annyeong chingudeul!

mumpung masih liburan, aku sempetin untuk bikin ff hehe
This fanfiction is inspired by drama my princess.  Hope you understand if you find some similiarities. ^^ *cuma pas conclusionnya aja sih yang terinspirasi dari itu hehe
Your comments are loves for me chingu ^^
written by esterong

enjoy reading! (งˆヮˆ)ง

 

*****

“Oh my God! Choi Siwon! Ia tampan seperti biasanya!” seru seorang gadis saat melihat seorang pria keluar dari mobil Mercedez seri terbaru, yang hanya sanggup dibeli oleh mereka yang pendapatan perbulannya kurang lebih 1.000.000 won. Teriakan gadis tadi menarik perhatian siswa lainnya. Kurang dari 1 menit, setiap ambang jendela di tiap kelas sudah dipenuhi oleh siswa dan siswi.

Bagi para siswi yang mengagungkan pria ini, mereka bersama-sama menyerukan, “Choi Siwon, I love you! Jadikan aku istrimu!” bahkan mereka tak malu untuk membeberkan banner-banner bernuansa pink yang bertuliskan kalimat yang mereka serukan tadi. Tindakan yang norak dan berlebihan, namun mereka tak perduli kata orang. Mereka akan rela melakukan apapun untuk mendapatkan hati pria ini. Atau mungkin.. mendapatkan harta pria ini?

Lain halnya dengan para siswa. Mereka tidak berseru. Mereka malah mengumpat dalam hati sambil mengamati seluk beluk tubuh Siwon yang meski sudah menggunakan kemeja sekolah, abs berukuran ideal yang ada diperut dan dilengannya tetap terlihat walau samar-samar, dan garis mukanya yang sangat tampan, bahkan tanpa operasi. Semua kekesalan itu didasari oleh rasa iri akan kesempurnaan yang dimiliki pria itu.

Lalu siapa sebenarnya pria itu? Yang begitu diagung-agungkan dan tidak diragukan lagi kesempurnaannya? Semua siswa di sekolah ini, dan semua masyarakat Korea Selatan pasti mengenalnya. Ia adalah Choi Siwon. Cucu sekaligus calon pewaris tunggal dari Choi Sunghwa, pendiri Junya Co-operation, yang begerak di bidang bisnis dan ekonomi, dan yang menjadikan Choi Sunghwa sebagai pria terkaya di Korea Selatan.

“Dia adalah pria yang sempurna!” mungkin kalimat itulah yang pertama kali terlintas diotakmu saat kau melihatnya dari luar. Menjadi calon pewaris tunggal dari konglomerat nomor 1 di Korea membuat pemuda bernama Choi Siwon ini tumbuh sebagai pria yang sempurna. Kaya, pintar, tampan, dan kekuasan semua ia miliki. Siapa yang tidak iri dengannya? Semua orang pasti.

Tapi apa Siwon berpikir demikian? Apa dia merasa hidupnya begitu sempurna? Apa dia puas dengan kesempurnaan yang dia miliki? Tidak. Bahkan kalau saja bisa, ia ingin menukar kehidupannya dengan orang lain. Mengapa? Ya, karena pria ini ternyata tidak memiliki sesuatu yang paling berharga dalam hidup: sukacita, kasih, pengharapan, dan cinta. Tanpa itu semua, Siwon tahu, hidupnya hanyalah omong-kosong.

Apa kau ingat bagaimana para gadis mengagungkannya tadi? Apa itu karena mereka dengan tulus mencintainya? Salah. Tidak ada yang benar-benar tulus mencintainya. Yang mereka cintai adalah harta dan status yang pria ini bawa kemana-mana.

Hidupnya tak sempurna. Ia terjebak dalam kehampaan dan kegelapan. Terutama setelah kematian ayah dan ibunya. Hidupnya makin tak menentu. Saat dimana ia membutuhkan bibi, paman, dan sanak family untuk menjadi sandarannya yang ia dapatkan justru pertikaian. Semua memperebutkan hak asuh atas dirinya, perbuatan yang dilakukan bukan karena kasih melainkan atas nafsu akan kekayaan yang akan ia miliki setelah kakeknya meninggal.

“Untuk apa aku hidup jika tidak ada seseorang yang menyayangiku dengan tulus? Mengapa Engkau tidak membiarkanku ikut mati dalam kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuaku?” itulah pertanyaan yang selalu ia tanyakan pada Tuhan dalam setiap doanya tapi Tuhan tak kunjung memberikan jawaban.

Berulang kali ia nyaris mencoba untuk mencabut nyawanya sendiri, namun berulang kali pula ia gagal. Ia tak sanggup untuk menanggung dosa itu.

Pria ini hidupnya tak seperti kalian bayangkan. Sama sekali jauh dari bayangan kalian. Ia tak membutuhkan kekayaannya, yang ia butuhkan adalah kebahagiaan, kasih, dan menemukan alasan mengapa Tuhan masih membiarkan dirinya hidup sampai saat ini.

*****

“Aku lelah,” guman Choi Siwon saat tangannya terhenti diatas tumpukan dokumen yang harus ia kerjakan. Ditengah kesibukkannya sebagai seorang pelajar, ia masih harus membantu kakeknya untuk menyelesaikan berbagai jenis dokumen. Ia benar-benar lelah secara fisik dan secara batin.

Jauh dalam lubuk hati, ia ingin kabur dari kehidupannya yang abstrak dan tak bertujuan. Hanya saja, pemicu untuk memberanikan diri melaksanakan keinginannya itu belum ia temukan.

Siwon merapikan berkas-berkas yang ada di meja. Ia memutuskan untuk berhenti sejenak dan membasuh diri agar tubuh dan otaknya dapat segar kembali.

