Annyeong chingudeul! :))

author kembali dengan ff sequel dari Way Back Into Love ^^
karena semua pada kasihan sama Donghae, jadi author bikin sequelnya hehehe
seperti sebelumnya, original idea ini by Shin Chae Kyung onnie or kyungrainbee
written by esterong
dedicated to JoHae couple hehe

enjoy reading (งˆヮˆ)ง

*****

“Johee!” seru sebuah suara. Gadis itu, Johee, yang merasa terpanggil, mengedarkan tatapannya kepada para penjemput yang sudah menunggu di pintu keluar bandara Incheon.

“Johee-ah!” seru suara itu lagi. Kini, orang yang berseru tadi juga melambai-lambaikan tangannya untuk mempermudah Johee menemukannya.

“Hyejin!” seru Johee setelah menyadari keberadaan sepupu yang menjemputnya itu.

Johee segera berlari ke arah Hyejin dan menyambarnya dengan pelukan. “Long time no see, Hyejin. I miss you!” seru Johee.

“Nado, Johee,” balas Hyejin. Johee yang menyadari keberadaan 2 pria lain dibelakang Hyejin, akhirnya melepaskan pelukannya.

“Annyeonghaseyo, Johee noona,” sapa seorang anak laki-laki berumur 8 tahun yang Hyejin bawa.

“Aigo, Jaehyun! Noona miss you so much! You’re so handsome!” seru Johee, sembari mencium pipi kiri dan kanan bocah itu.

“Handsome like his father,” sahut sebuah suara. Johee mengalihkan perhatiannya dan mendapati ayah dari anak tersebut sudah berdiri dihadapannya.

“Hello, Kyuhyun oppa, long time no see,” sapa Johee dengan gayanya yang ceria.

“Hai, Johee,” balas Kyuhyun dengan senyum mempesonanya. Tapi untuk Johee, senyum itu tak memberikan efek apapun. Johee sudah menganggapnya seperti saudara, meski jarang bertemu dengan Kyuhyun.

“Kita pulang sekarang?” ajak Kyuhyun yang disetujui oleh kedua wanita itu. Mereka tak sabar untuk memulai cerita diantara mereka.

*****

“Kenapa kau tak tinggal di rumahku saja?” tanya Hyejin. Johee menggeleng, “Kalau aku tinggal bersama keluargamu, aku tak akan jadi mandiri. Kalau begitu, tak ada gunanya aku kembali kesini,” ujar Johee.

“Tapi kau tak bisa memasak.. Ani, kau bahkan tak bisa mengurus dirimu sendiri,” timpal Hyejin mengkhawatirkan kelangsungan hidup sepupunya ini.

Johee tertawa, “Aku tahu itu, karena itu aku sengaja untuk hidup di apartemen sendiri. Lagipula, ayah memberikan apartemen itu padaku agar aku lebih mudah untuk menjalankan tugasku,” jelas Johee.

Hyejin memandang Johee dengan penuh selidik, ia yakin ada sesuatu yang Johee sembunyikan.

“Tapi mengapa tiba-tiba kau ingin jadi pewaris bisnis ayahmu? Bukankah selama ini kau ingin menjadi fotografer? Tak mungkin seorang Johee semudah itu menyerah demi cita-citanya. Pasti ada alasan yang kuat sehingga kau memutuskan untuk melanjutkan bisnis ayahmu dan menetap di Seoul ini,”

Johee terdiam. Dalam jangka waktu sekian detik itu, ingatannya kembali memutar memori otaknya tentang kejadian setahun yang lalu. Dimana dirinya, akhirnya, terjerumus dalam problematika kehidupan yang paling rumit: Cinta

……

“Berhentilah mengikutiku,” ujar Donghae pada gadis yang sedari tadi mengikutinya dengan sembunyi-sembunyi. Gadis itu, yang merasa kedoknya telah ketahuan, akhirnya menampakan dirinya. “Mianheyo,” ujar gadis itu dengan penuh rasa bersalah.

“Kenapa kau mengikutiku?” tanya Donghae, emosinya belum stabil mengingat pernikahannya dengan gadis yang sangat ia cintai batal beberapa jam yang lalu. “A-aku,” gadis itu tak bisa menyelesaikan kalimatnya dengan jelas. Ia terbata-bata karena ragu untuk menyampaikan pemikirannya.

“Waeyo?”

“A-aku hanya takut kau akan melakukan hal yang aneh. Seperti..”

“Bunuh diri, maksudmu?” tebak Donghae seakan sudah bisa membaca pikiran gadis itu. Donghae tersenyum, menyakitkan rasanya melihat senyum lirih itu.

“Andaikan saja ada laut di depanku ini, aku pasti sudah lompat dari tadi,” balas Donghae, setengah frustasi. Meski tadi ia merelakan Hyejin pergi tapi sebagian kecil dari dirinya masih belum bisa melepaskan Hyejin.

“Ja-jangan lakukan itu!” seru gadis tadi yang membuat Donghae tersontak kaget. “Kenapa? Apa aku masih punya alasan hidup jika orang yang kucintai akan bahagia dengan pria lain?”

“Sometimes God doesn’t want to give you something you want. Not because you don’t deserve it, but because you deserve more,” ujar gadis itu. Kalimat yang diucapkan gadis itu seakan menyembuhkan sedikit luka di hati Donghae.

“Siapa namamu?” tanya Donghae pada gadis itu.

“Shim Johee, sepupu Hyejin,” ujar gadis itu memperkenalkan diri.

“Shim Johee, terima kasih,” balas Donghae.

Donghae menyunggingkan senyumnya. Terlihat sebuah pengharapan baru dari wajahnya. Gadis itu seperti tersihir oleh senyum Donghae. Kini bibirnya ikut tertarik membentuk sebuah

senyuman, “God only makes happy endings. If you’re not happy today, then it’s not the end. Lee Donghae, Himnae!”

……

Jadi, mengapa Johee merelakan cita-citanya dan memilih untuk meneruskan perusahaan ayahnya? Karena, sejak peristiwa setahun yang lalu, cita-cita Johee bertambah satu, yaitu: Menjadi gadis yang akan membuat Donghae berkata, ‘I love you,’

Lalu mengapa Johee memutuskan untuk menjalankan perusahaan yang ada di Seoul? Tidak di Amerika atau di China? Ya, tentu saja, karena Donghae adalah Eksekutif Manager di perusahaan Shim Cooperation yang ada di Seoul. Johee sengaja memilih Seoul untuk menghapus jarak yang selama ini membuat Johee terpisah dengan Donghae.

