Annyeong Chingudeul ^^

Mianhe, akhir-akhir ini jarang sekali update ff huhu

But, i’m back with new ff now!

Original idea by Shin Chae Kyung onnie or kyungrainbee

Written by esterong

Dedicated to Kyujin couple and Chae Kyung onnie ^^

PS:

thank you so much buat chae kyung onnie hehehe buat idenya dan buat saran-sarannya ^^ smoga kita bisa melanjutkan kerja sama kita onn kekeke.

Kak selaa, ayo dibaca ya ffnya *dikommen jugaa*. Lumayan buat nyegarin pikiran heheh dont be too stress ya kak. Semangat!

Yang textnya italic, itu flashback ya ^^

Your comments are loves for me, leave your comment here chingu ^^

Happy reading!

 

*****

—If you love someone, let him free. If he backs, it means yours forever—

*****

Rasa rindu membawa gadis ini pergi menuju balkon apartemennya, menikmati hiruk-pikuk kota Seoul yang tak pernah berhenti meski matahari sudah terbenam. Ia menutup kedua matanya, membentangkan tangannya, dan menikmati hembusan angin yang menembus pori-pori kulitnya. Akhirnya ia kembali merasakan kehangatan Seoul setelah sekian lama hidup di negeri orang.

Ia menengadahkan kepalanya. Langit malam yang ditemani oleh bintang dan bulan membuatnya betah untuk berdiam di balkon itu lebih lama. Bintang yang ia lihat dari balkon itu mengingatkannya pada sesuatu yang sudah lama —seharusnya— ia kubur dalam hatinya. Sesuatu yang —harusnya— sangat pantang untuk ia ingat, karena hal itu hanya membawa kesedihan untuknya. Tapi nyatanya? Tak pernah sekalipun ia berhasil menghapus kenangan itu. Atau lebih tepatnya, gadis itu sendiri yang tak mau menghapusnya.

…..

“Kenapa kau tak menelponku dari kemarin?!”

“Aku sibuk,”

“Cih! Selalu saja sibuk! Apa pekerjaanmu lebih penting dari pada aku? Tak tahukah kau kalau aku sangat merindukanmu, Cho Kyuhyun-nim?”

“Jadi itu alasan yang membuat kau marah-marah seperti ini? Karena kau rindu padaku? Aku punya solusi untukmu,”

“Apa itu?”

“Lihatlah bintang di langit,”

“Untuk apa?”

“Kau akan melihat aku disana. Bukankan wajahku seindah bintang dilangit? Karena tampangku ini kan kau jatuh hati padaku?”

“Narcism. Hahaha. Okay i’ll do it now. Kalau setelah melakukan hal itu aku tetap rindu padamu, kau harus langsung datang ke apartemenku!”

“As you wish, madam,”

…..

“Hyejin, masuklah. Kau bisa masuk angin nanti,” sebuah suara lembut membangunkan gadis itu dari  kenangan masa lalunya.

Sang  gadis yang bernama Hyejin, memutar badannya untuk dapat melihat pria itu. “Sebentar lagi ya Donghae,” balas Hyejin diiringi dengan senyum manisnya, yang mampu meluluhkan siapa saja yang melihatnya. Pria bernama Donghae itu salah satunya.

Pria itu, Donghae, tak memaksa Hyejin untuk kedua kalinya. Ia justru melangkah maju ke samping Hyejin, melepaskan jasnya untuk menghangatkan tubuh Hyejin, lalu ia ikut menatap bintang dari balkon itu.

“Kau ada masalah? Kau selalu melihat bintang saat mood-mu memburuk,” tanya pria itu.

Pertanyaan yang menyiratkan perhatian itu membuat Hyejin menyunggingkan senyumnya. “Aniya, aku tidak ada masalah. Aku hanya rindu dengan Seoul,” ujarnya. Donghae tersenyum lega mendengar jawabannya itu. Suasana hening sejenak. Keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing

“Hey Hyejin, I love all the stars in the sky,” ujar Donghae tiba-tiba, memecah kesunyian. Hyejin mengangguk menanggapi, ia sudah tahu kalau Donghae memang menyukai bintang. Donghae mengubah posisi berdirinya. Tak lagi bersandar pada balkon, tapi kini ia berdiri menghadap Hyejin. Hyejin yang merasakan gerak tubuh Donghae, melakukan hal yang sama seperti Donghae.

Kini mereka berhadapan, dan Donghae menatap lembut mata Hyejin. “But they are nothing compared to the ones in your eyes, Hyejin,” ucap Donghae mengakhiri kalimat puitisnya.

Donghae mendekatkan wajahnya. Jarak antar kedua wajah semakin kecil. Atmosfer mendukung keduanya untuk terlarut dalam sebuah kecupan. Tapi tiba-tiba saja Hyejin mengalihkan wajahnya ke samping. Donghae yang merasakan penolakan itu, akhirnya mendaratkan ciumannya di dahi Hyejin. Ini bukan yang pertama kalinya Hyejin melakukan hal itu. Tapi meski begitu, cinta Donghae tak pernah luntur.

“Saranghae Hyejin,” ujar Donghae. Mata Donghae menatap Hyejin lekat, seakan mata itu ikut berbicara kalau pria ini sangat mencintai Hyejin. Mungkin menurut Donghae, rasa cintanya tak cukup hanya disampaikan lewat kata-kata.

Hati Hyejin mencelos mendengar pernyataan cinta yang tulus itu. Bukan karena tersentuh atau tersanjung. “Hm, nado,” balas Hyejin diiringi senyumnya. Tapi ada yang lain dari senyuman itu. Bukan senyum tulus seperti biasanya. Itu senyum lirih yang tak seorang pun dapat menafsirkannya, selain dirinya sendiri.

“2 bulan lagi kita menikah dan kita baru saja tiba dari Los Angeles. Bagaimana kalau mulai besok kita kencan ke setiap tempat yang ada di Seoul?” usul Donghae.

“Ide bagus. Baiklah,” balas Hyejin.

Mendengar jawaban Hyejin, Donghae segera mengeluarkan pamflet pariwisata yang ia dapat dari bandara kemarin. “Bagaimana kalau besok kita kesini?” ujar Donghae sambil menunjuk ke sebuah foto yang memperlihatkan ribuan kunci bertengger pada sebuah pagar.

“Namsan Tower?” tanya Hyejin dan Donghae menjawab dengan anggukan antusias.

“Katanya, kalau kita menulis nama kita diatas gembok, lalu memasangnya di pagar itu, kita tak akan terpisahkan selamanya,” jelas Donghae. Hyejin mengangguk, ia tahu hal itu karena Hyejin adalah orang asli Seoul.

“Besok selesai meeting, aku akan menjemputmu ya sayang. Sudah malam, kalau begitu aku pulang dulu. Kau juga jangan lama-lama diluar ya,” ujar Donghae sambil mengelus puncak kepala Hyejin.

“Ne,” balas Hyejin tetap dengan senyuman khas miliknya.

“Bye, saranghae,” pamit Donghae, tak lupa meninggalkan jejak kecupan di dahi Hyejin.

“Bye,” balas Hyejin sambil melambaikan tangannya pada Donghae yang sudah berlalu.

“BLAM,” suara pintu yang tertutup membuyarkan semua akting Hyejin. Semua rasa yang tertahan di dada Hyejin kini tertumpahkan begitu saja. Senyumnya memudar, berganti dengan air mata yang mengalir.

Mengapa ia menangis? Bukankah 2 bulan lagi ia akan menikah dengan Donghae, pria yang sangat mencintainya? Bukankah itu adalah momen yang paling ditunggu-tunggu oleh sepasang kekasih? Tapi tunggu.. Bagaimana kalau misalnya kau tak mencintai calon pengantin yang sangat mencintaimu itu? Hatimu pasti dipenuhi dengan rasa bersalah.

Jadi, mengapa Hyejin harus menangis? Jawabannya sama seperti studi kasus yang kedua. Rasa bersalah yang menyeruak disekujur tubuh Hyejin membuat tangisnya tak dapat ditahan lagi.

Ia merasa tidak pantas untuk mendapatkan pria itu. Ia telah menyakiti pria yang begitu sempurna, begitu baik, dan begitu mencintainya, Lee Donghae. Hyejin merasa bersalah karena ia menyia-nyiakan ketulusan dan cinta yang ia dapat dari Donghae.

Hyejin merasa telah begitu jahat karena selama 2 tahun mereka menjalin hubungan, Hyejin tak pernah sekalipun mencintai Donghae. Sudah berulang kali Hyejin mencoba untuk membuka hatinya, tapi hasilnya tetap nihil. Hati Hyejin tak dapat dimasuki oleh Donghae karena bayang-bayang pria itu tak pernah hilang dari benaknya. Pria itu, cinta pertama Hyejin. Pria yang selalu menjadi alasan Hyejin untuk melihat bintang, pria yang mengisi hati dan pikiran Hyejin, Cho Kyuhyun.

*****

“Indah sekali,” ujar Donghae saat kakinya tiba dipuncak Namsan Tower. Gembok warna-warni menambah keindah pemandangan itu.

“Apa kau pernah datang kesini?” tanya Donghae pada Hyejin.

Hyejin tersenyum, “Iya, aku pernah kesini beberapa kali,”

“Kau tunggu disini ya, aku beli gemboknya dulu,” ujar Donghae.

Hyejin yang ditinggal sendirian, membunuh waktu dengan mengamati tiap sudut menara itu. Matanya yang mengedar, terhenti pada satu titik saat ia melihat sepasang kekasih dimana sang gadis mengenakan seragam sekolah dan sang pria mengenakan setelan jas rapi. Pemandangan yang membuatnya merasakan deja vu dan membangkitkan lagi ingatannya tentang Kyuhyun.

…..

“Aaah, angin ditempat ini memang menyegarkan!” seru Hyejin girang dengan tangan yang melambai-lambai diatas kepalanya. Ia menutup matanya untuk menikmati hembusan angin yang menembus tubuhnya. Tapi sayangnya, momen-momen menyenangkan itu terganggu berkat seseorang yang berseru-seru entah pada siapa.