Tepat saat ia baru saja melepaskan atasannya, pintu ruangan yang memang dibuat khusus untuknya di sekolah ini, terbuka lalu ditutup kembali.

“Kyaa!” seru seorang gadis yang menyadarkan Siwon kalau ada makhluk lain selain dirinya di ruangan itu. Siwon memutar badannya dan melihat gadis itu. Ia mengenakan seragam yang sama seperti dirinya.

“Mi-mi-mianhe, aku..” belum sempat gadis itu menyelesaikan kalimatnya, pintu ruangan itu terbuka kembali. Dengan segera gadis itu bersembunyi di balik pintu.

“Apa tadi ada perempuan yang memasuki tempat ini?” tanya seorang wanita berumur sekitar 35 tahun, yang baru saja membuka pintu itu tanpa aba-aba.

Siwon yakin kalau yang nyonya itu cari adalah gadis yang bersembunyi di balik pintu itu. Namun tubuh kecil yang bergetar ketakutan dan mata seakan berteriak, ‘tolong aku’ membuat dirinya dengan penuh kesadaran membohongi gurunya itu.

“Tidak ada, selain anda. Seharusnya anda sudah tahu kalau ruangan ini hanya boleh dimasuki oleh diriku. Bahkan guru pun tak boleh memasukinya, apalagi tanpa mengetuk terlebih dahulu. Seperti yang baru saja anda lakukan,” jawab Siwon sopan namun tersirat kemarahan dari gelombang suaranya.

Wanita setengah baya yang sadar akan kesalahannya segera membungkukkan badannya, “Ah, maafkan saya Siwon-nim. Saya sudah mengganggu ketenangan anda,” ujarnya dengan terpaksa lalu keluar dari ruangan itu. Ia kesal karena tak bisa menangkap Kang Hamun, gadis yang kabur dari jam pelajarannya. Namun ia masih cukup cerdas untuk tidak mengorbankan pekerjaannya hanya demi menangkap Kang Hamun.

…..

“Terima kasih banyak,” ujar Hamun sambil membungkukkan badannya. Kata-kata itu rasanya sudah 7 kali Siwon dengar, keluar dari mulut Hamun dalam waktu kurang dari 30 detik, berarti 7 kali pula Hamun melakukan gerakkan bungkuk-tegap.

Siwon terdiam memperhatikan nametag yang ada di sisi kanan dadanya. Kang Hamun. Nama itu terbordir rapi disana. Siwon tahu gadis itu. Ia adalah gadis yang dapat bersekolah disini karena mendapatkan beasiswa yang diberikan oleh Junya Co-operation, perusahaannya. Meski begitu, gadis ini bukanlah murid teladan seperti dirinya. Hamun sering kedapatan membolos dan kabur dari jam pelajaran namun selalu bertahan diperingkat pertama sejak duduk dibangku kelas X hingga XI.

“Terima kasih banyak, Siwon sshi. Ternyata kau pemuda yang baik,” ujar Hamun disertai senyumannya yang membuat Siwon tiba-tiba saja kehilangan akal sehatnya. Ada sebuah rasa yang bergolak dihatinya. Rasa yang tertahan sejak lama, sekarang menguasai dirinya. Suatu keberanian yang sudah lama ia nantikan pemicunya.

“Aku pergi dulu ya,” ujar Hamun sambil bersiap untuk lompat dari jendela ruangan Siwon. Namun tepat sebelum Hamun membiarkan gravitasi membawanya turun ke pusat bumi, ia dapat merasakan sebuah tangan hangat memeluknya dan ikut jatuh bersamanya.

“Bawa aku keluar dari tempat ini, Kang Hamun,” ujar sebuah suara yang membuat Hamun tersadar kalau ia sudah tiba di daratan tanpa rasa sakit sedikitpun. Ia membuka matanya dan mendapati tubuhnya berada dalam dekapan lindungan Choi Siwon dan wajahnya hanya berjarak 2 cm dari wajah tampan Siwon.

“Bawa aku bersamamu, Hamun sshi,” ujar Siwon lirih.

Hamun bisa merasakan kesedihan yang mendalam pada diri Siwon. Kesedihan yang membuat Hamun tanpa pertimbangan dan penuh kesadaran berkata, “Apa kau yakin? Apa kau siap dengan resikonya? Sekali kau memutuskan untuk pergi, kau tak akan bisa kembali lagi,” ujar Hamun dan Siwon mengangguk mantap. Keberanian dalam dirinya sudah membulat dan utuh. Tak ada yang bisa menggoyahkan keberanian yang entah bagaimana, bisa terpicu oleh senyuman Hamun.

“Kalau begitu, kajja,” ajak Hamun diiringi senyuman yang tak pernah pudar dari wajahnya. Hamun tahu betapa besar resiko yang akan ia tanggung jika dirinya ketahuan membawa seorang cucu konglomerat kabur bersama dirinya. Bisa saja ia dijerat oleh pasal penculikan. Atau bahkan ia dibunuh langsung oleh pembunuh bayaran suruhan keluarga Siwon. Tapi entah bagaimana, Hamun dapat mendengar jeritan minta tolong dari Siwon. Membuat dirinya dengan berani ingin menyelamatkan Siwon dari dunianya yang kelam.

*****

“Ini rumah.. mu?” tanya Siwon ragu dengan hati-hati saat mereka sudah tiba di rumah Hamun. Entahlah, apa ini bisa disebut dengan kata ‘rumah’?