Analisis Hyejin 100% benar. Johee memang punya alasan kuat untuk menetap di Seoul. Tapi untuk saat ini, sulit bagi Johee untuk memberitahukan yang sesungguhnya. Johee tak ingin membangkitkan rasa bersalah Hyejin pada Donghae.

“Jadi, alasan apa yang membuatmu sampai berada disini?” tanya Hyejin sekali lagi. Menyadarkan Johee dari lamunannya.

“Rahasia,” jawab Johee sambil menyengir kuda.

“Kita sampai ladies,” seru Kyuhyun setelah mobil yang mereka tumpangi berhenti di salah satu apartemen ternama di Seoul.

“Kalau kau kelaparan dan tak bisa masak, calling me. Okay? Aku tak mau saat berkunjung ke apartemenmu, kau sudah menjadi manusia tengkorak,” ujar Hyejin yang membuat Johee tertawa.

Johee menyentuh pelipisnya dengan ujung jari tangan kanan yang ia rapatkan, seolah memberi hormat pada Hyejin. “Algeutsemnida Hyejin aggashi,” seru Johee yang membuat Hyejin, Kyuhyun, dan Jaehyun tertawa.

“Terima kasih banyak sudah menjemput dan mengantarku. Hati-hati dijalan,” ujar Johee.

*****

Johee tersenyum takjub dengan design interior apartemennya. Ayahnya ternyata sudah mempersiapkan semuanya sesuai dengan karakteristik Johee. Mungkin ini adalah salah satu cara yang ayahnya gunakan agar Johee betah dengan pekerjaannya.

Johee menyeret kopernya dan meletakkannya sembarangan di ruang tamu itu. Ia melempar tubuhnya ke sova untuk mengistirahatkan punggungnya yang seharian kemarin tidur dengan posisi duduk.

Kesunyian yang ada di tempat ini membuat imajinasi Johee bekerja. Ia mulai membayangkan bagaimana hari-harinya nanti selama di Seoul, bagaimana wajah Donghae sekarang, apa yang harus ia lakukan saat bertemu dengan Donghae nanti.

Saat sedang asyik dengan khayalannya, perut Johee tiba-tiba meronta minta diisi. Dengan langkah menyeret akibat rasa malas, ia membawa dirinya menuju kulkas. Untung saja, kulkas itu sudah terisi dengan sayur, buah-buahan, daging, juga ikan. Namun sayangnya, semua itu masih mentah. Perlu proses masak-memasak dulu untuk menjadikan mereka makanan siap santap. Tapi, seperti yang sudah Hyejin katakan tadi, memasak adalah masalah bagi Johee.

*****

Donghae gelisah, ia memutar badannya yang tergeletak ditempat tidur, ke kanan lalu ke kiri beberapa kali. Ia menarik selimutnya sampai membenamkan seluruh wajahnya, tapi hal yang mengganggunya belum hilang. Ia menutup menyumpal telinganya dengan earphone, juga menutup telinganya dengan bantal, tapi suara yang sangat berisik dari apartemen sebelah tak hilang juga.

“Aish jinja! Apa yang sedang dilakukan anak tuan Shim di apartemennya?!” seru Donghae melampiaskan kekesalannya. Tentu saja ia kesal, ia sudah sangat lelah dan ingin tidur, tapi bagaimana jika situasinya berisik seperti sekarang ini?

Ingatan Donghae sesaat kembali pada situasi pagi tadi, saat tuan Shim meneleponnya, dan mengatakan kalau anaknya akan mulai mempelajari bisnisnya di kantor cabang Seoul yang Donghae pimpin. Donghae juga diberikan tanggung jawab penuh untuk mengajari anaknya tersebut dan menjaganya selama di Seoul. Dan untuk lebih memudahkan Donghae, ayahnya membeli apartemen kosong yang tepat disebelah Donghae. Awalnya Donghae berpikir kalau itu hal yang lumayan bagus, tapi jika situasinya jadi seperti ini? Donghae mengacak rambutnya, menyadari mungkin kehidupannya ke depan tak akan setenang dulu.

…..

“Hello, miss? What’s going on there?” tanya Donghae sambil mengetuk pintu apartemen milik anak tuan Shim itu. Gadis itu tak menjawab, tapi suara teriakan ‘KYAA’, suara benda jatuh ‘BRAK’, dan suara letusan ‘BOOM’ yang saling bersahutan membuat Donghae memutuskan untuk masuk ke dalam.

Ia memutar kenop pintu apartemen itu, dan sedikit terheran karena pintu itu tak terkunci. “Geez, nona ini. Apa yang ada dipikirannya sampai ia tak mengunci apartemennya?”

“What the hell she’s doing here?” gerutu Donghae yang sudah kesekian kalinya. Bau gosong dan asap memenuhi tiap partikel udara di tempat ini. Ia menutup hidungnya, dan mengibaskan asap yang menutupi pandangan matanya. Akhirnya ia bisa melihat ada seorang gadis di dapur apartemen ini. Gadis itu berdiri membelakangi Donghae sehingga ia tak dapat melihat wajahnya. Donghae menghampiri gadis itu, ingin segera menyelesaikan semua kekacauan yang disebabkan oleh gadis yang belum ia kenal.

“Miss, can i help you?” tanya Donghae. Gadis itu menengadahkan wajahnya untuk menatap Donghae yang lebih tinggi darinya.

“Can you help me to make my… ” suara Johee tenggelam sebelum ia sempat mengakhiri kalimatnya. Kini keduanya tertegun, mata keduanya sedikit membesar akibat rasa kaget. Mereka masih terdiam, seakan memastikan apa yang ada dihadapan mereka ini adalah mimpi atau kenyataan.

“Lee Donghae?” guman Johee.

“Shim Johee? Kenapa kau bisa berada disini? Apa yang kau lakukan?” tanya Donghae bingung.

“I’m cooking,” balas Johee dengan senyumnya.