“Ya! Bocah!” seru seseorang dengan suara lantang, membuat Hyejin mendengus kecil.

“Siapa yang dipanggilnya bocah? Dasar tak tahu malu di tempat seperti ini malah berseru seperti itu,” Hyejin kembali menikmati relaksasinya saat sebuah tangan menepuk pundaknya.

“Yaa, bocah berseragam, kenapa kau tidak menoleh saat kupanggil?” Hyejin mengernyitkan dahinya mendapati seorang namja tengah mengomelinya. Dengan tinggi proporsional, kulit putih, tak lupa setelan jas semi-formal membuat namja itu terlihat sangat menyilaukan dan errr… tampan.

“Kau siapa?” tanya Hyejin polos.

“Aku?” namja itu menunjuk dirinya sendiri. “Aku Cho Kyuhyun,”

“Lalu siapa yang kau panggil bocah?”

Namja bernama Kyuhyun itu memutar matanya. “Tentu saja kau. Memangnya apa ada bocah lain yang berkeliaran di jam sekolah sekarang, ha?”

“Ya! Jangan seenaknya memanggilku bocah!”

“Kau itu memang bocah. Anak zaman sekarang kerjanya hanya membolos. Kurasa aku harus melaporkanmu pada pihak keamanan,” tukas Kyuhyun sembari melangkah pergi.

Hyejin yang merasa hidupnya berada di ambang bahaya segera berlari dan naik ke punggung pria itu.

“Hei! Lepaskan! Apa-apaan kau?” Kyuhyun nampak berusaha melepaskan diri. “Yaa! Yaa! Turun!” seru pria itu sambil menggerakkan tubuhnya ke segala arah agar Hyejin terjatuh. Tapi semakin pria itu meronta, Hyejin semakin mengeratkan pertahan dengan kakinya yang memeluk pinggang pria itu dan tangannya yang mengekang leher pria itu.

“Yaa! Aku tak bisa bernafas!” seru pria itu.

“Akan kulepaskan asal kau tak melaporkanku, Cho Kyuhyun-nim,”

“A..arraseo, turunlah! Kau berat!” seru Kyuhyun.

 Hyejin tersenyum penuh kemenangan sedangkan Kyuhyun menatapnya kesal.

“Makanya, jangan remehkan Song Hyejin,”

Kalimat sombong yang terlontar dari mulut Hyejin, membuat Kyuhyun harus menahan tawa yang nyaris meledak. Keinginan ingin mengerjai, timbul dalam benak Kyuhyun. Kyuhyun menghadapkan tubuhnya pada Hyejin sekaligus memberikan tatapan tajam yang membuat Hyejin bergidik.

“Neo!” Kyuhyun mengeram sambil menunjuk Hyejin yang hanya memandang takut-takut ke arahnya.

Kyuhyun mulai melayangkan tangannya sedangakan Hyejin yang takut hanya bisa menundukkan kepalanya dan menutup kedua matanya kuat-kuat. Namun prasangkanya ternyata salah. Tangan yang terayun tadi tak digunakan untuk memukul. Hyejin mendongak heran saat mendapati tarnyata  Kyuhyun mengusap rambutnya lembut bukan menampar seperti pemikirannya tadi.

“Bocah bodoh! Memangnya siapa yang mau menamparmu? Hahaha. Gadis pemberani. Jangan membolos lagi, arra?” ujar Kyu dengan senyum seringai yang saat itu juga, membuat Hyejin jatuh hati pada Kyuhyun.

……

“Ini gemboknya,” ujar Donghae menyadarkan Hyejin dari lamunannya. Donghae memberikan gembok berbentuk hati yang diatasnya sudah tertulis nama mereka berdua.

“Sebaiknya kita letakkan dimana ya?” tanya Donghae pada Hyejin dan dirinya sendiri.

“Bagaimana kalau disana?” usul Hyejin, menunjuk tiang yang ada di salah satu sudut pagar.

Dengan antusiasme bak anak kecil, Donghae menggandeng tangan Hyejin dan berjalan ke spot yang mereka incar. Tapi belum sempat Donghae benar-benar mengunci gembok itu, seorang anak kecil menabraknya dari belakang. Donghae tak terluka karena hal itu, tapi gembok yang beratas namakan mereka jatuh ke bawah.

Donghae terdiam, sebuah firasat buruk tentang Hyejin tiba-tiba saja muncul dibenaknya. Kekhawatirannya membuatnya bertanya pada Hyejin, “Kau tak akan pernah meninggalkanku kan, Hyejin?”

Hyejin tak langsung menjawab. Ia cukup kaget dengan pertanyaan Donghae yang to the point. Untung saja otak Hyejin dapat segera berfungsi. Ia tersenyum agar Donghae melupakan kekhawatirannya. “Aku akan selalu bersamamu. Percayalah. Gembok itu hanyalah mitos. Jika kita memang berjodoh, meski dari awal kita tidak ke Namsan Tower, kita pasti akan selalu bersama,”

Kata-kata Hyejin menghilangkan gundah Donghae. Wajah yang khawatir gini berganti dengan senyum. “Ah, mianhe. Aku sudah kekanakan. Terima kasih Hyejin,” ujar Donghae sambil mencium kening Hyejin.

“Ne, chomaneyo,” balas Hyejin.

*****

Hyejin terdiam menatap gedung yang berdiri kokoh dihadapannya. Rasa rindu, sedih, dan ragu dalam sekejap memenuhi hati Hyejin. Rasa yang —seharusnya— tak boleh lagi ia rasakan karena 2 bulan lagi ia resmi menjadi istri dari Lee Donghae. Rasa yang timbul berkat kembalinya kenangan itu ke dalam ingatannya. Kenangannya bersama Kyuhyun.

…..

“Oppa, aku cinta padamu. Aku tak keberatan jika kau menjadi pacarku,” ujar Hyejin ditengah makan malam romantis yang sudah Kyuhyun persiapkan.

“Yaa, yaa. Apa maksudmu?”

“Apa lagi? Aku baru saja menyatakan cinta padamu oppa,”

” ‘Aku tak keberatan jika kau menjadi pacarku’ apa artinya?””

“Aku tahu oppa juga mencintaiku, tapi kau tak kunjung mengatakan perasaanmu. Jadi, daripada aku menunggu terlalu lama, saat ini aku jawab pernyataan cinta yang tak kunjung oppa ucapkan itu,”

“Kau percaya diri sekali. Kau yakin aku mencintaimu?”

“Ab-so-lut-ly,” jawab Hyejin dengan memberikan penekanan pada tiap suku kata. “Jadi sekarang kita resmi menjadi sepasang kekasih?” tanya Hyejin.

Kyuhyun yang sedari tadi dibuat tercengang dengan tiap tingkah spontan Hyejin hanya bisa tersenyum, lalu mengangguk sebagai jawaban, “Ya,”

…..

“Hyejin ayo masuk, aku sudah pesan tempat untuk kita,” ujar Donghae.

“Kita makan disini oppa?”

“Tentu saja, kata teman sekantorku, makanan disini paling enak,” balas Donghae. “Ada apa Hyejin? Kau tak suka? Kita bisa pindah tempat kalau kau mau,” ujar Donghae saat ia menyadari ada sesuatu yang aneh pada Hyejin.

Hyejin segera menggeleng. Ia tak mau bersikap egois terus. “Aniya oppa, aku tidak apa-apa. Kalau begitu ayo kita masuk,” ajak Hyejin.

*****

Hyejin gelisah. Sudah sekitar 10 kali ia melihat jam tangannya yang tak berhenti berputar. Berulang kali ia berguman, “Cepat, cepat, cepat, cepat,” bak menggunakan kata itu sebagai mantra untuk mengusir kemacetan yang menghalangi laju bus yang ia tumpangi.

….

“Hyejin, besok aku tunggu kau di Danson Park jam 7 malam ya,” ujar Donghae ditengah makan malam mereka berdua.

“Untuk apa oppa?”

Donghae tak menjawab pertanyaan Hyejin yang satu itu. Ia mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan, “Mianhe, aku tak bisa menjemputmu”

“Aniya oppa, tak masalah,”

…..

Namun sudah jam berapa sekarang? Jam 8! Sudah satu jam Hyejin terlambat karena terjebak oleh kemacetan yang entah disebabkan oleh apa. Hyejin tak mungkin turun dari bus lalu berlari sampai taman itu karena saat ini hujan turun amat sangat lebat.

“Ya Tuhan, tolong aku,” doa Hyejin.

*****

Hati Hyejin mencelos dengan pemandangan yang ia lihat saat ini. Bukti cinta Donghae yang begitu besar membuat hati Hyejin sakit dan menitikkan air mata. Sebuah ketulusan cinta yang selama ini Hyejin sia-siakan, terbukti, karena pria itu dengan rela menunggu Hyejin selama 1 jam lebih dibawah titik-titik hujan yang menyakitkan kulit.

“Kenapa kau masih menungguku?” tanya Hyejin sambil membagi payungnya agar cukup untuk mereka berdua. Hyejin mengepalkan tangannya, mengendalikan debit air yang mengalir dari kelopak matanya.

Donghae tak langsung menjawab pertanyaan itu, ia lebih dulu tersenyum lega melihat kehadiran gadisnya. “Happy Anniversary, Hyejin,” ucap Donghae.

“Jangan bilang, kau mengajakku kesini hanya untuk mengatakan itu,” ujar Hyejin dingin. Ia sedikit kesal dengan pria dihadapannya dan pada dirinya. Ia merasa tak pantas untuk menerima pengorbanan Donghae.

“Aniya, tadinya aku ingin berkencan denganmu. Tapi kurasa hal itu tak mungkin karena sedang hujan,” balas Donghae dengan senyum yang tak pernah hilang sejak kehadiran Hyejin.