Siwon memang pernah melihat rumah sekecil ini seperti di drama 49 days, rumah Song Yi Kyung. Namun ia tak pernah menyangka kalau dalam realita ternyata memang ada rumah yang dapur, kamar mandi, kamar tidur, ruang makan, jadi satu seperti ini tanpa sekat. Bahkan kamar mandi Siwon saja jauh lebih luas dari ‘rumah’ ini.

Berbeda dengan reaksi Siwon, Hamun dengan bangga berkata, “Ne! Ini rumahku,” jawabnya.

Siwon yang masih berdiri diambang pintu hanya memandang Hamun dengan tatapan penuh tanya. Terlalu banyak pertanyaan tentang Hamun yang berputar diotaknya saat ini. Misalnya, apa benar ini rumah Hamun? Dengan siapa Hamun tinggal di rumah sekecil ini? Apa Hamun…. semiskin itu hingga ia tinggal disini? Namun ia hanya memendam rasa penasarannya, tak tega untuk bertanya langsung.

“Kau pakai ini,” ujar Hamun sambil menyodorkan sebuah topi dan kacamata hitam pada Hamun.

“Untuk apa?” tanya Siwon tak mengerti. Menurut Siwon, Hamun terlalu mengejutkan dan tak bisa ditebak.

“Untuk menyembunyikan dirimu. Aku tak mau ditangkap polisi karena tuduhan menculikmu, Siwon nim,” balas Hamun logis yang membuat Siwon tersenyum. Ia menyadari kalau ia tak cukup pintar untuk memahami gadis ini.

“Okay, jadi untuk apa topi dan kacamata ini? Kau mau mengajakku pergi? Pasti sesuatu yang penting karena kau rela membolos hanya demi hal ini,” ujar Siwon yang mendapat applause dari Hamun.

“Kau memang pintar,” balas Hamun sambil dengan susah payah menjijit untuk dapat mengelus kepala Siwon. “Kalau begitu, kajja,” ajak Hamun. Kini tangan Hamun tak lagi dikepala Siwon, tapi sudah berpindah tempat ke sela-sela jemari tangan Siwon. Hamun menggenggamnya erat, membawanya pergi entah kemana.

Namun berkat serentetan tindakan spontan yang Hamun lakukan tadi, kini Siwon terdiam. Ia meresapi kehangatan yang masuk kedalam tubuhnya melalui pori-pori kulit yang saling bersentuhan. Kehangatan yang sudah lama ingin ia rasakan. Kehangatan yang ia rindukan akhirnya ia dapatkan kembali dari gadis yang baru ia kenal beberapa jam yang lalu, Hamun.

*****

“Jadi kau rela membolos hanya untuk mengejar diskon 30% untuk setiap sayur, buah, dan daging?” tanya Siwon mereview apa yang baru saja ia saksikan.

Setengah jam yang lalu, ia baru saja melihat sisi Hamun yang lain. Sosok keibuan yang dengan cermat memilih buah atau sayur mana yang bagus, dan sosok childish yang tak mau kalah dari pembeli lain saat berebut daging. Semua itu kembali mengejutkan Siwon.

“Yaa! Kau tak boleh mengatakan ‘hanya 30%’ Siwon-nim, bahkan uang 100 won pun sangat berarti,” balas Hamun menanggapi pertanyaan Siwon.

Siwon tak mendebat Hamun, karena hatinya sedang berdebat sendiri. Jadi.. Apa Hamun memang begitu miskin? Tapi bagaimana bisa?

Lagi-lagi Siwon melontarkan pertanyaan yang tak bisa ia dapatkan jawabannya. Ia tak tega bertanya langsung pada Hamun.

“Kajja, kita pergi,” ajak Hamun sambil menarik tangan kiri Siwon yang tak membawa belanjaan.

“Mau kemana?” tanya Siwon

Hamun tersenyum, “Kau akan tahu nanti,” jawabnya.

Siwon tak mempertanyakan lagi rasa penasarannya. Kini matanya terpaku pada kedua tangan yang saling bertautan lagi. Tangannya dan tangan Hamun.

Meski ini bukan pertama kalinya Hamun menggandeng tangannya, entah mengapa, ia selalu merasakan sebuah ketulusan mengalir dari tangan itu. Ketulusan yang selalu membuat jantungnya berdebar. Namun untuk saat ini, dirinya masih belum mengerti apa arti debaran itu.

*****

Siwon mengedarkan pandangannya ke setiap sudut. Ada rasa rindu yang terselip dihatinya. Ia ingat tempat ini. Tempat yang sudah lama tak pernah ia kunjungi.

“Siwon-sshi, ayo berdoa,” seru Hamun yang sudah tiba didepan altar lebih dulu.

Siwon yang mendengarkan seruan Hamun, segera menghapiri gadis itu. Berdiri disampingnya dan mengamati gadis yang sedang khusuk berdoa. Siwon tak mengerti mengapa Hamun mengajaknya kesini. Ia juga tak mengerti mengapa Hamun menyuruhnya berdoa.

“Jangan hanya melihatku,” guman Hamun yang membuat Siwon terperanjat. Bagaimana Hamun bisa tahu kalau daritadi Siwon hanya memandangnya padahal ia sedang menutup kedua matanya? Itu tak menjadi persoalan.

“Berdoalah, Siwon-sshi,”

“Untuk apa?”

Hamun membuka matanya. Kini mata itu berpindah tepat didepan Siwon. Menatap Siwon lembut dan terpancar kasih dari sana. Hamun tersenyum.

“Because when we pray, God hears more than we say. He answers more than we ask. He gives more than we imagine..” kalimat Hamun ia biarkan menggantung, seakan sengaja untuk membuat Siwon penasaran. “In His own time and His own way,” lanjut Hamun.