“Cooking?” tanya Donghae sekali lagi, meyakinkan kalau ia tak salah dengar. Ia memperhatikan kondisi apartemen ini yang sudah sangat kacau dan banyak sisi dinding yang sudah berubah warna menjadi hitam. Donghae menghela nafas dan mengacak rambutnya tanda ia frustasi,  “Berikan padaku,” ujarnya sambil mengambil penggorengan yang sedari tadi Johee pegang.

*****

“Semua pegawai disini selalu datang pukul 09.00 dan pulang pada pukul 19.00. Eksekutif Manager kami yang sekarang, Tuan Lee, sangat memikirkan para pegawainya sehingga jam pulang yang dulunya pukul 22.00 diundurkan 3 jam. Ia tak ingin, waktu kami dengan keluarga tersita karena pekerjaan,” jelas Sekretaris Yoon. Johee tersenyum mendengar hal itu. Keyakinannya benar, Donghae memang seorang pria yang sangat baik. Johee dan Sekretaris Yoon melanjutkan perjalanan mereka. Sekretaris Yoon menjelaskan setiap detail tentang kantor ini dan Johee mendengarkannya dengan seksama.

“Dan ini adalah ruangan anda, nona Johee,” ujar Sekretaris Yoon.

“Bangapseumnida, sekretaris Yoon,” balas Johee. Johee masuk kedalam ruangannya dan mulai meneliti arsitektur ruangan ini. Ia menemukan sebuah pintu disisi kanan tembok ruangan itu. Ia membuka kenop pintu itu dan betapa kagetnya ia saat mendapati sebuah ruangan lain yang memiliki design interior yang sama dengan ruangannya.

Tanpa berpikir panjang, Johee membiarkan kakinya membawanya masuk ruangan itu. Ia menjelajah dan terhenti di depan meja kerja ruangan itu. Ia mengambil salah satu pigura yang ada diatasnya. Ada foto Hyejin di meja itu. Bagaimana bisa?

“Jangan masuk ruangan orang lain seenaknya,” ujar sebuah suara dari belakang Johee. Dengan segera Johee meletakan foto itu dan berbalik untuk minta maaf. Tapi bukannya minta maaf, ia malah terdiam memandang lekat pria yang ada dihadapannya.

“Lee Donghae?” guman Johee.

“Ne. Ini ruanganku. Ppali, kembali ke ruanganmu. Kau harus mempelajari dokumen-dokumen yang sudah kubawa,” ujar Donghae. Meskipun ekspresinya datar dan tak memperlihatkan emosinya, tapi dari suaranya tidak ada keramahan dan kelembutan. Hal itu membuat Johee gundah. Pikiran yang negatif mulai merajalela otaknya, misalnya: Donghae ternyata masih mencintai Hyejin.

Donghae hendak keluar dari ruangannya, tapi tangan Johee yang bertengger di lengan kemejanya, membuat langkah Donghae terhenti. Ia memutar badannya dan menatap Johee datar, “Waeyo?” tanyanya.

Johee menatap Donghae lirih. Tatapan yang tanpa kehangatan itu membuat hati Johee sakit. Dan rasa sakit itu membuat hatinya tak kuasa menahan perasaan yang sudah ia pendam selama setahun ini, sampai akhirnya kata-kata itu keluar dengan sendirinya. “Aku menyukaimu, Lee Donghae,”

Donghae menghempaskan tangan Johee dari kemejanya. “Perlukah aku menjawabnya? Kurasa kau sendiri sudah tahu jawabannya,” balas Donghae.

“Ja.. jadi, kau masih menyukai Hyejin?” tanya Johee memastikan.

“Ya, aku masih sangat mencintainya,” balas Donghae. Tidak keraguan dari suaranya ataupun tatapannya. Hal itu membuat Johee merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya terutama dihatinya. Tapi, apakah Johee akan menyerah begitu saja?

Johee mengusap air mata yang nyaris mengalir dari ujung matanya. Ia mengepal tangannya erat untuk memberi kekuatan pada dirinya sendiri. “Baiklah,” ucap Johee menggantung. “Mulai sekarang, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku,” lanjutnya.

“Cobalah, tapi aku tak akan bertanggung jawab atas air matamu,” balas Donghae dingin.

Hamun dapat mengerti mengapa Donghae kini jadi begitu dingin. Namun tetap saja sikapnya itu membuat hati Johee lagi-lagi merasa sakit.

Tekad Johee sudah bulat. Ia akan berusaha untuk meluluhkan hati Donghae. “Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, Lee Donghae,”

*****

Johee menggenapi perkataannya. Ia berjuang keras untuk membuat Donghae mencintainya, salah satunya dengan mengikuti kemana pun Donghae pergi, untuk mencari tahu tentang apa yang Donghae suka atau tidak suka. Hari ini, seminggu tepat setelah kejadian itu, berarti sudah seminggu pula Johee menjadi stalker Donghae sementara.

Johee berjalan beberapa meter di belakang Donghae. Ia sedang mengikuti Donghae yang hendak pergi entah kemana. Tapi tiba-tiba saja Donghae menghentikan langkahnya dan berbalik dengan cepat sehingga tak ada waktu untuk Johee bersembunyi.

“Yaa Shim Johee! Berhenti mengikutiku!” seru Donghae, sepertinya ia sudah menyadari kehadiran Johee dari tadi.

Johee menyengir, “Oh, annyeong Donghae oppa! Kita bertemu disini,” ujar Johee berdalih. Ia berakting seakan mereka bertemu karena ketidak-sengajaan.

“Oppa? Kau memanggilku oppa?” tanya Donghae tak percaya dengan pendengarannya. Hamun mengangguk excited sebagai jawaban.

Donghae menghela nafas, lelah menghadapi gadis bebal yang ada dihadapannya. “Kau mau apa dariku?” tanya Donghae pasrah.

“Ah, aniya. Aku sedang tak ingin apa-apa darimu. Kau mau kemana?” tanya Johee.

“Supermarket,”

“Aku ikut!”

“Aish, jinja..” hanya gerutuan itu yang bisa ia keluarkan, karena Donghae sangat tahu, melarangnya pun tak ada gunanya.

…..