“Lalu mengapa kau terus menunggu selama satu jam lebih dibawa hujan? Kenapa kau tak membatalkannya lalu pulang?” tanya Hyejin, emosi mulai menguasainya. Air matanya mulai mengalir tanpa perintah. Setetes demi setetes.

“Tak ada tempat berteduh Hyejin, lagi pula aku tak mungkin membatalkannya karena hari ini sangat istimewa untukku. Aku ingin menghabiskannya bersamamu,”

“Lalu bagaimana kalau misalnya aku tak datang karena hujannya terlalu deras? Kau mau menungguku sampai besok pagi?!” seru Hyejin, kini air matanya sudah mengalir deras. Ia tak habis pikir dengan pria yang ada dihadapannya.

Donghae yang mendapat perlakuan kasar seperti itu tidak membalasnya dengan seruan. Ia tetap tersenyum sambil menghapus air mata Hyejin dengan ibu jarinya. “Aku menunggu karena aku yakin kau pasti datang, Hyejin,” sebuah jawaban singkat yang membuat Hyejin —akhirnya—mencapai satu titik dimana hatinya luluh karena cinta Donghae.

Hyejin menjatuhkan payung yang sedari tadi melindungi mereka dari hujan. Hyejin menyambar Donghae dengan pelukan yang sangat erat, tak peduli dengan air yang membasahi mereka. Yang Hyejin ingin saat ini adalah memberi kehangatan pada Donghae yang sangat mencintainya.

“Me..mengapa kau begitu bodoh, ha? Ka..kalau kau sakit bagaimana?” tanya Hyejin parau, masih tetap memeluk Donghae dibawah hujan.

Donghae membalas pelukan Hyejin sambil mengelus puncak kepala Hyejin, “Karena aku sangat mencintaimu Hyejin. Cinta ini yang sudah membuat otakku tak berfungsi dengan baik. Lagipula kalau aku sakit bukannya malah bagus? Kau akan merawatku, kan? Itu tandanya kau akan lebih bersamaku, kan?” balas Donghae. Hyejin yang mendengar jawaban itu tertawa di sela-sela tangisnya.

“Saranghae, Hyejin,”

“Nado.. Saranghae, oppa,” balas Hyejin. Untuk pertama kalinya dalam 2 tahun ini, akhirnya ia membiarkan bibirnya mengucapkan kata sakral itu. Tepat saat memeluk Donghae tadi, hatinya sudah bertekad, mulai detik ini ia akan belajar untuk melupakan Kyuhyun, masa lalunya dan mulai melihat ke depan, dimana ada Lee Donghae yang sangat mencintainya.

“Kau bilang apa barusan?” tanya Donghae sambil memegang kedua sisi bahu Hyejin dan menatap wajah Hyejin dengan ekspresi yang menyatakan keterkejutan. Tentu saja hal itu terjadi pada Donghae, karena telinganya baru saja mendengar kata Saranghae keluar dari mulut Hyejin.

“Sa.. saranghae, oppa,” balas Hyejin terbata-bata, timbul rasa malu dalam dirinya karena ia tak biasa mengucapkan kata itu dan mata Donghae menatapnya intens.

Donghae yang sudah sangat yakin kalau ia tak punya masalah dalam pendengarannya, langsung menarik Hyejin kembali kepelukannya. “Saranghae, Hyejin. Saranghae. Saranghae,” guman Donghae berulang kali. Ia bingung bagaimana mengungkapkan rasa bahagianya karena baru saja Hyejin mengucapkan kata-kata yang menjadi penantian Donghae selama 2 tahun ini, “Saranghae,”

*****

“Kau serius tidak ingin pulang?” tanya Donghae meyakinkan Hyejin yang tadi berkata kalau ia ingin menginap di apartemen Donghae.

“Serius. Aku tak ingin kau tiba-tiba pingsan dan tak ada yang menolongmu nanti. Badanmu sudah sangat panas seperti ini,” balas Hyejin setelah mengukur suhu tubuh Donghae dengan meletakan telapak tangannya pada dahi Donghae.

*****

“Hyejin, kau masih disitu?” tanya Donghae yang sudah mengatupkan kedua matanya. Ia sudah mencoba untuk tidur, tapi tidak bisa. Pikirannya selalu tertuju pada Hyejin.

“Aku masih disini, oppa,” balas Hyejin yang setia menunggui Donghae tertidur. Hyejin duduk ditepi tempat tidur Donghae.

“Boleh aku menggenggam tanganmu? Aku hanya takut saat aku bangun nanti kau sudah menghilang,” ujar Donghae yang Hyejin balas dengan tawa kecil. Hyejin mengulurkan tangannya sebagai tanda kalau ia mempersilahkan Donghae melakukan keinginannya.

Hening.. Hyejin berpikir, mungkin Donghae sudah tertidur. Tapi ternyata tidak. Selang beberapa menit, Donghae kembali memulai pembicaraan.

“Kapan kau akan mulai mengajar, chagi?” tanya Donghae.

“Mulai lusa, oppa. Aku tak sabar untuk melihat calon-calon muridku nanti,” balas Hyejin antusias. Ya, Hyejin baru saja diterima sebagai seorang guru yang mengajarkan bahasa Inggris disalah satu sekolah dasar ternama di Seoul.

“Bagaimana kalau aku datang untuk melihat di hari pertamamu itu?” usul Donghae.

“Oppa kira aku anak kecil? Lagi pula kau harus menghadiri meeting, kan?” ujar Hyejin mengingatkan Donghae. Donghae mulai mengumpat, ia sedikit kesal mengingat hal itu.

“Yaa oppa, sudahlah. Kau tidurlah sekarang agar kau cepat sembuh,”

“Baiklah,” jawab Donghae dengan berat hati. Kalau saja kekebalan imunnya lebih kuat dan ia tak sakit seperti sekarang ini, mungkin Donghae bisa menghabiskan waktunya bersama Hyejin sampai matahari terbit nanti.

Donghae mencoba untuk benar-benar tertidur. Kehangatan yang mengalir dari tangan kanan Hyejin dan tangan kiri Hyejin yang mengelus kepalanya membuat Donghae lebih cepat menuju alam mimpi.

Suasana yang sangat sepi membuat Hyejin kembali mengingat kejadian malam ini. Kejadian yang nyaris sama seperti yang pernah terjadi pada Hyejin beberapa tahun yang lalu. Bedanya, saat itu dialah yang menunggu dan sayangnya orang yang Hyejin tunggu tak datang saat itu.

…..

12 Juli 2005

“Hyejin, kau sudah putus dari pacarmu?” tanya salah seorang teman Hyejin yang tahu tentang hubungannya dan Cho Kyuhyun. Hyejin yang kaget dengan pertanyaan itu hanya menjawabnya dengan gelengan.

“Memang ada apa?” tanya Hyejin yang akhirnya penasaran. Mengapa sampai gosip seperti itu bisa beredar?

“Oppaku yang bekerja diperusahan keluarga Cho berkata demikian. Katanya Cho Kyuhyun berpacaran dengan sahabatnya, Victoria.”

“Victoria onnie?”

……

20 Juli 2005

“Oppa jam berapa sekarang?” tanya Hyejin melalu sambungan telepon antara dirinya dan Kyuhyun.

“Jam 10 malam, ada apa?” balas Kyuhyun.

“Kau tak ingat hari ini hari apa?” tanya Hyejin.

“Hari ini hari Sabtu. Kau kenapa Hyejin?” tanya Kyuhyun yang bingung dengan tiap pertanyaan Hyejin. Tapi jawaban dari Kyuhyun membuat hati Hyejin terasa sangat sakit. Bagaimana bisa Kyuhyun melupakan hari anniversary mereka yang  pertama?

“Oppa, kau dimana sekarang?” tanya Hyejin lagi.

“Aku di kantor, sangat sibuk Hyejin,” balas Kyuhyun. Jawaban yang membuat emosi Hyejin muntap dan air mata Hyejin kini telah benar-benar mengalir.

“You lie,” balas Hyejin lalu menutup telepon itu tanpa menunggu respon Kyuhyun. Hati Hyejin sangat sakit karena mengetahui kalau Kyuhyun membohongi dirinya. Bagaimana bisa ia berkata kalau ia sibuk dikantor? Padahal Hyejin, dengan mata kepalanya sendiri, melihat Kyuhyun sedang makan bersama Victoria di restaurant yang sama seperti saat Hyejin menyatakan perasaannya pada Kyuhyun.

Hati Hyejin tak bisa mentolerir rasa sakit. Ia benar-benar sedih karena Kyuhyun melupakan hari anniversary mereka yang pertama. Kyuhyun juga membohonginya, parahnya semuanya ia lakukan karena Victoria. Hyejin tak berani menyimpulkan kalau Kyuhyun sedang berselingkuh dengan Victoria. Kenyataan itu terlalu pahit baginya jika benar-benar terjadi.

…..

23 Juli 2005

“Oppa, aku ingin kita putus,” ujar Hyejin. Sudah 3 hari ini Hyejin larut dalam kesedihan. Ia ingin menguji perasaan Kyuhyun. Ia butuh kepastian.

Kyuhyun terdiam, entah karena apa. Keheningan di antara mereka membuat jantung Hyejin berdebar kencang. Ia berharap Kyuhyun akan memintanya untuk tempat disampingnya. Jika Kyuhyun melakukan hal itu, Hyejin pun akan bersedia untuk tetap tinggal.

“Baiklah,” ujar Kyuhyun. Jawaban yang tak diharapkan Hyejin ini mampu membuat sekujur tubuh Hyejin merasakan sakit yang amat sangat. Ia mulai mengepalkan tangannya, menjaga air mata yang memaksa untuk keluar.

“Kalau begitu, bye, oppa,” pamit Hyejin lalu pergi meninggalkan Kyuhyun. Lagi-lagi hati Hyejin berharap kalau Kyuhyun akan mengejarnya dan meralat semua kata-katanya. Tapi? Saat Hyejin menoleh kebelakang, yang ia dapati hanya nihil. Tak ada Kyuhyun disana.