Sebuah kalimat singkat, yang detik itu juga membuat hati Siwon mencelos. Belenggu yang menahan dirinya selama ini seakan telah dipatahkan.

Ia tak mengeraskan diri lagi. Ia kini mulai menatap altar dan melakukan hal yang sama seperti gadis itu, berdoa. Mencurahkan semua isi hatinya, melampiaskan semua emosinya, bahkan tanpa ia sadar setitik air matanya membasahi pipinya.

Ia juga meminta ampun akan dirinya yang selama ini selalu bersungut-sungut. Dan terakhir, ia mengucap syukur akan gadis yang sudah Tuhan kirimkan untuk melepaskan belenggu dalam hatinya.

“Bagaimana? Sudah tenang?” tanya Hamun yang setia menunggu Siwon.

“Ya, terima kasih banyak Hamun-sshi,” balas Siwon. “Aku ingat, terakhir kali aku ke gereja adalah saat kematian orang tuaku. Aku marah pada Tuhan. Dan tanpa kusadari, hatiku mulai terbelenggu oleh kesedihan dan kemarahan,” cerita Siwon. Ia juga tidak tahu mengapa ia menceritakan masalah pribadinya pada Hamun. Mulutnya bergerak begitu saja.

“Nothing is ever wrong. We learn from every step we take. Whatever you did before was the way it was meant to be, Siwon-sshi,” balas Hamun menanggapi cerita Siwon. Siwon terheran dalam hati. Tiap rangkaian kata yang keluar dari mulut Hamun selalu dapat membuat hatinya damai. Namun ia tak mempertanyakannya lagi, karena ia tahu kalau Hamun memang Tuhan kirimkan untuk mengubah hidupnya.

“Terima kasih, Hamun-sshi. Kau temanku yang terbaik,” ujar Siwon. Hamun tak membalasnya, tapi mata yang memandang mata dan senyum yang mengembang di dua wajah ini sudah menyatakan kalau mereka menikmati ikatan yang baru saja terbentuk, sepasang teman baik.

Namun sayang sekali, ikatan itu tak akan bertahan lama karena cepat atau pun lambat, mereka akan menyadari kalau perasaan yang ada dihati mereka ini bukan hanya rasa suka sebagai sahabat. Kebersamaan yang akan mereka jalani beberapa hari kedepan akan memproses perasaan itu.

*****

Sudah seminggu Siwon tinggal dikediaman Hamun. Berarti sudah seminggu lamanya mereka terikat oleh ikatan sebagai seorang teman. Tapi menyadari hubungannya dengan Hamun hanya sebagai teman, hati Siwon merasa tidak puas. Persoalan itulah yang membuat Siwon terbangun meski baru pukul 6 pagi.

“Crek,” suara pintu rumah Hamun yang terbuka membuat Siwon memejamkan matanya, pura-pura tidur. Namun rasa penasarannya membuat matanya terbuka sedikit demi sedikit. Ia mendapati Hamun baru saja menggantung jaketnya. Hamun darimana pagi-pagi sekali? Hanya pertanyaan itu yang ada dibenak Siwon.

Siwon kembali memejamkan matanya saat ia mendengar langkah Hamun yang mendekat padanya. Ia dapat merasakan hembusan nafas Hamun di kulit wajahnya. Hamun mengelus kepala Siwon dan memainkan bulu mata Siwon yang panjang. Tentu saja hal itu memberikan efek samping pada jantung Siwon.

“Dia sangat baik, sopan, juga sangat tampan. Kalau begini caranya, aku tak bisa membencinya. Aku bahkan sudah mencintainya. Mianheyo kakek, ayah. Aku tak bisa membalaskan dendam kalian padanya. Ia sangat berharga untukku. Tapi mungkin ia tak akan memiliki perasaan yang sama denganku jika ia tahu kalau ayah yang membunuh kedua orang tuanya,” ujar Hamun.

Serentetan kata Hamun membuat pikiran Siwon dipenuhi pertanyaan. Ia tak mengerti apa maksud perkataan Hamun. Yang dapat ia mengerti hanya, Kang Hamun ternyata mencintainya, keluarganya memiliki sejarah kelam dengan keluarga Hamun, dan ayah Hamun adalah orang yang membunuh kedua orang tuanya.

Siwon terdiam, ia merenung. Ia tak tahu mau dibawa kemana perasaannya. Apa ia harus membenci Hamun yang sudah mengeluarkan dirinya dari dunia yang kelam? Apa ia harus membenci orang yang mencintainya? Atau ia akan membiarkan perasaan cintanya makin bertumbuh, padahal Hamun adalah anak dari pembunuh kedua orang tuanya?

*****

Siwon tak mengambil keputusan dengan gegabah. Ia memutuskan untuk mulai menyelidiki latar belakang Hamun. Ia ingin mencari fakta yang dapat menjadi alasannya untuk membenci Hamun atau malah makin mencintainya.

Ini tengah malam. Siwon tak tertidur untuk mendapatkan kesempatan meneliti rumah ini. Namun sebelum ia bangun, ternyata Hamun terbangun lebih dulu. Untuk apa Hamun bangun tengah malam begini?

“Jaga rumah ya, aku pulang jam 6 pagi,” bisik Hamun lalu mengecup kening Siwon. Siwon mendengar langkah Hamun yang semakin menjauh darinya. Ia juga mendengar suara pintu yang dibuka lalu ditutup kembali. Bersamaan dengan suara pintu tertutup, Siwon terbangun. Ia segera mengambil jaketnya dan mengikuti Hamun yang berjalan 5 meter didepannya.

Siwon tiba di Corner Shop, sejenis Coffee Shop yang ada di dekat rumah Hamun. Ia melihat Hamun yang menjadi coffee maker sekaligus menjaga kasir sendirian. Untuk apa Hamun bekerja seperti ini?