Selama berbelanja, mata Johee tak pernah lepas dari Donghae. Ia mengamati setiap benda yang Donghae ambil dan masukkan ke dalam keranjang.

Tapi saat mereka memasuki area yang menjual coklat, tiba-tiba saja mata Johee melihat dark coklat kesukaannya. Ia segera menarik tangan Donghae dan membawanya ke tempat itu.

“Belikan aku ini,” pinta Johee.

“Aku tak mau. Kenapa kau tak beli sendiri?”

“Aku tak bawa uang. Jebal, sudah lama aku tak makan coklat ini,” rengek Johee.

“Aish!” lagi-lagi Donghae mendesah kesal. “Hyejin tak pernah merepotkanku seperti ini,” guman Donghae namun sayang sekali Johee mendengarnya.

Hati Johee sakit. Ia sedih dibanding-bandingkan seperti itu, terutama jika perbandingannya adalah Hyejin. Johee tahu dirinya kalah jauh dari Hyejin. Tapi ia tak mau menunjukkan kesedihannya, ia tetap tersenyum dan tetap menjadi dirinya.

“Aish, arraseo. Aku memang tak sebaik Hyejin. Tapi, tetap belikan aku ini,” ujar Johee sambil memasukan coklat itu ke dalam keranjang Donghae. Johee berlalu lebih dulu, berjalan di depan Donghae agar air matanya yang dari tadi ingin keluar tidak ketahuan oleh Donghae.

“Johee, jangan menyerah,” guman Johee menyemangati dirinya sendiri.

*****

‘Annyeong Donghae oppa, sedang apa? Kau sudah sampai di apartemenmu? Sudah makan? Apa kau mau langsung istirahat?^^’

Send to : Donghae❤

From : Johee

Johee tersenyum-senyum sendiri menatap pesan yang baru saja ia kirim untuk Donghae. Hatinya berdebar kencang menanti balasannya. Tapi, meski 10 menit telah berlalu, ponsel Johee tak kunjung bergetar. Artinya, tak ada sms yang masuk.

‘Donghae oppa, kau sudah tidur? Kau sudah makan, belum?’

Send to : Donghae❤

From : Johee

Lagi-lagi Johee mengirimkan sms untuk Donghae. Tapi hasilnya tetap sama. Meski sudah 15 menit menunggu, Donghae tak kunjung membalas sms itu. Johee kesal dengan sikap Donghae. Ia tak lagi mengirimnya sms, tapi langsung meneleponnya.

……

Ringtone ponsel Donghae berbunyi. Donghae megambil ponselnya dan melihat nama penelepon di layar ponselnya. “Aish! Apa mau gadis itu?!” gerutu Donghae kesal. Ia terdiam sebentar. Berpikir, telepon itu diangkat atau tidak. Akhirnya ia memutuskan untuk mengangkatnya, karena jika ia tak mengangkatnya, maka Johee akan menelponnya terus menerus.

“YA! Kenapa kau tak membalas smsku?!” seru Johee, bahkan sebelum Donghae mengatakan ‘yoboseyo?’ seperti yang biasa dilakukan dalam etiket bertelepon.

“YA! Mengapa kau berteriak?! Aku punya hak untuk membalas atau tidak!” balas Donghae. Entah mengapa, jika bersama gadis ini emosinya mudah sekali terpancing. Ia sendiri menyadari kalau setelah insiden setahun yang lalu, dirinya berubah menjadi pria yang dingin. Tapi, ia tak pernah meledak seperti ini pada siapapun kecuali gadis bernama Shim Johee itu.

“K-k-kau.. benar,” balas Johee. Donghae dapat mendengar suaranya bergetar. Donghae menghela nafasnya untuk mengendalikan emosinya. Ia tersadar, mungkin dirinya sudah kelewatan memarahi Johee.

“Ta-ta-tapi kalau aku yang sms, kau harus membalasnya. Kalau kau sangat malas, setidaknya balaslah smsku dengan tanda titik, atau koma, atau tanda tanya. Aku sangat khawatir. Takut sesuatu yang buruk terjadi padamu,” lanjut Johee. Kata-kata yang penuh perhatian itu akhirnya mampu meredam emosi Donghae dan malah membuat Donghae merasa bersalah dengan Johee.

“Arraseo. Mianhe,” balas Donghae. “Jadi, kenapa kau menelponku?” tanya Donghae balik.

“Aku hanya rindu padamu,” balas Johee. Donghae tercekat dengan jawaban itu, tapi ia berusaha untuk bersikap setenang mungkin.

“Apa kau sudah makan?” tanya Johee.

“Belum. Kurasa aku tak akan makan kali ini. Aku tak punya tenaga untuk memasak,” jawab Donghae. Ia sendiri tak sadar kalau mulutnya mengucapkan hal itu. Ia bukan tipe orang yang suka menceritakan kemalangannya.

“Akan kumasakan untukmu! Aku ke apartemenmu sekarang!” ucap Johee penuh antusias. Donghae terperanjat. Ia hendak melarang Johee untuk datang, tapi sambungan telepon itu terputus lebih dahulu. Belum sempat Donghae menelpon balik, pintu apartemennya sudah diketok oleh… siapa lagi kalau bukan Johee?

“Hai Donghae oppa,” sapa Johee tepat setelah pintunya terbuka. Belum sempat Donghae berucap, Johee sudah melenggang masuk ke apartemen Donghae. Ia segera menuju dapur dan mengeluarkan bahan makanan yang ia bawa dari apartemennya.

“Kau duduk saja, aku akan membuat masakan yang enak untukmu!” seru Johee.

Donghae mengikuti perintah Johee. Ia tak punya tenaga untuk berdebat. Yang ia lakukan saat ini hanya berdoa, agar apartemennya tak berubah seperti apartemen Johee.

“AWW, BRAK, PRANG, BOM” suara-suara itu bersahutan terdengar. Donghae hanya menundukan kepalanya diatas meja makan. Ia tak ingin melihat kondisi dapurnya sekarang, ia takut emosinya terpancing lagi.

…..

“Ini steak?” tanya Donghae saat makanan yang sudah Johee buat tersaji didepannya. Sebuah daging, yang entah bagaimana caranya bisa berwarna hitam legam.