Jadi Kyuhyun benar-benar merelakan Hyejin pergi begitu saja? Jadi, ternyata benar, Kyuhyun sudah tak mencintainya lagi.

…..

1 November 2005

“A.. apa ini?” tanya Hyejin pada temannya yang menyodorkan sebuah undangan dengan design yang sangat manis.

“Kyuhyun and Victoria Wedding,” jelas temannya yang membuat Hyejin segera mengambil undangan itu. Dibukanya tiap halaman yang ada didalamnya. Yang memamerkan kemesraan mereka dalam tiap foto pra-wedding mereka.

Keterkejutan Hyejin membuat dirinya mengalirkan air mata tanpa ekspresi. Semudah itukah cinta Kyuhyun pada Hyejin terhapus? Kenyataan ini terlalu pahit bagi Hyejin.

“Victoria bahkan sudah hamil mengandung 1 bulan,” imbuh teman Hyejin itu yang menambah kedalaman lubang dihatinya.

…..

1 Desember 2007

“Ah, hello,” sapa Hyejin saat ia tiba dan bertemu dengan pemilik rumah kostnya yang baru di Los Angeles. Hyejin memutuskan untuk kuliah di luar negeri karena dirinya ingin memulai hidup yang baru dan belajar untuk menghapus bayang-bayang Kyuhyun yang menghantuinya.

“Masuklah, ibuku sudah menunggumu,” balas pria tampan itu dalam bahasa Korea. Hyejin menyimpulkan kalau pria ini adalah anak dari ibu pemilik rumah itu.

“Kau bisa berbahasa Korea?” tanya Hyejin.

“Tentu saja. Meski sejak kecil aku tinggal di Los Angeles tapi aku tetap warga negara Korea,” balas pria itu.

“Ah, iya, namaku Song Hyejin,” ujar Hyejin memperkenalkan diri.

“Namaku Lee Donghae, senang berkenalan denganmu Hyejin-sshi,”

…..

24 Mei 2010

“Hyejin, aku mencintaimu. Sejak awal aku bertemu denganmu dipintu rumahku, aku sudah menyukaimu. Tapi lama-kelamaan perasaaaku ini berubah menjadi cinta,” ujar Donghae.

Hyejin tak menjawab, ia masih mencoba mencerna kata-kata Donghae. Tindakan spontan Donghae membuat otak Hyejin lambat berfungsi.

“Aku tahu, kau masih belum bisa melupakan mantan pacarmu dulu. Tapi aku akan menunggumu. Aku akan membantumu untuk menghapus bayang-bayangnya. Would you be my girl?” tanya Donghae sekali lagi yang Hyejin jawab dengan anggukan.

Detik itu, ia bertekad untuk tidak lagi memikirkan Kyuhyun dan mulai melangkah maju bersama Donghae. Tapi semakin Hyejin mencoba, ia semakin tahu kalau dirinya tak bisa melakukan hal itu. Because  you know you really love someone when you can’t hate them for breaking your heart.

…..

“Hyejin,” guman Donghae yang menyadarkan Hyejin dari potongan-potongan ingatannya. Hyejin tertawa kecil melihat Donghae yang sepertinya sedang memimpikan dirinya.

Hyejin mengamati seluk-beluk wajah Donghae yang —Hyejin baru tahu ternyata,— sangat sempurna. Wajah polos bak malaikat itu membuat Hyejin berjanji dalam hatinya.

“Aku akan melupakannya. Tunggu aku sebentar lagi agar aku dapat membalas cintamu,”

*****

“Bagaimana hari pertamamu mengajar?” tanya Donghae pada Hyejin. Mereka sedang menghabiskan waktu berdua dengan berkencan di balkon apartemen Hyejin.

“Aku menyukai pekerjaanku, mereka semua sangat lucu,” jawab Hyejin. Donghae yang melihat raut bahagia di wajah Hyejin akirnya ikut tersenyum. Senyum Hyejin bak sihir. Membuat siapa saja didekatnya ikut merasa bahagia.

“Apa ada murid yang menurutmu paling menarik?”

“Ada, namanya Cho Jae Hyun. Ia pindahan dari Jepang. Sama sepertiku, hari ini adalah hari pertamanya,”

“Dimana sisi menariknya?”

……

09.00 am,

“Namaku Cho Jae Hyun, pindahan dari Jepang, salam kenal,” ujar seorang bocah laki-laki yang berdiri disamping Hyejin. Sejak tadi, Hyejin tak bisa melepaskan pandangannya dari anak itu. Matanya meneliti tiap seluk-beluk tubuh Jae Hyun. Mulai dari mata, pipi, hidung, mulut. Garis muka itu mengingatkannya pada pria yang Hyejin ingin lupakan. Kemiripan yang membuat jantung Hyejin ikut berdebar padahal yang ia tatap saat ini adalah seorang anak kecil biasa yang tak ada sangkut pautnya dengan Cho Kyuhyun.

Hyejin menyadarakan dirinya sendiri. Ia ingata kalau dirinya harus profesional. “Nah, sekarang Jaehyun duduk disana ya,” ujar Hyejin sambil menunjuk pada satu-satunya bangku kosong yang ada di kelas itu.

……

2.00 pm,

“Hyejin Sem, belum pulang?” sapa sebuah suara imut pada Hyejin. Hyejin menolehkan wajahnya dan mendapati Jaehyun baru saja mengambil posisi duduk di sampingnya.

“Belum, Sem masih menunggu teman sem,” balas Hyejin.

Jaehyun tersenyum usil lalu berkata, “Teman atau pacar? Hayo, sem,” goda Jaehyun yang membuat Hyejin tertawa dan merona.

“Baiklah, Sem jujur padamu. Hyejin sem sedang menunggu tunangan sem untuk menjemput sem,” balas Hyejin yang ditanggapi anggukan tanda mengerti dari Jaehyun.

“Jaehyun sendiri kenapa belum pulang?” Hyejin ganti bertanya.

“Appa masih ada meeting,”

“Omma?”

“Omma Jaehyun sudah meninggal, sem. Jaehyun bahkan tak ingat bagaimana rupa omma,” jawab Jaehyun lirih. Hyejin pun ikut merasa sedih atas jawaban itu. Hyejin mengelus kepala Jaehyun lalu memeluknya, memberikan kehangatan bak seorang ibu, yang mungkin belum pernah Jaehyun rasakan.

“Hangat sekali. Mungkin seperti ini rasanya jika omma memelukku. Kalau saja Sem tidak punya tunangan, aku akan menyuruh appa untuk segera melamar sem,” ujar Jaehyun polos yang lagi-lagi membuat Hyejin tertawa.

“Mianheyo, Jaehyun. Sem tak mungkin meninggalkan tunangan sem,”

“Tidak masalah, sem bisa menjadi ibuku selama aku di sekolah,” balas Jaehyun. “Oia, apa sem mengenal appa? Soalnya aku pernah melihat sebuah foto di dompet appa, dan gadis didalam foto itu sangat mirip dengan sem,” jelas Jaehyun yang menimbulkan tanda tanya besar bagi Hyejin.

“Sungguh? Siapa nama appamu?” tanya Hyejin penasaran

“Namanya..”

“TINN! TINN!” Suara Jaehyun tenggelam berkat bunyi klakson mobil yang mengalir melalui partikel-partikel udara. Sebuah mobil BMW berhenti di depan gerbang sekolah itu.

“Ah, sem, besok kita lanjutkan ya. Appa sudah menjemput,” ujar Jaehyun. “Kapan-kapan akan kukenalkan sem pada appa. Bye sem,” pamit Jaehyun yang dibalas Hyejin dengan lambaian tangan.

……

“Entahlah, hanya saja aku merasa sangat dekat dengannya,” balas Hyejin setelah selesai mereview ingatannya beberapa jam yang lalu.

“Kapan-kapan kenalkan aku padanya ya. Aku penasaran dengan anak itu,” ujar Donghae yang Hyejin jawab dengan anggukan.

“Besok aku akan menjemputmu, lalu kita pergi fitting baju. Kata Hyemi, wedding dress kita sudah selesai,”

Hyejin yang mendengar kabar itu tak bisa menyembunyikan antusiasmenya. Kini tak ada rasa tertekan ataupun rasa bersalah di hati Hyejin. Tak ada senyum lirih atau senyum paksa di wajah Hyejin. Ia sudah mulai lupa dengan Kyuhyun dan hatinya sudah bisa terbuka untuk menerima kehadiran Donghae sedikit demi sedikit. Hatinya sudah bisa menerima kenyataan kalau ia akan segera menikah dengan Donghae.

“Jangan terlambat ya,” peringat Hyejin.

“Siap, bos!” jawab Donghae bak anak buah yang baru diperintah bosnya. Melihat akting konyol Donghae itu membuat kedua terlarut dalam tawa dan kegembiraan.

Apa mereka besok atau seterusnya masih akan bergembira seperti ini? Apa percintaan Donghae dan Hyejin akan berakhir happy ending dipelaminan? Who knows about tomorrow? No one, because time will change everything.

*****

“Appa, ayo sini,” ajak Jaehyun sambil menarik-narik tangan ayahnya itu. Sudah seminggu ini Jaehyun selalu bercerita tentang guru Bahasa Inggrisnya. Selalu mengumbar pujian seakan gurunya itu adalah wanita paling sempurna. Dan kini, Jaehyun ingin mengenalkan ayahnya pada gurunya itu.

“Aigo, Jaehyun-ah, pelan-pelan,” pinta appanya.

“Aniya appa, kita tidak boleh pelan-pelan. Sebentar lagi tunangannya akan menjemputnya,” jelas Jaehyun. Akhirnya appanya pun memutuskan untuk diam dan mengikuti kemana pun anaknya menarik dirinya.

“Nah, itu Sem,” seru Jaehyun sambil menunjuk pada seorang wanita yang berdiri 5 meter di depan mereka dengan posisi membelakangi anak dan ayah ini.