“Ia bekerja untuk mencukupi kebutuhannya. Ditambah karena kau tinggal di rumahnya, ia harus lembur untuk mendapat uang ekstra,” ujar seseorang yang menjawab pertanyaan batin Siwon. Siwon menengok ke sumber suara dan mendapati seorang pria tampan menghampirinya.

“Bagaimana kau tahu?”

“Mmm, bisa dikatakan aku tahu semuanya tentang Hamun, bahkan yang tak ia ceritakan padaku. Kami adalah sahabat sejak kecil yan memiliki ikatan batin kuat, ya, mungkin begitulah mendeskripsikan hubunganku dan dirinya,” jelas pria itu.

“Siapa kau?” tanya Siwon penuh selidik.

“Kim Heechul,” jawabnya. “Aku tahu saat ini akan tiba. Kau pasti datang kesini untuk menyelidiki tentang latar belakang keluarga Hamun yang memiliki sejarah kelam dengan keluargamu, Tuan Choi Siwon?” tebakan pria itu tepat sasaran. Ia seakan bisa melongok ke hati Siwon.

“Bagaimana kau tahu?”

“Sudah kukatakan, aku tahu semuanya tentang Hamun. Aku dengan senang hati akan menceritakannya padamu. Apa kau siap? Mungkin saja setelah mendengar ini kau akan membenci Hamun tapi kau pasti juga akan merasa bersalah dengan Hamun,”

“Aku siap,”

*****

“Jadi, menurutmu siapa yang salah dalam hal ini? Kini kau membencinya atau malah mencintainya?” tanya Heechul mengakhiri ceritanya. Siwon terdiam, otaknya masih mencerna tiap kalimat yang Heechul keluarkan tadi.

“Aku tak tahu siapa yang salah atau benar. Yang jelas, Hamun tak bersalah. Tak ada alasan bagiku untuk membencinya atau menyimpan dendam padanya. Justru dengan ceritamu itu, aku tak ragu lagi untuk mengakui rasa yang kurasakan dalam hati ini adalah cinta. Aku mencintainya dan akan menyembuhkan luka dihatinya,” jawab Siwon yang membuat Heechul terperangah sesaat lalu kembali tersenyum.

“Kalian berdua memang orang yang baik,” ujar Heechul.

“Berdua?”

“Ya, kau dan Hamun. Hamun juga berkata demikian. Sama persis dengan yang kau ucapkan barusan,”

“Entahlah, aku tak tahu siapa yang benar atau salah. Yang kutahu, Siwon tak bersalah. Tak ada alasan bagiku untuk membencinya atau menyimpan dendam padanya. Justru mengingat kejadian itu, aku tak ragu lagi untuk mengakui rasa yang kurasakan dalam hati ini adalah cinta. Aku mencintainya dan akan menyembuhkan luka dihatinya,”

“Lalu apa yang akan kau lakukan? Membiarkan kebenaran ini tersembunyi sampai generasimu yang kesekian nanti?”

“Tidak. Aku akan menyelesaikannya. Aku akan mengambil kembali hak warisku dan mengembalikan semuanya pada Hamun. Tapi, ini bukan saat yang tepat. Aku masih ingin menghabiskan waktuku bersama Hamun lebih lama,”

“Baiklah. Tapi jangan bilang pada Hamun kalau aku yang menceritakan ini semua padamu,” ancam Heechul.

“Tak akan. Kau sangat berjasa untukku. Gomawo,” balas Siwon yang disambut oleh senyum seringai khas milik Heechul.

“Tapi aku masih butuh bantuanmu,” sahut Siwon menghentikan langkah Heechul. Heechul melirik Siwon dengan mata yang bertanya ‘Apa?’ dan Siwon menjawab pertanyaan itu dengan menunjuk ke arah Hamun.

……

“Annyeonghase..” suara Hamun terputus saat melihat dengan jelas wajah pelanggan yang baru saja memasuki tokonya.

“Hai, Hamun,” sapanya.

“Ke-kenapa kau bisa berada disini?” tanya Hamun setengah heran.

“Tentu saja karena ada Kang Hamun disini,” balas pria itu dengan senyum usil.

“Ah, aku tahu kalau itu. Kau datang kesini pasti karena merindukanku,” timpal Hamun membalas candaan Siwon tadi. “Tapi bagaimana kau tahu aku bekerja disini?” tanya Hamun.

“Aku mengikutimu. Aigo, itu semua tak penting. Sekarang lebih baik kau ikut denganku, ya?” ajak Siwon sambil menarik tangan Hamun keluar dari teritorial khusus pegawai.

“Lalu bagaimana dengan toko ini?” tanya Hamun lagi. Siwon tersenyum lalu menunjuk ke Heechul yang berdiri diambang pintu.

“Heechul oppa?”

“Bersenang-senanglah,” timpal Heechul dengan senyum seringainya lagi.

*****

“Kita mau kemana?” tanya Hamun.

“Kencan,”

“Kencan pukul 2 dini hari? You’re awesome, Choi Siwon,” timpal Hamun berniat menyindir Siwon. “Tak ada tempat yang buka sekarang. Kau mau membawaku kemana?” tanya Hamun.

“Sungai Han terbuka untuk umum 24 jam, kan? Kajja,”

…..

“Uwa, aku tak menyangka sungai Han dimalam hari sebegini bagusnya!” pekik Hamun, tercengang dengan pemandangan yang ia lihat. “Gomawo Siwon sshi, kau sudah mengajakku kesini! Ide kencan pukul 2 pagi cukup bagus,” ujar Hamun. Siwon tersenyum melihat gadis yang ada didepannya.