Johee tersenyum lebar, “Steak buatan Johee, spesial untuk Donghae oppa,” balas Johee.

Donghae mengambil pisau dan garpunya. Ia mencoba memotong daging itu. Sangat susah, sampai Donghae harus mengerahkan seluruh tenaganya.

Donghae memasukan daging itu kedalam mulutnya. Johee menatap Donghae penuh harap, ingin mendengar komentar Donghae untuk masakannya.

Donghae tak memberikan komentar apapun. Ia berdiri dari duduknya, berjalan menuju dapur dengan membawa piring yang berisikan daging tadi. Mata Johee terus mengikuti Donghae, tapi ia tak tahu apa maksud Donghae, sampai akhirnya ia melihat Donghae membuang daging berserta sayur mayurnya ke tempat sampah.

“Ke-ke-kenapa kau membuangnya?” tanya Johee lirih. Hatinya sakit melihat masakan yang sudah ia buat dengan susah payah dibuang begitu saja.

“Kau pikir aku bisa makan masakan ini?” sindir Donghae. “Seumur hidup, aku belum pernah makan masakan seperti ini. Bahkan masakan yang Hyejin kategorikan ‘sangat gagal’, rasanya tak seperti ini,” lanjut Donghae.

Kini rasa sakit Johee berlipat ganda. Tak hanya karena masakannya yang dibuang tapi juga karena lagi-lagi ia dibandingkan dengan Hyejin. Johee mengeratkan genggamannya pada kain celananya. Ia melarang air matanya mengalir saat ini.

“Pulanglah,” ujar Donghae sambil menarik Johee keluar dari apartemennya. Johee tak memberontak, hatinya terlalu lelah saat ini.

“Jangan pernah mengikutiku, mengirimiku sms, atau menelponku lagi,” ujar Donghae. Sedetik kemudian, pintu itu pun tertutup. Bersamaan dengan itu, pertahanan Johee runtuh. Ia jatuh terduduk dan menangis. Ia membekap mulutnya agar Donghae tak mendengar isakannya.

*****

Johee berjalan beberapa meter di belakang Donghae. Ia sedang mengikuti Donghae yang hendak pergi entah kemana. Meskipun sudah berulang kali Donghae melarangnya, tapi hati dan otak Johee tak mau menurut. Ia tetap saja mengikuti Donghae walau tahu kalau ia akan dimarahi Donghae, atau Donghae akan membandingkannya dengan Hyejin, dan lagi-lagi hatinya tersakiti.

Tiba-tiba saja Donghae menghentikan langkahnya dan berbalik dengan cepat sehingga tak ada waktu untuk Johee bersembunyi.

“Yaa Shim Johee! Sudah keberapa kalinya aku mengatakan, berhenti mengikutiku!” seru Donghae, sepertinya ia sudah menyadari kehadiran Johee dari tadi.

Johee menyengir, “Oh, annyeong Donghae oppa! Kita bertemu disini,” ujar Johee berdalih. Ia berakting seakan mereka bertemu tanpa disengaja.

Donghae menghela nafas, lelah menghadapi gadis bebal yang ada dihadapannya. “Kau mau apa dariku?” tanya Donghae pasrah.

“Ah, aniya. Aku sedang tak ingin apa-apa darimu. Kau mau kemana?” tanya Johee.

“Makan siang,”

“Aku ikut!”

“Aish, jinja..” hanya gerutuan itu yang bisa ia keluarkan, karena Donghae sangat tahu, melarangnya pun tak ada gunanya.

*****

“Hyejin, kapan kau akan menyerahkan undangan pernikahan ini untuk Donghae?” tanya Kyuhyun ditengah makan siangnya bersama Hyejin.

Hyejin tersenyum masam, “Aku harap secepatnya. Tapi aku masih tak berani. Aku masih merasa bersalah dengan Donghae,”

“Aku mengerti perasaanmu,” balas Kyuhyun sambil mengelus tangan Hyejin yang digenggamnya.

Tiba-tiba saja mata Hyejin menangkap kedatangan sepasang pria dan wanita baru saja memasuki cafee ini. “Johee? Donghae? Mereka saling mengenal?” tanya Hyejin pada dirinya sendiri. Kyuhyun yang tak mengerti, akhirnya mengikuti arah pandangan Hyejin.

“Mereka saling mengenal?” tanya Kyuhyun pada Hyejin yang Hyejin jawab dengan bahunya. Ia sendiri tak tahu bagaimana bisa Johee dan Donghae saling berkenalan. Rasa penasaran itulah yang membuat Hyejin dan Kyuhyun menghampiri meja Johee dan Donghae.

…..

“Jadi oppa dan Johee sudah lama saling mengenal?” tanya Hyejin yang kini sudah duduk bersama di meja Donghae dan Johee. Johee tak tahu harus menjawab seperti apa, jadi ia hanya menganggukan kepalanya.

Hyejin terdiam sesaat, ia tampak seperti berpikir. “Jadi, alasanmu pindah ke Seoul adalah untuk mengejar Donghae oppa? Iya, Johee? Dari awal aku sudah merasa aneh jika kau datang ke Seoul hanya untuk belajar hidup mandiri,” tebak Hyejin yang tepat sasaran.

Hal itu membuatnya mati kutu menahan malu tapi ia juga penasaran dengan reaksi Donghae oppa. Ia melirik pria yang disampingnya, tapi ternyata Donghae tak memperdulikan kata-kata Hyejin. Donghae hanya terdiam sambil menatap lekat Hyejin tanpa berkedip. Hati Johee mencelos dengan kenyataan itu tapi tak ada yang bisa ia perbuat.

“Ah, iya, aku ingin menyerahkan ini untuk oppa,” ujar Hyejin sambil menyerahkan sebuah undangan berwarna coklat. Diatasnya tertulis ‘Kyuhyun-Hyejin’s Weeding’. Mata Donghae membesar membaca tulisan itu. Shock dan rasa sakit mengisi hatinya.

“Sudah lama aku ingin menyerahkan undangan ini, tapi aku merasa tidak enak dengan oppa. Tapi karena sekarang oppa sudah bersama Johee, kurasa ini saat yang tepat untuk menyerahkan undangan ini. Aku sangat mengharapkan kehadiran oppa,” ujar Hyejin yang Donghae balas dengan senyum yang ia paksakan.

