencan mereka pun dimulai. Selama perjalanan menuju wahana, tak ada seorang pun yang berinisiatif untuk berbicara. Jarak 3 meter menjadi penghalang bagi mereka. Donghae menepati janjinya. Ia tak menyentuh Johee sedikit pun. Saat berjalan pun ia benar-benar menjaga jarak. Ia tak mau membuat Johee takut.

Namun sepertinya taman bermain bukanlah tempat yang cocok untuk pasangan yang tak mau saling bergandengan. Tidakkah mereka sadar, kalau pengunjung di tempat ini tak hanya mereka berdua? Dan apakah mereka tak tahu berapa luasnya taman bermain Lotte World ini? 100%, sebentar lagi mereka akan tersesat.

Langit sudah malam, ibarat majas hiperbola, kaki Johee sudah nyaris putus menyusuri sebegini-luasnya Lotte World untuk mencari Donghae. Ia lelah, dan memutuskan untuk duduk beristirahat. Mata Johee kini terfokus pada beberapa pasang pria dan wanita yang berlalu-lalang di hadapannya. Wajah yang gembira, tangan yang bertautan, dan kebersamaan sangat kental terasa, sedangkan ia duduk sendirian dalam sunyi, kesepian mendominasi perasaan Johee.

Johee mulai menangis. Ia takut, lelah, dan kesepian. Rasa menyesal dan bersalah juga bersemayam direlung dadanya. “Kalau saja aku menggandeng tangan Donghae. Kalau saja aku percaya pada Donghae. Kalau saja. Kalau saja. Kalau saja,” Johee terus berandai-andai. Menyesali keputusannya tadi pagi.

Di lain pihak, Donghae juga sedang pusing 7 keliling karena Johee tak kunjung ia temukan. Ia mulai mengutuki dirinya sendiri, yang tanpa berpikir panjang mengajak Johee ke tempat ramai seperti ini. Rasa khawatir, menyesal, marah pada dirinya sendiri menjadi bagian dari hati Donghae saat ini. Ia tak peduli dengan rasa lelah, otaknya tetap menuntut kakinya untuk jalan terus sampai ia dapat bertemu kembali dengan Johee.

Apa ini kebetulan? Atau mungkin mereka memang berjodoh? Saat keduanya saling mencari dan saling intropeksi diri, tiba-tiba saja Tuhan mempertemukan mereka. Donghae dapat melihat Johee di salah satu bangku dengan kaki yang ia lipat dan ia peluk, kepalanya tersembunyi diantara jarak dada dan lututnya.

Donghae menghampiri Johee. Membunuh jarak yang memisahkan mereka. Namun saat ia semakin dekat, isakan Johee semakin terdengar. Rasa bersalah menyeruak di sekujur tubuh Donghae. Ingin rasanya ia memeluk gadis itu agar Johee tak ketakutan lagi. Tapi apa daya, keinginannya tak dapat terkabulkan. Ia sudah janji untuk tidak menyentuh Johee.

“Johee, mianhe. Mianhe, aku tidak menjagamu dengan baik,” ujar Donghae, saat ia sudah berdiri tepat di hadapan Johee. Johee yang mendengar suara Donghae, reflek, menengadahkan kepalanya.

“Donghae?” tanya Johee memastikan kalau ia tidak sedang mengkhayal atau bermimpi.

“Iya, ini aku Johee,” balas Donghae.

Menyadari kalau orang yang ada dihadapannya sungguh nyata, rasa lega Johee tersampaikan lewat air mata yang mengalir makin deras. Ia bangkit dari tempat duduknya dan memegang ujung kemeja Donghae. “Jangan tinggalkan aku lagi,” permintaan sederhana, yang tanpa Johee minta pun, pasti Donghae akan melaksanakannya dengan senang hati.

…..

“Aku takut pada laki-laki karena ayahku. Dulu, ia sering memukuli ibu dan aku. Sejak itu aku selalu beranggapan bahwa laki-laki hanyalah makhluk yang bisa berbuat kasar,” cerita Johee dalam perjalanan mereka pulang. Mereka tetap tidak bergandengan tangan, namun kini tangan Johee bertengger di kemeja Donghae. Itulah yang menjadi penghubung diantara mereka saat ini. Johee masih belum berani jika harus bersentuhan langsung dengan Donghae.