“Hamun sshi, kemari. Duduk sini,” ujar Siwon. Ia mengambil posisi duduk direrumputan lalu menepuk sisi kanannya sebagai perintah untuk Hamun duduk disini. Hamun pun menurut.

“Ini,” ucap Siwon sambil memberikan jagung bakar untuknya. Satu untuk Hamun dan satu untuk Siwon sendiri.

“Mianheyo, aku hanya mengajakmu kencan ke tempat seperti ini dan merayumu hanya dengan jagung bakar. Aku bukan pria romantis karena aku tak berpengalaman,” jelas Siwon yang disambut gelak tawa Hamun.

“Kau belum pernah pacaran? Serius? Demi apa seorang Choi Siwon yang memiliki banyak penggemar ini belum pernah pacaran?” tanya Hamun heran.

Siwon tersenyum, “Aku ini tipe pria yang loyal, aku ingin cinta pertamaku nanti juga cinta menjadi terakhirku,” jelas Siwon.

Hamun tersenyum tipis mendengar hal itu. Ada perasaan tidak rela dalam dirinya. Ia sadar kalau dirinya sudah jatuh cinta pada pria ini, tapi mengingat latar belakang keluarganya membuat dirinya tak berani berharap.

Membayangkan gadis yang akan Siwon cintai sepenuh hati itu bukan dirinya cukup membuat hati Hamun sakit. “Siapapun gadis itu, ia pasti sangat beruntung,” guman Hamun dan Siwon mendengarnya. Siwon menyembunyikan senyumnya dan kembali memandang keindahan sungai Han.

“Aish, dingin sekali disini,” gerutu Hamun sambil menggosok-gosok lengannya. Siwon yang melihat itu hanya tersenyum lalu beranjak sesaat dan berhenti dibelakang Hamun.

“Kalau begini, tak kedinginan lagi, kan?” ujar Siwon sambil memeluk Hamun dari belakang. Siwon meletakkan dagunya dibahu Hamun.

“Ka-kau kenapa Si..Siwon sshi?” tanya Hamun gagap. Ia tak bisa menipu dirinya. Jantungnya berdebar kencang akibat perbuatan Siwon ini. Ia ingin meronta tapi tenaganya tak cukup kuat untuk melawan Siwon.

“Apa kau mau menjadi gadis yang beruntung itu?” tanya Siwon tanpa menjawab pertanyaan Hamun.

“Mwo?”

“Aku ingin kau yang menjadi pertama dan terakhir,”

“Kau pasti bercanda. Iya kan, Siwon sshi?”

“I keep trying to hide how much I love you, but just being your friend isn’t enough. The more i hide it, the more it shows. The more i suppress it, the more it grows. I can’t handle my feeling any longer,” ujar Siwon.

Hamun melepaskan pelukan Siwon. Ia beralih menatap Siwon dengan mata yang berkaca-kaca. Ia menangis karena senang juga sedih. Ia senang karena orang yang ia sayangi juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Tapi bagaimana jika Siwon tahu tentang kebenarannya? Bukan hanya Hamun yang tersakiti, tapi Siwon juga.

“Ini tak boleh Siwon sshi. Kau tak boleh menyukaiku karena aku tak pantas untuk itu,” ujar Hamun  parau.

Siwon menggenggam tangan Hamun erat seakan tak ingin Hamun pergi darinya. “Aku tahu semuanya. Aku tahu tentang masalah keluarga kita. Tapi aku mohon, jangan menolakku karena alasan itu. Kita hanya korban dari masalah ini. Tak ada alasan bagiku untuk membenci atau menyimpan dendam padamu. Justru mengingat kejadian itu, kini aku tak ragu lagi untuk mengakui rasa yang kurasakan dalam hati ini adalah cinta. Aku mencintaimu dan akan menyembuhkan luka dihatimu,”

“Aku membutuhkanmu Hamun, karena itu aku mohon jangan menolakku,” pinta Siwon lirih. Hamun yang melihat ketulusan dan kejujuran dari bola mata Siwon tak bisa memendam perasaannya lagi. Air mata kebahagian mengalir dari matanya dan kehangatan memenuhi hati kedua insan ini.

Siwon menarik Hamun dalam pelukannya dan mencium kening Hamun, “Saranghae,”

“Aku memutuskan untuk kembali dan mengambil kembali hak warisku. Aku akan membalas semua kejahatan yang sudah kakekku lakukan padamu,” ujar Siwon.

Hamun tersenyum. Ia tahu niat baik Siwon tapi ia tak ingin Siwon menjadi seorang yang pendendam. “No need for revenge. Those who hurt you will eventually screw themselves up. And if you’re lucky, God will let you watch,”

*****

“Untuk apa kakek mempertahankan Siwon sebagai ahli waris kakek? Ia kabur. Ia melarikan diri. Ia tak bisa bertanggung jawab atas aset yang kakek miliki. Kenapa tak kakek limpahkan padaku saja? Aku yakin aku mampu,”

“Betul ayah, aku yakin anakku mampu menjalankannya. Perusahaan kita tidak memelukan anak manja sepertinya,”

…..

“Berhentilah membujuk kakek, ajjuma, karena aku tak akan menyerahkan hak warisku pada siapapun,” ujar sebuah suara yang mengalihkan perhatian semua orang diruangan kebesaran milik Choi Sunghwa.

“Choi Siwon?” pekik mereka, tercengang dengan kehadiran Siwon. Beberapa dari mereka mulai mengumpat. Mereka tak mengharapkan kehadiran pria ini.