“Hyejin Sem!!” seru Jaehyun. Tapi sayang sekali, sepertinya suara bocah itu kalah dengan suara klakson mobil tunangan gurunya yang baru saja datang.

Hyejin sem yang tak mendengar suara Jaehyun akhirnya masuk ke dalam mobil itu.

“Yah, kita terlambat. Appa lama sih,” balas Jaehyun sedikit kecewa – sedikit kesal. Tapi reaksi berlawanan di ekspresikan oleh ayah Jaehyun.

“Appa? Waeyo?” tanya Jaehyun pada appanya yang kini tertegun. Matanya terus mengejar laju mobil tunangan Hyejin Sem.

“Hye..jin?” guman appa Jaehyun mengumandangkan nama wanita tadi.

Hatinya bergetar, getaran yang terlalu kencang hingga membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ia benar-benar tak menyangka kalau takdir akan mempertemukan mereka untuk kedua kalinya. Mempertemukan appa Jae pada gadis di masa lalunya. Ani, bukan hanya masa lalu, tapi juga masa kini, karena appa Jae tak pernah sekalipun menghapus kenangannya tentang gadis itu.

“Kyu appa, kau mengenalnya?” tanya Jaehyun penasaran.

“Aku sangat mengenalnya,”

*****

“Hyejin Sem!” seru Jaehyun saat mendapati gurunya masih menunggu tunangannya di tempat biasa. Jaehyun segera menghampirinya dan mulai bergelanyut manja. “Hyejin sem, hari ini Jaehyun ulang tahun. Aku mau mengajak sem untuk merayakannya,” ujarnya.

Hyejin yang merasa tidak enak dengan Donghae yang sudah menjemputnya berusaha untuk menolak permintaan itu, “Mianheyo, Jaehyun-ah. Hyejin sem sudah punya janji dengan tunangan sem,” balas Hyejin.

Jaehyun yang tak terima dengan penolakan mulai merajuk, “Jebal, sem,” pinta Jaehyun.

“Biasanya Jaehyun hanya merayakannya berdua dengan ayah, dan itu terasa sangat sepi. Jaehyun ingin ulang tahun kali ini sem ikut merayakan,” jelas Jaehyun.

Siapa yang tidak luluh mendengar permohonan anak polos sepertinya? Apalagi setelah mendengar fakta menyedihkan kalau ia selalu merasa kesepian ketika hari ulang tahunnya.

Akhirnya Hyejin memutuskan untuk ikut dengan Jaehyun. Ia menelpon Donghae untuk membatalkan janjinya terlebih dahulu.

“Hm, mianheyo Donghae, arraseo. Annyeong,” ujar Hyejin sebagai kalimat penutup dari perbincangannya dengan Donghae melalui telepon.

“Jadi, sem ikut?” tanya Jaehyun meyakinkan. Hyejin mengangguk mantap.

“Hore!” seru Jaehyun. Dengan segenap kekuatannya, ia menarik tangan Hyejin sambil berlari-lari kecil agar mereka segera tiba di mana mobil appanya terparkir.

“Jaehyun, pelan-pelang sayang,” ujar Hyejin, ia takut Jaehyun atau dirinya terjerembab di tanah.

“Tidak bisa Sem! Jaehyun sudah tidak sabar soalnya!” ujar Jaehyun yang membuat Hyejin tertawa.

“Appa!” seru Jaehyun yang membuat perhatian Hyejin teralihkan pada pria yang bersandar di samping mobilnya. Pria yang membuat tawa dan senyum Hyejin hilang dalam sekejap. Pria yang membuat jantung Hyejin berdetak lebih kencang. Pria yang beberapa hari lalu sudah mulai ia lupakan, tapi kini semua kenangan masa lalu seakan terputar kembali di kepala Hyejin. Kenapa dia harus muncul disaat seperti ini?

“Appa!” seru Jaehyun. Menyadari kehadiran Jaehyun dan gurunya, pria itu segera menghampiri mereka.

“Appa, ini Hyejin Sem,” ujar Jaehyun memperkenalkan gurunya.

Tak ada respon dari keduanya, baik appa atau sem. Keduanya terlarut dalam keheningan. Mata saling memandang, seakan ada yang ingin mereka ungkapkan tapi tak bisa terucapkan.

“Appa? Sem?” guman Jaehyun pada mereka berdua. Mereka tersadar dari momen yang menghipnotis mereka.

“A-a-annyeong,” sapa Hyejin, salah tingkah. Memulai aktingnya untuk berpura-pura tidak mengenal pria itu.

“Aku Cho Kyuhyun, appa Jaehyun. Ia sering sekali bercerita tentangmu, Hyejin-sshi. Sudah lama ya kita tak bertemu,” balas appa Jaehyun yang ternyata adalah Cho Kyuhyun, pria di masa lalu Hyejin.

*****

“Appa, hari ini terima kasih ya, lain kali kita ajak Hyejin Sem pergi bersama,” ujar Jaehyun yang sudah terbaring di samping Kyuhyun.

“Baiklah, tentu saja jika Hyejin Sem mau,” jawab Kyuhyun. Kyuhyun menaikkan selimut sebatas leher Jaehyun lalu mengelus dan mengecup lembut kepala Jaehyun, “Tidurlah, appa akan menemanimu sampai kau tertidur,” Jaehyun menuruti ayahnya. Ia mulai menutup mata dan meresapi kehangatan yang mengalir dari tangan ayahnya.

“Andai saja Hyejin Sem belum bertunangan, aku pasti akan menyuruh ayah segera melamarnya. Aku ingin Hyejin Sem jadi ibuku,” guman Jaehyun sebelum ia benar-benar tertidur.

Kyuhyun tersenyum lirih, “Sudahlah, jangan berpikir yang macam-macam. Cepat tidur, sayang,” ujarnya menanggapi perkataan anaknya.

Tubuh Kyuhyun setia menemani anaknya, namun pikirannya sudah menjalar pada kejadian beberapa jam yang lalu.

…..

“Happy birthday Jaehyun,” seru Hyejin dan Kyuhyun bersamaan setelah Jaehyun meniupkan lilinnya. Acara dilanjutkan dengan potong kue, lalu makan-makan.

“Eung, Hyejin, apa kabar?” tanya Kyuhyun memulai pembicaraan diantara mereka berdua.

“Aku baik,” jawab Hyejin sopan namun singkat, mengisyaratkan dirinya tidak ingin berbicara terlalu banyak dengan Kyuhyun. Ya, semua itu ia lakukan karena dirinya tak ingin ‘cinta’nya pada Kyuhyun kembali menyiksanya. Ia ingat akan tekadnya untuk melupakan Kyuhyun. Ia ingat akan Donghae, yang hatinya harus ia jaga. Ia ingat bahwa pernikahannya dengan Donghae sudah di depan mata. Ia tak ingin pria dihadapannya kembali masuk dalam kehidupannya.

“Apa kau masih marah padaku?” tanya Kyuhyun dengan mata yang menatap intens Hyejin.

“Marah? Untuk apa? Kau berbicara masa lalu? Yang berlalu biarlah berlalu, aku bahkan tidak mengingatnya. Kau tak perlu khawatirkan aku Cho Kyuhyun-nim,” balas Hyejin. Jawaban yang cukup menohok hati Kyuhyun. Hatinya tak bisa memungkiri kalau ternyata ia masih sangat mencintai Hyejin.

*****

Hyejin menatap dompet kulit yang ada di hadapannya saat ini. Ia tercekat dengan kenyataan yang terungkap dari dalam dompet itu. Ia mulai terisak. Hatinya dipenuhi oleh rasa penyesalan dan amarah.

“Kenapa baru sekarang?” gumannya entah pada siapa.

“Kenapa dia masih menyimpan foto kami berdua di dalam dompetnya?” tanya Hyejin, walau sebenarnya dia pun sudah tahu jawabannya. Ya, Kyuhyun masih mencintainya.

“Hyejin,” seru Donghae sembari mengetuk kamar Hyejin. Dengan segera Hyejin menghapus air matanya dan menyembunyikan dompet Kyuhyun yang tertinggal di restauran tadi kedalam tasnya.

“Aku boleh masuk?” tanya Donghae.

“Masuklah,” ujar Hyejin mempersilahkan.

Donghae pun masuk. Ditangannya terdapat baki, yang diatasnya tersusun beberapa jenis makanan kesukaan Hyejin. “Aku masakkan ini untukmu,” kata Donghae dengan senyum puas.

Hyejin menghampiri Donghae dan membantu Donghae membawa bakinya. “Jeongmal gomawoyo Donghae,” ucap Hyejin. Ia tersentuh dengan ketulusan Donghae.

Jadi, setelah pertemuan singkat tadi siang dan kenyataan yang baru saja terkuak, apa ia tega meninggalkan pria ini demi Kyuhyun? Hyejin tidak ingin melakukan hal itu. Donghae terlalu baik untuk disakiti. Ia tak ingin perasaan Donghae yang tulus terluka akibat egonya.

*****

Seperti biasa, Kyuhyun datang untuk menjemput Jaehyun. Tapi realita yang terjadi membuat jantung Kyuhyun berdetak kencang. Bukan Jaehyun yang menghampirinya, melainkan Hyejin.

“Hye-Hyejin? Waeyo?” tanya Kyuhyun salah tingkah, bak seorang remaja saat bersama dengan gadis pujaannya.

Hyejin menyodorkan dompet kulit yang dari tadi Kyuhyun cari keberadaannya. “Aku hanya mau mengembalikan ini,” jawab Hyejin. Singkat dan terkesan tidak bersahabat. Sebuah sikap yang membuat hati Kyuhyun terkoyak.

“Hanya itu. Selamat tinggal,” ujar Hyejin lalu berlalu.

“Kenapa kau bersikap seperti itu padaku?” tanya Kyuhyun yang membuat langkah Hyejin terhenti.

Hyejin memutar badannya. Mereka saling berhadapan dengan jarak 3 meter sebagai pembatasnya.