*****

“Donghae oppa! Oppa! Jebal! Jangan lakukan itu!” seru Johee parau. Ia menangis melihat Donghae yang mencoba untuk bunuh diri. Tangan kanan Donghae sudah memegang silet. Ia ingin memotong nadinya sendiri sepulang dari cafe tadi. Rasa sakit yang ia rasakan tak sanggup ia tahan. Ia tak rela jika Hyejin akan menikah dengan Kyuhyun. Ia belum bisa merelakannya.

Tepat sebelum tangan Donghae mendarat di urat nadi tangan kirinya, Johee menerjang Donghae. Membuat Donghae tersungkur dan silet itu pun lepas dari tangannya. “Aku mohon, jangan mencoba untuk membunuh dirimu sendiri. Aku membutuhkanmu oppa,” ujar Johee. Air matanya mengalir lebih deras akibat rasa lega juga sakit. Ia memeluk Donghae erat. Ia takut kehilangan Donghae.

*****

Donghae mengerjapkan matanya, beradaptasi dengan cahaya lampu apartemennya. Ia merasakan sebuah kehangatan dari tangan kanannya. Ia menengok, dan mendapati Johee tertidur di tepi tempat tidurnya. Tangan Johee menggenggam erat tangan Donghae.

‘Aku mencintaimu oppa. Apa aku tak bisa mengganti posisi Hyejin dihatimu?’ Johee mengigau dan Donghae mendengarnya.

Hati Donghae mengerti rasa sakit yang Johee rasakan. Ia seperti melihat dirinya sendiri pada Johee. Mereka sama-sama mencintai seseorang yang jelas-jelas mencintai orang lain. Tapi rasa sakit Donghae kini berlipat ganda, karena bukan hanya tersakiti tapi dia juga menyakiti hati yang begitu mencintainya.

Donghae mengecup kening Johee, “Mianhe, andai aku tahu bagaimana cara melupakan Hyejin. Mianhe, aku mohon lupakan aku. Aku tak ingin melihatmu seperti ini terus,” bisik Donghae walau ia tahu Johee tak akan mendengarnya.

*****

‘Donghae oppa, kau sudah makan? Apa perlu kumasakan? Kalau kau tak membalas smsku, aku anggap ‘iya’ ’

From : Shim Johee

Donghae menghela nafasnya panjang. Ia benar-benar tak bisa menebak jalan pikiran gadis bernama Johee itu. Sudah berulang kali ia menyakitinya, tapi tetap saja Johee mengejar Donghae.

Donghae mendengar pintunya diketok. Ia segera membukakan pintu itu.

“Annyeong oppa,” sapa Johee lalu melenggang masuk bahkan sebelum Donghae mengijinkannya.

Donghae menghela nafas panjang. Entah sudah keberapa kalinya dalam 5 menit ini. “Keluarlah,” ujar Donghae. Suaranya lemah namun terkesan dingin. Langkah Johee terhenti, ia menoleh ke arah Donghae yang masih berdiri di ambang pintu.

“Kau berkata apa?” tanya Johee. Sepertinya ia tak mendengar apa yang Donghae katakan.

“Aku minta kau keluar dari apartemenku. Sekarang juga,”

“Tapi kenapa?” tanya Johee lagi menuntut penjelasan.

Donghae lagi-lagi menghela nafas. Ia tak menjawab pertanyaan Johee. Ia mendatangi Johee lalu menariknya keluar dari apartemennya.

“Jangan pernah ikuti aku lagi. Jangan pernah mengirimiku sms atau menelponku. Jangan pernah datang ke apartemenku lagi. Berhentilah mengejarku,” ujar Donghae. Ia dapat melihat air mata Johee sudah tegenang di matanya.

“Wa-waeyo? Apa karena kau mencintai Hyejin? Aku tak masalah dengan itu karena aku sudah berjanji akan membuatmu jatuh cinta padaku,” ujar Johee.

“Tidak, bukan hanya itu,” timpal Donghae.

“Lalu karena apa?” tanya Johee parau.

“Karena aku membencimu. Aku risih dengan kehadiranmu. Aku bahkan berharap tidak bertemu denganmu lagi. Kalau perlu, besok akan kuserahkan surat pengunduran diriku,” ujar Donghae yang menikam hati Johee.

Air mata Johee tak bisa ia bendung lagi. Mengetahui kalau Donghae masih menyukai Hyejin itu sudah cukup menyakitkan bagi Johee. Apalagi mendengar Donghae membenci dirinya. Rasa sakit di hati Johee tak bisa ditolerir.

“Ka-kau tak perlu mengajukan pengunduran diri. Aku sudah berencana untuk kembali. Aku tak betah dengan pekerjaan yang hanya duduk dibelakang meja,” dusta Johee.

“Baguslah, kalau begitu pulanglah,” ujar Donghae.

“Annyeong oppa,” ujar Johee lalu melangkah kembali ke apartemennya. Ia menutup pintunya dan mulai menangis. Rasa sakit yang ia rasakan menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia tak menyangka Donghae akan melukai hatinya sebegini dalam.

Apa kau pikir Donghae senang melakukan hal itu? Tidak. Begitu ia menutup pintu apartemennya, sama sepert Johee, ia juga menangis. Rasa sakit menjalari tubuhnya. Ia tak sanggup menyakiti hati yang mencintainya dengan tulus.

Namun inilah keputusan yang Donghae ambil. Ia tak ingin memberikan Johee harapan, ia tak mau membuat Johee menunggunya tanpa kejelasan. Ia tak mau membuat Johee tersakiti karena perbuatannya lebih lama lagi.

“Mianhe, Johee,”

*****

“Donghae ah!” seru seseorang memanggil Donghae. Ia mencari sumber suara itu dan mendapati Eunhyuk, sahabatnya, sedang berjalan menghampirinya.

Eunhyuk menarik kursi yang tersedia di depan Donghae, “Tumben kau datang pagi sekali?” sindir Eunhyuk walau tak ada niat untuk mengejek.

“Aku hanya ingin datang lebih pagi saja,” jawab Donghae sambil menyeruput kopinya.