“Cih, kau masih berani membicarakan hak waris? Kemana saja kau? Apa kau tak tahu perusahaan sedang kacau?” tantang sepupunya.

“Kau pikir aku pergi untuk main-main? Setidaknya aku tak seperti kau yang hanya bisa berbicara tapi tidak beraksi,” ujar Siwon dingin. Sepupunya itu mati kutu dibuatnya.

Siwon berjalan mendorong sepupu yang menghalangi jalannya itu. Ia menghampiri kakeknya dan menyerahkan sebuah map yang berisi beberapa kertas.

“Selama aku pergi, aku sudah mengumpulkan data tentang Shin Cooperation. Aku akan membereskan semuanya dan jika berhasil, berikan aku warisan kakek. Semuanya,” ujar Siwon penuh kepercayaan diri. Kakeknya hanya terdiam, tidak percaya cucunya yang paling baik tiba-tiba menjadi pribadi yang berbeda.

“Kau kira semudah itu mengajak perusahaan Shin untuk bekerja sama? Kau tak tahu bagaimana susahnya mengatasi pemimpinnya yang keras kepala itu? Kau kira kau mampu?!” seru sepupunya tadi.

Siwon hendak membalas, tapi tiba-tiba saja telepon diruangan itu berdering. Semuanya terdiam menanti penjelasan kakek setelah ia menutup teleponnya.

…..

“Siapa kek?” tanya sepupu Siwon.

“Tuan Shin. Ia mengundang Siwon untuk segera ke kantornya. Ia hanya ingin bernegosiasi dengan Siwon,” jelas kakeknya. Senyum di wajah Siwon mengembang. Berbeda reaksi dengan sepupunya yang mulai mencaci maki Siwon dengan setengah suara.

“Kalau kau ingin mendapatkan warisanmu. Buatlah Tuan Shin menyetujui untuk jadi investor dalam proyek ini,”

“Aku akan kembali dengan membawa kabar gembira,” balas Siwon dengan senyum kepercayaan diri.

Siwon keluar dari ruangan itu dan mendapati Hamun berdiri disamping pintu ruangan kakek Siwon. Siwon terperanjat dengan kehadiran Hamun. “Ha-ha-hamun?”

“Kau jahat. Kau meninggalkan aku tanpa memberikan penjelasan. Aku khawatir setengah mati,” gerutu Hamun. “Kau harus kembali dengan kabar gembira. Kalau kau gagal, aku akan memutuskanmu,” ujar Hamun.

Siwon tersenyum gembira lalu menyambar bibir Hamun kilat. “Tenang saja, aku akan segera mengubah namamu menjadi Choi Hamun,” ujar Siwon.

“Apa hubungannya?” tanya Hamun dengan senyum malu. “Kaa, kau pasti bisa,”

*****

Suara jepretan kamera dan kilatan blits silih berganti memotret wajah tampan tuan muda Choi Siwon. Seorang pemuda yang sangat sempurna ini berhasil membuat tuan Shin menyetujui kerja sama diantara kedua perusahaan terbesar di Korea. Keberhasilannya membuat dirinya menjadi mendapat gelar Pria Terkaya dan Termuda di Korea Selatan. Sejak kemarin, ia telah resmi menjadi pemilik Junya Cooperation. Kakeknya sudah menyerahkan semua miliknya pada cucunya itu.

Namun hari ini, tiba-tiba saja tuan muda Choi Siwon mengundang pers untuk datang ke kediamannya. Ia mengadakan press conference karena ada sesuatu yang ingin dia katakan.

…..

“Terima kasih karena sudah datang ke tempat ini. Tujuan saya memanggil rekan pers sekalian karena ada yang ingin saya ungkapkan,

“Semua warisan yang kuterima, akan kukembalikan pada nona Kang Hamun,” ujar Siwon yang membuat semua orang di tempat itu tercengang.

“Kakekku Choi Sunghwa adalah sahabat dari kakek nona Hamun. Saat itu kakekku masih sangat miskin. Ia bahkan sering menumpang di rumah kakek nona Hamun yang saat itu sedang di masa kejayaan karena bisnis mereka yang lancar. Kakek dan Nenek Hamun adalah orang yang sangat baik. Apa yang akan mereka lakukan jika temannya meminta tolong? Pasti mereka akan menolongnya,

“Kakekku meminjam uang kakek Hamun dengan alasan ingin berbisnis dan mengembalikan uangnya nanti. Kakek Hamun meminjamkannya dengan dasar kepercayaan. Tapi nyatanya? Kakekku malah membawa kabur uang itu. Saat Kakek Hamun menemukan kakekku, kakekku justru membunuhnya,

“Pembunuhan yang dilakukan kakekku menimbulkan dendam dihati ayah Hamun. Ia tak hanya kehilangan ayahnya tapi juga jatuh miskin. Istrinya pun meninggalkannya karena tak ingin hidup merana. Ayah Hamun ingin membalaskan semua dendam itu. Ia ingin membunuh kakekku tapi ternyata yang berada didalam mobil itu justru keluargaku. Ayah Hamun merasa sangat bersalah karena menjadikan aku anak yatim piatu. Ia tertekan, setres, dan akhirnya meninggal dunia meninggalkan nona Hamun kecil menjadi sebatang kara,

“Dan sekarang aku akan mengembalikan semuanya pada nona Hamun, ujar Siwon sebagai akhir dari press conference itu. Ia meninggalkan podium dan tak memperdulikan wartawan yang masih mengejarnya untuk meminta penjelasan lebih lanjut. Perhatiannya teralihkan oleh pesan baru yang ada di handphonenya.