“Lalu kau mau aku seperti apa?” tanya Hyejin masih tetap ketus. “Kau ingin aku bersikap manja seperti dulu? Atau kau ingin aku memperhatikanmu seperti dulu? Apa kau masih mengingat masa lalu? Maaf, kalau itu maumu, aku tidak bisa. Aku bukan Song Hyejin yang tinggal di masa lalu,” balas Hyejin. Sebuah jawaban yang membuat hati Kyuhyun sangat sakit dan asa sakit itu membuat Kyuhyun kehilangan kendali otaknya. Kyuhyun menghampiri Hyejin, dan tanpa basa-basi ia segera mendekap Hyejin dan mencium bibirnya.

Hyejin meronta, berusaha menolak, tapi hal itu malah membuat Kyuhyun mengeratkan pelukannya.

Ciuman itu terasa asin, air mata keduanya menetes tanpa perintah. Air mata rasa rindu, rasa sakit, amarah, terkumpul jadi satu.

“Aku mencintaimu, Hyejin,” bisik Kyuhyun tepat ditelinga Hyejin setelah ia melepaskan ciuman itu.

Hyejin dengan segera mendorong Kyuhyun menjauh darinya. Air mata kesal terus mengalir dari matanya. Ia kesal pada Kyuhyun yang dengan mudahnya membangkitkan perasaan cinta Hyejin padanya. Ia kesal menerima kenyataan kalau ternyata, ia juga masih mencintainya.

“Tolong, jangan ambil Hyejin dariku,” sebuah suara memecah keheningan diantara Kyuhyun dan Hyejin.

“Donghae?” guman Hyejin kaget dengan kemunculan pria yang saat ini sudah menggengam tangannya erat.

“Aku mohon, jangan ganggu Hyejin. Jangan ambil Hyejin dariku,” pinta Donghae. Tanpa menunggu reaksi dari Kyuhyun, Donghae segera menarik tangan Hyejin untuk pergi dari tempat itu.

*****

Mata Hyejin tak pernah lepas dari Donghae. Sejak kejadian tadi siang, Hyejin dan Donghae tidak saling berbicara. Hyejin sudah berusaha untuk berinteraksi tapi Donghae selalu mengacuhkannya. Hati Hyejin sakit dengan sikap Donghae yang seperti itu, ia rindu dengan Donghae yang selalu bersikap lembut padanya.

“Donghae,” guman Hyejin pada Donghae yang sibuk dengan design gambarnya.

“Hyejin, mianhe, jangan sekarang, aku sedang sibuk,” dusta Donghae. Ia bukan sedang sibuk, tapi menyibukkan dirinya. Berusaha menghilangkan kekhawatirannya akibat peristiwa tadi siang.

Hyejin tak menyerah, ia berusaha mendapatkan perhatian dari Donghae. Donghae pun segera beranjak untuk menghindari Hyejin, tapi tepat dilangkah kakinya yang ke-empat, Hyejin memeluk Donghae dari belakang.

“Aku mohon, jangan bersikap seperti ini padaku. Aku sangat membutuhkanmu, Donghae,” ujar Hyejin. Suaranya bergetar, air mata mulai mengalir dari pelupuknya.

“Mianhe, Hyejin. Aku hanya takut kau akan meninggalkanku sebentar lagi. Aku ingin menghilangkan pemikiran itu dengan menyibukkan diriku sendiri,” jelas Donghae sambil mengelus lembut tangan Hyejin yang bertengger di pinggangnya.

“Aku tak akan meninggalkanmu. Aku akan menikah denganmu dan menjadi Nyonya Lee yang pantas untukmu,” ujar Hyejin.

Mendengar pernyataan Hyejin membuat hati Donghae sedikit lega. Ia memutar tubuhnya untuk menarik Hyejin kedalam pelukannya.

Ia memeluk Hyejin erat, hatinya tak sepenuhnya terobati. Meski Hyejin berkata demikian, tapi ia tahu kalau pada kenyataannya hati Hyejin tetap terpaut pada Kyuhyun.

*****

“Appa, kenapa tadi sore appa mencium sem?” tanya Jaehyun yang membuat Kyuhyun salah tingkah. Ia bingung harus berkata apa, karena berbohong pun tak ada gunanya. Jika anaknya sudah bertanya seperti itu, ia pasti sudah melihat kejadian itu dengan matanya sendiri.

“Apa appa mencintai sem?” tanya Jaehyun lagi, mengambil kesimpulan sendiri.

Dengan senyum lirih, Kyuhyun mengangguk. “Ya, appa sangat mencintainya. Dari dulu sampai sekarang, tak pernah berubah,” jawab Kyu. Jaehyun terdiam, sepertinya cukup susah untuk mencerna kalimat appanya itu.

“Kalau begitu, appa lamar saja sem! Aku juga ingin mempunyai ibu seperti sem,” cetus Jaehyun. Mungkin karena Jaehyun masih anak-anak, jadi ia tak tahu betapa sulitnya masalah ini.

“Tidak semudah itu, sem sudah mempunyai tunangan, Jaehyun,”

“Bukankah appa sendiri yang mengatakan kalau kita tidak boleh menyerah sebelum mencoba? Appa juga harus mencoba untuk mengejar sem dulu,” balas Jaehyun, yang dengan kalimat itu menumbuhkan sedikit harapan di hati Kyuhyun.

“Jaehyun janji akan membantu appa,”

Kyuhyun tersenyum senang sambil mengelus puncak kepala anaknya, “Terima kasih Jaehyun sayang,”

*****

“Jaehyun, pelan-pelan, nanti kita jatuh,” peringat Hyejin pada Jaehyun yang tiba-tiba saja mengajaknya pergi entah kemana. Ia tak memberi penjelasan. Hanya menarik lengan Hyejin sambil berseru riang, “Ayo cepat sem!”

Melihat ke-hyperaktif-an Jaehyun tak membuat Hyejin lelah atau kesal, ia justru tertawa dengan tingkahnya. Tapi saat matanya secara tidak sengaja memandang lurus ke depan, senyumnya itu hilang. Berganti dengan rasa campur aduk yang berusaha ia kendalikan. Hyejin akhirnya mengerti tujuan Jaehyun mengajaknya kesini.

Hyejin menghentikan langkahnya, membuat Jaehyun otomatis ikut terhenti. Ia melepaskan kaitan tangannya dari Jaehyun. “Mianhe Jaehyun, sem harus kembali,” ujar Hyejin, datar namun terkesan dingin.

Jaehyun adalah anak yang pintar. Ia tahu apa yang menyebabkan sem-nya tiba-tiba berkata seperti itu. Sem pasti sudah menyadari rencana yang ia buat untuk mempertemukan Hyejin dengan ayahnya.

“Sem, setidaknya dengarkan appa berbicara padamu dulu,” ujar Jaehyun sebelum langkah Hyejin terus berlanjut meninggalkan mereka. Langkah Hyejin memang terhenti, tapi ia tak mengabulkan permintaan Jaehyun. Ia tak memberikan kesempatan untuk Kyuhyun memasuki hatinya lagi.

“Mianhe, Jaehyun-ah,” hanya itu kata yang terucap dari bibir Hyejin dan ia pun kembali melanjutkan langkahnya. Air matanya yang sedari ia tahan akhirnya ikut mengalir bersamaan dengan derap langkah Hyejin. Terlalu menyakitkan baginya untuk bersikap dingin pada Kyuhyun. Terlalu pahit baginya jika mengingat waktu pernikahannya dengan Donghae sudah dapat dihitung dengan jari. Semuanya terasa begitu menyakitkan karena ia sendiri pun sadar, dirinya, dari dulu sampai sekarang hanya mencintai seorang Cho Kyuhyun. Bagaimana pun usaha Hyejin untuk membiarkan Donghae mengisi hatinya, pada akhirnya hati itu tetap terjaga untuk Cho Kyuhyun.

Kyuhyun yang sedari tadi melihat kejadian itu menyadari, kalau rencana anaknya tidak berhasil. Ia menyadari kalau harapannya untuk kembali mendapat Hyejin adalah 0%. Harusnya dari awal ia melarang dirinya untuk tidak banyak berharap karena harapan kosong itu sangat menyakitkan. Dan akhirnya ia tersadar, ternyata, saat Hyejin terus melangkah maju, hanya dia yang stagnan dan tinggal di masa lalu. Berharap Hyejin akan tetap berada disisinya.

*****

“Aku hanya ingin memberikan ini padamu,” ujar Hyejin sambil menyerahkan sebuah undangan berwarna pastel. Diatasnya bertuliskan Donghae&Hyejin’s Weeding. Melihat tulisan diatasnya membuat Kyuhyun hanya bisa terdiam, menyembunyikan hatinya yang sudah berontak. Hyejin pun demikian, ia tak berani bertemu mata dengan Kyuhyun. Hyejin takut kalau Kyuhyun akan menyadari sandiwara yang sedang ia perankan. Hyejin takut kalau Kyuhyun sadar, sikap dingin yang Hyejin tunjukan pada Kyuhyun hanyalah untuk mengkamuflase rasa cinta yang tak tertahankan.

“Annyeonghaseyo,” pamit Hyejin. Mata Kyuhyun terus menatap pada undangan tesebut. Ia tak memperdulikan punggung Hyejin yang lambat-laun menghilang. Ia tak memperdulikan Jaehyun, anaknya, yang sudah beberapa kali bertanya, “Appa, gwencana? Waeyo?” Ia hanya tertegun sampai dirinya pun tak sadar kalau segelintir air mata sudah menghiasi pipi kanannya.

“Appa? Waeyo?”

******

“Aku mohon sem, hentikan pernikahanmu. Ayahku sudah seperti zombie beberapa hari ini. Aku tak mau kehilangan dirinya. Aku tak mau menjadi sebatang kara. Hanya appa yang aku punya saat ini, sem,” pinta Jaehyun memohon belas kasihan pada Hyejin. Tak tahukah Jaehyun bagaimana perasaan Hyejin saat mendengar kalau Kyuhyun sudah seperti zombie? Hati Hyejin pun ikut menangis. Tapi lagi-lagi ia mengeraskan hatinya. Ia tak ingin bersikap egois pada Donghae.