“Kelak jika kau jadi istriku, selama sisa hidupku, aku tak akan pernah melakukan hal itu padamu,” ujar Donghae tanpa ragu. Mendengar kata ‘istri’ yang terucap dari bibir Donghae membuat pipi Johee bersemu. Antara malu dan tersanjung.

“Apa aku bisa percaya padamu?” tanya Johee.

“Tentu saja,” balas Donghae.

“Kalau begitu, aku juga akan mencoba untuk menghilangkan rasa takutku ini, dan.. mencoba untuk mencintaimu juga,” ujar Johee. Senyum semringah tergurat jelas di wajah Donghae. Dia bahagia, ani, perasaannya saat ini tak cukup jika hanya dideskripsikan sebagai ‘bahagia’. Mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata rasanya kurang. Andai saja Johee sudah tak takut pada laki-laki, ingin sekali ia memeluk dan mencium Johee saat ini.

“Tapi aku harap kau mau menungguku, menghilangkan sebuah trauma itu tidak mudah,” ujar Johee, sama persis seperti yang Eunhyuk dulu katakan. Donghae sudah sangat mengerti itu dan dari awal ia sudah mengambil resiko itu.

“Apapun yang kau katakan, bagaimana pun kau menolaknya, cintaku akan tetap berada disini, menunggumu untuk mengakui keberadaannya,” kalimat puitis yang cukup menggugah hati Johee.

Apa ini pertanda baik? Semoga saja.

*****

Seminggu pun berlalu, hari kembali berputar menjadi Minggu. Hari dimana para pasangan muda pergi untuk berkencan, dan yang menjadi spot terbaik untuk minggu ini adalah: Fireworks Festival.

“Apa aku boleh menggandeng tanganmu?” tanya Donghae pada Johee saat mereka sadar kalau ternyata di tempat itu sudah banyak orang yang berkunjung. Donghae tidak mencari kesempatan dalam kesempitan, dia bukan tipe seperti itu. Ia hanya tak ingin Johee hilang lagi untuk yang kedua kali.

Johee tak menjawab. Ia bimbang antara rasa takut tersesat dan rasa takut karena laki-laki. “Kalau tak mau, tak apa. Aku akan tetap menjagamu Johee,” ujar Donghae tulus. Ketulusan yang membuat Johee akhirnya mengambil keputusan.

“A.. aniya, tidak apa,” balas Johee. Tapi mungkin karena Donghae terlalu mencintai gadis ini, ia jadi tahu kalau sebenarnya gadis itu memaksakan diri. Ia dapat melihat tubuh gadis itu yang bergetar karena rasa takut.

“Johee, jangan dipaksakan,” balas Donghae, tak lupa mengimbuhi kalimatnya dengan senyuman diwajahnya.

“A.. aniya, aku tidak terpaksa,” balas Johee, lagi-lagi berdusta.

Donghae tersenyum lagi. Sudah keberapa kali dalam 5 menit ini? Mungkin inilah efek samping jika ia terlalu lama dan terlalu sering bersama Johee. Saraf motorik yang mengatur gerak wajahnya jadi tidak normal. “Baiklah. Bagaimana kalau kita mulai dengan ‘ini’?” tanya Donghae sambil menjulurkan jari kelingkingnya.

Mereka mulai menyusuri tiap stan yang ada di Festival itu, namun Johee tak henti-hentinya menatap jari kelingking miliknya dan milik Donghae yang bertautan. Ia meresapi kehangatan yang masuk kedalam tubuhnya melalui pori-pori kulit yang saling bersentuhan. Kehangatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

*****

“Tunggu disini ya Johee, ada yang mau aku beli,” ujar Donghae lalu meninggalkan Johee sendirian. Tak ingatkah dia kalau ini adalah tempat festival? Semua orang dari berbagai kalangan boleh datang kesini, bahkan preman sekalipun. Tak ingatkah Donghae kalau gadisnya ini adalah gadis yang sangat manis? Jadi, apa ia tak ingat kalau, bisa saja Johee digodai oleh para preman?

“Hai manis, kau sendirian?” tanya seorang pria yang tiba-tiba saja menghampiri Johee. Johee takut. Yang ada di otaknya hanya: kabur. Namun saat ia hendak beranjak ke sisi lain, ternyata sisi tersebut sudah di blocking oleh pria yang lain.

“Kau mau bermain bersamaku?” tanyanya. Johee yang sudah sangat ketakutan hanya bisa bungkam. Otaknya tak berfungsi dengan baik.