Eunhyuk mengangguk-angguk tanda ia mengerti. “Tapi, kemana Nona Johee? Bukannya ia selalu bersamamu?” tanya Eunhyuk lagi.

Donghae menghela nafas. Ini adalah topik yang langsung membuat moodnya down. “Aku bukan babysisternya. Aku tak tahu,” jawab Donghae.

Eunhyuk tersenyum, “Apa kalian sudah pacaran? Semua oarang di kantor ini tahu kalau nona Johee sangat menyukaimu,”

“Tidak, aku mencintai Hyejin,” ujar Donghae yang langsung mendapat jitakan hangat dari Eunhyuk.

“Stop chasing the one who’s running from you, look behind you to see who’s chasing you. You know? To love someone is easy but the hardest part is finding someone who love you back. Understand?” ujar Eunhyuk menasehati, tapi Donghae mengeraskan hati dan tak memperdulikan apa yang Eunhyuk ucapkan.

“Kau tau apa yang menyebabkan dirimu tak melupakan Hyejin? Bukan karena kau mencintainya, tapi karena kau tak membuka hatimu untuk orang lain,” lanjut Eunhyuk. “Aku yakin, sebentar lagi kau akan kesepian karena Johee tak ada,” lanjut Eunhyuk.

“Tidak mungkin. Kalau aku merindukannya, akan kubelikan kau jam tangan yang sudah kau incar,”

“Aku pegang kata-katamu,”

*****

Hari pertama, Donghae baik-baik saja.

Hari kedua, Donghae mulai gelisah. Ia tak menemukan Johee baik di kantor atau pun di apartemennya. Johee tak tinggal lagi disana.

Hari ketiga, efek rindu mulai menyerangnya. Ia selalu menoleh setiap mendengarkan seseorang berseru memanggil nama orang lain yang berawalan ‘Jo’ atau berakhiran ‘Hee’

Dan seminggu telah berlalu, Donghae seperti manusia yang tak memiliki daya hidup. Donghae terdiam di meja kerjanya. Ia menatap ponselnya yang sedari tadi tidak bergetar. Padahal dulu, setiap 10 menit ponselnya pasti bergetar. Johee selalu mengiriminya sms-sms yang tidak penting. Tunggu.. apa yang ia pikirkan? Kenapa ia mengharapkan sms dari Johee?

Donghae mengacak rambutnya, menyingkirkan bayang-bayang Johee yang nyaris menghantui otaknya.

Donghae membuka lacinya, mencari sesuatu yang dapat ia gunakan untuk mengalihkan perhatiannya. Namun, saat ia membukanya, ia mendapati sebuah dark coklat ada didalamnya.

‘Coklat akan mengurangi rasa setress. Tenang saja, ini dark coklat. Agak pahit’

Otak Donghae kembali mengingat perkataan Johee saat ia memberikan coklat itu.

Donghae merebahkan tubuhnya di sova yang ada diruangannya. Ia menutup matanya untuk menenangkan pikiran. “Kurasa aku sudah gila berkat Johee. Bagaimana bisa aku selalu membayangkan dirinya? Bahkan saat aku mau tidur pun, wajahnya tergambar jelas diotakku,” guman Donghae pada dirinya sendiri.

“Ya, ya, Donghae ah, kau kenapa?” tanya Eunhyuk yang baru saja masuk ruangan Donghae dan mendapati sahabatnya terbaring tak berdaya di kantornya.

“Apa ini yang disebut karma? Padahal aku yang memintanya untuk menjauhiku. Tapi kenapa sekarang aku menginginkan keberadaannya?” tanya Donghae. Meski pun Donghae tak menyebut nama orangnya, tapi Eunhyuk tahu siapa yang dapat membuat Donghae menjadi seperti ini.

“You realize love when she doesn’t stay around you but still tease your own mind. Kurasa ide yang bagus kau mengusirnya. Akhirnya kau menyadari perasaanmu sendiri,”

“Tapi bagaimana bisa secepat ini perasaanku berubah?”

“Cinta selalu datang tiba-tiba, bahkan sebelum kau menyadari kalau apa yang kau rasakan itu cinta. Kalau begitu, segeralah cari Johee dan bilang kalau kau mencintainya,”

*****

Donghae berjalan beberapa meter di belakang Johee. Ia sedang mengikuti Johee yang tak sengaja ia temui di supermarket. “Aish, apa yang kulakukan?” gerutu Donghae menyadari perbuatannya ini sangat bodoh. Namun, otak Donghae tetap memaksa kakinya untuk mengikuti langkah Johee.Donghae ingin tahu dimana Johee tinggal sekarang.

Tapi tiba-tiba saja Johee menghentikan langkahnya dan berbalik dengan cepat sehingga tak ada waktu untuk Donghae bersembunyi.

“Lee Donghae, berhenti mengikutiku,” ujar Johee datar tanpa emosi, sepertinya ia sudah menyadari kehadiran Donghae dari tadi.

Donghae menyengir, “Oh, annyeong Johee-sshi! Kita bertemu disini,” ujar Donghae berdalih. Ia berakting seakan mereka bertemu tanpa disengaja.

Johee menghela nafas, “Kau mau apa dariku?” tanya Johee pasrah.

Pertanyaan itu membuat Donghae mendekatkan jaraknya dengan Johee. “Saranghae, Johee-ah. Aku ingin kau kembali mengisi kehidupanku,” ujar Donghae.

Kata-kata yang sudah lama ingin Johee dengarkan. Tapi kini situasinya berbeda. Kata-kata itu justru membuat hati Johee sakit. “Jangan mempermainkan perasaanku. Aku tahu kau sangat baik, tapi bukan berarti kau mengatakan itu karena kasihan padaku,” ujar Johee parau. Air matanya mengumpul dipelupuk.

“Aku tidak..”

“Annyeong Donghae sshi,” ujar Johee lalu pergi meninggalkan Donghae yang terpaku ditempatnya.

Cukup menyakitkan untuk Donghae mengingat dirinya baru saja ditolak Johee. Tapi ia menerima itu. Ia merasa dirinya pantas diperlakukan seperti itu. Akhirnya ia menyadari bagaimana luka yang sudah ia torehkan di hati Johee.

Dan kini Donghae akan menebus semuanya. Ia akan mengejar Johee dan menyembuhkan luka itu.