“Mianhe,” ujar Hyejin yang mempupuskan semua harapan Jaehyun.

Jaehyun hanya bisa menyembunyikan kesedihannya di dalam hati. Ia memandang lirih buku usang yang sedari tadi sudah ia pegang. Buku diary milik tuan Cho Kyuhyun yang tanpa sengaja Jaehyun temukan kemarin malam. Satu-satunya benda yang menjadi harapan terakhir Jaehyun.

“Ini, sem,” Jaehyun memberikan buku itu pada Hyejin. “Aku memang tak mengerti bagaimana masa lalu appa dengan sem. Yang aku tahu dengan pasti adalah appaku, di masa lalu hingga saat ini hanya mencintaimu. Sedih memang menyadari kalau ayahku sendiri tidak mencintai ibu yang melahirkanku tapi aku yakin, hati appa saat ini pasti jauh lebih sakit daripada siapapun,”

*****

“Aku mandi dulu, tunggu disini ya sayang,” ujar Donghae sebelum ia benar-benar hilang dibalik pintu kamar mandi apartemennnya.

Hyejin yang ditinggal sendiri, mencari sesuatu benda dari dalam tasnya yang dapat ia gunakan untuk mengusir kebosanan. Tapi layaknya sudah digariskan oleh Tuhan, tanpa sengaja buku usang itu terjatuh. Buku yang Jaehyun berikan tadi siang. Buku itu jatuh dalam posisi terbuka, membuat kumpulan fotonya didalamnya berhamburan.

“Aku?” guman Hyejin saat menyadari kalau dialah yang menjadi objek di setiap foto tersebut. Hyejin memungut buku itu. Sebagian dirinya yang sedari tadi menahan diri untuk tidak membaca buku itu akhirnya terkalahkan. Hyejin mulai terlarut dalam tiap lembar yang bertuliskan tentang keseharian Kyuhyun selama 5 tahun belakangan ini.

Nama “HYEJIN” menjadi kata yang paling mudah untuk ditemukan dalam buku itu. Nama itu tak pernah luput dari tiap lembar buku itu seakan Kyuhyun selalu memikirkan Hyejin. Ya, memang. Karena begitulah kenyataannya.

…..

12 Juli 2005

Aku tak menyangka kalau ayahku ternyata cukup kolot. Bagaimana bisa ia menyuruhku bertunangan dengan Victoria? Hei, yang aku cintai adalah Song Hyejin. Bukan Victoria. Victoria memang bukan gadis yang buruk. Dari segi fisik pun ia punya beberapa kelebihan dari pada Hyejin. Tapi, sejak kejadian di Namsan Tower, hatiku sudah memilih Hyejin dan aku pun tak pernah membayangkan jika posisinya diganti oleh orang lain. kurasa butuh waktu untuk membuat ayah membatalkan keputusannya

20 Juli 2005

Hari ini semua tidak berjalan sesuai rencana. Didalam otakku sudah membayangkan bagaimana aku dan Hyejin akan menghabiskan anniversary pertama kami, tapi semua hal itu tidak menjadi nyata lantaran Victoria yang memintaku untuk menemaninya pergi. Ia bilang hanya 1 jam tapi pada akhirnya, seharian itu aku terkukung olehnya. Aku tak bisa pergi meninggalkan Victoria karena tawarannya, “Kalau kau menemaniku seharian ini, aku akan membatalkan pertunangan kita. Jadi kau tak perlu berselisih dengan appamu,” sebuah tawaran bagus yang sangat sayang untuk ditolak. Tapi sayang sekali, sepertinya Hyejin salah paham tentang hubunganku dan Victoria. Hyejin, tunggulah sebentar lagi, dan akan kujelaskan semuanya padamu. Aku melakukan ini agar kita bisa bersama.

23 Juli 2005

Aku hanya bisa menatap nanar punggung Hyejin. Kata “putus” yang keluar dari mulutnya membuat seluruh organ tubuhku mati suri. Aku ingin mengejarnya, menariknya dalam pelukanku, dan melarangnya pergi meninggalkanku. Tapi.. jika ia sendiri sudah berkata kalau ia tak bahagia bersamaku, apakah aku harus memaksakan egoku? Aku sangat mencintaimu Hyejin.

23 September 2005

 “Apa aku tak bisa mengganti posisi Hyejin dihatimu? Kau tak tahu jika belum mencoba. Terimalah pertunangan ini dan kita bisa memulai semuanya dari awal,” serentetan kalimat yang Victoria ucapkan berhasil membuatku luluh. Aku pun menerima pertunangan yang dari awal sudah direncanakan ini. Pernikahan pun tinggal menghitung hari. Tapi kenapa sampai saat ini, yang selalu kupikirkan hanyalah Hyejin?

27 Juli 2006

Victoria kini telah tiada. Ia meninggalkanku dan Jaehyun, anak kami, di dunia ini. Mianhe, karena sampai akhir hayatmu, aku tak bisa membuka hatiku untukmu. Hati ini hanya milik Hyejin, entah sampai kapan. Tapi terima kasih banyak atas cintamu yang menemaniku selama setahun ini. aku akan merawat Jaehyun dan menjadikannya seorang pria yang patut dibanggakan.

28 April 2012

Aku tak pernah menyangka kejadian ini akan terjadi. Tuhan kembali mempertemukanku dengan Hyejin. Hyejin yang aku rindukan. Tidak ada yang berubah, ia justru bertambah cantik. Tapi sepertinya, cintanya untukku sudah tak bersisa lagi. Jadi, apa aku tak punya kesempatan?

25 Agustus 2012

Hari ini Hyejin memberikan undangan pernikahannya padaku. Apa dia tak tahu bagaimana rasa sakit yang ada di dalam hati ini? Aku tak bisa menjadi orang munafik yang akan mendoakan Hyejin untuk berbahagia dengan pria lain.Kenyataan ini terlalu pahit.

…….

Air mata Hyejin mengalir deras. Setiap fakta yang ia ketahui dari buku itu, membuat cintanya pada Kyuhyun kembali membuncah dadanya.

“Hyejin, waeyo?!” tanya Donghae yang baru saja keluar dari kamar mandi.  Donghae segera menarik Hyejin kedalam pelukannya. Berusaha menenangkan Hyejin.

Ia tak tahu alasan Hyejin menangis sampai akhirnya ia menyadari keberadaan buku milik Cho Kyuhyun yang ada disamping Hyejin. Kini Donghae tahu siapa penyebab tangisan ini. Siapa lagi kalau bukan Cho Kyuhyun? Ternyata, hati Hyejin sampai kapan pun hanya milik Cho Kyuhyun. Air mata Donghae ikut mengalir namun ia melarang dirinya untuk terisak. Ia membiarkan hatinya menjerit dalam diam.

*****

Hari pernikahan merupakan momen yang paling bersejarah bagi tiap pasangan. Seharusnya momen itu menjadi saat yang paling berbahagia bagi kedua insan itu. Tapi bagaimana jika mereka menikah tanpa didasari cinta? Adakah kebahagian itu?

“Hyejin, gwencana?” tanya Donghae pada pengantinnya yang tampak pucat dibalik make-upnya. Hyejin menggeleng dan tersenyum seceria mungkin untuk menghilangkan kekhawatiran Donghae. Se-profesional apapun akting Hyejin, ia tak dapat membohongi Donghae yang sangat mencintainya. Donghae tahu kalau Hyejin tidak bahagia seperti yang terlihat dari senyumnya. Donghae juga tahu kalau  Hyejin tidak baik-baik saja. Dan Donghae pun tahu, di hari pernikahan mereka ini yang Hyejin pikirkan bukanlah dirinya tapi Kyuhyun.

*****

“Appa! Bangun!” seru Jaehyun pada appanya yang masih terbaring ditempat tidur meski jam sudah menunjukkan 11 a.m.

“Jangan ganggu appa, sayang,” balas Kyuhyun yang membuat kesabaran Jaehyun habis. Jaehyun pun tanpa segan-segan menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh ayahnya.

“Bangun appa! Kalau appa memang mencintai Hyejin sem, jangan lepaskan ia untuk yang kedua kalinya! Selama janji suci belum diucapkan, appa masih bisa untuk membatalkan pernikahan itu!”

“Daddy, wake up! How can you be together, If you’re not doing anything to-get-her, dad? ”

*****

Bunyi lonceng gereja mulai berbunyi. Dentingannya mengiringi langkah kaki sang pengantin wanita yang sedang berjalan menuju altar. Mata Donghae tak bisa lepas dari Hyejin. Ia benar-benar terpesona pada gadis yang ada disampingnya saat ini padahal sudah 5 tahun lamanya mereka saling mengenal.

“Baiklah, kita akan mulai ibadah pernikahan ini,” ujar sang pendeta yang memimpin prosesi pernikahan ini.

Semua mata kini tertuju pada kedua insan yang sudah berdiri di depan altar. “Apa kau, Lee Donghae, menerima Song Hyejin sebagai istrimu, yang akan menemanimu sepanjang hidupmu dalam suka maupun duka?” tanyanya pada Donghae. Tanpa keraguan, Donghae menjawab, “Ya, aku menerima Song Hyejin sebagai istriku,”

Pertanyaan kini ditujukan kepada Hyejin. “Apa kau, Song Hyejin..” tapi sebelum sempat pertanyaan itu terselesaikan, suara pintu yang terbuka menarik semua perhatian para undangan.

“Hentikan pernikahan ini, sem!” seru sebuah suara yang Hyejin kenali sebagai suara Jaehyun. Dan ternyata benar, bocah itu memang Jaehyun.

“Pendeta, lanjutkan saja,” pinta Hyejin pada pendeta. Ia tak ingin hatinya menjadi goyah jika ia melihat tampang Kyuhyun nanti.