“Jangan sekali-kali kalian menyentuh Johee!” seru seseorang dan tiba-tiba saja kedua pria berbadan kekar itu terjerembab di tanah.

“Bajingan!” seru pria yang ternyata Donghae. Tangan Donghae sudah melayang, nyaris saja menyentuh pelipis salah satu pria tadi namun tangannya terhenti bertepatan dengan teriakan Johee yang menggema.

“KYAA!” teriak Johee. Rasa takut kembali menguasai Johee. Tepat saat tangan Donghae melayang tadi, ia teringat akan appanya yang sering memukul ommanya dulu. Tangan yang kuat namun selalu digunakan untuk perbuatan yang tidak baik.

Donghae tak memperdulikan lagi kedua pria yang sudah kabur bak pengecut itu. Yang kini ia perdulikan adalah Johee, yang lagi-lagi menangis dan ketakutan karena dirinya. Tubuh Johee bergetar hebat, dan air mata Johee mengalir tanpa isakan. Saat Donghae hendak mendekat, saat itu juga Johee berteriak, “Jangan mendekat!” Hati Donghae makin pilu, namun tak ada yang bisa ia perbuat.

“Mianhe, jeongmal mianhe. Mianhe Johee, mianhe,” ujar Donghae lirih. Tanpa ia sadari kini air mata mulai membasahi pipinya. Air mata rasa bersalah dan air mata pilu.

“Do.. donghae? Kau menangis?” guman Johee meyakinkan dirinya. Air mata yang membuat Johee tersadar dari ketakutannya. Dengan segenap keberanian yang ia kumpulkan, dengan ragu, Johee menghapus air mata Donghae dengan ibu jarinya.

“Mianhe, Johee,” ujar Donghae sekali lagi.

“A.. aniya, kau tak salah apa-apa. Hanya saja, saat melihatmu hendak memukul pria tadi, aku jadi teringat ayahku dan tiba-tiba saja rasa takut itu menyerangku,” jelas Johee

“Kalau begitu, mulai saat ini, aku berjanji tidak akan pernah bertengkar dengan orang lain seperti tadi,”

“Sungguh?”

“Tentu saja Johee,” balas Donghae. Johee tak menjawab, tapi senyum yang ada diwajahnya sudah melambangkan, kalau ia menikmati ikatan antara dirinya dan Donghae, sepasang kekasih.

…..

“Selamat tidur,” ujar Donghae setelah mengantarkan Johee dengan selamat sampai depan rumahnya.

“Ehm, kau juga,” balas Johee.

Mereka terdiam. Hanya suara angin yang keluar masuk gendang telinga mereka. Mata menatap mata. Wajah semakin mendekat dan mendekat. Suasana yang romatis dan aura penuh cinta mendukung terjadinya ‘first kiss’ diantara mereka. Tapi ternyata Johee tak bisa diajak kerja sama. Saat wajah Donghae nyaris tinggal 2 cm, tiba-tiba saja ia menunduk. Menghancurkan semua atmosfer yang sempat terbentuk.

“Mi..mianhe,” balas Johee merasa bersalah. Namun pada kenyataannya, ia memang masih takut jika harus melakukan hal itu.

Donghae tersenyum, seakan sudah sangat memahami gadisnya itu, “Seharusnya aku yang minta maaf. Aku terbawa suasana,” ujar Donghae. “Sudahlah, tak perlu kau pikirkan. Masuklah, baru aku pulang,”

*****

Hubungan Johee dan Donghae kian lama makin membaik. Kini Johee sudah dapat bergandengan tangan dengan Donghae dan kini sepertinya Johee sudah benar-benar mencintai Donghae. Jadi apa kisah mereka berakhir sampai disini? Tidak semudah itu.

Hari ini ulang tahun Donghae. Johee sudah menyiapkan semuanya. Ia ingin memberikan surprise pada Johee sekaligus ingin membalas semua kebaikannya selama ini. Berkat cintanya yang tulus, trauma Johee dapat tersembuhkan sedikit-demi-sedikit. Berkat cintanya yang tulus, Johee dapat kembali tersenyum dengan tulus. Berkat Donghae, Johee akhirnya bisa merasakan apa itu cinta.

Namun apa yang sudah dirancang Johee, tak terlaksana sesuai harapan saat tiba-tiba saja ada mobil yang menghadangnya dan beberapa orang menyergapnya dan membekapnya. Kejadian yang selama ini hanya dilihat Johee dari layar kaca, kini terjadi langsung pada dirinya.