“Aku akan membuatmu kembali mencintaiku, Johee,”

*****

“Hyejin, ada tamu yang datang,” seru Johee saat mendengar pintu rumah Hyejin diketuk.

“Aku masih memasak, bisa tolong bukakan?” balas Hyejin. Johee berjalan menuju pintu itu dan membukanya.

Tepat setelah Johee membukanya dan melihat siapa tamu itu, ia menutup pintunya. Untung saja, sang tamu dapat menahan pintu itu.

“Aku mohon, percayalah padaku Johee. Jangan kembali ke Amerika dan tetaplah disini,” ujar pria itu.

“Kau bohong, dan aku akan tetap kembali ke Amerika besok, setelah pernikahan Hyejin,” ujar Johee.

“Apa yang harus kulakukan agar kau percaya padaku?”

“Aku ingin 100 tangkai bunga mawar merah dan cicin seharga 500.000 won!” seru Johee dan langsung menutup pintu rumah itu.

*****

Semua orang telah berkumpul untuk sama-sama merasakan sukacita yang dirasakan oleh sang pengantin. Tapi dari semua kegembiraan itu, hanya Johee yang termenung.

“Apa kau Cho Kyuhyun, akan menerima Hyejin dengan segenap hatimu, dan setia dalam suka mau pun duka?”

“Ya, dengan segenap hatiku,”

“Apa kau Song Hyejin, akan menerima Kyuhyun dengan segenap hatimu, dan setia dalam suka mau pun duka?”

“Ya, dengan segenap hatiku,”

“Mempelai dipersilahkan berhadapan untuk memasang cincin,”

Johee menatap sepupunya yang sedang berdiri di depan altar. Ia bersukacita untuk sepupunya meski hatinya masih menangis karena cintanya sendiri tidak berjalan lancar.

Tiba-tiba saja Johee merasakan tangannya ditarik. Ia dibawa menuju altar oleh pria yang bernama.. Donghae?

“Aku ingin menikah dengan gadis ini sekarang juga,” ujar Donghae yang membuat semua orang disitu tercengang, termasuk Johee.

“Mwo?!”

“Bukankah kau sendiri yang meminta cincin seharga 500.000 won? Buat apalagi kalau bukan untuk menikah?” tanya Donghae balik.

“Kau benar-benar membelinya?” tanya Johee tak percaya dan Donghae membalasnya dengan senyuman.

“Aku ingin menikah dengan gadis ini,”

“Aku menolak,” timpal Johee.

“YAA! WAE?!” seru Donghae, antara bingung dan kesal.

“Aku meminta kau membeli cincin seharga 500.000 won bukan karena aku ingin menikah denganmu sekarang juga. Aku tak percaya dengan perkataanmu, jadi aku mengucapkan itu seenaknya karena aku yakin kau tak akan melakukannya,”

“MWO?!”

“Mianhe, aku benar-benar tak menyangka. Sekarang aku percaya padamu, tapi aku tetap saja tak bisa menikah sekarang. Ini terlalu cepat,” balas Johee.

“YAA! Lalu bagaimana dengan cincin…”

“Anggap saja itu permintaan maafmu,” sela Johee lalu mengunci mulut Donghae dengan bibirnya.

“Saranghae, Lee Donghae. Jeongmal saranghae,” ucap Johee setelah melepaskan bibirnya. Sedangkan Donghae hanya diam terpaku dengan sikap agresif yang Johee lakukan. Johee hanya memberikan senyum usil pada Donghae.

“Ya, ya, sudah puas mengganggu pernikahan orang lain?” tanya Kyuhyun yang menyadarkan Johee dan Donghae dari dunianya.

“Kalian berhutang pada kami,” ujar Hyejin yang disambut oleh senyuman Johee dan Donghae.

*****

Johee menatap tangan yang menggenggamnya saat ini. Ia masih tak pecaya kalau tangan itu milik Lee Donghae.

“Kenapa?” tanya Donghae menyadarkan Johee dari lamunannya.

“Aku masih tak percaya kalau ini kenyataan,” balas Johee jujur yang dibalas Donghae oleh senyuman manisnya.

“Aku juga berharap ini mimpi. Sejujurnya aku menyesal jatuh cinta padamu,”

“Waeyo?!” tanya Johee.

“Kau membuatku harus mengocek kantongku dalam-dalam,”

“Masalah cincin itu?” tanya Johee.

“Itu juga, dan aku sudah berjanji pada Eunhyuk untuk membelikan jam yang ia incar jika aku akhirnya jatuh cinta padamu,” jelas Donghae. Johee menatap Donghae penuh rasa bersalah.

“Kau harus bertanggung jawab Johee,” ujar Donghae, ia menyembunyikan senyumnya.

“Caranya? Aku tak punya uang sebanyak itu,” ujar Johee jujur.

Donghae mendekatkan wajahnya pada Johee tapi Johee malah memundurkan kepalanya kebelakang. “Ka-kau mau apa?” tanya Johee.

“Jangan menghindar, aku mau menciummu. Kenapa kau malu-malu? Bukannya kau tadi malah menciumku di depan banyak orang?” ujar Donghae yang membuat Johee mati kutu.

“Aku hanya terlalu senang tadi,” elak Johee.

“Diamlah,” timpal Donghae. Donghae memegang kedua sisi kepala Donghae. Ia mendekatkan wajahnya dan membunuh jarak diantara mereka. Bibir mereka pun bertemu dan keduanya terlarut dalam hasrat yang sudah lama mereka pendam.

“Menikahlah denganku, dan kuanggap hutangmu lunas,”

“Kau serius ingin menikah denganku? Apa kau ingat kata-katamu dulu? Aku merepotkan, masakanku sangat tak layak untuk dimakan. Intinya aku kalah jauh jika dibandingkan dengan Hyejin,” ujar Johee dengan niat menyindir Donghae.

“Yaa, yaa, yang berlalu biarlah berlalu. Aku mencintaimu itu berarti aku sudah menerima resikonya. Jadi, kau mau menikah denganku?”

“Kau pasti sudah tahu jawabannya,” ujar Johee lalu mencium kilat bibir Donghae.

“Hm, aku anggap ciuman itu sebagai jawaban ‘iya’”

END.