‘Choi Siwon nim, congratulation. Kau sudah menjadi pria terkaya dan termuda di Korea. Kau juga masuk dalam daftar 10 besar pria idaman wanita. Sainganku sangat banyak sekarang. Kau sedang apa? Bagaimana Press Confrencemu? Apa yang kau sampaikan? Aku menunggumu,

From: Choi Hamun

Siwon tersenyum sendiri membaca pesan itu. Ia segera masuk ke mobilnya dan membiarkan mobil itu membawanya menuju rumah Hamun.

*****

“Kau mengatakan apa tadi di press conference?” tanya Hamun saat Siwon tiba di rumahnya.

Siwon menyembunyikan senyumnya, “Aku hanya mengatakan yang sejujurnya. Apa kau mau melihatnya?” tanya Siwon yang mendapat anggukan antusias dari Hamun.

Siwon menggantung jasnya lalu duduk disebelah Hamun. Mata mereka saling bertemu dan tiba-tiba saja Siwon mencium bibir Hamun lembut. “Kalau aku jatuh miskin, apa kau masih akan bersamaku?” tanya Siwon setelah melepas ciumannya.

“Tentu saja. Apa aku terlihat seperti cewek matre yang memacarimu hanya karena kekayaan? Lagipula aku sudah sangat terlatih,” jawab Hamun yang disambut tawa oleh keduanya.

Siwon mengeluarkan Ipadnya dan mencari channel yang sedang memberitakan press conference sebelumnya.

…..

“Uwa, daebak! Kau sangat hebat Tuan Choi. Kau menyerahkan semua hak warismu padaku dan kau sendiri tak memiliki pekerjaan? Berarti kau adalah pria termiskin sekarang?” tanya Hamun dengan niat menyindir. Siwon tersenyum dan mengangguk pasrah. Memang itu kenyataannya.

“Baiklah, karena aku kasihan padamu, kau akan kuberikan pekerjaan. Gajinya sangat besar dan aku yakin kau tak akan menolaknya,”

Kini mereka duduk berhadapan dengan mata saling memandang. Siwon menggengam erat tangan Hamun.

“Marry me,” ujar Hamun. Keduanya terdiam sesaat lalu Siwon memecah keheningan dengan suara tawanya.

“Kenapa kau tertawa?” tanya Hamun heran.

Tiba-tiba saja Siwon menghentikan tawanya dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Hamun. Kini rautnya kembali serius. Kedua matanya membesar dan alisnya mengangkat. “Kau serius?”

“Tentu saja. Tapi tak hanya itu. Selain kau harus menikah denganku, kau juga harus menjadi pemimpin perusahaan Junya. Aku bukan tipe orang yang betah duduk diam dibelakang meja, dan bergumul dengan dokumen-dokumen. Kau bersedia?”

Siwon tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Ia segera menyambar Hamun dengan pelukannya. Ia lupa dengan kekuatan tubuhnya sehingga Hamun dan dirinya jatuh tertidur dilantai kamar Hamun. Hamun dibawah Siwon. Siwon menahan berat tubuhnya dengan bertumpu pada lengannya.

“Tentu saja aku bersedia. Siapa yang tidak mau menikah dengan wanita idaman tiap pria Korea? Kau cantik, pintar, kini kau juga kaya. Aku yakin kalau media tahu tentang dirimu, kau akan masuk dalam 50 besar wanita idaman versi majalah Forbes,” ujar Siwon lalu mencium bibir Hamun singkat.

“Yaa! Choi Siwon! ini sudah keberapa kalinya kau menciumku?! Lepaskan aku!” seru Hamun. Siwon tersenyum usil dan memberikan merong pada Hamun. “Aku tidak mau,”

Hamun kesal dan akhirnya mendorong Siwon sekuat tenaganya. Siwon terdorong dan terguling. Tiba-tiba saja ia mengepal tangannya di dada. Ia merintih kesakitan, “I.. I.. I can”t breathe,” ujar Siwon seperti berbisik.

Hamun panik setengah mati. Ia menghampiri Siwon, “Siwon ah? Gwencana? Ottokhe,”

Siwon yang melihat kekhawatiran Hamun, menahan tawanya dalam hati. Ia menarik Hamun dalam pelukannya, “I just need a CPR Hamun,” ujar Siwon sambil menyunggingkan senyum kemenangannya. Hamun yang melihat itu hendak meronta. Tapi tangan Siwon yang memeluknya terlalu kuat.

“Just once, please?” pinta Siwon manja.

Hamun menghela nafas, “Just once. Arraseo?” ujar Hamun memperingatkan. Siwon mengangguk.

Wajah Hamun mendekat. Mata Hamun menatap lekat Siwon. Hidung mereka bersentuhan dan akhirnya bibir mereka bertemu. Hamun hanya mengecupnya. Ia tak berani bertindak lebih jauh.

“Saranghae Hamun ah,”

“Nado,”

*****

—Epilog—

“Berhentilah menatapku dan tidurlah,” ujar Hamun. Siwon tersenyum kecil dan terus membelai kepala Hamun. Siwon memutuskan untuk menginap di rumah Hamun.

“Aku inginnya juga begitu. Tapi aku tak bisa. Aku takut kalau aku tertidur, ternyata ini semua hanya mimpi. Aku masih tak menyangka kalau semuanya berakhir dengan happy ending. Kau mendapatkan kekayaanmu lagi, dan kau juga memintaku untuk menikahimu. Aku rasa itu terlalu indah,” jelas Siwon.

Hamun tersenyum, “Life always inconvenient, unexpected, unplanned, unscripted, always messy, never on time, but yeah, it’s so beautiful,”

“Yeah, beautiful like you,”

“Of course,”

“Cih, narcism,”

“But you love me right?”

“Yeah, i really really love you,”

END