Ia tak ingat apa-apa. Sepertinya ia dibius. Yang ia dapati saat terbangun adalah ruangan yang gelap dan seorang pria gagah duduk dihadapannya.

“Tenanglah, aku tak akan menyakitimu. Aku hanya menjadikanmu upan agar Donghae datang kesini,” ujar pria itu sambil menghisap cerutunya.

“Apa masalahmu dengan Donghae?” tanya Johee. Namun belum sempat ia mendapatkan jawaban, Johee mendengar suara Donghae memanggil namanya. “Johee!”

“Lepaskan Johee!” seru Donghae saat melihat kekasihnya tak berdaya, diikat diatas kursi.

“Baguslah kau sudah datang. Sudah lama kita tak bertemu, Lee Donghae,” ujar pria tadi. Kata-katanya datar namun kental nafsu membunuh.

“Lepaskan Johee, Choi Siwon!” ujarnya Donghae sekali lagi.

“Tak semudah itu,” balas Siwon. “Habisi dia,” perintah Siwon pada anak buahnya. Dalam waktu beberapa detik saja, kini sudah ada 4 orang yang mengelilingi Donghae.

“Brak!” pukulan pertama mendarat dengan mantap di perut Donghae. pukulan kedua di pelipis Donghae, pukulan ketiga di tengkuknya, pukulan keempat di perutnya lagi, namun tak ada satupun dari pukulan itu yang dibalasnya. Ada apa gerangan? Jawabannya sudah pasti, karena Johee. Ia ingat janjinya pada Johee.

Donghae berlutut dihadapan mereka. Bukan karena ia menyerah, tapi karena kakinya sudah tak mampu berpijak. Tubuh Donghae bersimbah darah dan beberapa bagian yang lain memar. Air mata Johee sudah mengalir sangat deras melihat kekasihnya bak zombie seperti itu. “Pukul mereka! Jangan diam saja Donghae!” seru Johee.

“Kau sangat tahu, aku tak akan melakukan itu. Aku sudah berjanji padamu,” balas Donghae dengan sisa kekuatan yang ada.

“BRAAK!” lagi-lagi sebuah bogem mentah mendarat di tubuh Donghae.

Tangisan Johee menderas dan isakah Johee tak teratur, “A.. aku mohon pa..padamu, jangan mati. Masih ba.. banyak yang belum aku sampaikan padamu. A.. akku mohon Donghae,” ujar Johee parau.

“Padahal aku berniat melepaskan kalian. Tapi kalau itu mau kalian, akan kuturuti,” ujar Donghae. Kalimat yang terucap dari mulut Johee membuat aura Donghae tiba-tiba berubah menjadi ganas. Ia tidak lagi seperti zombie. Ia bak mainan robot yang baru di-charge, kekuatan Donghae tiba-tiba kembali. Ia bangkit dan mulai melayang tinjunya. Dan tak sampai 5 menit, semua anak buah Siwon sudah terkapar.

Donghae berjalan ke arah Siwon. Menarik kerah baju Siwon dan hendak memukulnya.

“Jangan pukul aku,” pinta Siwon.

Hati nurani Donghae membuatnya melepaskan Siwon dengan syarat, “Asal kau tak mengangguku dan Johee lagi. Arraseo?” Siwon mengangguk sebagai jawaban.

Pertandingan ini dimenangkan oleh Donghae berkat Johee. Namun belum sempat ia merayakan kemenangannya, Donghae tiba-tiba saja terjatuh pingsan.

*****

Donghae mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan sistem saraf matanya dengan kondisi cahaya diluar. Bau obat yang menyengat membuatnya tahu dimana ia berada.

“Kenapa aku bisa di rumah sakit?” tanya Donghae pada dirinya sendiri.

“Kau pingsan karena kehabisan tenaga. Sudah 2 hari aku tertidur Donghae,” ujar sebuah suara yang membuat jantung Johee bekerja cepat. Ia sangat mengenal suara itu.

“Johee..”

“Iya, ini aku Donghae sshi,” jawab Johee diiringi dengan senyuman yang mampu membuat Donghae mabuk kepayang.

“Kau yang menjagaku?” tanya Donghae yang dijawab Johee dengan anggukan.