“Apa kau, Song Hyejin..” Lagi-lagi pertanyaan itu terputus ditengah-tengah. Kalimat itu terputus berkat suara bass yang dikeluarkan oleh pria di ambang pintu gereja itu, “Hyejin, saranghae,” kalimat sederhana yang membuat Hyejin tak bisa menahan aliran air matanya.

“Aku mohon, batalkan pernikahan ini. Aku tak akan melepaskanmu untuk yang kedua kalinya Hyejin,” lanjut Kyuhyun yang membuat isakan Hyejin makin menjadi.

Donghae yang melihat semua kejadian itu, menggengam tangannya sendiri untuk menyalurkan rasa sakit yang ada di dadanya. Ia menahan air matanya sekuat tenaga dan sekali lagi ia meyakinkan dirinya, kalau keputusannya ini akan memberikan kebahagiaan untuk Hyejin dan hanya dirinya yang akan merana. Mungkin ini yang disebut, pengorbanan.

“Pak pendeta.. lanjutkan saja,” pinta Hyejin dengan suara paraunya.

“Jangan memaksakan diri Hyejin,” ujar Donghae.

“Aku tak memaksakan diri, Donghae. Aku ingin menikah denganmu,” balas Hyejin.

“Stop lying, Hyejin. Yeah, the truth hurts, but I would rather cry over the truth than to smile over a lie,” ujar Donghae lagi dengan senyum yang tak bisa menyembunyikan kesedihannya.

“Kau masih sangat mencintainya, kan? Pergilah,” ujar Donghae namun tak membuat Hyejin bergeming. Ia tetap berdiri dihadapan Donghae. Keteguhan hati yang Hyejin paksakan membuat hati Donghae makin sakit.

“Pergilah, Hyejin. Sebelum aku menangkapmu lagi dan tak akan melepaskanmu meski kau memintanya,” ujar Donghae tapi lagi-lagi Hyejin tetap terdiam.

“Atau kau ingin aku melihatmu pergi dengan air mata?” tanya Donghae, ia sudah mencapai titik tertinggi rasa sakitnya.

Hati Hyejin sangat sakit membayangkan begitu besar perngorbanan yang Donghae lakukan untuknya. Hal itulah yang membuat Hyejin masih terus berdiri dihadapan Donghae. Tapi ia juga tak dapat membohongi dirinya, Donghae, dan Kyuhyun, kalau didalam hatinya ia benar-benar masih mencintai Kyuhyun.

“Mianhe, Donghae-sshi. Aku ambil Hyejin-ku lagi. Kali ini aku akan menjaganya dan tak akan melepaskannya,” ujar Kyuhyun yang sudah berdiri disamping Hyejin. Tangan Kyuhyun kini sudah menggenggam erat tangan Hyejin, memberikan Hyejin kekuatan dan ketegaran.

“Bawa pergi Hyejin, gadis keras kepala ini dari sini,” ujar Donghae diiringi dengan tawa yang terlihat sekali sangat dipaksakan. “Ingatlah, sekali lagi kau menyakitinya, aku tak akan segan-segan merebut Hyejin darimu,” ujar Donghae.

“Aku berjanji padamu,” jawab Kyuhyun sebagai kalimat penutup pembicaraan mereka. Kyuhyun membawa Hyejin keluar dari gereja itu namun Hyejin tak sekalipun melepaskan pandangannya dari Donghae. Tersirat rasa bersalah yang amat sangat dari bola matanya.

“Hyejin, saranghae,” ujar Kyuhyun begitu mereka sudah masuk di dalam mobil Kyuhyun. Sebuah kalimat yang sudah lama ingin Hyejin dengar secara langsung dari bibir itu. Kalimat yang membuat pikiran Hyejin kini teralihkan pada Kyuhyun.

Hyejin meraba tiap seluk-beluk wajah Kyuhyun. Meyakinkan kalau dirinya tidak hanya bermimpi. Hyejin mendekatkan wajahnya pada Kyuhyun dan membunuh jarak diantara mereka dengan mencium lembut bibir Kyuhyun. “Nado. Nado, saranghae, Kyu,”

*****

“Kenapa membawaku kesini? Aku bahkan masih menggunakan baju pengantin,” ujar Hyejin.

Kyuhyun tersenyum, “Aku ingin mengingat pertemuan pertama kita,”

Keduanya terdiam. Membiarkan udara yang berhembus di Namsan Tower ini membawa ingatan mereka kembali ke masa yang lalu.

“Aku ingin kita memulai semuanya dari awal lagi,” kata Kyuhyun memecah keheningan.

“Ya, kau benar,” balas Hyejin dengan senyum lembutnya yang mengisyaratkan kebahagiaan.

“Kalau begitu, kita resmi berpacaran sekarang?” tanya Kyuhyun pada Hyejin yang membuat Hyejin tertawa.

“Jadi begitu caramu mengajakku berpacaran lagi? Kau tidak pernah menjadi pria yang romantis!” seru Hyejin kesal dengan niat setengah bercanda.

“Oke, oke, i will do as you wish,” ujar Kyuhyun pasrah.

Kyuhyun berlutut dihadapan Hyejin, tak peduli dengan mata yang memandang mereka. Saat ini dunia serasa milik berdua bagi mereka, “Song Hyejin, would you be my girl?”

“If i say, no?”

Kyuhyun menghela nafasnya, ia tahu kalau Hyejin hanya mengerjainya, “The day I’ll go on again my knees for another girl.. is the day I’ll tie a shoe lace for our daughter. So, please, let me be your man,” ujar Kyuhyun yang membuat Hyejin tak kuasa untuk menolak.

“Aku terima pernyataanmu. Tapi aku mohon, jangan lepaskan aku lagi bagaimana pun keadaannya,” pinta Hyejin.

“Arraseo, Hyejin sayang,” balas Kyuhyun. Tersirat kebahagian dari raut wajah keduanya. Tapi sepertinya ada sesuatu yang mereka lupakan.

“Kita lupa membawa Jaehyun bersama kita,” ujar Hyejin yang tersadar kalau Jaehyun tak ada bersama mereka saat ini. Kemungkinan, Jaehyun masih tertinggal di gereja.

“Tak apa, aku ingin berdua bersamamu lebih lama,” balas Kyuhyun dengan senyum jahilnya.

*****

“Berhentilah mengikutiku,” ujar Donghae pada gadis yang sedari tadi mengikutinya dengan sembunyi-sembunyi. Gadis itu yang merasa kedoknya telah ketahuan, akhirnya menampakan dirinya.

“Mianheyo,” ujar gadis itu dengan penuh rasa bersalah.

“Kenapa kau mengikutiku?” tanya Donghae, emosinya belum stabil mengingat pernikahannya dengan gadis yang sangat ia cintai batal beberapa jam yang lalu.

“A-aku,” gadis itu tak bisa menyelesaikan kalimatnya dengan jelas. Ia tebata-bata karena ragu untuk menyampaikan pemikirannya.

“Waeyo?”

“A-aku hanya takut kau akan melakukan hal yang aneh. Seperti..”

“Bunuh diri, maksudmu?” tebak Donghae seakan sudah bisa membaca pikiran gadis itu. Donghae tersenyum, menyakitkan rasanya melihat senyum lirih itu.

“Andaikan saja ada laut di depanku ini, aku pasti sudah lompat dari tadi,” balas Donghae, setengah frustasi. Meski tadi ia merelakan Hyejin pergi tapi sebagian kecil dari dirinya masih belum bisa melepaskan Hyejin.

“Ja-jangan lakukan itu!” seru gadis tadi yang membuat Donghae tersontak kaget.

“Kenapa? Apa aku masih punya alasan hidup jika orang yang kucintai akan bahagia dengan pria lain?”

“Sometimes God doesn’t want to give you something you want. Not because you don’t deserve it, but because you deserve more,” ujar gadis itu. Kalimat yang diucapkan gadis itu seakan menyembuhkan sedikit luka di hati Donghae.

“Siapa namamu?” tanya Donghae pada gadis itu.

“Shim Johee, sepupu Hyejin,” ujar gadis itu memperkenalkan diri.

“Shim Johee, terima kasih,” balas Donghae. Donghae menyunggingkan senyumnya. Terlihat sebuah pengharapan baru dari wajahnya.

Gadis itu seperti tersihir oleh senyum Donghae. Kini bibirnya ikut tertarik membentuk sebuah senyuman, “God only makes HAPPY endings. If you’re not happy today, then it’s NOT the END. Lee Donghae, Himnae!”

*****

—EPILOG—

“Yaa, Hyejin-ah, kau tak berubah. Masih saja rakus. Kalau kau gendut bagaimana? Makanlah pelan-pelan,” ujar Kyuhyun sambil menghapus saos yang ada diujung bibir Hyejin.

“How could you said something like that to your princess, Kyu?” protes Hyejin.

“Princess? Who?” tanya Kyuhyun, tentu saja ia pura-pura tak mengerti. Ia hanya ingin mengganggu gadisnya itu.

“I’m your princess. Who else?”

“No. You’re not,” balas Kyuhyun.

“Why i’m not?” tanya Hyejin. Wajahnya cemberut. Memang itu yang diinginkan Kyuhyun.

Kyuhyun menyeringai, lalu bangkit dari bangkunya dan menangkup dagu Hyejin. Kyuhyun dapat melihat jelas wajah cantik Hyejin saat ini. Sedikit-demi-sedikit wajah mereka saling mendekat lalu bibir milik keduanya bertemu dalam waktu yang singkat, “Because you’re my Queen, dear Hyejin,”

Hyejin tak membalas pernyataan itu, tapi senyum yang mengembang diwajahnya seakan menggambarkan kalau ia terlarut dalam romantisme Kyuhyun.

“Ehem, daddy, sem, we’re still in restaurant now,” ujar Jaehyun yang menyadarkan mereka berdua. Tak ada raut penyesalan atau rasa malu diwajah mereka. Hanya kebahagian yang akhirnya mereka dapatkan setelah melalui berbagai liku kehidupan.

Yeah, because happiness is not a goal, it is a journey.

END.