“Oia, saengil chukae, Donghae ah,” ujar Johee pada Donghae. Donghae ingat, kalau rencana ulang tahun yang ia susun gagal gara-gara Siwon.

“Gomawo,” balas Donghae dengan senyumnya. “Kau tak punya hadiah untukku?” tanya Donghae, niatnya hanya untuk menggoda. Tapi sayangnya, Johee menganggap hal itu serius.

“Mi.. mianheyo. Aku tidak menyiapkan apapun saat ini,” ujar Johee lirih, jujur, dan penuh penyesalan.

“Aigo, Johee, aku hanya bercanda. Tidak masalah. Dengan kau berada disisiku, itu sudah merupakan hadiah terindah,” balas Donghae.

Johee terdiam, tak merespon pernyataan Donghae. Ia sibuk dengan pemikirannya sendiri. Tidak adil bagi Donghae jika selama ini hanya Donghae yang membahagiakan Johee, hanya Johee yang bahagia karena Donghae. Setidaknya kali ini ia ingin membuat Donghae bahagia, ia ingin membalas semua kebaikan Donghae. Tapi bagaimana caranya? Otak Johee berpikir dan akhirnya menemukan jawabannya. Tapi, apa Johee yakin akan melakukan hal ini?

“A.. aku ada hadiah untukmu. Kau boleh minta 3 permintaan, aku janji tak akan menolaknya,” ujar Johee.

Donghae terdiam, ia tercengang sesaat lalu tersenyum lagi. Ia mulai memikirkan apa yang ia inginkan.

“Aku mau Ferrari, dan Lamborghini,” ujar Donghae yang membuat Johee pupus harapan. Johee memang berjanji tidak akan menolak semua permintaan Donghae. Tapi jika benda yang ia inginkan membutuhkan uang cukup banyak, ia tak sanggup. Uang jajannya selama 18 tahun mungkin belum bisa untuk menebus kedua mobil itu.

“Mianhe, untuk kedua benda tersebut aku tak bisa memenuhi,” balas Johee lirih. Ia sedih karena tak bisa menepati janjinya.

“Tak masalah. Yang paling penting adalah yang ketiga ini. Kau pasti bisa. Hal ini tak memerlukan uang sepeser pun,” balas Donghae.

“Apa itu?” tanya Johee penasaran.

“Be mine,”

“Ne?”

“Be mine, because i just wanna be yours, Shim Johee,” ujar Donghae. Johee yang mendengar kalimat itu hanya bisa membiarkan pipinya merona.

“Ta.. tapi sebelumnya, aku masih menyediakan bonus untukmu,” ujar Johee.

“Apa itu?” tanya Donghae tapi sebelum ia mendapatkan jawabannya, ia merasakan sesuatu yang lembut menempel dibibirnya. Tak sebentar tapi juga tak lama. Hanya mengecup, tak berani bertindak lebih jauh.

Donghae tercengang. Semuanya terjadi secara mendadak. Hal itu membuat kinerja jantungnya semakin cepat dan memperlambat kerja otaknya.

“Terima kasih kau sudah menjagaku dengan baik selama ini. Terima kasih karena kau sudah bertahan hidup untukku. Terima kasih karena kau sudah dengan tulus menungguku selama ini. Terima kasih atas cintamu,” ujar Johee. “Lee Donghae, saranghae,”

Donghae tersenyum, “You know what the most wonderful word, that I love and favorited the most?” tanya Donghae dan Johee menggeleng. Ia tak tahu jawabannya.

“Its your name, Johee. Saranghae. Jeongmal saranghae,” kata Donghae.

Mata saling menatap intens. Wajah semakin mendekat dan mendekat. Suasana yang romatis dan aura penuh cinta mendukung terjadinya ‘second kiss’ diantara mereka.

Tapi ada yang aneh. Donghae tak merasakan hembusan nafas Johee. ia tak bernafas? Karena tegang? Donghae menyembunyikan tawanya dalam hati. “Johee, bernafaslah. Kau bisa mati kekurangan oksigen nanti,” ujar Donghae.

“Tenang saja, aku akan menunggu sampai kau benar-benar siap. Tapi bonus darimu tadi sudah sangat cukup kok,” ujar Donghae

“Yaa, Donghae-ah,”

*****

From: Donghae-ah

Dear Johee,

You’re not my life, but you’re the one I want to spend it with.

You’re not my world, but you’re the best thing in it.

Shim Johee, saranghae.

To: Shim Johee

END .